Kau akan menjumpai sentilan tajam di sana-sini dalam Kisah-Kisah Perdagangan Paling Gemilang, terutama yang ditujukan kepada orang-orang yang dengan enteng menggunakan agama untuk semua perkara. Tapi, Ben Sohib selalu jenaka, jadi pasrah sajalah diajak bertamasya menyusuri cerita-cerita ajaibnya.
salah satu buku kumcer favorit (meskipun tipis banget!). buku ini berisi delapan cerita pendek dengan latar belakang kampung betawi di jakarta, yang karakternya pun orang-orang betawi, atau campuran betawi-arab. aku membaca buku ini cukup cepat dalam sekali duduk karena memang ceritanya enggak banyak.
hampir semua ceritanya bikin ngikik-ngikik sendiri, tau? dari delapan cerita, yang buatku paling bikin ketawa adalah “burung nasar dan kutukan korban kesembilan”. tentang seorang bapak yang suka “mencuri” uang dari keluarga orang yang baru meninggal dengan dalih almarhum masih belum melunasi utang kepadanya. ketika sampai di salah satu anggota keluarga “korban” kesembilan, tipu muslihat itu akhirnya gagal. sialnya lagi, anak si bapak pencuri ini ternyata mau menikah dengan anak si anggota keluarga korban kesembilan yang gagal ia tipu. kebayang malunya gimana kan?
di “nasrul marhaban mati dan dikenang”, ada cerita nasrul yang kematiannya dikenang dengan sangat mulia oleh seluruh warga di kampung melayu pulo karena ia mati terseret arus banjir sambil memegang kitab suci. tapi cerita aslinya tentu saja enggak seperti yang ada di benak masyarakat.
buku ini cocok buat kamu yang mencari bacaan ringan, menghibur, dengan sentilan terhadap cara pandang dalam beragama, tapi juga enggak terkesan menggurui atau menghakimi.
o iya, belinya di POST Bookshop tahun lalu (atau dua tahun lalu, ya?), dan baru dibaca sekarang dong. 😀
Setelah membaca Dwilogi karya Ben Sohib, Aku ketagihan dan menemukan informasi bahwa ia menerbitkan kumpulan cerpen dan memenangkan penghargaan yang prestisius, 5 besar buku pilihan Tempo 2020.
Latar budayanya hampir sama dengan dwiloginya, budaya keturunan Arab yang seringkali adalah Arab-Betawi. Konflik-konfliknya menggelitik perut dan sering kali berujung plot-twist.
Kumpulan cerpen yang bisa diselesaikan dengan cepat. Cocok untuk yang mood bacanya sedang turun. Hampir semua cerpennya saya suka, tapi "Haji Syiah" yang paling menonjol sih.
Ringan dan menghibur. Suguhan plotnya sangat sehari-hari. Ben Sohib menyajikan orang-orang sangat biasa yang kebanyakan orang-orang betawi dengan kehidupan getir sekaligus jenaka. . Cerita-ceritanya mengingatkanmu dengan kumpulan cerpen pada Rumah Kopi Singa Tertawa maupun Muslihat Musang Emas milik paman Yusi. . Buku yang sepenanakan nasi bisa kamu nikmati sekali duduk/baring.
Semua cerpennya kocak dan menghibur, dengan gaya penceritaan yang sederhana dan kental sekali cita rasa Betawinya. Saya paling terkesan dengan cerpen "Bagaimana Nasrul Marhaban Mati dan Dikenang" dan "Burung Nasar dan Kutukan Korban Kesembilan". Buku yang mendefinisikan versi kampung dari Jakarta dan memang serasa travelling ke Kampung Melayu yang padat, chaos, tapi menyimpan sejuta cerita.
Kisah-kisah perdagangan paling gemilang merupakan kumpulan cerpen yang kemungkinan berasal dari obrolan-obrolan warga kelas menengah ke bawah di kawasan perkotaan, cerita-cerita ini sering muncul di warung kopi, pos ronda, bahkan tempat pemberhentian tukang sayur.
Si Dulah yang muncul dalam dua cerita di bagian awal adalah cerita yang lekat dengan gosip tetangga. Kisah tentang orang kaya di kampung yang keturunannya terlalu manja dan bodoh yang kemudian malah menghamburkan kekayaannya sehingga hilanglah kejayaan yang sudah dibangun sejak dulu adalah repetisi dan kisah klasik gosip tetangga dan kemungkinan ada di setiap kampung.
"Burung nasar dan korban kesembilan" mengingatkanku akan pidato upacara kematian yang dulunya monoton, namun pada suatu masa ditambahkan modifikasi yang terus bertahan sampai sekarang yaitu "mohon datang ke ahli waris dengan membawa bukti", sebelumnya hal ini jarang sekali muncul. Bisa jadi kelakuan Hisam yang mengaku memberi hutang kepada orang yang meninggal kemudian menagih ke ahli waris pernah menjadi peristiwa yang meresahkan.
Cerita-cerita di buku ini lucu banget jujur, meskipun agak gelap. Sebagai orang yang lahir dan tinggal di dekat perkampungan Betawi, segala latar tempat, bahasa-bahasa, sampai kegiatan-kegiatan tuh aku bisa ngerti, lol. Gak dibutuhkan pengetahuan tertentu sih, tapi mungkin beberapa pembaca yang asing dengan budaya Betawi bakal kayak, “hah?” gitu. Cukup jadi buku penghibur lah.
Sohib adalah pencerita ulung dan tidak ada yang perlu diragukan dari predikat ini. Ia mengangkat cerita dari masyarakat Betawi, kelas bawah sampai menengah, yang harus bertahan hidup atau mengejar cinta di tengah himpitan metropolis yang semakin padat dan beragam. Di dalam cerpen “Para Penjual Rumah Ustazah Nung” misalnya, kita bertemu dengan Dulah, seorang laki-laki dewasa yang sikapnya begitu kekanak-kanakan sehingga tega menyuruh ibunya menjual rumah peninggalan di Kampung Melayu agar ia bisa kawin dengan cinta masa mudanya. Di dalam cerpen “Burung Nasar dan Kutukan Korban Kesembilan,” pembaca diperkenalkan dengan Hisam, seorang pekerja serabutan di Kebon Nanas, yang mendatangi keluarga orang-orang yang baru mangkat dengan mengatakan bahwa almarhum memiliki hutang kepadanya dan – sekalipun tidak enak – harus dilunasi agar almarhum tidak memiliki beban untuk melangkah ke dunia sana. Sekalipun dipenuhi muslihat dan tipu daya, cerita-cerita Sohib juga membangkitkan empati pada beberapa tokohnya. Di cerita favorit saya, “Haji Syiah”, kita bertemu dengan seorang haji yang dipanggil Haji Syiah karena memajang foto Khomeini di ruang tamunya. Ia mengaku jago silat dan berkata bahwa kemampuannya membuat takluk dua orang pemuda pemabuk yang kemudian ia anggap sebagai anak sendiri. Barangkali, satu-satunya kelemahan yang terasa di kumpulan cerita ini adalah begitu minimnya representasi perempuan. Selain ketiadaan perempuan sebagai tokoh utama, terkadang karakter stereotipikal pun digunakan untuk mengisi karakter sampingan. Yang paling kentara mungkin Leha dalam cerita “Apang Bokek dan Pidato Istrinya”, tapi itupun ia hanya dimunculkan sebentar untuk menambah ketragisan hidup suaminya yang baru meninggal.
Ada 11 cerita pendek dalam kumpulan cerpen ini. Sebagian besar cerita, kecuali pelintiran dari kisah Don Quixote Tak Lagi Memerangi Kincir dan cerita perantauan dalam Lelaki yang Berbagi Sarapan dengan Anjing, berlatar belakang Jakarta, umumnya pinggiran Jakarta. Oleh karena itu, dialog antartokohnya kental bahasa Betawi dan sedikit sentuhan Arab.
Kisah-kisah yang diangkat cukup dekat dan terjadi pada masyarakat menengah, yang seringnya mengalami komedi satire perihal uang (dan percintaan, jika boleh ditambahkan).
Dari pemilihan judul utama dan judul masing-masing cerpen, bahkan kalimat pertama di awal cerita, semuanya membuat saya mengantisipasi alur cerita. Akan tetapi, entah mengapa, hampir semua cerita, untuk saya, gagal memberikan punch line atau akhir yang memuaskan. Ibarat kurva, makin mendekati akhir, kok makin melandai, melempem. Hanya satu yang bagi saya cukup memuaskan dan sekaligus menjadi favorit, yaitu Apang Bokek dan Pidato Istrinya.
Akhirnya, secara keseluruhan, saya tidak merasakan apa-apa selesai membaca buku ini. Poin plusnya, buku ini hampir pasti bisa diselesaikan sekali duduk, hanya 122 halaman dan alur sederhana, mudah diikuti.
Mungkin blurb di belakangnya keliru, mestinya tidak untuk buku ini (?) Tidak terlihat di mana karakter-karakter dari setiap cerita "yang dengan enteng menggunakan agama untuk semua perkara". Tidak terlihat juga jenaka-nya di sebelah mana, cerita ajaib juga tidak ditemukan, "Tapi, Ben Sohib selalu jenaka, jadi pasrah sajalah diajak bertamasya menyusuri cerita-cerita ajaibnya."
Okelah, pasrah, terkecoh dari blurb yang mengisyaratkan magical realism. Ceritanya bagus untuk yang penasaran dengan potret kehidupan orang di kampung betawi. Jujur yang bikin penasaran setelah selesai baca adalah potret semua karakter perempuan yang sempit dan cenderung satu dimensi di sini—apakah semata-mata cermin pandangan penulis terhadap perempuan Betawi, atau perempuan secara umum?
Kisah-kisah di sini diangkat dari komunitas Arab Betawi yang hidup di Jakarta. Beberapa kisah terasa sangat familier, baik dari dialognya, kejadiannya, kebiasaannya (menaruh uang di dalam Al-Qur'an, membaca summum bukmun supaya orang yang tidak diinginkan 'hilang'), dan tentu daja jenaka.
Sulit untuk memilih cerpen favorit, lebih karena semua berkesan dengan caranya masing-masing.
Buku Kumpulan Cerpen yang habis dalam sekali duduk. Menarik, berisi cerita-cerita rakyat biasa. Ada yang diawal terkesan biasa saja ternyata ada plot twist di akhirnya. Ada juga yang menggantung di akhir cerita, seperti cerita "dakocan", membuat penasaran sama akhirnya atau memang sengaja dibuat open ending ya?
Cerpen sekali duduk yang ringan, kadang lucu, naif oleh beberapa plot ceritanya. Pertama kali baca cerpen Ben mungkin kesemuanya khas plot cerita Betawi dan tak jauh-jauh dar cerita sehari-hari ya.. Cocok untuk bangkitin selera baca yang lagi down.
This book is such an amusing collection of short stories. I am amazed by how the author can create an attractive short stories with plot twists, which some are even presented in the last sentence. A lot of the stories gave me giggles, but my favorite piece was "Haji Syiah".
Cerita @ben_sohib ini terasa akrab buat gue yg tinggal di lingkungan Betawi pinggiran. Jenis cerita yang bisa bikin ngakak saat membacanya, lalu meresapi 'pelajaran' setelahnya. Seperti khutbah 𝐊.𝐇 𝐙𝐚𝐢𝐧𝐮𝐝𝐝𝐢𝐧 𝐌𝐙 (alm.), kayak series 𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧 di season permulaan.
Kumpulan cerpen di sini semuanya jenaka dan bahkan selalu bikin kepala geleng-geleng saking diluar nalarnya hahaha. Bahkan, meskipun hanya sekali baca, beberapa cerita dari buku ini pasti ada yang diingat.
Untuk buku sebagus ini harusnye sihh lebih tebal yee. Ane sampe ga sadar tau tau udeh abis aje. Mudah mudahan ben Sohib makin produktif dah yaa. Biar segera membaca karya-karya terbarunya