Actually ⭐3.5/5
Aib dan Nasib adalah sebuah novel yang membawa pembaca menyelami kehidupan di sebuah desa bernama Tegalurung, salah satu desa di Indramayu yang keras, penuh peristiwa kecil yang getir, dan dihuni oleh orang-orang yang menjalani hidup seadanya.
Dalam novel ini, penulis bercerita dengan cara merangkai fragmen pendek dengan alur maju dan mundur, serta menceritakan sangat banyak tokoh yang hidup dalam lingkaran kemiskinan, minim pendidikan, dan kedekatan dengan berbagai bentuk kejahatan yang dianggap lumrah oleh masyarakat. Cerita sendiri tidak mengarah kepada satu tokoh utama, melainkan pada seluruh tokoh di Desa Tegalurung dengan kehidupan yang saling bertaut, membuat pembaca seakan melihat banyak lapisan kehidupan sekaligus. Bagi saya cara menulis seperti ini cukup unik dan baru, meskipun agak membuat kesusahan karena alurnya yang loncat dan maju—mundur.
Novel ini memperlihatkan potret kehidupan masyarakat pedesaan pantura yang penuh aib, rahasia, dan nasib buruk yang seolah diwariskan turun-temurun. Yang menjadi fokus cerita juga bukan satu orang, tapi seluruh warga Tegalurung, baik laki-laki dengan ambisi kecil, maupun perempuan yang terjebak keadaan, dan anak-anak yang tumbuh tanpa bimbingan memadai.
Mereka hidup dalam kondisi yang sebenarnya sangat relevan dengan Indonesia hari ini, saat kemiskinan, pendidikan yang terpinggirkan, dan kekerasan masih menjadi bagian nyata dari kehidupan daerah marjinal. Cerita di dalam buku ini memberikan wawasan baru mengenai Indramayu dan wilayah pantura yang jarang terekspos ke media, mengenai kehidupan orang-orang kecil di pinggiran. Bagaimana mereka terjebak dalam kebodohan, kemiskinan, dan kriminalitas yang tinggi dan seakan masyarakat tutup mata seolah tak pernah terjadi apapun setelah sehari dua hari bergunjing.
Terdapat konteks sosial yang kuat yang ingin disampaikan oleh penulis melalui novel ini, misalnya memperlihatkan bagaimana minimnya pendidikan dapat membuka jalan ke lingkaran kemiskinan yang lebih dalam, dan bagaimana kemiskinan mendorong masyarakat pada kejahatan, perjudian, kekerasan, serta pilihan-pilihan hidup yang sempit. Novel ini menegaskan bahwa rendahnya kualitas pendidikan tidak hanya melahirkan ketidaktahuan, tetapi juga mematikan kesempatan. Di banyak desa Indonesia, realitas seperti ini masih terjadi: anak-anak berhenti sekolah karena bekerja, menjadi TKI sebagai jalan cepat dan suatu cita-cita yang biasa di mana para istri merantau ke luar negeri menghidupi suami dan anak-anak di kampung, orang dewasa hidup dalam struktur sosial yang sempit, dan kriminalitas dianggap “bagian dari hidup”. Hal inilah yang membuat novel ini terasa relevan dan penting, karena ia bukan sekadar cerita fiksi, tetapi bayangan nyata dari persoalan sosial kita hari ini.
Teknik penulisan berupa fragmen-fragmen, tokoh yang banyak, dan alur maju-mundur menjadi daya tarik utama novel ini. Bahkan, bagi sebagian pembaca, teknik ini bisa menjadi “obat reading slump” karena ritmenya yang cepat dan gaya narasinya yang mengalir. Meski demikian, struktur yang unik ini juga menjadi pedang bermata dua: karena begitu banyak tokoh dan potongan peristiwa, tidak ada satu pun yang benar-benar membekas atau memberikan semacam "feeling" emosional yang kuat ke pembaca. Premis cerita sendiri sebenarnya biasa saja, tanpa kejutan besar, dan setelah menutup halaman terakhir, rasanya ada banyak fragmen menarik, tetapi tidak ada yang benar-benar menetap di ingatan.
Secara keseluruhan, Aib dan Nasib adalah novel dengan teknik penulisan yang unik dan baru bagi saya pribadi, namun tetap memiliki beberapa kelemahan: terlalu banyak tokoh dan alur yang melompat maju-mundur. Sehingga, buku ini tidak menimbulkan kesan yang membekas kepada saya sebagai pembaca. Yasudah, sehabis lalu saja setelah baca.
Meskipun begitu novel ini bisa menjadi cermin kecil tentang bagaimana pendidikan, kemiskinan, dan kejahatan saling memengaruhi, dan bagaimana hidup di daerah marjinal sering kali berjalan di antara aib dan nasib yang sulit dipisahkan.