The poems that comprise Indonesian poet, artist, and playwright Afrizal Malna's 2013 collection Document Shredding Museum address a variety of histories and the present moments they both inform and deform. From intimate encounters between lovers and friends to mass scale environmental and semantic destruction, from classical Javanese myth to colonial and postcolonial corporate pillaging of human and natural resources, these poems dismantle and reassemble the debris of language, asking how we can make poetry from such ruins. Drawing on a wide array of modes and moods, and colored always by Afrizal's characteristic complex of darkness, humor, and insight into the conditions of the present, Document Shredding Museum troubles the boundaries between information and experience, emotion and thought.
Pendidikan akhir Sekolah Tinggi Filsafat Dri-yarkara (tidak selesai). Buku yang pernah terbit:
1. Abad Yang Berlari, 1984 (mendapat penghargaan Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta, 1984) 2. Yang Berdiam Dalam Mikropon, 1990; 3. Arsitektur Hujan, 1995 (mendapat penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebu-dayaan RI, 1996). 4. Biography of Reading, 1995. 5. Kalung dari Teman 6. Museum Penghancur Dokumen, 2013
Karya yang terbit dalam antologi bersama:
1. Perdebatan Sastra Kontekstual (Ariel Heryanto, 1986); 2. Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (Linus Suryadi, 1987); 3. Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan, Kuala Lumpur, 1991); 4. Dinamika Budaya dan Politik (Fauzie Ridjal, 1991); 5. Traum der Freiheit Indonesien 50 jahre nach der Unabhangigkeit (Hendra Pasuhuk & Edith Koesoemawiria, Köln, 1995). 6. Ketika Warna Ketika Kata (Taufiq Ismail, et.all, 1995); 7. Pistol Perdamaian 8. Cerpen Pilihan Kompas 1996; 9. dalam Frontiers of World Literature (Iwanami Shoten, Publishers, Tokyo, 1997) 10. dalam bahasa Jepang; jurnal Cornell University (Indonesia, Ithaca, Oktober, 1996); 11. dan Anjing-anjing Memburu Kuburan, Cerpen Pilihan Kompas 1997.
Penghargaan lain yang pernah diperoleh:
1. Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Neder-land Wereldomroep, 1981. 2. Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika harian Republika, 1994. 3. Dan esei majalah Sastra Horison, 1997.
No, I didn't actually finish this book. It's because I really wanted to love this book and I knew that I just couldn't. So I decided to stop reading T_T.
There is one exception, though...there's a poem entitled Epidemi Lelaki Mati. I've fallen for this poem since I watched a video in which Malna reciting it. And I felt so excited when I accidentally found that poem in this book that I told my friend right away about this. Her reaction was not less enthusiastic than I was. But high hope is, in most cases, injudicious :p.
Perhaps one day I'll re-read this book cover to cover, but for now let me evoke the only poem I love:
Epidemi Lelaki Mati
Pagi, seperti sebuah epidemi waktu. Aku ingin mengulangi lagi pagi kemarin. Matahari sama, petugas kebersihan kota sama, penjual kopi di warung kopi sama. Pagi hari, semua tidak sama lagi dengan kemarin. Darahku menyusun sel-selnya lagi, membangunkan seluruh makhluk yang menginap dalam tubuhku. Mereka merayakan epidemi pagi. Cahaya hangat matahari, kopi hangat, pisang goreng hangat. Kenangan bercinta yang tersisa pada pecahan kulit telur ayam.
Pagi yang menular, hingga aku seperti memandikan mayatku sendiri di kamar mandi. Aku bersihkan gigi, kuku dan seluruh tubuhku yang bukan hidup lagi, yang bukan aku lagi, yang bukan seorang pagi lagi. Aku rayakan lelaki mati di sebuah pasar yang pernah terbakar di Surabaya. Kini berdiri sebuah mall di Sana. Mall dengan sisa-sisa bau beras terbakar masih tersimpan di seluruh dindingnya.
Double espresso, aku memesan kopi kental. Seorang lelaki mati memelukku. Kekasihku, katanya, aku tidak bisa lagi mengingat cintamu. Tetapi aku tak pernah lupa pelukanmu. Jejak-jejak pasir di bibir, sebuah perahu yang tidak lagi merasakan waktu. Sebuah pantai yang pergi, meninggalkan sebutir pasir di telapak tanganku.
Deru pesawat dan kereta masih merenovasi pelukan kita, antara pasport, peta perjalanan dan gereja-gereja tua. Aku tidak tahu lagi bedanya antara memeluk dan bersujud memuja kesedihanmu. Di tas koperku masih peti mati yang meminta visa untuk kebebasan bernafas.
Sayangku, tidur tidak bisa mengecat mimpi kita. Lublin telah menjadi piano kesunyian di luar malam.
My favorite of Malna's collection. Not only are the poems are deceptively simple as much as it is thought-provoking, it is also Malna's essential proof of his experience and maturity as an "unusual" poet. Highly recommended.
Sekilas tampak acak dan susah untuk dinikmati. Namun, jika mau lebih sabar memperhatikan dan meresapi setiap diksi dan frasa yang dijalin Afrizal Malna, akan ditemukan keindahan yang berkarakter khas penulis. Pada akhirnya, puisi memang soal selera.