Kansai merupakan wilayah bagian selatan-tengah Honshu, pulau terbesar di Jepang. Wilayah ini mencakup tujuh prefektur (kurang lebih setara dengan provinsi): Kyoto, Nara, Osaka, Hyogo, Shiga, Wakayama, dan Mie.
Buku ini dapat menjadi panduan bagi pelancong yang punya waktu leluasa di Kansai--entahkah karena liburan panjang, studi, kerja, atau malah warga asli sana--dan tertarik melakukan perjalanan tematik. Ada enam bagian dalam buku ini: Nature, Industry, A Sense of Place, The Arts, Youth Culture, dan Religion. Tiap-tiap bagian terdiri dari empat esai, kecuali pada bagian pertama terdapat lima esai.
Sebelum memasuki kumpulan esai itu, buku ini diawali dengan bab pengantar yang menjelaskan tentang Kansai dari berbagai segi: geografi, sejarah, budaya, bahasa, dan seterusnya. Di samping itu, tentunya dijabarkan pula garis besar buku. Rupanya sebagian esai ini sebelumnya pernah dimuat pada kolom "Kansai Culturescapes" di The Daily Yomiuri (yang telah berganti nama jadi The Japan News sejak 2013), koran nasional Jepang berbahasa Inggris. (Kalau di Indonesia, koran ini mungkin seperti The Jakarta Post.)
Tiap-tiap esai dalam buku ini memiliki tema masing-masing: menyebut berbagai tempat di Kansai (terutama Kyoto) yang berkaitan, menampilkan figur-figur yang dapat ditemui, dilengkapi dengan sumber-sumber sekunder, dan diakhiri dengan daftar kontak (alamat, nomor telepon, dan situs) untuk informasi lebih lanjut. Kelebihan buku ini mungkin ada pada daftar kontaknya itu.
Bagi pembaca yang tidak begitu menguasai bahasa Inggris, buku ini bisa menjadi tantangan. Pastinya sudah banyak film dokumenter yang mengupas soal tempat-tempat unik di Jepang, sehingga media tersebut sepertinya lebih efektif ketimbang membaca esai yang sebagian kosakatanya tidak dimengerti.
Saya sendiri selama pembacaan buku ini sekali-sekali berhenti sekadar untuk googling dan melihat gambar atau video dari objek yang sedang diceritakan. Objek yang menarik saya untuk googling di antaranya Sanogawa Ichimatsu (aktor kabuki tampan yang menginspirasi pembuatan Boneka Persahabatan (populer pada era Meiji, 1868-1912), Super Dollfies, Asimo, Paro, Geminoid F, Hijikata Tatsumi (perintis teater butoh; 1928-1986), Ohno Kazuo (ikut merintis bersama HT; 1906-2010), Carlotta Ikeda (figur teater lainnya), dan sebagainya.
Bukan berarti buku ini tidak disertai gambar-gambar (baik berwarna maupun tidak). Tapi, selain tidak meliputi semua objek, sebagian besar gambar itu lokasinya terpisah dari esai-esai yang terkait--dikumpulkan di tengah-tengah buku--sedang saya sebetulnya termasuk generasi yang apa-apa mengandalkan visualisasi dan ingin serbacepat. Ya, bahkan saya yang biasanya menimbang diri sebagai pencinta walls of texts dan tidak begitu mementingkan gambar, kali ini mengaku bahwa dalam hal ini lebih baik menonton saja daripada membaca.
Meski begitu, film dokumenter enggak efisien untuk menyajikan daftar kontak, ya enggak sih?