Masalah utama Kirana Kejora, si peneliti dan penulis kolom terkenal, adalah ia tidak dapat melupakan Al Farisyi, kekasihnya, sekaligus aktivis mahasiswa yang pada Mei 1998 diculik aparat penguasa. Sampai Kejora meraih gelar doktor ilmu ekonomi, sang kekasih hilang bagai ditelan bumi. Kehadiran para lelaki yang menaruh hati pada Kejora, ditolaknya secara santun. Sementara itu, ayah-ibu dan keluarganya semakin cemas. Mereka khawatir gadis jelita itu akan selamanya melajang. Menurut Murni dan Nana, sahabat Kejora, Kejora takut jatuh cinta.
K. USMAN dilahirkan di Muara Enim, Sumatera Selatan, 11 Agustus 1940. Mengarang fiksi sejak 1956. Aktif sebagai wartawan sejak 1960. Ia juga menjadi editor beberapa surat kabar dan majalah di Jakarta. Buku-bukunya yang telah diterbitkan antara lain Seorang Pendatang (1963), Puteri Musim Kemarau dan Gadis di Pohon Emas (1974/1975), Pengantin Luka (2006), nominasi Hadiah Sastra Khatulistiwa (2007), Tamu Rumah Biru (2011), Rumah Rindu (2013). Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI yang diterimanya pada 2007.
K. Usman (Haji Kurnia Usman) dilahirkan di Dusun Tanjung Serian, Muara Enim, Palembang, 11 Agustus 1940. Sejak tahun 1956 menulis puisi, cerpen, esai, dan cerita bersambung di 100 lebih media massa di Indonesia dan Jepang.
Menerima Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata R.I. 2007.
Kejora jadi buku pembuka di awal tahun 2022, novel ini genrenya romantis tapi ada bumbu-bumbu sejarah terutama pada kejadian tahun 1988 di Indonesia. Bahasanya agak sulit dipahami, butuh waktu lama untuk paham. Tapi, keseluruhan alurnya tertata rapi, kejora yang kesulitan move on agak bikin geregetan ya wkwk