Jump to ratings and reviews
Rate this book

Black Interview

Rate this book
Jakarta sudah mirip black comedy: ada banyak keganjilan yang membuat kita terpaksa tertawa. Bukan karena kita dipaksa untuk tertawa, tapi karena kita memilih tertawa daripada ikut gila. Black Interview menangkap aura keganjilan-keganjilan itu dalam segenggam tulisan yang bisa membuat kita terpingkal-pingkal menertawakan diri sendiri.

222 pages, Paperback

First published January 1, 2008

5 people are currently reading
20 people want to read

About the author

Andre Syahreza

6 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (15%)
4 stars
16 (30%)
3 stars
16 (30%)
2 stars
13 (24%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
January 9, 2015
Ada beberapa yg bikin ngakak, ada yg bikin senyum doang. Tapi emang bener, kumcer (?) ini agak 'kebanyakan' dan berpotensi bikin bosen, terutama bab-bab awal. Paling suka bab Classical Black dan kisah Pitung Masuk Plaza jadi juaranya *halah*

Gegara dapet ni buku di obralan, sempat dapet halaman-halaman kosong. Untungnya masih kebagian definisi kampring macam futuristic spa, neo shiatsu dan traditional dirty blood cleaning back therapy through a glass using needle a.k.a bekam :))
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
October 23, 2012
Pernahkah membayangkan bagaimana kehidupan di Jakarta, 100 tahun dari sekarang?

Selalu menarik untuk membahas Jakarta dari berbagai sudut pandang. Jakarta bukan hanya dapat dipandang sebagai suatu letak geografis semata. Jakarta adalah suatu entitas yang terus berkembang dan menggeliat. Jakarta adalah soal segalanya. Impian, kesuksesan, peradaban, popularitas, kekuasaan, and all that you can’l leave behind (sounds like judul album U2 :p ). Jakarta masa depan adalah Jakarta masa kini. Jakarta tidak pernah kehabisan pesona. Jakarta, Jakarta, Jakarta.

Buku ini bukan kumpulan cerpen tentang Jakarta. Penulisnya cenderung lebih suka menyebutnya sebagai “laporan jurnalistik imajinatif”. Imajinatif. Kata kunci untuk dapat menikmati dan lebih memahami esensi buku ini. Jakarta adalah magnet yang tidak pernah berhenti memancarkan pesonanya. Kini, dan entah 100 tahun lagi.

Andre Syahreza mengungkap berbagai sisi kehidupan di Jakarta dengan imajinasi pada 100 tahun kedepan. Ia menghadirkan imaji tentang citra kota Jakarta sebagai metropolitan yang tidak pernah tidur. Black Interview menantang pembaca dengan sindiran-sindiran khas black comedy atau komedi satir. Black Interview menjungkalkan logika-logika yang sedang berlangsung di masa sekarang dengan menciptakan ruang imajinasi atas segenap interpretasi di masa mendatang. Jakarta, 100 tahun dari sekarang. Dekonstruksi realitas sangat kental sebagai unsur utama dalam buku ini. Pembaca diajak untuk melepas segala macam pengalaman nyata soal Jakarta.

Semua hal yang bisa ditemukan di Jakarta, bakal ditemukan juga disini. Mulai dari kesemerawutan kota dan imajinasi tentang bau parfum yang bisa membuat kita melupakan segala kerumitan itu, soal busway dan segenap problematikanya, soal bisnis seks dan narkoba yang tetap jadi primadona, soal kebosanan atas segenap rutinitas harian, soal mall yang cenderung membela kepentingan gender tertentu, hingga soal legenda Si Pitung dan sejarah kota Jakarta. Semua terjadi lengkap dengan pengandaian pada suatu masa seratus tahun dari sekarang.

Meniru kata Seno Gumira Ajidarma pada bagian endorsement, Black Interview berhasil meleburkan genre jurnalistik dengan genre sastra. Imajinatif dan provokatif. Buku seperti ini memang sangat diperlukan untuk mewarnai kehidupan rutin kita yang cenderung monoton dan sudah mirip dengan kematian.

Catatan Seorang Kolumnis Dadakan

Personally, saya selalu suka untuk membaca segala sesuatu tentang Jakarta. Setelah novel adaptasi @adhityamulya, “Kejar Jakarta”; lalu kumpulan esai @mkusumawijaya, “Jakarta Tunggang Langgang” yang banyak mengadu wacana tentang ruang publik di Jakarta yang sudah terlanjur begini; hingga kumpulan esai dan fiksi “Jakarta Banget” (sekalian nebeng promosi  ).

Tulisan favorit saya dalam buku ini adalah sebuah komedi satir berjudul “Hawa Air”. Tulisan yang mengingatkan kembali pada tahun terburuk dalam sejarah penerbangan Indonesia. Seperti tulisan lainnya, “Hawa Air” menegaskan dekonstruksi logika yang realistis dibalut rapi dengan konstruksi imajinatif sebagai “jiwa” dari keseluruhan buku ini.

Anyway, apresiasi terhadap Jakarta-apapun bentuknya-menandakan suatu perhatian khusus bagi publik. Jakarta seakan mewakili seluruh wajah orang Indonesia. Karenanya, impian dan segenap interpretasi publik akan Jakarta yang lebih ramah, bersahabat, dan manusiawi selalu dihadirkan dalam bentuk apapun, entah itu teks, visualisasi, atau bahkan hanya sekedar imajinasi.


Medan Merdeka Barat, 23 Oktober 2012
9 reviews
February 8, 2010
awalnya ni buku bener2 bikin orang jadi gila dengan pmikiran2 abnormal ttg jakarta in the future...
dan itu bener2 mengasyikkan--except bagian mesumnya ya..--
tapi lama kelaman jd ngbosenin..
dan beberapa bab g sinkron, di tahun yg sama tapi latarnya beda
trus alurnya maju mundur, ngbuat kita-pembaca- ga bisa ngikutin isi cerita..

yah...cocok untuk selingan lah
Profile Image for Triasterina .
20 reviews2 followers
September 19, 2009
Satire itu bukan untuk dianalisis, tapi untuk dinikmati dan disenyumi...
Hmmm, bener niy keadaan Jakarta bakal kaya gitu in the future?
heheheh...
I like satire works, and i love reading this novel...
Profile Image for Yasdong.
47 reviews3 followers
April 13, 2014
Satir imajinatif a la Andre Syahreza untuk kota Jakarta yang absurd 100 tahun mendatang. Saya dibuat ketawa sampai lemas!
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.