Jump to ratings and reviews
Rate this book

Orang-orang Biasa #1

Orang-orang Biasa

Rate this book
Pencurian malam hari; 2
Pencurian siang hari; 3
Pencurian sendiri; 1
Pencurian bersama-sama; 1
Pencurian dengan pemberatan; 0
Pencurian kendaraan bermotor; 1 Sebatang kapur dan penghapus tergeletak di bawah papan tulis itu. Tampak benar telah sangat lama tak dipakai. Demikian minim angka-angka itu sehingga tak bisa dijadikan diagram batang, diagram kue cucur atau diagram naik-naik ke puncak bukit. Rupanya di kota ini, penduduknya telah lupa cara berbuat jahat.

Mata Inspektur semakin sendu menatap papan tulis itu. Keadaan yang tenteram ini perlahan-lahan akan membuat polisi di dalam dirinya terlena, lalu terbaring, lalu pingsan, lalu mati. Inspektur sungguh khawatir. Wahai kaum maling, ke manakah gerangan kalian? Untuk pertama kalinya, Andrea Hirata menulis novel dalam genre kejahatan. Dalam novel istimewa ini, pembaca akan berjumpa tokoh-tokoh unik dengan pikiran menakjubkan. Dari mereka, kita akan belajar betapa mudahnya bahagia karena hal-hal sederhana.

301 pages, Paperback

First published March 1, 2019

270 people are currently reading
2576 people want to read

About the author

Andrea Hirata

22 books2,435 followers
Under a bright sunny sky, the three-day Byron Bay Writers’ Festival welcomed Andrea Hirata who charmed audiences with his modesty and gracious behavior during two sessions.

Andrea also attended a special event where he and Tim Baker, an Australian surfing writer, spoke to a gathering of several hundred school children. During one session, Andrea was on a panel with Pulitzer Prize winning journalist from Washington, DC, Katharine Boo, which he said was a great honor.

The August event for the school children was very meaningful to Andrea, the barefooted boy from Belitung, as he made mental comparisons with the educational opportunities of these children, compared to what he experienced.

And now his own life story is about to become even more amazing, as his book Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) is being published around the world in no less than twenty-four countries and in 12 languages. It has caught the eye of some of the world’s top publishing houses, such as Penguin, Random House, Farrar, Straus and Giroux, (New York, US) and many others. Translations are already on sale in Brazil, Taiwan, South Korea and Malaysia.

All this has come about because of the feeling of appreciation that the young Andrea felt for his teacher, Muslimah. He promised her that he’d write a book for her someday. This was because for him and his school friends, a book was the most valuable thing they could think of.

Andrea told a story that illustrated this fact. When royalties flowed in for him he decided to give his community a library. He spent a lot of money on books. He left the village headman in charge of administering the library. However, when he came back several months later, all the books were gone. People loved the books, but they had no concept of how a lending library functioned.

“Some of them could not even read, but they just loved to have a book, an object of great value and importance, in their homes. We will restock the library with books and this time it will be run by our own administration,” he laughed.

Andrea told this story as we sat in the coffee shop adjoining a Gold Coast City Library, one of 12 scattered around the city. One of the librarians, Jenneth Duque, showed him around the library, including the new state-of-the-art book sorting machine, for processing returns located in the staff area. As he saw the books being returned through pigeonholes by the borrowers and the computerized conveyor belt sorting them into the correct bin for reshelving, the sight made him laugh and prompted the telling of that story.

Andrea wrote the book for his teacher while in the employ of Telkom, but the completed manuscript was taken from his room, which was located in a Bandung student accommodation community. Whoever took the manuscript knew enough to send it to a publisher and that’s how Andrea, an unhappy postal service worker who had studied economics in Europe and the UK, became the accidental author of the biggest selling novel in Indonesia’s history.

He has since written seven more books.

Fast forward to 2011 and Andrea was in Iowa, the US, where he did a reading of his short story, The Dry Season. He was approached by an independent literary agent, Kathleen Anderson. They talked, but for six months there was no news until an email arrived telling him that one of the best publishers in the US, Farrar, Straus and Giroux, had accepted his book.

Then every week, more publishers said “yes” and now he has 24 contracts from the world’s leading publishers.

Andrea worked with Angie Kilbane of the US on the English translations of Laskar Pelangi and its sequel Sang Pemimpi (The Dreamer). Translators from several other countries have visited his home village in Belitung to do research.

“For a long time I wondered what was the key to the enormous success of my book,” Andrea said.

“I think there’s no single right answer. Perhaps people are fed up with writing focused on urban issues or esca

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1,199 (47%)
4 stars
928 (36%)
3 stars
319 (12%)
2 stars
47 (1%)
1 star
31 (1%)
Displaying 1 - 30 of 545 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
October 23, 2019
HADDEEEEEEH!
Bolehlah ya, saya mengumpat sedikit! Mengapa? Saya itu bukan pembenci karya-karya Andrea Hirata--AH, saya baca hampir semua. Tapi, kepercayaan saya yang tak ada artinya ini dipermainkan oleh AH dengan begitu entengnya. Di Jogja, akhir April kemarin saya sudah ngresulo kenapa sampul belakang buku tidak ada "buku ini bercerita tentang apa". Dari sini saja saya sudah dongkol. Ini penulis belagu sekali, merasa tidak perlu gitu mau ngasih kisi-kisi cerita. Dan buntutnya saya justru merasa AH berpikir kalau pembaca Indonesia tidak butuh cerita, yang penting ada sebundel kertas dijilid dikasih namanya di sampul dan dijual. Mungkin AH mikir, "nulis apa saja, bahkan buku tulis bersampul nama AH paling juga laku."

Saya urung beli di Jogja waktu itu. Dan kemarin betul, saya dikasih temen buku ini dan komentar saya seketika membuka sampul plastiknya adalah "A***SU! Ini AH penulis paling narsis se Indonesia Raya, se Jagat Raya!"

Bagaimana tidak? Sampul belakang isinya empat paragraf gendut riwayat hidup dan kariernya. Sampul depan ya sudah lah ya, bisa dilihat sendiri. Belum puas, kulit dalamnya masih dipenuhi buku-buku dia. Dan (INI YANG PALING BIKIN SEBEL DAN PENGEN BANTING!!!!) ada 30-an (cerita tamat di halaman 262 dan sisanya adalah katalog, hitung sendiri ya. Gw sudah sebel) sekian halaman berisi katalog buku-buku AH yang diterjemahkan di luar negeri. FTW!!!!!!

Kenapa saya benci banget dengan katalog ini? INi itu bukan soal buku ini, tetapi soal buku laskar pelangi dia. Helllooo!!!! Ini buku Orang-Orang Biasa! Rodo mikir dikit gimana sih ini! Beda soal kalau yang saya pegang adalah edisi baru cover baru Laskar Pelangi. Saya masih sedikit memaafkan. Ini, Asu tenan!

Sepertinya penulis-penulis Indonesia yang sudah diterjemahkan ke bahasa asing, juga nggak senarsis AH sebegininya. Aku bayangin AH menang nobel sastra, dia nerbitin katalog. Sudah kayak IKEA saja. Untung dia nggak bakal menang nobel! (Aminkan! Doa terzalimi!). JK Rowling saja sepertinya nggak masang semua cover edisi bahasa lain dari Harry Potter! AH! Apa sehebat itu? Apa mengalahkan JK Rowling, Marquez. Steinbeck!

Dan katalognya, duuuh norak banget deh!


OK! Kekesalan saya soal itu kita cukupkan. Saya berniat tetap memberi bintang 3 kalau ceritanya OK. Ceritanya.... wkwkwkwkwkwkwkkkk

Malesin! yang biasanya aku masih bisa tertawa di humor AH, kali ini nihil. Sumpah ceritanya Be-aja! Dan karena kekesalan itulah, saya mohon maaf harus bintang dua.


AH, berhentilah narsis! Narsislah pada porsinya.
Profile Image for Sharulnizam Yusof.
Author 1 book95 followers
May 19, 2019
Siap, tamat dibaca, kumendan!

Buku pertama untuk bulan Mei 2019. Penuh siap siaga aku, boi, membuka helai demi helai buku tulisan penulis kegemaranku sejak 2012 ini.

#1
Pertama kali, kumendan, kuberikan empat bintang untuk buku Andrea Hirata yang selama ini bukunya kuberi bintang lima.

#2
Ceritanya banyak, tapi temponya deras meluncur. Kisah 10 perampok, Inspektur Abdul Rojali, Sersan P. Arbi, Ibu Athikah, Dragonudin, Guru Akhir, Aini, kampret Mul; semua berebut mahu mencari perhatian pembaca. Mungkin, keramaian inilah yang dikatakan kisah Orang-orang Biasa seperti tajuknya.

#3
Mungkin cerita Inspektur Abdul Rojali yang berpendirian kukuh lebih menonjol, dan menjadi hero cerita OOB ini.

#4
Sebenarnya saya mengharapkan cerita 10 perampok lebih menyerlah, terutamanya Dinah dan Aini yang menjadi punca perampokan berlaku.

#5
Apa terjadi pada Ibu Athikah? Trio Bastardin dan Duo Boron? Ceritanya tergantung.

#6
Saya yakin ada mesej yang mahu disampaikan oleh AH melalui setiap watak (seperti Bastardin = Bastard? , Boron = Moron?), cuma kurang jelas dengan situasi yang mengelilingi AH.

#7
Seperti biasa, gaya penulisan AH tetap memikat. Personifikasi dalam penceritaannya memang tak terfikir dan selalunya melucukan.

#8
Orang-orang lugu sudah menjadi kemestian dalam setiap buku AH. Lugu, tapi membuatkan kita terfikir-fikir juga. Dan apabila lugu, cerita juga lebih berwarna. Aku suka sekali, bila Sobri berpantun ketika merampok, katanya gertakan bernuansa budaya lokal. Bukan main kau, boi.

#9
Kurang sedikit rasa puasnya kali ini. Mungkin kerana ada harapan tinggi menjangkakan buku ini boleh "menewaskan" buku beliau yang terdahulu.

#10
Boi, kenapa perlu 19 helai kertas kau bazirkan hanya untuk mencetak katalog buku Laskar Pelangi? Kenapa boi, kenapa?
Profile Image for Muhammad Akhyar.
Author 1 book39 followers
March 21, 2019
Saya bukanlah maniak novel. Tak banyak penulis yang saya tunggu-tunggu karyanya untuk kemudian ketika karyanya muncul tak putus-putus saya baca, satu hari atau dua hari. Andrea Hirata adalah satu dari sedikit penulis itu. Buku terbarunya ini adalah tahapan selanjutnya dari segi ide atau teknik menulis seorang Andrea Hirata. Buku ini bukanlah buku yang tepat bagi orang yang belum pernah membaca Andrea.

Tak bisa dipungkiri memang, karyanya yang paling laku dan diterjemahkan ke puluhan bahasa lain di dunia ini adalah Laskar Pelangi, tetapi dalam bayangan saya Dwilogi Padang Bulan, Ayah, Sirkus Pohon, dan terakhir Orang-Orang Biasa menunjukkan lanskap kelihaian lain dari seorang pendongeng bernama Andrea. Ia lebih moncer dalam mengisahkan banyak orang tanpa perlu bersusah payah menguat-nguatkan karakter tiap tokoh. Yang penting dari setiap tokoh itu adalah satu: berperan dalam mewujudkan misi yang ingin dicapai buku itu. Misi itu tak lain dan tak bukan adalah menyelamatkan orang-orang malang di dunia nyata dan menjadikannya pemenang di dunia fiksi. Andrea Hirata punya semacam idealisme kepenulisan, “fiksi adalah cara terbaik dalam menceritakan fakta” dan baginya “fiksi adalah cara berpikir”.

Pada Dwilogi Padang Bulan yang kalah adalah seorang janda. Ia menangkan perempuan malang itu dengan menjadikannya juara catur. Di Ayah yang kalah adalah pria yang cintanya ditampik perempuan pujaannya. Ia menangkan pria itu dengan kasih tulus anak yang tahu kalau ayahnya adalah ayah nomor satu di dunia, meski bukan ayah kandungnya. Di Sirkus Pohon yang kalah adalah bujang lapuk yang hidupnya morat-marit. Ia menangkan dengan menjadikan manusia itu mahir bermain sirkus. Di Orang-Orang Biasa yang kalah adalah 10 siswa goblok. Ia menangkan dengan menjadikan mereka (baca sendiri boi).
Profile Image for Qayiem Razali.
886 reviews84 followers
November 23, 2020
[141-2020]

#OrangOrangBiasa #AndreaHirata

Ah kagum sungguh saya dengan penulis Indonesia. Bagaimana mereka tidak perlukan elemen kahwin paksa, rampas harta dan tipikal elemen lain dalam novel Malaysia untuk menarik fokus pembaca. Cukup sekadar isu kemasyarakatan yang kita depani sehari-harian dalam membangun jalan cerita. Tapi itulah, andai kata cerita sebegini ditulis penulis di Malaysia, sukar untuk mendapat tempat.

Baiklah, berbalik pada kisah Orang-Orang Biasa, penulis membawa kita mengenal 10 watak yang berkawan semenjak zaman sekolah. Mereka bukanlah insan-insan hebat, tapi mereka masih mampu menjalani hidup seharian dan menginjak dewasa. Sehinggalah anak daripada salah seorang mereka ingin melanjutkan pelajaran dan memerlukan wang yang banyak. Walhal, mereka sendiri hidup dalam kemiskinan. Lalu, muncullah idea untuk melakukan rompakan bank. Bayangkan kesemuanya tidak pernah melakukan perbuatan jahat, bagaimanakah mereka ingin melaksanakan pelan itu? Apakah mereka akan berjaya?

Ceritanya ringkas sahaja, terus kepada poin utama, tiada simpang siur, tiada konflik yang meresahkan otak. Cukup sekadar satu isu, iaitu memastikan anak si sahabat berjaya melanjutkan impiannya menjadi doktor, membuatkan gerak cerita OOB ini sangat mengasyikkan. Buat yang rasa, apakah akan difahami bahasa yang digunakan memandangkan karya asalnya bahasa Indonesia, jangan risau kerana bahasanya mudah difahami. Tidaklah terlalu kompleks.

Tahniah buat Andrea Hirata dan rumah penerbitan Jejak Tarbiah atas penerbitan novel ini. Semoga penerbit JT menerbitkan karya-karya sebegini di masa hadapan.
Profile Image for Sulhan Habibi.
805 reviews62 followers
November 20, 2020
Buku ini seru.
Buku ini gokil.
Buku ini nggak bertele-tele.
Buku ini bikin ngakak.
Buku ini pesan moralnya bagus.
Buku ini bagussss..

Setelah membaca buku ini jadi ingin membaca kembali karya-karya Andrea Hirata lainnya.
Ngomong-ngomong, buku ini mengingatkanku akan film Comic 8, 24 Jam Bersama Gaspar, dan beberapa film tentang perampokan lainnya. Tapi, dengan sentuhan Andrea Hirata malah jadi semakin keren.
Profile Image for Haniva Zahra.
425 reviews43 followers
March 28, 2019
Pertama-tama saya setuju dengan tulisan di halaman muka, bahwa buku ini akan menjadi buku kedua Andrea Hirata yang laku dijual secara internasional, setelah Laskar Pelangi! Saya SUKA sekali buku ini! Pada awalnya saya merasa buku ini ditulis dengan semangat dan rasa getir pada kehidupan yang sepertinya tidak berpihak pada orang-orang biasa. Orang-orang di pedalaman atau di kota kecil yang sulit mendapatkan akses pendidikan tinggi. Orang-orang dalam jerat kemiskinan, kebodohan, dan menjadi lingkaran setan. Saya sedih sekali membaca halaman-halaman awal. Bahkan membaca latar belakang cerita mengapa buku ini dibuat membuat saya sedih sekali.

Saya jadi kepikiran mengenai lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan. Semacam lekat sulit dipisahkan. Kemiskinan berpengaruh pada banyak hal yang membuat seorang anak menjadi "bodoh" di sekolah atau waktu seorang anak untuk belajar di sekolah menjadi tidak berharga dibandingkan ikut orang tua mencari uang. Sebuah pengalaman yang sama dengan cerita Lintang di Laskar Pelangi. Saya ikut merasakan getir, betapa benar ada orang-orang biasa yang tidak mendapatkan hal yang sama lagi setara.

Meski begitu, tengah hingga akhir, saya tidak habis-habis senyum atau bahkan ter-kikik tertawa. Lucu sekali! Sampai-sampai buku ini rasanya lengkap. Laskar pelangi dulu adalah buku yang meng-inspirasi dan memotivasi. Buku ini mengaduk-aduk emosi!

Akhirnya? saya terpukau sih sampai-sampai tidak terasa buku ini selesai saya baca.
buku ini WAJIB dibaca penikmat fiksi, bagi yang jatuh cinta dengan novel Ayah, buku ini hampir serupa bahkan bagi feminis seperti saya, buku ini lebih sesuai bagi saya.

Saya suka sekali buku ini mengingatkan saya pentingnya menjaga integritas. Saya seringkali berusaha menjaga sikap integritas mulai dari hal-hal kecil. Saya berusaha dan buku ini mengingatkan. Kesulitan ekonomi tidak menjadi alasan dari seorang tidak mampu menjaga integritas, tapi kelemahan mental.

Tips: bagi yang ingin juga membaca buku ini, bacalah dengan santai. Ikuti saranku: tidak perlu kau pusing dengan banyaknya tokoh, tidak perlu kau ingat siapa ini siapa itu, baca mengalir saja. Penokohan tidak sangat penting dalam buku ini.
Profile Image for Nadia.
110 reviews53 followers
June 28, 2021
"Bermimpi itu percuma, namun merealisasikannya ada bayaran"

Jika dalam Guru Aini, kita soroti ketekunan Aini mempelajari matematik demi mengejar citanya menjadi seorang doktor, dalam Orang-Orang Biasa pula, kita ikuti kisah perompakan bank oleh 10 sekawan yang hajatnya hanya mahu membantu biaya anak sahabat mereka, Dinah iaitu Aini masuk ke fakulti perubatan. Secara halus, karya ini menempelak institusi pendidikan yang tidak berpihak kepada anak-anak cerdas yang tersepit dek kemiskinan.

10 sahabat, orang-orang biasa yang hanya golongan bangku belakang di sekolah, polos dan naif, namun berjiwa besar. Watak mereka sememangnya sangat lucu, pelbagai kerenah dan ragam tersendiri yang akan membuat pembaca tersenyum panjang dari awal hingga akhir! Si inspektor dan Sarjan yang mengetuai kes rompakan ini juga tak kurang lucunya, pendek kata karya ini penuh humor. Percayalah😂

Walaupun ini karya terjemahan, bagi saya tiada yang kurang, masih mengekalkan lenggok Indonesia penulis, dan lebih mesra dengan pembaca Malaysia. Jika Guru Aini meruntun hati, dan penuh pengajaran, karya ini pula penuh jenaka, sangat sesuai buat mereka yang mencari bacaan humor yang segar dan menghiburkan. Jadi, mampukah sekawanan perompak amatur ini melaksanakan misi rompakan mereka? Tertangkap poliskah mereka? Dan mampukah Aini membiayai sekolah perubatannya? Dapatkan karya ini, saya yakin anda akan tersengih-sengih sepanjang membacanya.😜✌🏻
Profile Image for Anthophile 🪴.
378 reviews7 followers
April 20, 2023
A comedy fiction book about slice of life of ordinary people i can say..? Penulisan Andrea lyrical campur santai, so memang senang baca dan laju. Cuma personally buku ni sesuai di adaptasi ke screen play kot baru best sikit sebab memang kelakar 😂 bila di buku rasa macam mendatar sikit. Tak tau lah macam mana dia boleh tulis scene sedih dalam bentuk sinetron, adoi rasa mcm "aku nak gelak ke sedih ke kesian ni?" haha

Unfortunately sy hanya enjoy 40% of this book, 60% kebelakang amat lah membosankan sy. Cuma bosan2 pun bila dh habis buku alahai jadi rindu dan syg plak nak berpisah dgn karakter2 org2 biasa yg beragam dalam buku ni.

Intermission buku ni adalah perompakan paling ganjil penuh muslihat dan misteri tapi bab ni lah yg paling bosan bagi sy.

Sy tergelak sokmo dgn Inspektor yg tak habis2 berangan jadi Shah Rukh Khan tu 😂 cuma ada something yg menyentuh hati sy di ending, semangat 'org2 biasa' yg sanggup buat macam2 demi pembelajaran Aini anak kawan2 depa Dinah dari zaman sekolah tu.

Buku ni fokus pd psychology, emotion, hidup (adil / tak adil), belajar hidup dan bermimpi. Bagus sgt dah dri segi quote dan pengajaran nya cuma mungkin penceritaan sebegini bukan style sy, still i have a good time reading this. Chaotic , hawau betoi masing2 🤣

"𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐢𝐧𝐢 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐠 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢, 𝐧𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐢 𝐚𝐩𝐚 𝐲𝐠 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧"
Profile Image for Muchson Fatoni.
20 reviews60 followers
November 12, 2019
Andrea Hirata kembali lagi dengan ciri khasnya: kisah manusia-manusia Melayu yang lugu nan bernasib getir tapi dibalut dengan kocak dan humoris. Pengenalan tokoh-tokoh yang unik dan tak biasa dilakukan per chapter, tapi tanpa clue apa hubungan mereka atau apakah mereka hidup di jaman yang sama. Perlahan-lahan cerita mulai berkembang dan terjalin kelindan sambil sekali lagi menyelami kehidupan kampung Melayu yang akrab dengan warung kopi, pasar, dermaga pelabuhan, nelayan dan interaksi manusianya yang khas.
Bedanya kali ini dibumbui dengan cerita tak biasa: misi perampokan bank ala Ocean's Eleven. Seru, menegangkan sekaligus kocak.
Imajinasi saya campuran antara film-film Wes Anderson - yang bersetting kepulauan - dipadu dengan directing ala The Raid. 😂😂😂
Endingnya masih seperti buku-buku Andrea Hirata sebelumnya: menghangatkan hati dan rasa puas di dada akan keluguan dan kesederhanaan kisah "orang-orang biasa" di buku ini..
Bukanlah adlib iklan pemanis jika membaca lagi kalimat yang terpampang di depan buku: "Ordinary People", destined to be the second International best seller for Indonesian author, Andrea Hirata, after his first one that surprised the world's readers, The Rainbow Troops."
Profile Image for Aliya prettyandreads.
73 reviews62 followers
July 3, 2021
Saya tutup buku ni sambil cakap dalam hati “this was a very good book! Rasa macam tengok movie 🤌🏻✨”

ISU - isu berat yang diketengahkan buku ini adalah mengenai cabaran untuk melanjutkan pelajaran bagi orang orang yang kurang mampu.

KELAKAR - Terubat sikit hati bila baca buku ni selepas buku Guru Aini. Tabbings saya penuh dengan part part kelakar yang buat gelak sorang sorang 😂 tapi part menangis pun ada bila baca pasal Aini (effect guru Aini still fresh di minda ya).

KRITIKAN - Kritikan sosial daripada Andrea pasal masyarakat sekarang memang relatable lagi lagi ada satu ayat tu saya ingat sampai sekarang ; “khidmat polis itu percuma” bila mana orang cuba untuk sogok duit kepada Inspektor Rojali.

Disarankan baca Guru Aini dulu sebelum baca buku Orang-orang Biasa.

“𝔹𝕖𝕣𝕞𝕚𝕞𝕡𝕚 𝕚𝕥𝕦 𝕡𝕖𝕣𝕔𝕦𝕞𝕒, 𝕥𝕒𝕡𝕚 𝕦𝕟𝕥𝕦𝕜 𝕞𝕖𝕣𝕖𝕒𝕝𝕚𝕤𝕒𝕤𝕚𝕜𝕒𝕟𝕟𝕪𝕒 𝕒𝕕𝕒 𝕓𝕒𝕪𝕒𝕣𝕒𝕟𝕟𝕪𝕒 🌟🌟🌟🌟🌟”
Profile Image for Shah Si Pencinta Buku.
467 reviews42 followers
August 15, 2025
10 murid tercorot dalam kelas kini sudah dewasa. Masing-masing punyai kehidupan sendiri. Kehidupan yang biasa-biasa tanpa ada sebarang perubahan. Namun sebuah perubahan bakal terjadi apabila anak Dinah layak ke pusat pengajian tinggi. Kota Belantik yang aman dengan tahap jenayah yang amat rendah membuatkan Inspektor Abdul Rojali berasa tidak puas dengan kehidupannya. Namun satu maklumat tentang jenayah besar yang bakal berlaku bagaikan berita yang amat dinantikannya.

SH dapat merasakan betapa patahnya hati seorang ayah apabila mendengar tangisan kehampaan anaknya. Walaupun ada jalan mudah yang terbentang, namun jati dirinya tetap utuh dipegang walaupun kehampaan sang anak bakal dihadapi. Begitulah yang Inspektor Abdul Rojali melihat kehampaan anak perempuannya.

Kita sebagai rakyat biasa tentunya berasa aman apabila tahap jenayah di tempat tinggal kita berada di tahap yang rendah. Tetapi lain pula dengan sang Inspektor. Dia mahukan cabaran. Mahu ada pergerakan. Inginkan aksi-aksi seperti filem Hindustan. Biasanya SH baca pening polis nak selesaikan pelbagai kes jenayah. Namun di Kota Belantik, polisnya pening fikirkan tiada jenayah yang dilaporkan.

SH berasa kagum dan juga terharu dengan sokongan yang diberikan untuk Dinah oleh kawan-kawannya. Biarlah mereka tidak belajar tinggi namun hasratnya Aini, anak Dinah untuk melanjutkan pelajaran tidak harus terhenti dek masalah kewangan.

Masalah kewangan ini seringkali SH dengar menyekat cita-cita dan angan seseorang. Malahan SH sendiri pernah menyaksikan bagaimana seorang pelajar terpaksa berhenti di saat akhir pengajian hanya kerana masalah kewangan. Mata yang melihat terasa pedihnya apatah lagi bagi mereka yang mengalaminya sendiri.

Pengakhiran cerita sungguh SH tidak sangka. Ternyata SH memandang rendah segala rencana yang telah disusun namun ada rencana lain yang lebih licik dan pintar yang direncanakan.

Naskah yang SH baca adalah yang sudah diterjemah ke dalam Bahasa Melayu. Tetapi kerana SH merasakan naskah ini sangat menarik SH jadi teringin untuk membaca naskah ini dalam bahasa asalnya.
Profile Image for zah.
484 reviews
December 3, 2020
Humoris? iya.
Gokil? iya.
Ringan? iya.
Enggak jelas? iya, banget.

Aku gangerti mau kasih buku ini ulasan kayak apa. Ceritanya sangat sangat ringan, tapi sampai act di mana inti cerita akhirnya dimulai, aku udh di ambang pengen langsung batal melanjutkan baca buku ini. Semembosankan itu.

Aku itu ngefans banget sama tulisan Andrea Hirata dan beberapa bukunya itu top banget selera aku. Di buku ini .... not so much. Terlalu banyak detail yang sepertinya sungkan ditambahkan, karakter yang, pada dasarnya, merupakan attempt untuk mencerminkan "quote on quote" ((( orang-orang biasa ))) tapi apa, mereka ga tereksplor sama sekali. Karakter mereka udh, brek kayak gitu dari awal sampai akhir buku.

Apa moralnya? kalaupun ada, apa memang pas untuk buku dengan plot dan story telling seperti ini? yang aku tangkap yah ... orang-orang yang dikatakan dungu dan bodoh itu bisa melakukan sesuatu, bisa menjadi penting dan berpengaruh untuk sekitar.

Aku banyak ketawa sih baca buku ini karena emang senonsense itu. dialog yang receh banget dan ga kira-kira konyolnya memang masih menghibur. Kalau itu saja tidak berhasil buat aku terhibur, enggak yakin deh aku bisa selesai, kelar baca buku ini.
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,430 reviews72 followers
July 22, 2022
Menarik sebenarnya. Humor-humornya secara ganjil mengena dan berhasil membuatku terus terkikik-kikik di sepanjang membaca novel, bahkan humor yang seharusnya paling garing sekalipun. Tapi sayangnya terlalu banyak missing links di dalamnya. Padahal, biasanya Andrea Hirata suka pakai plot yang detail. Di sini banyak hal yang terasa kabur dan terkesan dimudahkan agar para amatir ini berhasil dalam melakukan aksi perampokan. Misalnya Debut yang mendadak jadi lebih cerdas saat menyiapkan rencana kejutan yang baru terungkap di hari H perampokan. Padahal, di sepanjang cerita ia terus digambarkan sama payahnya dengan para temannya yang lain. Lalu dari mana Debut mendapat uang untuk membeli begitu banyak senapan karet juga ribuan topeng monyet itu? Bagaimana juga Debut dan kawan-kawan miskinnya itu bisa memperoleh uang untuk uang muka pendaftaran Fakultas Kedokteran Aini?
Profile Image for Amiruddin MR.
70 reviews8 followers
July 10, 2020
"Orang yang suka membaca buku jika bicara memang berbeda."
Profile Image for Nana Wahid.
61 reviews1 follower
June 17, 2022
Novel ini mengajar banyak perkara kepada kita sebagai seorang manusia lebih-lebih lagi tentang perjuangan menuntut ilmu. Walaupun salah satu isu besar bagi sesebuah negara tetapi penulis berjaya menjadikan satu cerita yang tidak kering gusi dari awal hingga akhir.

Penulis mengangkat isu pendidikan bagi mereka yang tertindas dek kemiskinan. Isu ini berlaku dimana-mana seantero dunia bahawa kemiskinan bisa menjadi batu penghalang untuk mengejar impian tetapi tidak bagi Dinah, ibu kepada Aini. Ujian buat Dinah bagai jatuh ditimpa tangga tetapi beliau tidak pernah mengeluh. Tetap berusaha kesana kemari bagi mendapatkan biasiswa buat anak sulongnya untuk mengejar impian menjadi seorang doktor. Walau dicemuh, walau ditertawa Dinah tetap bersemangat mendaki tangga dari satu pejabat ke satu pejabat yang lain. Sesungguhnya, pengorbanan seorang ibu tiada batasan.

Debut Awaludin seorang yang idealistik. Seorang yang agar pintar dalam kalangan yang lain tetapi kebanyakan ideanya agak kurang realistik. Idea untuk merompak bank bagi menyekolahkan anak Dinah adalah idea beliau tetapi tidak berjaya, rupanya ada udang disebalik batu. Mereka berjaya mendapatkan wang yang diperlukan tetapi penulis mengajar kita bahawa jika ia bukan hak kita, maka kita tidak berhak untuk menggunakannya. Hatta digunakan untuk kearah kebaikan.

Selain itu, penulis menegaskan bahawa setiap orang dalam masyarakat mempunyai peranan masing-masing dalam perjuangan menuntut ilmu. Semua pihak perlu bersifat adil. Jangan dinafikan hak mereka yang berimpian tinggi dan bermimpi untuk berjaya kerana

“Ilmu hendaklah hanya tunduk kepada kecerdasan, bukan kepada kekayaan”
Profile Image for Ira Booklover.
688 reviews45 followers
June 13, 2019
Ini cerita tentang orang-orang biasa. Orang-orang biasa yang tinggal di kota biasa. Orang-orang yang kalau di sekolah biasanya duduk di bangku paling belakang. Orang-orang yang kalau di sekolah prestasinya biasa-biasa saja, bahkan cenderung ke bawah. Orang-orang biasa yang kemampuan ekonominya cenderung berada di bawah garis. Orang-orang biasa yang memiliki tampang standar. Orang-orang biasa yang ... memiliki segala hal yang hanya dimiliki oleh orang-orang biasa.

Orang-orang biasa ini punya cerita. Disamping cerita kehidupan mereka yang cenderung biasa-biasa saja, mereka juga punya cerita tentang serunya meraih mimpi.

Mereka ini adalah Debut, Honorun, Tohirin, Dinah, Rusip, Nihe, Junilah, Sobri, Handai dan Salud. Mimpi mereka adalah menyekolahkan anak perempuan Dinah yang bernama Aini di Fakultas Kedokteran yang biaya kuliahnya sudah terkenal kemahalannya.

Ternyata sekolah dokter itu mahal sekali. But, aku baru tahu kalau orang miskin tak bisa masuk Fakultas Kedokteran. ---hlm. 78


Ada sedikit beasiswa, terlalu banyak peminatnya, bahkan anak-anak orang kaya berebut mencari beasiswa. ---hlm. 79


Aini sebelumnya tidak pintar. Tapi dia gigih. Dia bertekad untuk menjadi pintar agar bisa menjadi dokter. Aini bahkan bertekad untuk terus bolak-balik belajar ke rumah Ibu Desi Mal, guru matematika sekolahnya yang pemarah agar supaya dia dapat menguasai pelajaran yang baginya sangat sulit itu.

...mereka yang mau belajar, tak bisa diusir. ---hlm. 44


Kegigihan Aini terbayar, dia berhasil mendapat tiket masuk ke Fakultas Kedokteran. Sayangnya, ibunya tak sanggup membayar uang kuliahnya. Apa daya, profesi ibunya hanyalah penjual mainan keliling.

Untung Dinah punya teman-teman yang peduli. Meskipun semuanya tergolong orang yang biasa-biasa saja, mereka bertekad untuk bisa menyekolahkan Aini di fakultas impiannya. Mereka pun berusaha berubah menjadi orang-orang yang tidak biasa. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung ingin menjadi perampok bank.

Nah..nah..disinilah serunya. Dimulai dari alasan yang sederhana, yaitu, mereka butuh uang, dan semua uang tersimpan di bank. Lagipula menurut istilah Debut, mereka tidak akan mencuri, mereka hanya meminjam. Mereka akan mengembalikan uang itu. Yang mungkin agak terdengar sedikit mustahil mengingat kemampuan ekonomi mereka yang biasa-biasa saja bahkan cenderung ke bawah itu.

Dengan segala kemampuan yang biasa-biasa saja, mereka mulai merencanakan strategi. Kesederhanaan cara berpikir orang-orang ini, dan rumitnya persoalan yang harus mereka hadapi, membuat cerita ini menjadi kocak. IMO, banyak sekali sindiran tentang kehidupan yang terselip diantara kejenakaan itu.

Somehow, pesan yang dapat saya tangkap dari buku ini adalah jangan menilai buku dari sampulnya. Baik secara tersurat maupun tersirat. Karena menurut saya pribadi, sampul buku orang-orang biasa ini masih kalah kece dibanding sampul-sampul buku lain, tapi ceritanya, wow banget. Begitu pula dengan orang-orang biasa yang ada di buku ini. Mereka mungkin tampak biasa diluar. Tapi di dalamnya, mereka memiliki hati yang bersih.

Ngomong-ngomong, Orang-Orang Biasa diceritakan dari sudut pandang orang ketiga. Akhirnya saya bisa terlepas dari bayang-bayang Ikal. Sebelumnya, kalau membaca buku Andrea Hirata yang diceritakan dari sudut pandang orang kedua, entah kenapa saya selalu merasa kalau tokoh utamanya adalah si Ikal dari Laskar Pelangi itu, hohoho.

Ngomong-ngomong lagi, buku ini bisa saya selesaikan dalam dua kali duduk, *ehm, istilah apa itu*. Ini berarti --- untuk ukuran orang yang mengaku dirinya sok sibuk seperti saya, buku ini sangat seru. Yaaah, buku-buku Andrea Hirata memang selalu terasa sangat seru bagi saya. Saya sampai ikutan pre order buku ini. Padahal sebelumnya saya baru saja bertekad agar supaya membeli buku-buku yang sudah masuk diskonan saja. Tapi apa daya, tekad saya rapuh, serapuh genteng berlumut yang sudah belasan tahun kena panas dan hujan, *pas gak ya gombalannya, haha*.

At last, buku ini cocok dibaca oleh orang-orang yang butuh bacaan kocak, atau yang lagi butuh hiburan untuk menghadapi kehidupan yang getir terutama kalau kegetiran itu berasal dari ketidakmampuan kita untuk mencicipi pendidikan yang lebih tinggi karena masalah biaya. Atau kegetiran yang berasal dari perlakuan yang dirasa tidak adil oleh orang-orang yang "tidak biasa", *uhuk, kedap-kedip manja*. So, 4 dari 5 bintang untuk buku ini. I really liked it.
Profile Image for miru.
37 reviews2 followers
March 1, 2023
4,8/5

Aku sangat suka.

Kenapa? Karena pertama sampulnya kuning, kedua judulnya orang-orang biasa (kayak aku hehe) dan penulisnya Andrea Hirata.

Nggak bohong, bukan itu.

Meski iya sih itu termasuk dalam pertimbangan, tapi ayo masuk ke reviewnya.

Kalau kalian pernah baca karya penulis lainnya, pasti kalian tahu bagaimana character development para tokoh. Kita ambil contoh Laskar Pelangi, dimana mereka adalah orang-orang from zero to hero. Hal yang berbanding terbalik dapat kita temukan di novel Orang-Orang biasa ini. Mereka adalah from zero to always been zero :)

Yah, istilahnya mereka sudah terpuruk pas gede bukannya berhasil malah makin kecil. Melarat, terlunta-lunta dan bengong seharian. Saat baca ini aku ikut bersimpati tapi kadang kesal sendiri, karena mereka sepuluh orang bodoh bergerombol menjadi satu. Sekelompok orang biasa yang suka berdebat dan tidak kompak sama sekali, benar-benar sangat dekat dengan ungkapan pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Hanya saja, dalam kasus ini mereka tak punya kebiasaan baik yang bisa dirusak. Karena dari awal sudah buruk semua, ya sudahlah.

Cerita pun beregerak maju, memperlihatkan kesepuluh orang ini dalam kehidupannya masing-masing. Ditambah dengan side character seorang inspektur pecinta dangdut (tokoh fav) dan asistennya yang bersedih hati karena tak mendapati satupun kejahatan di Belantik. Mereka terancam kehilangan pekerjaan di kota yang aman poll itu.

Dan satu ketika, terjadi hal yang tak terduga. Sesuatu yang membuat sepuluh sekawan ini berkumpul kembali setelah terpencar-pencar dengan kehidupan masing-masing. Yang kemudian memancing inspektur dan asistennya untuk berdiri waspada, sampai akhirnya muncul kejadian yang lebih kuduga lagi dengan twist yang kelihatannya biasa namun berdamage parah, astagaah!!!

Karya Andrea Hirata ini mengangkat isu sosial, kasus pembullyan, suap, money laundry dan lain sebagainya yang dikemas secara apik dan memberi ruang untuk pembaca merenungkan hal-hal tersebut. Aku benar-benar jatuh cinta dengan narasi yang dibawakan penulis, indah namun mudah dicerna.

Serius baca saja deh. Aku jadi bingung menjelaskannya, awalnya kalian akan dibuat kesal dengan sepuluh orang biasa ini. Tetapi kupikir-pikir lagi mereka keren lho, jadi pengen ketemu.
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
March 22, 2019
"dalam hidup ini kita tidak selalu mengerjakan apa yg kita cintai. Namun, kita dapat belajar untuk mencintai apa yg kita kerjakan." hal 22

bahasa'y masih sederhana khas Andrea Hirata..
ketawa ngakak iya, bingung jg iya..
kok bs mereka lakuin ituuu, masih penasaran..
aneh tapi kejadian..
yaa gitu dech, bagus tapi q masih bingung sama kejadian'y..
:O
Profile Image for Bila.
315 reviews21 followers
May 12, 2019
Kesempurnaan memaknai hidup manusia, ketidaksempurnaan melengkapinya. (hal.3)


Sekali lagi, Pak Cik membuatku terkesima dengan kisah yang beliau bawakan. Masih tetap merakyat, kocak (apalagi motornya Inspektur itu, haduh 🤣) dan twistnya sukses bikin aku terbengong-bengong.

Ya, aku merasa dibodoh-bodohi oleh 10 sekawan yang digiring untuk terlihat (maaf) bodoh (ya memang tingkah mereka begitu gimana?) padahal, BUM! Cerdas, cerdas! 😱

Kekurangannya hanya karena ada beberapa tokoh yang tidak terlalu penting tapi muncul (bahkan ada yang secara tiba-tiba). Ya memang mereka membawa pesan moral tambahan di buku ini tapi kemunculannya yang terlalu dadakan itu, ah. Sedikit mengganggu.

Masih ada pula sedikit hal yang mengganjal namun katanya ada kelanjutannya ini buku... Yasudahlah, aku akan menunggunya!

Sebagai penutup, mari kita mendengarkan sepatah kata dari Handai yang pengen jadi motivator. Seenggaknya dia menyumbangkan kata motivasi di akhir review ini dengan slogan kebesarannya:


Katakan ya!
Profile Image for Khaira.
34 reviews19 followers
February 4, 2021
Butuh lumayan banyak halaman bagi saya untuk bisa menikmati buku ini dan mengerti ceritanya mau dibawa kemana, agak membosankan juga sih di awal-awal. Setelah cerita sesungguhnya dimulai, saya langsung teringat film Pertaruhan yang disutradarai oleh Krishto Damar Alam dengan genre yang sama.

Konflik orang-orang biasa dalam novel ini cukup mengena di kehidupan saya, terutama mengenai isu pendidikan, dimana masih ada beberapa area dalam dunia pendidikan yang terkesan eksklusif dan mahal, yang tidak mudah untuk digapai oleh seluruh lapisan masyarakat.

Bagi orang-orang biasa, cita-cita itu barang mahal, kuliah itu fasilitas mewah. Tapi, pepatah sejuta umat itu memang benar adanya, "dimana ada kemauan, di situ ada jalan".
Profile Image for N.F. Afrina.
Author 3 books856 followers
August 18, 2021
I didn’t love this as much as I loved Guru Aini. I wasn’t happy about the amount of characters bombarded on the pages and I was also not to keen to read a whole book about funny planning of a robbery.
Profile Image for bookswormie.
134 reviews7 followers
June 21, 2024
Saya membaca karya Andrea sudah sejak SMP, dan jatuh cinta dengan seri laskar pelanginya untuk kemudian menghilang, saya tidak lagi membaca karya2nya yang lain karena saya terdistraksi oleh karya dari penulis lain, dengan genre buku yg mulai variatif.

Kemarin, akhirnya saya menemukan lagi karya Andrea Hirata di perpus kota dan seketika merasa excited tanpa alasan yg jelas. Mungkin ini waktunya untuk saya kmbali mengenang masa lalu lewat karya Andrea yang lain.

Tapi sayangnya, saya dikecewakan.

Membaca 10 halaman pertama dan saya merasa ini seperti bukan khas Andrea (atau mungkin perasaan saya saja?). Namun pada akhirnya saya hanya mampu bertahan tidak sampai 100 halaman pertama.

Saya tidak bisa menikmati tulisannya dengan banyak tokoh yg hilang-muncul, alur yang entah maju-mundur atau bagaimana saya jg tidak paham. Apa yang sebenarnya ingin penulis sampaikan? Saya tidak dapat menjabarkan deskripsi penulis dengan baik.

Belum lagi saat saya ingin mengintip akhir kisahnya, saya harus melewati puluhan halaman belakang yang penuh dengan katalog buku penulisnya. Saya kesal sekali. Andrea Hirata sudah terkenal dengan laskar pelangi nya dan tetap menjual laskar pelangi di buku-bukunya yang lain? Itu terlalu berlebihan. Untuk zaman sekarang ini, jika seorang pembaca tertarik dengan buku yang ia baca, mereka akan secara naluriah mencari penulis itu di google atau di goodreads ini. Dan tanpa adanya katalog yang tebalnya hampir 1/4 dari isi buku, laskar pelangi nya itu akan tetap tenar.

Juga, tidak ada sinopsis di bagian belakang sampul buku seperti buku-buku yg lain, yg ada hanya biografi dari penulis. Peduli setan, Andrea! Saya hanya ingin tahu sedikit isi dari buku ini lewat sinopsis dan anda bahkan tidak memberikan itu? Bahkan dengan 10 halaman lebih di bagian belakang buku yg anda jadikan katalog itu masih kurang untuk menjabarkan diri anda?

Dari pengalaman membaca novel ini, merasa beruntung karena membaca novelnya gratis lewat layanan perpustakaan kota. Entah bagaimana jika saya nekat membeli bukunya.
Profile Image for M Adi.
174 reviews18 followers
December 6, 2020
Novel ini menyuguhi dengan gaya komikal namun hal yang disinggung adalah kepahitan di dunia nyata. Perencanaan yang tidak biasa, petualangan yang mau-tak-mau, dan kebijaksanaan yang besar. Kontras yang diberikan penulis sepanjang cerita menarik untuk ditemukan. Bahwa orang-orang yang tidak sukses di dunia, bisa memiliki kekayaan di hati. Orang-orang yang tidak pintar di kelas, bisa menjadi bijaksana terhadap baik-buruk. Orang-orang biasa bukan suatu standar, mereka adalah pencapaian.

Apa yang kurang dari novel ini? Sebenarnya ekspektasi dari novel ini menjadi kisah realistis ada tapi ternyata adalah kartun, tidak masalah. Pembaca akan berhasil mengetahui dan mengikuti sebab perampokan tapi tidak sampai pada kedalaman atau memberi kesempatan agar pembaca bisa mendapatkan emosi perasaan kepahitan hidup yang dialami.
Kemudian, meskipun bentuk komikal bisa memaklumi keanehan pada latar tempat dan peristiwa konflik. Ada kebingungan antara apakah suatu adegan cukup dengan kondisi realisme atau bisa dikembangkan menjadi lebih bereksperimen. Akibatnya terasa setengah-setengah dan menyia-nyiakan kesempatan yang bisa diambil.
Profile Image for Riz.
12 reviews15 followers
April 16, 2020
Andrea Hirata adalah penulis pertama yang membuat saya tertarik akan dunia sastra. Saya tidak perlu berpikir dua kali untuk membeli karya terbarunya. Iya, saya membaca semua karyanya.

Semoga saya tidak terlalu kasar, tapi novel Orang-orang Biasa membuat saya berpikir kalau Andrea seakan-akan tenggelam dalam gemerlap Tetralogi Laskar Pelangi dan mungkin sudah melupakan pembaca setianya.
Profile Image for Norsamila Samsudin.
Author 9 books49 followers
March 22, 2021
IJudul buku: Orang-orang Biasa
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Jejak Tarbiah
Tahun terbit / cetakan: 2020 / Cetakan kedua
Jumlah muka surat: 298
Harga: RM28.00
Tarikh baca: 04 Mac 2021 ~ 09 Mac 2021
Pengulas: Norsamila Samsudin

Resensi:
Sebuah kisah anak-anak kelas belakang yang digambarkan oleh Hirata sebagai anak-anak lembab akal alias bodoh. Mereka tinggal di sebuah kota kecil, Kota Belantik. Kota tanpa jenayah. Orang-orang di dalamnya miskin harta tetapi baik-baik belaka. Sehinggakan penguasa undang-undang tempatan kebingungan tanpa kerja kerana jenayah tidak ada. Tetapi, pada suatu masa, ketika anak-anak kelas belakang yang mendukung sepuluh watak utama ini sudah dewasa, banyak peristiwa berlaku di Kota Belantik. Rompakan misteri terjadi. Penjenayah profesional yang muncul di Kota Belantik menjadi suspek utama, tetapi hakikatnya ia dilakukan oleh sekumpulan sepuluh sekawan yang diberikan watak bodoh dan lemah akal, oleh si penulis. Rompakan yang bermula daripada sebuah kisah orang-orang biasa.

Ulasan buku:
Penulis – Andrea Hirata, tidak pernah gagal meninggalkan kesan di hati dan fikiran saya, setiap kali saya menelusuri karyanya. Sebelum ini saya sudah terkesan dengan ‘Lasykar Pelangi’; kini sebuah lagi karya, ‘Orang-orang Biasa’.

Walaupun ‘Orang-orang Biasa’ (OOB) ini digarap dengan lelucon bahasa dan plot yang dipecah-pecahkan sebelum bersatu di hujung cerita, tetapi setiap kisah dan kata di dalamnya penuh makna.

Saya ketawa sehingga mengalir air mata semenjak awal pembacaan lagi. Sungguh, jika anda ingin bacaan santai tetapi penuh motivasi yang menyentuh hati, OOB adalah pilihannya.

Di dalam OOB, Hirata bercerita tentang sepuluh watak kelas belakang yang bila dewasa, hidup mereka miskin.

Dinah, suri rumah beranak empat dengan suami hilang upaya. Dinah terpaksa bekerja menjual barang mainan di kaki-kaki jalan dan sering dikejar penguasa. Anak-anaknya juga digambarkan bodoh seperti dia.

Tetapi, kemudian, Hirata menukar jalan cerita. Anak Dinah yang bernama Aini, dihidupkan semangatnya oleh Hirata ketika Aini menjaga bapanya yang sakit terlantar. Mendengar yang penyakit bapanya itu ada potensi untuk disembuhkan oleh doktor pakar, Aini nekad untuk menjadi doktor pakar. Dia yang bodoh, ibarat belakang parang yang tumpul. Diasah dengan usaha yang berterusan, dan kebodohannya itu hilang diganti dengan ketajaman.

Di babak ini, Hirata memuatkan harapan bagi pelajar-pelajar kelas belakang. Bagi orang-orang biasa yang merasakan diri mereka bodoh kerana lahir daripada keturunan yang bodoh. Hirata mencelikkan minda kita bahawa kebodohan itu bukan warisan. Selagi ada tekad dan usaha tanpa putus asa, sesiapa jua boleh berjaya.

Aini memang lembab. Walau berkali dia belajar, masih sukar dapat. Sehingga gurunya sendiri hampir menyerah kalah dengan pertanyaan yang kerap. Dan, pertanyaan itu semuanya pertanyaan asas yang sudah diterangkan berkali-kali. Usaha dan ketidakputusasaan Aini digambarkan oleh Hirata melalui babak di mana Aini tetap menunggu gurunya keluar dari rumah. Dia ingin belajar selepas waktu sekolah.

Kesetiaan dan kesungguhan Aini membuatkan gurunya itu akhirnya mengeluarkan kata-kata, “Mereka yang ingin belajar, tidak bisa diusir.”

Kritikan sosial Hirata terhadap pendidikan masih sama sebagaimana di dalam Lasykar Pelangi. Jika di dalam Lasykar Pelangi, watak Lintang yang cerdik itu tidak dapat menyambung sekolah kerana terpaksa memikul tanggungjawab ayahnya yang meninggal dunia, bekerja dan menyekolahkan adik-adiknya, memberi makan kepada keluarga; di dalam OOB, sama juga.

Kali ini, lebih dramatik kerana watak Aini asalnya bukan bijaksana melainkan bodoh yang teramat. Tetapi, usahanya telah membuatkan dia ditawarkan ke sekolah kedoktoran. Tetapi, lantaran kemiskinan, cita-cita dan usaha anak miskin seperti Aini, terlihat gagal. Wang yang banyak diperlukan. Pinjaman? Jauh panggang daripada harapan.

Bank mana yang ingin meminjamkan wang kepada seorang wanita seperti Dinah? (Ibu Aini yang hanya berjualan alat-alat mainan di tepi jalan).

Hirata menyindir pemerintah dan orang-orang yang berkuasa ke atas sistem pendidikan. Anak seperti Aini, sudah puas berusaha sehabis daya. Sanggup menahan malu untuk bertanya berkali-kali apa yang dia tidak faham walaupun dimarah, dihina dan ditolak kerana guru sudah tidak sanggup menjawab soalan-soalannya yang bila diberikan penerangan, dia lembab menangkap. Bila sudah layak, keadaan kewangan pula menjadi penghalang.

Calang-calang budak miskin dan bodoh, tentu sudah roboh pertahanan diri. Ini yang banyak terjadi. Ini yang membuatkan keluarga miskin di kalangan orang-orang biasa tidak mengisahkan pelajaran sangat. Kerana mereka seolah-olah tahu yang belajar tinggi pun, tetap tidak akan tercapai hajat. Duit masih lagi menguasai. Ada duit, baru boleh bermimpi itu dan ini.

Tajam dan kejam sindiran Hirata. Dalam bercanda (kerana cerita ini ditulis dengan lucu babak-babak di dalamnya. Lucu juga dialog-dialog yang ditutur oleh watak-wataknya); Hirata melibas kata-kata, menikam siapa-siapa yang memegang tampuk kuasa. Melalui karya ini, Hirata bukan sahaja ingin anak-anak dari keluarga miskin bangkit, dan meneruskan mimpi, tetapi juga ingin orang-orang kaya, celik hati.

Dari babak impian Aini yang terhenti, Hirata memanjangkan kepada satu situasi semangat dan ajaib. Sepuluh watak – yang bodoh, rakan-rakan ibu Aini mula mengambil posisi. Hirata menggerakkan watak-watak ini melalui cita-cita Aini.

Mereka bodoh dan tidak pernah mempunyai cita-cita. Tetapi, bila anak rakan mereka, (anak Dinah yang dahulunya Dinah itu pun bodoh), mendapat tawaran masuk ke sekolah kedoktoran, mereka jadi bersemangat sama.

Di sinilah bermulanya rancangan rompakan. Watak-watak bodoh yang selalu gagal semenjak dahulu lagi, ingin merompak demi kelangsungan impian seorang anak di kalangan orang-orang biasa seperti mereka!

Demi Tuhan, saya terkesan. Sedih bila mengenangkan keadaan ini. Susahnya Aini yang bodoh, belajar sehingga pandai tetapi tidak mampu meneruskan cita-cita walaupun sudah mendapat tawaran. Dan, cita-cita anak ini pula bertitik-tolak daripada niat mulia untuk menyembuhkan bapanya. Dan, kini, cita-cita Aini menjadi cita-cita sembilan orang kawan ibunya yang bodoh dan miskin belaka.

Orang-orang biasa yang tidak pernah punya cita-cita. Tetapi, kini mereka sudah punya kerana Aini. Cita-cita mereka adalah untuk merompak bank dan menghantar Aini masuk ke sekolah kedoktoran.

Mereka mula berusaha dengan kebodohan mereka demi satu jalan untuk menjayakan rompakan. Hirata membuatkan saya, dalam menangis dalam tawa. Manakan tidak, watak sepuluh orang yang tidak tahu apa-apa tentang rompakan, yang lurus, yang sering tidak sekata, ingin melakukan tugas yang bukan calang-calang. Yang boleh memusnahkan kehidupan. Orang cerdik pun belum tentu mampu merompak dengan berjaya, inikan pula sepuluh orang bodoh yang buta segala.

Kelucuan berpanjangan ketika mereka mula membuat rancangan. Cerita ini santai dan lucu. Tetapi, memberi kesan di sepanjang pembacaan. Ketawa kita bukan kosong. Kerana tuturan dialognya banyak yang menjentik rasa.

Seakan tidak jumpa titik noktah ulasan ini kerana ingin berkongsi banyak lagi kebaikan dan keseronokan buku ini. Mungkin ulasan ini obsesi, tetapi jujur ia daripada hati.

Di antara ayat-ayat yang menarik perhatian saya:
1) ‘… penduduk Kota Belantik berdamai dengan miskin.’
2) Kesempurnaan memaknai kehidupan manusia, ketidaksempurnaan melengkapinya.
3) “… kita tidak selalu mengerjakan apa yang kita cintai, namun kita dapat belajar untuk mencintai apa yang kita kerjakan.”
4) Hanya orang yang ikhlas dapat melihat kemuliaan pekerjaannya.

#orangorangbiasa
#andreahirata
#jejaktarbiah
#malaysiamembaca
#klwbc
#resensibuku
#ulasanbuku
#booktuber
#penulismengulas
#norsamilasamsudin
Profile Image for Faiz • فائز.
359 reviews3 followers
March 11, 2023
Karya yang diterjemahkan, walau kekal isinya, masih lain nilainya. InsyaAllah saya berniat untuk memiliki karya asal Orang-Orang Biasa ini. Yang berada di tangan saya ini pun dipinjam daripada kakak saya.

Nama Andrea Hirata sudah masyhur di seantero dunia, namun ini merupakan karya pertama beliau yang saya baca. Kisahnya ringkas, terlalu ringkas. Namun acapkali saya tertawa membaca ulah mereka 10 sekawan. Ada kritikan terhadap masyarakat diselitkan. Sebahagian besar watak pula mencerminkan identiti sendiri. Yang keras menolak rasuah, yang berdamai dengan takdir, yang idealis, dan segala yang biasa-biasa dalam menjalani kehidupan sebagai orang biasa-biasa.

Entah apa yang cuba disampaikan penulis, barangkali ada mesej tersirat yang lebih tinggi maksudnya untuk disampaikan. Tapi pada hemat saya (yang dangkal dalam menilai) kisah ini satu pengajaran bahawa orang biasa-biasa juga boleh mencipta sesuatu yang luar biasa.
Profile Image for Dian.
26 reviews5 followers
January 10, 2021
4.4 ⭐
Novel ini kocak banget! 🤣🤣 Nggak nyangka para perampok yg notabene orang-orang biasa yg berbuat jahat aja nggak pernah, malah dicap sebagai perampok kelas atas yg eksentrik 😆😆 Ku kira endingnya akan lempeng2 aja. Ternyata ada plot twist yg bikin tercengang! Bravo Pak Cik!! 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Profile Image for Prahasti.
145 reviews14 followers
May 3, 2019
Lucu, segar, ringan, penuh pesan moral.

Mereka hanya orang-orang biasa, tetapi mereka punya cerita yang tidak biasa. Bukan hanya tidak biasa, tapi juga luar biasa.

"Sukses atau gagal itu urusan belakangan! Yang penting semangat! Apalah arti hidup ini tanpa semangat! Aku semangat! Aku tidak cemas! Aku gembira!" (Orang-Orang Biasa)
Displaying 1 - 30 of 545 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.