Jangan Anda bayangkan bahwa buku ini akan mengajarkan ilmu fikih yang kaku dan berat. Dalam buku ini, Nadirsyah Hosen atau akrab disapa Gus Nadir, menuturkan indahnya keilmuan fikih yang dipelajari langsung dari sang bapak, Prof. K.H. Ibrahim Hosen, L.M.L., Ketua Bidang Fatwa di Majelis Ulama Indonesia pada 1980-2000. Buku ini layaknya sebuah persembahan ilmu dari Abah dan anak, dalam mewarnai khazanah kajian fikih di Indonesia.
Tak hanya membahas hukum-hukum agama yang sering diperdebatkan banyak pihak, tetapi juga memberikan solusi atas problematika masyarakat Islam zaman now. Melalui kitab-kitab fikih yang jarang diketahui publik, ia mengajak kita berkaca pada cara Rasulullah Saw. dan para sahabat dalam menyelesaikan masalah agama saat itu, yang disesuaikan dengan konteks saat ini.
Mulai dari hukum Muslim masuk gereja, penggunaan vaksin, perbedaan mazhab, hingga jawaban soal ayat jilbab, semua dituturkan oleh Gus Nadir secara santai. Bertujuan agar kita tak terjebak dalam liang sesatnya berpikir instan, bahkan dengan mudah menghakimi seseorang berbekal sepenggal ayat maupun hadis saja.
Berisiknya argumentasi agama di medsos membuat saya membaca buku-buku fikih, ingin tau apakah perdebatan-perdebatan itu ada dasarnya. Untuk itu saya sudah membaca misalnya buku Fiqh al Islam wa adilatuhu, Fiqh Al-Sunnah, bidayah al mujtahid dan beberapa buku fikih lokal ...
Ternyata seharusnya saya membaca buku ini dulu ... Karena buku ini memang ditulis sebagai bagian dari aktivitas Gus Nadir memberi kuliah di medsos, menjawabi argumentasi-argumentasi yang centang perenang di sana. Lebih tepat sasaran ketimbang saya menelusuri kitab-kitab klasik dari awal sampai akhir.
Tapi setelah menamatkan buku ini kelihatannya saya akan meneruskan bacaan kitab-kitab fikih ... ilmu ini ternyata menarik dan mencerdaskan :). Mohon do'anya nggih, Gus Nadir _/|\_
Kereeeeeen dan sungguh mindblowing! Sangat suka dengan point yg disampaikan gus Nadir "semakin kita memperluas bacaan kita, semakin kita akan mudah bertoleransi". Memang dengan terbiasa memahami banyak sudut pandang,referensi, dan perspektif terhadap segla sesuatu akan lbih mudah utk saling menghargai. Dari buku ini, saya jdi paham tntng sistem khilafah yg digaung2kn oleh HTI, alasan perempuan bisa jadi hakim, persoalan receh tntng ayat berjilbab dan hukum riba yg sampai sekarng msih hangat didiskusikan. Sangat tidak sabar untuk membaca buku2 gus Nadir lainny yg kiai ujang di negeri kanguru dan tafsir al-Quran di Medsos.
Penjabaran fiqih yang sederhana dan mudah dicerna. Apalagi Gus Nadir selalu mengkaitkan dengan kondisi indonesia saat ini. Sehingga agama menjadi hal yang implementatif tidak hanya sekedar teori saja.
Kita tahu bahwa saat ini, banyak orang pintar yang memahami ilmu, tapi belum tentu paham implementasinya. Di buku ini, kita diajarkan berfikir dan juga berdiskusi tentang implementasi islam di mana pun.
Penjelasan fikih yang ditulis dengan referensi dan pandangan pendapat beberapa ulama, tidak serta merta pendapat/opini penulis. Asiknya Gus Nadir menyampaikan berbagai pandangan tentang fikih dari ulama yang lurus/kaku atau yang kontroversi. Sehingga kita akan mengetahui kekayaan ilmu ini. Membaca buku ini kita akan paham bahwa aturan islam itu tidak sekaku yang kita bayangkan, fikih humanis yang kiai-kiai NU ajarkan diterangkan dengan jelas pada buku ini
Setelah baca buku ini bisa dipahami kenapa kebanyakan masyarakat kita belum terbiasa dengan tradisi perbedaan pendapat dalam fikih. Mungkin apabila perbedaan-perbedaan pendapat di masa lalu antar ulama itu dibawa ke masa kini, kita akan kaget kenapa kita sering mudah mengkafirkan atau menganggap yang berbeda dengan yang mainstream dengan sebutan liberal, Syiah, orientalis, dll. padahal hal itu terbiasa terjadi di masa lalu.
Mungkin yang kurang dari buku ini, pembahasan sejauh mana fiqih bisa berkembang seiring semakin modernnya era di masa mendatang, apakah tetap akan berpegang dengan mazhab ribuan tahun lalu yang berangkat dari kondisi yang sangat jauh berbeda dengan sekarang, ditambah lagi saat itu dunia para imam-imam mazhab hanya sebatas beberapa negara di Timur Tengah saja (apa yang terjadi kalau mereka tahu ada negara-negara maju seperti Jepang, Korsel, Jerman, dll. yang lebih baik dan bertradisi berbeda dari negara-negara mayoritas muslim?).
Skor akhir. Konten: 4.5/5 (setelah baca ini banyak ilmu yang didapat dan juga pelurusan miskonsepsi yang selama ini beredar) Fisik dan Visual: 4.5/5 (kualitas kertas baik & jenis tulisannya nyaman dibaca) Tingkat Kemudahan: 2/5 (cukup sulit untuk konsentrasi terutama di setengah buku awal karena banyak istilah fiqh yang mungkin biasa dipelajari oleh santri)
Ga usah diragukan lagi kalau tulisannya Gus Prof ini selalu enak dibaca dan mencerahkan. Buku ini bisa jadi alternatif untuk memahami fikih lintas mazhab yang penuh warna. kalau baca buku ini, intinya jangan kagetan, baperan, dan terburu-buru melabeli seseorang itu salah, sesat, dan tuduhan-tuduhan lainnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.