"... antologi cerpen ini penting artinya sebagai usaha melihat, betapa sesungguhnya umat Islam di Indonesia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungan sosial-budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Yang kemudian tampak ke permukaan adalah umat Islam Indonesia yang lengkap dengan kulturnya yang tidak hitam-putih. Ada warna pelangi di sana, yang sekaligus sebagai potret keindonesiaan yang pluralis dan heterogen.... Dalam konteks itulah, antologi cerpen ini justru penting sebagai sebuah cermin yang diharapkan dapat menggugah kita untuk melakukan pemaknaan kembali konsep puasa, lebaran, dan mudik, dalam kerangka solidaritas sosial..." -- Maman S Mahayana
Antologi cerpen bertema Puasa/Lebaran yang pernah dimuat di Harian Kompas. Terdiri atas 11 cerpen karya 10 penulis 1. Lailatul Qadar - Danarto 2. Puasa Itu - Senu Subawajid 3. Kurma - Yanusa Nugroho 4. Tiga Butir Kurma per Kepala - Yusrizal KW 5. Menjelang Lebaran - Umar Kayam 6. Malam Takbir - Hamsad Rangkuti 7. Reuni - Hamsad Rangkuti 8. Lebaran - Taufik Ikram Jamil 9. Tamu yang Datang di Hari Lebaran - AA Navis 10. Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari - Jujur Prananto 11. Gambar Bertulisan "Kereta Lebaran" - Gusti tf Sakai
Ramadhan bagi umat Islam di Indonesia bukan hanya ibadah puasa.Ramadhan bagi sebagian orang adalah tujuan,mengumpulkan uang selama setahun untuk dapat mudik, semacam ukuran keberhasilan jika dapat mudik dengan membawa oleh2 untuk sanak keluarga,tingkat bakti kepada orang tua, karena saat lebaran adalah waktu yang diharapkan untuk dapat berkumpul setelah setahun tak berjumpa yang disebabkan jarak dan kesibukan mengejar dunia. Sedih dan kesepian tanpa anak dan cucu bgt nyata digambarkan pada salah satu cerpen.Bahkan awal tahun bukan dihitung dari 1 Januari tapi 1 Syawal, start awal dimulainya awal yang baru. Aku suka buku inilah pokoknya..
Halaman terakhir di tanggal 21 April 2023, sengaja biar temponya pas.Biar pas dengan vibenya.
Kesepuluh cerita pendek ini menurutku banyak mengandung bahan permenungan di bulan puasa hingga Lebaran.
Bagian yang aku suka karena melekat di pikiran. Ialah para pencerita di cerpen ini mengangkat kehidupan sebuah keluarga sederhana. Bagaimana sebuah keluarga yang sederhana berbuka puasa dengan satu sampai tiga buah kurma. Bagaimana sebuah keluarga menghidupi harapan anak-anaknya untuk tetap bersuka cita walau tidak jadi naik kereta ke rumah kakek-nenek.
Justru di sini cerita Lebaran mengharu biru. Selamat Lebaran
Puasa Ramadan di Indonesia tak hanya sekedar menjadi peristiwa agama ataupun religius, tapi juga terkait erat dengan aspek sosio-kultural. Cerpen-cerpen dalam Kurma ini juga mencerminkan hal tersebut. Sebagian cerpen bercorak mistis-spiritual dan sebagian lain, lebih memandang dari kacamata sosial. Cerpen surealis Danarto, "Lailatul Qodar" misalnya menceritakan tentang pengalaman spiritual keluarga Satoto saat mudik. Cerpen lain yang mengedepankan masalah sosial misalnya "Malam Lebaran" karya Umar Kayam. Cerpen ini berkisah tentang Kamil yang di-PHK pada hari menjelang lebaran. PHK ini berefek domino pada hal lain, yaitu rencana mudik dan status kerja pembantunya. Membaca beberapa cerpen dalam buku ini seperti membaca Indonesia dengan segala problematikanya.
Kehidupan islami yang dituturkan secara puitis, menyingkap kebiasaan keislaman masyarakat dengan sindiran yang satir dan miris. Kumpulan Cerpen ini diramu secara indah dan bermakna dalam.