Setiap barang menyimpan kenangan pemiliknya, tapi tidak semua kenangan harus disimpan, itu yang dipercaya Bre. Dia pun membuka Toko Ex yang didedikasikan kepada mereka yang ingin berdamai dengan masa lalunya, dan menjadikan barang bekas pemberian mantan bernilai.
Sahda, salah satu anggota Friends—sebutan untuk anggota Ex yang bersedia menyerahkan barang bekas dari pemberian mantannya—sedang berusaha merelakan mantan kekasihnya. Bre membantu Sahda untuk menggenggam kerelaan itu, sementara Sahda membantu Bre mengurus Toko Ex sambil mengisi waktu luang.
Curhatan para Friends yang bikin haru atau malah naik pitam, cerita di balik setiap barang peninggalan mantan, dan obrolan-obrolan tentang masa silam, perlahan menciptakan percikan rasa di antara Bre dan Sahda. Lalu, mereka sepakat mencetuskan sebuah acara bernama ‘Hari Mengenang Mantan’. Acara itu diharapkan membuat para Friends berdamai dengan masa lalu dan memaafkan mantan mereka, seburuk apa pun perbuatannya.
Namun, sebelum acara itu berlangsung, datanglah sebuah paket misterius berupa rekaman suara yang mengusik masa lalu Bre, dan membuat Sahda patah hati.
Dodi Prananda, lulus dari Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Komunikasi. Menekuni dunia menulis sejak bergabung di Sanggar Sastra Remaja Pelangi, di Padang, Sumatera Barat. Buku yang ditulis: Waktu Pesta (2013), Rapuh (2013), Jendela (2014), Rumah Lebah (2014), Perantau Anti Galau (2018), Bintang Jatuh (2018), Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat (2019), EX (2020), Di Halaman Berapa Kau Menyimpan Namaku?(2022), dan Piknik Hujan (2025). Saat ini bekerja sebagai pekerja kreatif di Jakarta.
Aku kasih rate bintang 5 untuk sebuah ide yang bisa ditumpahkan dalam cerita ini. Ini akan jadi novel favorit dari semua karya Dodi Prananda yang pernah aku baca.
Ide ceritanya menarik berbeda dari kisah mantan dan masa lalu yang sering diangkat menjadi sebuah cerita dalam Novel. Novel Ex adalah buah imajinasi yang berjalan mendekati realita yang ada.
Saat baca ini mau tidak mau kita akan bertualang ke masa lalu, bukan hanya masa lalu Bre dan Sahda tapi menyapa masa lalu kita juga. Membuat kita bertanya pada diri sendiri "sudah sejauh mana kita meninggalkan masa lalu itu?"
Aku yakin cerita ini ditulis dengan effort yang besar dan riset yang panjang. Tidak mudah untuk menyelaraskan imajinasi tapi tetap menapak pada realita. Novel ini bukam hanya rangkaian kisah fiksi, kalian juga bisa belajar banyak hal dari pengalaman setiap tokoh tanpa harus melaluinya.
Aku termasuk tipe pembaca yang agak sulit hanyut ke dalam alur cerita sebuah novel, ada beberapa novel yang berhasil menyalurkan "gemuruh" sampai ke hati dan bagiku Ex masuk ke dalam list novel tersebut.
Pesan yang berusaha disampaikan oleh Dodi Prananda dalam novelnya yang satu ini bisa tertangkap dengan jelas melalui karakter tokoh Bre dalam menyikapi masa lalunya dengan cara yang sangat unik.
"Kamu nggak bersedih sendirian" salah satu kalimat yang diucapkan Bre kepada Sahda ini menjadi kutipan favoritku. Benar saja, membaca novel ini membuatku seakan terlempar ke masa lalu, merasakan getir yang sama dan nggak merasa bersedih sendirian.