Di buku pertama #TuhanMahaAsyik ceritanya bagus, pun dengan di buku keduanya #TuhanMahaAsyik2
Lagi, di buku ini disuguhkan melalui percakapan yang dilakukan oleh anak-anak dalam berbagai macam keyakinan; Buchori, Dharma, Kapitayan, Parwati, Pangestu, Samin dan Christine.
Mereka dengan polosnya menanyakan berbagai macam pertanyaan, tetapi yang terjadi membuat para orang tua & guru kewalahan dalam menjawabnya.
Asyik banget baca buku keduanya ini. Di mana narasi tentang menjalani kehidupan beragama sungguh hal yang menyenangkan, nggak kaku. Dan, seperti judulnya, Tuhan Maha Asyik.
Menurutku, penulis berhasil dalam menyampaikan pesan-pesannya dengan baik, dibuat dengan percakapan yang santai, penganalogian yang selalu tepat sasaran, lalu diakhiri dengan kesimpulan yang bisa diterima, bahasanya mudah dipahami, ceritanya enak banget untuk diikuti.
" Yakni, agama bukan untuk dibicarakan. Apalagi dibicarakan cuma dalam bahasa kata. Ajaran agama laksana napas bagi awam yang senantiasa bernapas tanpa membicarakannya. Kitab suci diturunkan bukan untuk dipenjara dalam bahasa kata. Agama & kitab suci dihadirkan Tuhan untuk disejiwai & disebadani oleh seisi alam dengan berbagai macam bahasa. Bahasa lukisan, bahasa musik, bahasa aroma, dll bahasa, bahkan bahasa keheningan." hlm: 357