Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tuhan Maha Asyik 2

Rate this book
Agama bukan untuk dibicarakan. Apalagi dibicarakan cuma dalam bahasa kata. Ia laksana napas bagi awam yang senantiasa bernapas tanpa membicarakannya. Kitab suci diturunkan bukan untuk dipenjara dalam bahasa kata. Agama dan kitab suci dihadirkan Tuhan untuk disejiwai dan disebadani oleh seisi alam dengan berbagai macam bahasa—bahasa lukisan, bahasa musik, bahasa aroma, dan lain-lain bahasa bahkan bahasa keheningan—bukannya diributkan dalam perkelahian persepsi dan cuma dalam bahasa kata. Tapi, amit-amit, fakta yang jamak berlangsung kini malah: Agama dimonopoli golongan tertentu, lalu Tuhan ditunggangi untuk melegitimasi syahwat politik berkedok agama, bersenjatakan tusukan bahasa kata-kata di atas mimbar. Pesan-pesan miris inilah yang dihadirkan Sujiwo Tejo dan Dr. Muhammad Nursamad Kamba dalam sekuel Tuhan Maha Asyik ini.

Kritik dalam buku ini, seperti edisi sebelumnya, dibangun dengan arif. Hadir melalui kisah-kisah lincah tentang kemerdekaan berpikir ala bocah-bocah yang nama-namanya mewakili berbagai keyakinan, seperti Christine, Parwati, Dharma, Samin, Kapitayan, Buchori, dan Pangestu, yang diimbangi kearifan Bu Guru Matematika dan Pak Guru Biologi dalam “angon” murid-muridnya yang sangat independen itu. Dan, ditutup dengan hikmah tentang kasih sayang Tuhan yang meliputi segala sesuatu. Tuhan adalah Kebaikan Absolut. Ia senantiasa mencipta tanpa jeda, sebagai wujud cinta pada makhluk-makhluk yang bersedia takluk pada kasih dan sayang-Nya. Cinta Tuhan tak terbatas ruang dan waktu. Dia Maha Asyik Sekali—sejauh manusia tidak kurang ajar, dengan nekat mempersepsikan-Nya, yang ujung-ujungnya malah mengajak Dia ribut.

366 pages, Paperback

First published January 1, 2020

15 people are currently reading
161 people want to read

About the author

Sujiwo Tejo

27 books431 followers
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".

Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
46 (55%)
4 stars
27 (32%)
3 stars
8 (9%)
2 stars
1 (1%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,093 reviews17 followers
April 5, 2021
Memahami agama pada masa kontemporer ini memang harus dibarengi dengan akal yang sehat dan pikiran yang terbuka. Sebab, tak jarang para penganut agama lebih mementingkan simbol-simbol atau atribut yang dipakai tanpa bisa meresapi dan memaknai hakikat agama yang dianutnya. Selain itu, yang patut disayangkan juga adalah ketika ada penganut agama yang sangat kaku dan ingin memaksakan pemahaman agamanya kepada orang lain, bahkan dengan cara kekerasan dan aksi teror. Inilah yang membuat agama jadi terkesan menakutkan dan malah membuat ribet kehidupan. Dengan demikian, di buku ini, saya merasa bahwa penulis ingin memberikan pemahaman bahwa agama itu bersifat damai dan menenangkan. Kita tak perlu menunjukkan simbol-simbol agama, melainkan dibuktikan dengan sikap dan tingkah laku kita sehari-hari.

Sebelumnya, saya sudah membaca 'Tuhan Maha Asyik' bagian kesatu. Dan, saya merasa di bagian kedua buku ini pembahasannya lebih panjang dan mendalam; sehingga ilmu yang kita dapatkan bisa semakin bertambah.
Profile Image for intan prw.
51 reviews
October 4, 2021
Di buku pertama #TuhanMahaAsyik ceritanya bagus, pun dengan di buku keduanya #TuhanMahaAsyik2

Lagi, di buku ini disuguhkan melalui percakapan yang dilakukan oleh anak-anak dalam berbagai macam keyakinan; Buchori, Dharma, Kapitayan, Parwati, Pangestu, Samin dan Christine.

Mereka dengan polosnya menanyakan berbagai macam pertanyaan, tetapi yang terjadi membuat para orang tua & guru kewalahan dalam menjawabnya.

Asyik banget baca buku keduanya ini. Di mana narasi tentang menjalani kehidupan beragama sungguh hal yang menyenangkan, nggak kaku. Dan, seperti judulnya, Tuhan Maha Asyik.

Menurutku, penulis berhasil dalam menyampaikan pesan-pesannya dengan baik, dibuat dengan percakapan yang santai, penganalogian yang selalu tepat sasaran, lalu diakhiri dengan kesimpulan yang bisa diterima, bahasanya mudah dipahami, ceritanya enak banget untuk diikuti.

" Yakni, agama bukan untuk dibicarakan. Apalagi dibicarakan cuma dalam bahasa kata. Ajaran agama laksana napas bagi awam yang senantiasa bernapas tanpa membicarakannya. Kitab suci diturunkan bukan untuk dipenjara dalam bahasa kata. Agama & kitab suci dihadirkan Tuhan untuk disejiwai & disebadani oleh seisi alam dengan berbagai macam bahasa. Bahasa lukisan, bahasa musik, bahasa aroma, dll bahasa, bahkan bahasa keheningan." hlm: 357
Profile Image for Mas Alif.
178 reviews3 followers
December 8, 2024
serius. baca buku ini. perlu banget mikir. jangan kosong banget yah.

Aku gatau siapa yang buat dialog anak-anak beda agama itu disini. penulis 1 atau penulis 2 nya.

Di beberapa bab, aku kadang merasakan adanya tendensi didalam. Tapi Intinya, apa yang kita yakini benar. Yowes, selalu yakini itu benar.

Aku kasih rating sempurna. Karena, pembawaan penulis dalam menyusun pemikiran-pemikiran yang mereka miliki. Luar biasa.

Di buku kedua ini bahkan penulisnya sudah sangat jelas ditujukan untuk menyerang siapa. Yup. Dalam buku ini dijelaskan betapa agama sudah sangat marak dijadikan ajang jual beli, betapa orang beragama kehilangan hakikat beragama, bagaimana banyak maunya manusia terus aku suka pembahasan tentang set dan subset bahwa benar Tuhan Maha Mengabulkan tapi juga Maha semau-mauNya.

Ambil positifnya.
Profile Image for Probo Darono Yakti.
84 reviews5 followers
April 28, 2020
Lagi-lagi Sujiwo Tejo bersama dengan MN Kamba berhasil membuat saya terkagum bagaimana menggambarkan betapa Mahaasyiknya Tuhan kita. Melalui sejumlah karakter fiksi yang digambarkan Sujiwo Tejo di awal tiap bagian, kemudian dilengkapi dengan penjelasan dari MN Kamba menyusul berikutnya menjadikan buku ini selayaknya sekuel pertama dari Tuhan Maha Asyik. Ada beberapa sifat yang juga diungkap dari buku ini soal Tuhan, misalkan Mahamenundapermintaan, dan lain sebagainya. Hal ini mengingatkan kita tentang kehidupan yang paradoks. Semua disajikan dengan apik dan juga terkadang diselingi oleh guyonan satir nan ringan ala Mbah Presiden Jancukers ini.
Profile Image for Alvania Kartika.
44 reviews6 followers
November 6, 2021
Penulisan buku ini sama seperti buku pertamanya dan saya masih belum bisa memahami sepenuhnya. Buku kedua ini lebih tebal dari yang pertama. Saya lebih sering meloncati halaman di buku kedua ini daripada buku pertama. Tapi buku ini masih bisa dinikmati pembaca umum kok.
Profile Image for Muhammad.
955 reviews2 followers
December 21, 2023
Tetap membumi setelah pengalaman fana adalah akhlak Nabi, Rasul, Syuhada dan salikin. Percaturan dunia memang membuat setiap insan bersikeras saling hantam. Hadirnya lentera memandu menapaki jalan mendaki nan sukar. Istiqomah tetaplah jalan para salik.
1 review
Currently reading
August 8, 2020
i want to read this book
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.