Seseorang telah menggantung diri, tulisku. Seseorang telah menggantung dirinya sendiri dan tak perlu berpikir tentang kebersihan dan kerapian dan tentu saja penilaian orang lain (Reportase)
Dalam buku kumpulan puisi ini, Dea Anugrah mencoba menulis dengan cara yang berbeda dari Misa Arwah (2015). Disukai atau tidak, tentu bukan persoalan. Hanya satu yang ia harapkan: tak ada pembaca yang menusuknya di jalan karena kecewa.
Dea Anugrah is a writer based in Jakarta, Indonesia. His most recent poetry collection Misa Arwah (2015) was longlisted in 2016 Khatulistiwa Literary Award. His collection of short stories Bakat Menggonggong (2016) was recognized by Rolling Stone Indonesia magazine as one of the best Indonesian books of 2016; it was also shortlisted in 2017 Khatulistiwa Literary Award. He regularly writes essays and journalistic reports for Tirto.id.
Kalau kita mencari tahu—sebaiknya begitu—puisi-puisi yang ditulis Nicanor Parra dan William Carlos Williams, kita mungkin bisa sedikit memahami buku kurus Dea Anugrah ini. Kukutip dua bait pertama dari puisi Manifesto milik Parra yang bertitimangsa 1969 ini:
Ladies and gentlemen This is our last word – Our first and last word – The poets have come down from Olympus.
For the oldest Poetry was a kind of luxury For us, however First need is: We can’t live without poetry.
"Para penyair telah turun dari Olympus," katanya. Olympus yang megah dan penyair yang sejajar dengan dewa. Parra menjelaskan maksudnya di bait kedua, "untuk orang-orang terdahulu, puisi semacam kemewahan. Untuk kita, bagaimanapun kebutuhan pertama: kita tidak bisa hidup tanpa puisi." Jadi, sederhananya Parra ingin bilang kepada kita semua: puisi bukan barang mewah dan setiap orang boleh mengunyahnya sebagai makanan pokok.
Sementara itu, lihatlah puisi berjudul This is Just to Say milik William ini:
I have eaten the plums that were in the icebox
and which you were probably saving for breakfast
Forgive me they were delicious so sweet and so cold
Bukankah soal buah prem dalam puisi itu sama sekali tidak berjarak dengan kenyataan dan menunjukkan ketiadaan ilusi?—antipuisi, menurut beberapa.
Dea Anugrah, seperti keinginannya memiliki kesempatan baru untuk bermain-main, barangkali sedang menempatkan puisi-puisi Kertas Basah di atas dadanya yang lapang. Ketika orang memandang ke arahnya, alih-alih membelah, ia hanya perlu menelanjangi dadanya. Menampakkan corat-coret dan apa yang ia sebut kegelisahan. Tapi pun, sebagaimana kegelisahan penyair lain, apa yang pada akhirnya ditampilkan Dea Anugrah dalam puisi-puisinya memiliki batas hitam putihnya sendiri.
LATIHAN Alangkah banyak persamaan antara puisi dan psikopati Huruf p pada pengakuan adalah p untuk pembunuh berantai Pembaca yang tekun berumur panjang karena latihan menyempurnakan. Dea terasa sekali bermain-main dengan kata-kata dan keadaan. Mungkin begitu serunya jadi penulis puisi. Bebas saja. Lalu pembaca tinggal menikmati. Apakah saya mengerti seluruh puisi di buku barunya ini? Tentu saja tidak. Tapi saya menikmati. Yah, belajar menikmati. Dan menurut saya, Dea tidak perlu meminta maaf karena gaya puisi di buku ini beda dengan Misa Arwah. Mungkin meminta maaf karena novelnya tak kunjung terbit? 🤭😂
di awal, bang dea sudah menuliskan bahwa yg paling menggembirakannya sebagai penulis adalah kesempatan baru untuk bermain-main. itu yg terasa di beberapa tulisannya. bermain dengan struktur, bermain diksi, dan tentu bermain emosi serta memori. 21 tulisan -- puisi dan antipuisi -- yg dikemas ramping tapi penuh kesan.