Jump to ratings and reviews
Rate this book

Clair: The Death that Brings Us Closer

Rate this book
Seorang gadis clairtangent.
Sesosok kenangan yang dihidupkan.
Seorang pemuda yang luput dari kematian.
Dan sebuah janji untuk saling menjaga.

Rhea Rafanda, siswi kelas 12, memiliki kemampuan clairtangency. Ia dapat membaca kenangan melalui sentuhan. Dengan bakatnya, ia membantu polisi memecahkan kasus-kasus buntu dan diberi nama kode, Clair. Tapi, kenangan tentang kekerasan dan kematian dapat menyakiti fisik bahkan memblokir memori Rhea. Itu sebabnya, Rhea dijauhkan dari kasus-kasus traumatis.

Saat kasus kematian Aidan Narayana mengemuka, Rhea melanggar larangan dan melibatkan diri. Tidak mungkin kakak kelas yang ia kagumi dan menjadi cinta pertamanya itu bunuh diri. Rhea pun menghidupkan sosok kenangan Aidan untuk menemukan petunjuk.

Bagaimana kalau ternyata Aidan meninggalkan pesan-pesan tak terduga untuknya? Bagaimana kalau memorinya sendiri yang terpendam malah tergali?

Seolah belum cukup rumit, muncul laki-laki misterius membayangi Rhea dan sahabat-sahabat Aidan.

Demi mengungkap kebenaran dan melindungi orang-orang terkasih, Rhea harus mengerahkan clairtangency melebihi batas.

366 pages, Paperback

First published September 4, 2019

10 people are currently reading
81 people want to read

About the author

Ary Nilandari

63 books145 followers
Ary Nilandari was currently honored as IKAPI Writer of the Year 2022, and her Garuda Gaganeswara won the IBBY Honour List of 2022 for its high quality in writing. She is the author of over 70 books, in which she celebrates diversity and universal values and promotes Indonesian cultural heritage. Some of her works won national and international awards. She was once a freelance translator and editor for a decade before focusing mainly on children/teen content. She is one of the advisors of Forum Penulis Bacaan Anak, the biggest online community of Indonesian children’s book creators. She has worked with national institutions, such as Komisi Pemberantasan Korupsi, Indonesian Commission of Corruption Eradication, to develop a series of children’s books on integrity and anti-corruption values; also with IKAPI, the association of Indonesian Publishers, as a speaker/trainer on editing and writing craft. Her passion and goal are to see Indonesian children have fun reading more quality books written primarily about them and for them.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
51 (51%)
4 stars
35 (35%)
3 stars
11 (11%)
2 stars
3 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 49 reviews
Profile Image for Ary Nilandari.
Author 63 books145 followers
Read
September 7, 2021
"Hati-hati dengan tangan kananku. Sentuhannya menghidupkan kenangan, menyadap rahasia terdalam … termasuk milik mereka yang sudah tiada."
(Rhea Rafanda)

Kutipan itu mengawali bukuku yang baru terbit ini. Dipatok untuk pembaca 15 tahun ke atas, CLAIR adalah novel remaja yang condong ke genre misteri.

Secara khusus, novel ini kuharap dapat mengembangkan minat baca remaja, menambah genre dari yang biasa mereka nikmati.
Dan secara umum, semoga dapat diterima pula oleh penyuka misteri, romance, paranormal, dan fantasi.

Beberapa komentar pembaca versi online:

"This is so heartbreakingly, breathtakingly, and painfully beautiful!" (Latifathaya)

"Semua tokoh yang diciptakan punya karakter yang kuat, gak gampang dilupakan. Punya keunikan masing-masing. Tiap baca pasti kebawa emosi, sebentar nangis sebentar ketawa." (phu_put)

"Ini pertama kalinya Alya baca novel misteri. Dan, parah sih. Menjerat sejak paragraf pertama." (Adzkyaa_)

"Bertahun tahun aku anti banget sama cerita-cerita anak remaja tentang anak SMA dan sejenisnya cuma tertarik sama satu ceritanya bunda ary yang pertama lanjut ke CLAIR aku suka dua duanya....❤ buat aku CLAIR itu ketceh banget novel paling recomended buat dibca sama remaja jaman now, selain seru, bikin penasaran, gregetan, kita juga bisa ngambil nilai-nilai baik dari ceritanya." (Tehaish_)

"Komplit banget temanya, tapi tidak kehilangan fokus. Pokoknya, 'kerasa nano2 banget' sudah mainstream buat menjelaskan gimana hebatnya novel ini. Iya, hebat. Makasih sudah ngasih kami bacaan cerdas begini." (KejoraAnaphalisia)

"Kehidupan remajaku diisi bacaan berkualitas dari Bunda. Putar otak baca Clair. Plot twist-nya kereeen^^ benar-benar dibikin jungkir balik😂 karena faktor perasaan dan penasaran…" (latifahum)

Para pembaca Clair ini menyebut diri mereka Clairmates.

Terima kasih.
1 review
October 23, 2019
Ini review perdana saya di akun goodreads ini, dan merupakan suatu keistimewaan pribadi karena saya jadikan novel Clair karya Penulis Ary Nilandari yang pertama. Tolong dibaca review-nya jangan setengah-setengah, karena saya menuliskannya tidak setengah-setengah hati sama sekali. (yeah, Rhea’s habit intended here)

Testimoni pembaca saya setelah baca novel ini versi wattpad:"This is so heartbreakingly, breathtakingly, and painfully beautiful!"

Clair : The Death that Brings Us Closer

Blurb dan tagline bisa langsung dibaca di atas. Namun, terkhusus untuk tagline, saya ingin mengomentari ini. Jika Anda seorang Necrophobia atau sensitif terhadap tema kekerasan maupun kematian, terus sedang di toko buku, atau scrolling linimasa baik itu instagram, twitter, maupun Facebook, kemudian Anda berpaling setelah melihat blurb serta tagline, saya tidak akan heran.
Jika Anda anti novel first draft on wattpad, teringat reputasi Author Senior edgy wattpad, tidak menyukai tema High School, atau lebih suka novel dengan tema garis besar cerita adalah perjalanan lelaki dan wanita saling jatuh cinta mulai dari awal ketemu sampai punya sekian anak, saya takkan heran jika Anda memandang sebelah mata novel Clair.

Kalau Anda meraih novel ini dengan ekspektasi cerita dengan dark / heavy theme yang tokohnya pada sakit jiwa dengan kepribadian abu-abu (yang sering didewakan karena twisted personality), mystery yang enggak terpecahkan sampai akhir, thrill sampe enggak dikasih jeda buat napas, tokoh dengan kekuatan supranatural serta adegan mengada-ada, novel slowpace tragedi yang banyak menangisi kematian tokoh utama, banyak hal mulas bikin jijik, kemudian novel action yang selalu ada adegan berdarah-darah, diksi dewa yang bikin orang bingung ini siapa nonjok siapa, silakan taruh novel ini kembali.

Boleh saja Anda memandang novel ini sebelah mata, tapi sayang, nanti Anda enggak bisa fokus sama betapa seru, thrilling, baper, untuk menangkap alur cerita ini secara kronologis.
Ada beberapa hal yang mesti kamu ketahui. Mengapa saya dan banyak pembaca lainnya, menyisihkan waktu demi menghayati novel ini dan tidak bisa meletakkannya kembali. Bahkan walaupun sudah selesai, tetap dibaca ulang lagi.

1. Tema yang disajikan unik. Bukan sembarang supranatural, tapi ada penjelasan logis tentang Clairtangency. Psikometri. Kalau kamu meluangkan waktu riset internet, ada banyak tipe Clair pula. Seorang penulis mengeksplorasi hal baru, setidaknya di dunia kepenulisan Indonesia, di tengah maraknya tema klise yang recyle tanpa henti enghidupkan klise sampai mayoritas pembaca hafal isinya apa saja. (saya sih demikian) Kamu tidak akan menemukan itu di sini, sekalipun satu-dua cheesy romance tetap ada dan tidak makan semua porsi isi cerita.

2. Penokohan yang tiap tokohnya men-driven plots. Tiap tokoh memiliki kekhasan kepribadiannya masing-masing. Saya menahan diri komentar di wattpad mengenai one dimensional character, karena bagaimanapun, itu first draft di wattpad. Dugaan saya benar. Di versi novel, Penulis memenuhi ekspektasi saya.

Saya termasuk yang berpikiran bahwa karakter dengan kepribadian sempurna itu, merupakan ramuan dari keseimbangan antara keburukan dan kebaikan (dan bukankah karena itu Tuhan menciptakan manusia, mengemukakan bahwa manusia makhluk paling sempurna). Justru bukan kepribadian dengan kebaikan malaikat. Itu malah jadi karakter pincang. Di sini, Penulis mempertajam kepribadian tiap tokoh, sehingga terasa bedanya.

Tiap tokoh memiliki ciri khasnya sendiri. Kita ambil tokoh utama, berdasarkan interpretasi saya, Rhea Rafanda itu: gadis, keriting megar, clairtangent, luarnya saja emo dalamnya nemo, luarnya saja tomboy dalamnya girly, pemalu sama orang yang disuka tapi kadang diterabas juga, cekikikan kalau sudah error/nge-hank, terus suka jump into conclusion di awal (karena orang apriori duluan dengan penampilannya yang tidak sesuai standar normal menurut masyarakat) yang untung saja karena situasi-kondisi, karena kalau kebablasan kayak kebanyakan tokoh utama cewek tiap baper terus annoyingly clingy, saya pasti sudah misuh-misuh baca novel ini alih-alih sedih.

Hal paling penting: enggak ada tokoh sia-sia di novel ini, semua punya peranannya masing-masing, figuran sekalipun.

3. Chemistry dan interaksi tiap karakter itu clean and meaningful, saling menggali karakter masing-masing di tiap situasi-kondisi. Jernih peranannya, reaksinya bagaimana, dialog yang dinamis dan anti-klise, keterikatan mereka natural terjalin pelan-pelan, bikin gemas. Romance di sini paling cheesy itu paling bagian puisi, puisi buatan anak SMA yang notabene enggak berkutat di bidang sastra (jadi rasanya masuk akal aja kalau kurang sreg, terutama buat kritikus sastra.), sisanya sangat natural.

Terutama saya suka Sisfection Rhea dan River, apalagi di novel. Saya sangat jarang baca dua gadis suka satu lelaki yang sama, saling cemburu, berakhir jadi sahabat dalam proses yang mengharukan tanpa terkesan dipaksakan. Sorry not sorry, Boys! Your creator made them from heaven (?), they are so beautiful much more than skin deep!

Saya mau berterima kasih karena adanya adegan pertemuan—duh tapi ini nanti spoilers ya. Beneran ada di novel. Setelah semua performance keren itu, berasa encore lagu-lagu bahagia di penghujung nonton konser idola. Tidak dibuat menangis sedih karena mesti “berpisah”. INTINYA, SAYA MELELEH TERUS GEMES SAMA FAMILY FRIENDSHIP DAN HEALTHY RIVAL. SAYA GAK BISA NYANTE SAMA KEBAHAGIAAN INI. *insert: love emoticons 100x*

Rangkuman keseluruhan interaksi karakter, mengingatkan saya pada penggalan lagu insert song Tokyo Ghoul. “Glassy sky above, as long as I’m alive/survive, you will be part of me. Glassy sky the cold, the broken pieces of me.” (haih, saya yang auto B3—BAPER BERAT BANGET—ini mah)

4. Alur novel ini maju-mundur, dengan setting waktu dan latar yang jelas, thrilling, twisted development plots, dan meletup-letupkan pelbagai reaksi. Bikin jejeritan, loncat-loncat, jambak rambut, guling-guling, nangis karena ngarep-ngarep, jejingkrakan tapi habis itu tengkurap tersedu-sedu pilu, terus Penulis berhasil menghidupkan definisi: sedih, sakit, bahagia, pusing, lega, nano-nano kayak ledakan Bigbang, hanya dalam satu novel. Ini sih saya tapi ya, serius. :’)

Saya tersenyum lebar habis baca novel, ada plotholes serta mengenai rekonstruksi kenangan (apakah itu orang mati saja, hidup, terus bisa bercampur atau tidak) yang rupanya Penulis ingat untuk ditambal dan dipertajam. Saya sengaja tidak komentar plotholes di wattpad karena itu first draft. Ternyata terisi semua dengan tambahan di novel. Percayalah, apa yang ada di awal, ada yang di akhir. Tiap untaian hints, akan terajut dan dijelaskan di akhir. Ada pula yang tak terjelaskan, tapi saya menduga benang kusut ini akan diurai seiring dengan tetralogi novel Clair lainnya.

5. Gaya menulis dan diksi punya ciri khas. Lugas, logis, to the point, lucunya novel misteri ini malah lebih tidak spekulatif ketimbang romance (yaaaaps, baper banget sampe sibuk nebak-nebak si dia suka balik sama kamu apa enggak).

6. Kekurangan (jika memang bisa disebut demikian):

a. walaupun mengenai diksi, ada banyak konjungsi yang di-cut, jadinya saya sendiri kadang baca beberapa kali satu kalimat supaya enggak keliru menafsirkan. Apa ini supaya satu kalimat jadi multitafsir dan menyesatkan pembaca lebih dari unreliable narrator-nya Rhea? Saya ngerti ini demi efektifitas kalimat, supaya tidak makan halaman pula, tapi maaf sekali menurut saya, agak kelebihan dan beberapa bagian kurang nyaman dibaca. Terkesan rushing jadinya (walaupun novel ini memang fast-pace terutama di adegan actions). Tetap tidak mengurangi semangat saya baca dari awal sampai akhir, maupun mengurangi poin nilai 10/5 bintang yang mau saya kasih buat Clair, sih. :’D

b. Kekurangan dari versi wattpad ke novel, ialah gambar karikatur seorang “pelarian”! Itu jeda humor yang bikin ngakak gelindingan, saya apresiasi ini sekali. Kecewa karena dihilangkan.

7. Desain interior dan eksterior novel yang ciamik. Apresiasi plus lagi. Ada art tiap tokoh Clair dari ilustrator Ruikurokai. Ganteng, cantik, dan paling penting: ekspresif. Layer tiap bab cantik. Cover novel, aih elegan, latar hitam memberikan kesan misterius, tapi ilustrasi tokoh utama itu bikin novel ini “approachable”. Saya merasa kembali ke masa kecil, girang bacain novel bergambar macamnya Lima Sekawan – Enid Blyton.

8. Ada banyak pesan moral, tapi tidak menggurui. No Toxic Positivity.Tidak bikin saya insecure. Novel ini ibarat pohon, ada banyak buah pesan moral dan hikmah bergelantungan, yang saya bisa berjinjit untuk memetiknya sendiri, tanpa perlu si pohon menggelontorkan buah sampai saya benjol-benjol kepala karena dihantam buahnya.

Alasan utama mengapa saya sampai meluangkan waktu dari realita demi menghayati novel ini, sampai memberi review perdana di akun goodreads ini, karena tiap baca novel Penulis Ary Nilandari... bagi saya pribadi, ada keramahan dan kehangatan sekalipun isi novel Clair “kegelapan” (:’D).

Rasanya seperti rumah. Tema berat sekalipun, membahas kekerasan maupun kematian (seperti kata “Death” yang terpapar di tagline), saya merasa aman dan nyaman (karena memang nyaman dibaca segala kalangan, kecuali anak kecil tentunya), tidak perlu was-was efek tulisannya bakal bagaimana nanti. Tiap tutur katanya seperti seorang ibu mendongeng, penuh kehangatan agar anaknya senang saat pulang ke rumah.

Di dunia ini, memang tiap novel punya jodoh pembacanya masing-masing. Saya tidak yakin semua orang akan menyukai novel ini, tapi pasti banyak pembaca seperti saya yang merasakan pengalaman pribadi tersendiri dengan Clair.

Seperti kutipan novel ini: “Ini bukan fiksi, bukan buku cerita detektif yang kamu baca sambil menebak-nebak ending-nya. Kamu bukan cerita yang bakal dilupakan karena move on ke buku lain.” Clair #1. Hal. 306.

Untuk hal itu, saya di sini, ingin berbagi inspirasi dan kebahagiaan membaca sebuah Mahakarya yang magis dan menghipnotis, melalui, Clair: The Novel that Brings Us Closer.
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
June 8, 2020
*baca di Gramedia Digital
=)

ehmmm..
awal'y semua'y bikin bingung sich, tapi mulai diceritain sepanjang baca novel..
pas dipertengahan cerita, kenapa makin rumit yaa..
>,<

aneh aja gitu..
masa The Lark dengan gampang'y ditangkap gitu aja..
pas di tengah cerita apalagi, ada sesuatu yg bikin mengejutkan dan bikin kaget..
:O

terus nggak diceritain tentang masa kecil Rhea sebelum 7 tahun..
>,<
Profile Image for Kia.
53 reviews
September 23, 2019
Clair: The Death that Brings Us Closer

Sebenarnya aku sudah dua kali mengulas soal buku ini, tapi memang ini yang pertama untuk versi cetaknya. Dan bicara soal novel yang satu ini, rasanya tidak habis-habis yang bisa dibahas darinya, jadi aku tidak keberatan menulis review baru lagi, yang bakal panjang, hehe, walaupun mungkin bakal ada bagian yang sudah pernah kuulas...

Firstly , soal tagline-nya, jujur saja dari sininya saja sudah bikin merinding. "Kematian yang Mendekatkan Kita". Ya, dengan jelas sekali mengungkapkan bahwa buku ini mengangkat tema kematian. Tema yang jujur saja dulu awalnya membuatku ragu untuk membacanya, walaupun dulu belum ada tagline ini. Tapi di luar kata death yang tertera di situ, buatku tagline ini sudah punya aura tersendiri, haha. Ini bagiku yang sudah membaca versi Wattpadnya waktu itu ya, rasanya segala nuansa yang dimuat di dalam novel ini sudah terangkum semua di dalamnya. Aku tidak tahu bagi kalian yang belum membacanya dan baru melihat cover beserta judulnya saja, apakah kalimat itu juga sudah menarik minat kalian bahkan sebelum membaca blurbnya? Yah, aku tidak tahu soal itu ya, tapi intinya aku cuma mau bilang bahwa novel ini sudah kuberi bintang lima untuk judul plus tagline itu saja ;D

Berikutnya, soal karakter. Enggak perlu kuulas panjang-lebar lagi sebenarnya soal ini, karena hampir semua orang yang sudah pernah membaca karya Bunda Ary pasti selalu bilang bahwa karakternya kuat dan relatable dengan pembaca. Ya, hampir semua pembaca, termasuk aku sendiri. Sudah pernah kusebutkan juga di review sebelumnya. Untuk di novel ini, tokoh utamanya cewek, dengan gejolak emosi yang relate banget dengan pembaca, terutama soal perasaan terpendamnya terhadap kakak kelas yang sudah lama diidolakannya itu. Emosi yang dialaminya di sana sebenarnya sangat wajar, bahkan terlalu wajar sampai aku suka geregetan sendiri. Tapi kewajaran itulah yang menurutku membuatnya sangat bisa relate dengan pembaca. Mungkin definisi wajar ini relatif sih, ini hanya pendapatku saja :D Yah, jadi aku sebagai pembaca bisa merasakan emosinya, memahami karakternya, dan mengenalnya dengan cukup baik. Oke, soal karakter ini aku tidak bisa menjelaskan lebih detail karena aku sulit menggambarkannya, hehe. Lanjuutt...

Emosi yang dibangkitkan saat membaca novel ini. Ah, sebenarnya ini juga sudah kubahas berkali-kali di review sebelumnya, jadi penggambaranku enggak akan jauh beda. Sejauh ini, seingatku, ini satu-satunya buku yang bisa membuatku merasa menaiki roller-coaster perasaan saat membacanya. Buku ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam sesudah dibaca. Dan kesan itu tak pernah hilang. Kalau diibaratkan, seperti bara api, yang menyala dan berkobar saat pertama kali membaca, lalu sesudah selesai, bara itu tetap menyala, menyebabkan gagal move on berhari-hari (ini yang aku alami XD). Beberapa hari kemudian, mungkin akhirnya bisa juga move on, dan menganggap bara itu sudah padam. Tapi setiap mengingat lagi momen-momen dalam buku atau membaca lagi secara acak, bara itu pasti menyala lagi. Akhirnya seperti tak pernah padam, selalu menyala lagi setiap 'ditiup'. Dan begitulah yang kurasakan. Perumpamaannya mungkin mainstream ya, tapi bagiku itu sebuah rekor tersendiri. Memang aku sudah sering membaca novel-novel yang bikin baper dan semacamnya, tapi yang sampai berefek kayak begini tuh nyaris enggak ada. Biasa saja gitu. Kalaupun baca lagi paling cuma baper doang atau jadi kesel lagi sama tokoh antagonisnya.

Bapernya Clair beda. Mungkin karena temanya sih. Efek kematian, kehilangannya itu kurasa yang paling membuat baper gara-gara Clair susah banget hilangnya. Yang pernah bikin aku sebaper ini cuma sebuah momen dari satu serial historical-fiction Turki, yang penyebab bapernya paling mirip. Kematian, kehilangan, penyesalan, cinta, pengorbanan. Ah sudah deh, aku paling lemah sama kombinasi beginian, nyeseknya banget, sekali baca/nonton pasti efeknya bakal kepikiran sampai waktu mau tidur :') Sebenarnya mungkin karena aku sulit menerima akhirnya ya. Faktanya, aku memang belum bisa menerima sampai sekarang XD Tapi ya sudahlah... :')

Dan soal romance, jelas ini bukan tipe romance yang khas teenlit zaman sekarang. Yang penuh dengan... Ah, aku sendiri tidak tahu bagaimana menggambarkannya secara halus, pokoknya yang gitu aja ya, hehe. Tipe romancenya yang bikin aku respek banget pokoknya. Kayak, gimana ya, kalem gitu, seperti perasaan yang lembut dan tenang, enggak meledak-ledak dan malah jadi kemana-mana gitu, meledak-ledaknya cuma di dalam hati doang. Dan biasanya justru penggambaran perasaan yang kayak gini yang tingkat bapernya jadi lebih dalam daripada yang lain, buat aku ya. Istimewa pokoknya, romance di novelnya Bunda khas banget gini, terutama Clair dan WMHS, kalau novel yang lain belum aku baca, dan Pelik walaupun juga bagus, dia lebih mendekati teenlit yang lain, tapi lebih bisa diterima deh. Tapi kalau di Clair itu, seperti yang kusebutkan tadi, bapernya itu gara-gara kombinasi cinta dengan yang lain-lainnya yang sebenarnya rasanya bikin hati serasa hancur sih, pedih gitu, makanya feel bapernya lebih kuat :')

Nah, oke, terakhir, soal kekuatan supranaturalnya Rhea, clairtangency. Salah satu yang bikin aku suka banget novel ini juga sisi sci-fi yang diangkat dari kemampuan Rhea ini. Kaitannya dengan susunan otak Rhea yang disebut agak berbeda dari kebanyakan orang, lalu soal memori dan kenangan, fix, ini tema sci-fi yang aku paling suka. Dan terutama, aku memang ngefans banget banget sama kekuatan Rhea ini, karena bahasan tentang kenangan memang salah satu favoritku. Dan memang sejak dulu kekuatan semacam membaca pikiran, memori, atau kenangan ini sudah jadi kekuatan yang paling aku impikan, hahaha, mengkhayal banget ini XD Tapi jujur saja saat dikaitkan dengan sains, aku baru tahu kalau kemampuan ini bisa memberi efek 'negatif' juga karena susunan otak yang lain itu. Kalau dikaitkannya dengan sihir atau kekuatan magis seperti yang paling sering digambarkan di cerita-cerita supranatural begini, rasanya tidak pernah ada sisi 'negatif'nya begitu, kan? Satu poin lagi yang menjadikan Rhea hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki kekuatan dan kelemahan seperti manusia-manusia lainnya, sehingga sangat bisa diterima, dan tidak dianggap fantasi saja ;D Ah ya, memang kekuatan itu biasanya dikaitkannya dengan genre fantasi, tapi bagiku ini tidak sama sekali. Bukan fantasi, karena ada penjelasan ilmiahnya alias lebih pas disebut genre sci-fi, selain romance, paranormal dan misteri. Itu soal persepsi juga sih, aku lihat Bunda Ary sendiri menyebut bahwa Clair memuat unsur fantasi, tapi menurut pendapatku pribadi, ini jelas tidak terlihat seperti fantasi :)

Oke, menurutku tidak perlu lagi menjelaskan ceritanya seperti apa, sulit menceritakannya tanpa spoiler, karena garis besarnya sudah terangkum semua di blurb. Poin sisanya, soal diksi yang luar biasa, alur yang rapi, pesan moral tersirat, dan lain-lainnya itu tidak perlu kusebutkan lagi, karena sama seperti soal karakter tadi, semua ini sudah ciri khasnya Bunda Ary banget, yang semua bukunya punya, hehehe...

Satu lagi, pengin nyebut soal ini juga, soal soundtrack yang dimasukkan sebagai multimedia di salah satu part versi Wattpad, lagu How Did You Know - Gary Valenciano. Aku pertama kali dengar lagu ini memang di multimedia itu, jadi waktu dengerinnya sambil baca, ya, aku melting banget :') Ngepas banget gitu sama ceritanya. Liriknya itu... Tiap dengerin pasti keinget ke Rhea dan Aidan, sih. Bonus yang tambah bikin galmov sih, haha... Tapi sudahlah, mencoba mengingatnya dengan bahagia aja deh, sekarang ;D

Oke, segitu aja mungkin ulasanku, malah pake sesi curhat segala sih, ini. Entah ya, selalu bablas kalau ngomongin soal itu, hehe. Mungkin nanti aku tambahin lagi, soalnya rasanya ada yang belum kuulas tapi aku lupa apa. Jadi, that's all, pokoknya, buat semua teenager dan young adult dan semua pecinta buku berkualitas, buku ini high-recommended banget, jadi kalau nemu di toko buku atau pameran pastikan langsung bawa ke kasir aja deh, haha...
Profile Image for Naza N.
359 reviews10 followers
October 9, 2019
Seorang gadis clairtangent.
Sesosok kenangan yang dihidupkan.
Seorang pemuda yang luput dari kematian.
Dan sebuah janji untuk saling menjaga.

Oke, ini novel pertama dari Bunda Ary yang pernah kubaca. Bukan pertama kalinya aku dengar nama beliau sih, cuma baru kali ini tertarik dengan tema yang diusung beliau dalam novel Clair. Jujur, sama sekali tidak ada ekspektasi terhadap karya beliau (karena biasanya yang orang bilang bagus itu justru nggak pas dengan seleraku). Maka diriku pun bertaruh, meninggalkan salah satu wishlist yang sudah kunanti-nanti dari tahun lalu, dan....

Yah. I like it. Ralat, I LOVE it (I mean why would I give 5 stars for something that I didn't like?).

Selama ini aku udah dikasih harapan palsu dengan novel-novel 'misteri' bercampur teenfic asli lokal, karena kebanyakan justru menggali sisi teenfic-nya, dan menyuguhkan kisah misteri yang dangkal. Tapi Clair berhasil membuatku terpukau. Misterinya disusun secara apik, dengan klu-klu yang disembunyikan dengan cermat sehingga aku sering bolak-balik halaman demi memastikan apakah itu betulan klu atau bukan. Lalu pengungkapan misterinya pun terasa halus, tidak terlalu terburu-buru dan juga tidak terlalu lambat sehingga bikin bosan. Pace-nya memang kadang berubah-ubah, namun tetap terjaga sesuai dengan adegan yang diceritakan.

Et n'oubliez pas le plot twist, s'il vous plaît. Sebuah misteri yang jenius, dan plot twist yang hebat.

Karakter-karakternya pun lovable dan relatable sekali. Aku benar-benar suka dengan interaksi antara Rhea-River-Kei. Mereka bertiga unyuuu bangeeet! I need more of them 😭😭😭

Yah, udah beberapa kali aku hampir nangis waktu baca ini. Meski nggak mau mengakui, tapi hatiku jadi soft banget ketika baca romance-nya yang manis, tapi nggak bikin eneg. Duh, rasanya kayak jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan 😭😭😭

5 out of 5 stars, will be waiting for more books like this!!!
Profile Image for Dinur A..
258 reviews98 followers
August 22, 2020
Ada yg selalu saya lakukan setiap kali saya lagi baca karya Ary Nilandari, yakni saya selalu mengesampingkan perasaan mengganjal terkait para tokoh ciptaan beliau yg ga pernah terasa relatable sama sekali. The way they act, speak, their dynamics, etc, semuanya terasa mustahil utk terjadi di dunia nyata, apalagi di usia mereka. Referensi-referensi yg disebar pun sering terasa kurang tepat. Saya kesampingkan, karena semua itu tertutup oleh skill penulis dlm meramu cerita yg emang menurut saya genius bgt.

Tapi untuk Clair ini, entah kenapa saya lagi ga bisa bodo amat, karena formulanya mulai terasa redundant. Walaupun premisnya fresh, tapi elemen-elemen di dalamnya udah pernah dipake di semua buku beliau yg pernah saya baca; tokoh utama cewek yg direbutin dua cowok (atau lebih), elemen buku harian, bromance antar dua cowok dgn peran satu cewek di tengah2 mereka, kehadiran ex-bestfriend, dan lain-lain. Selain itu, terlalu banyak sub-plot dgn proses revealing yg njelimet (entah betulan njelimet, atau saya yg terlalu bego dan gagal paham), yg akhirnya bikin saya sering bgt ngebatin, "Just get on with it dammit!!!" Hal-hal inilah yg bikin saya jadi demot namatin Clair terlepas dari ceritanya yg overall bagus. Padahal biasanya apa pun yg ditulis Ary Nilandari bakal nagih bgt buat saya. Saya cuma berharap semoga ke depannya beliau bakal ngeluarin universe baru di luar Dharmawangsa School (though I doubt that).

Secara keseluruhan, buku ini ga layak hanya dpt 2 bintang, but I decided to stay true to the descriptor; it was okay.
Profile Image for Jia Legawa.
2 reviews
September 15, 2019
Demi apa? Bittersweet gini sih.
Harus baca ulang!
kali ini mungutin yang tersembunyi.
Profile Image for Sara.
3 reviews1 follower
September 15, 2019
nonstop reading!
what a ride.
Misterinya bikin jungkir balik otak.
Lain-lainnya bikin jungkir balik hati.
Udah, gitu aja, kalau panjang-panjang gak nahan buat spoiling.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,436 reviews72 followers
June 7, 2022
Hmm... pertama kalinya aku ngerasa bingung mau review kaya gimana buat bukunya Mbak Ary. Jadi... aku udah beberapa kali baca Clair versi Wattpad. Yang pertama maraton sebagai syarat ikut kelas nulis Foreshadow via Whatsapp, lalu mengulang baca beberapa part agar bisa menyusun materi yang kudapat dari kelas itu dengan lebih utuh. Lalu sekarang akhirnya bisa baca versi cetaknya yang memang lebih rapi dan tidak memusingkan.

Clair bisa dibilang punya ide dan rangkaian cerita yang nggak biasa. Tentang psikometri atau clair-tangency, kemampuan membaca memori benda atau manusia via sentuhan tangan. Di Jepang atau barat mungkin cerita seperti ini udah lumayan sering dipakai, ya. Tapi ini pertama kalinya aku baca novel Indonesia bertema psikometri. Oh dan sedikit bocoran, ada teman indigoku yang mengaku bisa baca memori artefak bersejarah via sentuhan. Aku belum ngetes secara langsung. Tapi memang pemahamannya dalam bidang sejarah di atas rata-rata. Mengetahui soal kisahnya bikin cerita Rhea jadi terasa lebih riil.

Di luar segala kelebihan buku ini... entah kenapa aku ngerasa kesulitan untuk masuk ke dalam cerita buku ini secara total. Padahal, buku-buku Mbak Ary yang lain selalu berhasil membuatku terhanyut. Aku nggak bisa ngerasa terharu atau menangis ketika para karakter di sini mengalami goncangan. Nggak ikut berdebar ketika Rhea jatuh cinta. Dan merasa datar dengan segala adegan yang seharusnya dibuat menegangkan, kecuali pada adegan klimaks melawan sang antagonis utama. Kalau adegan klimaks yang itu mah, dibaca berkali-kali tetap bikin tegang. Tapi masih ada sedikit adegan yang membuatku tergelak spontan, seperti adegan-adegan Bang El dan adegan "Aidan" membersihkan rambut Rhea dari bulu-bulu angsa. Ini membuat Clair jadi terasa seperti anomali bagiku. Jalinan plotnya memang menguji daya konsentrasiku karena alurnya sangat tidak linear. Beberapa kali aku harus membalik halaman-halaman terdahulu untuk memastikan aku berhasil menginterpretasikan urutan peristiwanya dengan benar.

Ada beberapa faktor yang membuat Clair terasa rumit untuk dinikmati buatku:

1. Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Rhea sebagai tokoh utama sering membaca kenangan yang bukan miliknya sendiri. Akhirnya narasi dalam kepala Rhea jadi terasa begitu penuh dan campur-aduk. Ditambah lagi ingatannya bolong-bolong kena guncangan beberapa peristiwa traumatis. Itu membuat kejadian-kejadian masa lalu yang muncul sebagai flashback terasa membingungkan.

Bagian yang terasa off bagiku mungkin adegan ketika Rhea "pertama kali" berinteraksi dengan Aidan di perpustakaan saat dia mau mencari bahan esai menulis tempat bersejarah. Meski baru "pertama kali" berinteraksi secara langsung, tapi cara deskripsinya seolah Rhea udah menyimpan perasaan mendalam pada Aidan (meski dia ngaku nggak ngefans sama cowok itu), sampai penasaran menyadap kenangannya segala. Apakah Rhea yang yatim piatu terpukau dengan perasaan hangat yang ditunjukkan Aidan ketika ia memikirkan ibunya? Sepertinya begitu, tapi penggambarannya masih terasa gamang bagiku. Apalagi kejadian ini terus dipakai untuk menggerakkan Rhea mengalami serangkaian kejadian lain yang mendekatkan untuk Aidan.

2. Adegan Rhea bercakap-cakap dengan memori Aidan yang terasa begitu hidup juga rasanya ambigu. Rhea jadi kayak orang yang mengalami halusinasi dan suka ngomong sendiri. Barangkali kalau ceritanya dibuat dengan format komik atau webtoon, adegan-adegan ini bakalan lebih make sense. Membacanya secara teks begini membuatku merasa aneh. Sosok kenangan Aidan jadi berasa kayak arwah penasaran atau hantu karena bisa menanggapi interaksi atau bahkan memulai interaksi dengan Rhea. Sedangkan kenangan harusnya bersifat pasif (menurutku sih).

3. Ini bagian yang paling membuat novel ini terasa off bagiku. Banyak tokoh penting yang nggak muncul dalam adegan nyata di linimasa present. Mereka munculnya hanya dalam percakapan orang lain atau ingatan masa lalu.

Tokoh Armand yang dijadikan red herring dan selalu dicurigai diceritakan sudah pindah ke tempat lain (entah di mana) dan hanya diceritakan di masa lalu. Rhea dan Kei tidak pernah digambarkan mengalami konfrontasi head to head dengannya di linimasa present. Bagian mencurigakannya jadi berkurang drastis karena dia nggak pernah secara langsung nongol dan mempermainkan sudut pandang pembaca.

Tokoh Bunda Dhias yang merupakan salah satu tokoh kunci, juga tidak pernah dimunculkan secara langsung. Hanya muncul dalam dialog berbunyi "Aku harus ngomong sama Bunda Dhias".

Sampai tokoh The Lark yang hitman, juga nggak pernah secara langsung muncul dalam adegan aktif. Tahu-tahu si hitman yang dibilang andal ini udah diceritakan tertangkap begitu aja.

Padahal, kisah misteri atau thriller jadi terasa begitu menegangkan ketika tokoh utama digambarkan head to head dengan semua tokoh yang dicurigai, kan. Ini membuat cerita ini jadi terasa pasif dan berbasis pada pola "katanya".

Ada satu lagi kekurangan Clair: kurangnya sosialisasi bahwa novel ini adalah tetralogi yang buku keduanya sedang digarap di Wattpad. Akibatnya banyak reviewer yang bingung karena masa lalu Rhea tidak dibahas secara tuntas hingga akhir.

Novel kedua Clair: Do You See What I Hear bisa dibaca di Wattpad Mbak Betty yang merupakan partner Mbak Ary. Jika kisah Clair pertama berhubungan dengan indra peraba, maka buku kedua ini berhubungan dengan indra pendengaran. Ini link-nya:
https://www.wattpad.com/story/1974973...

Meskipun Clair pertama terasa anomali buatku, bukan berarti aku tidak menyukainya sama sekali. Aku akan tetap menunggu kelanjutan dari tetralogi ini karena buatku buku-buku Mbak Ary udah masuk kategori a must-collect.
Profile Image for Fadila setsuji hirazawa.
350 reviews4 followers
August 8, 2020
Pelajaran terpenting. Jangan lari lagi. Kamu tidak tau apa yang hilang saat kamu berpaling... (Hal.283)
.
.
.

👐 Sejak melihat novel bunda @arynilandari ini pada postingan kerennya kakak Bookstagram Riizukiii saya jadi penasaran dengan novelnya, dan ketika berkesempatan untuk punya bukunya...wah! Isinya keren dan alurnya seru.

👐 Membaca novel Clair ini seolah membuat saya sedang di hadapkan dengan gumpalan benang kusut,yang hanya bisa diurai dengan membaca novel ini sampai selesai. Dan saya baru bisa menyelesaikan novel ini setelah 3 hari membacanya😅🙏

👐 Menarik, di waktu yang lain, jika tidak memahami keinginan atau manfaat dari apa yang dilakukan dengan membaca buku ini, mungkin kalian akan dilanda jemu yang hanya sebentar, namun dari saya pibadi baiknya menuntaskan bacaan novel ini karena pada akhirnya kalian akan merasa lega setelah berhasil menamatkan novel Clair ini.

👐 Diksi yang memukau dari bun, hanya barangkali untuk Clair ini saya masih bisa merasakan dominasi deskripsi dibanding dialog. Tapi deskripsi dalam novelnya membantu saya lebih memahami alurnya dan beberapa istilah asing yang digunakan dalam novel Clair ini.

👐 Meskipun berbumbu fantasi, novel Clair ini berhasil membuat saya berpikir juga berempati dengan kondisi Rhea sang Clair yang harus terlibat dalam situasi yang melibatkan orang didekatnya melalui sebuah kasus. Rasanya terlibat pada sebuah kasus dengan orang terdekat (punya kesan emosi) itu bagi saya pribadi adalah tantangan yang cenderung sulit.

👐 Emosi yang saya rasakan selama proses membaca novel tidak selalu menyenangkan namun begitu menyelesaikan bagian akhir rasanya lega dan nyaman.

👐 Membaca novel Clair ini juga membuat saya berpikir 'bagaimana rasanya dianugerahi kemampuan seperti para Clair? menyenangkan atau justru menyulitkan?' dan juga ada perasaan menyenangkan yang menyelip saat saya membaca novel ini, karena saya diingatkan kembali pada cita-cita yang ingin saya wujudkan suatu hari nanti.

👐 Bunda Ary bukan hanya berhasil menciptakan tokoh-tokoh keren dalam novel Clair ini, tetapi para tokoh juga memiliki peran masing-masing dalam perkembangan alur cerita dan bukan sekadar dimunculkan. Dan saya selalu bisa dibuat takjub dengan penulis yang mampu melakukannya. Keren,bun!
Profile Image for Gagaoo.
2 reviews
March 2, 2023
DISCLAIMER: Review ini bersifat SUBJEKTIF. Review ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadiku sendiri, yang merupakan seorang ilustrator yang hobi membaca dan sedikit mencoba untuk menulis karanganku sendiri. Jadi kalaupun ada kata-kata yang kurang berkenan atau fakta yang kusebut tak sesuai dengan realita, mohon dimaklumi, karena aku sendiri juga masih perlu banyak belajar.

Clair: The Death that Beings Us Closer oleh Ary Nilandari. Novel yang utamanya membawakan plot bergenre misteri dibumbui drama dan romance. Berfokus kepada seorang siswi SMA kelas 12 bernama Rhea Rafanda, seorang clairtangent, di mana dia bisa membaca kenangan orang lain melalui sentuhan. Dia bisa menyadap memori orang dengan sentuhan langsung, maupun menggunakan media berupa benda. Suatu hari, kedua sahabat Aidan Narayana, laki-laki yang disukainya, ingin membuka lagi kasus tentang kematian Aidan dengan datang ke kantor polisi di mana Tante Fang bekerja. Rhea tak terima Tante Fang menolak untuk membuka kembali kasus tersebut. Dia pun mencoba untuk menghubungi kedua sahabat tersebut tanpa sepengetahuan tantenya. Dimulailah petualangan Rhea bersama Kei dan River, sahabat Aidan, untuk menyelidiki kembali kasus kematiannya yang sudah mendingin.

Akhirnya selesai baca buku ini. Sering menunda bacaan di awal karena membaca buku baru mengharuskanku untuk menarik napas panjang-panjang. I self-proclaim myself as a highly imaginative person. Aku juga merupakan seorang ilustrator. Ketika membaca novel, aku harus istirahat sejenak untuk sekadar membayangkan dan memutar setiap adegan di dalam novel seperti sebuah film yang jelas di kepalaku. Bagian orientasi adalah bagian yang paling berat. Di situ adalah bagian di mana aku harus membayangkan perawakan setiap karakter dari awal dan menggambarnya di atas kertas. That's just how I do my things whenever I read books even if there are illustrations, haha. Tapi setelah dapat gambarannya, baca buku ini serasa naik wahana arung jeram. Terkadang arusnya tenang, tak lama menjadi cepat sedikit, lalu tenang lagi, dan begitu seterusnya hingga ternyata arung jeramnya berujung membawaku ke air terjun, wkwk.

▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

Kelebihan:

Penokohan yang unik dan pembawaan cerita yang dalam.

Hal yang paling aku suka dari tulisan Bunda Ary. Pasti penokohannya selalu, selalu, dan selalu aja membuatku ingin mengacungkan dua jempol. Bahkan kalau bisa kutambahkan dua jempol kaki sekaligus. Bisa tercermin dari tulisannya bahwa dunia di dalam novel ini terdapat kehidupan. Bunda Ary pasti sudah hati-hati dan penuh ketekunan untuk menuliskannya sedetail mungkin dengan penuh cinta. Bahkan ada Wynter dan Raiden juga. Darmawangsa International High School memang sekolah andalan dari Bunda Ary. Aku baru aja mulai baca Pelik, jadi kurang ingat apakah Ardi, Rayn, atau Megan juga sempat muncul.

Terutama Rhea, tokoh utama kita. Dia peduli dengan orang lain, tapi terkadang nggak cukup percaya diri dengan tindakannya. Dengan penggunaan kata ganti orang pertama, aku duduk manis memandang dunia Rhea dari kacamatanya. Rhea adalah gadis pemberani, terutama jika mencakup hal yang berkaitan dengan orang yang dia sayangi. Dan aku suka pembawaan Bunda Ary untuk membawa pembaca ke dalam proses berpikir Rhea di dalam novel. Menjadi clairtangent ternyata nggak cuma membaca kenangan orang lain, tapi juga menyerap emosi yang dirasakan di setiap memorinya. Itu kenapa sering kali Rhea membicarakan perasaannya. And that's tough, because she had to experience painful memories that aren't hers to begin with. And for what? For other people. And because of this ability, too, she's away from the world. Just like a chickadee that doesn't sing the same song as the other birds, excluded and bullied. Rhea is such a strong girl.



Karakter kedua yang pengin aku highlight di sini adalah Kei. Dia underrated banget. Ceritanya berfokus seputar Rhea dan Aidan, jadi nggak begitu dijelaskan asal-usul dan pengalaman dia. He's one of my personal favorite because I have a thing for soft guys. He's such a cinammon roll that I want to protect at all cost. Kei adalah salah satu sahabat Aidan yang bersikeras pengin kasus Aidan dibuka lagi. Dia itu lembut, sering mementingkan orang lain dibanding dirinya.















Tante Fang, si cantik tapi galak. Bang El, bapak angkat baik hati yang overprotektif. AKPRI, bapak besar menyeramkan yang ternyata berselera humor tinggi, yang juga overprotektif. River, kesan awal agak judes tapi sebenarnya dia cuma agak sensian, aslinya pedulian. Sebenarnya pengin kujelasin satu-satu juga tentang mereka. Nggak habis-habisnya pengin kujelaskan betapa jatuh cintanya aku dengan penokohan di novel ini. Tapi takut malah terlalu panjang, jadi aku sudahi di sini aja.

Pendeskripsian adegan yang jelas tetapi nggak terlalu bertele-tele.

Ini adalah salah satu aspek yang membuktikan Bunda Ary adalah penulis yang sangat berpengalaman. Jika dibandingkan dengan novel remaja dari penulis lain, aspek ini yang bikin aku betah dengan tulisan-tulisan dari Bunda Ary.

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, aku mengaku diriku sebagai seorang yang highly-imaginative. Bukan ADHD, tapi otakku nggak bisa berhenti mermikirkan banyak ide. Mudah bagiku untuk membayangkan sesuatu, segila apapun itu. Call me weird, yes. I think most artists are weird.

Dan inilah aspek yang sangat kuapresiasi ketika membaca novel remaja. Adegan-adegan di dalam tulisan Bunda Ary dijelaskan dengan detail dan jelas. Diksi-diksi yang digunakan juga indah dan menyentuh banget. Ini super duper membantu otakku mengonstruksikan bayangan adegan ini di dalam otakku. Penggambaran tentang apa yang terjadi di novel terkesan nggak terlalu terburu-buru, dan pembawaannya dilakukan dengan kecepatan yang―menurutku―seimbang. Nggak terlalu cepat, nggak terlalu lambat.

Jalan cerita yang rapi dan teratur.

Salah satu ciri novel bergenre misteri adalah pada bagian orientasi, pembaca disuguhi oleh banyak pertanyaan. Seiring halaman terus dibalikkan, pertanyaan tersebut kemudian terjawab satu per satu. Untuk novel ini, jalur ceritanya sudah ditata dengan rapi. Semua pertanyaan terjawab, walaupun ada beberapa yang di akhir cerita malah ditutupi debu.



Topiknya juga dari awal sampai akhir sama: clairtangency, kasus Aidan, dan kehidupan Rhea. Dan semuanya dikemas dengan magic spell yang dikerahkan dari tongkat sihir (baca: PC dan charger) Bunda Ary sebagai penulis dengan rapi. Aku nggak bisa jelasin dalam kata-kata, tapi ada satu hal dari buku ini yang berbeda dengan buku Bunda Ary yang lain.

Ilustrasinya!

Props to the illustrator, Kak Rui, sudah menggambarkan adegan dengan baik. Sebenarnya, ada perdebatan tentang penggunaan ilustrasi di dalam novel karena mungkin menghancurkan imajinasi pembaca. Tapi untuk aku pribadi, aku suka ilustrasi yang dipakai di novel ini. Mungkin bagi pembaca yang sulit mengimajinasikan karakter dalam novel dapat terbantu dengan ilustrasi yang ada. Respect from me for Kak Rui as a fellow artist.

▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


Kekurangan:

Perspektif yang terbatas pada tokoh utama.

Ceritanya dibawa dengan menggunakan kata ganti orang pertama dari perspektif Rhea. Novel ini hanya berfokus kebanyakan pada isi kepalanya. Apa yang dia lihat, apa yang dia rasakan, apa yang dia pahami, apa yang dia pikirkan, dan lain-lain.



Mungkin karena keterbatasan 'ruang' untuk novel ini juga, Bunda Ary memutuskan untuk melewatkan latar belakang tokoh lain. Karena memang, novelnya sendiri sudah setebal 300+ halaman. Lebih dari itu, aku enggan membawa novel ini ke mana-mana seperti yang kulakukan.

Plot dan penyelesaian masalah yang linear.

Mungkin bagi pembaca mystery-hunter atau twist-hunter yang menginginkan plot twist yang lebih ekstrim, novel ini bukan menjadi sasaran yang tepat. Aku rasa, novel ini lebih fokus pada pengembangan diri dari tokoh utama, dan bagaimana masing-masing tokoh di dalamnya belajar dari kejadian yang mereka alami.

Seperti yang kusebutkan sebelumnya, plotnya konsisten dan terbatas pada masalah utama: clairtangency, kasus Aidan, dan kehidupan Rhea. Itu merupakan suatu kelebihan tersendiri. Tapi bagiku penyelesaian masalah yang dibawakan novel ini masih kurang ngejleb. Di novel ini, twist dibawakan dengan pelan, sehingga sudah terbayang di kepalaku













Pemecahan teka-teki pun dibawa dengan alur yang menurutku cukup lambat sampai pertengahan buku. Makanya aku analogikan bahwa membaca novel ini seperti menaiki wahana arung jeram. Arus tenang di awal, tak lama ketemu air terjun yang sebenarnya nggak terlalu tinggi juga. Mungkin lebih seperti air terjun mini. Dan itu mengapa aku anggap penyelesaian masalahnya linear, karena pertanyaan yang ditanyakan di awal hanya terjawab sekali itu saja dan sudah ketemu jawabannya, tak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru.

Meski begitu, yang paling menonjol dalam novel ini memang penokohannya yang dalam. Alhasil, ceritanya tak terfokus dalam pemecahan teka-teki. Dan aku pribadi masih suka pembawaan yang seperti itu.

Flow percakapan yang terasa kurang natural.

Sepengalamanku membaca karya Bunda Ary, aku merasa alur percakapannya baik-baik aja. Tapi khusus di buku ini, entah kenapa, sedikit berbeda. Banyak pencampuran kata-kata baku dan non-baku yang terkadang sedikit mengganggu.



Banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Satu lagi yang bikin aku gemas. Dan masih banyak pertanyaan lain tentang karakter lain.

Lagi-lagi, mungkin memang problematikanya jatuh di keterbatasan 'ruang', dan mungkin waktu, untuk menulisnya.

▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

Jujur, Bunda Ary adalah salah satu penulis favoritku untuk buku novel remaja, dan merupakan penulis pertama yang membuatku mulai membaca novel. Dulu-dulu aku lebih suka baca buku komik yang bergambar ketimbang buku yang isinya terlalu banyak tulisannya, wkwk.

Novel Clair: The Death that Brings Us Closer mungkin merupakan novel favoritku yang terbaru dari Bunda Ary. Buku ini punya karakter yang unik, dan meninggalkan kesan di hati kecil ini. Tentunya bukan hati yang di perut. Maksudnya, amigdala yang ada di otak, bagian otak yang memproses emosi. (Nggak tahu bener atau nggak. Anak seni soalnya. Bukan anak kedokteran, wkwk.)

Akhir kata, mohon maaf jika ada penyampaian yang multitafsir dan menyinggung. Pada akhirnya, semua ulasan yang kutulis di sini murni bersifat subjektif. Mungkin banyak hal yang sebenarnya Bunda Ary ingin sampaikan secara tersirat di dalam kalimatnya, tetapi diriku yang awam dalam dunia penulisan ini gagal memahami maksudnya. Semangat, Bunda Ary. Aku tunggu novel-novel selanjutnya, dan bakal kubeli kalau udah gajian, wkwk.

Salam,
Penikmat Buku Cetak
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Desita Itsmystyle.
64 reviews5 followers
November 21, 2019
Ada kalanya, perintang bisa kamu dobrak dengan badanmu. Jalan terbuka, tapi kamu dan orang di sekitarmu bisa terluka. Sebelum kamu lakukan itu, cobalah memanjat atau memutarinya. Mungkin sulit dan lebih jauh, tapi kamu akan sampai di baliknya dengan selamat. Hlm 93.
.
Kembali lagi ke semesta Darmawangsa. Kalau kalian sudah membaca buku-buku teenlit Kak Ary, kalian akan menemui banyak karyanya yang mengambil setting sekolah swasta elite tersebut :).
.
Kayaknya nggak akan habis bahan buat explore murid-murid luar biasa yang ada di sana. 'Luar biasa' yang kumaksud mengacu pada kuatnya tiap karakter yang selalu bisa Kak Ary tampilkan. Seakan kalimat 'setiap orang adalah tokoh utama dalam hidupnya' bukanlah isapan jempol belaka. Beliau menunjukkan hal tersebut lewat karya-karyanya.
.
Kemampuan psikometri milik Clair sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu unik untuk ukuran cerita fiksi. Sudah ada beberapa novel/komik/anime/drama yang mengangkat kemampuan serupa. Beberapa bergenre fantasi atau distopia seperti Twilight (Stephani Meyer), Touche (Windhy Puspitadewi), dan anime Charlotte. Ada juga yang sama-sama bergenre realis seperti drakor He is Psychometric. Yang terakhir ini yang paling mirip untuk kemampuan dan cara kerjanya.
.
Tapi tenang aja, novel ini jauh dari kata mirip dengan pendahulu-pendahulunya. Ceritanya fresh dengan cara yang menyenangkan. Terlebih, nuansa buku lokalnya jauh lebih terasa. Ini bukan buku lokal yang memaksa kebarat-baratan meski beberapa tokohnya punya darah campuran. Mungkin lebih tepat kalau aku menyebutnya dengan cerita lokal yang berkelas. Sekalipun kebanyakan tokohnya adalah orang-orang ‘mampu’, tapi percayalah mereka tidak membuat kita merasa terdiskriminasi, berbeda dunia, atau sejenisnya.
.
Rhea dengan kondisi otak yang tidak biasa, harus rela berpuas diri dengan bakatnya yang bisa membantu kepolisian menolong orang lain (meski secara rahasia dan hati-hati demi keselamatannya sendiri). Sementara itu di mata teman-teman sepermainannya, ia lebih sering dianggap aneh dengan sikap berjarak dan sarung tangan pink yang setia bertengger membalut kulit pucatnya. Membuat dia lebih sering dijauhi dan menjauhkan diri dari lingkungan sosialnya.
.
Aku, Rhea Rafanda, Clair. Mengumpulkan banyak kenangan orang lain. Melupakan kenanganku sendiri. Memimpikan peristiwa yang dialami orang lain. Memblokir pengalamanku sendiri. Dengan cermat melacak sejarah orang lain. Sigap melompati lini masaku sendiri. Hlm 103.
.
Aidan dan Shin yang kelihatannya selalu jadi sosok unggulan yang sempurna jadi tokoh utama juga aslinya punya beban dan masalahnya sendiri. I love both of them!
.
Kehadiran Kei dan River juga mampu menjaga arus cerita berada di wilayah cerita remaja dengan sejumlah perasaan hangat, kenangan, dan kentalnya nilai persahabatan yang mereka junjung di tengah-tengah kasus yang tidak hanya misterius, tetapi juga membahayakan nyawa.
.
Sementara itu, beberapa sosok dewasa seperti Bang El dan Iptu Fang, membuat stereotip ‘orang dewasa dalam cerita remaja hanyalah sosok pendamping dan pengamat’ menjadi luntur. Nyatanya, kedua tokoh dewasa itu bisa membaur dan bekerja sama dengan baik dalam hubungan horizontal yang jauh dari kesan berjarak.
.
Yang jelas chemistry semua tokohnya saling melengkapi dan semakin membuat cerita ini terasa nyata dan hidup!
.
Seperti biasa pula, gaya bahasa Kak Ary yang menyenangkan selalu membuat kita ketagihan untuk terus membaca. Novel-novel Kak Ary bukan bergenre komedi, tapi humornya jelas berhasil mengocok perut. Setidaknya, pasti bikin senyum-senyum lah ya, hehe.
.
Ini bukan fiksi, bukan cerita detektif yang kamu baca sambil menebak-nebak endingnya. Kamu bukan cerita yang bakal dilupakan karena move on ke buku lain. Hlm 306.
.
Sejauh ini dari ketiga karya penulis yang sudah kubaca, Clair jadi cerita terbaik! Lebih banyak teka-teki, lebih banyak karakter loveable, juga kali ini disertai perpaduan emosi turun-naik berimbang dengan pergantian yang begitu cepat sehingga tidak membiarkan pembaca berlarut-larut hanya dalam satu suasana hati.
.
Nangis kemudian ketawa, atau ketawa kemudian nangis, udah jadi hal yang biasa. Jadi saranku terima saja kalau kamu diberi tatapan aneh pas baca buku ini. Kalau enggak, bisa pinjamkan buku ini ke orang yang sebelumnya menatapmu aneh setelah kamu selesai baca, supaya dia percaya, kamu nggak gila ;).
.
Lastly, puas baca ini! Nggak sabar nunggu karya penulis selanjutnya :D.
.
Now, can you let me go? Hlm 308.
.
Profile Image for Niki Yuntari.
87 reviews7 followers
May 31, 2020
Saya nggak pernah nyangka 'menyembuhkan' reading slump saya dengan membaca novel seperti ini. Sejak awal sampai akhir, saya dibuat penasaran untuk membuka lembar demi lembar, sampai akhirnya menyelesaikannya dengan perasaan yang lega.

Buku ini menceritakan sosok Rhea yang merupakan seorang clairtangent. Kemampuan yang membuatnya dapat melihat peristiwa di masa lalu lewat sentuhan pada objek yang terlibat, istilah lainnya psikometris.

Kemampuan itu digunakan Rhea untuk membantu tantenya yang bekerja di kepolisian. Siapa sangka hal itu juga membantunya untuk memecahkan kasus kematian Aidan yang sangat misterius. Kasusnya ditutup dengan konklusi bahwa Aidan overdosis narkotika, padahal cowok itu sama sekali nggak pernah mengonsumsi barang haram itu.

Penyelidikan Rhea membawanya pada fakta-fakta mengejutkan yang ternyata berhubungan erat dengannya. Fakta penting yang terlupa dan berpengaruh dalam hidupnya.

Buku ini adalah buku pertama Mbak Ary yang saya baca. Saya sangat menyukai premis ceritanya, yang mengingatkan saya dengan Touche-nya Windhy Puspitadewi. Kemampuan keduanya hampir sama, yakni bisa menyerap sesuatu lewat sentuhan.

Penulis menjelaskan semuanya dengan mulus. Teka-teki terkuak sedikit demi sedikit, membuat pembaca penasaran. Pun dengan kejutan-kejutan yang muncul sepanjanh novel.

Saya beri 5 dari 5 bintang untuk novel ini. Review lengkap menyusul yaaa :)
32 reviews2 followers
April 8, 2020
Setiap manusia terlahir istimewa, itulah keyakinan yang berhasil ditanamkan bang El dan Tante Fang pada Rhea. Walau terlahir berbeda dan dijauhi teman teman sekolahnya, ia tetap tumbuh dengan kuat dan bahagia.

Rhea adalah clairtangency, pemilik tangan kanan yang mampu menyadap kenangan yang dimiliki orang lain atau benda apapun yang disentuhnya. Berkat kemampuan ini, ia diminta membantu memecahkan beberapa kasus di kepolisian. Hingga suatu hari, ia dihadapkan dengan kasus kematian Aidan, orang yang dicintainya. Ia Berusaha mengembangkan bahkan melewati batas kemampuannya untuk menyelesaikan kasus itu. Ia bahkan terancam membuka banyak kenangan yang terblokir juga kehilangan banyak kenangan indahnya.

Saat membaca novel ini, tak terhitung berapa kali dahiku berkerut. Entah berapa banyak ekspresi yang kutunjukkan karena hanyut dalam konflik cerita. Aku ikut sedih saat Rhea menceritakan masa lalu serta kemelutnya sebagai clairtangency. Ikut senyum senyum sendiri membayangkan interaksi Rhea dengan Aidan-nya, ikut bangga melihat persahabatan Aidan, Kei, dan River. Juga ikut sakit melihat puncak konflik novel ini.

Fyi, Setiap baca novel, aku selalu optimis dengan berfikir "jika aku sungguh-sungguh, sepertinya aku bisa menulis novel macam ini suatu hari). Tapi ajaibnya, membaca Clair membuat optimis itu tiba-tiba berkurang. Karena emang sekeren itu ceritanya, proud of you bunda @arylandri.

Aku rasa cerita dalam ini sangat potensial untuk ditindaklanjut menjadi cerita berseri. Karakter clair telah dicipta cukup kuat sehingga memungkinkan menghadapi kasus yang berbeda seiring usianya yang terus bertumbuh. Selain itu ada iptu fang yang penuh prinsip, bang el yang selalu peduli, shai yang cerdas serta sahabat2 Aidan yang setia. Perpaduan karakter ini lebih dari cukup untuk menjalankan banyak petualangan baru.

"Bersama anugerah kekuatan dan bakat, ada kewajiban dan tanggung jawab" (h. 3)

Judul : clair
Penulis : Ary Nilandari
Penerbit : republika
Tebal : hal.364
Tahun terbit : 2019
Profile Image for Fitria Mayrani.
522 reviews25 followers
November 7, 2019
Di tengah gempuran novel-novel remaja yang menjajakan tema-tema usang, Clair hadir dengan tema di luar kebiasaan. Clair bisa dilihat sebagai usaha pengarang memadukan berbagai genre seperti fantasi, romance, supranatural, dan misteri yang mana hal ini membawa suasana baru dalam literasi Indonesia.

Bercerita tentang Rhea Rafanda, siswi kelas 12 yang memiliki bakat unik yang disebut psychomeyric (di novel ini kemampuan khusus itu disebut "clairtagency") yaitu kemampuan psikis di mana seseorang bisa merasakan atau "membaca" sejarah suatu objek dengan cara menyentuhnya. Orang seperti Rhea dapat menerima flashback atau future tentang keadaan dari sebuah objek dengan cara memegang suatu benda yang berhubungan dengan objek dan objek itu sendiri. Gambaran imajinasi tersebut dapat dirasakan dalam bentuk gambar, suara, bau, rasa, bahkan emosi. (dilansir Kaskus : Felmentia1, 2014)

Karena bakatnya ini, Rhea dibully dan dikagumi secara bersamaan. Di sekolah, Rhea dianggap aneh, oleh sebabnya tak ada yang mau berteman secara akrab dengannya. Sementara bagi pihak kepolisian, Rhea sangat berjasa dalam memecahkan kasus yang tidak menemui titik terang.

Meski memiliki bakat spesial, Rhea tetaplah gadis remaja yang bisa terpesona oleh cinta. Rhea diam-diam naksir Aidan, kakak kelasnya. Sayangnya, Aidan meninggal di usia yang sangat muda dalam suatu tragedi, yang menurut Rhea dan sahabat-sahabat Aidan, kematian Aidan terasa sangat janggal. Maka untuk membuktikan kecurigaan itu, Rhea menyelidiki misteri kematian Aidan dengan mengandalkan kemampuan psikometrinya dengan dibantu oleh Kei dan River.

Kondisi seperti Rhea persis dialami juga oleh Lee Ahn dalam drama Korea berjudul He Is Psychometric. Baik Rhea dan Lee Ahn sama-sama memanfaatkan kemampuan itu untuk penyelidikan kasus di kepolisian. Bedanya, Rhea digambarkan sebagai seorang psychometric yang lemah. Dia tidak bisa menangani kasus-kasus sadistik karena itu akan menyakitinya dan mengganggu memeorinya.

Clair adalah bacaan remaja yang bergizi. Di dalamnya terdapat kehangatan cinta keluarga, persahabatan yang solid, kasih sayang saudara kandung, dan cinta remaja yang manusiawi. Isu bullying di sekolah juga nyaring disuarakan.

Clair memiliki alur cerita yang mulus. Plot demi plot digarap dengan apik oleh pengarangnya. Selaku pengarang, Mbak Ary tidak membiarkan pembacanya bertanya-tanya terlalu lama tentang misteri yang menimpa tokoh-tokohnya, sebab beliau pelan-pelan akan membongkarnya selapis demi selapis. Namun, sepertinya ada satu dua karakter yang disengaja tidak diungkap hingga di akhir cerita. Mungkinkah akan muncul (kan kembali) di buku selanjutnya?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Jurnal Si Bugot.
225 reviews7 followers
November 25, 2019
"Hati-hati dengan tangan kananku, sentuhannya menghidupkan kenangan, menyadap rahasia terdalam... termasuk milik mereka yang sudah tiada" ~ Rhea Rafanda
___
QOTD : Apa yang kamu ketahui tentang Claitangent/psychometri?
.
Clairtangency adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui informasi yang mendetail melalui sentuhan (dalam novel ini diasosiasikan dengan memori/kenangan). Kak @arynilandari memang menambahkan sentuhan fantasi pada novel ini. Tapi di kehidupan nyata, memang beneran ada loh orang-orang dengan bakat clairtangent yang membantu polisi menangkap penjahat. (Cek story saya)
.
Clair bercerita tentang Rhea, seorang clairtangent yang sudah sering membantu polisi dengan kemampuannya itu. Suatu ketika, Rhea melibatkan diri untuk menyelidiki kasus kematian Aidan Narayana. Seniornya di SMA yang meninggal karena bunuh diri. Bersama Kei dan River--dua sahabat Aidan yang tak percaya Aidan bunuh diri, Rhea menelusuri jejak kenangan Aidan untuk mengetahui peristiwa sebenarnya dibalik kematian senior yang dikaguminya itu. Penyelidikan mereka tak hanya melibatkan penjahat psycho jenius, tapi juga membuka kembali kenangan-kenangan traumatis yang sudah diblock otaknya.
.
Ya Tuhan!!! Bagaimana menggambarkan luar biasanya cerita yang dibangun Kak Ary kali ini. Saya ikut penasaran, deg-degan dan kaget tiap kali Rhea menemukan fakta baru. Teka tekinya berlapis tapi masuk akal. Elemen fantasinya terasa nyata dengan world building yang menarik. Hal ini juga didukung dengan pace cerita yang ritmis dan penokohan yang kuat. Saya juga suka bagaimana Kak Ary menggambarkan sosok "kenangan"-jenius. Apalagi POV dari Rhea langsung, rasanya seperti membaca novel thriller dengan penceritaan unreliable narrator, bikin nagih sekaligus gemes nebak ceritanya. 😁
.
Sulit dipercaya kalau kisah Rhea yang penuh ketegangan ini terjadi di dunia yang sama dengan kisah Wynter (Write Me His Story) dan Rain (Pelik) berlangsung. Tapi memang begitu adanya, dan mereka juga tampil sebagai cameo di cerita ini.
.
Saya juga suka bagaimana Kak Ary tetap menambahkan elemen "Catatan Harian" yang sepertinya selalu ada di tiap novel beliau. SUKA BANGET SAMA CERITA INI 😍😍
Profile Image for Dyah.
1,110 reviews65 followers
July 7, 2021
Pengen baca ini cepat-cepat tapi susah ... 🙈 Dari blurb-nya aja udah bikin sedih. Rhea, tokoh utama perempuan, ngga sempat menyatakan perasaan sama Aidan, laki-laki yang ditaksirnya. Dia pendam perasaannya selama berapa tahun? Tahunya Aidan tewas bunuh diri. Terus Rhea nyesel senyesel-nyeselnya, dan berusaha mencari tahu kebenaran di balik kematian Aidan. Dia ngga percaya Aidan bunuh diri.
.
Jujur aja aku ngga punya cukup kesabaran membaca tentang tokoh yang memendam rasa suka sama seseorang. Gemes banget pengen ngejitak. Soalnya aku, kalau suka ya bilang aja, ngga peduli kalau pun ditolak, ngga peduli kalau pun dibilang egois. Aku berhak akan perasaanku, dia pun berhak akan perasaannya.
Oke. Cukuplah tentang aku.
.
Kembali ke Clair ya.
Clair itu singkatan dari clairtangency, kemampuan unik yang dimiliki Rhea, kemampuan untuk membaca kenangan lewat sentuhan tangan kanannya. Dengan kemampuan ini, Rhea menyelidiki kasus kematian Aidan.
.
Seperti biasa, ada beberapa ciri khas Mbak Ary dalam buku ini:
✴ Plotnya rapi.
✴ Ada satu hal unik yang dibahas (kali ini tentang clairtangency)
✴ Ada kemunculan tokoh dari novel Mbak Ary lainnya (kali ini Mas Geo, dari Pangeran Bumi Kesatria Bulan)
Semua ini membuat Clair seru dibaca. Tapi aku merasa ada yang kurang greget ... Beberapa hal seolah-olah 'too good to be true', beberapa peristiwa terjadi dengan mudah sehingga terasa kurang realistis. Tapi aku mengabaikannya, karena memang ini kan kisah fiksi. Dan aku juga kurang suka kalau terlalu realistis.
.
Buku ini memuat beberapa ilustrasi isi yang aku suka style-nya. Sayang sekali ilustrasi sampulnya tidak dikerjakan oleh orang yang sama.
.
Aku berharap kisah Clair akan ada lanjutannya, mungkin dengan kasus yang lebih menantang. Lagipula, masa lalu Rhea masih belum terungkap. Dan aku juga ingin tahu kelanjutan hubungan cintanya Rhea.
Profile Image for Andi.
8 reviews6 followers
November 14, 2019
Ide cerita novel ini unik bgt. Mengangkat tema seorang gadis yg memiliki bakat Clairtangency (melihat peristiwa masa lalu melalui sentuhan) yg mungkin bagi orang awam dianggap hal yang menakjubkan, namun bagi si pemilik bakat menganggap kemampuan itu adalah kutukan. Gadis itu bernama Rhea, berusaha membuktikan bahwa kasus kematian Aidan Narayana, teman laki-lakinya, bukan kasus bunuh krn overdosis obat-obatan terlarang, tapi kasus pembunuhan. Rhea tdk sadar bahwa ada bahaya yg mengintai dirinya ketika ia melibatkan diri pada kasus yg sudah ditutup oleh pihak kepolisian ini.

Walaupun novel misteri ini alurnya cukup panjang, dibumbuhi romance remaja disana-sini, tp ceritanya tetap fokus, bikin deg-degan sekaligus penasaran di setiap babnya, gak sabar buat buka halaman berikutnya. Plottwist2nya jg believable, masuk akal dan tepat penempatannya, jd klimaksnya dapet. Banyak kalimat2 yg quotable, yg bisa jadi bahan renungan dan kita ambil hikmahnya. Romancenya juga gak menye-menye, saya enjoy bgt bacanya.

Yg menyita perhatian saya tentu tokoh utamanya, karakter Rhea kuat bgt. Kak Ary berhasil membangun karakter Rhea ini sbg sosok yg misterius dgn kemampuan istimewah. Rhea sebenarnya gadis biasa yg periang, butuh diperhatikan, dan ingin punya banyak teman. Namun krn kemampuannya, ia jadi penyendiri, membentengi diri dari orang2 sekitar yg menganggapnya aneh. Dan yg saya suka, Rhea tetap dibuat misterius hingga akhir, berasal dari mana dan siapa orang tua Rhea masih jd tanda tanya besar.

Gak cuma misterinya yg bikin tegang, romancenya yg bikin baper, tp novel ini jg mengangkat isu keluarga. Banyak hikmah yg bisa kita ambil dr kedekatan Rhea dgn orang tuanya walau ia hanya anak angkat, jg dr kerumitan permasalahan keluarga Aidan yg jd "titik temu" cerita di novel ini.
Profile Image for Mami Veve.
91 reviews3 followers
September 12, 2019


Sejak masih ongoing di Wattpad, cerita ini sudah bikin geregetan. Kisah Rhea dalam Clair begitu mengigit sejak Prelude. Bunda menebarkan petunjuk halus dibarengi dengan taburan candu yang bikin enggak bisa berhenti baca dan kepikiran sampai kebawa tidur.

Di tengah-tengah gempuran novel remaja dengan tema itu-itu aja, CLAIR menawarkan tema fresh. Meski dikemas dalam cerita misteri, CLAIR tetap merupakan bacaan yang padat bergizi. Aman dibaca untuk remaja, bukan tentang kisah cinta yang menye-menye meski tidak menghilangkan kelincahan remaja.

Tetap ada pesan moral yang tersirat, khas tulisan Bunda Ary Nilandari. CLAIR bukan hanya menghibur, tapi juga mengajak pembaca berpikir cerdas dengan mengumpulkan petunjuk sepanjang cerita. Pembaca digiring terus sampai enggak ngerasa terjebak plot twist yang bikin guling-guling sekaligus denial meski fakta misteri sudah terkuak. Bunda Ary Nilandari selalu lihai menghidupkan semua karakter sampai pembaca mendadak jadi abg labil bingung mau ngeship yang mana.

Seperti yang dikatakan salah satu CLAIRMATE, pujian mainstream enggak cukup menggambarkan betapa komplitnya cerita ini!
Profile Image for Jurnallin.
4 reviews1 follower
October 10, 2019
What a mysteri thriller this is....
Di buku ini, aku merasa menjadi seorang detektif yg gagal. Gimana enggak, aku selalu salah dlm menebak setiap clue nya. Novel young adult yg akan membawa kita menjelajahi lapis demi lapis labirin kematian. Plot maju mundur yg dikemas secara epic, serta foresh shadowing yg begitu smooth. Butuh inteligence yg luar biasa utk bisa menebak alur cerita selanjutnya. Dan, bukan kak Ary klo tidak bisa menyuguhkan adegan yg out of mind. Betapa enggak, di akhir2 cerita ini pembaca dibuat tercengang bahkan sampai "what the ... It is" aku sendiri saja hampir enggak percaya dengan endingnya. Padahal, dari awal sdh diberikan clue. Tapi tetap saja aku masih merasa hah..... Buatku yg sudah berumur ini, novel Clair sangat membantu utk tetap menjaga kinerja otakku. Tapi, satu hal yg masih aku pikirkan. Endingnya. Aku rasa, itu masih bisa dibikin cerita lagi yg enggak kalah luar biasa. Dengan karakter serta sitem kerja yg seperti itu, aku rasa masih bisa meledak. Apa mungkin krn diawal sdh disuguhkan dengan berlapis labirin misteri, sehingga ending yg demikian berasa gimana gitu....
Profile Image for Autmn Reader.
882 reviews92 followers
December 14, 2021
Actual rating 4,5 🌟

• Pros:

Sukaaa. Emang aku enggak ragu lagi sih kalau sama tulisannya Mbak Ary. Plotnya selalu rapi, dan bonding antar karakternya juga selalu bagus dan mengharukan. Aidan-Sky dan Aidan - teman2nya tuh ih juara bangetlah. Heartwarming.

Petunjuk2 selalu diberikan dengan rapi, jadi pas ada twist tuh ya mengagetkan tapi masuk akal. Wlaupun, TBH, enggak bgtu kaget juga sih sama twist-nya. Udah kebayang aja sih dari awal.

•Cons:

Cuman aku emang nggak terlalu suka sama Rhea-nya, sih. Terlalu OP? OP nggak, sih? Wkwk. Soalnya aku berasa ya terlalu mudah aja gtu, dan segalanya disandarkan ke dia tanpa ada kerjasama yg solid antara satu dan yang lain.

Dan yaaaaa, love triangle is not my cup of tea, wkwk.
Profile Image for Joy.
4 reviews1 follower
September 16, 2019
If any, the small prints in one chapter, only one chapter, hurt my eyes.
I wear glasses for a reason, obviously.
Everything else are great. The story itself is more than I expected.
Profile Image for Sha.
182 reviews6 followers
February 8, 2021
Rhea seorang clairtangent, ia bisa melihat kenangan dari orang atau benda yang disentuhnya. Tapi bila kenangan yang dilihat terlalu traumatis, ingatannya bisa terblokir. Dengan kemampuannya, Rhea sering membantu tantenya di kepolisian sebagai Clair. Suatu hari ada kasus mencurigakan, seorang pemuda bernama Aidan ditemukan meninggal di dalam mobil karena overdosis. Polisi sudah menutup kasus ini dan menyimpulkan sebagai kasus bunuh diri. Tapi para sahabatnya tidak terima, termasuk Rhea yang juga mengenal Aidan. Akhirnya Rhea bersama sahabat Aidan, Kei dan River menyelidiki kasus ini diam-diam. Semakin diselidiki lebih dalam, semakin Rhea menyadari, ada beberapa kenangan dengan Aidan yang terblokir dari otaknya.

Kasus yang diceritakan bisa dibilang cukup rumit, bikin aku ikutan mikir ada kejadian apa dibalik kematian Aidan. Semakin digali lebih dalam, makin banyak fakta baru yang ditemukan Rhea sebagai 'Clair'. Ga hanya tentang Aidan, ingatan Rhea bersama Aidan yang terkubur perlahan-lahan terbuka. Ingatan Rhea yang hilang ini sebenernya ga secara langsung berhubungan dengan misteri Aidan. Tapi sedikit banyak membantu Rhea menelusuri 'jejak' Aidan sebelum kematian. Alur cerita novel ini maju mundur, saat ini dan saat Rhea di kelas 10, pertama mengenal Aidan. Di kelas 10, tentu saja ada kisah-kasih di sekolah (jadi pengen nyanyi) yang manis, ngga berlebihan atau cringey. Dan ini juga yang bikin nyesekkkk kalo inget Aidan udah ngga ada. Huaaa. Penulis menceritakan semuanya dengan detail dan runut, walaupun ada beberapa bagian yang bikin bingung. Mau balik lagi buat liat, udah susah soalnya baca ebook, lupa ada di halaman berapa 😅

Dengan rumitnya kasus di novel ini, bikin aku ga bisa berhenti baca, apalagi tiap Clair menemukan fakta baru melalui sentuhannya. Penulis berhasil banget bikin penasaran. Selain itu, emosi yang dirasakan oleh tiap tokoh juga tersampaikan dengan baik. Rasa menyesal, sedih, bahagia tiap tokoh sebelum dan setelah kematian Aidan. Tokoh di novel ini cukup banyak, dan masing-masing punya karakter yang kuat, bahkan untuk tokoh yang muncul di pertengahan cerita seperti Stella Miller dan Sky Lee. Pas pertama Sky Lee disebut sebenernya itu kayak clue sih, aku pun sempet menduga-duga cuman liat keadaan Rhea saat itu, jadi ikutan bingung. Kemunculan Sky Lee tuh bikin seneng dan sedih di saat yang bersamaan. Ada juga bagian yang menurutku agak mengganggu, tiap adegan Clair memproyeksikan Aidan dari kenangannya, jadi kayak yang berhalusinasi. Haha. Karena di sini digambarkan 'kenangan' sosok Aidan bisa disentuh dan menyentuh Clair. Kalau cuman sekedar berinteraksi sama Clair, ngobrol gitu juga kayaknya cukup deh. Secara keseluruhan, aku sukaaa sama ide ceritanya, alurnya, tokohnya, dan gaya berceritanya.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
January 13, 2025
Entah keberuntungan atau ini "kutukan", Rhea Rafanda, siswi SMA punya kemampuan clairtangency di mana ia dapat membaca kenanga yang "tertinggal" pada benda tersebut. Caranya? cukup dengan menyentuhkan tangannya ke benda tersebut maka kilatan peristiwa yang terjadi pun dengan mudah ia lihat.

Atas kemampuannya ini, Rhea "bekerja" di kepolisian. Membantu Tante Fang yang merupakan saudara kandung pria yang mengadopsinya. Di kepolisian Rhea menutup rapat identitasnya dan dia dikenal dengan nama sandi: Clair.

Menarik melihat cara Clair mencari petunjuk dari benda-benda yang terlibat dalam sebuah peristiwa. Dari peristiwa besar seperti pembunuhan atau remeh macam perselingkuhan, Clair dengan mudah mencari jawaban atas peristiwa-peristiwa tersebut.

Sayangnya, Clair tidak diberikan izin atau akses untuk menyelidiki kematian Aidan, kakak kelasnya yang sejak lama ia kagumi. Aidan yang anak basket, hidup sehat dan baik tahu-tahu ditemukan tewas overdosis di mobil miliknya.

River dan Kei, -sahabat terdekat Aidan, juga tidak percaya jika Aidan meninggal karena OD. Sayangnya, mereka kesulitan untuk mencari jawaban. Apalagi keluarga Aidan -ibundanya, juga seolah menutup kasus ini dan mencoba ikhlas atas kematian anaknya.

Namun, belakangan dari benda-benda yang tertinggal, Clair mendapatkan beberapa petunjuk dan penyelidikannya itu kemudian memaksa Clair harus bersentuhan dengan pihak-pihak lain yang menginginkan kasus ini tetap terkubur. Ada apakah? Jika pun Aidan benar dibunuh, apa yang diketahui Aidan yang menjadikan pihak-pihak ini ingin melenyapkannya?

* * *

Udah lama banget gak baca novelnya Mbak Ary. Dari segi ide, wah angkat topi aku. Keren banget bisa kepikiran untuk mengembangkan cerita dari clairtangency. Secara bobot novelnya juga cukup tebal 366 halaman dan bahasa yang dipakai pun asyik.

Walau begitu ada bagian yang aku kadang kebingungan, yakni saat Clair mampu "berkomunikasi" dengan Aidan selaiknya Aidan berada di hadapannya. Pernah nonton Ratatouille? nah mirip komunikasi si tikus Remy dan chef Gusteau yang sebetulnya hanya ada di imajinasinya. Kadang aku kehilangan arah saat baca novel Clair ini ketika komunikasi antara Clair dan Aidan terasa tumpang tindih dengan kejadian real-nya.

Jadi, walau bahasanya ringan, tetap butuh konsentrasi ketika baca. Di paruh awal buku juga sebetulnya tensi ketegangannya masih datar. Ketika Kei mulai diteror dan kemunculan si pembunuh bayaran, baru tensi ceritanya naik lagi.

Secara keseluruhan jelas Clair novel yang menarik. Walau, menurutku novel ini bisa lebih dipadatkan dan dibikin lebih thriller lagi hehehe.

Skor 7,5/10
3 reviews
July 21, 2025
Menceritakan tentang Rhea, remaja 19 tahun yang punya kemampuan clairtandency dan misinya buat mecahin kasus kematian temannya lebih tepatnya orang yang dia cinta💔.

Si author bener-bener mateng dalam mengangkat tema fenomena clair ini jarang banget ada yang angkat. Plot buku ini maju-mundur tapi hal itu ga bikin aku(pembaca) bingung dalam memahami ceritanya semuanya diceritakan dengan detail. Sayangnya untuk masa lalu Rhea belum dijelaskan bagaimana.

Untuk segi alur cerita, aku bakal kira isinya romance cheesy ala ala watpadd but suprisingly isinya ada misteri, thriller, dan sedikit bumbu romance. Selama baca buku ini perasaanku bener bener dibuat roller coaster. kadang baper, kadang panik, kadang juga ga nyaman. Penulisan dalam menggambarkan situasinya benar benar buat aku tenggelam ke dalam bukunya. Walaupun bukunya mystery, kadang untuk plottwist2nya mudah aja aku tebak karena foreshadow dari kemampuan Rhea (jadi gampang untuk menarik kesimpulan) contohnya saat rhea membaca karakter stella miller, sudah ketebak dari awal
kalau stella ini bakal jadi antagonisnya walaupun untuk identitasnya masih misteri

Untuk penulisan Karakter, aku salut banget sama author. Dia bisa bikin tiap karakter itu hidup karena mereka memliki kepribadiannya masing masing. Rhea yang seorang remaja emo tpi juga punya hati yang lembut dan suka bikin kesimpulan sesuka hati, Aidan yang punya kepribadian yang ramah namun menyimpan banyak misteri, Shai sebagai kembaran Aidan yang memiliki kepribadian yanh lebih tertutup dan pemalu selain itu Kei dan River sebagai karakter pendukung juga memiliki karakter yang unik. Aku pribadi sebenarnya kurang suka dengar kepribadian Rhea namun masih bisa aku teloransi karena Rhea itu remaja jadi normal aja dia bertindak agak gegabah 😭

well secara keseluruhan aku suka sama cerita buku ini. Sebagai beginner buku ini termasuk ringan dengan penggunaan diksi dan kosa kata yang unik namun lumayan sering digunakan sehari-hari.
Profile Image for Nida Najwa.
88 reviews4 followers
September 6, 2020
Tokoh utamanya yaitu Rhea Rafanda memiliki kemampuan clairtangent. Mirip kayak psikometri. Dia bisa membaca memori benda yang disentuhnya secara langsung. Memori benda yang disentuhnya bakal berefek untuk Rhea. Oleh karena itu, Rhea selalu memakai sarung tangan, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.⁣

Kemampuan ini memang bukan barang baru lagi di dunia fiksi, apalagi yang genrenya fantasy. Tapi penulis berhasil menyajikannya dengan apik, sehingga nggak terasa klise dan membosankan.⁣

Awalnya, aku penasaran dengan cara penulis menghidupkan karakter Aidan yang notabene udah nggak ada. Gimana caranya coba? Tapi dengan gaya penulisan yang halus, penulis berhasil 'menghidupkan' kembali karakter Aidan dengan sangat baik. Two thumbs up deh!👍👍👍⁣

Misteri dan plot twist yang disajikan juga memuaskan. Walaupun petunjuknya bertebaran dimana-mana, aku tetap nggak berhasil menebak kebenarannya.⁣

Sejujurnya, ada beberapa tindakan tokoh yang kurang make sense buat aku. Tapi berhasil ditutupi dengan plotnya yang rapi. Jadi nggak terlalu mengganggu.⁣

Romansanya juga nggak berlebihan dan nggak bikin mual pas baca😂😂 Manisnya pas, nggak lebih, nggak kurang.⁣

Overall, aku suka novel ini. Plot twistnya kece, karakternya (terutama Aidan) loveable banget, dan pembawaan cerita yang halus. Top deh!
10 reviews4 followers
April 1, 2020
Idenditas novel :

Judul : Clair (The Death that Brings Us Closer)
Penulis : Ary Nilandari
Penerbit : Mahaka Publishing
Isi halaman : iv+366
ISBN : 978-602-5734-86-1
.
.
Nah, novel Clair ini menceritakan Tentang Rhea yang punya kemampuan clairtagency-membaca kenangan melalui sentuhan-kemampuannya ini ada di tangan kanannya aja dan kalau ada kenangan yang berkaitan dengan kekerasan Rhea bakal kehilangan memorinya. Kemudian, kasus Aidan-cinta pertama Rhea-yang dikabarkan bunuh diri kembali diselidiki karena sahabat Aidan merasa ada yang janggal.

Novel ini seru banget, aku suka hihihi. Bikin aku penasaran sampai lembar terakhirnya, dibuka dengan penggambaran kemampuan Rhea yang memiliki Clair hingga konflik sebenarnya mencuat ke permukaan.

Novel ini bukan hanya tentang pengungkapan apakah Aidan benar-benar bunuh diri atau dibunuh tapi ada unsur persahabatan, keluarga, dan kisah kasih remaja.

Gaya penulisannya juga cocok denganku jadi bacanya enjoy-enjoy aja, penulis sukses buat aku ikut ngerasa senang, tegang, sesuai suasana yang digambarkan dalam novelnya. Menggunakan alur maju dengan beberapa kali flashback yang di novel fisiknya ditandai dengan kertas berwarna abu-abu. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama yaitu Rhea sendiri.

Dan, yahh tebakanku benar untuk siapa sebenarnya sky lee, malah sudah jelas sih tapi petunjuk awalku kurang kuat.

Sayangnya, aku kira akibat kasus Aidan pada memori Rhea bakal lebih berdampak besar tapi harapanku tidak terpenuhi.

Novel penuh teka-teki yang berjalan lambat di beberapa part awal karena masih mengumpulkan bukti-bukti dan petunjuk yang ada kemudian berjalan pas saat lampu "menyala"

Ada tambahan ilustrasi walaupun sedikit bisa membuatku lebih mudah dalam "membentuk" para tokoh di pikiran. .
Profile Image for haraka (tinybooknest).
196 reviews13 followers
January 16, 2022
CAWPILE: 8.07 | Final Rating: 4.25

Suprise read pertama di tahun 2022. Sebenernya sudah tertarik sama novel ini saat lihat covernya di Gramedia. Tapi baru kesampaian baca setelah dapat kesempatan punya buku ini berkat kiriman dari Buku Republika <3

Unsur fantasy dibuku ini mengingatkan sama drama korea yang karakternya punya kemampuan yang sama. Dimana karakternya bisa memutar kembali "memory" dari benda-benda yang disentuhnya, baik benda hidup maupun mati. Dimana akhirnya kemampuannya ini membawa dia mencari tahu kebenaran dibalik kasus yang melibatkan cinta pertamanya.

Setelah baca ceritanya cukup seru. Buku ini lebih kental dengan nuansa mystery, namun dibumbui dengan unsur fantasy dan romance remaja. Membuat cerita ini ada unsur suspense yang bikin penasaran namun tetap ringan dan mudah diikuti.

Sedikit bagian yang menganjal adalah adanya satu pertanyaan besar yang sampai akhir tidak terjawab mengenai karakter utama di cerita ini.
Profile Image for Maria.
221 reviews1 follower
July 21, 2022
Pertama-pertama kukira buku ini akan terlihat membosankan dengan tak disangka tokoh utama menyukai seorang cowok yang semasa hidupnya mempunyai pacar.
Mulai bersunggut-sunggut lah aku, kalau buku jadi kelihatan tidak menarik hanya karena konflik klise dan terlihat merendahkan.

Lama-lama setelah jeda beberapa hari dan kembali melanjutkan bacaan karena penasaran. Terlanjur menyesal, semua yang kupahami sebelumnya hanya sebatas salah paham.

Lembar tiap lembar kubaca, ceritanya mulai semakin menarik. Hingga sampai ke puncak cerita yang ternyata membongkar plot twist. Aku jadi nagih untuk menyelesaikan buku lebih cepat.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 30 of 49 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.