Tidak pernah ada yang namanya tak ada harapan. Tidak pernah ada yang namanya tak ada masa depan. Tidak pernah ada yang namanya tak ada kesempatan.
Sebab apa? Sebab ada Allah, yang insya Allah akan meringankan semuanya. Segelintir masalah akan selalu ada, tetapi percayalah, masalah itu pulalah yang akan membesarkan kita, mendongkrak kita, menguatkan kita. Asalkan saja, kita melalui dan menikmati prosesnya bersama Allah.
Lewat buku ini, Wirda Mansur ingin mengingatkan kembali. Untuk jadi orang yang tidak putus harapan. Untuk sama-sama bangkit lagi. Untuk sama-sama memperbaiki diri lagi. Untuk sama-sama mengejar masa depan.
Terutama, untuk tak pernah lupa bahwa Allah selalu bersama kita.
"Allah SWT mengajarkan kita untuk tidak pernah hopeless, tidak pernah merasa tak ada harapan" (hal.5) . . . Q: Pernakah kita merasa kehilangan harapan sekaligus pertolongan Allah terasa begitu jauh?
Mungkin, ada sebagian diantara kita yang pernah merasakan kehilangan semangat untuk berusaha karena berpikir pertolongan Tuhan tak kunjung dirasakan. Wirda Mansur, lewat buku ini memberikan pandangannya mengenai harapan, pertolongan Tuhan, serta beberapa kisah inspiratif berdasarkan pengalaman serta sudut pandangnya sebagai penulis yang mungkin dapat memberikan kalian energi agar kembali bersemangat berusaha dan tidak berhenti percaya akan pertolonganNya.
❤ Buku ini menjadi karya Wirda yang saya baca pertama kali sekaligus membuat saya memuji kepiawaian remaja penghapal Al-Qur'an ini meramu Pengalamannya yang inspiratif dan beberapa pengetahuan berbasis islam dengan bahasa yang mudah dipahami dan mungkin disenangi para anak muda masa kini,yang kadang terasa cukup baku dan juga sedikit gaul.
❤ Desain kovernya pun sederhana namun memberi kesan keren juga membantu para pembaca mengingat rupa dari penulisnya.
❤ Pengalaman menyenangkan dari membaca buku ini adalah ilustrasi yang ciamik dan halaman yang dicetak berwarna sehingga memungkinkan antusiasme pembaca untuk menyelesaikan baca buku ini tetap terjaga.
❤ Bahasa yang digunakan cukup bagus, namun pada beberapa halaman saya masih merasakan susunan kalimat yang sifatnya sedikit 'menggurui' dan seolah belum memandang manusia sebagai makhluk yang diberikan Rahmat serta potensi olehNya untuk menghadapi berbagai problem.
❤ Secara keseluruhan, buku ini lebih cocok tuk dikategorikan sebagai buku motivasi yang sepertinya bisa cocok tuk dibaca oleh teman-teman yang senang baca buku yang sifatnya memotivasi dengan perspektif seorang muslimah penghapal Al-Qur'an yang cukup inspiratif.
Buku yang sebagus itu! Bener-bener recommended buat orang yang ingin belajar menjadi diri yang lebih baik lagi. Banyak banget kata-kata, nasihat, cerita yang menurut ku banyak banget yang bisa diambil manfaatnya.
Dan juga buat kalian yang kurang suka baca buku yang gak ada gambar or colorful, buku ini recommended buat kalian karena buku ini colorful juga ada beberapa ilustrasi yang bikin gak bosen pas baca
Baca ini sampe 2 kali krn emang bagus banget😭 aku suka dengan cerita si wirda gimana perjuangan dia meraih impian dan cita-citamya, banyak quotes2 yang bagus juga buat jadi motivasi, pokoknya kalo baca buku ini bikin hati tenang pokoknya. Kalo lagi ngedown, biasanya aku suka baca2 quotes nya gitu bikin mood jadi naik deh.
Waktu tau bukunya udah rilis, pengen langsung PO. Tapi apadaya banyak banget faktor penghambat. Akhirnya beli buku ini langsung di toko baca satu hari selesai. Suka sama desainnya, berasa lebih universal
Bagus banget bukunya. Buku islami terbaik yang pernah aku baca. isinya gak menggurui sama sekali tapi bisa bikin hati tersentuh pas bacanya. Buat aku sadar bahwa Allah emang selalu bersama dengan kita.
Buku ini menggunakan bahasa tutur millenial sehingga akan ringan dan akan jauh dari potensi miskonsep walau dibaca oleh orang yang jarang membaca atau juga akan nyaman dibaca oleh remaja.
Jika kita selalu dan melulu mengingat Allah pastilah Allah akan HADIR di setiap momen dalamn hidup kita. Ya, kadang cacatnya kita tuh di situ, asal lagi senang, boro-boro ingat Allah, apalagi bersyukur. Boro-boro shalat tepat waktu, apalagi shalat sunah. Lebih cacat lagi, ketika masalah demi masalah menimpa, barulah kita berbondong bondong menuju Allah.
Nah, untuk itulah kenapa gue seneng banget sama ayat ini. Saat sedih, oh iya ada Allah saat banyak yang nge-bully, oh iya, ada Allah, saat lagi galau ada Allah Pokoknya apa-apa ada Allah Kehadiran Allah berlaku buat kita yang merang merasakan hadirnya Allah.
Dari mana? Banyak pintunya Baca Alquran, ya, ngaji misalnya. Tahajjud, atau shalat-shalat lain yang kita lakukan dengan khusyuk.
Buat yang kerja, juga begitu. Siapa yang ngasih kita rezeki? Bos bukan? Tentu Allah Hanya saja, lewat "Bos' kita Tapi, ya, siapa yang ngasih kita kerjaan? Kalau bukan Allah? Kalau bukan atas Izin-Nya?
Maka seyogyanya, kita jangan main nyelonong ke tempat kerja sempatin Dhuha dulu. Kalau terlalu pagi berangkatnya gimana? Nggak bisa Dhuha? Ya udah kan ada zikir pagi tuh, baca. Zikir pagi itu penting, buat perlindungan kita.
Allah yang punya dunia. Maka, Allah pula yang bikin kalian bisa keliling dunia. Allah menciptakan alam semesta aja bisa. Masa bikin kamu bisa ke luar negeri doang Allah nggak bisa? Jangan mikir duit, mikir Allah. Jangan mikir dunia. Kalau mikir dunia, semua bakalan mahal.
Terkadang, kita punya apa yang orang lain nggak punya, tapi karena kurang bersyukur, kita bakal selalu merasa kekurangan.
Setiap doa itu pasti dikabulkan. Tapi, ada dua. Dikabulkan di dunia, atau dikabulkan di akhirat. Nggak benar juga kalau udah usaha, tapi nggak ada hasil.
Kita suka nggak sadar, apa yang ada di kita, itu yang dipenginin sama orang lain. Yang nggak punya tangan, pengin banget punya tangan. Yang punya tangan nggak mikir bahwa bisa punya tangan itu sesuatu yang luar biasa banget.
Kesel sama orang tua itu nggak boleh. Mau seberapa seringnya orangtua bikin kita kesel, kita tetap nggak boleh ngelawan dan ngebentak. Nampakin muka cemberut, muka marah, muka nggak boleh.
Ibu itu manusia paling hebat. Bahagiain orang tua sebelum semuanya terlambat.
Harusnya, saat ditimpa masalah, kita jangan putusin shalat. Justru shalat itulah jalan keluarnya.
Harus ada tuh yang namanya keluar dari zona nyaman. Menghafal Alquran, paling perjuangannya 2-3 tahunan aja.
Seharusnya aku baca buku ini sebelum nyantren, sayangnya sekarang udah boyong, ya gapapa lah ya. Tetep harus berbuat baik, berniat baik, dan buku ini sangat memotivasi sekali.