Buku ini berkisar tentang pemikiran Benedict Anderson perihal bahasa. Dan itu bukan hanya bahasa Indonesia, melainkan pula bahasa secara umum, terutama peran bahasa dalam kebangkitan nasionalisme, baik itu di Eropa maupun di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Filipina. Di sinilah muncul gagasan untuk menulis satu bab khusus tentang bagaimana persisnya dasar-dasar pemikiran Anderson tentang bahasa. Maka lahirlah bab berjudul “Bahasa bagi Benedict Anderson,” yang diharapkan bisa memberi arah pada tiga bab berikut yang mengembangkan lebih lanjut gagasan Anderson ini.
Joss Wibisono menelaah dengan lumayan detail kerja intelektual Benedict Anderson, salah satu Indonesianis paling terkemuka yang juga seorang poliglot, perihal perhatiannya terhadap bahasa. Dalam uraiannya, Joss bilang bahwa bagi Om Ben, bahasa dapat menjadi alat yang bagus buat memahami sejarah serta perubahan sosial suatu masyarakat, termasuk Indonesia yang begitu kompleks dengan ratusan bahasa daerah di dalamnya, namun pada akhirnya berhasil memiliki bahasa nasionalnya.
Poin utamanya: perubahan dan perkembangan bahasa tidak bisa lepas dari kekuasaan (politik) yang berada di atasnya, dan itu jelas terjadi di Indonesia. Tak hanya itu, Joss juga menguraikan kedongkolan Om Ben terhadap Ejaan Yang Disempurnakan bikinan Orde Baru, yang menurutnya adalah upaya penghapusan ingatan dan ketertarikan generasi muda terhadap sejarah bangsanya.
Dimulai dengan tulisan yang sedikit terkesan seperti obituari dari kawan Benedict Anderson, lalu membahas bagaimana ejaan baru muncul sebagai strategi politik penguasa, hingga bagaimana karya sastra menjadi perantara agenda politik.
Ada banyak cara mempersepsikan buku ini. Apakah ini pengenalan untuk memahami Benedict Anderson dan karyanya? Bisa. Apakah ini intro singkat untuk bagaimana politik mempengaruhi bahasa dan sastra? Tentu.
Meskipun banyak hal menarik di sini, lebarnya ruang lingkup pembahasan menjadikan buku ini lebih layak dibaca sebagai esai santai ketimbang referensi.
A good read to close my 2024.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya rasa ini adalah sebuah bacaan yang penting terutama untuk memahami pemikiran Benedict Anderson, salah satu guru saya yang paling saya hormati. Buku ini adalah sebuah perkenalan yang bersahabat pada Ben Anderson tentu saja dari seorang Joss Wibisono. Joss menangkap dengan baik poin-poin pemikiran Ben Anderson akan pentingnya bahasa dan kekuasaan. Ia juga mencoba menerapkan pemikiran Ben Anderson dalam pembacaan dan analisa ulangnya terhadap naskah terjemahan Kartini. Ini adalah salah satu bagian paling menarik dalam buku ini, buku ini penting untuk dibaca terutama untuk yang mendalami sastra, juga politik dan memahami bagaimana pentingnya berproses dan kesadaran kritis dalam membaca atau melakukan penterjemahan sebuah naskah dalam berbagai konteks jaman, juga pemetaan kekuasaan di masa naskah tersebut diterbitkan. Kesadaran kritis ini sangat penting untuk seorang intelektual berproses dan merunut akar dari awal pemikirannya agar tidak tersesat jalan. Kelindan pemahaman ini berhasil dengan apik dihadirkan oleh Joss Wibisono, yang otomatis membuat saya membaca ulang semua tulisan Ben Anderson, sang guru tercinta sekaligus juga merindukan sosoknya.
Pengenalan yang sangat menyenangkan tentang Pak Benedict Anderson dan pemikirannya soal politik bahasa. Lewat buku ini baru sadar kalau penerapan EYD ternyata salah satu bentuk kekerasan bahasa oleh Orde Baru—alat untuk membuat generasi muda lupa sejarah sebenarnya dan hanya menerima narasi yang disusun rezim fasis, penuh glorifikasi militer dan pemikiran kanan mentok.