Mengingat penuturannya yang sederhana, seharusnya buku ini bisa dibaca oleh anak-anak. Namun, karena konten grafisnya yang kelam dan berlumuran darah, saya maklum jika buku ini disemati label 17+.
Anak Zombi berkisah tentang seorang bayi yang terlahir berbeda. Dia tak memiliki emosi, dan hanya memakan daging mentah. Selera makannya pun amat besar. Karena kondisinya yang ganjil itulah sehingga ibunya mengurung sang anak di ruang bawah tanah.
Ketika desa yang mereka tinggali dilanda wabah, ternak yang biasa menjadi santapan sang Anak Zombi banyak yang mati. Sebagian yang tersisa dibawa oleh pemiliknya untuk mengungsi. Sang ibu yang tak bisa meninggalkan anaknya sendirian terpaksa mengorbankan dirinya demi agar sabg anak bisa tetap hidup.
Meski tampak sederhana, kisah ini adalah pengingat bagi kita bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang jauh lebih besar dibanding makanan, minuman, dan pakaian. Yakni, kebutuhan emosional, berupa kedekatan dengan orang tua, sentuhan, pelukan, dan bentuk kasih sayang nonmateril lainnya.
Kupikir, buku ini ada pesan yang ditujukan kepada para orang tua untuk mengimbangi pemenuhan kebutuhan materi untuk anak dengan kebutuhan emosional. Kerap kali orang tua terlaku sibuk bekerja dengan dalih ingin anak mereka bisa makan enak dan bersekolah. Sementara itu, anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang nakal karena tak pernah tahu bahwa ada yang disebut kasih sayang di dunia ini. Dan yang bisa memberikannya kepada anak-anak hanyalah orang tua mereka. Dengan demikian, anak-anak memahami cara untuk menunjukkannya kepada orang lain.