Pertama, aku mau mengomentari soal cover. Setelah Penance dg covernya yg super cantik dan Ferris Wheel yg membawa pesan isi bukunya yg dark dg detail yg cakep, aku ngerasa covernya Girls ini nggak menarik, terlalu sederhana, background di covernya pun cuma begitu aja. Kecewa sih.
Oke, kita bahas isi bukunya.
Peristiwa yg mengawali keinginan Yuki dan Atsuko utk bersaing melihat kematian adalah karena kegiatan menonton bersama di sekolah dan reaksi sepasang sahabat ini saat melihat film itu. Filmnya sedih, Atsuko yg selalu berusaha menyesuaikan dirinya dg keadaan sekitar menangis secara berlebihan, sedangkan Yuki yg memang poker face sama sekali tdk menangis. Shiori yg juga tdk menangis menyatakan bahwa dia pernah berhadapan langsung dg kematian, dia menemukan jasad sahabatnya yg bunuh diri, makanya Shiori yg pernah bersinggungan dg kematian merasa kematian yg dia lihat di film tdk ada apa2nya. Anehnya, setelah mendengar penuturan Shiori, Yuki dan Atsuko jadi termotivasi utk melihat sendiri kematian. Boleh dibilang, mereka diam-diam berlomba ingin bersinggungan dg kematian. Motivasi mereka berdua tentu berbeda.
Demi melihat kematian, mereka menghabiskan liburan musim panas mereka di tempat yg kemungkinan besar membuat mereka bisa melihat kematian. Yuki mengikuti kegiatan sukarela membaca lantang di sebuah rumah sakit khusus anak, sedangkan Atsuko bekerja di panti jompo.
Bertekad melihat sendiri kematian, Atsuko justru menyelamatkan nyawa seorang nenek, sedangkan Yuki berusaha mengabulkan permintaan terakhir anak SD yg keberhasilan operasinya hanya 7%.
Sepertinya dunia ini sempit sekali. Karena semua tokohnya berhubungan. Di sini aku ngerasa kelemahan membaca buku fisik dibanding versi digital adalah ketika aku menyadari sesuatu, seperti tokoh yg ternyata berhubungan dg tokoh lain, aku kesulitan saat hendak crosscheck atau membaca ulang adegan pertama kali tokoh itu bertemu. Kalo di buku digital kan ada fitur search ya.
Di sini aku merasakan banget efek dari sebuah tindakan--meski tindakan tsb tdk disengaja, spontanitas--akan memengaruhi peristiwa lain, terhubung dg orang lain, terkoneksi gitu.
Terjemahannya oke, mulus, tapi perpindahan PoV-nya yg bikin aku kesulitan saat awal2 baca. Apalagi aku mengambil jeda 3 hari, pas lanjut baca langsung ngerasa lost, ini PoV siapa, jadi harus baca ulang. Tapi kedua tokoh utamanya karakternya amat berbeda kok, jadi nggak sulit utk kembali on track.
Premisnya memang unik dan mungkin nggak realistis, soal berlomba melihat kematian, tapi peristiwa2 lain spt plagiasi, guru yg merendahkan muridnya, anak yg menganggap ayahnya payah dan bau, remaja yg rela melakukan segala cara demi mendapat uang utk membeli tas yg sedang trend, perundungan di sekolah dll tuh real dan dekat bgt dg keseharian kita.
Minato Kanae adalah salah satu penulis yg karyanya autobuy buatku, tapi di buku ini aku nggak ngerasa "sparks"-nya. Rasanya nggak meledak2 spt karya2 beliau yg lain, tapi tetap menghibur dg plot twist yg di luar dugaan. Kejadian demi kejadian membuat Yuki dan Atsuko memahami satu sama lain, kesalahpahaman soal cerita Jalan Tali Malam yg membuat persahabatan mereka renggang pun terselesaikan dg baik, persahabatan mereka pun terjalin kembali. Menurutku udah tertutup semua puzzlenya ya.
Keren banget cara penulis menghubungkan tokoh-tokoh di cerita ini, isu-isu berat spt bunuh diri, pelecehan seksual, dan perundungan diceritakan dg apik. Tapi menurutku yg paling menarik adalah bagaimana seluruh anggota keluarga menahan diri karena kesulitan merawat seorang nenek pikun yg merepotkan, sampai-sampai anaknya yg lain pun enggan merawatnya, kehidupan keluarga itu pun bagai di neraka karena sikap si nenek dan mereka diam-diam berharap si nenek cepat mati.