Nicoletta Navarro dipecat dari redaksi Majalah Posh! di New York karena entah bagaimana artikel yang ia tulis begitu subjektif sampai menggemparkan dunia selebritas dan menuai kritik pedas dari sesama jurnalis. Tidak mungkin ada cara untuk menyelamatkan karier yang sudah tujuh tahun Nic bangun dengan susah payah.
Sementara Vicenzio Vasari, setelah dua kali batal menikah, justru dicampakkan oleh calon istrinya sendiri di hadapan altar basilika yang indah di Tuscany―di depan dua mantan calon istrinya yang terdahulu. Vin belum pernah merasa begitu malu dalam hidupnya. Tapi mungkin karma itu yang harus ditanggung seorang playboy seperti dirinya.
Keduanya, entah takdir atau bukan, bertemu di Italia. Nic dan Vin menyusuri jalanan indah Roma, tur dari satu basilika ke basilika lainnya, mencicipi minuman anggur terbaik, dan mungkin saling jatuh cinta.
Masalahnya, Nic sudah bertunangan dan Vin sudah tidak percaya dengan pernikahan. Di tengah itu, mereka malah terbelit oleh rahasia kelam sebuah keluarga tradisional Italia yang membuat keduanya justru saling mengecewakan.
Salah satu hal yang saya sukai BANGET dari novel ini adalah latar tempat Italia-nya! Detail, kuat, dan menggugah imajinasi. Rasanya kayak diajak keliling Italia bareng Nic-Vin sambil sesekali nyicipin makanan. Mayan, ya. Nggak bisa jalan-jalan langsung, jalan-jalan imajiner pun jadi. 😂
La Dolce Vita nyeritain Nic―jurnalis majalah Amerika―yang tiba-tiba kena pecat karena nulis artikel ngawur tentang seorang selebritas ternama. Karena pengangguran, akhirnya dia pergi ke Italia buat jadi ghost writer. Di sana, dia malah ketemu Vin―cowok yang ternyata berhubungan sama masa lalu misteriusnya.
Gaya tulisan di La Dolce Vita juga ngalir dan terasa banget kayak terjemahan, padahal ini novel 'lokal' (local as in the author itself). Andai nggak ada logo metropop, mungkin saya bakal ngira ini buku terjemahan beneran. :,)
Meski demikian, gaya tulisan ala terjemahan ini emang masuk banget sama latar tempatnya yang ada di luar negeri. Jadi, saya nggak ada kendala dengan hal tersebut.
Chemistry antara Nic dan Vin cukup greget, meskipun di awal terasa agak kendor alurnya(?). Saya juga menyayangkan eksekusi beberapa konflik yang terasa terlalu 'gitu aja'. Padahal, La Dolce Vita potensial untuk jadi seru banget. Tapi ini menurut saya yaa.
Secara keseluruhan, saya menikmati La Dolce Vita! Ini adalah salah satu bacaan ringan yang bikin saya betah pas baca, terutama dengan latar tempat yang nggak terasa tempelan belaka. Buat kalian yang pengin jalan-jalan tapi terhambat swakarantina, bisa coba jalan-jalan lewat buku ini dulu. 🙈
❝Setiap orang memiliki kisah yang tak ingin dia ceritakan pada dunia, termasuk sahabat atau suaminya sendiri.❞ ―La Dolce Vita, Nina Ruriya
Baca La Dolce Vita ini kayak roller coaster. Penuh dengan kejutan dan kebetulan. Meski kebetulannya banyak (dan pas selesai baca bikin mikir kayaknya ga mungkin terjadi), tapi namanya fiksi kan ya bisa-bisa aja ya. Jadi, secara keseluruhan aku menikmati buku ini. Gaya menulisnya asyik dan deskripsi tempatnya bagus. Bikin pembaca kayak jalan-jalan di Italia. Kalau ada peta dan ilustrasi tempat, kayaknya makin juara. Tapi gini aja udah bagus banget. Sayangnya, tokoh di novel ini super banyak 😂 Seriusan kayak satu halaman berikutnya ada aja tokoh baru lagi gitu. Memang nggak semua tokoh pegang peran penting dalam cerita utama, tapi tokoh-tokoh sampingan ini pada berpengaruh sama kisahnya. Aku butuh waktu cukup lama buat memasuki kisah Nic dan Vin karena banyak tokohnya ini. Novel ini sendiri punya kisah yang cukup berat, dengan twist yang seru. Sayangnya penyelesaiannya terlalu mudah. Kayak awalnya gregetan dengan segala misteri, eh ternyata akhirnya gitu aja. Sayang banget sejujurnya Satu hal lagi yang menganggu buatku adalah cukup banyak kalimat yang ditulis dengan struktur aneh dengan predikat di awal. Kayak "Memutar lagu-lagu Collective Soul, aku berlari..."Aku nggak nyaman baca tulisannya. 😅 Meski demikian, buku ini sangat enjoyable. Aku suka dengan kisah romance-nya yang dewasa, sesuai dengan usia karakternya. "Sebuah hubungan hanya akan berhasil kalau kalian saling percaya." (h. 232) Cocok banget dinikmati buatmu yang butuh bacaan ringan dengan latar super cantik. Kamu bakal serasa diajak jalan-jalan dalam novel ini. 👌
Nicoleta Navarro tiba-tiba saja mendapat kabar buruk. Setelah dipanggil oleh atasannya, Nina Webber, Nic langsung kehilangan pekerjaannya di majalah Posh!. Nic dituduh menulis artikel yang menyudutkan seorang aktor ternama di Amerika Serikat. Padahal Nic sangat yakin jika artikel yang ada di majalah Posh! yang sudah tercetak itu bukanlah tulisannya. Nic merasa jika Nina memang sengaja ingin menyingkirkannya dari Posh!. Pada akhirnya Nic memilih untuk terbang ke Roma, Italia, untuk mengerjakan proyek sebagai ghost writer yang ditawarkan oleh sahabatnya, Fionna. Nic pergi ke Italia bersama ayahnya yang akan memamerkan karya seninya di sebuah eksebishi. Di sana Nic akan menulis buku tentang anggur yang ingin dibuat oleh keluarga Vasari. Nic dijemput oleh anak kedua dari keluarga Vasari, Vincenzio Vasari, dari rumah penginapan. Nic akan menulis buku tersebut di Tenuta Vasari, perkebunan anggur miliki keluarga Vasari. Di sana Nic tak hanya sekadar bekerja, tapi juga menemukan cinta dan rahasia.
Dipermalukan di depan altar pernikahan menjadi cambukan yang keras bagi Vincenzio Vasari. Wanita yang dicintainya malah membatalkan pernikahan mereka saat janji suci akan diucapkan. Cassie membatalkan pernikahannya bersama Vin di hadapan dua mantan kekasih Vin, Liliana dan Adriana. Dulu Liliana dan Adriana mengalami hal yang serupa dengan Vin. Ini semacam karma dan balas dendam bagi mereka bisa melihat Vin dipermalukan seperti itu. Akibatnya kini Vin sulit untuk menjalin konitmen. Ia hanya berusaha fokus pada pekerjaannya sebagai chef dan mengelola restorannya. Namun, saat menerima tugas untuk menjemput Nic dari ibunya Vin tidak bisa menolak. Pada akhirnya Vin dan Nic semakin dekat. Mereka mulai membuka luka dan masa lalu masing-masing. Akan tetapi di balik rasa yang mulai tumbuh, terdapat tanya yang terjawab, khususnya bagi Nic. Nic tidak menyangka jika masalah tentang keluaganya bisa terjawab di Italia. Takdir seakan mempertemukan segalanya dalam satu titik yang sama. Dapatkah Vin membuka hatinya kembali? Rahasia apa yang terkuak di Italia?
Membaca novel metropop dengan latar dan nuansa Indonesia mungkin sudah sering kita rasakan. Tapi, bagaimana jika latar dan nuansa kota Italia dikemas dalam lini metropop? Apalagi yang meramu ceritanya adalah penulis lokal. Pasti hasilnya akan unik dan menarik. Itulah gambaran dalam La Dolce Vita. Nina Ruriya berhasil membangun sebuah kisah cinta dengan tokoh, latar, dan nuansa barat. Mungkin sebagian orang akan merasa jika hasilnya akan maksa, tapi nyatanya justru sebaliknya. Ceritanya justru terasa natural dan generik. Cover buku yang ditampilkan terasa sangat romantis dan manis. Nuansa Itali bisa kita rasakan lewat judul bukunya serta ilustrasi sepasang muda-mudi yang mengendarai sekuter. Apalagi latar tembok berwarna merah bata dengan sedikit kontras putih menambah efek tekstur dan suasana kota di Italia yang memang terkesan klasik dan romantis. Kompilasi ilustrasi, nama penulis, dan judul bukunya berpadu menciptakan sebuah cover yang cantik nan memikat.
Tidak seperti novel metropop kebanyakan yang berciri khas kehidupan pekerja kantoran, gaya hidup mewah, serta keluarga kaya raya, La Dolce Vita lebih menonjolkan suasana kota Italia yang memiliki arsitektur klasik dan romantis. Penulis lebih banyak mengeksplor suasana kota-kota kecil di Italia yang indah dan memikat. Deskripsi dan penggambaran akan tempat-tempat yang ada di Italia terasa nyata dan hidup. Rasanya latar Italia bukan hanya sekadar tempelan belaka, tapi merupakan nyawa dalam ceritanya itu sendiri. Selain latar tempatnya yang memang menjadi kekuatan novel ini, unsur-unsur lainnya seperti kisah asmara, keluarga, dan profesi para tokohnya masih cukup terasa. Namun, pembaca akan lebih banyak disajikan persoalan dari masa lalu Nic yang bisa dibilang cukup memantik rasa penasaran. Latar keluarga Nic yang tidak sempurna mulai terkuak saat ia datang ke Italia. Sementara unsur romansanya akan mulai tampak menjelang akhir cerita. Porsinya mungkin akan terasa singkat, tapi masih dapat dimaklumi. Selebihnya resapi saja kota di Italia yang disuguhkan oleh penulis.
Dua tokoh utama di novel ini adalah Nicoleta Navarro alias Nic dan Vincenzio Vasari alias Vin. Nic adalah seorang editor majalah Posh!, majalah entertainment di Amerika Serikat. Nic tergolong wanita karir yang ulet dan pekerja keras. Pembaca akan melihat karakter Nic yang mandiri, tapi penulis masih menyisakan sisi rapuh dalam diri Nic. Latar belakang keluarganya yang tidak utuh membuat Nic didera kerinduan akan kasih sayang yang terasa masih kurang lengkap. Nic yang memiliki tunangan bernama Ed pun terbilang lumayan agak bucin di awal-awal cerita. Bagaimana ia selalu memaklumi kesibukan tunangannya tersebut. Selanjutnya ada tokoh Vin yang bekerja sebagai chef dan memiliki sebuah restoran di Roma, Italia. Vin memiliki sifat yang keras kepala. Vin juga mempunyai rasa trauma dan takut akan menjalin sebuah komitmen. Rasa traumanya tersebut muncul akibat dari kegagalan pernikahannya menjelang janji suci akan diucapkan. Kedua tokoh utamanya memiliki masa lalu dan latar belakang yang kurang baik. Nic dengan kisah keluarganya dan Vin dengan persoalan asmaranya. Keduanya dipersatukan oleh takdir di perkebunan anggur, Tenuta Vasari. Chemistry yang terjalin antara Nic dan Vin sebenarnya sudah cukup terasa. Namun, entah mengapa bagi saya masih terasa hambar dan lemah. Mungkin ini dikarenakan penulis lebih berfokus pada penyelesaian masalah Nic akan keluarganya.
La Dolce Vita mempunyai alur cerita yang berjalan lambat. Penulis seperti ingin mengajak pembaca menikmati keindahan kota-kota di Italia secara perlahan-lahan. Unsur "jalan-jalan" yang dimasukkan memang berhasil membuat kita berwisata dalam benak akan kecantikan negara Italia. Satu hal yang saya apresiasi dari penulis adalah penggunaan sudut pandang orang pertama untuk narasi ceritanya. Nic dan Vin cukup berhasil mengutarakan isi hati dan pemikiran mereka kepada pembaca. Gaya bercerita dan bahasa penulis pun sangat ringan, enak, dan mengalir. Dalam semenit pembaca akan terhanyut dalam narasi cerita yang mengalir apa adanya. Deskripsi setiap peristiwa, tempat, dan interaksi antar tokohnya ditulis dengan baik. Latar tempat yang disorot ada dua negara, yaitu Amerika Serikat dan Italia. Namun, hampir sembilan puluh persen jalan ceritanya berlangsung di Italia. Bagaimana setiap detail kota-kota di Italia diceritakan dengan rinci. Mulai dari bangunan, kebun anggur, makanan, dan suasana kotanya terasa sangat hidup. Satu hal lagi yang semakin menegaskan jika ceritanya berlangsung di Italia adalah adanya beberapa kata dan kalimat berbahasa Italia yang turut disisipkan.
Permasalahan yang terjadi dalam La Dolce Vita berkisar antara masalah keluarga Nic dan kisah asmara Vin yang menghubungkan mereka dalam ikatan cinta. Nic yang pada awalnya ingin mencari penghiburan lewat side job di Italia setelah dipecat sebagai jurnalis di Posh! malah dihadapkan pada fakta tentang keluarganya yang selama ini belum terungkap. Selain itu ada Vin yang mengalami trauma akibat kegagalannya menikah dengan wanita yang dicintainya. Kedua insan yang dilanda gundah gulana ini dipersatukan dalam sebuah takdir di Italia. Kontras antara konflik Nic yang berhasil menemukan jawaban atas tanya di masa lalunya serta kegalauan Vin akan pernikahannya yang gagal membentuk suatu konflik baru dalam hubungan mereka. Kerapuhan kedua tokohnya ini terlihat lewat permasalahan mereka yang diuji dalam sebuah rasa cinta. Mungkin konfliknya terasa sedikit hambar dan kurang terasa. Saya pun merasakan jika konfliknya ini terasa terlalu banyak elemen yang menyertainya. Rasanya setiap elemen ini pun bukannya menunjang konfliknya malah terlihat "begitu saja" tanpa penyelesaian yang memuaskan.
Di saat pandemik seperti ini La Dolce Vita memberikan penghiburan tak hanya sekadar lewat cerita, tapi kita diajak berekreasi ke Italia. Melalui jalur benak dan imajinasi kita bisa merasakan romantisme negara Italia. Penulis ahli dalam mendeskripsikan setiap tempat cantik yang ada di Italia. Mulai dari restoran, kebun anggur, hingga museum. Riset yang dilakukan penulis tergolong sangat baik karena dapat menceritakan negeri matador itu dengan sangat detail. Cerita tentang sepasang insan yang dilanda masalah dan dipertemukan di Italia pun tidak kalah menarik. Pencarian Nic akan asal-usulnya akan memancing rasa penasaran pembaca. Kisah cinta Nic dan Vin yang mungkin tidak terlalu terasa, tapi tetap layak untuk diikuti. Namun, sayangnya banyak sekali serba kebetulan di novel ini. Luas Italia seolah-olah hanya selebar daun kelor jika melihat berbagai kebetulan yang terjadi. Semuanya seakan ditarik melalui benang merah yang sama. Bukannya saya tidak percaya akan kebetulan dan keberuntungan, hanya saja berbagai kebetulan yang terjadi dalam La Dolce Vita terasa too good to be true. Terlepas dari kekurangannya La Dolce Vita merupakan sebuah novel metropop yang mengajak pembaca berwisata ke Italia.
Vin ditinggalkan oleh kekasihnya di depan altar. Bukan hanya itu, Cassie membuka masa lalunya di depan keluarga dan tamu yang hadir. Pernyataan Cassie didukung oleh kehadiran dua mantan kekasihnya yang pernah ditinggalkannya sesaat sebelum pernikahan akan berlangsung.
Nic berangkat ke Italia setelah dipecat dari majalah Posh tempatnya berkarit selama 7 tahun. Dia tahu atasannya menjebaknya tapi dia tidak punya bukti kuat. Akhirnya dia menerima tawaran sahabatnya untuk menjadi penulis bayangan dari seorang pemilik lahan kebun anggur. Di sana dia bertemu dengan Vin. Keduanya menjadi akrab dengan segera.
Ada rahasia masa lalu Nic yang akhirnya terbuka di rumah pertanian itu. Juga berbagai kejadian yang mengubah jalan hidup Nic.
Kisah cinta yang sedikit rumit, namun dituturkan dengan jelas dan runtut. Saya suka dengan gambaran rumah pertanian dan kebun anggurnya, serta keramahan Italia. Alur cerita dari sudut pandang Vin dan Nic secara bergantian membuat kisahnya menjadi seimbang dan jelas.
Kalau bukan dengerin audiobook-nya, bakaln ku dnf, sih. Bosen soalnya. Insta love is not my thing, jadi y nggak ada chemistry. Trus aku nggak suka juga sama semua kebetulan yg ad di buku ini. Italia udah kayak selebar daun kelor. 😂 😂
Nic, difitnah oleh rekan kerjanya di Posh! Sebuah perusahaan majalah yang sukses di NYC. Dia akhirnya diberhentikan dari pekerjaannya dan memutuskan pergi ke Italia bersama Ayahnya. Di Italia, Nic bertemu dengan Vin, laki-laki yang baru saja ditinggalkan pasangannya di altar pernikahan. Kedua insan manusia ini sering terjebak dalam momen-momen yang membuat mereka secara tak sadar saling terbuka terhadap satu sama lain. Sampai akhirnya mulai timbul benih-benih rasa di hati keduanya. Namun, untuk bisa bersatu ternyata tak semudah itu karena Nic punya tunangan!
Review:
Buku yang sangat menarik! Ini adalah buku pertama yang aku selesaikan dengan mendengarkan audionya! Jadi kalau kalian penasaran, kalian bisa ke Storytel dan coba dengarkan audiobooknya yang menurutku keren banget! Suara naratornya enak banget didengar. Intonasinya jelas, suaranya bikin telinga adem, apalagi narator Vin, duh suaranya ganteg bgt, deh!!!
Latar cerita di Italia yang membuatku tertarik untuk membaca buku ini. Ternyata memang ketika membaca buku ini rasanya seperti diajak berjalan2 ke pedesaan Italia sekaligus melihat hiruk pikuknya kota Roma. Penulis memiliki narasi yang menurutku sangat indah dan mengalir. Penjelasan mengenai Italia di dalam buku ini tidak membuat bosan sama sekali. Penulis pintar meramu budaya Italia di dalam buku ini, tidak terkesan berlebih2an namun tidak juga terasa kurang.
Konflik yang dihadirkan tidak hanya antara Vin dan Nic saja, tetapi ada konflik keluarga dan konflik perkantoran. Sayangnya, aku merasa konflik di dalam buku ini terlalu banyak namun tidak berhubungan sama sekali, sehingga aku merasa bosan dan sempat hilang arah di tengah cerita karena konflik yang cukup banyak. Konflik-konflik ini juga yang membuatku kurang merasakan kekuatan kemistri antara Vin dan Nic. Hubungan mereka terkesan terburu-buru di akhir cerita. Nic putus dari tunangannya tanpa merasakan sedih sama sekali lalu langsung move on ke Vin dan memiliki perasaan yang sangat sangat dalam ke Vin, hal ini menurutku terlalu terburu2.
Namun, aku suka dengan beberapa pelajaran yang bisa kuambil dari buku ini. Salah satunya adalah mengenai ambisi. Kita boleh berambisi, tapi kita juga tidak boleh lupa kalau kita tidak bisa hidup sendiri. Ketika ada seseorang yg menurutmu tepat datang ke hidupmu, maka jangan sia2kan orang itu, dan adakalanya pada saat itu kita harus melepaskan ego kita yang besar demi kesepakatan dan kebahagiaan yang baru.
Aku beri buku ini 3 bintang karena merasa kurang puas dengan endingnya yang lagi2 terkesan terburu2 dan menggantung. Meski begitu, pengalaman membaca buku ini sangat menyenangkan, seolah diajak berlibur langsung ke Italia dan bertemu dengan keluarga Italia.
Aku suka dengan ide novelnya. Bagaimana mempertemukan 2 orang yang sama-sama memiliki masa lalu yang "pahit" bertemu di Italia.
Nic yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan Vin yang gagal menikah untuk ketiga kalinya, bahkan yang terakhir terjadi didepan altar.
Bersettingkan sebagian besar di Italia, membuatku seakan berjalan-jalan di Itali. Aduh, aku benar-benar ngiler, terutama pengen rasain tinggal di rumah pertanian seperti Tesuta Visari. Pokoknya settingnya cukup detail, apalagi yang dieksplor bukan hanya kota terkenal seperti Roma, tapi kota-kota lainnya yang wajib banget dikunjungi 😍
Untuk konfliknya sendiri sebenarnya tidak terlalu berat, diceritakan dengan 2 sudut pandang secara bergantian baik dari sisi Nic maupun Vin, membuatku jadi bisa memahami apa yang mereka pikirkan dan rasakan satu sama lain. Bagaimana kehidupan dan masa lalu membentuk karakter keduanya.
Twistnya sendiri sebenarnya cukup rumit, sayangnya menurutku terlalu mudah diselesaikan. Padahal "konfliknya" cukup berat, apalagi seakan dibiarkan begitu saja oleh ayah Nic.
Baca novel ini itu seperti membaca sebuah karya terjemahan, seperti membaca historical romance atau harlequin tapi tidak terlalu "hot" dan sedikit drama. Jadi berasa nostalgia, apalagi tiap bab itu diberi judul dalam bahasa Italia dan Inggris dan ada kutipan-kutipan yang menggambarkan isi bab itu sendiri. Suka 😍
Kalau tidak melihat nama penulisnya sebelumnya dan langsung membaca novelnya, aku yakin kamu bakal mikir sedang membaca novel terjemahan.
Endingnya sendiri terasa realistis. Sebagian besar orang mungkin saja pernah berada di posisi antara memilih karier atau cinta sejati. Aku suka dengan penyelesaiannya, walau beberapa hal yang memang kurang dieksplor 😁
"Menemukan cinta sejati adalah keajaiban yang hanya dialami oleh sedikit orang. Cinta itu sesuatu yang sangat special"
Tbh, baca review2 buku ini yg kurang bagus buat gue jadi agak underestimate. Tapi ternyata engga seburuk itu ceritanya. Meskipun bukan berarti gue menikmati banget, tapi kayanya engga ada part yg gue merasa bosan bacanya.
Pernah/ sering mengalami Serendipity atau istilahnya adl kebetulan yang sangat indah? Atau, justru seringnya mengalami kebetulan yg tdk menyenangkan? 🐈😌 . . #reviewLaDolceVita _ Novel ini benar-benar menggambarkan dunia memang sempit dan hanya selebar daun kelor. Kebetulannya bisa dibilang banyak. Bukan tidak bagus. Namun, ibarat mengonsumsi sesuatu yg enak sekalipun dlm porsi berlebih, hal itu sedikit mengurangi kenikmatan cita rasa. Meski demikian, buku ini tak kehilangan seluruh keseruannya utk mengikuti kisah Nic & Vin, seorang lelaki yg sudah dua kali batal menikah ditambah pula dicampakkan oleh calon pengantinnya di hadapan altar Basilika
Konflik di mulai dr Nic yg dipecat majalah populer Post! di New York krn tulisannya menimbulkan kontroversial. Nic yg merasa diperlakukan tdk adil kemudian terbang ke Tuscany atas permintaan sahabatnya utk mengerjakan proyek menulis sekaligus mengobati sakit hatinya
Tinggal di sebuah rumah pertanian dg perkebunan anggur nan luas dan keluarga yg hangat, Nic tdk hanya menemukan kedamaian yg diidam-idamkan. Selain mendapatkan tour keliling Basilika yg menyenangkan, Nic menjadi lebih terbuka dlm melihat seperti apa tunangannya selama ini dan mendapati teka-teki ibunya yg menghilang selama puluhan tahun, dan menemukan Vin, seseorang yg sdh tdk percaya pd pernikahan
Aku suka writing style Nina Ruriya & bagaimana dia menggambarkan Tenuta Vasari & kebun anggurnya. Juga menerangkan cara membuat wine terbaik. Jadi membayangkan diri sendiri ikut panen anggur. Sepertinya sih bakalan menyenangkan.. 😻 .
Poin plus dr novel ini semua konflik yg bermunculan terselesaikan meski kesannya 'mudah' atau kurang gereget. Aku sendiri aselinya berekspektasi masalah Nic di Post! memiliki porsi penyelesaian yg lebih 'seru' sebagaimana serunya kejutan² yg Vin hadapai terkait kehidupan pribadinya.. 😅😅 . . 3.4 ⭐. Meski merasa kurang mendapatkan emosi yg ingin disampaikan penulis, tp aku merekomendasikan La Dolce Vita untuk teman² yg ingin cerita ringan, menghibur, lumayan romantis & sejenak merasakan tour ke Italy tanpa meninggalkan kasur & dapur.. *eh.. 😂✌️
Awalnya aku tertarik membaca novel ini karena latarnya ber-setting di negara Italia dan juga kota New York. Saat awal membaca aku belum mendapat feel-nya sehingga agak mengantuk untuk membaca tapi si penulis benar-benar pandai merangkai kata dengan lebih banyak mendeskripsikan beberapa tempat di Italia dan membuat cerita ini mengalir begitu saja. Yang membuat saya tertarik juga adalah beberapa nama makanan yang terdapat dalam novel ini, membuat saya hanya bisa berkhayal dan ingin mencicipi makanan itu. Penulis juga pandai menceritakan kisah melalui sudut pandang Nic dan Vin serta sudut pandang penulis sendiri. Ada hal yang membuat novel ini spesial yaitu adanya quotes di setiap bab dan menurut saya itu sangat bagus.
"Everyone is a moon, and has a dark side which he never shows to anybody." -Mark Twain- (Halaman 76)
"Life moves on and so should we." -Spencer Johnson- (Halaman 103)
"Life is full of surprises. Not all these surprises are pleasant, so you need to be ready for what life brings you." -Anonymous- (Halaman 137)
"Sometimes the love of your life comes after the mistake of your life." -Linda Hayles- (Halaman 197)
"People are either born hosts or born guests" -Max Beerbohm- (Halaman 212)
"The person who deserves to be in your heart is the person who without limitations is willing to give you theirs." -Rashida Rowe- (Halaman 244)
"In a world full of temporary things, you are perpetual feeling." -Sanober Khan- (Halaman 255)
Aku merasa konflik di dalam novel ini kurang kuat dan penyelesaian masalah yang cenderung cepat jadi aku kurang menikmatinya. Aku juga kurang greget sama endingnya, dan berharap ada satu bab lagi yang menceritakan kehidupan Nic dan Vin setelah menikah tapi aku rasa ending semacam itu terlalu mainstream jadi aku maklumi lagi hehe. Namun di balik itu semua, ada beberapa hal yang aku sukai juga dari novel ini yaitu alur ceritanya yang ringan dan menyenangkan, meskipun ada banyak kebetulan yang terkesan seperti drama. Cocok banget buat orang yang menikmati cerita yang ringan dan minim konflik.
Pertama, aku suka banget bagian travelling-nya. Penjelasannya juga detail, deskripsi tempat sama suasanya nggak gampang bikin bosen. Walaupun iki lidah belibet ngejanya.
Kedua, kelebihan travelling dan deskripsinya bikin hal lainnya jadi lemah. Contoh, alur yang yah, nggak bisa dibilang lambat. Malah cepat, macam kirim paket kilat. Semisal Nic dan Vin bukan stranger, mungkin bakal sedikit maklum, tapi mereka belum kenal sama sekali (kecuali takdir or benang merah yang mengikat mereka, yaaa). Sayangnya, untuk ukuran bikin orang nyaman tuh, susaaah. Apalagi Vin punya trauma soal pernikahan. 3 kali kegagalan itu nggak bisa dibilang mudah sembuh 😅
Ketiga, semua kebetulan dalam buku ini emang kerasa gimana gitu. Asumsiku, penulis kayak enggan menyia-nyiakan semua karakternya. Dijalinlah benang merah antar mereka. Entah, diniatkan buat jadi semacam twist (atau cuma kejutan?), tapi malah jatuhnya lah dia lagi dia lagi. The ending for Vic's father juga agak gimana yak, kasihan menurutku 😭
Keempat, soal konflik, aku bingung konflik utama Vic yang mana. Kalo kecurangan di Posh! itu kayaknya bukan konflik utama, ya, jelas sih. Apa soal Vic mimpi didatengin wanita itu? Kalo iya, entah gimana malah nggak ambil perhatian sepanjang cerita. Masalah Vic tuh malah banyak ya, si Ed juga. Makin banyak malan rancu.
Proses jatuh cintanya Vin sama Nic bisa dibilang cepat juga. Ya ngikut sama alurnya yang cepat, lah. Sampai akhir pun bingung (plus surprised), kok bisa mereka jadi saling percaya gitu. Apa yang bikin Nic beda dengan mantan2 Vin yang lain?
Bacaan ringan buat isi waktu luang. Yang demen jalan-jalan sambil menikmati romansa ala-ala.
It's great. Rasanya seperti nonton film Hollywood. Haha. Penulis dengan lihai membuat misteri dan mengungkapkannya satu demi satu dengan sabar. Dua tokoh utama tadinya dibuat hancur sehancur-hancurnya di awal. Nic atau Nicoletta difitnah dengan artikel seolah yang sudah ia tulis berisi tulisan bahwa seorang aktor ternama yang baru saja ia wawancarai adalah homofobia. Vin atau Vincenzo ditinggalkan calon istrinya sendiri di depan altar pernikahan, di depan dua mantan pacar yang juga pernah ia tinggalkan. Tapi seiring berjalannya cerita, penulis membangkitkan dua tokoh utamanya secara perlahan. Seting Italianya, perkebunan anggur, pengolahan wine, seni rupa Italia juga begitu nyata, serasa diajak berwisata keliling di sana.
Awalnya aku memang ngerasa agak kesulitan dengan banyaknya para tokoh dalam cerita ini. Karakter sampingan yang hanya muncul sekilas pun punya nama. Nama-nama orang Italia terdengar begitu meliuk-liuk di otakku. Untungnya peran mereka dalam cerita diulang lagi di beberapa bab selanjutnya, di saat yang tepat. Jadi bisa refresh ingatan. Alur cerita menariklah yang terus membuatku membalik halaman meski tadinya aku kesulitan dengan nama para tokoh sampingan.
Khas cerita ala film Hollywood, beberapa masalah dibuat selesai dengan terlalu cepat di akhir. Solusinya serasa menumpuk semua di akhir. Misalnya soal ayah Nic yang dengan cepat menemukan sosok pengganti kekasihnya, atau bosnya, Thalia, yang langsung balikan dengan pacar lamanya.
Tapi ya sudahlah, toh bagian drama dan misteri di sepanjang ceritanya juga sudah begitu memikat.
Pertama baca blurb langsung terkesan membaca buku terjemahan era 2013an.
Bercerita tentang Nic dan Vin, yang sama-sama memiliki luka dan saling bertemu.
Nic memulai kisah dari NY ke Italia dan menjadi seorang Ghost Writer yang mengantarkannya pada keluarga Vin dan segala misteri dibaliknya. Ia mengetahui latar belakang Vin, cerita pedihnya bahkan menemukan apa yang selama ini ia cari melalui Vin.
Ah ini genre metropop yang manis dan cocok dibaca oleh si Hopeless Romantic sepertiku. Aku suka penulis mendeskripsikan secara detail tempat, makanan dan semua hal di dalam novel ini.
Minusnya adalah di beberapa narasi yang terkesan bertele-tele dan terkesan boring serta banyaknya tokoh yang muncul secara bersamaan 🤦🏻♂️
No... this book is not for me. Terlalu kemana mana dan jadi yang mau dibahas itu apa? Terlalu banyak persoalan tumpang tindih dari kedua tokohnya Bahkan tokoh sampingannya pun gakalah banyaknya dengan filler filler here and there.
Aku salut dengan pendeskripsian winery dan tempat tempat di Italia yang menjadi sorotan di novelnya tapi gatau mungkin, plotnya jadi kurang kuat menurutku.
“Sebuah hubungan hanya akan berhasil kalau kalian saling percaya. Satu lagi, cinta adalah dua orang yang tidak menyerah akan satu sama lain.”
“Ketika sungguh-sungguh mencintai seseorang, bersiaplah menghadapi tornado mini hingga badai mematikan yang mungkin akan mengganggu perjuangan kalian berdua.”
Setelah didepak dari majalah Posh! Nic terbang berjam-jam dari New York ke Roma demi menjadi ghost writer untuk Rosetta Vasari.
Sementara itu, Vincenzio Vasari masih meratapi nasib setelah 3x nyaris menikah.
Kedatangan Nic di rumah pertanian Tenuta Vasari di Firenze untuk proyek buku Rosetta Vasari mendekatkan Nic dan Vin. Tapi, bukannya Nic udah punya tunangan?
Satu per satu misteri masa lalu keluarga Nic dan masa lalu Vin dengan mantan-mantannya dikupas seperti lapisan bawang.
Twistnya lumayan lucu menurutku sih. Khas harlequin dengan sedikit drama. Tapi yaudah gitu aja penyelesaiannya gampang.
Agak gak make sense menurutku ketika ada keluarga yang hilang terus gak dicari (?) Aku kurang puas sama konfliknya karena gak ada penjelasan dari Jim Navarro.
Since aku udah nonton Letter to Juliet waktu jaman kuliah, baca ini tu kebayangnya Amanda Seyfried. Mana ceritanya mirip lagi kan, tapi settingnya di Verona.
Novel ini aku rekomendasikan buat yang suka traveling karena deskripsi lokasinya bikin pengen pesen tiket trip eropa. Jangan lupa makan dulu sebelum baca biar gak laper. Soalnya banyak scene lagi makan gitu bikin pengen makanan italy
"Setiap orang punya masa lalu. Ada yang kita kenang-kenang, ada yang tidak ingin kita ingat. Dan untuk melupakan masa lalu butuh usaha yang keras. Bukan begitu?" (Hlm. 91)
Mengisahkan tentang dua orang yang memiliki luka di masa lalu; Nicoletta Navarro dengan luka dan kebenciannya terhadap ibu yang meninggalkannya sejak berusia dua tahun, dan Vincenzio Vasari dengan luka akibat hubungannya yang tiga kali kandas sekaligus pernikahannya yang gagal. Keduanya dipertemukan secara tidak sengaja di Italia dan perlahan-lahan saling menyembuhkan.
Cerita dimulai ketika Nicoletta yang bekerja sebagai jurnalis di Departemen Berita dan Editorial majalah Posh! dibebastugaskan sementara karena artikel tentang Scott Graham yang ia tulis dinilai tidak mencerminkan visi Posh!. Artikel itu mendapat banyak respons negatif yang mencoreng nama baik Posh!. Nina Webber, pemimpin redaksi sekaligus atasan Nicoletta, menuduhnya berkhianat dan sengaja ingin menghancurkan reputasi Posh!.
Nicoletta tidak diberi kesempatan untuk membela diri dan membuktikan tuduhan Nina. Ia merasa telah dipermalukan atas hal yang tidak dilakukannya dan tak bisa berbuat apa-apa selain menerima surat pembebastugasannya. Belum cukup dengan pembebastugasannya, penderitaan Nicoletta semakin bertambah dengan hilangnya flashdisk berisikan dokumen asli artikel Scott Graham.
Singkat cerita, Nicoletta mendapat tawaran pekerjaan dari Fiona—teman yang juga pemimpin redaksi Donna Moderna di Milan—sebagai penulis bayangan untuk buku yang akan ditulis Rosetta Vasari, istri pemilik Tenuta Vasari—pertanian anggur yang terletak di Castelnuovo dell'Abate—dan kontributor lepas Donna Moderna. Di sanalah Nicoletta bertemu dengan Vincenzio Vasari dan mengetahui rahasia tentang ibunya yang selama ini ingin diketahuinya.
Berbeda dengan Nicoletta, Vincenzio Vasari dicampakkan sekaligus dipermalukan oleh Cassandra Reid (Cassie), calon istrinya, di pernikahan mereka. Cassie menolak menikahi Vincenzio yang dulu pernah mencampakkan dua mantan calon istrinya dan menuduh Vincenzio hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Vincenzio tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan alasannya dan ia ditinggalkan begitu saja oleh Cassie.
Tidak mudah bagi Vincenzio untuk melupakan Cassie hingga Nicoletta hadir dan mampu membuatnya kembali jatuh cinta. Kedekatan dan pertemuan yang cukup intens menumbuhkan perasaan yang sama di antara keduanya. Namun, hubungan yang mereka jalani tidak mudah dan masalah terus berdatangan. Mulai dari kedatangan Eduardo, tunangan Nicoletta, ke rumah pertanian, rahasia kisah hidup ibu Nicoletta, sampai kesalahpahaman lain yang membuat hubungan mereka berjalan singkat.
Penggambaran latar tempat yang betul-betul detail membuat kita seperti berada di Italia dan menyaksikan langsung kisah Vincenzio dan Nicoletta. Ditambah riset yang mendalam dan mengayakan mengenai wine, istilah/nama dalam bahasa Italia, kawasan industri yang bersebelahan dengan Trastevere dan Aventino, sejarah bangunan Basilika Sant'Antimo, dll. semakin melengkapi "perjalanan" kita menyusuri keindahan Italia.
Sayangnya, rahasia/misteri yang disajikan kurang gereget dan ada dua hal yang mudah tertebak; pacar Carla Leone dan hubungan Jim Navarro setelah memilih kebahagiaan Nicoletta. Namun, hal itu tidak mengurangi keseruan novel ini. Karena lewat para tokohnya kita tidak hanya melihat hubungan yang tidak sehat, rekan kerja yang tidak kompetitif dan menjatuhkan rekannya dengan cara yang buruk, dll., tetapi juga diajak untuk berefleksi tentang makna hidup dan hubungan serta karier yang dijalani.
Dalam kisah ini, Nicolleta Navarro dan Vincenzio Vasari pernah mengidamkan kehidupan manis mereka masing-masing dan hampir berhasil mewujudkannya. Namun, kisah mereka baru dimulai saat insiden demi insiden datang. Keduanya dipertemukan di suatu desa romantis di Italia di mana setelah dipecat dari kantor lamanya Nic mulai menemukan pekerjaan baru dan kepingan dari misteri tentang asal-usulnya. Sementara itu, Vin mulai memberanikan diri untuk keluar dari kegagalan pernikahannya yang fantastis setelah dicampakkan calon istrinya tepat saat mereka akan mengikat janji. (Oh, betapa aku sangat suka scene di mana Vin ‘dihabisi’ para mantannya hari itu. Akhirnya, ada novel metropop yang sejak awal menunjukkan keburukan dan kesalahan karakter cowok yang selama ini sudah terlalu stereotype dipuja dan dibucinin sejak halaman satu).
Hadirnya Vin mengisi hari-hari Nic dengan kisah perkebunan anggur keluarganya, masakan buatannya dan tempat-tempat bersejarah di negeri es krim gelato. Untuk seorang cowok Italia, Vin ini lebih platonik dan berhati-hati. Mungkin karena dia sudah kena batunya dipermalukan di depan altar waktu itu (karma is real, guys). Sementara Nic sosok wanita masa kini yang independen terjebak dalam hubungan yang tak sehat dengan tunangannya. Mereka pun mulai bermimpi tentang la dolce vita atau 'kehidupan yang manis' berdua meskipun diwarnai terungkapnya banyak rahasia.
Dengan konflik-konflik yang sudah cukup menarik, respons dan emosi karakternya seharusnya bisa muncul dengan lebih tajam karena diceritakan dari POV 1 Nic dan Vin. Ada beberapa bagian pada cara mendeskripsikan tempat keduanya terkesan identik dan senada padahal dari dua karakter yang seharusnya jalan pikir dan caranya melihat dunia berbeda. Di bagian lain sudut pandang ini dieksekusi cukup baik, khususnya dialog. Aku suka interaksi antara Nic dan Vin, enggak berlebihan dan malah berkesan seperti sahabat. Sudah bosen banget sama dua karakter novel romance yang dikit-dikit swooning satu sama lain. Ya, sinopsis yang ada di belakang buku ini itu mewakili ceritanya, aku senang jika blurp di cover belakang bisa segamblang itu namun tetap menarik dan bikin penasaran.
Yang juga membuatku tertarik adalah bagaimana penulis melakukan riset budaya dan lokasi sementara semua tokoh dan setting ada di Amerika dan Eropa. Menulis dengan latar atau kebudayaan berbeda tentu tidak mudah dan butuh waktu. Terlebih di novel ini deskripsi tentang tempat-tempat di Italia mendominasi narasi.
Aku lega menyelesaikan novel ini. Hal bagusnya adalah ketimbang mengumbar konten sensual kurang penting (seperti kebanyakan novel dewasa hanya karena itu biar jadi romansa), novel ini lebih menceritakan tentang bagaimana harus bisa logis dalam menyikapi banyak cobaan: less drama. Itu juga yang bikin ceritanya lebih masuk akal karena kebetulan dan keberuntungan yang ada di novel ini mulai terkesan seperti dongeng yang butuh sihir sungguhan untuk jadi nyata. Untungnya, dua tokoh utamanya cukup menunjukkan sikap realistis.
Kurang lebih, buku ini mungkin cocok buat yang baru menjajaki genre metropop.
"Kesedihan tidak perlu dibanding-bandingkan. Kesedihanmu nyata, begitu pun milikku." - La Dolce Vita, Nina Ruriya.
La Dolce Vita • Nina Ruriya • GPU• 2020 • 280 Hlm.
"Tak ada yang salah dengan membatalkan pernikahan. Banyak orang melakukannya. Menurutku, batal lebih baik daripada harus menjalani kehidupan yang tidak kalian harapkan. Dan orang memang akan selalu bergosip, tak peduli keputusan itu benar-salah." - Hlm. 135
"Ada dua tipe manusia; mereka yang benci dan marah melihat orang lain sukses, dan mereka yang menjadikan kesuksesan orang lain sebagai motivasi untuk mencapai keberhasilan mereka sendiri." - Hlm. 219
"Ketika sungguh-sungguh mencintai seseorang, bersiaplah menghadapi tornado mini hingga badai mematikan yang mungkin akan mengganggu perjuangan kalian berdua." - Hlm. 259
Nic kehilangan pekerjaannya di majalah Posh! setelah tulisannya di majalah itu menuai kontroversi. Katanya, tulisannya terlalu subjektif. Sementara itu, Vin ditolak oleh calon istrinya tepat di hari pernikahan mereka di depan keluarga, para tamu, dan juga dua mantan calon istrinya. Sungguh memalukan! Namun, mungkinkah ini karma mengingat dua pernikahannya terdahulu pun digagalkan olehnya? Vin bertemu Nic yang mendapatkan pekerjaan sebagai seorang ghost writer bagi Rosetta, ibu Vin. Mungkinkah cinta muncul di antara keduanya sementara Nic sudah bertunangan dan Vin belum sembuh setelah kegagalan pernikahan terdahulu?
Pertama, kalau kamu suka jalan-jalan lewat buku, bisa jadi buku ini menjadi pilihanmu. Buku ini akan mengajakmu berkeliling dari satu piazza ke piazza lain, dari satu basilika ke basilika lain, dari kebun anggur ke beberapa restoran atau galeri seni. Narasi penggambaran latarnya cukup asyik sehingga membaca pembaca untuk ikut serta.
Namun, aku sedikit terganggu dengan laju cerita yang terlalu cepat. Aku merasa Nic dan Vin terlalu cepat dekat. Meskipun begitu, aku menyukai interaksi keduanya. Duh, gemas!
Selain laju cerita yang sedikit cepat, hubungan antartokohnya yang saling berkaitan menimbulkan sebuah tanda tanya besar. Mungkinkah hal seperti itu terjadi di dunia nyata? Rasanya cerita ini jadi tidak masuk akal karena hubungan tiap tokohnya yang saling kenal. Italia tidak selebar daun kelor, bukan?
Oh, ya, aku sedikit terkejut ketika pembahasan soal ibu Nic lebih banyak dibahas di awal buku. Seolah permasalahan Nic dengan Posh!--seperti yang tercantum di blurb--kalah saing. Namun, tenang saja, penulis berhasil menutup cerita dengan menuntaskan semua konfliknya kok. Aku suka! Jadi, kalau kamu suka "jalan-jalan" ke luar negeri atau pencinta quote (tiap awal bab dibuka oleh quote), kurekomendasikan buku ini. Selamat membaca!
"Aku tahu karier cemerlang memang akan menjamin kehidupan menjadi lebih baik dan lebih mudah. Tapi, kau juga harus mengingat ini: menemukan cinta sejati adalah keajaiban yang hanya dialami oleh sedikit orang. Cinta itu sesuatu yang sangat spesial." - Hlm. 269
"Namun akhir-akhir ini aku menyadari, aku bertambah tua dan tampaknya telah menghancurkan hidupku sendiri. Pada usia tua ini, aku tidak berani memiliki bayangan indah tentang pernikahan. Semua yang telah kucapai dan miliki tidak sebanding dengan waktu-waktu yang telah kukorbankan demi karier; mereka tidak dapat menolongku melewati malam-malam sepi; mereka tidak memberikan kehangatan yang jiwaku butuhkan." - Hlm. 270
🇮🇹 Novel ini senagian besar ber-setting di Italia, sisanya di Amerika. Yang saya suka banget, Mbak Nina mampu menggambarkan suasana dengan cukup detail tapi tidak membosankan, membuat saya serasa menghirup udara Italia, melihat hamparan pertanian anggur, dsb. 🍇 🛵 Garis besar ceritanya tertuang dalam blurb yang saya cantumkan di slide kedua. Lingkaran perkenalan dan kehidupan Nic dan Vin yang bersinggungan di beberapa bagian menjadikan novel ini mempunyai plot yang menarik, yang berpotensi menjadi novel yang rumit dan bikin ambyar. Tapi penulis sepertinya lebih memilih menjadikannya novel yang "cerah" dengan penyelesaian konflik yang lebih mudah, yang mengakibatkan rasanya kurang nendang. 💑 🌠 Seperti judulnya yang berarti kehidupan yang manis, novel ini memang hangat dan manis. Hubungan antara Nic dan ayahnya, juga interaksi dalam keluarga Vasari, kadang kala membuat iri. Mereka saling mendukung dan ada untuk keluarganya. Interaksi menyenangkan antara keluarga Vasari dengan para pekerjanya, meskipun cuma sesekali muncul, juga terasa membekas. 😇 🏷 Setiap bab diawali dengan urutan bab yang ditulis dengan bahasa Italia, diikuti sudut pandang siapa yang diceritakan dalam bab itu, lalu ada kutipan berbahasa Inggris dari berbagai sumber yang sesuai dengan isi babnya. Hal ini membuat awalan bab jadi terlihat indah, di mana kutipan itu menjadi semacam "pemandu" akan apa yang terjadi dalam bab itu. Dalam cerita juga banyak petuah tentang cinta dan pernikahan. 😍 ___ "Menikah itu butuh persiapan, terutama mental." (Hlm. 73) ___ "Kesedihan tidak perlu dibanding-bandingkan. Kesedihanmu nyata, begitu pun milikku." (Hlm. 92) ___ "Tak ada yang salah dengan membatalkan pernikahan. Banyak orang melakukannya. Menurutku, batal lebih baik daripada harus menjalani kehidupan yang tidak kalian harapkan. Dan orang memang akan selalu bergosip, tak peduli keputusan itu benar-salah." (Hlm. 135) ___ "Nic, cinta memang manis. Tapi kau harus punya akan sehat." (Hlm. 138)
Ngobatin kangen jalan-jalan banget ini, haha. Nggak tanggung-tanggung, sekalian dibawa ke Italia—dari kota besarnya sampai perkebunan anggur yang asri. Kalau lagi cari cerita yang latarnya luar negeri terutama Eropa, coba baca ini. Puas rasanya muter-muter sejauh itu wkwk. Gaya bertuturnya yang rapi juga jadi poin plus selanjutnya. Kalimatnya sederhana jadi mudah dicerna, tapi bisa melukiskan gambaran latar yang detail.
Konfliknya sendiri lebih Nicoletta daripada Vincenzio (maksudnya lebih ngamrik daripada Itali). Jujur, dengan latar se-healing itu, awalnya saya menyangka (dan oke, penginnya) kisahnya tenang-tenang saja. Tokohnya nggak terlalu banyak dan terlalu berhubungan, cerita tentang Mom juga langsung disingkat aja atau dihubungkan sama kisah cinta Nic dan Vin, dan ada satu plot yang menyokong. Awalnya juga saya pikir Vin memang fboy tapi ternyata dia sadboy, wkwk. Ya, beruntunglah dia ketemu Nic.
Buat hopeless romantic, buku ini pasti akan manjain kamu. Saya merasa ini lebih ke Amore (Metropop Romance) ketimbang Metropop, apalagi ada resensator yang bilang hawanya mirip-mirip Harlequin (saya belum pernah baca HQ soalnya, jadi kurang paham). Oh ya, rambut Nic kan pirang gelap, tapi di kovernya hitam. Nggak apa-apa deh, seenggaknya kuncir kudanya sama hehe.
(Pengin ngiler sama makanannya, tapi ternyata kebanyakan non-halal huhu mau coba ngerasain juga jadi takut 😅 maafin)
"Tapi, kau juga harus mengingat ini: menemukan cinta sejati adalah keajaiban yang hanya dialami oleh sedikit orang. Cinta itu adalah sesuatu yang sangat spesial." - Pg. 269 Selesai! Dan aku suka banget deh. Ini adalah kali kedua aku baca tulisan Kak Nina. La Dolce Vita diceritakan menggunakan sudut pandang Nic dan Vin bergantian dan mengambil latar tempat di New York dan Italia. Yang aku suka adalah penjabaran tentang lokasi-lokasi di Italia yang mendetail banget bikin serasa kita ikut ada di Italia. Berasa jalan-jalan gitu. Belum lagi penjelasan tentang makanan, tempat-tempat, wine dan beberapa kalimat dalam bahasa Italia itu bener-bener membuat buku ini serasa buku terjemahan. Padahal mah bukan. 😆 Interaksi karakter Nic & Vin itu juga lucu dan manis menurutku. Sepanjang cerita aku banyak banget senyam-senyum saat Nic & Vin jalan-jalan bareng atau sekedar mendiskusikan sesuatu. Plus, aku nggak nyangka benang merah yang mengikat para tokohnya di dalam konflik buku ini tuh kayak berlapis, walau ada yang kesannya nanggung tapi twist ceritanya cukup bikin aku terkesan. Tipe buku page turner banget.
Nic, bekerja sebagai jurnalis di Posh, selama 7 tahun. Gara-gara difitnah oleh rekan kerjanya tentang kesalahan penulisan artikel, Nic dipecat.
"Kisah hidup selebritas adalah komoditas paling laku dijual. Tapi ketika memublikasikan pernyataan salah tentang mereka, kita tamat!" hlm: 26
Vin, seorang koki sekaligus restauranteur. Menjalin hubungan dengan 3 wanita, tetapi semuanya tidak berujung bahagia.
Pertama kalinya ku membaca karya dari penulisnya. Kusuka dengan penyelesaian konfliknya, karena nggak bertele-tele, interaksi tiap tokohnya, bahasanya enak untuk diikuti, sekaligus belajar bahasa Italia, ditambah ada catatan kakinya, ku diajak jalan-jalan ke New York, Italia, dan semoga bisa berkeliling ke sana, bukan hanya menikmati lewat cerita saja, tetapi, nyata, aamiin. Cara meracik wine dijelaskan dengan lengkap, desain sampulnya gemesin banget😍
Cerita yang ringan, bisa menjadi salah satu bacaan di saat suasana hati lagi kewalahan.
"Sometimes the love of your life comes after the mistake of your life. -Linda Hayles- hlm: 197
Sebenernya tema cerita yg disajikan ini sudah banyak, cukup mainstream, jadi bukan tipe tema yg out of the box menurutku. Jadi pas baca ini aku tidak berekspektasi tinggi karna tidak meninggalkan kesan mendalam. Tapi aku suka dengan deskripsi latar tempat Italy yg oke sehingga bikin aku penasaran seperti apa dan selalu meng-google-nya (jadi pengen ke Italy). Dan aku juga cukup terhibur karna ceritanya ringan, alur juga gak belibet dan tata bahasanya kayak buku terjemahan, suka deh. Worth to read guys di waktu senggang.