Ave – nama kecil Agave – telah bekerja selama tujuh tahun menjadi reporter lapangan. Kesempatan datang ketika Bang Kaspar, produser berita, mengatakan siapapun yang bisa mewawancarai direktur rumah sakit Medikara boleh meminta apapun padanya. Ave berencana untuk melakukan wawancara itu dan meminta posisi pembawa berita.
Adrian, direktur RS Medikara, bukan orang yang mudah ditemui. Saat berhasil bertemu, Ave terperangah. Pria itu pernah menantangnya bermain biliar di Blackpool! Pria itu menyebalkan, tapi Ave tak punya pilihan. Ia menebalkan muka mengejar Adrian untuk melakukan wawancara.
Berulang kali menolak permintaan Ave, Adrian akhirnya mengiakan untuk wawancara. Sayang, rencana Ave tak berjalan mulus. Lika-liku yang dihadapi Ave membuatnya belajar banyak hal mengenai impiannya – dan juga hatinya.
Aku beneran kesel banget sama semua tokohnya. Unprofessional and terlalu childish padahal umurnya udah pada tua. Tbh, aku punya ekspektasi tinggi sama kehidupan jurnalis di buku ini tapi ternyata ngga memuaskan. Romancenya pun terasa kurang.
Agave a.k.a Ave adalah seorang jurnalis televisi. Selama enam tahun dia bekerja sebagai reporter lapangan. Cita-cita Ave sebenarnya adalah menjadi pembaca berita, tapi dia tahu dia harus memulai dari bawah. Namun, Ave jadi panas saat seorang anak baru tiba-tiba diangkat menjadi pembaca berita. Saat produser mereka mengumumkan akan memberikan hadiah apa saja jika berhasil mewawancarai seorang narasumber di RS. Medikara. Agave tertantang. Ini kesempatan emasnya.
Tapi tidak mudah menemui dr. Adrian Yordan, direktur RS. Medikara. Apalagi Ave punya utang yang belum dibayarnya kepada Adrian karena kalah di meja bilyar. Wawancara pertama yang diperolehnya dengan susah payah berantakan karena Ave merasa Adrian seorang yang memiliki pemikiran picik terhadap karir jurnalis.
It's a light reading. Hanya setebal 200an halaman. Ave sempat merasa dibutakan oleh ambisi yang membuatnya dijauhi oleh orang-orang yang pernah mengasihinya. Tapi Ave membuktikan bahwa dia sanggup memperjuangkan impiannya. Ave juga mengubah pola pandang Adrian terhadap ambisi. Dan membantunya menyelesaikan masalahnya sendiri.
Saya suka dengan romansa yang terbangun di antara Ave dan Adrian. Tidak terburu-buru dan dewasa. Baik Ave maupun Adrian menyelesaikan konflik dalam diri masing-masing sebelum membuka diri untuk orang lain.
Meski demikian, saya merasa background ceritanya bisa lebih digali lagi. Misalnya mengapa ayah Adrian pergi meninggalkan keluarga dan karirinya. Padahal itulah awal mula permasalahan hidup Adrian. Tapi bisa jadi karena penulis fokus pada Ave dan profesinya sebagai jurnalis.
Sama-sama terjebak dalam pekerjaan yang bukan impiannya. Ave, memiliki mimpi suatu hari ia akan menjadi pembawa berita malah kini setelah 6 tahun menjadi jurnalis lapangan sepertinya mimpi itu akan menjadi nyata. Untuk itu, ia harus mewawancarai direktur Rumah Sakit Medikara yang terkenal misterius dan jarang senyum itu. Masalahnya si direktur rumah sakit itu ternyata tidak suka menghadapi wartawan.
Adrian, juga memiliki impian yang diidamkan dari lama. Namun, di awal perjalanan menuju impiannya ia terhalang kewajiban menggantikan ayahnya menjadi direktur rumah sakit. Berjibaku dengan segala dokumen di ruangan kantornya benar-benar berbeda dengan impiannya. Tragedi di rumah sakit benar-benar membuatnya tersudut.
Berawal dari rebutan meja billiard, hingga akhirnya bertanding dengan taruhan siapa yang menang berhak meminta apapun. Ave dan Adrian semakin sering dipertemukan. Padahal Ave bersumpah dihadapan Adrian untuk tidak akan bertemu dengan pria itu. Tetapi kenyataan seakan tidak mengabulkannya.
Ave yang suka ceplas ceplos menarik perhatian Adrian karena semua wanita di sekitarnya bersikap lembut dan sopan. Adrian yang dingin dan menyebalkan tiba-tiba berbuat baik karena mengerti apa yang dirasakan Ave juga terjadi padanya, namun Ave semakin curiga.
Menjelang ending sepertinya penulis tidak suka terburu-buru. Ia ingin tokohnya benar-benar stabil dalam hidupnya dan hal ini membuat cinta mereka terbukti bukan sekadar lewat namun bertahan lama.
Aku suka sekali interaksi antara Ave dan Adrian. Seru!
was feeling a little under the weather these past 2 days + is overwhelmed with work, I needed something fun and light so I decided to pick this up which ended up with me finishing it in three sittings haha
salah satu dari sekian banyak buku romance Indonesia yang aku beli waktu dulu sale, ini so-so. aku berharap lebih banyak romance-nya tapi ternyata dominan character development kedua leads. penulisannya juga kadang bikin bingung karena pov ketiga serba tahu tapi campur2 antara kedua orang tokoh utama di satu bagian yang sama. endingnya juga rushed banget, padahal aku rasa durasi bukunya masih cukup pendek dan ada potensi buat explore & di-flush lagi di act 3 nya, lost potential imo huhu.
aku personally jg ga terlalu suka either leads (Ave & Adrian sama2 punya masa nyebelinnya haha) tapi cerita perjalanan mereka bagus, terutama pelajaran yang mereka tarik & dapet selama seluruh cerita ini; dari diri mereka masing2 dan antar satu sama lain. banter mereka berdua jg gemess bgtt please haha chemistry-nya beneran dapet, lagi2 sayang sih ga di-explore lagi. overall did not disappoint my need for something light 🎱🌃
Meet Agave Sophia Damara, jurnalis lapangan yang bermimpi menjadi pembawa berita.
Meet Adrian Alexi Yordan, dokter muda sudah jadi direktur rumah sakit karena penerus sang ayah.
Apakah agave bisa menjadi pembaca berita yang diimpikan? Apakah Adrian bisa mempertahankan posisi direktur ketika sebuah kasus kematian di RS sampai viral, menggoyahkan kredibilitas rumah sakit yang dia pegang ?
Novel ke 5 dari penulis Malashantii yang aku baca, sayang nya bukan karya terbaik dari beliau yang pernah aku baca.
Suka storytellingnya, tapi untuk porsi romance kurang dalem. Novel ini lebih banyak menceritakan perjalanan karier tokoh.
Aku suka bagian mereka main billiards.
Aku suka ambisinya Agave, bekerja keras untuk mendapat impiannya. Background keluarga Agave juga yang mempengaruhi dia punya ambisi kuat. Karena ayahnya kurang mengapresiasi apa yang dia kerjakan.
Recommended buat yang pengen baca novel tentang perjalanan karier yang ada romance nya.
Sudah curiga ketika melihat ketebalan buku ini. Plotnya terlalu cepat dan aku kurang dapat chemistry kedua tokoh utama. Puncak konfliknya juga kurang greget. Walaupun begitu gaya penulis merupakan hal yang patut diberikan jempol. Nyaman dibaca dan mudah dipahami. Hal lainnya yg membuat tertarik adalah tokoh Agave. Wanita kuat, mandiri, dan kesepian. Jujur dalam mengungkapkan pikiran tapi kesulitan dalam mengungkapkan perasaannya.
Bagus, suka sama gaya bicaranya Ave yang tajam parah 🤗 mungkin karena seorang jurnalis ya jadi tajem gitu investigasinya. Adrian juga tajam sih bedanya dia mah bawaan dari lahir 🤣🤣
waktu awal2 cerita menarik banget, emosinya dapet, dan clue ttg permasalahan keluarga ave sama adrian juga bikin penasaran. tapi malah bingung banget sama konfliknya, apalagi konflik dari adrian-nya