Buku ini berisi kumpulan prosa pendek dari Almarhum Rusdi Mathari yang sempat dikirim ke Buku Mojok dan belum sempat dibukukan. Membaca buku ini seperti menyelami sisi lain Cak Rusdi. Melankolis, lembut dan begitu landai jika dibaca. Seperti seorang remaja yang sedang kasmaran pada cinta pertamanya, Cak Rusdi menulis prosa dalam buku ini.
Rusdi Mathari menekuni profesi jurnalistik sejak 1990-an. Ia telah melanglang karier sebagai wartawan di Suara Pembaruan, lalu bekerja di InfoBank, detikcom, Pusat Data dan Analisa Tempo, dan Trust. Pada 1999, dia terpilih sebagai salah satu wartawan investigatif terbaik versi ISAI dan dikirim ke Bangkok untuk mengikuti crashprogram penulisan jurnalistik tentang HAM.
Saat ini, ia masih aktif menulis di beberapa media. Termasuk menulis catatan dan pengalamannya yang dimuat blog pribadinya maupun status-status di dinding Facebook-nya. Di blognya, kita akan menemukan banyak tulisan-tulisannya yang serius. Sedangkan di Facebook, kita menemukan tulisan-tulisan yang sederhana seputar keseharian, pada sosok yang dijumpai, imajinasi pada tempat-tempat yang jauh, juga corat-coret pendeknya atas satu isu yang menurutnya gatal untuk menuliskannya. Gaya menulis yang mudah dipahami dan sudut pandang yang menarik adalah ciri khas tulisan-tulisan nonfiksi Cak Rusdi.
Awal baca bukunya agak bosen sih, bukan karena substansinya, tapi emang gue kurang suka aja romansa, gak tau deh kenapa. Karena awal dari buku ini menceritakan kisah romansa dewasa.
Awalnya juga kaget, oh ternyata ini prosa yang disusun kayak puisi. Awalnya bingung bacanya gimana, tapi lama-lama malah jadi asik.
Jujur, cerita-ceritanya setelah baca agak mendalam jadi makin asik, makin berani, makin ekspresif. Isinya ada satir, ada kontemplasi yang mengaduk-aduk emosi. bingung, marah, ketawa, sedih, semuanya berima dengan melodius di bukunya.
Cinta dibahas, kehidupan beragama dibahas, keadaan sosial dibahas, dan ini yang nantinya jadi titik poin ketertarikan gue di buku ini.
Ekspektasi gue awalnya kalau bukan puisi ya novel pendek, makanya agak kesel sihhh pas kegantung di akhir sama perenungan si cowok terhadap cewek. Jadi cerita cintanya itu semacam bridge yang nyambungin awal bacaan sama akhir bacaan.
Tapi kumpulan prosa-prosanya keren sih. Simple, tapi menarik perhatian. Mengulik emosi. Menunjukkan pergolakan sang cowok yang sedang merindukan sang cewek.
Kenapa 4 bintang? Sebenernya bukunya cukup bagus sih, bisa dapat 5 atau 4 bintang. Memang secara keseluruhan menarik, tapi ada beberapa bagian yang majasnya kurang bisa gue mengerti. Metaforanya agak membingungkan, seperti misalnya “ilalang di dalam hati.” Mungkin memang gue gak terbiasa sama karya sastra yang puitis, mungkin.
Overall, bagus. Cocok banget dibaca sekali duduk sambil ngopi-ngopi serius di M Bloc pas sore-sore Senin sepi.
"Perempuan Tidak Sekadar Menangis, Mas, Tapi Hatinya Juga Berdarah"
Kalimat tersebut saya tujukan untuk merespons judul dari dari buku tersebut. Bahwasanya semua bisa saja menangis, dan semua orang juga bisa saja terluka. Problemnya adalah dan juga ini merupakan kritik terhadap karyanya yang menurut saya kurang untuk dijelaskan adalah kenapa laki-laki tidak boleh menangis? Kemudian kenapa laki-laki bisa terluka?
Kumpulan prosa pendek, ibarat Anda membaca tulisan tanpa foto di status di media sosial. Begitu ringan sekali. Cocok untuk dijadikan sebagai teman duduk tatkala harus menunggu seseorang atau dijadikan teman tidur sebelum mata terpejam.
Aku yang ga pernah liat deskripsi sehingga mengira ini novel ternyata prosa 😂 Beberapa karya dapat dipahami, beberapa tidak. Namun jika dilihat secara keseluruhan buku ini lebih condong tentang menceritakan kondisi negara lewat prosa dari sudut pandang orang pertama. Terkadang menceritakan tentang pribadi manusia seperti kesendirian, kesepian, takdir manusia dan sebagainya tapi itu tidak diberikan porsi yang banyak. Belum ada karya yang kurasa spesial tapi prosa ini juga tidak buruk.
“Dan kamu tahu, Dik, yang paling menyesakkan dan membuat laki-laki berdarah-darah adalah kenangan”
Ini adalah buku kedua yang aku baca dari Rusdi Mathari, setelah sebelumnya diperkenalkan dengan Cak Dlahom dalam buku “Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya”. Awalnya aku mengira bahwa buku ini adalah kumpulan puisi dan akan sepenuhnya menggambarkan betapa melankolisnya seorang laki-laki di dalam kehidupan cintanya. Namun, ternyata tidak sepenuhnya benar, buku ini lebih dari pada itu. Melalui kumpulan prosa pendek ini, Penulis sepertinya ingin menyampaikan pikiran laki-laki melalui banyak tema yang diangkatnya di dalam buku ini, seperti cinta, perempuan, takdir, agama, kemanusiaan, dan negara. Gaya penulisannya cukup umum, tetapi beberapa tulisan perlu pemahaman tinggi agar dapat mengerti maksudnya, jadi buku ini bukan sekedar bacaan tipis yang dapat dipahami dengan mudah. Meskipun di bagian akhir aku sempat merasa bosan saat membacanya, tetapi buku ini jauh lebih dapat dinikmati secara keseluruhan.
“Malam sudah semakin larut, Nod. Di antara asap rokok dan bau bir di ruangan ini, tak ada lagi kursi buat kita. Mestinya kita bisa ke luar melihat bulan. Memeluk angin barat yang menusuk pinggang. Tapi kita terus di sini merasakan sakit. Mungkin memang tidak ada air mata. Mungkin tidak ada yang melihat kita menangis. Tapi kau dan aku sudah lama tahu. Hati kita sama-sama berdarah. Malam semakin larut, Nod, tapi tetap tak ada kursi buat kita. hal 1”
“Pada akhirnya akan ada waktu untuk kita, menyaksikan bunga-bunga bintaro bermekaran di pagi hari. Kita hanya perlu bersabar melewati malam. Meraba-raba. Tersandung batu. Tertusuk duri. Hei, tidakkah kita sudah melalui banyak malam yang kelam sebelumnya, meskipun pagi yang kemudian kita jumpai juga selalu penuh kabut? Bersabarlah. Akan ada waktu untuk kita pada akhirnya. hal 19”
Dibuka dengan kutipan dari Ali bin Abi Thalib (slide ke-2), lalu dilanjutkan tulisan utama buku ini, yaitu kumpulan prosa dengan suasana yang melankolis.
Menurutku, buku ini memang seperti otak dan pikiran laki-laki, meski tidak bisa dipastikan juga validitasnya.
Membahas tentang asmara yang tak melulu soal keindahan, tetapi juga sesak. Kadang juga membahas politik, nasib nelayan dan petani, konflik sosial, perang, dan kenangan masa lalu.
Awalnya ada satu juga kesimpulan yang membawaku pada alur kisah; laki-laki yang sepertinya dalam buku ini tengah kehilangan wanitanya untuk selama-lamanya. Wanita yang kerap dipanggilnya 'Dik' itu meninggalkan sendirian laki-laki yang dipanggilnya 'Mas'. Dengan menyisakan rasa sakit tanpa tangis.
"Hidup manusia memang lucu ya, Dik. Kita kemudian selalu bisa menertawakan hidup kita sendiri, meskipun selalu dengan lelehan air mata" (Hlm. 11).
Membaca buku yang bisa dibilang tipis ini, menjadi berpikir, apakah iya hidup hanya perihal datang dan pergi? Hanya tentang masa lalu yang cuma bisa dikenang-kenang dan ditertawakan? Tidak kupikir.
Selain itu, terpikir pula kesimpulan bahwa pastinya Allah menciptakan kesedihan, kepahitan, dan nestapa itu tidak dengan kesia-siaan. Setidaknya jangan sia-siakan apa yang sudah ada sekarang. Yang pahit anggap saja obat, yang manis jangan telalu banyak ditelan sendiri, bagilah dengan orang yang rela menjadi kawan tanpa kau minta.
❗Disclaimer, buku ini hanya diperuntukkan bagi usia DI ATAS 18 TAHUN ya.
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020
3,2 dari 5 bintang!
Buku ini buku kedua dari total tiga buku karya Cak Rusdi yang saya beli sebelumnya dan telah diceritakan di review buku Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis
kalau bisa dibilang buku ini lebih kayak puisi atau coretan-coretan tangan fiksi ataupun non fiksi singkat oleh Cak Rusdi. Ada beberapa diantaranya yang membuat saya terdiam memikirkannya tetapi ada juga yang astaga ini puitis sekali bahasanya., contoh salah satu goresan pena Cak Rusdi yang membuat saya berpikir lama
"SAMA
Duhai Allah, ampunilah semua muslim , ampuni semua orang yang beriman, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Begitulah muslim dan mukmin berdoa selepas sembahyang. Mereka saling mendoakan dengan doa yang sama, dengan pengharapan yang sama, lalu setelah itu mereka saling membunuh, mendendam, membencu, menghujat dan mengkafirkan. Allah memang lucu, tapi banyak manusia menganggap Allah terlalu serius" (Halaman 42)"
"Seseorang pernah menginap di rumahku. Tidur seranjang denganku......... Dulu sekali. Seseorang pernah menikmati semua itu di rumahku. Lalu, aku mengingatmu."
"...... Tak setiap laki-laki ditakdirkan punya masa lalu yang kelam. Mereka yang mengalaminya pun, pada akhirnya sanggup berdamai dengan masa lalu mereka. Mengubahnya. Berjuang dengan hati yang berdarah-darah, meski barangkali sebagian mereka tak menangis......."
"...... Hidup hanyalah soal di atas dan di bawah."
"....... Dan semuanya akan terus begitu hingga kau dan aku ambyar dan lupa: kita punya negara."
"Negara adalah milik bersama, tapi kau tak usah bertanya bersama itu siapa saja."
"......, lambang negara ini mestinya diubah menjadi hanya terompah dan blacu. Dan marilah, kita terus berkhotbah dan menghibur diri bahwa negara ini makmur sentosa."
***
Kumpulan prosanya indah. Memuat tamparan-tamparan mulai dari cinta, kehidupan, isu sosial, politik, dan agama.
Ada beberapa prosa yang mau diulang baca berapa kali juga saya masih tidak sampai memahaminya. Huhuhu :(
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini merupakan kumpulan prosa yang ditulis oleh Rusdi Mathari. Pada bagian akhir, beberapa prosa merupakan alihwahana dari buku "Merasa Pinar, bodoh saja tidak punya", atau sebaliknya. Dominasi prosa berisi ungkapan hati seorang lelaki yang sangat mencintai pasangannya.
Buku ini tipis, tidak sampai seratus halaman. Sehingga, cukup sekali duduk menyelesaikannya. Di sela-sela prosa percintaan cak Rusdi juga menulis tentang kondisi sosial politik yang diwarnai berbagai konflik.
Boleh dikata, cak Rusdi tidak hanya mahir menulis reportase. Namun, cak Rusdi juga lihai menulis prosa yang membuat pasangannya bermandikan kembang. Alfatihah ...
Buku yang sederhana, tetapi pembawaaan ceritanya yang membuat setiap katanya menjadi bermakna. Sedikit vulgar bagiku, tapi tidak masalah. Bukunya masih bisa kunikmati dengan santai dalam sekali duduk; dengan berbagai ekspresi, kadang tertawa, kadang tersenyum.
Four to five. Gaya penulisannya sedikit umum, sering kutemui di buku-buku sejenis. Tapi tetap saja, aku percaya bahwa setiap penulis memiliki gayanya masing-masing, dan semua itu tetap menyenangkan untuk dibaca.
Tulisan sederhana yang tepat dibaca oleh orang dewasa, kumpulan halaman yang ramping, dan tulisan pada halaman yang tidak terlalu padat menjadikan buku ini termasuk dalam buku yang dapat dibaca sekali duduk.
Meskipun disebut sebagai buku sederhana tapi prosa yang disajikan, cukup memancing beberapa memori kolektif yang dimiliki para pembaca, kenikmatan yang demikianlah yang menjadi bagian seru dalam buku ini.
Saat laki-laki tidak menagis, tetapi hatinya berdarah. Mungkin nyata benarnya, bagi laki-laki menangis adalah bentuk kelemahan, dia tau dia tidak boleh menangis untuk perempuan yang dia cintai. Perempuan itu kuat, dia menyangka ia harus lebih kuat dari perempuan itu. Mesti nyatanya dia harus berdarah-darah, mengisahkan perjalan kasih sayang keduanya. Mengingat kenangan yang dilaluinya.
Begitulah prosa yang ditulis oleh Cak Rusdi, singkat,padat,dan berdarah-darah.
Sejujurnya, aku kurang menikmati karya Cak Rusdi yang ini. Mungkin laras bahasanya atau falsafahnya terlalu tinggi sehingga aku perlu mengulang baca beberapa prosa. Bahkan ada beberapa antaranya tak dapat aku fahami maksudnya. Bukan salah penulis tapi mungkin saja naskhah ini belum ‘cocok’ buat aku pada ketika ini. Pasti diulang baca pada masa akan datang.
kumpulan prosa ini berisi soal keluh kesah, kegelisahan & rindu. Somehow bagus di beberapa judul tapi sisanya diriku kurang bisa menikmati. Mungkin karena kurangnya pengalaman serupa atau minimal pemahaman soal yang disinggung. Tapi kalo soal kerinduan, langsung nyampe. kwkwk. Karena tipis, sehari kelar sekali duduk.
Serangkaian Prosa menarik yang membasa segala aspek kehidupan. Kehidupan beragama, berkeluarga, bernegara, romansa percintaan disampaikan di buku singkat ini. Beberapa bagian tidak aku mengerti, karena mungkin itu adalah satire lewat kejadian sejarah. Tetapi banyak bagian yang mengajarkanku berbagai hal.
Sang penulis begitu lihai merangkai kata. Memang ini untuk kalangan 18+, sarat makna, pemaknaan mendalam tentang kenangan pada setengah isinya, sedangkan setengah isinya lebih pada kritik dan permenungan seputar apa yang terjadi dan fenomena kala tulisan tersebut ditulis seperti Aleppo, harga-harga naik, dan sebagainya.
Sejujurnya saya tidak terlalu suka dengan kumpulan prosa ini, saya lebih suka cerita pendek di karya-karya beliau yang lainnya, di beberapa prosa terlihat biasa menurut saya. entahlah, mungkin saya terlalu berekpektasi terhadap judul yang begitu patah hati ini.
Buku ini dipilihkan suamiku. Aku suka dengan tulisan-tulisannya yang pendek dan lugas. Aku bertanya-tanya, dua tokoh perempuan di buku ini siapa sebenarnya? Apakah mereka betulan tokoh manusia, atau kiasan saja?