Judul: Cinta Terkalang
Penulis: Buya Hamka
Penerbit: Gema Insani
Tebal: 150 Halaman
Tahun Terbit: Cetakan pertama, November 2019
ISBN: 978-602-250-659-1
ISBN: 978-602-250-708-6 (PDF)
Cinta Terkalang atau dalam Judul Aslinya Keadilan Ilahi merupakan buku fiski keenam karya Buya Hamka yang aku baca.
Buku ini menceritakan kisah kehidupan cinta Adnan dan Syamsyiah. Dalam buku ini, Buya Hamka tampil mengkritik budaya Minang yang mengharuskan anak gadis harus sudah menikah pada usia-usia tertentu.
Selain itu, bagaimana isu dan pergolakan dalam masyarakat terhadap suatu perkara, dan bagaimana bahayanya iri hati, dengki melihat orang lain mendapat bahagia.
Mungkin aku mengatakan karma apa yang menimpa Samsyiah dan familinya dan terutama Sutan Mara Husin, karena harta membinarkan mata dan mencubit hati, tak terpikirkan apa yang benar dilakukan.
"Sekarang, kalau bukanlah karena janji dan sekiranya dapatlah Kakanda meminjam sayap kepada burung, maulah Kakanda rasanya terbang ke Negeri Sei Batang menemui Adinda."
Isi daripada surat Adnan yang dikirimnya kepada Samsyiah. Buku ini menggambarkan bagaimana kesulitan, kerumitan, kesusahan dan tantangan yang di alami Adnan di perantauan, setelah ia dapat mengumpulkan apa yang dicita-citakannya, malang nasib karena ada tangan-tangan yang mencuri apa yang telah dia kumpulkan selama berusah payah di perantauan.
Yang lebih manyedihkannya, ketika kali kedua ia sudah mendapat lebih banyak pundi-pundi harta yang akan dia bawa kekampung, memperbaiki susah hidup menjerut hidupnya bersama ibunya, dan digunakan untuk menikah dengan Samsyiah, itulah alasan terbesarnya pergi merantau. Tetapi aduhai, kepulangannya dibalas tawar dalam hatinya yang paling terdalam, dan linangan air mata yang tak mengering, tanpa sepucuk surat yang ia terima diperantauan, tanpa kabar berita yang dikirim angin dari pinggir Danau Maninjau, Samsyiah telah menikah dengan Sutan Marah Husin.
Pada akhirnya, karena kecewa dan cintanya yang tak kunjung padam, membuat Adnan sakit, sampai pada akhir-akhir hidupnya, cita-cita terbesarnya terjawab, Samsyiah yang telah bercerai dengan Sutan Mara Husin pulang ke rumahnya, lalu pergi menjenguk Adnan, disitulah Adnan mencurahkan segala apa yang dirasakannya, hanya Samsyiahlah yang senantiasa mengisi hatinya, namun tidak lama dari kepergian Adnan, Samsyiah pun meninggal dunia karena diracuni orang yang tak berperasaan.
Dalam buku ini, Buya Hamka juga memberi banyak nasihat, bahwa betapa mengerikannya mulut orang-orang, dalam masyarakat akan ada isu, fitnah, dan cerita yang diperbesar-besarkan, kalau kita mendengarkan semua itu, pastilah kita akan merugi.
Membaca buku ini, rasa sedih dan menangis sampai masuk ke dalam hati menusuk tulang. Hihihi. Ternyata adat Minang 'zaman itu keras dan ngeri juga, ya, hehe.
***
Salam hangat dari aku untuk kamu yang membaca tulisan ini. Love you!
Instagram: @finiarkani