Perceraian memang merupakan tema yang jarang kita bicarakan, meski sebenarnya sangat penting. Saya yakin hampir semua ikatan pernikahan pernah melahirkan wacana perceraian, apa pun alasan dan latar belakangnya. Kalau boleh menggeneralisir, semua orang yang menikah pasti pernah berpikir untuk bercerai, kan?
Buku ini tidak akan mencegah Anda untuk berhenti memikirkan perceraian, melainkan untuk kembali merefleksi kehidupan rumah tangga dan pasangan. Apa yang membuat kita saling jatuh cinta di masa lalu? Apa masalah luput kita bicarakan baik-baik? Apa kelebihan pasangan yang jarang diapresiasi—karena kita sudah terlalu terbiasa (seperti udara, tak terlihat, tapi tanpanya kita tak lagi berfungsi)?
Fahd Pahdepie akan membawa kita pada berbagai aspek dalam pernikahan dan yang sering kali dianggap remeh, padahal hubungan asmara yang langgeng hampr selalu akumulasi dari hal-hal remeh yang manis, bukan? Cara pandangnya dalam melihat berbagai permasalahan dalam institusi keluarga bukan hanya bisa menjadi bahan perenungan pasangan yang telah menikah, tapi juga para individu yang ingin membangun keluarga bahagia, untuk terus bersama sehidup sesurga.
FAHD PAHDEPIE, suami juga ayah penuh-waktu untuk Rizqa Abidin serta dua putra mereka Falsafa Kalky Pahdepie dan Alkemia Malaky Pahdepie. Menulis, bekerja, dan berkreativitas dirayakannya di waktu senggang. Orang rumahan yang menulis untuk diceritakan pada istri dan anak-anaknya.
Selain menulis, Fahd juga merupakan pembicara publik, penulis skenario dan sutradara film maupun teater. Saat ini menjadi co-founder dan CEO inspirasi.co. Ia bisa ditemui di www.fahdpahdepie.com atau facebook.com/fahdpahdepie atau twitter @fahdisme.
Best sangat buku niiiiiii. Recommended untuk pasangan yang telah berumah tangga setahun dua dan lebih.
Terima kasih @mhafizulfaiz & @fakhrifadzli meyakinkan saya membaca naskah ini.
Dah nampak lama buku ni tapi tak pernah tergerak hati untuk membeli sebab ada perkataan cerai pada tajuk. Bayangannya mesti cerita pasal konflik & sewaktu dengannya. Tak naklah!
Tapi rupanya saya silap.
1) Buku ini tentang bagaimana memperjuangkan bahagia bersama selepas kahwin. Membangunkan rumah tangga & cita-cita yang diimpikan.
2) Cinta yang sedar menurut @fahdpahdepie adalah ketika kita mengatakan "aku mencintaimu dgn cara berhenti mengandaikan semua hal yg baik yg tak ada pada dirimu, dan memaafkan semua hal buruk yg ada pada dirimu"
3) Buku ini ditulis agar kita lebih menghargai setiap ruang bersama pasangan & keluarga.
4) Penulis sangat jujur berkongsi rasa & pengalaman beliau dalam berumah tangga & menjadi seorang ayah. Terasa begitu 'dekat' membaca bait-baitnya. Seputar yang sama kita sebagai pasangan lalui hari-hari. Nangis- nangis sis baca buku ni.
5) Susunan ayat yang sangat sedap dibaca. Setiap bab ada je nak higlight.
6) Membaca buku ini seolah menyelami hati & perasaan si suami & si ayah. Tentang apa yang mereka rasakan & harapkan. Terasa sangat kasih sayang suami di sebalik tindakan yg dilakukan selama ini.
7) Bukan buku teori perhubungan atau kaunseling rumah tangga. Ia ditulis berdasarkan pengalaman & refleksi penulis.
Ok dapatkan buku ni cepat k! Kalau tak baca bersama pasangan pun boleh cerita dekat pasangan lepas tu. Suami lagi best baca sebab buku ni dari POV suami kan.
Siapa bilang membangun rumah tangga itu mudah? Ada banyak pertaruhan dan pertarungan yang menguras perasaan hingga seringkali "ragu" bermunculan dimana-mana dan kapan pun. Tapi saat hal itu datang, berusahalah untuk mencari cara mengingat semua cerita yang sudah dibangun dengan penuh cinta.
Aku nyaman baca buku ini meski pun aku belum mempunyai rumah tangga. Yang membuatku nyaman karena usiaku mulai mendekati "sudah bisa menikah" maka secara naluriah aku seperti mempersiapkan diri, belajar dengan semua kisah penulis.
Ketika menikah nanti, bukan lagi hanya menjadi sepasang kekasih, tapi tanggung jawab sebagai orangtua melekat selamanya ketika seorang anak lahir. Tapi meski pun sudah menjadi orangtua, jangan lupa bahwa kalian, kita adalah sepasang kekasih, seperti waktu-waktu sebelum memiliki anak dan memiliki masa depan yang jauh.
Selalu suka dan mampu dibikin jatuh cinta oleh pilihan dan susunan kata dalam setiap tulisan Fahd Pahdepie. Judul bukunya terdengar menyeramkan, tapi isinya justru sangat menghangatkan hati. Buku ini pantas dibaca pasangan mana saja, khususnya mereka yang ingin menguatkan tali cinta dalam pernikahannya.
Judul : Cerita Sebelum Bercerai Penulis : Fahd Pahdepie Penerbit : Buku Republika Jmlh Hal : 241 hal ISBN : 978-602-7595-59-0
Ini merupakan buku pertama aku baca dari karya Fahd Pahdepie, Cerita Sebelum Bercerai merupakan sebuah buku tentang segala lika liku rumah tangga. Ini merupakan buku ketiga dengan tema Pernikahan, Buku pertama berjudul Rumah Tangga dan buku kedua Sehidup Sesurga dengan penerbit yang berbeda sendiri dibuku ketiganya.
Buku ini cocok untuk para suami dan istri yang sedang membangun rumah tangga samawa, atau bagi para calon yang akan melangsungkan pernikahan dan masuk ke dalam bahtera rumah tangga. Banyak pesan dan kisah yang bisa diambil pelajaran dan hikmah di setiap cerita didalam buku ini.
Buku ini banyak menceritakan pengalaman atau kisah yang pernah dialami oleh penulis sendiri, sehingga bahasa dan cerita yang disampaikan dalam bentuk kalimat terasa ringan dan mengalir begitu saja penuh lika liku yang harus ditempuh. Wajar jika pembaca setelah membaca buku ini merasa kembali untuk intropeksi dan menilai kembali sudah seberapa kuat dalam membina sebuah rumah tangga.
Buku ini terdiri dari 13 Bab utama, yang masing-masing bab memiliki cerita yang unik. Aku tertarik sekali membaca pada bagian bab-bab terakhir, pembahasan tentang anak dan perasaan penulis terhadap keluarga yang telah dibangunnya selama 10 tahun.
Buku ini lahir juga bentuk perayaan hari jadi pernikahan penulis yang sudah menjejaki bahtera rumah tangga selama 10 tahun, banyak hal pelajaran dan pengalaman yang dibagikan dengan secara gamblang dan enak untuk disimak oleh para pembacanya.
Buku ini sangat recommend untuk para pasangan yang sudah menjejaki bahtera rumah tangga, juga para pasangan yang akan mengarah tujuan yang sama, buku ini bisa dibaca sebagai penambah wawasan dan pengalaman yang sangat berharga sebelum atau sudah menjalani kehidupan rumah tangga. Sungguh buku yang mengesankan bagi aku pribadi, semoga cepat bisa membangun bahtera rumah tangga yang harmonis dan sakina mawadah warahmah. Amin
Seperti penulis bilang dalam kutipannya "Sepuluh tahun yang lalu kita disahkan penghulu, untuk menjadi sepasang teman bermain seumur hidup kita berdua -- selama-lamanya, sehidup Sesurga"
🌟"Jika kamu ingin bahagia dalam sebulan, nikahi orang yang kamu cintai. Jika kamu ingin berbahagia untuk selama-lamanya, bahagiakan orang yang kamu nikahi."🌟
✨Baca tajuknya saja kita sudah dapat mengagak buku ini sesuai dibaca untuk yang sudah berumahtangga dan juga sebagai usaha untuk membina kembali keserasian antara pasangan agar lebih bersabar dan lebih bijaksana dalam melayari mahligai yang pastinya bukan hanya indah-indah sahaja.
✨Kandungannya terdiri daripada catatan puitis, dan perkongsian kisah dari sudut pandang penulis untuk diteladani perihal keluarga, pasangan serta anak-anak. Tak kurang juga penulis banyak memberi suntikan halus kepada pembaca untuk lebih menghargai pasangan kerana semakin banyak tahun berlalu, tak mudah untuk setiap pasangan mempertahankan apa yang telah dimeterai sejak awal pernikahan. Kenapa ya menghargai itu penting ? mungkin daripada menghargailah wujudnya setia dan kasih sayang tak berbelah bahagi.
✨Semasa saya membaca buku ini, saya sering merasa ia sebuah penulisan berbentuk penghargaan penulis sendiri untuk keluarganya. Dari sudut positif, ketulusan penulis dalam merangka ayat dapat juga kita rasai. banyak juga saya melipat helaian tertentu dan berkata pada diri sendiri ; "satu hari nanti aku akan membacanya semula".
✨Bab bertajuk Beratnya Menjadi Ibu Bapa dan Family Values, Family First antara favourite saya dalam buku ini. sebabnya saya jadi teringat dengan ibu bapa sendiri :')
✨Jadilah contoh yang baik kepada anak-anak dalam menyayangi keluarga. Pasangan jangan dibentak kasar, kerana mereka juga ada emosi. Suami jadilah pelindung dan ketua keluarga yang baik. Kelak anak-anak yang melihat kerukunan keluarga ini juga akan ada keluarga kecil mereka sendiri. Sejauh mana pun kita, hati akan selalu menjerit meminta kita pulang kepada keluarga di rumah, kerana di situlah tempat sebetulnya hati menjadi nyaman.💞
Sudah lama saya berhenti membaca buku Fahd Pahdepie (sejak berganti nama pena dari Fahd Djibran) karena saya merasa saat ini saya bukan lagi target pasarnya. Akan tetapi, pagi ini saya membuka buku ini setelah beberapa waktu sudah mengunduhnya di laman Gramedia Digital. Akhirnya saya membacanya lagi untuk mengetahui apa yang disampaikan penulis pada buku ini. Ternyata masih kurang lebih sama dengan dua buku sebelumnya tentang jodoh dan pernikahan.
Saya pribadi menyukai cerita yang jujur, yang menggambarkan bahwa kehidupan pernikahan tidak hanya berisi hal-hal manis yang dilakukan seorang suami kepada istri maupun sebaliknya. Saya selalu senang belajar dari hal-hal yang menguatkan ketabahan ketika menjalankan pernikahan. Buat saya, buku ini tidak terlalu demikian. Penulis sepertinya menulis buku ini untuk merayakan pernikahan yang sudah berjalan selama 10 tahun. Menurut saya, buku ini mungkin cocok dibaca bagi yang sedang menjalani pernikahan kurang dari 5 tahun pertama. Bagi pasangan yang lebih tua usianya pasti lebih memahami bahwa pernikahan dipertahankan bukan hanya karena merasa sayang dengan perjalanan yang sudah sejauh ini, tetapi alasan-alasan lain yang bisa jadi begitu sederhana.
Meski saya tidak terlalu senang membaca buku ini, tetap ada satu pelajaran yang bisa saya dapatkan. Kali ini kejujuran tentang Pegadaian. Dinamika rumah tangga termasuk tentang sumber daya biaya yang terbatas sedangkan kebutuhan hidup bisa jadi sulit ditebak. Cerita tentang seorang suami yang penuh berani meminta izin kepada istri untuk menggadaikan mas kawin. Buat saya cerita ini mengharukan. Cerita ini juga mengingatkan betapa pentingnya mas kawin dengan nilai yang cukup, karena bisa jadi akan menyelamatkan keluarga di waktu yang akan datang.
DNF. Saya cukupkan membaca hingga di halaman 151. Jangan salah, dulu saya cukup menikmati tulisan-tulisan Mas Fahd, paling tidak lewat 2 bukunya: A Cat In My Eyes dan Yang Galau Yang Meracau, yang mengantarkan saya pada judul-judul lain karyanya. Juga mengikuti tulisan-tulisan dalam blognya. Maka, ketika tak sengaja melihat buku ini pertama kali, saya langsung penasaran. Ada sedikit rasa ingin bernostalgia dengan tulisan-tulisan beliau.
Namun, rasanya memang pas sekali buku ini diberi judul cerita dan bukannya nasihat. Karena sebagian besar isi di dalamnya (hingga halaman yang saya baca) adalah cerita-cerita rumah tangga antara Mas Fahd dan Mbak Rizqa. Kemarin ketika memutuskan mencarinya di Gramedia Digital, saya memiliki harapan yang lebih. Dan ternyata tak saya temukan di dalamnya.
Mungkin lebih cocok dibaca oleh para suami, karena Mas Fahd memang menulis dari sudut pandangnya sebagai seorang suami. Bagi para istri yang sedang merasa jenuh dan butuh pencerahan, mungkin malah akan jadi baper ketika membacanya :3
Tapi paling tidak, saya berhasil menemukan quote yang cukup mencerahkan :)
“.. pernikahan bukan jawaban untuk masalah kebahagiaan. Menikah adalah jawaban untuk masalah keberkahan. Jika Anda ingin hidup berkah, maka menikahlah.”
Mendapatkan info buku ini melalui akun Tumblr dengan tidak sengaja. Kemudian penasaran, dan akhirnya download di akun Gramedia digital.
Buku ini adalah buku jurnal perjalanan pernikahan penulis beserta istrinya. Bagamana mereka menjalani pernikahan dengan cinta yang berkesadaran, mengerti bahwa pernikahan tidak pernah menjadi sesuatu yang mudah dan biasa-biasa saja, tidak juga akan ber jalan dengan mulus-mulus saja, bahwa saling mengerti adalah formula terbaik untuk saling menerima.
Terdengar klasik? Tetapi benar adanya, dan perlu untuk direnungkan.
Buku ini sejujurnya bikin saya meleleh dan dapat merasakan bagamana cinta kasih penulis terhadap keluarga (Istri dan anak-anaknya) yang begitu dalam, dan sekaligus kagum terhadap keluarga mereka yang selalu ingin bertumbuh bersama.
“Jika kau ingin bahagia dalam sebulan, nikahi orang yang kau cintai. Jika engkau ingin berbahagia untuk selama-lamanya, bahagiakan orang yang kau nikahi.”
Terima Kasih Gramedia Digital atas pinjaman bukunya!
Suka sangat membaca naskah Cerita Sebelum Bercerai (2020) karya Fahd Pahdepie. Recomended buat semua orang. Banyak isu-isu mengenai kepentingan menjadi suami dan ayah yang baik dalam dunia yang penuh dugaan ini.
"Setia adalah melindungi. Setia itu takut. Setia itu tidak mendua. Setia itu bersyukur. Tapi, di atas semua itu setia itu sulit. Maka hanya mereka yang bersungguh-sungguh mencintai saja yang bisa setia."
Karya yang baik, terutama buat yang sudah lupa kenapa memilih berkahwin dengan isteri sekarang.
"Kita tahu pernikahan akan diwarnai dengan suka dan duka. Tetapi tak selalu begitu. Pernikahan kita adalah tentang suka, suka, dan suka. Ya, aku belum selesai... Lalu duka, duka, duka, duka, duka, duka... Hei, mengapa lebih banyak duka daripada suka dalam setiap kisah hidup manusia?"
Pesannya, "Jika kau ingin bahagia dalam sebulan, nikahi orang yang kau cintai. Jika engkau ingin berbahagia selama-lamanya, bahagiakan orang yang kau nikahi."
Akhirnya selesai juga baca buku ini. Dari awal pre order, ingin sekali beli. Tapi belum bisa 😅 dan sekarang sudah selesai dibaca. Alhamdulillah.
Buku ini tepat sekali untuk para suami istri juga sangat tepat untuk para single yang belum bersuami istri. Ini sedikit gambaran kehidupan manis berumah tangga. Banyak cerita, nasihat, pengalaman yang bisa diambil sisi baiknya.
"Cinta memerlukan ketidaksempurnaan untuk menunjukkan kesempurnaannya." Itu salah satu kalimat yang aku ingat dari buku ini. Kalau dijadikan kado untuk pasangan, bagus juga nih. 💚
"Jika kau ingin bahagia dalam sebulan, nikahi orang yang kau cintai. Jika engkau ingin berbahagia untuk selama lamanya, bahagiakan orang yang kau nikahi."
"Aku selalu ingin jadi yang terbaik buatmu. Tapi di saat yang sama, aku takut tak bisa memenuhi semua itu."
"Aku mencintaimu dengan cara berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu, dan memafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu."
Tertarik sama buku ini gara-gara covernya, ku pikir buku ini berisi tentang nasihat-nasihat pernikahan. Namun setelah dibaca buku ini merupakan kumpulan cerita dari penulis tentang kehidupan pernikahannya, yang syarat akan pembelajaran. Kisah romantis penulis dan istrinya mampu menyihir saya untuk membaca bukunya dalam sekali duduk.
Buku yang sangat menarik untuk dibaca berkaitan pengenalan ke alam rumah tangga. Membina perkahwinan itu mudah tetapi untuk membangunkan nya memerlukan 2 orang yang saling bertolak ansur dan bertoleransi
Bagus sebagai refleksi sikap kita kepada pasangan. Buat yang belum punya pasangan cocok juga sebagai langkah preventif sebelum punya pikiran untuk bercerai haha. Yang saya bingung, kenapa di bagian akhir banyak tulisan "delapan tahun", bukannya buku ini kado pernikahan yang ke-sepuluh?
Buku ini sih lebih cocok jadi buku cerita setelah menikah, memaknai kembali tujuan pernikahan yang isinya tak melulu yang manis-manis, tapi juga hal-hal yang bikin jengkel, kesel namun membuat pernikahan jadi tempat belajar seumur hidup.
Buku yang nyaman sekali apabila dibaca untuk jejaka jomblo seperti saya. Menyingkap tentang bagaimana seharisnya perkahwinan yang ideal perlu berdiri dan ia saya pikir merupakan penceritaan yang ada kredibiliti kerana berdasarkan cerita penulis sendiri.