Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kertas Basah

Rate this book
Seseorang telah menggantung diri, tulisku. Seseorang telah menggantung dirinya sendiri dan tak perlu berpikir tentang kebersihan dan kerapian dan tentu saja penilaian orang lain (Reportase)

Dalam buku kumpulan puisi ini, Dea Anugrah mencoba menulis dengan cara yang berbeda dari Misa Arwah (2015). Disukai atau tidak, tentu bukan persoalan. Hanya satu yang ia harapkan: tak ada pembaca yang menusuknya di jalan karena kecewa.

28 pages, Paperback

Published June 27, 2020

Loading...
Loading...

About the author

Dea Anugrah

13 books449 followers
Dea Anugrah is a writer based in Jakarta, Indonesia. His most recent poetry collection Misa Arwah (2015) was longlisted in 2016 Khatulistiwa Literary Award. His collection of short stories Bakat Menggonggong (2016) was recognized by Rolling Stone Indonesia magazine as one of the best Indonesian books of 2016; it was also shortlisted in 2017 Khatulistiwa Literary Award. He regularly writes essays and journalistic reports for Tirto.id.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (15%)
4 stars
16 (28%)
3 stars
28 (49%)
2 stars
4 (7%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 11 of 11 reviews
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
July 22, 2020
Kalau kita mencari tahu—sebaiknya begitu—puisi-puisi yang ditulis Nicanor Parra dan William Carlos Williams, kita mungkin bisa sedikit memahami buku kurus Dea Anugrah ini. Kukutip dua bait pertama dari puisi Manifesto milik Parra yang bertitimangsa 1969 ini:

Ladies and gentlemen
This is our last word
– Our first and last word –
The poets have come down from Olympus.

For the oldest
Poetry was a kind of luxury
For us, however
First need is:
We can’t live without poetry.


"Para penyair telah turun dari Olympus," katanya. Olympus yang megah dan penyair yang sejajar dengan dewa. Parra menjelaskan maksudnya di bait kedua, "untuk orang-orang terdahulu, puisi semacam kemewahan. Untuk kita, bagaimanapun kebutuhan pertama: kita tidak bisa hidup tanpa puisi." Jadi, sederhananya Parra ingin bilang kepada kita semua: puisi bukan barang mewah dan setiap orang boleh mengunyahnya sebagai makanan pokok.

Sementara itu, lihatlah puisi berjudul This is Just to Say milik William ini:


I have eaten
the plums
that were in
the icebox

and which
you were probably
saving
for breakfast

Forgive me
they were delicious
so sweet
and so cold


Bukankah soal buah prem dalam puisi itu sama sekali tidak berjarak dengan kenyataan dan menunjukkan ketiadaan ilusi?—antipuisi, menurut beberapa.

Dea Anugrah, seperti keinginannya memiliki kesempatan baru untuk bermain-main, barangkali sedang menempatkan puisi-puisi Kertas Basah di atas dadanya yang lapang. Ketika orang memandang ke arahnya, alih-alih membelah, ia hanya perlu menelanjangi dadanya. Menampakkan corat-coret dan apa yang ia sebut kegelisahan. Tapi pun, sebagaimana kegelisahan penyair lain, apa yang pada akhirnya ditampilkan Dea Anugrah dalam puisi-puisinya memiliki batas hitam putihnya sendiri.
Profile Image for Safar Nurhan.
Author 5 books4 followers
Read
July 25, 2020
Buku puisi ketiga, yang aku baca pada tahun ini.

Satu bait dari puisi "Kelapa" di halaman 26:

laut menunggu
dermaga menunggu
laki-laki tua menunggu
sehari, dan sehari lagi.
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews38 followers
December 29, 2020
LATIHAN⁣

Alangkah banyak persamaan⁣
antara puisi dan psikopati⁣

Huruf p pada pengakuan⁣
adalah p untuk pembunuh ⁣
berantai⁣

Pembaca yang tekun⁣
berumur panjang⁣
karena latihan⁣
menyempurnakan.⁣

Dea terasa sekali bermain-main dengan kata-kata dan keadaan. Mungkin begitu serunya jadi penulis puisi. Bebas saja. Lalu pembaca tinggal menikmati. Apakah saya mengerti seluruh puisi di buku barunya ini? Tentu saja tidak. Tapi saya menikmati. Yah, belajar menikmati. Dan menurut saya, Dea tidak perlu meminta maaf karena gaya puisi di buku ini beda dengan Misa Arwah. Mungkin meminta maaf karena novelnya tak kunjung terbit? 🤭😂⁣
Profile Image for Lilian.
171 reviews11 followers
February 4, 2021
di awal, bang dea sudah menuliskan bahwa yg paling menggembirakannya sebagai penulis adalah kesempatan baru untuk bermain-main. itu yg terasa di beberapa tulisannya. bermain dengan struktur, bermain diksi, dan tentu bermain emosi serta memori.
21 tulisan -- puisi dan antipuisi -- yg dikemas ramping tapi penuh kesan.
Profile Image for uwievelo.
27 reviews1 follower
March 1, 2021
21 puisi pendek dari Dea sang jurnalis humanis.
35 reviews
March 29, 2021
puisi yang jauh lebih kritis dari misa arwah dan lebih kontemporer
Profile Image for Andria Septy.
249 reviews14 followers
May 15, 2021
setiap puisi2 yg digarap oleh Dea Anugrah, sejauh ini, saya senantiasa suka. saya juga jadinya penasaran dengan buku Esainya.
Displaying 1 - 11 of 11 reviews