Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sister Fillah, You'll Never Be Alone

Rate this book
Kenapa ya, kebanyakan buku yang ngomongin perempuan, ditulis laki-laki? Saat ngomongin perempuan, yang dibahas lebih banyak alasan kenapa perempuan “lebih mudah masuk neraka”, perempuan suka umbar aurat, suka ghibah dan semacamnya. Bahkan konon, yang paling sering mengkritik dan ngomongin perempuan itu ya sesama perempuan. Benarkah? Apa nggak ada yang bisa dilakukan perempuan demi sesama perempuan, bahkan mulai dari hal kecil sekalipun?

Buku ini buku tentang perempuan yang ditulis oleh perempuan. Perempuan mungkin lembut, tetapi perempuan juga adalah pejuang tangguh. Perempuan memang cantik, tapi cantiknya bukan hanya dari bersolek tetapi juga bersinar karena kecerdasannya.

Kalis mengajak kita untuk melihat perempuan dari berbagai aspek. Banyak perempuan yang sukses dengan keluarga dan pendidikan, di sisi lain masih banyak perempuan yang masih terlilit persoalan: para ibu tunggal yang harus berjuang membesarkan anaknya, korban kawin muda, buruh perempuan tanpa upah layak, perempuan korban kekerasan, dan banyak lagi. Dan sebagai sesama perempuan, kita harusnya saling menguatkan bukan saling menjatuhkan

152 pages, Paperback

First published April 1, 2020

15 people are currently reading
255 people want to read

About the author

Kalis Mardiasih

7 books24 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
122 (43%)
4 stars
133 (47%)
3 stars
23 (8%)
2 stars
3 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 83 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,044 reviews1,964 followers
June 13, 2020
Laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah. Berlomba-lomba dalam kebaikanlah alat ukurnya.


Ketika mengetahui bahwa Kalis akan segera merilis buku barunya, aku memasang pengingat agar tidak luput dari jadwal prapesan (pre order). Rupanya aku sempat terlalu sibuk dengan agenda pembuatan konten sehingga sampai hari terakhir dari prapesan aku belum melakukan transaksi. Aku sempat harap-harap cemas. Apakah penjualan reguler berlangsung segera atau jangan-jangan menunggu 1 bulan lamanya.

Ternyata hadir lebih cepat dari yang aku perhitungkan.

Mengenal Kalis melalui Muslimah yang Diperdebatkan membawaku pada ekspektasi bahwa tulisannya membawaku pada sisi-sisi pengetahuan yang belum aku pahami. Dalam hal ini adalah perihal posisi perempuan di dalam Islam. Aku akui, apa yang menjadi premis terbitnya buku ini adalah benar. Bahwa yang menulis soal muslimah didominasi oleh penulis pria. Menyebabkan adanya bias pandangan karena pria tidak merasakan pengalaman yang sama dengan wanita. Alhasil, aku sendiri sempat takut untuk membaca buku-buku berbau agama. Sebab aku masih ingat sekali bagaimana seseorang pernah mengatakan bahwa "perempuan adalah sumber dosa." Dan membaca buku-buku tentang muslimah membuatku takut.

Kalis hadir sebagai secercah cahaya yang mengajakku untuk berdialog soal Islam dan perempuan. Dengan gaya bertuturnya yang sudah semakin rapi, aku merasa seperti didongengi daripada "diceramahi." Ia mengajak pembaca untuk duduk dan memulai dialog. Bukan seperti akun-akun berkedok memberi dakwah, padahal isinya semacam memberi doktrin.

Sister Fillah, You'll Never Walk Alone berisi kumpulan tulisan Kalis yang semakin mengerucut. Islam, hukum di Indonesia, dan perempuan. Tentang bagaimana dalam hukum pun, perempuan kerap mengalami ketidaksetaraan. Marginalisasi, stigma, subordinasi seakan-akan menjadi hal yang wajar diterima oleh perempuan di Indonesia. Padahal, perempuan ya manusia juga.

Kalis membahas mulai dari ranah pakaian, profesi, reproduksi, hingga memberanikan diri untuk bersuara. Semuanya, bagiku, bisa diterima secara logis. Dilengkapi pula dengan beberapa ayat dari Al-Quran, rasanya Islam memang melihat perempuan sebagai sosok yang setara dengan laki-laki.

Menariknya lagi, Kalis memasukkan pendapatnya terkait RUU PKS yang hingga kini masih belum juga disahkan. Sedih sih. Apalagi masyarakat masih sangat mudah terprovokasi oleh kata-kata yang mengandung elemen "seks." Mereka kerap mengaitkannya dengan "kampanye seks bebas." Padahal bukan itu isinya.

...akar tindakan kekerasan seksual adalah sebuah dominasi dan sebuah kuasa yang memandang rendah kualitas kemanusiaan seseorang. Kuasa itu bersarang di mana saja: pada jabatan, pada akumulasi modal, dan label-label identitas sosial, yang ternyata cukup kelimpungan menghadapi suara-suara perlawanan yang bersahutan.


Pada buku ketiganya ini, aku merasa puas dengan Kalis. Ia membuktikan bahwa dirinya telah berkembang baik secara bagaimana ia bernarasi hingga meletakkan sudut pandang Islam dan hukum di Indonesia terhadap perempuan. Rasanya aku tidak ragu untuk merekomendasikan siapapun (iya, bukan cuma perempuan saja) untuk membaca buku ini.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
May 10, 2020
** Books 64 - 2020 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020

3,7 dari 5 bintang!

"Perempuan itu..
Karier terbaiknya boleh apa saja yang ia lakukan sesuai kemampuan, kebutuhan, passion dan kehendak sadarnya dalam memilih prioritas dalam hidup

Bayaran terbaiknya adalah hak yang setara atas apa yang telah ia kerjakan dan rasa bangga dari pasangan serta anak-anak yang ikut mendukungnya.

prestasi terbaiknya adalah pikiran, daya kreatif, dan pengabdian yang ia berukan dengan penuh dedikasi pada pilihan-pilihan yang ia ambil secara sadar" (Halaman 58)


Didalam buku ini Kalis membahas banyak hal masalah macam-macam jilbab, hingga sampai lima hal yang menjadi ketidaksetaraan dan diskriminasi berbasis gender seperti Marginalisasi, Subordinasi, stigmatisasi, kekerasan dan peran ganda.

Selain itu ada juga pembahasan wanita-wanita Indonesia yang berperan dalam memajukan pendidikan wanita yang kita hanya tahu biasanya Dewi Sartika ataupun RA Kartini.

saya juga tersenyum simpul ketika membaca mengenai kata perempuan seharusnya dimuliakan. padahal menurut kalis "Dimuliakan bersifat pasif dalam konsep tersebut. kemuliaan seolah hanya bisa hadir dari pihak di luar diri kita sedangkan kemuliaan itu tidak akan bisa terwujud jika perempuan tidak punya akses kesetaraan. (Halaman 46)

Saya juga salut kalis membahas ketika ada meme akun dakwah yang mengontrol pilihan perempuan. masih ingat saya seliweran di timeline saya

"Setinggi apapun pendidikan perempuan. karir terbaiknya adalah diam dirumah, bayaran termahalnya adalah ridha suami, prestasi terbesarnya adalah ketika mampu mencetak anak yang shalih dan shalihah"

ingin marah rasanya membaca meme itu hahaha apa kabar orangtua saya yang sama-sama working parents? waduh dianggap saya dan adik-adik saya gak shalihah dong karena ga dididik sama perempuan yang gak dirumah? =__=a padahal kenapa sih ya udah balik lagi ke setiap keluarga itu punya prioritas dan pilihannya masing-masing. kenapa sih kita harus memaksakan setiap keluarga itu memiliki standar pilihan yang sama haishh..

Saya sangat suka sekali dengan tiga paragraf terakhir buku ini..

"Tanggung jawab menjadi perempuan untuk menjadi diri sendiri sudah terlalu padat. Jika single dan bekerja, perempuan dikatai tak laku-laku dan terlalu mementingkan dunia. Jika menikah dan belum dikaruniai keturunan, ia disebut tak subur dan tak sempurna menjadi perempuan. jika menikah lalu bercerai, ia dianggap sebagai perempuan yang tidak bisa menurut atau mengalah. Permasalahan perempuan lebih luas dari sekedar mencatat apa yang melekat di tubuhnya. Jadi mari meyakinkan diri sendiri dan perempuan lain di sekitar kita, bahwa kamu sempurna menjadi perempuan, kamu tidak memerlukan validasi-validasi orang lain untuk sempurna menjadi perempuan" (Halaman 117)
Profile Image for yun with books.
717 reviews243 followers
November 23, 2022
"Permasalahan perempuan lebih luas dari sekadar mencatat apa yang melekat di tubuhnya."


Memang ga pernah salah baca karya-karya Mbak Kalis Mardiasih. Baca buku-buku beliau itu kaya lagi cerita sama kakak perempuan yang banyak dan luas pengetahuannya. Baca buku-buku beliau itu lagi kaya diceramahin tapi enggak bikin empet karena dipojok-pojokin dan disalah-salahin. Baca buku beliau itu, bikin hati tenang, adem dan selalu pengen tau lebih jauh.

Buku Sister Fillah, You'll Never Be Alone emang tipis tapi berisi. Warna-warni di dalam bukunya sangat berbobot. Memaparkan begitu cerdas dan tajam persoalan tentang perempuan yang gak cuma berfokus pada pakaian, agama, sudut pandang dan stigma.

Duh... sumpah deh! Kalo pas baca buku Muslimah yang Diperdebatkan itu terpusat pada bagaimana perempuan muslimah untuk mencapai kesetaraan di masyarakat dengan atributnya sebagai seorang "Muslimah", kalo buku ini lebih ke nilai-nilai universal.
Siapa aja bisa baca, mau latar belakang agama, ras, suku, pendidikan dll dsb.

YANG TERPENTING buku ini tuh seimbang banget, ya.. memang judul bukunya "Sister fillah.." tapi di dalamnya, berisi hal-hal enlighting buat para lelaki juga.
Buku ini aku yakin PASTI SELALU RELEVAN untuk dibahas kapan pun dan oleh siapa pun.

Sesuka itu sama buku ini!
MUST READ!!!!
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
July 10, 2020
Buku ini mengingatkanku sama Kita Semua Harus menjadi Feminis karya Chimamanda Ngozi Adichie. Hanya saja, sasarannya untuk kalangan lebih muda dengan bahasa yang lebih ringan dan terasa lebih dekat karena ditulis oleh seorang perempuan Indonesia.

Sedikit terkejut karena mudah dipahami mengingat aku laki-laki. Malahan, lebih penting buat laki-laki untuk baca. Hal-hal krusial tentang perempuan dijelaskan secara komprehensif di sini.

Dikirimi oleh seorang teman bookish karena menang giveaway-nya. Bikin ulasan kali ya.
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,393 followers
Read
February 12, 2022
Buku ini berisi kumpulan tulisan Kalis tentang berbagai pengalaman perempuan dari perspektif kesetaraan dan keadilan gender. Ada yang membahas soal pengalaman biologis seperti reproduksi termasuk pendidikan seks, yang lainnya membahas isu-isu utama yang dihadapi perempuan; stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan dan beban ganda. Tulisan-tulisan ini terasa relevan sekali karena contoh-contoh yang diangkat rasanya akrab dengan kita hari ini, mulai dari soal polemik perempuan bekerja, konten medsos yang terkesan agamis padahal problematis, dan masih banyak lagi.

Panjang pendek setiap tulisan beragam, begitu pun dengan gaya penyampaiannya; ada yang personal dan reflektif, singkat dan romantis, kebanyakan besemangat khas Kalis di medsos. Kurekomendasikan untuk bacaan santai tapi melatih berpikir kritis juga bisa memantik beragam diskusi 💜

(PS: Saya baca edisi barunya! Kebetulan saya dapat kesempatan mengilustrasikan covernya heheh 💜)
Profile Image for fawz.
119 reviews13 followers
October 2, 2020
Aku nyelesain ini sekali duduk, pembahasan seru dan enak di pahami. Cuman kurang tebel aja. 4,2 for me
Profile Image for Nina Savitri.
88 reviews2 followers
March 5, 2021
Menjadi Islam bukan menjadi Arab. Menjadi Islam adalah mencintai keberagaman beragama termasuk juga untuk mendukung penuh perempuan sebagai subyek, bukan sekedar obyek.
Profile Image for Rina.
35 reviews2 followers
June 30, 2020
"Akal perempuan penuh, kedirian perempuan penuh, jalan bertauhid perempuan penuh" - hlm. 108.
Buku ini saya rekomendasikan bagi semua perempuan. Tidak hanya muslimah, namun semua perempuan. Buku ini ringan namun berisi hal-hal fundamental dan kesadaran menjadi perempuan, seutuhnya. Meyakinkan penuh bahwa perempuan adalah pejuang. Yang eksistensinya tidak hanya soal jilbab, melayani suami dan berada di dapur. Perihal marginalisasi, subordinasi, stigmatisasi, kekerasan dan beban ganda masih menjadi persoalan nyata yang melekat pada perempuan masa kini.
Profile Image for Niki Yuntari.
87 reviews7 followers
May 23, 2020
"Tanggung jawab menjadi perempuan untuk menjadi diri sendiri sudah terlalu padat. Jika single dan bekerja, perempuan dikatai tak laku-laku dan terlalu mementingkan dunia. Jika menikah dan belum dikaruniai keturunan, ia disebut tak subur dan tak sempurna menjadi perempuan. Jika menikah lalu bercerai, ia dianggap perempuan yang tidak bisa menurut atau mengalah." (hlm 116)


Selalu suka dengan argumen Mbak Kalis tentang permasalahan perempuan yang agak dipinggirkan. Meskipun pengantarnya terlalu banyak, saya tetap bisa menikmati isi buku ini. Apalagi bagian epilog yang "nampol" banget. Bahwa menjadi perempuan, mau bagaimana pun kondisinya akan selalu diikuti dengan komentar-komentar orang.

Review lengkap menyusul.
Profile Image for Putri Dewi.
114 reviews1 follower
July 14, 2020
Buku ini kaya terusannya Muslimah Yang Diperdebatkan tapi lebih general. I love it very much. Buku yang seharusnya dibaca perempuan DAN laki-laki Indonesia.
Tapi sayangnya mungkin judulnya kurang menarik buat laki-laki yaaa. Padahal di dalamnya tersimpan "tips and tricks" membuat perempuan senang dan dihargai sebagai manusia, how to treat her equally and fairly. ♥️ Dimulai sejak alam pikir.

Buku ini bacaan yg penting banget buat laki-laki Indonesia agar kita segera meninggalkan values patriarki yang ga sejalan lagi. Dan tentunya lebih penting lagi buat perempuan agar kita tetap sehat mentally. ♥️

Makasih, mba Kalis yang berani menyuarakan perlindungan. Dirimu pasti penuh kasih sayang.
Profile Image for Khansaa.
171 reviews215 followers
May 30, 2020
Membaca buku ini rasanya seperti mengobrol dengan kakak. Seorang kakak yang pengetahuannya luas, tapi bisa menjelaskan hal paling rumit tanpa berbelit-belit. Semua gagasan diungkapkan dengan to the point dan contoh yang dekat dengan kehidupan. Rasanya ingin membagikan buku ini ke semua perempuan yang aku kenal.
Profile Image for Kiky ☆.
140 reviews5 followers
February 9, 2023
Sebagai seorang muslimah, emang tantangan di era sekarang tuh sangat bermacam-macam ya, mulai dari penampilan, diri sendiri, pendidikan, hingga isu-isu kekerasan yang terjadi pada perempuan.

Baca buku ini tuh serasa punya temen buat speak up dan dukung perempuan-perempuan lain yang punya kejadian yang nggak menyenangkan di zaman yang udah agak gila ini!

Mbak Kalis punya pengetahuan yang sangat luas dan riset mendalam, serta opini yang mungkin diinginkan oleh perempuan-perempuan muslim saat ini.

Kalau beliau buka sesi QNA, mungkin aku juga bakal menanyakan beberapa pertanyaan yang ada sangkut pautnya dengan cara berpakaian muslimah yang sekarang terlalu dipermasalahkan.

Baca ini ngga terlalu berat di pikiran, malah kerasa enteng.
Dan masih di edisi pinjam rekan kantor!

Bravo untuk perempuan-perempuan di seluruh dunia, ngga hanya muslimah aja! <3
Profile Image for intan prw.
51 reviews
July 9, 2020
Dari kafer yang terlihat manis, dua orang perempuan dengan pakaian berbeda, sedang berbahagia mengendari sepeda bersama. Menandakan kalau perempuan-perempuan yang ada di dunia ini bisa saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.

Kali ketiga, aku membaca bukunya Mbak Kalis, setelah Muslimah yang Diperdebatkan sama Hijrah Jangan Jauh-jauh, Nanti Nyasar!

Tentang perempuan, ditulis dari sudut pandang perempuan dari berbagai macam aspek. Banyak perempuan di luar sana yang bungkam ketika diperlakukan tidak adil, ingin bersuara, nggak bisa, malahan dicap dengan sanggahan yang tidak enak untuk didengarnya. Pernikahan dini sering terjadi di pelosok negeri. Tidak boleh setara dengan laki-laki, padahal Allah tidak mendiskriminasi perempuan. Jika keduanya melakukan kebaikan, maka akan mendapatkan pahala.

"Laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah. Berlomba-lomba dalam kebaikanlah alat ukurnya." hlm: 7

Mbak Kalis, makasi udah nulis buku ini, isinya benar-benar bagus, membuka sudut pandangku mengenai tema yang diangkat. Ada 2 judul yang kusuka di buku ini, yaitu, memangnya zaman sekarang masih ada yang nggak setara? dan meme akun dakwah yang mengontrol pilihan perempuan.

"Perempuan itu...
Karier terbaiknya boleh apa saja yang ia lakukan sesuai kemampuan, kebutuhan, passion, dan kehendak sadarnya dalam memilih prioritas dalam hidup.
Bayaran terbaiknya adalah hak yang setara atas apa yang telah ia kerjakan dan rasa bangga dari pasangan serta anak-anak yang ikut mendukungnya.
Prestasi terbaiknya adalah pikiran, daya kreatif, dan pengabdian yang ia berikan dengan penuh dedikasi pada pilihan-pilihan yang ia ambil secara sadar." hlm: 58
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
September 11, 2020
115 - 2020

Buku Kalis ke-3 yang saya baca di tahun ini.
Walau beberapa cerita ada yang berulang, tapi tulisan Kalis selalu membuat isu perempuan menjadi menarik, menjadi obrolan yang ringan bareng sama saudara laki-laki/suami/pasangan.
Profile Image for Juni Rahamnita.
22 reviews53 followers
March 9, 2022
Terlihat sederhana dan tidak menggurui. Tapi tarasa tajam. Besok, kalau tidak lupa, akan kutulis review singkatnya. Udah ngantuk. Dua esai di belakang menarik. Besok mau baca ulang untuk dua esai itu. Entah karena otak sudah mengantuk, atau topiknya memang menarik.
Profile Image for Annida.
61 reviews7 followers
April 16, 2021
Yeyy finish.


Review aku tulis abis pulang sholat terawih
Profile Image for Noe.
120 reviews
September 9, 2021
Kalis is someone I always admire. Good writing. Easy to read.
Profile Image for Tara Reysa.
47 reviews7 followers
June 22, 2020
Buku ini semacam penyempurna buku mbak Kalis sebelumnya yaitu Muslimah yang Diperdebatkan. Di sini, cakupannya fokus ke value seorang Perempuan yang sering kali dianggap nggak lebih dari pakaiannya saja. Amat sangat relate dengan kehidupan sehari-hari sebagai perempuan, apalagi kalau aktif bermedsos dan memantau isu-isu perempuan yang berkembang. Mbak Kalis juga nggak henti-hentinya mengajak kita menengok perempuan-perempuan hebat di luar sana, yang hidup dengan cara dan tradisi masing-masing, serta yang nggak berprivilese. Pokoknya, aku cocok banget sih kalau sama tulisannya mbak Kalis, baik buku, artikel, bahkan cuitan di Twitter.
Permasalahan perempuan lebih luas dari sekadar mencatat apa yang melekat di tubuhnya.

Aku sangat berharap semua perempuan baca buku ini, supaya kita sadar betapa berharganya diri kita. Aku juga ingin laki-laki ikut baca, supaya bisa melihat dari sudut pandang perempuan (toh bukunya cenderung tipis tapi sangat substantif). Satu lagi yang aku suka dari buku ini adalah, kertasnya pink! :D
1 review
May 17, 2020
Rasanya buku ini ingin kubagikan atau mungkin kubacakan kepada semua perempuan-perempuan yang kusayangi. Siapapun itu mulai dari ibuku, nenekku, adik perempuanku, tetangga-tetanggaku yang mengalami kehidupan tak mudah sebagai perempuan, teman-temanku, sepupu perempuanku, serta siapapun itu, perempuan yang mungkin baru ku kenal atau yang tak ku kenal tetapi sangat butuh dipahami, didengarkan, segenap empati, dan uluran tangan kita. Tulisan-tulisan singkat dalam setiap babnya menyadarkanku ttg makna yang cukup dalam mengenai perempuan, lebih dari yang selama ini aku kenal dan diperbincangkan orang banyak (khususnya ttg bagaimana pakaian dan tindak tanduk perempuan). Selain itu, buku ini cukup menjadi pemicu untukku belajar lebih tentang Islam dan perempuan, lebih dari sekedar persoalan pakaian yang harus dipakai perempuan, tindak tanduk yang diatur sebagai standar kesalehan, atau parahnya mengenai menikah dini dan poligami. Akan tetapi Islam juga banyak berbicara mengenai kemanusiaan perempuan yang benar-benar adil dan setara dengan laki-laki dengan mempertimbangkan pengalaman biologis dan sosial yang khas dialami perempuan. Sepertinya buku ini bukan hanya ingin kubagikan pada perempuan saja, tetapi juga laki-laki.

Aku sangat menyukai bagaimana penulis bercerita dari satu kisah ke kisah selanjutnya sebagai suatu pembelajaran dan penyadaran kita semua. Memang ada beberapa hal di buku ini yang mungkin blm sepenuhnya dapat ditangkap oleh orang awam yang sama sekali belum mengetahui tentang apa itu gender dan mengenai kesetaraan dan problematikanya (contohnya mengenai ketidaksetaraan dan diskriminasi). Akan tetapi secara keseluruhan buku ini dikemas dengan baik, sederhana, dan cukup mudah untuk dimengerti, terutama bagi teman-teman yang menjadi pemula dalam proses mempelajari kesetaraan gender dan kesadaran perempuan. Over all sangat suka buku ini. Inspiratif sekaliiii. Thank you, Mba Kalis ❤❤
Profile Image for Isthi.
31 reviews1 follower
March 27, 2022
Luar biasa. Banyak banget pembahasannya, bahkan nambah kosakata juga dan aku tragedi yang aku baru tau.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books63 followers
May 7, 2025
Di awal buku, Kalis udah medobrak buku ini dengan pembahasan sebagian anggapan jika perempuan tidak boleh memimpin. "Di youtube, seorang ustad bilang, perempuan tidak boleh memimpin. Ketika menafsiri ayat, ia bilang, perempuan memang tidak mungkin bisa memimpin. Katanya lagi, bayangin saja kalau ada rapat, terus perempuan malah mesti dandan dulu. Aduuuuh, pokoknya perempuan tuh takdirnya ribet." Hal.2

Yang kemudian dibahas oleh Kalis dengan cukup rinci mengutip Alquran dan juga hadis. Aku pribadi, dan melihat perkembangan zaman, kesaklekan jika perempuan tidak boleh memimpin tuh rasanya nggak relevan, terlebih di kehidupan bermasyarakat sekarang perempuan punya kesempatan dan kesetaraan. Liat aja di sekitar, setingkat RT aja banyak yang ketua RT-nya perempuan, kan?

Lalu aku ingat film asal Afghanistan berjudul Osama (2003) yang bercerita tentang seorang anak perempuan yang harus menyamar sebagai laki-laki demi menghidupi ibu dan neneknya yang tidak berdaya. Ia harus melakukan itu, agar bisa memberi makan ibu dan neneknya sementara ayahnya sudah tewas dan ia tidak punya saudara laki-laki. Ini adalah salah satu film terpenting yang pernah aku tonton. Film yang dibuat oleh sutradara asal Afghanistan ini secara lugas menyindir penguasaan Taliban yang membatasi gerak manusia khususnya perempuan di sana.

Balik lagi ke buku, di bab lain Kalis bercerita tentang Asama yang berasal dari Thailand, salah satu peserta lokalatih bertema keadilan gender di Malaysia, yang memutuskan untuk mualaf namun sayangnya (masyarakat) Islam di sana memutuskan untuk "mengatur" hidupnya karena dia sudah mengucapkan Syahadat.

"Sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat, Asama meminta tolong kepada imam masjid dan para jamaah agar status Muslimnya dirahasiakan dahulu. Ia ingin mempelajari Islam dengan proses sambil memberikan pemahaman kepada keluarga besarnya. Namun hal yang ia inginkan tidak terjadi. Sebentar saja, setelah ia mengucapkan dua kalimat syahadat, namanya diumumkan ke seluruh kota. Ia langsung diwajibkan mengenakan jilbab. Ia langsung dipaparkan pada banyak sekali hukum Islam yang berlaku untuk Muslim Pattani. Kepalanya langsung penuh oleh halal-haram, surga-neraka. Islam yang (semula) ia kenal sebagai "God is everywhere" berubah menjadi produk-produk hukum. Lebih-lebih, produk hukum itu semakin tidak ia mengerti ketika sampai pada isu-isu perempuan." Hal.11

Buku ini memang menarik. Khas Kalis. Di bab lain, pembahasan Kalis tentang proses pembunuhan di masjid Christchurch di 15 Maret 2019 lalu juga mengalirkan banyak insight baru buatku. Sayangnya, di awal buku Kalis menulis dengan lebih terperinci namun di bagian paruh kedua semua tulisannya terasa tanggung. Kurang mendalam bahkan sebagian "hanya" berisi potongan kutipan undang-undang.

Jadi, jika dibandingkan bukunya yang lebih dulu kubaca "Muslimah yang Diperdebatkan" buku ini terasa kurang greget. Tapi ya tetap saja berisi manfaat-manfaat ketika behasil menuntaskannya.

Skor 7/10
Profile Image for Annisa Rahmania Jernih.
25 reviews1 follower
August 29, 2022
Saya baca ini bersamaan dengan buku Mbak Kalis yang lainnya yaitu Muslimah yang Diperdebatkan, dan kedua buku tersebut membawa saya kepada sebuah titik baru dalam hidup: penerimaan diri.

Perspektif dan kehadiran Mbak Kalis dalam diskursus gender dan agama di Indonesia merupakan sebuah titik perubahan bagi saya dan saya percaya sama bagi banyak perempuan lainnya. Mbak Kalis bercerita mengenai perspektif "alternatif" di tengah populernya narasi islam patriarkis di Indonesia. Bahwa menurut islam, perempuan bukan manusia kelas dua yang kebutuhan dan keinginannya mutlak berada pada posisi di bawah laki-laki. Bahwa perempuan tidak hanya ditakdirkan untuk menjadi ibu/istri yang shalihah. Perempuan juga harus punya mimpi dan cita-cita yang sama tinggi dan mulia nya.

Di Indonesia, masih banyak cerita perempuan yang tidak terwakilkan dalam narasi-narasi populer saat ini. Seperti seringnya dalam diskursus feminisme liberal, ada peran-peran perempuan dalam sistem kelas pekerja yang belum mendapat keadilan dan atensi yang setara, ada perempuan termarginalkan yang luput untuk menjadi obrolan. Ditambah lagi, seringnya banyak perempuan masih terantagoniskan oleh stigmatisasi sosial budaya dan tertelan oleh peran ganda domestik dan profesional.

Satu hal yang sangat membekas dalam hati saya bahwa perempuan tidak butuh pemuliaan, Mbak Kalis berkata "pemuliaan perempuan" bersifat pasif, dan kemuliaan tidak akan bisa terwujud tanpa akses terhadap kesetaraan. Saat kita bicara mengenai perempuan yang baik harusnya selalu berada di rumah, itu merupakan pemikiran yang sangat privilese dikarenakan banyak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarga, perempuan yang mengejar mimpi yang baik.

Buku ini menjadi sebuah nafas penerimaan saya atas diri sendiri, buku ini dan cerita-cerita didalamnya menjadi Bahwa kemuslimahan itu menguatkan, kemuslimahan itu indah, kemuslimahan itu tidak menakutkan. Bahwa islam itu merangkul dan memberdayakan wanita. Bahwa eksistensi saya sebagai perempuan muslim itu valid, dan saya sebagai perempuan muslim bukan hanya hidup untuk melayani narasi-narasi patriarkis.

I truly recommend this for every woman. Karena semua perempuan berhak merasa merdeka atas fikiran, tubuh, dan jiwanya.
Profile Image for Irmaningsih.
11 reviews
August 10, 2020
Awalnya saya tidak pernah berpikir akan membeli buku ini, karena niatnya hanya beli Muslimah Yang Diperdebatkan saja. Setelah MYD lama berada di keranjang shopee saya (bahkan beberapa kali sold out), saya akhirnya memutuskan untuk check out juga. Namun, saya iseng membuka kembali Shopee Mall mojok.co, yang membuat saya akhirnya membeli buku ini juga: Sister Fillah, You'll Never be Alone.

Jujur, sejak beberapa tahun belakangan, saya muak sekali dengan perdebatan feminis dan anti-feminis di sosial media. Aduuuhhh, kalo lagi hangat-hangatnya pertikaian tersebut, sosial media jadi penuh tulisan-tulisan yang "kok nggak selesai-selesai, sih.", sehingga saya sangat urung mengategorikan diri saya sebagai kelompok feminis, atau kelompok anti-feminis—walaupun, hampir semua prinsip hidup saya mengamini gaungan yang disampaikan kelompok feminis—saya tetap saja risih dan memilih menghindari pertikaian tersebut. Maka dari itu, awalnya saya cukup pesimis untuk beli dan membaca buku ini, saya pikir isinya akan sama saja dengan debat tanpa solusi di sosial media.

Namun, untungnya, kekhawatiran saya itu tidak terjadi.
Membaca buku ini seperti sedang berdiskusi dengan penulisnya—Mbak Kalis—, ia mampu membangun kedekatan dengan pembacanya, terutama perempuan, dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan real terjadi di kehidupan perempuan.
Kita memang seharusnya berpikir kritis terhadap apa yang kita jalani. Saya melakukan A tidak hanya karena orang bilang A adalah benar, tapi saya juga harus tau kenapa saya harus melakukan A, bagaimana asal mula A ada, apakah dengan melakukan A, hak saya sebagai manusia dan perempuan tercapai. Buku ini juga membahas marginalisasi, subordinasi, stigmatisasi, kekerasan, dan beban ganda yang kerap dialami perempuan. Sayapun senang karena banyak solusi yang ditawarkan dalam buku ini.

Saya rasa ini buku yang sangat perlu dibaca oleh perempuan-perempuan di luar sana, bahkan lelaki juga. Kelompok anti-feminis yang suka setengah-setengah memahami konsep kesetaraan juga perlu membaca ini.
Profile Image for Nabila fauziah.
29 reviews
November 7, 2023
Pahit untuk diakui, bahwa sebagian dari kita hidup dengan budaya patriarki yang kental. Perempuan tidak dipandang sebagai subjek penuh, melainkan hanya sebagai pelengkap dan pendukung laki-laki. Maka, perempuan baik selalu saja dan seringkali dijabarkan dengan kriteria yang disukai laki-laki. Padahal pengalaman biologis dan sosial mereka sangat jauh berbeda. Maka, buku ini hadir untuk mengajak kita, baik laki-laki dan perempuan merefleksikan ulang definisi perempuan salihah dengan kacamata kesalingan/setara. Buku ini berisi delapan belas esai ringan mempertanyakan ulang hal-hal yang sudah umum di khalayak dan maslahatnya untuk para perempuan. Apakah nilai yang selama ini kita anut sudah membantu perempuan mengurangi rasa sakitnya menjalani pengalaman biologis (menstruasi, nifas, dan menyusui) serta pengalaman sosial (stigmatisasi, beban ganda, subordinasi, dan kekerasan)? Salah satu tulisan yang saya suka dalam buku ini di halaman 89,
Banyak perempuan yang berusaha sangat keras, bahkan terlalu keras, untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Alasanya: agar lelakinya setia, makin cinta, dan agar tidak ditinggalkan. Padahal, survey membuktikan: banyak perempuan yang cantik, yang kurus, supertaat, bahkan mandiri masih saja dikibuli. Sebab, toxic ya toxic aja! Dia yang bermasalah, bukan kamu!
“Berolahragalah. Rawat wajahmu. Jalankan hobimu. Ubah gaya pakaianmu. Tapi, bukan sebagai harga yang kamu bayar untuk mempertahankan hubungan, melainkan karena kamu SADAR dan INGIN. Berikan yang terbaik untuk tubuh dan kesehatan mentalmu. Sebab, hal itulah yang membuatmu merasa lebih bahagia.”
Profile Image for Mira Widyawati.
69 reviews4 followers
December 26, 2020
Laki-laki dan perempuan setara dihadapan Allah. berlomba-lomba dalam kebaikanlah alat ukurnya.

Di buku ini ada satu bagian dimana Mbak Kalis membahas meme meme dakwah yang kurang lebihnya bilang bahwa laki-laki sholeh suka wanita yang gak pakai pensil alis, gak selfie, gak pake tambahan bulu mata dll, mbak kalis menulis "jadi apakah lelaki shaleh suka sama perempuan kusam, selebor dan bau badan?"
menurutku perempuan mau berdandan cantik, pakai pakaian modis ya untuk dirinya, untuk kepuasan dan penghargaan terhadap dirinya sendiri sekaligus cara dia mencintai dirinya. jadi gak ada urusannya dengan kepentingan lelaki soleh dengan ciri-ciri perempuan.

lalu juga bahasan bahwa perempuan dimuliakan tetapi dalam arti yang sesungguhnya adalah dirumahkan. bagaimana dengan perempuan yang harus berjuang diluar karena tuntutan hidupnya seperti itu? apakah perempuan yang bekerja, beraktivitas di luar rumah tidak mulia?

saya paling suka tulisan di halaman terakhir

sesama perempuan hadir kepada perempuan tidak untuk mengukur-ukur amalan, mengurusi wilayah pribadi atau mencatat dosa perempuan lain.

Tanggung jawab menjadi perempuan untuk menjadi diri sendiri sudah terlalu padat. jika single dan bekerja, perempuan dikatai tak laku-laku dan terlalu mementingkan dunia. jika menikah dan belum dikaruniai keturunan, ia disebut tak subur dan tak sempurna menjadi perempuan, jika menikah lalu bercerai, ia dianggap sebagai perempuan yang tidak bisa menurut atau mengalah.
Profile Image for Yoyovochka.
312 reviews7 followers
March 14, 2023
Baca buku Mbak Kalis memang selalu membuat saya meringis. Pasalnya, segala yang ditulis Mbak Kalis itu selalu sependapat dengan saya yang miris dengan kondisi perempuan di Indonesia. Nggak perlu kita bicara jauh-jauh tentang suara perempuan, hak-hak dasar pun sayangnya masih belum terpenuhi. Sedikit mengadu tentang misalkan saja kekerasan dalam rumah tangga atau perselingkuhan - yang disalahkan pasti perempuan. Pemerkosaan dan pelecehan - yang disalahkan perempuan. Sayangnya, fenomena saling menyalahkan ini terjadinya justru bukan cuma laki-laki menyalahkan perempuan, tetapi malah perempuan yang saling menjatuhkan perempuan lain.
Selain soal kesetaraan, di buku ini juga dibahas perihal mencintai diri sendiri. Mengutip yang Mbak Kalis bilang, berubahlah, rawatlah diri karena kamu mau bukan demi agar tidak ditinggalkan laki-laki yang memang toksik. Setuju banget. Kalau dasarnya berengsek, mau secantik dan sesempurna apa pun juga bakal dikibulin. Sayangnya, lagi-lagi banyak perempuan nggak berpikir ke arah sini.
Perempuan cuma jadi warga kelas dua, sesuatu yang kayaknya menjadi rasa sakit dan trauma saya buat balik ke Indonesia ini semua disuarakan Mbak Kalis.
Sebagai orang yang sering dirundung perempuan lain karena tidak berjilbab dan lain-lain, membaca buku Mbak Kalis membuat saya lega dan berpikir, ternyata perempuan baik itu masih eksis. Perempuan muslimah baik yang tidak menghakimi seseorang berdasarkan pakaian.

Profile Image for Khurin W. F..
192 reviews9 followers
September 7, 2021
Perempuan. Keperempuanan. Kedirian perempuan. Kesetaraan. Kiranya, jika ada yang sensitif mendengar kata kesetaraan yang sering diusung oleh kaum perempuan saat membicarakan isu gender, mungkin bisa menyisihkan waktunya barang sebentar saja untuk membaca artikel-artikel singkat nan padat dari Mbak Kalis ini. Di sini, lagi-lagi Mbak Kalis mengangkat hal substansial soal perempuan yang perlu dan penting untuk diketahui dan dijadikan bahan diskursus, tidak hanya di antara perempuan, tapi di antara umat manusia. Lewat buku ini, saya rasa Mbak Kalis tidak berusaha untuk menjejali kita dengan doktrin tertentu melainkan mengajak kita untuk berpikir dan merekonstruksi pemikiran kita. Salah satu contohnya dalam subbab "Dari Tanggung Jawab Reproduksi ke Hak Reproduksi". Selain itu, subbab yang paling membekas untuk saya adalah "Otoritas Tubuh" yang di dalamnya Mbak Kalis menyebutkan tentang 5 Dasar Tujuan Hukum, beliau juga mengutip dawuh dari Kyai Faqih Abdul Kodir. Dalam bab tersebut, Mbak Kalis mengupas pengalaman khas perempuan, risiko, kejahatan terhadap perempuan, sampai solusi yang bisa diambil. Karena subbab tersebutlah keinginan saya untuk merekomendasikan buku ini kepada teman-teman saya semakin meningkat. Bukan sekadar ingin, saya perlu merekomendasikan buku ini kepada teman-teman saya, baik perempuan maupun laki-laki.
Profile Image for Aida.
35 reviews2 followers
February 25, 2022
Salah satu nukilan yang membekas dari buku ini menurut saya adalah:

Akhir-akhir ini sering terdengar, "Muslimah nggak butuh kesetaraan, sebab ia cuma butuh dimuliakan".
Padahal dalam konsep ini, 'dimuliakan' bersifat pasif, seolah-olah hanya bisa hadir dari pihak di luar diri kita. Realitanya kita hidup di tengah masyarakat yang belum paham betul akan kualitas kemanusiaan perempuan.
"Nggak semua perempuan punya suami yang kebetulan saleh, kerja di BUMN, atau punya warisan yang banyak sehingga tanpa harus ngapa-ngapain sudah ujug-ujug jadi mulia."

Kurang lebih begitulah gaya penulisan Mbak Kalis, dengan lugas tapi kritis dapat menyampaikan hal-hal rumit yang sering disalahpahami orang. Tentang pengertian kesetaraan, pendidikan seks, konten dakwah di medsos yang problematis, hingga woman suppoting woman.

Menurut saya, buku ini tidak hanya penting dibaca perempuan, ada baiknya juga dibaca oleh para laki-laki. Bagaimanapun laki-laki tidak memiliki pengalaman yang sama dengan perempuan, baik dalam kehidupan sosial maupun sisi biologis.

Terima kasih Mbak Kalis atas tulisannya yang penuh 'pelukan dan rangkulan', juga cover baru dari Mbak Puty yang vibes 'Sister Fillah You'll Never be Alone' nya ngena banget, wkwk gimana tu.
(Kok berasa akrab banget main panggil mbak mbak aja wkwk)
Profile Image for kelamnyamalam.
55 reviews1 follower
December 26, 2025
Sebagai anak perempuan pertama, rasanya kaya lagi mendengarkan cerita dan pandangan 'kakak' mengenai pengalaman dan stigma perempuan yang berlaku di masyarakat. Baca buku ini membukakan mataku bahwa kadang pihak dari perempuan justru secara nggak langsung ikut melanggengkan apa yang terjadi, alih-alih seharusnya memotong 'akar stigma' agar nggak selamanya langgeng di mata masyarakat. Setuju banget sama kalimat di bagian Epilog, bahwa:

"Sesama perempuan hadir kepada perempuan tidak untuk mengukur-ukur amalan, mengurusi wilayah pribadi, atau mencatat dosa perempuan lain, " — hal. 166

Woman support woman seharusnya menjadi sebuah kesadaran untuk saling mendukung satu sama lain. Dengan berbagai ketidakenakan pengalaman perempuan yang dialami, aku berharap semoga teman-teman perempuan dapat hidup dengan pilihan-pilihan hidup yang diyakininya, tanpa harus dijudge dan dihakimi hanya karena tidak sesuai dengan stigma dan standar tertentu.
Displaying 1 - 30 of 83 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.