Sorgum memiliki jejak kultural dan sejarah panjang, tetapi belakangan keberadaannya makin terpinggirkan. Di banyak desa di Flores, misalnya, tanaman ini hanya menjadi kisah lama, padahal kebutuhan pangan di masa depan akan makin membengkak seiring dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat, sementara lahan pertanian cenderung menyusut.
Tantangan semakin berat karena terjadinya perubahan iklim. Dibutuhkan tanaman yang mampu beradaptasi dengan beragam kondisi iklim dan lingkungan dengan baik. Sorgum bisa menjadi salah satu jawabannya.
Pengabaian ragam pangan lokal telah mengarahkan Indonesia ke dalam ancaman krisis. Selain kebergantungan pada impor gandum dan beras, beberapa daerah juga teridentifikasi rentan pangan. Kasus gizi buruk dan bencana kesehatan di Asmat, Papua, yang menewaskan 71 anak pada awal 2018 jadi alarm adanya masalah pangan ini.
Buku ini menyajikan selayang pandang mengenai awal mula masuknya sorgum ke Nusantara, arti pentingnya, dan tantangan yang dihadapi.
5/5⭐️ LEGIT!!! Satu kata: wonderful. Awalnya iseng search di twt litbase ttg buku nonfiksi trus nemu salah satu repliesnya sebut judul ini sama yg Sagu Papua Untuk Dunia. Decided to read this first cz halamannya lebih dikit hehe. Buku ini membahas Sorgum, tanaman yg bahkan aku first time dengernya. Dibahas dari segala aspek, mulai dari sejarah, penyebaran, sosial, budaya, sampe ekonomi. Disini ada 5 bab yg akan aku jabarkan Bab 1 membahas tentang mitos Sorgum di Flores serta kerabat dan taksonomi Sorgum. Paling menarik buatku adalah mitos Tonu Wujo yg berperan sebagai ‘benih’ sehingga Sorgum ini ada. Lalu dibahas tentang taksonomi Sorgum dan kerabatnya, dilanjut dengan konsumsi Sorgum di seluruh dunia dan penyebarannya. Bab 2 membahas tentang sejarah Sorgum, trus bagaimana orang-orang dulu menyebut Sorgum dengan Jagung. Padahal Sorgum lebih dulu masuk ke Indonesia daripada Jagung (Zea Mays). Di bab ini juga udah mulai disinggung kebijakan pemerintah zaman Orde Baru, tentang penyeragaman Pangan serta pembagian raskin atau rastra. Bab 3 mostly berisi kritik ke pemerintah terhadap program atau kebijakan serta bagaimana kebijakan tersebut berdampak. Penyeragaman pangan atau bias beras, dimana pemerintah lagi getol nyuruh org makan nasi dari beras, sedangkan nggak semua daerah bagus buat ditanami beras. Akibatnya apa? Ya gizi buruk, kemiskinan, orang-orang bergantung pada pembagian raskin atau rastra. Padahal, pangan lokal juga bisa dipakai sebagai pengganti beras, contohnya ya Sorgum. Malahan, orang2 yg udah nggak konsumsi beras malah beralih ke gandum yg almost 100% impor. Bab 4 membahas tentang bagaimana Sorgum tersebut menjawab semua tantangan atau permasalahan yg ada. Mulai dari pemenuhan gizi, perbaikan ekonomi, hingga pelestarian budaya. Yg bikin kaget adalah, Sorgum tu gluten free dan lebih sehat dari beras, meskipun rasanya pahit. Mungkin ini sih tantangan yg dihadapi kalo mau mengolah Sorgum Bab 5 lebih bercerita bagaimana orang2 yg berperan dalam pemanfaatan kembali Sorgum. Lalu bagaimana pemerintah masih kurang kooperatif dalam membudidayakan petaninya dalam penanaman Sorgum, serta dampak pelestarian budaya yg akan timbul saat Sorgum terus dilestarikan. Sekian WKWKWK.
Dibaca untuk siaran Klub Siaran GRI Mei 2021, buku tentang makanan.
Saya pernah makan sorgum sekali, saat mengunjungi Festival Kebudayaan Nasional di Kemdikbud tahun 2019. Sudah dikukus, disajikan di tampah, dan pengunjung dipersilakan mengambil dan menyantap sesukanya, atau membawanya pulang.
Saya juga ikutan bungkus dan bawa pulang untuk oleh-oleh orang di rumah, wkwkwk. Sebuah makanan "asing" bagi kami pelahap nasi beras ini. Padahal beberapa kawasan di Jawa pernah jadi sentra penanaman tanaman sorgum ini, dulu ketika kedua orang tua saya masih muda dan belum tinggal di Jakarta. Saya juga tahu seorang teman lama sudah beberapa tahun membudidayakan bahan pangan ini bersama kelompok tani bimbingannya di wilayah Gunungkidul. Produksinya mungkin belum skala massal sehingga masih jarang orang zaman kiwari tahu tanaman ini.
Buku ini bukan hanya sarat info tentang asal usul sorgum, sejarah keberadaannya di bumi Nusantara, atau keunggulannya. Di bagian tengah malah banyak data dan kritik taj tentang kebijakan pangan pemerintah kita sejak dulu kala yang berfokus pada beras, sampai-sampai penting banget untuk impor, impor, dan impor.
Membaca buku ini, sepertinya para pegiat pangan lokal memang masih menempati posisi pinggir bagi kementerian pertanian dkk. Mereka belum dapat semangat agar dapat meningkatkan kemampuan produksi agar swasembada pangan masyarakat lokal segera terwujud tanpa melulu mengandalkan beras.
Iya, mengakhiri buku ini buat saya macam difasilitasi untuk misuh-misuh aja pada pemerentah. Tentu bukan kritik karena saya gak minat kasih solusi, wkwkwk.
Bab "Inisiatif dari Flores" beneran bikin hati tersentuh, dibaca dengan mata yang berkaca-kaca. Mama Loretha dan Jery keren banget.
Setelah menamatkan trilogi pangan ini, tiap kali mau beli makanan UPF, jadi mikir agak lama, hehe. Saatnya kembali menanam dan mengusahakan hidup dengan berdaulat pangan itu!!
Dalam bab-bab awal buku ini mengungkapkan hanya 9% varitas pangan yang diproduksi secara massal, artinya monokultur telah terjadi dalam skala global. Varitas pangan yang beragam selain bermanfaat ke alam sebagai keberagaman biodiversitas, juga bermanfaat ke manusia karena mengurangi merebaknya hama sejenis yang menyebabkan gagal panen. Perubahan iklim dan sumber pangan yang terbatas merupakan kombinasi yang tak terpisahkan, dengan hasil tani yang bergantung pada curah hujan dan intensitas matahari, ketika ketidakseimbangan iklim terjadi akan meningkatkan potensi kegagalan panen.
Permasalahan pangan menyebabkan stunting (malnutrisi) bagi perempuan, anak dan lansia. Ada tiga prevalensi yang menjadi indikator kesehatan anak pada negara-negara di dunia: anak pendek, anak kurus dan anak gemuk. Indonesia satu-satunya yang memiliki prevalensi tinggi di ketiga masalah tersebut. Kegemukan ternyata juga termasuk malnutrisi, walaupun seseorang bisa makan hingga kenyang, namun pilihan makanan-makanan yang tidak sehat menyebabkan penyakit bawaan yg disebabkan kegemukan. Oleh karena itu ketahanan pangan bukan hanya tentang ketersediaan stok pangan, tapi juga aksesibilitas dan kebebasan memilih jenis pangan.
Awalnya aku agak ragu karena pembicaraan buku ini banyak membahas konteks besar (yang memang perlu dibahas) sehingga padi menjadi sorotan utama. Namun pada bagian akhir, setelah membaca semua pikiran petani NTT untuk kembali mandiri pangan dengan sorgum, semangat mereka sangat menghangatkan diskusi dalam buku ini. Aku harap kedepannya sorgum bisa menjadi salah satu pilihan bahan makanan utama. Aku pun ingin tahu rasanya. Rating 5/5 aku pikir cocok walaupun ada beberapa paragraf di tengah bab yang diulang. Aku tidak sabar untuk membaca seri lainnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sorgum. Tanaman yang sama sekali tidak kuketahui eksistensinya hingga beberapa bulan yang lalu waktu tidak sengaja melihatnya di salah satu toko bebas kemasan. Sejak itu, aku selalu penasaran apa itu sorgum dan darimana asalnya? Apakah ia merupakan tanaman impor? Lalu bagaimana mengolahnya? Kebetulan minggu lalu waktu ada diskon besar-besaran di Gramedia.com, aku melihat buku ini. Tanpa pikir panjang, langsung saja kubeli.
Buat kalian yang mungkin juga belum pernah dengar tentang sorgum sebelumnya, buku ini betul-betul cocok kamu baca. Ahmad Arif, sang pengarang, berhasil menjelaskan tentang sorgum dari awal—sejarahnya di dunia dan Indonesia—hingga akhir—pengembangan untuk memperkenalkan sorgum kembali ke negeri ini. Penyampaian informasinya pun menarik sekali, menggunakan cerita rakyat, pengalaman pribadi tokoh-tokoh penting, hingga data-data ilmiah yang tidak terlalu rumit. Ditemani dengan ilustrasi yang cocok dengan karakteristik rakyat Indonesia, terutama di Flores, dan foto-foto yang indah dan berkualitas tinggi, buku ini membuat kita menjadi semakin dekat dengan sosok sorgum yang sudah lama dilupakan ini.
Selain mengenai tanaman sorgum itu sendiri, Ahmad Arif juga mengulas sekilas tentang perubahan iklim, politik dan budaya. Perubahan iklim digambarkan dengan gamblang, misalnya menggunakan faktor curah hujan yang bisa dirasakan siapa saja, terutama penduduk di pedalaman, sehingga pembaca bisa langsung merasakan dan mengerti efeknya. Perubahan iklim menjadi lebih dari sekedar konsep abstrak. Politik yang dimaksud di sini sebetulnya tidak terlalu mendetil, namun hanya sebatas hubungannya dengan penanganan pangan di nusantara—misalnya soal raskin dan penyeragaman tanaman pangan di Indonesia. Padahal, pangan sangat terikat dengan budaya masing-masing daerah, sehingga dengan keberagaman suku dan budaya di Indonesia, sudah pasti pangan pun tidak akan seragam.
Jika sebelumnya aku tertarik mencoba makan sorgum karena penasaran belaka, kini aku makin tertarik untuk makan sorgum karena berbagai kelebihan yang dimiliki olehnya dan ingin membantu melestarikan budaya di Indonesia. Yuk, kita coba melepas diri dari nasi dan mencoba makanan lain!
Seperti biasa, buku ini memberikan data, pengertian, jenis, hasil ekspor impor, dan kebijakan pemerintah terhadap sumber pangan.
Menurut data FAO tahun 2018, sorgum masih menempati peringkat kelima sumber pangan yang paling banyak diproduksi setelah gandum, beras, jagung, dan barley. Selain data dari FAO, ada pula data yang membahas tentang stunting di Indonesia.
"Ketika tanaman lain jagung dan padi selalu gagal panen karena kurang air, sorgum tetap bisa tumbuh subur dan bisa panen." –Paulus Iki Kola.
Aku suka penyampaian beliau mengenai sorgum di sebuah Desa Kawalelo. Sorgum adalah tanaman yang tahan dalam segala cuaca terutama kemarau. Bahkan daya tahan sorgum lebih kuat dari jagung.
Pemanfaatan sorgum sebagai sumber pangan adalah dari bijinya. Pertama digiling dulu untuk mendapatkan sorgum sosoh. Sorgum bisa langsung dimasak menjadi nasi atau tape sorgum. Sorgum sosoh yang digiling menjadi tepung bermanfaat sebagai bahan baku pembuatan produk olahan, baik dalam skala rumah tangga atau industri. Produk olahan sorgum seperti kue, roti, dan kukis. Batang sorgum yang manis juga bermanfaat untuk bahan baku pembuatan nira.
Biji sorgum memiliki tekstur yang kaya dan kenyal serta mengeluarkan aroma dan rasa yang hampir seperti kacang. Sebagai biji-bijian utuh, sorgum terlihat kecil jika dibandingkan dengan jagung. Ia lebih mendekati ukuran kacang hijau seperti manik-manik, dan memiliki warna mulai dari gading, merah, coklat, hitam, atau ungu.
Dan lagi, persoalan politik yang tak pernah bisa lepas dari adanya ketergantungan pemberian RASKIN. Aku cukup miris membaca part ini dan untungnya ada ketegasan dari Pak Paulus untuk menolak raskin dikirim ke desanya. Namun, tetap saja pengaruh nasi sudah menjadi hal pokok bagi warga di sana. Masyarakat tidak kenyang kalau belum makan nasi, dan anak muda sudah tidak mau lagi menanam sorgum. Katanya memilih menjadi pegawai kantoran, padahal upah hariannya jauh lebih besar.
Negara kita banyak aspek yang harus diperbaiki; pangan, stunting, pendidikan, lapangan kerja, upah layak bagi petani, ekspor & impor, dan masih banyak lagi.
"Untuk memastikan keanekaragaman hayati itu dipertahankan, kita perlu memakannya." (Ahmad Arif)
Keragaman sumber pangan di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia setelah Brazil, namun sejak lama pemerintah kita melakukan penyeragaman produksi tanaman melalui kebijakannya yang bias beras, yang akhirnya diikuti dengan penyeragaman pola konsumsi kita yang juga bias beras.
Dengan buku ini, penulis yang merupakan seorang wartawan harian Kompas, menyodorkan dan menunjukkan serba serbi sorgum (atau yang punya banyak nama lain di berbagai daerah maupun negara, seperti gandrung, cantel, batari, lolo, great millet, dsb.), salah satu tanaman pangan lahan kering untuk lahan marginal, sebagai alternatif pangan nonberas.
Bersama padi ladang, jali, dan jawawut, sorgum merupakan tanaman pangan kuno yang telah dibudidayakan masyarakat Nusantara, khususnya penutur Austronesia, jauh sebelum kolonialisasi Barat.
Melalui wawancara, pengamatan, dan keterlibatan langsung di lapangan, Ahmad Arif menjabarkan bagaimana Nusa Tenggara Timur menjadi satu contoh daerah di Indonesia yang sekitar 10 tahun terakhir ini kembali menggalakkan produksi dan konsumsi sorgum yang setelah sekian lama ditinggalkan karena kebijakan bias beras pemerintah.
Penulis meyakini bahwa konsep ketahanan pangan harus keluar dari bias beras, melainkan mesti berwawasan ekologis dan budaya. Namun di sisi lain, bila ingin mencapai pemenuhan pangan, akses dan kebebasan juga lebih penting ketimbang ketersediaan.
Bagi yang tertarik dengan dunia pangan lokal, buku ini akan membuka luas cakrawala pengetahuan kita tentang sejarah, kondisi masa ini, dan wacana masa depan seputar kenapa kita terbiasa dengan beras, sementara potensi sumber pangan sangat banyak, selain juga sejarah dan pemanfaatan sorgum.
Buku ini tuntas mengupas tentang sorgum, mulai dari sejarah, karakteristik, dan tantangan pangan ke depan. Salut dengan penulis yang juga seorang wartawan ini dengan semangatnya untuk 'menghidupkan' kembali salah satu ragam pangan yang pernah dibudayakan pada masa lalu. Saya pribadi berharap, mudah-mudahan para pengambil kebijakan, khususnya dalam bidang pangan turut membaca buku ini sebagai referensi dalam menentukan arah kebijakan pangan nasional.
Selama ini, kita seperti dijejalkan wacana bahwa jika belum makan nasi rasanya seperti belum makan. Padahal, kebutuhan akan karbohidrat bisa didapatkan dari sumber pangan yang beragam. Indonesia sebagai negara agraris dengan jumlah lahan basah yang luas, nyatanya belum mampu membuat kita mandiri. Impor beras masih saja terus dilakukan pemerintah. Dan ternyata, ketergantungan kita pada beras sejak zaman orde baru adalah karena memang hasil kebijakan yang saat itu diambil mengenai swasembada beras. Kebijakan yang ternyata tidak dibarengi dengan tetap mempertahankan keberadaan palawija lainnya yang seharusnya bisa saling melengkapi. Beras menjadi komoditas utama.
Kini, di tengah isu ketahanan pangan, impor beras dan gandum yang tiada henti, serta perubahan iklim, pelan-pelan sorgum mulai dilirik kembali. Tanaman serealia yang mampu tumbuh pada lahan kering dan minim perawatan ini seakan menjadi solusi untuk keberagaman pangan. Kandungan nutrisi sorgum yang tak kalah dari serealia dan biji-bijian lainnya, seharusnya bisa dipertimbangkan sebagai salah satu diversifikasi pangan. Harapannya, Indonesia mampu berdikari dengan ketahanan pangan yang kuat.
Salah satu buku yang cukup menarik yang dibaca di tahun ini. Tertarik baca karna covernya yang cakep, ternyata isinya lebih cakep lagi✨
📌Sorgum merupakan salah satu sumber pangan karbohidrat yang telah dikenal lama oleh masyarakat dan masuk ke dalam sumber makanan pokok di Indonesia. Pada masa sekarang, sumber pangan ini perlahan-lahan mulai dilupakan karena masyarakat sudah lebih banyak beralih mengonsumsi beras. 📌Sorgum memiliki berbagai macam manfaat, salah satunya bagi kesehatan. Sorgum memiliki kandungan nutrisi baik dan berkontribusi penting untuk perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat. Yang cukup menarik adalah sorgum ini bebas gluten sehingga aman dikonsumsi untuk orang dengan penyakit celiac (seliak) atau adanya kemungkinan gangguan pencernaan lainnya. Selain itu, sorgum memiliki keunggulan dibandingkan dengan beras, dalam hal jumlah protein, serat, hingga berbagai nutrisi mikro lain yang dibutuhkan tubuh.
Selain terobsesi dengan sawit🤭 pemerintah indonesia juga punya obsesi dengan beras. Bahkan pada masa itu sempat terjadi penggusuran lahan sorgum yang sudah siap tanam, penggusuran bertujuan membuka sawah baru untuk program nasional.
Sorgum memang tidak menjawab persoalan pangan di Indonesia, tapi setidaknya kita punya opsi tanaman pangan lain dari beras. Karena kita nggak bisa prediksi perubahan cuaca ekstrim apa yang akan terjadi kedepannya. Sorgum yang di Afrika disebut sebagai tanaman unta karena tahan di berbagai cuaca ini mungkin bisa menjadi opsi. Selain itu sorgum setidak-tidaknya memiliki sebelas nutrisi penting, sembilan diantaranya adalah zat gizi mikro. Bahkan jumlah protein, serat, dan berbagai nutrisi mikro sorgum unggul dibanding beras. Sorgum juga bebas gluten. Memang dibanding beras, pada biji sorgum terdapat tanin yang memberikan rasa pahit saat dimakan, sehingga hal tersebut bisa menjadi penghalang untuk yang akan mengkonsumsinya.
Jujur saya pribadi ga tahu sama sekali sorgum itu apa, denger namanya pun baru pertama kali. Pas pertama baca dan lihat gambarnya, saya berusaha mengingat apakah pernah melihat tanaman ini dalam penamaan yang berbeda di daerah tempat saya tinggal, tapi sepertinya saya bener bener asing sama pangan unggulan dari Flores ini. Buku ini membahas tentang sorgum dengan sangat baik, mulai dari penyebaran awal di wilayah asalnya yakni Afrika hingga tersebar keseluruh dunia dan masuk ke nusantara, serta manfaatnya terhadap kesehatan dan kelebihannya terhadap beragam kondisi iklim. Melalui buku ini, penulis memberikan gambaran tentang sorgum yang menjadi salah satu pangan lokal yang dianggap sebelah mata dan terpinggirkan, ternyata memiliki banyak manfaat dan mampu menjadi salah satu solusi terhadap kebutuhan pangan di masa depan.
Buku non-fiksi yang sangat menarik untuk dibaca. Mungkin beberapa waktu yang lalu, sorgum sempat disinggung bakal jadi opsi pangan pengganti beras. Aku gak tau apakah sorgum sudah dikenal oleh bayak orang atau belum. Tapi, sebenarnya sorgum sudah ada di beberapa daerah di Indonesia. Misal saja di daerahku, sorgum ini dikenal dengan nama gandum.
Aku suka buku ini karena gak jauh beda dari buku Sagu Papua untuk Dunia. Buku ini menyajikan data dan foto-foto pendukung untuk setiap pembahasan. Tak hanya itu, buku ini juga menjelaskan sejarah tentang penyebaran dan asal usul sorgum.
Harus banget sih baca buku ini kalo ingin tau apakah sorgum bisa dijadikan solusi dari tantangan iklim. Juga, biar tau bagaimana nilai kandungan gizi dari sorgum.
Buku ini mengenalkan sorgum sebagai sumber pangan lokal yang ekonomis dan tahan iklim kering, dapat diolah menjadi berbagai makanan dan minuman, serta tidak kalah nutrisinya dengan beras dan jagung. Di samping itu, buku ini juga mengulas bagaimana peran kebijakan pangan yang beras-sentris berdampak pada tersisihkannya lahan produksi pangan lokal dan berubahnya pola makan masyarakat yang semakin bergantung pada beras yang pemenuhannya harus melalui impor.
Dengan tantangan pertumbuhan penduduk dan ancaman perubahan iklim, saran dari buku ini untuk kembali melestarikan dan mengkonsumsi pangan di luar beras sangat layak untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari.
Pasca debat cawapres yang belum lama ini, banyak yang merekomendasikan buku ini di timline x. Jadilah iseng cari di ipusnas dan allhamdulillah, ada sisa 1 stok. Sebagai gen z yang sudah hidup dan menikmati hasil revolusi hijau juga tinggal di tengah kota, awalnya aku enggak kenal sorgum, lho. Dan jadi kenalan sama sorgum lewat buku ini. Belajar banyak lewat buku ini tentang sorgum, pangan dan kebijakan pemerintah di bidang ini. Enggak lupa, tentang budaya yang melibatkan sorgum di Flores. Pokoknya baca buku ini nambah ilmu banget.
Buku non fiksi pertama yang aku baca di tahun 2025. Isinya cukup informatif dan lengkap dari sejarah, kegunaan dan manfaat hingga harapan untuk kedaulatan pangan daerah yang mulai berkurang hujan nya karena perubahan iklim sehingga berkali-kali gagal panen. Bukunya juga dilengkapi ilustrasi beserta gambar sorgum dan aneka olahan yang bisa dibuat serta tabel-tabel informatif. Selain itu riset nya juga dilakukan dengan cukup baik terlihat dari daftar pustaka yang lebih dari lima halaman. Hal ini juga akan membantu untuk mencari informasi lebih lanjut terkait sorgum jika tertarik.
Sorgum: Benih leluhur untuk masa depan by Ahmad Arif || 4,5/5🌟
Aku tau ini memalukan tapi aku baru tau ada tanaman bernama Sorgum. Taunya setelah nemu buku ini.
Di bab pertama aku langsung disuguhi mitologi benih pertama, sungguh bacaan yang menarik. Makin bertambah jumlah halaman, maka semakin banyak aku menemukan informasi tentang tanaman sorgum, bahwa ternyata sorgum adalah sumber makanan paling tua jika dibandingkan dengan padi, sorgum yang memiliki gizi tinggi namun sayangnya ke-eksisan sorgum sudah meredup.
"Kearifan petani telah dimatikan dengan penyeragaman. Kemandirian telah digantikan dengan ketergantungan"
Kutipan diatas aku temukan di sub bab yang membahas tentang Era Revolusi Hijau. Kalo ini dah ga asing kan ya?
Buku ini melampirkan banyak data yang bikin aku pusing bacanyaaa tapi alhamdulillah nggak sampe minum oskadon sih.
Lumayan terganggu sama beberapa kalimat pengulangan yang dirasa nggak perlu, dan ini yang bikin aku nggak ngasih full star.
Buku ini tipis namun punya isi yang 'tebal'. Mulai dari pengenalan hingga permasalahan dibahas dengan apik. Rasanya setiap paragraf merupakan ilmu baru buat aku.
Aku merasa dalam beberapa poin buku ini mengulang informasi yang ada pada buku Sagu Papua untuk Dunia, tetapi seperti buku sebelumnya, aku sangat mengapresiasi ide yang dibawa dalam buku ini.
Meja makan kita didominasi oleh nasi yang kemudian menjadi penyumbang terbesar penyakit diabetes warga Indonesia. Selain itu, malangnya, untuk memenuhi kebutuhan beras nasional, Indonesia masih mengandalkan impor beras dari negara lain. Hal ini disebabkan Indonesia masih punya ketergantungan akut pada beras sejak swasembada pangan digelar saat Orde Baru mulai berjaya. Swasembada pangan yang berakar pada Revolusi Hijau tersebut, bikin meja makan orang Indonesia seragam yang terisi nasi dari padi. Pangan lain yang sebelumnya masih bisa diakrabi lidah, perlahan hilang dari menu harian. Termasuk sorgum yang telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Flores di Nusa Tenggara Timur. Sorgum sempat hilang dari menu harian masyarakat dan tergantung dengan beras nasi yang sejatinya bukan tanaman yang bisa tumbuh di lahan jarang hujan seperti di NTT.
Sorgum sejatinya tidak hanya ada di NTT. Dalam budaya Jawa, sorgum dikenal dengan nama cantel. Namun, sayang, setelah saya mencoba mencari tahu, malah cantel sering digunakan sebagai pakanan burung dan ternak. Cantel belum dimanfaatkan sebagai konsumsi makanan pokok atau sebagai makanan olahan lain. Di NTT, sorgum sudah diolah menjadi berbagai makanan, salah satunya sudah bisa dibuat untuk bahan roti bolu.
Buku ini merekam ingatan dan mitos masyarakat tentang lahirnya sorgum di NTT. Selain itu, juga menampilkan para pemulia sorgum yang sejak 10 tahun terakhir begitu gencar mengampanyekan sorgum sebagai makanan pokok alternatif yang lebih sehat dan rendah gula daripada nasi beras padi.