Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku Sastra bisa dibredel, tetapi kebenaran dan kesustraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan.
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Saya membaca buku ini sudah lama sekali. Tepatnya waktu kuliah dulu. Ketika api jurnalistik dalam jiwa saya begitu menggelora. Berbarengan dengan meletupnya gairah saya dalam mensetubuhi dunia sastra.
Selama mahasiswa, saya aktif dalam dunia pers kampus. Dunia pers kampus, tentu beda dengan dunia pers industri. Belum ada batas rasional yang saya pikirkan kecuali hanya menulis dan menulis. Hingga akhirnya, karena tulisan saya itu, saya sering berhadapan dengan pihak Dekan atau Rektor. Pun Militer. Atau bahkan teman sendiri yang aktif di organisasi ekstra kampus. Seringkali saya pisuh-pisuhan dengan teman yang ikut HMI karena memonopoli informasi beasiswa. “Dasar Himpunan Maling Indonesia,” ejek saya. Rasa benci terhadap HMI itu, alhamdulillah masih ada sampai sekarang. Tidak tahu kenapa. Pokoknya mereka jelek saja.
Mungkin, saya adalah mahasiswa yang sering masuk ruangan Dekan. Bukan karena saya mahasiswa berprestasi, tetapi karena saya sering membuat masalah di luar kampus dan ‘menyindir’ Pak Dekan yang punya istri muda. Saya benci Pak Dekan karena dia bekas HMI dulu. –tetap-.
Pun dengan pihak Koramil. Pernah suatu pagi, pintu kamar kost saya –yang saya maksud kamar kost adalah sebuah ruangan kecil di kampus tempat saya dan beberapa teman numpang tidur- diketok oleh seseorang. Dengan tampang lusuh, saya buka pintu itu. Muncullah Pak Pembantu Dekan III. Sambil menutup mulut, saya tanya. “Ada masalah apa lagi, Pak?” tanya saya. “Biasalah. Kemarin malam, pihak Koramil datang ke kampus. Dan mencongkel mading dan mengambil beberapa tulisan dan karikatur di sana,” jawab dia. Huh. Waktu itu, saya menulis untuk ajakan golput dan tidak memilih lagi Soerharto sebagai presiden.
Beberapa pengalaman itu menjadi latar belakang kenapa buku ini menjadi spesial. Akhirnya saya menekuni dunia sastra. Kenyataan di dunia sastra itu juga lebih tragis. Tak pernah punya tempat di khalayak ramai. Tapi itulah sastra! Yang ada di halaman tengah koran-koran Indonesia, bukan halaman depan atau halaman belakang. Apalagi headline. Sebab, halaman depan dan belakang koran hanya untuk memuat berita yang "wajar". Bukan sastra. Pembunuhan, perampokan, kerusuhan, pemerkosaan, pembredelan, naiknya harga lebih "normal" dibanding sastra.
Sastra atau sastrawan lebih suka yang aneh. Sastra adalah perlawanan. Sastra adalah tujuan ziarah kemerdekaan pemikiran. Ibarat pegunungan, sastra penuh dengan tanjakan, turunan dan lembah yang terhingga. Sastra dijelajahi oleh sastrawan yang kemudian menceritakan hasil dan proses ziarah pada sesama. Pada fase inilah, seringkali sastra dianggap penyimpangan dan perlawanan, tatkala sang pencerita melihat pemandangan yang lain. Pada dasarnya, sastra merupakan potret kehidupan manusia dan lingkungannya dalam bentuk kata kalimat dan bahasa. Ia merupakan bentuk kreativitas – yang kadang lepas dari batas semu kewajaran – manusia yang tumbuh berkembang secara simultan dengan peradaban umat manusia di bumi.
Sastra juga berbicara tentang sosial budaya moralitas yang tinggi. Dus, sekali lagi, sastra adalah potret kehidupan manusia dalam bentuk bahasa. Ketika kata-kata yang ditulis menggugah budi orang, saat itu fungsi kata bukan sekedar mengiyakan keadaan, melainkan muncul mengguncang lembut kesadaran manusia. Ketika deretan kata dirangkai menjadi kalimat yang bermakna lalu mampu pula memperhadapkan pembaca pada pertanyaan, gugatan, ajakan merenung. Ketika itu pula kalimat itu menjadi berjiwa, mempunyai roh bagi tulisan yang disajikan ke pembaca. Bila tulisan berjiwa itu masuk ke dalam kesadaran budi manusia serta bergerak mengetuk kegelapan dan menyingkap kekaburan, di sana proses pencerahan sedang berlangsung. Lewat deretan kalimat yang semula merupakan alphabet atau aksara yang belum dibaca dan diam tak bicara makna pada proses-proses pencerahan dihayati oleh edukasi dasar atau pengaksaraan, disana gelapnya budi mulai disibak untuk menjadi cerah.
Itulah sastra! Sebagai oposisi dari berbagai simbol kemapanan yang dilakukan. Sejak zamannya Chairil Anwar sampai Afrizal Malna terjadi pemberontakan lirik dengan cara dan bentuknya masing-masing. Imaji pemberontakan terpaku pada satu titik temu yang sama: kekuasaan. Dus, sastra kita adalah sastra yang senantiasa diburu oleh kekuasaan. Ada unsur subversif yang selalu mengepung, mengancam dan mendepak. Ia ditakdirkan tidak merdeka kecuali dalam dirinya sendiri. Ia adalah buron sepanjang abad. Oleh sebab apa? Karena sastra lihai "mencuri" sesuatu yang lebih dan paling berharga dari manusia yakni estetika. Di kalangan seniman (penyair: sastrawan), sastra hampir pasti selalu diyakini memiliki citra, selera dan ciri estetis yang otonom sifatnya. Sastra mendapat ruang lebar bagi perengkuhan-perengkuhan, mesias dan alternatif wacana-wacana humanis, filosofis yang dianggap sanggup mewadahi bagi ruang publik untuk melakukan katarsis kebudayaan dan identifikasi jiwanya.
Di luar itu, di tengah kekuasaan yang melingkunginya, sastra juga sering dipandang sebagai "satanic agent", pemicu konflik yang muaranya menyebabkan instabilitas status quo yang mencoba dipertahankan. Sehingga sastra harus dirumuskan, diarahkan kedalam strategi kebudayaan tertentu. Direkayasa agar sejalan dengan kepentingan yang melingkupinya. Dalam batas yang paling sederhana, hadirnya lembaga-lembaga kesenian seperti dewan kesenian, dan lain-lain, adalah bukti nyata akan hal itu. Lembaga kesenian itu, dalam proses kerjanya sering pula anarkhis dengan breidel dan sensor karena dianggap tidak sejalan atau telah menyeleweng dari rel besar "arus kepentingan" yang diacu dan diidealkan penguasa.
Dan sastra adalah sastra. Masih menjadi pemberontak. Masih menjadi buron. Kemudian berlangsunglah apa yang disebut sastra semestinya menjadi bagian hidup (HB. Yassin). Sebab, sastra mungkin tidak bisa memberikan nilai yang baik dan buruk. Sastra bisa menawarkan keharmonisan hidup. Sastra bisa menghadirkan permenungan. Sastra memberikan penjernihan jiwa. Pada gilirannya sastra bisa mengerem kerakusan, penjajahan, kekuasaan, ketidakadilan. Dan itulah sastra ! Seperti Seno Gumiro Aji Dharma berkata, " ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara ". Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta maka sastra bicara dengan kebenaran. Buku sastra bisa di-breidel, tetapi kebenaran dan kesusastraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan. Bahkan oleh ruang dan waktu. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang dilakukan manusia dimuka bumi.
Dalam fenomena kekinian, tumbangnya rezim Soeharto bisa jadi lebih cepat kalau saja sastra sebagai media perlawanan bisa diterima banyak kalangan sehingga rakyat tanpa senjata material pun bisa bergerak meruntuhkan tiran. Tetapi sayang sekali, Soeharto adalah raja kepala batu. Widji Thukul, Goenawan Moehammad, Rendra dan beribu yang lain harus berubah menjadi air yang mengikis batu sedikit demi sedikit. Bukan meriam sebab meriam hanya milik penjajah. Pada tataran ini sastra adalah media perlawanan yang bernuansa pemberontakan pada nilai kewajaran.
Sebagai akhir, kesadaran harus dibangkitkan. Kepedulian harus dilakukan. Membacalah sastra, jadikanlah bagian hidup. Ini jaman sudah berubah. Mendekati perubahan yang menantang kita untuk berenang didalamnya.
Kira-kira begitu, pelajaran yang saya petik dari buku ini. Aim aim. –sedang apa ya, kamu di sana?-
Saran saya: beli dan bacalah buku ini jika Presiden SBY sudah mulai menyebalkan.
Saya memang bukan penulis. Tapi saya setuju dengan kalimat ini: "Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara, karena bila jurnalisme bersumber dari fakta, maka sastra bersumber dari kebenaran. ... Kebenaran bisa sampai apapun bentuknya. Bagi saya, dalam bentuk fakta maupun fiksi, kebenaran adalah kebenaran - yang getarannya bisa dirasakan setiap orang." (hal. 111)
Jadi kata SGA, latar belakang sebuah karya ditulis dalam hal ini cerpen-cerpen SGA sendiri tidaklah terlalu penting bahkan bisa dikatakan tidak ada menariknya sama sekali bagi penulisnya. Keduanya bisa berdiri sendiri sebagai sebuah bahan diskusi utuh yang justru bagi saya selaku pembaca dan penggemar karya-karya SGA hal ini malah menjadi menarik. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi seorang wartawan yang secara terang-terangan sering diteror oleh biro penerangan ABRI jaman itu hanya karena menulis berita-berita sensitif macam Insiden Dili. Atau bagaimana ketika akhirnya selama dua tahun beliau pernah tidak dianggap sebagai bagian dari media tempatnya bekerja lagi-lagi karena pemberitaan yang dicap vulgar oleh manajemen majalah Jakarta Jakarta. Kisah dibalik cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku juga tak kalah menarik meski bisa dibilang ya sederhana saja. Hanya bagaimana seorang SGA yang mampu menuliskan sebuah senja yang terandaikan dipotong-potong, masuk amplop dan diberikan untuk seorang pacar. Bagi saya selaku pembaca, hal-hal kecil yang menjadi pemicu seorang penulis menuliskan apa yang dia tangkap dalam alam semesta ini selaku menarik, selalu bikin orang penasaran, kok ya dia bisa berpikir begitu ya? lagi-lagi ini hanya soal sudut pandang dan bagaimana kita bermain imajinas. Buku ini saya dapatkan dalam kondisi second hand, penuh coretan di sana sini yang membuatnya terlihat kusam dan kotor. tetapi untungnya kondisinya msh seperti buku normal. dan harga yg saya bayarkan cukup masuk akal. jadi beruntunglah saya yg mendapatkan ini utk melengkapi koleksi buku SGA lainnya.
Buku terakhir Trilogi Insiden. Trilogi Indonesia yang sangat kusukai. Pertemuan dengan buku ini ajaib. Ah, sebenernya, bagaimana aku bisa menamatkan keseluruhan trilogi ini juga ajaib.
Setelah menamatkan "Saksi Mata" dan "Jazz, Parfum, dan Insiden" aku tak berani berpikir punya kesempatan membaca buku terakhirnya. Sudah langka. Tak dicetak lagi. Kalau ada, harganya lumayan mahal.
Tapi, semesta bekerja secara misterius. Pertemuan dengan buku ini adalah manifestasi nyata 'what you seek is seeking you'. Hari itu, buku ini ada di pelukan seorang perempuan, sesama pengunjung perpustakaan kota. Kami duduk di meja baca yang sama. Jantungku dag-dig-dug. Aku membatin, "It has found me!"
Dengan nada SKSD aku membuka suara lebih dulu, "Itu bukunya Seno Gumira, 'kan?" Rupanya, dia tidak tahu. Dia menarik buku itu karena bermuatan Jurnalisme, bidang yang disenanginya. Kemudian, percakapan mengalir dengan seru.
Begitulah pertemuan ajaib antara aku dan "Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra harus Bicara". Aku berpikir, buku yang terasosiasi dengan kenangan tertentu, apalagi menyenangkan, akan meninggalkan kesan di dalam diri dalam waktu yang lama.
Okay. Lanjut tentang subtansi buku ini. Pembahasan yang serius dikemas dengan gaya bercerita Seno Gumira yang santai, malah rada guyon, bikin nyengir. Kecuali di bab paling akhir. Suasana sungguh berubah. Seno Gumira bercerita gimana pemberitaan tentang Pembantaian Santa Cruz (Pembantaian Dili) pada 12 November 1991, di tengah pendudukan Indonesia di Timor Leste, di koran 'Jakarta Jakarta' membuatnya dan dua petinggi koran itu dipanggil menghadap para pembesar.
Seno Gumira menguraikan bagaimana cara Pembantaian Dili dikemas (diberitakan) dalam 'Jakarta Jakarta'. Dalam hal ini aku belajar, dikutip dari buku, "Jadi persoalan bagaimana terjadinya adalah soal yang paling penting. Ini hanya bisa dijawab dengan mengungkap fakta secara rinci, bukannya langsung menentukan siapa benar dan siapa salah, sebelum tahu secara rinci apa yang sebetulnya sudah terjadi."
Seno Gumira juga membahas beberapa cerpennya di 'Saksi Mata' dan 'Penembak Misterius'. Aku suka sama cerita Sawitri yang setiap hujan selesai akan melonggokan kepala dari jendela, memandang ke depan gang, melihat apakah ada sosok tergeletak di sana dengan lubang di tubuh atau kepala. Sementara itu, dalam 'Saksi Mata' Seno Gumira banyak merujuk pada Pembantaian Dili. Sebuah usaha perlawanan.
"Akhirnya saya sendiri menuliskan kembali Insiden Dili, dalam berbagai bentuk cerita pendek. Tentu saja tentang cerita pendek itu sendiri tidak penting, karena tujuan saya menuliskannya kembali bukan untuk mengejar kualitas sastra, melainkan mengungkap kembali peristiwa itu, sebagai suatu perlawanan. Peristiwa yang saya alami tanpa merujuk lembaga apapun saya anggap merupakan keangkuhan kekuasaan, yang begitu tidak rela terusik, meski melakukan kesalahan ... Dengan ini saya ingin menyatakan, perlawanan saya bukanlah suatu tindakan heroik itu hanya soal naluri alamiah. Pilihan perlawanan saya jatuh pada hal-hal yang sensitif, karena saya pikir hanya dengan cara itu saya bisa menunjukkan betapa Insiden Dili bukan hanya tidak bisa dilupakan seperti berita sepenting apapun yang akan kita lupakan ketika mendapat berita penting yang lain, dari hari ke hari."
Dalam 'Jazz, Parfum, dan Insiden', kiranya "insiden" merujuk pada Pembantaian Dili.
Ada satu bagian lagi tentang proses kreatif, menulis. Sebagai penulis, kalimat berikut begitu mewakili: "Meski begitu, latar belakang lahirnya suatu karya bisa penting, jika itu dimaksud sebagai studi tentang proses kreatif. Dalam momen yang bagai mana suatu karya bisa lahir persis seperti itu? Namun toh harus dikatakan juga, bahwa meski data tentang lahirnya suatu karya bisa diungkapkan, proses kreatif itu sendiri tetap sesuatu yang misterius. Bahkan, saya kira, juga misterius bagi sang pengarang ... Proses kreatif melibatkan seribu satu aspek yang begitu halus serat-seratnya, sehingga tidak terlalu mudah diuraikan satu per satu secara gamblang. Kita hanya bisa menduga garis garis besarnya."
Begitulah. Pengalaman membaca yang sangat kunikmati. Review panjang ini akan kututup dengan kutipan paling mendeskripsikan buku terakhir dari Trilogi Insiden ini: "Ketika Jurnalisme dibungkam, Sastra harus berbicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Imajinasi tidak mampu melepaskan fakta dari kebenaran, barangkali ia menjadi fiksi, tapi tetap kebenaran."
Akhirnya bisa membaca buku ini. Terima kasih perpustakaan! Disini SGA sedikit bercerita tentang Cerpen. Mengeluarkan pendapatnya mengenai cerpen yang betul juga ketika kita pikirkan.
Terlebih lagi pengalaman dirinya "dibungkam" oleh kekuasaan yang ada di atasnya ketika mewartakan insiden di Tim-Tim. Angkat topi untuk buku yang menggugah ini.
Seperti pada judul buku ini, saat itu kebebasan pers memang sangat menyedihkan karena Pemerintah Orde Baru tidak ingin berita-berita yang disebar ke masyarakat dianggap mengganggu "keamanan negara", maka didirikanlah Departemen Penerangan yang bertugas untuk memeriksa setiap berita atau informasi yang terbit dari perusahaan-perusahaan media. Begitu juga Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang dulu bekerja di bagian redaksi tabloid 'Jakarta Jakarta' yang dianggap telah melanggar peraturan pemerintah karena ia melakukan liputan tentang Pembantaian Santa Cruz yang dilakukan tentara Indonesia pada 12 November 1991. Dari kasus itu, SGA pun dipindahtugaskan ke media lain, bahkan tak disangka beberapa saat kemudian tabloid 'Jakarta Jakarta' dibredel Pemerintah Orde Baru.
Karena latar belakang tersebut, SGA menulis keresahan dan kritiknya di buku ini. Ia menjelaskan bahwa menjadi jurnalis terkadang tidak bebas memberitakan kebenaran yang ada. Sebab, ada pihak-pihak yang lebih tinggi dari mereka yang akan menyensor atau mengendalikan berita tersebut. Untuk konteks saat itu adalah Pemerintah Orde Baru. Lantas, karena dirasa jika menceritakan kejadian nyata lewat berita akan dianggap mengganggu stabilitas negara dan akan terkena pidana, maka kebenaran bisa disampaikan melalui fiksi, seperti pada buku kumpulan cerita 'Saksi Mata' atau novel 'Jazz, Parfum, dan Insiden'. Kedua buku tersebut ditulis SGA untuk menyampaikan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Timor Timur (sekarang Timor Leste).
Bagi masyarakat yang ketika itu mendapatkan informasi hanya dari media arus utama yang sudah disensor Pemerintah, maka bisa dipastikan sebagian besar tidak akan pernah mendengar Pembantaian Santa Cruz. Bahkan, jika berbicara tentang konteks saat ini, masih cukup banyak masyarakat Indonesia yang belum banyak memahami sejarahnya sendiri, sehingga bisa kita lihat beberapa orang di media sosial yang masih menyepelekan atau mengelak tragedi kemanusiaan yang dilakukan pada zaman Orde Baru sampai kejahatan-kejahatan yang dilakukan pemerintah pasca reformasi.
Salah satu peran sastra adalah perlawanan, dan SGA dengan cerdik menggunakan fungsi ini untuk menaikkan isu tentang tragedi Insiden Dili 12 November 1991 yang kala itu ditutup-tutupi oleh sejumlah pihak yang berkuasa. Ketika Jurnalisme dibungkam, Sastra harus berbicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Lewat cerpen atau novel,tepat fakta bisa disamarkan sebagai imajinasi, isu-isu sensitif bisa tetap diusik (dan mungkin tetap aman) dengan mengatasnamakan "itu hanya imajinasi saja kok, fiktif!" Imajinasi tidak mampu melepaskan fakta dari kebenaran, barangkali ia menjadi fiksi, tapi tetap kebenaran."
Hal yang juga menarik, tentang proses kreatif di balik sejumlah karya-karya besar SGA. Ternyata, kadang itu tidak sewow dan seheboh seperti sangkaan kita sebagai pembaca. Kadang, hal-hal sepele yang memicu proses penulisan sebuah karya, tetapi kali lain bisa juga peristiwa-peristiwa besar sebagaimana sebuah laporan berita atau karya jurnalistik. Tetapi, apa dan bagaimana proses kreatif itu berlaku, masih misteri sebagaimana yang dikatakan sendiri oleh pengarang: ... proses kreatif itu sendiri tetap sesuatu yang misterius. Bahkan, saya kira, juga misterius bagi sang pengarang ... Proses kreatif melibatkan seribu satu aspek yang begitu halus serat-seratnya, sehingga tidak terlalu mudah diuraikan satu per satu secara gamblang. Kita hanya bisa menduga garis garis besarnya..
This is an effort to finish my current read shelf. I read this probably a week or so before Pro3. As always, everything is way way more interesting when you have something else (read: important) to do. This was good at that time and downhill now. Some are repetitive, I get so bored when he go on and on about his short stories. I did learned a lot tho.
For example, I did learn that half of Papua was a part of Indonesia when I went there last time, but from here, I learned that there have been some pretty big massacre which happened years and years ago and then they obtained independence. As a neighbouring country, I expect to know more about them than knowing about other countries which is further away but that's not remotely true. I also learned about the phrase homo homini lupus est. Gotta read more in that. Been meaning to read Hobbes for ages but haven't gotten around to do it.
Some quotes that I like from this:
Semakin hari semakin tampak bahwa kekerasan bukan lagi hadir sebagai kriminalitas, melainkan sebagai kebudayaan.......seolah-olah kekerasan hanya bisa diatasi dengan kekerasan.
Manusia selalu berada dalam kondisi ketercakrawalan sendiri
Dunia jurnalisme—tempat di mana fakta dipakai seperti baju yang bisa dipakai ganti sesuai selera editor. Ketika jurnalisme dibungkam, Seno Gumira Ajidarma dengan cerdiknya berargumen bahwa sastra, dengan segala kesederhanaan dan kejujurannya, seolah-olah menjadi superhero yang muncul dari bayang-bayang untuk menyelamatkan kebenaran. Saat wartawan terikat oleh rantai bisnis dan politik, para sastrawan bebas berlarian di lapangan, mengumpulkan kebenaran seperti anak kecil mengumpulkan mainan.
Seno dengan tajam menggambarkan jurnalisme sebagai ladang berbunga yang ditutupi rumput liar—fakta-fakta yang telah dimanipulasi menjadi berita “manis” yang bisa dijual. Kenapa repot-repot dengan kebenaran ketika ada banyak cara untuk menghasilkan klik? Sementara itu, sastra, yang tampaknya jadul, justru tetap bertahan, seolah-olah berkata, "Saya tidak peduli dengan algoritma, saya hanya ingin bercerita!"
Di akhir, penulis mengajak saya untuk bertanya: jika sastra adalah suara yang berani melawan arus, lalu siapa sebenarnya pahlawan di dunia ini? Apakah jurnalis yang terkurung dalam kotak berita, atau sastrawan yang berkelana di dunia imajinasi? Tentu saja, jawaban ini bisa bervariasi, tergantung dari seberapa banyak kita terjebak dalam rutinitas membaca berita “ringan” yang tidak mengajak berpikir.
Memoar tentang jurnalisme dan sastra dalam lingkup kehidupan SGA setelah Insiden Dili 12 November 1991 hingga beberapa tahun setelahnya. Dalam buku ini SGA mengutarakan kegelisahannya terhadap produk jurnalisme kala itu yang dikekang atas tindakan represif pejabat Orde Baru mengenai pemberitaan Insiden Dili. Ia sampai diberhentikan dari kantor. Oleh karena itu, SGA memilih untuk mengungkapkan fakta Insiden Dili melalui sastra (beberapa tahun kemudian dibukukan menjadi Saksi Mata dan Jazz, Parfum, dan Insiden).
Salah satu bentuk sastra sebagai perlawanan yang dilakukan oleh SGA.
Seno Gumira dalam "Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara".
1/ Kebenaran dalam kesusatraan adalah sebuah perlawanan bagi historisisme, sejarah yang hanya diciptakan bagi pembenaran kekuasaan.
Kebenaran di dalam kesusastraan adalah fakta meta-jurnalistik yang tidak bergantung pada tanah dan karas maupun komputer, melainkan oleh visi dalam kepala yang dengan sendirinya antikompromi terhadap pemalsuan sejarah.
2/ Perkara kualitas tidaklah ditentukan oleh lamanya pembuatan, perenungan, pengendapan, dan tetek bengek lainnya. Cerpen yang ditulis dalam 15 menit bisa jadi masterpiece. Dan tentunya, banyak karya yang ditulis berbulan bulan cuma menjadi sampah. Kita percaya, proses kelahiran cerpen bisa saja lebih lama dari roman, dan sebuah cerpen baru bisa dipahami lebih lama dari Genji Monogatari yang beribu ribu halaman.
Begitulah cerpen yang faktual terasing di buminya sendiri. Dia diberi penghargaan tapi tidak dibaca. Dia diakui tapi dilarang. Cerpen yang faktual ditulis berdasarkan kenyataan hanya hidup dalam kalangan eksklusif para budayawan, aktivis kemasyarakatan, dan pengkaji sastra.
Cerpen yang fiktif maupun faktual diterima sebagai fiksi--dan di manakah tempatnya fiksi dalam peradaban Indonesia?. Skripsi S1 yang paling rombengan dari universitas paling papan nama sekalipun selalu lebih prestisius di banding karya sastra pemenang Nobel. Persepsi Nobel untuk kesusastraan rasanya cuma hadiah untuk "pandai mengarang" saja. Sosialisasi fiksi sangat buruk, dan dalam dunia pendidikan diserahkan kepada bakat, bukan inovasi, alias kepada nasib. Yang dianggap inovasi barangkali cuma fisika, yang juga sama buruk sosialisasinya, karena obsesi masyarakat urban Indonesia adalah impian artifisial yang digiring iklan iklan, sesuatu yang sebetulnya sungguh sungguh fiktif.
3/ Pendekatan sastra mutakhir selalu menolak untuk menghubungkan teks dengan biografi pembuatannya. Meski begitu, latar belakang lahirnya suatu karya bisa penting, jika dimaksud sebagai studi tentang proses kreatif. Meski data tentang lahirnya suatu karya bisa diungkapkan, proses kreatif itu sendiri tetap sesuatu yang misterius.
Imajinasi tidak mampu melepaskan fakta dari kebenaran, barangkali ia menjadi fiksi, tapi tetap kebenaran.
4/ Menulis berita bukanlah soal estetika, bukan keindahan bahasa, melainkan soal fakta: apa yang sebenarnya terjadi?.
Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran.
Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah perbuatan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi.
Seni yang baik menjelaskan dirinya sendiri, seni yang baik tidak usah dijelas jelaskan oleh pembuatnya.
Bahwa sebuah fiksi dianggap cukup bisa mengundang masalah, sehingga perlu ditegur karena bau fakta, sudah merupakan suatu hal yang sulit digolongkan sebagai akal sehat: ternyata ada kecenderungan menganggap fiksi sebagai fakta. Padahal, sampai ke pengadilan pun tidak pernah ada fiktif yang disahkan sebagai fakta--meski siapa sih yang bisa mengingkarinya sebagai kebenaran?.
Teks kebenaran diburu oleh suatu kekuasaan di belantara fakta, dan masih juga diburu meski menghindar ke lautan fiksi. Jangan sampai teks kebenaran itu terus diburu ketika masih berada dalam kepala, karena logikanya kepala yang menyimpan teks kebenaran ini harus dipenggal. Memang, ada masalah besar dengan akal sehat.
5/ Kenangan sebenarnya tidak terletak di masa lalu. Kenangan hidup bersama kita di masa kini. Bukankah pengalaman yang terungkap kembali adalah baru? Dengan begitu apa yang disebut waktu dalam penghayatan manusia barangkali tidak linear, yang dengan disiplin mengurutkan masa lalu masa kini dan masa depan.
Setiap orang mengalami proses yang sama, meski penafsiran dan pengungkapannya akan berlainan. Kenangan dan harapan kita, membuat kita hidup tidak hanya bersama apa yang kita dengar. Kebenaran bukan hanya yang kita rasakan, bukan hanya yang kita alami, tapi juga termasuk apa yang kita impikan. Begitulah mimpi mimpi menjadi bagian dari dunia konkret seorang penulis. Bukan hanya penulis, setiap manusia, namun bagi penulis semua hal yang abstrak menjadi sebuah dunia nyata yang bisa dijelajahi--bisa dituliskan.
Seorang penulis mempertaruhkan hidupnya untuk setiap kata terbaik yang bisa dicapainya. Ia menghayati setiap detik dan setiap inchi gerak hidupnya, demi gagasan yang hanya mungkin dilahirkan oleh momentum yang dialaminya. Menulis adalah suatu momentum. Meskipun begitu, momentum penulisan bukanlah wahyu, yang selalu mempunyai sumbu sejarah ke masa silam dalam pengertiannya yang paling absolut. Belajar menulis adalah belajar menangkap momen momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.
Kemudian yang paling penting adalah bagaimana penulis bisa setia kepada sungai kehidupan yang menghanyutkannya. Sehingga memang tidak ada yang terlalu istimewa dengan menjadi seorang penulis, tidak lebih rendah dan tidak lebih mulia dari bidang tugas apapun yang bisa dipilihkan untuk manusia.
Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa--suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang timbang.
Sebuah bentuk penguatan dan pembelaan untuk cerpen. Harus tau bedanya fiksi fiktif dan fiksi faktual. Memang ia sama-sama FIKSI. sekalipun di dalamnya dianggap menguak fakta. Dan mengganggu sebuah kekuasaan yang ketahuan cacatnya.
Sebuah pembelaan entah itu untuk karier sendiri atau sebuah kegelisahan yang minta diberi perhatian.
"Pertanyaannya sekarang, mengapa jurnalisme Indonesia tidak peduli kepada nasib para perempuan yang "hilang dari dunia" untuk sekian lama itu? Kenyataannya adalah, jurnalisme Indonesia memang tidak peduli kepada banyak hal. Kenapa? Karena jurnalisme Indonesia adalah jurnalisme orang-orang bingung. Kenapa bisa bingung? Karena reformasi 1998 memang telah melahirkan situasi yang membingungkan (SGA; 208)."
Kutipan di atas mengenai ketidakacuhan para jurnalis dalam mengangkat isu para bekas jugun ianfu yang berada di Pulau Buru sejak tentara jepang dikalahkan sekutu tahun 1945 (Diangkat dalam buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer). Sejak itulah mereka tinggal di sana, menikah dengan penduduk asli yang terisolir, dan menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan mereka sebelumnya di Jawa. Namun sayangnya hampir tidak ada pewarta yang mengangkat kisah tragis ini dan menjadikannya berita.
Jurnalisme tidak lagi mengangkat sisi humanisme. Mereka mengangkat isu pada lingkup yang tinggi seperti politik dan ekonomi, namun berita mengenai humanisme dikesampingkan pada kolom-kolom kecil di halaman belakang. Statistik korban hanya dilaporkan seadanya, namun tidak mampu menyentuh sisi kemanusiaan, mengakibatkan kekebalan pembaca terhadap tragedi yang terjadi di sekitarnya (termasuk saya).
"Pers yang berhasil adalah pers yang berhasil survive dalam kemelut ekonomi dan politik (SGA; 212)."
"Para korban harus menjadi prioritas utama, karena tanpa berpihak kepada mereka yang tertindas dan menderita, jurnalisme akan kehilangan makna sebagai media dalam arti yang sesungguhnya: mengusahakan segalanya demi harkat dan martabat manusia. Itulah yang saya maksudkan sebagai ruang kosong dalam jurnalisme Indonesia (SGA, 222)."
Membaca buku ini melengkapi pengetahuan saya mengenai keadaan jurnalisme di Indonesia dan juga mengenai proses kreatif SGA sendiri dalam membuat berbagai cerpennya (terutama mengenai insiden Dili 1992) yang berusaha mengungkapkan fakta ketika laporan jurnalistiknya disensor oleh penguasa orde baru. Karena ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.
Membacanya tentu saja seperti mengenal lebih jauh sosok seorang Seno Gumira Ajidarma. Seseorang dengan wawasan nusantara yang luas yang melalui karya-karyanya seringkali membuat saya merasa miskin, miskin akan pengetahuan dan kesadaran akan bangsa sendiri.
Ada kesan yang saya tangkap bagaimana dia memainkan opini dibalik kata fakta. Terkadang saya melihat SAG sebagai tetua yang dengan pengalamannya yang sudah melebihi sebagian besar manusia di bumi ini hanya memperhitungkan satu pandangan dari setiap issue, pandangan dirinya sendiri. Betapapun tulisannya (terlalu) berusaha (terlihat) netral dan objektif dan merendah diri tetap terasa begitu jelas pihak2 yang direndahkannya dan opini sinisnya dan arogansinya. Tapi tentu saja itu hanya kesan yang saya tangkap. Entah mengapa uraiannya membuat saya merasa didikte.
Terlepas dari issue yang ingin disampaikan, membaca kumpulan essay ini seperti mendengarkan teman yang baru memasuki dunia stagnan di perkantoran bercerita kembali tentang masa kejayaan dan superiornya di perkuliahan dulu. Penuh dengan pembenaran.
Rasa-rasanya seperti membaca buah pikiran yang tanpa disaring langsung dituang kedalam bentuk tulisan, yang nantinya pola pikir itu akan berubah dan berkembang terus dan mungkin saja beberapa tahun lagi akan diedit kembali untuk dikeluarkan edisi ketiganya.
Sebagai satu kesatuan dalam sebuah buku, kumpulan essay ini terlalu berputar-putar, banyak sekali pengulangan didalamnya yg membuktikan obsesinya seperti yang disebutkan SAG sendiri. Di akhir buku bahkan saya berpikir yang harusnya saya baca hanya 3 bab terakhir saja.
Mengambil poin penting dari buku ini, saya setuju bahwa meningkatnya kekerasan dan kriminalitas di negara ini harus diekspos. Mengerikan melihat masyarakat seperti sudah terbiasa membaca berita kekerasan, dan hanya merespon semacam "ya ampun", tapi kemudian seperti tidak terpengaruh selama bukan kerabat yang menjadi korban.
Buku ini lebih terasa sebagai memoar seorang Seno Gumira Ajidarma tentang bagaimana seorang wartawan menghadapi periuk kekuasaan yang mendominasi kontrol terhadap pers. Rentang waktu sejarah republik kembali dibuka kembali pada tahun 1991. Peristiwa yang kemudian dinamai Insiden Dili 1991 tak pelak membawa nama Timor Timur mencuat dalam jagat konstelasi politik internasional. Konflik yang tak berkesudahan membuat situasi tak nyaman berlangsung hingga liberasi tahun 1999.
Banyak kejadian yang dialami SGA dalam sahanya untuk membeberkan fakta-fakta tentang peristiwa tersebut. Namun, seperti dapat ditemui pada sampul buku, pers Indonesia lebih dahulu "tiarap" dengan melakukan self-censorship. Sebagai "korban" kebijakan media tempatnya bernaung maka SGA menampilkan fakta-fakta itu melalui jalur sastra. Itulah mengapa kemudian kita mengenal karyanya "Jazz, PArfum, dan Insiden". kemudian dimuat juga dalam kumpulan cerpen berlatar belakang sama yaitu "Saksi Mata". Beberapa cerpen juga masuk dalam kompilasi cerpen lainnya seperti "Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta".
Kemudian, SGA juga menggugat peran sastra di tengah masyarakat Indonesia yang diumpamakannya "masyarakat yang tidak membaca". Makna kata "membaca" disini bisa menjadi satu bahan diskusi, apakah bersifat kata kerja sifat, misalnya.
Personally, buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca dewasa ini. Keteguhan atas prinsip yang menjadi "nafas" utama yang menyemangati penulisnnya perlu untuk diapresiasi dalam menghadapi zaman sekarang yang penuh kepalsuan. Semangat integritas yang menjadi nilai utama adalah pelajaran yang bisa dipetik dalam menghadapai gelombang sejarah bangsa di masa depan nanti.
Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara merupakan kumpulan esai yang -kurang lebih- menceritakan asal muasal cerita-cerita mengenai peristiwa Dili, 12 November 1984. Sebagai generasi muda yang tidak terlalu akrab dengan zaman tersebut, pengetahuan saya memang tak banyak. Keberadaan buku ini telah memberi saya latar belakang mengapa penulis kemudian harus mengabadikan tragedi Dili dalam beberapa karyanya yang lain seperti Saksi Mata dan novel Jazz, Parfum, dan Insiden.
Buku ini menjelaskan secara lebih detail peristiwa Dili, menghadirkan pikiran dan keheranan penulis akan adanya penindasan "oknum" kepada masyarakat Dili dan pembunuhan "gali" oleh penembak misterius. Sisa esai, saya kira, timbul karena kekesalan penulis sendiri akan ketidakberdayaan jurnalisme dalam mengungkap fakta akan kekejaman bangsa ini.
Di buku ini, SGA lebih banyak mengupas tentang cerpennya yang berbau Insiden Dili. Jadi, saya sarankan untuk membaca cerpennya yang berjudul Maria, Saksi Mata, Pelajaran Sejarah, Pelajaran mengarang, dll.
pada bab Sebuah Cerita Tentang Berita Berita Tak Penting cukuo membuat saya terdiam (bahkan meneteskan air mata). Di sana, SGA bercerita tentang karya Pram yang mewawancarai "wanita penghibur" yang kemudian dibuang di sebuah pulau bersama dengan tapol. saya ikut sedih mendengar kisah mereka yang ingin pulang namun akhirnya keinginan tsb dibuang jauh-jauh. sebab, mereka sadar kehadiran mereka akan dianggap aib oleh keluarga.
mungkin selanjutnya saya akan mencari buku Pram yang menceritakan kisah tsb.
Saya sendiri memang berpendapat, bahwa fakta maupun fiksi hanyalah perbedaan cara untuk merepresentasikan realitas yang sama. – hal. 198
Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Inilah pemahaman yang paling konkret terutama ketika masa orde baru berlangsung. Begitu banyak hal yang ditutup-tutupi dan tidak dapat dibongkar oleh masyarakat luas sebagai laporan jurnalistik yang utuh. Meskipun tidak dapat dipungkiri, banyak dari kita yang mencoba menghilangkan ingatan tentang hal-hal mencekam yang terjadi di Bumi Pertiwi. Maka, menceritakan dengan sastra seolah adalah cara satu-satunya. Karena biar bagaimanapun, sastra berbentuk fiksi. Biarpun buku sastra bisa dibredel, tapi bukan berarti cerita tersebut bisa digugat tentang keabsahannya.
3.5 Stars Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara merupakan kumpulan esai Seno Gumira Ajidarma, sebagian besar memuat pemikirannya mengenai cerita pendek. Terdapat satu bab yang berisi penjelasan panjang lebar Seno, selaku redaktur majalah Jakarta-Jakarta saat itu, terkait pemberitaan majalah tersebut mengenai Insiden Dili 12 November 1991 yang dianggap pihak militer dan petinggi majalah terlalu vulgar dan berbahaya. Di bab ini juga diketahui latar belakang cerpen-cerpen dalam Saksi Mata. Terkait self-censorship pada pers yang marak setelah Insiden Dili, Seno beranggapan ketika fakta dalam jurnalisme bisa dibredel, kebenaran dalam sastra tidak akan bisa disembunyikan.
Tapi apa yang dibicatakan sastra untuk saat ini? Pornografi adalah seni, zina adalah pembuktian cinta, miras adalah obat, dan negara tak berhak mengatur moral warganya. Ini adalah wujud lain dari bungkaman terhadap sastra itu sendiri pada sisi tumpu yang lainnya.
Membaca buku ini dari trilogi insiden yang diterbitkan ulang oleh penerbit bentang pustaka.
Bercerita teknik kepenulisan SGA untuk mencampuradukan fakta dan fiksi ke dalam sebuah cerpen guna menghindari pembredelan dari pemerintahan opresif orba.
sepertinya kalo wartawan kagak baca buku ini kebangetan deh hehehe..keren abis, mencerminkan bagaimana segarusnya kita membela kebeneran dan kejujuran....
saat ini yang jadi pertanyaan masihkah sastra mampu atau juga sudah terkoptasi kapitalisme yang mencengram media massa!mengikuti selera pasar bukan apa yang diperlukan masyarakat.