Buku ini menghimpun tiga kisah panjang Gogol yang paling penting. Hidung, Catatan Harian Si Gila, dan Mantel. Ketiga kisah tersebut mengajak kita berfilsafat tentang manusia, bukan dengan pendekatan akademis, pedantik, sistemik, namun dengan bertutur tentang manusia-manusia yang walaupun tidak begitu konkret dan lebih berupa karikatur, namun dengan itu, dia malah memberi pembaca kesempatan untuk mengisi wajah-wajah karikatur itu dengan wajahnya sendiri berdasarkan pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan pribadi masing-masing dan mengambil hikmah darinya.
“Gogol tidak mengabaikan konvensi-konvensi realisme, tetapi sebaliknya, mengacaukannya sebagaimana dalam mimpi.” -The Guardian
People consider that Russian writer Nikolai Vasilievich Gogol (Николай Васильевич Гоголь) founded realism in Russian literature. His works include The Overcoat (1842) and Dead Souls (1842).
Ukrainian birth, heritage, and upbringing of Gogol influenced many of his written works among the most beloved in the tradition of Russian-language literature. Most critics see Gogol as the first Russian realist. His biting satire, comic realism, and descriptions of Russian provincials and petty bureaucrats influenced later Russian masters Leo Tolstoy, Ivan Turgenev, and especially Fyodor Dostoyevsky. Gogol wittily said many later Russian maxims.
Gogol first used the techniques of surrealism and the grotesque in his works The Nose, Viy, The Overcoat, and Nevsky Prospekt. Ukrainian upbringing, culture, and folklore influenced his early works, such as Evenings on a Farm near Dikanka . His later writing satirized political corruption in the Russian empire in Dead Souls.
Wakaka... ini tiga cerpen yang rada edan, dan bikin pembacanya ngikut edan. Penuh satire dan metafora, sedikit hiperbolik dan banyak kegetiran.
Yang pertama tentang seseorang yang kehilangan hidungnya. Yang kedua seseorang yang kehilangan kewarasannya. Dan yang ketiga kehilangan mantelnya. Endingnya itu lho. Aku suka ketiga-tiganya. Seperti mengatakan, apa ya kamu perlu kehilangan benda paling berhargamu dulu, sebelum kamu mau berubah jadi manusia yang lebih baik?
Tiga cerita panjang yang ada di buku ini, dengan kesialan pada masing-masing tokohnya, bagiku sangat menghibur. Menghibur di sini terdiri dari porsi yang sama besar yaitu ketawa dan garuk-garuk kepala.
Tapi mendadak banyak kebingungan yang dateng ketika pembaca, termasuk aku, mencoba buat memahami teknik bercerita Gogol. Di cerita yang berjudul 'Hidung' dan 'Mantel', sama-sama pakai sudut pandang orang ketiga. Narator yang menuntun serta mengawasi tiap-tiap peristiwa. Tapi alih-alih menarasikan yang sudah ada, yaitu ceritanya sendiri, narator pada tiap kesempatan, datang untuk mengingatkan pembaca --dalam cerita berjudul Hidung-- bahwa tokoh yang bernama Kovaloff mempunyai kecenderungan acuh tak acuh jika ada penghinaan terhadap dirinya sendiri, namun beda soal jika sudah menyangkut pangkat atau jabatan.
Dan dalam cerita berjudul Mantel, kita bisa melihat keterbatasan kuasa seorang narator tatkala tokoh ceritanya yang bernama Akaky Akakievitch tengah menuju rumah atasan kantornya dengan berkata "Ingatanku mulai lemah, dan jalan-jalan serta rumah-rumah di St Petersburg yang tak terhitung banyaknya......." Lalu sekali lagi pembaca diberitahukan keterbatasan kuasa narator ketika Akaky Akakievitch tertawa kecil saat sedang menuju rumah atasannya, sang narator ingin coba menjelaskan alasan kenapa Akaky tertawa kecil, namun langsung ditepisnya dengan berkata "sungguh mustahil untuk masuk ke jiwa seseorang manusia dan mengetahui semua yang dipikirkannya."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kumpulan cerpen terbaik Nikolai Gogol: Hidung, Catatan Harian Si Gila, dan Mantel. Bahasa yang digunakan cukup ringan tetapi memiliki makna yang dalam.