“Namun rahasia seperti warna. Tatap dalam-dalam, dan ia mulai menuturkan selaksa cerita.”
Kekasih Musim Gugur adalah kisah dua perempuan, Srikandi (Siri) dan Dara. Yang satu seorang seniman kosmopolitan, yang satunya lagi seorang aktivis politik. Siri adalah anak Amba dan Bhisma, tokoh utama novel pertama Laksmi Pamuntjak, Amba.
Setelah bertahun-tahun mengembara di pelbagai kota di dunia—London, New York, Madrid—Siri memutuskan hidup di Berlin untuk menghindar dari masa lalu keluarganya. Tak disangka, sebuah berita mengejutkan memaksanya pulang ke Jakarta. Di tanah air, Siri harus menghadapi realita keluarganya yang pedih, ditambah dengan jalin-kelindan kompleks antara seni rupa, politik, dan sejarah, terutama ketika salah satu pamerannya dihujat dan dilarang karena dianggap melanggar susila.
Dalam pergulatannya, Siri harus memaknai ulang hubungannya dengan ibunya, Amba; dengan mantan sahabatnya, Dara; dengan anak tirinya, Amalia; dan dengan sejarah bapak kandungnya yang kelam.
***
“Ada melodi yang liris dalam cara Laksmi Pamuntjak bertutur, rangkaian kata yang sesekali mengalun dan kali lain mengentak. Memasuki ruang-ruang interior para karakter di Kekasih Musim Gugur seperti dituntun ke sebuah museum seni. Kadang anggun, kadang liar, tetapi hampir selalu elegan.”—Dee Lestari, penulis.
“Sejak halaman pertama, ketika Srikandi menyatakan ia memiliki dua bapak, kita tak akan bisa berhenti membaca novel ini hingga halaman terakhir….” —Leila S. Chudori, penulis dan wartawan.
“Novel Laksmi ini sempurna menangkap tegangan kompleks hubungan antar-individu; dendam-rindu, benci-cinta, dalam sejarah keluarga yang dibayangi luka politik, dan bagaimana seni rupa menjadi strategi yang membebaskan. Dengan kepiawaiannya berkisah, Laksmi menyeret kita masuk dan melihat luka itu sebagai luka kita sendiri.”—Nezar Patria, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post.
“Novel ini merupakan satu langkah dalam pencapaian Laksmi sebagai sosok penting dalam pertumbuhan sastra ....”—Sapardi Djoko Damono, penyair, penulis.
Laksmi Pamuntjak is a bilingual Indonesian novelist, poet, food writer, journalist and co-founder of Aksara Bookstore. She works as an art and food consultant and writes for numerous local and international publications including opinion articles for the Guardian.
She is the author of two collections of poetry (one of which, Ellipsis, appeared in the 2005 Herald UK Books of the Year pages); a treatise on the relationship between man and violence based on the Iliad; a collection of short stories based on paintings; five editions of the best-selling and award-winning Jakarta Good Food Guide; two translations of the works of Indonesian poet and essayist Goenawan Mohamad; and two bestselling novels.
Amba/The Question of Red, Pamuntjak’s first novel, won Germany’s LiBeraturpreis in 2016, was short-listed for the 2012 Khatulistiwa Literary Award, appeared on the Frankfurter Allgemeine Zeitung’s Top 8 list of the best books of the Frankfurt Book Fair 2015, and was named best work of fiction from Asia, America, Latin America, and the Caribbean translated into German on the Weltempfaenger (Receivers of the World) list. The novel is a modern take on the Hindu epic Mahabharata set against the backdrop of the Indonesian mass killings of 1965 and the Buru penal colony, and has been translated into English, German (Alle Farben Rot, 2015) and Dutch (Amba of De Kleur Van Rood, 2015). It also appeared in De Bild's Top 10 Books of the Frankfurt Book Fair 2015, and the ORF Kultur Top 10 List for November 2015.
Pamuntjak was selected as the Indonesian representative for Poetry Parnassus at the 2012 London Olympics. Her prose and poetry have been published in many international literary journals. She currently divides her time between Berlin and Jakarta.
Bagi saya, Kekasih Musim Gugur ternyata bisa menjadi sebuah kisah yang mandiri tanpa dibayang-bayangi Amba. Amba memang muncul dalam cerita, namun ia tak merebut banyak panggung. Ini persis seperti konsep relasi antara Siri dan Amba. Mereka sama-sama menarik sebagai tokoh, terikat hubungan ibu-anak, namun mereka dapat berdiri sendiri. Meski pada dasarnya, jauh ke akar, kehidupan Siri sangat dipengaruhi masa lalunya, hidup Amba.
Ini tentang Srikandi, atau Siri yang merupakan anak Amba. Siri menetap di Berlin sebagai seorang perupa. Dengan segala pemikirannya tentang seni, politik, kehidupan di usia 50 tahunan, Siri memang terdengar cerdas. Namun penulis tak membiarkan Siri menjadi sempurna. Jika diperhatikan dalam monolog Siri, kadang saya bisa merasakan kerapuhan, kegamangan, bahkan keraguan dalam pengambilan keputusan. Ini menarik. Siri seakan menentang "tuntutan" sosial bahwa seseorang di usianya mestinya sudah bijaksana, matang dalam segala hal. Pada akhirnya, kita cuma manusia yang tak sempurna dan perlu jujur pada kekurangan, pada usia berapa pun.
Setengah buku ini sempat terasa berat karena penulis menggunakan story sebagai medium untuk mengenalkan tokoh. Otomatis, plot berjalan lambat. Paduan antara kicau pemikiran Siri tentang berbagai hal dan plot yang lambat memang menuntut ketahanan pembaca untuk melewati pertengahan buku. Setelah itu, plot berjalan lebih cepat dengan kepingan puzzle yang berangsur utuh.
Sama seperti Amba, tokoh-tokoh cerdas bertaburan di kisah ini. Dalam perjalanannya, kisah ini juga menyinggung beberapa hal, seperti seni, pancasila, pluralisme, hingga politik. Sengaja tidak terlalu tajam, namun cukup kuat. Penulis mampu menjaga kisah ini sesuai porsinya sebagai fiksi.
Saya perlu bertepuk tangan pada cara penulis menghidupkan karakter. Sengaja memilih sudut pandang pertama pada tokoh-tokohnya, pembaca bebas menyelam ke palung-palung pemikiran tokoh. Penulis bukan hanya memiliki pemahaman kuat akan tokoh-tokohnya, namun juga mampu memetakan dan mengurai karakter itu secara mendalam. Laksmi Pamuntjak seperti sudah lama mengenal tokoh-tokohnya dengan baik dan mengajak pembaca mengenal mereka dengan sama dalamnya. Suara dan cara pandang antar tokoh pun sukses dihadirkan berbeda. Yang menarik, masing-masing tokoh juga mendalam ketika mengenalkan tokoh yang lain. Misalnya saja ketika Dara, sahabat Siri menggambarkan Amalia, anak tiri Siri :
"Secara umum ia pendiam dan cenderung hanya berbicara ketika diajak bicara, dan ada sesuatu dalam aura pedenya yang tampak rapuh. Kadang ia tampil percaya diri, kadang grogi menghadapi obrolan kantor, meskipun kecenderungannya untuk tak berbaur berasal dari sumber yang sama sekali berbeda dengan jenis yang menapasi ibu tirinya. Siri menjaga jarak bukan karena tak tahan berbaur; ia melakukan itu karena ia bisa." - hal. 202.
Nilai plus untuk Kekasih Musim Gugur karena memilih tokoh-tokoh perempuan sebagai sentral dengan berbagai suara yang mereka miliki. Paduan kedalaman karakter, jalinan kisah, kekuatan bahasa, bobot isi, serta desain sampul yang menarik (Ndari dan Genta bekerja sangat baik) menjadikan Kekasih Musim Gugur berhasil meninggalkan jejak pada benak. Laksmi Pamuntjak berhasil memadukan berbagai variabel kuat untuk tetap memerhatikan estetika dan kedalaman bercerita.
"Setiap pilihan estetis adalah pilihan moral dan politis." - Nina, hal. 353.
"Darkness is a part of light as light is of darkness; its passage from one to another is a ceaseless reflection of the beholder, a constant flux, a two-way mirror. It demands the long view".
Thanks to Times Reads for sending a review copy of Fall Baby to me. Firstly, congratulations to Laksmi Pamuntjak for winning the 2020 Singapore Book Award's Best Literary Work. This is indeed an interesting read as there are some concepts highlighted in the story which are intriguing to me.
The story revolves around 3 main themes: art censorship in Indonesia, motherhood and the complex relationship between Siri and Dara (which sort of involve some LGBTQ elements as well). I love the fact that the author highlighted the conflict between art and politics/ideology in Indonesia. It is apparent that the author has done her research quite well on visual art. I have to say, the author's attention to details (especially in describing the art and some architects in Berlin / Indonesia) is praiseworthy. I had to google the images of the art / architecture (for example, S.Sudjojono's Mother Sewing, and the Gedächtniskirche) in order to really appreciate her description of the same. Such conflict also played a major role in the relationship and dynamics between Siri (who is a visual artist) and Dara (who is an activist). The Indonesian politics and history (i.e. the Pancasila ideology, the protest of conservative Islamic group against the Pancasila ideology, anti-communism during Suharto's regime and etc.) were also subtly introduced in the story.
I am really intrigued by the above and I really wanted to love the story so much. But there is an inherent problem with the structure and flow of the story to me. The story was told based on the past and present events of the characters. I have no problem with the technique of switching timelines in a novel. But I think it should be done in a manner which doesn't disrupt the flow of the story. Certain parts of the story were left hanging to me and I felt a little intellectually challenged when I try to grasp the flow and pacing of the story. Otherwise, with the intriguing concepts and the author's lyrical writing style, this would easily be a 4 or 5 star read to me.
For now, Fall Baby is a 3.8/5 star read to me. Fans of historical and political fiction, do not hesitate to pick up Fall Baby as it will leave you with some interesting insights on Indonesian politics/history!
Saya harus mengakui bahwa novel ini hampir tidak tampak konflik yang besar. Bukan sebuah hal yang buruk memang, sebab beberapa novel luar negeri pun hampir plain tidak ada "adegan besar" yang mengguncang pembaca. Entah bagaimana penulis menghidupkan tokoh sepanjang hampi 500 halaman, yang hidup di tengah pusara nir-konflik.
Saya harus akui juga, bahwa saya tidak selesai Amba: Sebuah Novel. Dari yang tidak selesai itu saya masih bisa menangkap konflik penting yang ingin disorot oleh penulis. Kalau di sekuel ini, hampir nihil. Ada, konflik Siri dan Dara, konflik pameran lukisan yang kadang kebablasan seperti lanskap kartu pos persis novel metropop kita, atau juga Amalia yang hamil duluan. Pertentangan identitas perempuan memang ada, tapi ya itu tipis.
Tapi kalau sastra diukur dari kecakapan bahasa, novel ini adalah juara. Kalau kalian tipe pembaca yang suka dengan bahasa indah, mendayu bak puisi, novel ini adalah oase yang memukau. Laksmi memang menggunakan bahasa narasi novelnya ibarat larik-larik puisi. (Meski kalau saya pribadi, itu usaha yang berlebihan dan membosankan.)
Cukup saja buat saya. Tetapi menarik kalau ada yang membahas novel ini dari pilihan berbahasa dalam novel ini.
Disclaimer: I received this book from Times Read in exchange for my honest review.
Did you know that Laksmi Pamuntjak is actually an Indonesian writer? Well, I didn't. This is her work in English though, not translated at all. She is also a poet, journalist, essayist and food critic.
Fall Baby is a story of Srikandi, preferably known as Siri, who is the illegitimate daughter of Amba and Bhisma, the protagonists of Laksmi Pamuntjak’s award-winning first novel, Amba/The Question of Red.
The story enfolds on Siri's initiation into the art world. How the secrets of the past, unknownst to her, shaped who she is. How the history of her mother's past chased into the present. A story of a soul searching artist who thinks she is an old has-been with a huge chip on her shoulder.
It is also a story of Dara, who is Siri’s best friend-turned foe. And the tale of Amalina, Siri's step daughter. A story of a love that come with the pain of loss, and guilt, and secrecy. All these amidst Indonesia diversity during its most turbulent political environment, the Suharto regime.
I tried, really did try to get into the story. But it was too artsy for me, with Siri being melancholic all the time, talking and thinking about art and its form. Dara, who is an activitist with many suppressed feelings and wants. Amalina, the antagonised victim.
I had forced myself to read this over the span of 2 weeks. And finally, at page 173 of 348, I decided to not finish it. This is something that I cannot get myself into for now. Maybe another time, at another age, in another space.
This book is now available at all major bookstores nationwide.
Saya sekarang menyadari bahwa penilaian saya terhadap sebuah buku sangatlah subjektif dan personal. Subjektif karena saya memiliki patokan sendiri dalam memberikan jumlah bintang. Personal karena ternyata pembacaan saya sangat dipengaruhi suasana hati saat membacanya.
Kekasih Musim Gugur ini misalnya, boleh jadi bukan tipikal novel yang saya akan baca. Katakanlah, konfilknya terlalu metropop. Namun, nukilan-nukilan yang dibacakan para pesohor mampu menarik minat saya untuk membelinya. Saya sedang mood narasi yang liris, tapi bukan puisi. Saya sedang malas berpikir tentang konteks. Jadi, tepat rasanya bila memilih novel tapi dengan kata-kata yang "dipuisikan".
Setelah menamatkannya, saya rasa oke saja. Memang tidak ada sesuatu yang baru dan menonjol, tapi paling tidak saya menempelkan indeks panah pada banyak kalimat. Sesuatu yang lebih saya butuhkan pada saat ini. Detik ini.
Saya jadi teringat pembacaan saya pada Winter Dreams. Sama-sama nirkonflik dan bertempat di luar negeri. Dan entah mengapa, saya juga menikmatinya.
Mengira bahwa kita bisa pergi begitu saja dan tak dirindukan adalah keangkuhan yang sangat luar biasa. Hal. 135
Saya tidak bisa menikmati novel ini. Saya tak tahu apa yang ingin dicapai dalam novel ini. Tidak ada konflik utama dari novel ini apalagi klimaks cerita. Ibarat makanan, novel ini butuh tambahan bumbu. Novel ini juga terasa panjang dengan monolog-monolog berisi hal yang tidak terlalu penting dalam cerita.
Menaruh ekspetasi yang cukup besar setelah novel “Amba” membuatku cukup kecewa dg novel ini. Cukup menantikan apa yang terjadi dengan Siri dengan historical yang dialami oleh orangtua nya dikala itu. Walau buku ini banyak memaparkan tentang dunia seni tapi banyak hal yang masih berbau hambar dan datar. Emosi yang dibangun juga ga begitu di dapat olehku🙂
Die indonesische Künstlerin Srikandi (Siri) Eilers kommt mit rund 50 Jahren nach Berlin, zu einem Zeitpunkt, zu dem Umbrüche ihr Leben bestimmen und vermutlich mit dem Wunsch, Brücken hinter sich abzubrechen. Siri hat in den USA studiert und länger in London und Madrid gelebt. Erst kürzlich hat sie erfahren, dass der Deutschamerikaner, der für ihre Mutter zum Islam konvertierte, nicht ihr leiblicher Vater ist. Ihr Vater Bhisma war als politischer Häftling auf der indonesischen Insel Buru interniert. Als das Gefangenenlager 1979 aufgelöst wird, bleibt er als Arzt auf der Insel und kehrt nicht wieder zu Frau und Kind zurück. Sowohl Adalhard Eilers, Siris sozialer Vater, als auch ihr Ehemann Riaz sind inzwischen verstorben. Riaz brachte damals eine erst zweijährige Tochter mit in die Ehe, die heute fast 30 ist. So wie Siri von Amalia erzählt, entstand bei mir der Eindruck, dass sie Riaz u. a. wegen Amalia geheiratet hat. In Berlin lebt sich Siri erstaunlich schnell ein, findet eine Atelierwohnung, verliebt sich in einen Konzertpianisten und trifft eine Mentorin, um die Zeit zu überbrücken, bis sie von einer Galerie vertreten wird.
Besucher nehmen eine Stadt oft intensiv auf und nehmen Dinge wahr, die den Einwohnern entgehen. Was Siri in Berlin entdeckt und welche Menschen sie trifft, erzählt Laksmi Pamuntjak sehr dicht aus der Ichperspektive Siris, wenn auch Siri für meinen Geschmack zu problemlos Fuß fasst und alles etwas zu glatt verläuft. Nach mehr als der Hälfte des Romans fragte ich mich, wohin die üppig mäandernde Erzählung eigentlich führen soll. Bemerkenswert fand ich bis dahin, wie zugewandt Siri Frauen gegenüber ist, wie ernsthaft sie von ihrer umschwärmten Lehrerin erzählt und von ihrer Schulfreundin Dara. Man könnte durchaus auf die Idee kommen, dass Siri Frauen liebt und mit Riaz eine Vernunftehe einging. Wie Siri über ihre Mutter schreibt, verdient auf jeden Fall die Aufmerksamkeit der Leser. Während Siri Berlin entdeckt, hätte ihr eigentliches Leben in Jakarta stattfinden sollen. Siri hat dort eine Ausstellung vorbereitet, die sich höchst kritisch mit Männer- und Frauenkörpern auseinandersetzt und die Frage aufwirft, was eine Frau zur Frau und was einen Mann zum Mann macht. In einem mehrheitlich islamischen Vielvölkerstaat ein gewagtes Projekt, das prompt bereits vor der Eröffnung Aufsehen erregt.
Als weitere Icherzähler tauchen im zweiten, kürzeren Teil des Romans Siris Freundin Dara auf (die in Indonesien für eine Wohlfahrtsorganisation arbeitet) und Daras Bruder Arif, der mit Amalia ein Kind gezeugt hat, das er nicht vorhat, aufzuziehen. Dara, von der man in ihrer Kindheit Dankbarkeit erwartete, dass sie als Muslimin eine katholische Schule besuchen durfte, bringt ein flottes Erzähltempo in die Handlung. Das komplizierte Verhältnis der Freundinnen empfand ich als Kern des Romans und als viel zu kurz gegenüber dem Berlin-Teil. Wie sich die Beziehung einer finanziell abgesicherten, auf internationalem Parkett erfahrenen Künstlerin und einer Frau entwickelt, die lange ohne Kopftuch in ihrem Stadtteil das Haus nicht verlassen konnte, hat mich stark gefesselt. Diese Freundschaft unter erschwerten Bedingungen führt nach m. A. zu vielen Fragen, u. a. danach, was Kunst verändern kann, welchen Anteil Siri an einer Modernisierung Indonesiens haben könnte, wie überhaupt Politik, Religion und Kunst miteinander agieren und welche Rolle in diesem Dreieck der Islam spielt. Wer sich für den historischen Hintergrund der Ereignisse interessiert, kann anhand der Jahreszahlen die Handlung problemlos zeitlich einordnen.
Laksmi Pamuntjak charakterisiert innerhalb einer Gruppe kinderloser Personen (Siri, Dara, Matthias) mit ihrer Icherzählerin Siri eine moderne Bindestrich-Identität. Ihre aus „Alle Farben Rot“ vertraute mäandernde Erzählweise stellt dabei einige Anforderungen an die Konzentration ihrer Leser.
Salah satu karya sastra paling indah yang pernah aku baca. Laksmi menggambarkan suasana dengan begitu detail dan bahkan aku bisa membayangkan apartemen, rumah, maupun ekspresi Srikandi pada setiap scene dalam buku. Alurnya lambat karena banyaknya detail yang dipaparkan dalam buku. Selain itu, perasaan dan ekspresi setiap karakter dalam buku terasa nyata dan dekat, karena penggambarannya begitu hidup, baik melalui detail yang dipaparkan Laksmi maupun cara berbicara dan berpikir mereka. Respon karakter terhadap situasi juga dijelaskan begitu detail, hingga rasanya seperti menonton film, bukan membaca buku. Tapi, di lain sisi aku merasa beberapa konflik belum begitu jelas akar permasalahan dan bagaimana hal tersebut bisa menjadi konflik yang kompleks.
Unlike most translated SEA works of literature, 'Fall Baby' was translated by the author herself, Laksmi Pamuntjak. Originally titled 'Kekasih Musim Gugur' in Bahasa Indonesia, 'Fall Baby' was the story of Siri, the daughter of Amba and Bhisma from her previous award-winning novel 'Amba' ('The Question of Red').
Siri was a fine artist who struggled to continue making art while starting a new life in Berlin after a series of situations related to her work, family, and friends; the poor relationship with her mom, the discovery of her origins, and the controversy of her artworks. The story was also told from another point of view, Dara Adjie's, an activist coming from a religious leader family who had used to be Siri's best friend.
The whole story involves the art industry, Indonesia's political situation including the political imprisonment of those related to the communist movement in the 1960s, the New Order Regime under Suharto, to the current political situation where religion has more power to limit artistic freedom and allow polygamous marriage.
Laksmi Pamuntjak is undoubtedly good at describing things; people, memories, feeling, sex or artworks. Her lyrical descriptions are beautiful both in English and Bahasa Indonesia. Like how she described Edvard Munch's painting 'The Sick Child' or Berlin as a city. However, this tendency to describe things beautifully probably makes this novel longer than it should be for some people. The main premise is not that strong so if you're into fast-paced stories with urgencies in every part of the story, this book might be a bit slow, especially since there is more than one focus here.
Well, if you love complex relationships or are interested in art industry, this book is perfect for you!
'Fall Baby' received Singapore Book Award as Best Literary Work in 2020. It is also available on Kindle.
so much time to read this 400s book. but sorry i prefer Amba a lot. the hisfic in Amba just my favorit. tapi aku masih menikmati buku ini sebagai hiburan dan aku masih kagum sama gaya bahasa yg Ibu Laksmi gunakan. ada 2 sudut pandang di buku ini, dari Siri dan Dara, meski memakai orang pertama semua tapi entah kenapa gaya cerita yg dipake soalnya aku bisa bedain dan pov Siri lebih berat bahasanya. istilah-istilah yg dipake pun kebanyakan aku gak tau😭 untuk pov Dara ini mengalir dan page turner karena karakter dia berapi-api jg kan, jd pas.
kayanya inti dari cerita ini adalah hubungan ibu dan anak dengan trauma masa lalu baik dari si ibu dan si anak itu sendiri. anaknya punya daddy issue dan (agak) benci ibunya padahal karakter mereka hampir sama. kebanyakan begitu gak sih (wkwk).
tapi aku masih menyayangkan, aku masih belum nangkep arti dari kekasih musim gugur itu sendiri dari cerita ini tuh apa. sepertinya aku butuh diskusi.
Novel ini agak sedikit berkaitan dengan novel Amba tetapi nggak sampai seluruhnya menjadu bagian dari novel Amba. Sudut pandang digunakan sudut pandang pertama antara Siri dan Dara
Konflik di novel ini gak terlalu membahana kayak kebanyakan tokoh yg punya masalah dgn orang tua. Banyak konflik kecemburuan juga di novel ini. Hanya saja, setiap sudut pandang berganti antara Siri dan Dara, itu sangat terlihat jelas. Si siri yang terlalu pintar seni dan si dara yang terlalu politis. Bahkan ketika saya ada di sudut pandang Siri, saya sudah melihat jelas karaktrr siri yang egois, terlalu cerdas dengan seni sampai kadang-kadang, saya bingung maksud dari pola pikir Siri.
Hanya saja, konfliknya bukan dari segi bacaanku. This book isnt my cup of tea. Aku lebih tertarik ketika Siri memyangkutkan kisah amba dalam ceritanya. Hahaha. I am sorry. But i give this novel 3.5
Sedikit memberi ekspektasi tinggi terhadap novel ini, karena saya sangat menyukai novel Amba.
Well, novel ini tetap menarik dengan penggunaan dua POV, Siri dan Dara. Rasanya menjadi lebih dekat dengan karakter dari dua tokoh tersebut. Yah, meski saya sebal dengan karakter Siri. Tapi saya suka karakter Dara! Hahahaha.
Sayangnya, tiada konflik yang dijadikan titik beratnya. Padahal di dalam ceritanya telah menyenggol banyak kritik sosial yang—menurut saya—semestinya dapat dieksekusi lebih jauh oleh penulis. Mbak Laksmi sepertinya lebih menekankan pada pergolakan batin yang harus dihadapi oleh Siri dan Dara.
Bagaimanapun, diksi-diksi yang dipakai penulis tetap bisa menghipnotis saya untuk tetap menikmati baca novel ini. Saya belajar banyak tentang dunia seni lukis dari novel ini :)
Aku dibuat jatuh cinta dengan kisah Amba, dan karenanya punya ekspektasi yang lumayan tinggi untuk buku ini. Tapi ternyata aku nggak bisa membuat diriku menikmati kisah Siri dan Dara seperti aku menikmati Amba. Terasa terlalu datar tapi juga agak bertele-tele. Meski begitu, aku tetap terpukau dengan gaya penulisan Laksmi Pamuntjak yang indah.
Saya memberikan buku ini nilai tiga bintang sebagian besar karena gaya penulisan Laksmi Pamuntjak yang selalu berhasil membuat saya terpesona. Puitis dan kalem, seperti itu gaya Laksmi menulis. Namun, untuk ceritanya sendiri saya merasakan Kekasih Musim Gugur kurang solid.
Ceritanya melihat dari dua sudut pandang, yaitu Siri dan Dara. Dua orang mantan sahabat, yang mungkin juga pernah menjadi kekasih, berubah menjadi musuh. Dan cerita keduanya berkelindan karena Amalia, anak tiri Siri, yang menjadi perempuan selingkuhan Arif, adik kandung Dara. Dari perselingkuhan itu menyebabkan Amalia hamil.
Saya melihat Kekasih Musim Gugur terlalu bertele-tele dan tidak fokus pada satu hal apa yang ingin disampaikan. Ia seolah ingin menyampaikan bahwa ada korban 1965 yang hidupnya dan hidup keluarganya menjadi kacau sampai sekarang, Pemerintah yang gemar melakukan sensor terhadap karya seni, posisi perempuan yang hamil di luar nikah akan selalu dirugikan di Indonesia, hubungan ibu-anak yang pelik, kemarahan terpendam ke mantan, dan entah apa lagi.
Karena Siri juga digambarkan sebagai seorang artis (perupa), buku ini jadinya banyak menceritakan seluk-beluk dunia seni. Dan dunia seni seperti lukis, pahat, dan sejenisnya merupakan dunia yang sangat jauh dari saya sehingga saya tidak mengerti sehingga saya tidak merasa terkoneksi dengan buku ini, terutama dengan Siri. Seperti ada jarak yang jauh antara saya dengan Siri. Sayangnya, sebagus apapun Laksmi mencoba untuk menceritakan, saya tetap tidak tergugah untuk tertarik dengan dunia Siri, misalnya dengan mencari tahu. Bisa juga itu adalah penyebab buku ini terasa sedikit membosankan buat saya.
Namun, setidaknya ada satu hal yang menjadi catatan khusus buat saya. Ketika di bagian membahas kehamilan Amalia. Mau dibahas dari sisi manapun, tetap saja perempuan yang dirugikan. Kita kesampingkan dulu soal Amalia yang hamil karena dia mau jadi selingkuhan pria beristri. Akan ada tempatnya buat saya marah-marah ke dia.
Jadi begini, jika Amalia dinikahkan dengan Arif, maka ia akan menjadi istri kedua dan itu akan menyakiti hati Adinda, istri Arif. Jika Amalia tidak dinikahkan, maka pandangan masyarakat akan sinis terhadap Amalia.
Sekarang bagian marah-marahnya. Yang bikin emosi, kurang ajar sekali ketika Arif kirim surat elektronik ke Amalia, yang isinya kira-kira semacam kalau dia tidak menyesal karena telah mencium Amalia (atau mungkin sudah melakukan lebih dari ciuman ya? Ini ceritanya waktu mereka pertama kali saling tergoda), tetapi justru dia sangat bahagia. Kampret. Dan ketika perselingkuhan itu membuahkan kehamilan, jadi pusing semua kan. Wkwk.
Sudahlah, memang paling benar jangan selingkuh. Biar tidak pusing.
Selama ini, saya tak pernah bisa menikmati seni rupa dan sering mempertanyakan bagaimana pecinta senirupa menemukan kenikmatannya dengan itu. Sedikit banyak Siri memberi gambarannya. , lewat lukisan lukisan favoritnya dan bagaimana ia menghayatinya, lewat proses proses kreatifnya berkarya yang dideliver dengan baik oleh Laksmi. Beberapa lukisan yang Siri sebut saya google. Melihat lukisannya, lalu membandingkan apa yg Siri lihat di lukisan itu tetapi tidak saya lihat, menarik sekali.
Selama hampir 9 bab pertama, dengan menggunakan 2 pov bergantian antara Siri yang seniman dan Dara yang aktivis perempuan, saya tak kunjung merasakan terikat atau tersedot ke dalam karakter siapapun di cerita ini. Siri hanya mengijinkan pembaca berputar putar pada karya2nya, sisi sisi kesenimanannya yang luar biasa, karya karyanya. Luas, cerdas, tapi terasa berjarak saat dibaca.
Baru pada bab ke 10, lewat medium percakapan Siri dan Nina, diawali oleh sebuah pertanyaan paling klise buat seorang wanita: Siapakah lelaki yang paling kau cintai? Maka sisi personal Siri seperti mengalir rela, rapi, konsisten membuka diri. Saya terpana. Dengan rangkaian kata2 yang elegan dan sungguh mendetail (ciri khas Laksmi) melukiskan sesuatu yang sebenarnya tidak baru, tapi seakan2 baru Laksmi yang bisa membahasai kejadian seperti itu dengan jelas, akurat, dan apa adanya.
Dibanding "Amba", "Kekasih Musim Gugur" lebih memuat banyak dimensi. Ritmenya lebih slow, dan karenanya lebih deras yang bisa dilihat sepanjang membaca. Bahasanya secara keseruhan lebih kontemplatif daripada naratif. Lebih banyak jenis ikatan yang dibedah disini. Hubungan ibu dan anak, hubungan persahabatan, hubungan murid dan guru, dan tentu saja hubungan asmara. Semua di eksplore Laksmi sama dalamnya, sama intensnya, sama anti - mainstream nya. Sebagai wanita, dibanding Amba, Siri lebih kalkulatif, lebih rasional, lebih powerful di hadapan cinta.
Aku selalu menyukai sesuatu yang cantik dan anggun. Entah itu lukisan, instrumen lagu, arsitektur kota di Eropa, pemandangan alam beserta warna-warninya, ataupun dalam artian seharfiah wanita yang cantik dan anggun. Buku ini salah satu dari banyaknya hal yang kecantikannya membuatku terpana; tak bosan-bosan, terlepas dari alurnya yang memang terkesan bertele-tele, namun aku menikmati suasana yang Laksmi ciptakan dalam buku ini. Darinya aku belajar. Darinya aku memperoleh suatu ketertarikan antara jiwaku dengan buku ini. Ada pesona tersendiri yang bahkan hatiku menyisakan tempat spesial agar buku ini dapat bersemayam di dalamnya. Akhir ceritanya sederhana dan memang sudah terbaca sejak awal (bagiku), namun aku takjub akan betapa kayanya buku ini dengan berbagai informasi seni, sejarah, politik, isu feminisme dan sosial, HAM, serta patriotisme yang menurutku lumayan kompleks saat disatukan; namun entah mengapa menonjol dengan caranya masing-masing.
Leila S. Chudori benar. Bahwa, "Kita tak akan bisa berhenti membaca novel ini hingga halaman terakhir..."
Karakterisasi Siri begitu membekas di benakku, penyebabnya karena aku bisa menemukan sebagian dari diriku ada pada dirinya. Salah satunya, aku dan dia senantiasa menyatakan tak butuh akan hadirnya laki-laki namun sebenarnya kami sama-sama takut jika harus terus hidup sendiri. Aku mengagumi Srikandi Eilers yang liar namun anggun. Ia dewasa namun suka diayomi, berjiwa bebas namun tahu bagaimana caranya untuk memosisikan diri. Aku mengaguminya dengan segala penerimaan atas kekurangannya.
#reviewdiction 📍Kekasih Musim Gugur 📝 Laksmi Pamuntjak @laksmiwrites 📚 @bukugpu 📖 442 hal. 📅 2020 Read on @gramediadigital
"Jangan murung begitu. Kadang segala sesuatu telah digariskan. Aku percaya itu, meskipun aku tak percaya pada nasib."
Kekasih Musim Gugur berkisah tentang Dara dan Srikandi (Siri). Sang seniman dan aktivis politik. Bertahun-tahun Siri mengembara ke berbagai belahan dunia, hingga menetapkan hidupnya di Berlin. Nyatanya, kembali ke tanah air menjadi hal yang harus dilakukan ketika berita mengejutkan itu tiba.
Menghadapi realita keluarganya yang pedih dan permasalahan kompleks antara seni rupa, politik, dan sejarah, membuat Siri harus memaknai ulang hubungannya dengan orang-orang terdekatnya dan sejarah hidupnya.
Saya punya ekspektasi yang cukup tinggi saat tahu kalau buku ini adalah sekuel dari Amba (and I really like it). Tapi, begitu membacanya saya merasa ada sesuatu yang kurang. Entah mungkin konflik yang dihadirkan pada novel Amba lebih berkesan di satu sisi. Bukan berarti Kekasih Musim Gugur tidak menarik. Tentu keduanya punya daya tarik sendiri.
Saya melihat Kekasih Musim Gugur sebagai sebuah petualangan Siri, pencarian jawaban atas kehidupan yang selama ini ia pertanyakan, dan sebuah pergulatan batin Siri. Pemilihan sudut pandang pertama, dan banyaknya dialog yang dinarasikan melalui Siri juga jadi keunikan tersendiri. Isu-isu agama, politik, dan seni, serta sisi psikologis diceritakan dengan sangat utuh. Secara personal, saya suka.
Bagi saya, kayaknya novel ini butuh saya baca lebih dari sekali. Entah karena diksinya yang sangat liritis, pemahamannya jadi butuh ekstra. Dan pembacaan pertama ini, cukup menguras waktu dan tenaga. .
Buku ini seperti perpaduan hal-hal yang penulis sukai--seni, gaya hidup, aktivisme, kemanusiaan--dengan perbaikan teknik bercerita dari karya sebelumnya. Saya rasa, ini seperti perbaikan dari Aruna & Lidahnya, namun dengan pernak-pernik dan permasalahan yang lebih nyambung.
Bercerita tentang Siri, putri Amba dan Bhisma, yang berprofesi sebagai perupa. Perjalanan kariernya sebagian besar berada di luar negeri, dan kini ia sedang ada di Berlin dengan inspirasi yang mandeg. Lalu ada Dara, teman sekolah Siri yang berprofesi sebagai aktivis. Mengagumi dan membenci Siri sekaligus, namun tidak kepada anaknya. Kemudian Amalia, anak tiri Siri yang bekerja di kantor Dara. Sumber konflik dalam buku ini.
Beneran, akar konflik itu memang ada di Amalia. Dia bisa jadi berusia 28 tahun, tetapi dia digambakan sebagai anak manis dan mandiri yang kemudian mendatangkan masalah. Masalah untuk Siri yang terancam tidak bisa pameran. Masalah untuk Dara terkait keluarganya. Amalia mempertemukan Siri dan Dara setelah sekian lama tidak berjumpa.
Saya suka gaya penceritaannya. Suka monolog Siri tentang dunia seni rupa. Suka cara penulis menggambarkan persepsi Siri dan Dara tentang seseorang. Kalau dari segi konflik, memang ujung-ujungnya agak underwhelming, tapi ya ngga papa karena hidup di dunia nyata juga demikian. Selain itu juga sangat tertolong oleh strategi plot maju-mundur yang mengatur perhatian pembaca bagai dipasangi kacamata kuda.
Following Amba, this book focused on her two next generations. Facing inner conflict of her identity, the journey, and the process of her finding the right path. How to become someone that will always remember where she came from and who she is. How things couldn’t be clearly divided into black and white, but in a lot of colors - there is no pure good and bad, there are a lot of perspectives that we should explore to decide which is the better good. The story took place in a more modern era, and it also shows the shifting of people's mindsets throughout the years. The story is described in a more poetic way - with a lot of analogy and prose diction. This book took an artist's perspective, so how things are explained is expressive (use of colors in relation to her feelings or how she valued others). Some are delivered in a complex expressive sentence, very secretive in an elegant way. This might be the excellent point of the book, yet it could also be the flaws - the probability of readers couldn’t depict the purpose of the sentence.
Merupakan kisah tentang Siri, anak dari Amba (novel pertama Laksmi Pamutjak). Meskipun merupakan kisah yang berdiri sendiri dari buku sebelumnya, tapi ada beberapa poin yang berhubungan dengan masa lalu Amba yang rasanya cukup berkaitan di bagian akhir cerita. Cerita disajukan lewat dua sudut pandang, Siri dan Dara, (mantan) sahabat Siri. Konflik bermula ketika Amali, anak tiri Siri ternyata memiliki hubungan dengan Arif, adik Dara. Padahal, Siri dan Dara sudah lama tidak berbaikan. Rasanya sungguh melegakan sekali bisa selesai baca Kekasih Musim Gugur. Terlalu banyak monolog, yang terkadang membuat bingung: ini lagi ngomong dalam hati atau lagi menceritakan sesuatu? Selain itu alur yang lambat membuat cerita terasa semakin membosankan. Akupun setuju jika ada yang mengatakan konfliknya kurang kuat. Bisa jadi karena mengusung tentang dunia seni (seni rupa dan seni lukis) tidak banyak dijadikan poin dalam cerita fiksi. I don't think i enjoy reading this. Tapi ga mau dnf juga, kan sayang... Dapetnya rebutan di iPusnas masa dilepas begitu aja.
Awalnya, aku kecewa. Satu tahun lebih aku menantikan novel ini--setelah dibikin sesek napas sama prequelnya, Amba--dan berharap mendapati hal yang nggak kalah 'wah' dari pendahulunya itu. Sayangnya, ekspektasi ya tinggal ekspektasi, sebab novel ini sejenis bacaan yang tak perlu kamu baca jika kamu haus bacaan berkonflik yang tampak jelas di permukaan, yang menyedotmu untuk menghabiskan waktu sebagaimana kamu menonton seri thriller sialan yang menahan dan tak memperbolehkanmu untuk beranjak. Nggak, aku nggak bilang ini novel yang buruk. Beberapa saat yang lalu aku menamatkannya, dan menyadari bahwa, novel ini indah di medan yang lain: Kekuatan bahasa yang tampil dengan dua bilah pedang, liris nan mengiris dan bertenaga nan mengentak. Dan di titik inilah aku mengambil sikap, aku kecewa atas ekspektasiku, tapi aku pun puas atas jalinan kisah yang cerdas dan melenakan yang dihadirkan novel ini.
Kekasih Musim Gugur karya Laksmi Pamuntjak merupakan spin-off dari novel Amba, namun berbeda dengan novel pendahulunya; Amba. Dalam Kekasih Musim Gugur, penulis banyak menghadirkan tokoh-tokoh perempuan yang latar belakangnya berbeda namun garis interaksinya membawa mereka pada satu titik permasalahan yang sama. Rahasia mengantarkan tokoh Siri untuk kembali memaknai hubungannya dengan Amba; Ibunya , Dara; sahabatnya juga dengan Amalia; anak tirinya. Ketika pameran tunggal karya Siri terpaksa batal karena dianggap melanggar norma asusila , melalui pandangan kedua tokoh utama yaitu Siri dan Dara, dinamika yang tersaji dalam cerita menggambarkan kompleksitas Politik, Agama, Seni dan Budaya di Indonesia. Beberapa argumentasi feminisme juga hadir melalui narasi yang dibawakan oleh kedua tokoh.
"Perempuan memang dilahirkan lebih tangguh ketimbang laki-laki. Dan dengan paradoks itulah aku hidup..." - Siri
Baca di GD lama banget akhirnya terselesaikan juga.
Dengan sudut pandang dua perempuan, Siri dan Dara. Novel ini menuturkan bagaimana mereka menyikapi akan dunia yg kejam. Pada awal bab aku masih belum bisa membedakan antara suara Siri dan Dara. Namun, seiring cerita aku mulai paham. Penggambaran antara Berlin dan Jakarta-nya pas sekali, begitu juga dengan riset kerjaan Dara dan Siri. Syukurnya yang nggak ikutin Amba, bisa langsung baca ini karena memang sekuel nggak langsung.
Kekurangan dari novel ini adalah plotnya lamban banget hampir dragging. Mana tulisannya kecil-kecil pula (mungkin biar intinya masuk tanpa ngorbanin halaman). Jadi baca novel ini berasa slice of life versi murung. Eman sekali, padahal plotnya termasuk kokoh. Terlalu banyak narasi juga bikin eneg yang baca, maka dari itu bacaan ini kurang cocok bagi yg suka sama dialog banyak-banyak.
Honestly, this book has compelling characters and each one is built with depth and strength. One of the sweetest aspects of this book is how the author manages to intertwine art, politics, and culture into a story of love and friendship that supports and uplifts each character.
The conflict involving the character Siri is particularly urgent, as the author delves into a deeply human perspective, exploring the ironic nature of human greed and selfishness. As a person who growth with this inconstitucional country, I really apreciated how the author taking this issues to this book. Reminds me of something.
However, there are several sentences in the book that might be difficult for the average reader to grasp. Even so, this doesn’t detract from the ability to enjoy the overall story presented in the book.
Buku pertama yang aku baca pada tahun 2025. Aku sempat reading slump lama banget baca ini. Sepertinya, ada deh setahunan. Akhirnya, tahun ini selesai juga. Aku tertarik membaca buku ini karena Amba, sequel-nya yang pertama. Buku ini mengisahkan tentang Srikandi Eilers, anak dari Amba dan Bhisma dari novel Amba. Latar belakang cerita berbeda, jika Amba berlatar era 60-an. Kekasih Musim Gugur tahun 2000-an. Novel ini mengisahkan relasi antara Siri dengan ibunya(Amba), Amalia (anak tirinya), Dara (mantan sahabatnya). Juga latar belakang Siri sebagai seorang perupa. Bagaimana dinamika menjadi seorang seniman rupa di era 2000-an ini yang masih saja mendapat represi dari pemerintah ataupun golongan tertentu aku tidak begitu menikmati novel ini layaknya Amba. Mungkin suatu hari aku perlu membacanya ulang sehingga aku mendapatkan pengalaman lain.
Saya pikir, Amba dan Kekasih Musim Gugur tidak bisa dibandingkan apple to apple. Saya cukup menikmati kisah dan cerita Dara & Siri (anak perempuan Amba) yang berdiri sendiri tanpa bayang - bayang Ibunya. Ia memiliki kehidupan sendiri dengan segala tantangannya. Secara personal, novel ini berhasil "nyolek" deepest soul kita, tentang bagaimana kita memaknai ulang hidup seandainya di usia dewasa kita baru disadarkan bahwa kita bukanlah anak kandung dari Ibu yang selama ini membesarkan?
Konflik personal dengan diri, keluarga & bangsa yang mengakar kuat karena pemahaman ketimpangan yang terjadi di Indonesia juga memengaruhi pemikiran dan idealisme keduanya. Kita juga akan diajak mengenal dunia seni rupa yang terinspirasi dari keberadaan candi - candi kuno di Indonesia. Well written.
tidak ada yang perlu diragukan tentang kecantikan penulisan mbak laksmi. sebenarnya ini pertama kali aku membaca buku beliau. dari awal aku bisa menangkap kecantikan di setiap katanya, aku menikmati.
namun sepertinya, buku ini tidak cocok untukku karena aku merasa tidak nyaman setelah tenggelam dalam topik dan apa yang dibahas di dalamnya. terasa salah, terasa terlalu keluar. aku tidak begitu suka.
alurnya cenderung lambat, banyak sekali monolog yang ada di buku ini. sehingga, sempat awal-awal karena tidak ada dialog sama sekali aku sudah ragu tidak dapat menyelesaikannya, namun karema kemagisan penyusunan kata-kata mbak laksmi aku berhasil masuk dan selesai meski di tengah-tengah aku sudah ingin menyerah.