Em Criança zumbi, um menino de pele muito pálida e olhos bem grandes nasceu num pequeno vilarejo. Conforme crescia, sua mãe percebeu que ele não tinha sentimentos e que sentia uma fome insaciável. Todo dia, ela roubava animais das casas vizinhas para dar à criança. Quando uma pandemia espalha a morte pelo lugar, a mãe se vê obrigada a tomar medidas inimagináveis para salvar a vida do filho.
Zombie Kid is a super dark (like whoa) children's story. It's one of a series of books that come from the programme 사이코지만 괜찮아 (It's Okay to Not Be Okay).
I really didn't see that ending coming. Amazing illustrations throughout. The tone reminded me of Edward Gorey and Gerard Way's work, but much darker.
"Mother is so warm." Clearly this is my favorite book above all the books series. It is dark and painful and it's full of brutality but also it hits you with another and different meaning of love. Like, giving all u have just so the other person can live entirely. I will never forget zombi boy <3
The story is really sad but kind of heartwarming in a way. The illustrations are beyond beautiful. The vocabulary and grammar are relatively easy for intermediate Korean language learners!
Mengingat penuturannya yang sederhana, seharusnya buku ini bisa dibaca oleh anak-anak. Namun, karena konten grafisnya yang kelam dan berlumuran darah, saya maklum jika buku ini disemati label 17+.
Anak Zombi berkisah tentang seorang bayi yang terlahir berbeda. Dia tak memiliki emosi, dan hanya memakan daging mentah. Selera makannya pun amat besar. Karena kondisinya yang ganjil itulah sehingga ibunya mengurung sang anak di ruang bawah tanah.
Ketika desa yang mereka tinggali dilanda wabah, ternak yang biasa menjadi santapan sang Anak Zombi banyak yang mati. Sebagian yang tersisa dibawa oleh pemiliknya untuk mengungsi. Sang ibu yang tak bisa meninggalkan anaknya sendirian terpaksa mengorbankan dirinya demi agar sabg anak bisa tetap hidup.
Meski tampak sederhana, kisah ini adalah pengingat bagi kita bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang jauh lebih besar dibanding makanan, minuman, dan pakaian. Yakni, kebutuhan emosional, berupa kedekatan dengan orang tua, sentuhan, pelukan, dan bentuk kasih sayang nonmateril lainnya.
Kupikir, buku ini ada pesan yang ditujukan kepada para orang tua untuk mengimbangi pemenuhan kebutuhan materi untuk anak dengan kebutuhan emosional. Kerap kali orang tua terlaku sibuk bekerja dengan dalih ingin anak mereka bisa makan enak dan bersekolah. Sementara itu, anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang nakal karena tak pernah tahu bahwa ada yang disebut kasih sayang di dunia ini. Dan yang bisa memberikannya kepada anak-anak hanyalah orang tua mereka. Dengan demikian, anak-anak memahami cara untuk menunjukkannya kepada orang lain.
Seorang anak lelaki terlahir seperti zombi–tak memiliki emosi, tetapi bernafsu makan yang sangat besar. Setiap hari, ibunya mengusahakan segala cara untuk menyediakan makanan untuk sang anak, termasuk mencuri peliharaan tetangga. Namun, ketika tak ada lagi hewan peliharaan tetangga atau makanan yang bisa disodorkan, sang ibu membiarkan dirinya menjadi hidangan bagi si anak. Saat itulah si anak baru menyadari kehangatan ibunya.
Sejak kemunculannya, aku sudah penasaran dengan seri buku berilustrasi ini. Bukan saja karena topiknya yang membahas soal kesehatan mental–sesuai dengan cerita yang ada di drama Korea-nya, tetapi ilustrasinya sendiri menjadi poin penting yang memikatku.
Meskipun secara garis besar aku sudah tahu kalau buku ini tidak menyajikan cerita atau ilustrasi yang manis dan hangat, aku tetap saja terkejut melihat ilustrasi potongan tubuh yang berdarah-darah. Entah mengapa ini membuatku mulas. Padahal ini bukan kali pertama aku membaca cerita "aneh" serupa ini.
Membaca buku ini mengingatkanku akan dramanya. Drama yang menarik dan sarat ilmu. Sayangnya, aktor utamanya kini tengah hangat dibicarakan untuk hal negatif. Terlepas dari pemeran drakornya, buku ini layak untuk dibaca dan dikoleksi. Kalau kamu tidak merasa terganggu dengan cerita atau ilustrasi gore, cobalah baca buku ini. Penasaran?
It's Okay to Not be okay Book 2: Anak Zombi • J.D. • Jam San (ilustrasi) • M&C • 2022 • 32 halaman
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku its okay not to be okay ilustrasi ini ternyata terdiri dari 5 buku. Dan anak zombi ini adalah buku seri kedua.
Buku ini berkisah tentang seorang ibu yang memiliki anak namun ia merasa sang anak ini seperti zombi karena tidak memiliki emosi dan hanya ingin makan saja.
Sang ibu akhirnya mengurung anak dalam sebuah kamar bawah tanah dan membawakan anaknya makanan berupa hewan ternak setiap harinya.
Pada suatu ketika, warga desa mengalami fenomena sakit demam yg membuat mereka harus mengungsi. Tapi sang ibu tidak bisa mengungsi. Akhirnya sang ibu tetap di rumah itu bersama sang anak.
Malangnya, banyak hewan ternak yg sudah mati akibat fenomena sakit itu. Menyebabkan sang ibu harus merelakan bagian tubuhnya utk dimakan sang anak. Hingga tak tersisa satupun bagian tubuh, hanya badan saja. Sang ibu mengorbankan tubuhnya utk anak. Namun ternyata sang anak berkata, "Ternyata ibu hangat.."
sang ibu menangis karena tdk bisa memeluk anaknya akibat tangannya sdh dipotong dan diberikan utk anaknya.
Sebuah kisah satir utk para ortu yg memberikan harta tp lupa memberikan kasih syg pada anaknya.
Meski buku ilustrasi, ini bukan buat anak-anak. Labelnya sendiri buat 17+ karena buku ini lumayan graphic & gore.
Ceritanya sendiri sederhana. Buat yang udah pernah nonton, mungkin udah tahu ya. Cuma pas baca, aku ga ingat lagi sih ini tentang apa. Makanya pas selesai baca rasanya sedih... 😭 Aaa gatau deh kepikiran aja bikin cerita kayak gini 🥹🫠
Ceritanya tentang hubungan orang tua anak gitu. Anaknya seperti judul, anak zombie. Udah ngeri-ngeri selama baca, eh sampai ending malah nyesek. 😭
Ilustrasinya bagus, gothic gitu. Kualitas cetak dan kertasnya jempolan banget! Meski bukan hardcover, tapi semua isinya pakai kertas agak tebel gitu. Jadinya kokoh. 👍
Mulai dari buku pertama sampai kelima dalam series ini, aku paling suka buku keduanya, ’’좀비 아이’’ alias 𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗭𝗼𝗺𝗯𝗶!
Aside from ilustrasinya yang menurut aku ngga PG friendly—tapi aku tetep suka sih wkwk, buku ini bener-bener ringaaan banget alurnya, tapi pesan yang disampaikan dalem dan langsung ngena di hati 🥹 Sempat terharu juga begitu sampai di halaman terakhir huhu. Hubungan antara ibu dan anak will always make me teary ㅜㅜ
Overall, 𝗔𝗻𝗮𝗸 𝗭𝗼𝗺𝗯𝗶 is one of my best reads in 2023. Like, I could read this many times w/o getting tired of it. An instant five stars 🫶🏻👀
KOVE THIS BOOK SM🎀 It's a sad story, but it shows how much a mother can do to protect her baby, it's a wonderful book, I'll never forget this story, I'll always remember this book and keep it in my heart. 🎭
"The mother who could not bare to leave her child behind..."
"Had to resort to chopping off one of her legs,and then one of her arms, to feed the child."
:After giving everything to her child, the mom who only had her torso left, hugged her child for one last time and let him have the rest of her body."🥺
Uma moça tem um filho e vê que a criança é nada mais, nada menos do que um zumbi. Ele precisa comer com frequência e a mãe se vê fazendo sacrifícios gigantes por ele... "Mas gente...😶", foi o que eu disse depois de ler essa história. É um livro bem, bem intenso! Você vai ficando com o queixo cada vez mais caído a cada página! Dá pra fazer várias relações com situações da vida, mas certamente é uma história mais voltada para crianças mais velhas, talvez a partir de 11 anos. Não deixem de ler!
A mãe ficava se questionando por não saber o motivo do filho não demonstrar ter sentimentos nenhum, mas ela nunca havia dado nenhum tipo de amor pra ele, nenhum toque físico, nem nada.
Isso me faz pensa se o monstro da história é realmente o filho ou a mãe.
Cerita buku ini lebih gelap dari buku yg pertama, terutama ini kan ceritanya adalah buku cerita anak. 😅 Yg aku paham dari buku ini, seperti yang di jelaskan di dramanya, mungkin sebenarnya si anak ini tidak lapar, melainkan menginginkan kehangatan dan kasih sayang ibunya.
Aku suka sih sama cerita dan ilustrasinya, jadi buku ini aku kasih rating 5/5 ⭐
If you have mommy issues i’d highly recommend this captivating book. All jokes aside, I ordered a copy and received two so it was destined for me to give it to my dad as a christmas gift. With both of us filled with tears, angst and laughter in the end, i’d say it was the perfect gift. The show is just as powerful.
This entire review has been hidden because of spoilers.
this one made me cry. it was so sad. as a future mom, i wouldn't think twice about giving pieces of myself to my child. but the meaning of this book was more than motherhood. was about mom's that try to be present and do what they think it's right but forget that what a kid need the most is the love and warmth of their mom.
This is quite possibly my favorite 고문영 동화 as it had me in tears in less than 25 pages. It's somber and bloody, but with a powerful message about the love we give and receive. The fact that there are two possible interpretations of the ending just makes me appreciate it even more.
I would have never discovered this book if it wasn't for the K-drama series 'It's Okay to Not be Okay.' Such beautiful illustrations with a powerful message. I have the original Korean hardcover, but read it with a translator app.
walaupun pendek, tapi banyak makna yg bisa diambil dari buku ini. nyesekkk bgt sama ibunya t__t
bukan buku anak sih, buku dongeng untuk orang dewasa. rating age-nya kalo ga salah tadi 17+ cmiiw (soalnya aku baca di Gramedia offline store, nggak beli heheh)
It's short but very dark, twisted, complicated, weird, and sweet or heartwarming at the same time. Reminds me a lot of The Giving Tree book. Kind of similar. I wish there were more pages in this book.
Berhubung aku tuh sering gak kuat kalau ceritanya tentang ibu dan pengorbanannya, jadi ratingnya buat yg ini agak tinggi.
Yah gitu lah ya kayaknya si ibuk, rela kasih apapun buat anaknya biar gak kelaperan, punya hidup layak, tapi kadang lupa hal esensial yang juga penting buat si anak
Not my favorite out of the 5 books but it’s still pretty good. When it comes to reading it, it was pretty easy. Or maybe I’m just getting better in reading Hangul now.