Jump to ratings and reviews
Rate this book

Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita?

Rate this book
Jika Tuhan Maha Kasih dan Kuasa, kenapa Dia menimbulkan kesengsaraan pada manusia melalui pandemi korona? Jika sungguh-sungguh berkuasa, kenapa Dia tak segera melenyapkan penderitaan ini agar manusia hidup normal kembali?

Pertanyaan "skeptis" semacam ini sangatlah wajar, manusiawi. Tuhan tak akan marah karena pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Saya kurang setuju manakala seseorang mengajukan pertanyaan yang berbau "protes" itu, lalu dihadapi dengan "hardikan".

Buku ini adalah kumpulan esai Ulil Abshar-Abdalla tentang memahami akidah Islam bersama Al-Ghazali yang dimuat selama bulan Ramadan tahun 2020 di situs Mojok.

186 pages, Paperback

Published July 1, 2020

15 people are currently reading
95 people want to read

About the author

Ulil Abshar Abdalla

3 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (22%)
4 stars
28 (44%)
3 stars
14 (22%)
2 stars
6 (9%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
February 26, 2021
Dalam perspektif saya judul buku ini mengindikasikan pertanyaan para peragu, orang-orang yang krisis iman, dalam pencarian, atau orang-orang yang punya pertanyaan "nakal" tentang agamanya. Tentu orang-orang ini memerlukan jawaban yang solid. Agak sayang, Gus Ulil membatasi tulisan-tulisannya pada teologi Islam. Akan lebih komprehensif bilamana penulis mengemukakan pendapat tidak hanya dari sisi filsuf Islam, tetapi juga filsuf barat - yang lebih dikenal umum. Dengan demikian, orang-orang yang tidak dalam pengetahuan agama Islamnya mendapatkan insight baru. Saya rasa dapatlah disandingkan pemikiran-pemikiran filsuf Islam dengan filsuf barat kontemporer.

Ada yang sedikit mengganggu saya pada bab "Jangan remehkan manusia!". Gus Ulil menyimpulkan bahwa meski manusia berukuran sebutir debu dalam luasnya jagad raya, tetapi hanya manusialah yang memiliki martabat tinggi kecuali jika ada alien dengan super intelegensi. Ini seperti penyangkalan dari argumen pertama. Alien dalam tulisan Carl Sagan The Demon-Haunted World: Sains Penerang Kegelapan adalah psudo sains, tapi dengan memberi penekanan tentang alien, seperti mengamini adanya kecerdasan ekstra-terestrial yang melebihi manusia.

Kedua, dalam esai yang judulnya dibuat judul buku ini, Gus Ulil memakai kata ganti kita. Ini kontradiksi dengan judul esai yang berbentuk pertanyaan. Bukankah pertanyaan itu lazimnya keluar dari golongan orang-orang yang saya sebutkan di atas? Lantas, kenapa ada pernyataan, kita, sebagai orang beriman? Saya jadi bertanya-tanya ditujukan untuk siapa buku ini?

Namun, semakin ke belakang saya mulai menikmati karena tema-temanya tidak lagi terjebak pada posisi penguatan iman orang yang sudah beriman. Penulis juga memasukkan teori-teori umum/non-agamis yang dapat dicerna oleh khalayak dengan pengetahuan jargon Islami terbatas. Banyak pemahaman baru yang saya dapatkan di paruh kedua buku.

Memanglah buku yang dibaca sebelumnya akan berpengaruh pada pembacaan buku berikutnya. Ini terjadi dalam pembacaan saya di buku ini. Sesuai subjudul, "Memahami Akidah Islam bersama Al-Ghazali", buku ini banyak menyadur Ihya' Ulumuddin. Kebetulan, buku yang saya baca sebelum ini adalah Islam, Otoritarianisme, Dan Ketertinggalan, di mana Kuru berpendapat Al-Ghazali adalah salah satu tokoh yang ikut andil dalam kemunduran Islam karena sikap otoritarianismenya. Alhasil,ketika membaca buku ini, ada kesan buku ini terlalu mengglorifikasi sosok Al-Ghazali.
Profile Image for dausshassan.
51 reviews9 followers
June 6, 2021
Contoh persoalan “skeptis” teologi seperti yang tertera pada tajuk buku telah menjadi perbincangan para mutakkallimun sejak berkurun lamanya. Sedikit berat isi penyampaiannya kerana berdialek Indonesia dan penulis juga banyak menaqalkan sumber dari kitab muktabar Al-Ghazali.

Kemampuan nalar berfikir sukar dibendung, tapi ianya haruslah dijawab sebaik mungkin dengan ilmu tauhid. Jika keraguan hati menimbulkan persoalan yang tidak terjawab, maka husnuzon sahaja segala iradah dari ketentuan-Nya adalah semua ke arah kebaikan. Kerana makhluk manusia itu dangkal akan ilmu dan rahsia Tuhan. Semoga kita diperoleh khassiyyah(kebaikan) dalam usaha mentauhidkan As-Sayyid.

Fizik kecil manusia itu terbatas, tetapi kualitas manusia mampu meninggikan darjat kerana adanya fakultas atau kemampuan mental untuk mempelajari hal-hal baru. Dengan adanya pelajaran sedemikian maka manusia itu mampu mengelakkan tanzih (memiripkan Tuhan dengan makhluk).

Tuhan tidak membutuhkan makhluk, bahkan makhluklah yang membutuhkan Tuhan. Segala ganjaran kerana ketaatan bagi hambanya yang beriman pun bukanlah hak keatas-Nya untuk dilunasi. Hal itu adalah sifatnya yang pemurah dan mustahil bagi-Nya bersifat zalim. Hamba mampu mendapat ganjaran disebabkan kolerasi kerana ketaatan mereka.

Di akhir bab, penulis menekankan bahwa institusi negara dan agama seperti saudara kembar. Ibarat yang diunjurkan untuk memahamkan pembaca tentang kepentingan tugas operasi setiap benda, institusi, manusia dan agama. Relevan penganutan beragama seiring zaman sepatutnya dipertimbangkan kerana Islam tidak bersifat solipsisme. Ia mesti dipraktis agar negara terus rukun dalam kesamarataan.

Tuntasnya, hendaklah manusia taklif yang menyaksikan alam syahadah ini senantiasa menimba sebanyak mungkin bagi mensahihkan lagi makrifat ilmu Kalam.
Profile Image for Afifah.
97 reviews
April 3, 2021
Sejujurnya buku ini menjawab persoalanku sebanyak 70%. Kandungan yang mudah difahami oleh marhaen. Aku tersentak kadang-kadang dengan ayat yang ditulis.

Aku enjoy bacaannya, terima kasih kerana menulis.
Profile Image for Shariman Arifin.
23 reviews3 followers
February 10, 2021
Sudah menjadi lumrah manusia yang berfikir bagi menyoal dan meneka aturan Tuhan pemilik alam. Perkara sebegini, menurut penulis, tidak seharusnya diherdik dan dipandang remeh. Kita seharusnya tidak menafikan hak akal untuk terus merungkai teologi demi melacak daya intelektual, terutamanya umat Islam.

Penulis buku ini, menukilkan buah fikir Al-Ghazali dengan begitu rinci dan relevan selaras dengan zaman kontemporer. Pada zaman modern kini, manusia semakin hebat dan maju dengan teknologi dan arus globalisasi yang luas menular. Cara manusia beragama atau mengungkap agama juga turut berbeda jika dibandingkan dengan zaman klasik. Bagi umat Islam, setelah wafatnya Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W, maka terputuslah wahyu Allah terhadap manusia. Jadi, bagaimana manusia mahu meneruskan legasi Kanjeng Nabi ? Bagaimana manusia ingin hidup terus berlandaskan syariat Kanjeng Nabi jika wahyu sudah terputus ? Tuhan utuskan Nabi Muhammad sebagai rahmat sekelian alam. Tidak lain tidak bukan, manusia harus menggunakan anugerah akal. Karena akal lah yang akan menjadi wahyu manusia pada zaman modern kini.

Ketika pandemi kini, penulis mengajak pembaca mengkaji semula kitab terbaik selepas Al-Quran iaitu Ihya Ulumuddin, karangan Imam Al-Ghazali. Tafsirannya cukup pintar dan saya pasti, dari satu bab ke satu bab, idea dan bedahan nya belum cukup tuntas. Buku ini sangat sesuai dibaca dikala kita dilanda ujian pandemi CoVid-19. Paling tidak, ia mampu membawa kita berfikir dan mengukuhkan fahaman kita tentang At-Tauhid.
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
May 15, 2022
Dimulai pertengahan Ramadan, aku berharap bisa selesaikan buku ini sebelum lebaran. Tapi ternyata topiknya bukan tipe yang bisa dibaca sekali duduk, karena memang begitu padat. Judulnyalah yang membuatku tergugah untuk membaca buku ini.

Pembaca diajak berjibaku dengan jawaban yang diberikan atas pertanyaan skeptis pada judul. Sebuah ujaran dari Al-Ghazali sebagai jawaban yakni bahwa dunia yang ada saat ini adaah dunia dalam bentuk yang paling baik. Dengan begitu, kita mesti percaya tidak ada dunia yang sempurna selain dunia yang ada sekarang, dengan segala kekurangannya termasuk penderitaan. Penjelasan yang sungguh butuh waktu untuk diterima.

Selama membaca, aku sibuk meng-highlight dan mencatat banyak hal yang dijelaskan secara komprehensif dalam buku. Ini termasuk beragam pemahaman atas sifat dan tindakan Tuhan, hubungan politik dan agama, hingga bahasan terakhir perihal masa depan agama-agama di dunia.

Sementara itu, satu bahasan yang paling berhubungan denganku yakni perihal pengalaman relijius yang kompleks pada setiap umat. Aku merasa perilaku beriman dapat fluktuatif sebagaimana sifat Tuhan yang Mahamembolak-balikkan hati manusia. Berikut kutipan utamanya.

"Jika kita mau ringkaskan pandangan Ibn 'Arabi, kira-kira demikian: Ada momen-momen dalam hidup manusia di mana Tuhan begitu dekat, amat dekat sekali, begitu rupa sehingga ia seperti merasakan kehadiran seorang sahabat, atau bahkan kekasih. ... Ada pula momen lain ketika manusia harus kembali kepada 'kesadaran nalar'-nya, seperti seseorang yang siuman dari 'mabuk', lalu menyadari kembali bahwa sedekat-dekatnya Tuhan kepada manusia, Ia adalah dzat yang tak mungkin serupa dengan makhluk." (hlm. 58)


Selain hubungan manusia dan Tuhan, buku ini juga diimbangi dengan bahasan hubungan manusia dan manusia. Beberapa istilah menarik yang disebut dalam buku ini antara lain kesadaran unitive (agar Muslim bersedia membuka diri terhadap kebenaran yang datang dari pihak berbeda) dan sikap solipsistik (pandangan hanya ada diri sendiri dan yang lain tidak eksis). Keduanya ini merujuk pada bagaimana Muslim berinteraksi dengan umat beragama/berpaham berbeda.

Di satu sisi bahasan buku ini begitu teoretis (aku sempat mencatat beberapa dari 20 sifat Tuhan yang disoroti pada buku ini), di sisi lain banyak bahasan yang bisa dipraktikkan secara langsung. Bagi Muslim yang kurang paham tentang paham agama, pemuka/tokoh, dan kitab-kitabnya sepertiku, membaca keseluruhan topik pada buku ini menjadi tantangan tersendiri. Meski begitu, pemilihan kata dan bahasa yang dibawakannya masih cukup mudah dipahami. Bahkan ayat serta kata/istilah berbahasa Arab dilatinkan sehingga dapat dibaca semua kalangan.

Butuh hampir sebulan untuk merampungkan buku ini. Sebagian waktu kugunakan untuk membaca buku lain, bersosialisasi, atau bersantai-santai. Sebagian waktu yang lain kugunakan untuk merenungkan beberapa bahasan/ujaran/teori yang disampaikan oleh penulis. Salah satunya tentu saja ujaran Al-Ghazali perihal jawaban atas pertanyaan pada judul buku (yang kujabarkan secuplik di atas). Kini, kupikir aku bisa menerima penjelasan tersebut.

Membaca buku ini sungguh menyirami rohani yang gersang.
Profile Image for Benz.
Author 20 books103 followers
April 4, 2021
Satu lagi buku yang berjaya gw habiskan untuk tahun ini, bulan ini. Sebenarnya bulan lepas lagi. Tapi baru ada masa nak mengadap GoodReads untuk tuliskan reviu ringkas ini.

Buku ini bagus, tema, tajuk, sudut luaran buku ini, baik font, cover/sampul buku, bentuk dan layout dalamannya. Isinya juga bagus, Ulil, seorang Nahdatul Ulama, yang meski terkenal sebagai seorang jagoan Islam Liberal, buku ini menyerlahkan sisi kepembacaan beliau yang luas termasuk juga turath klasik Islam seperti Ihya' Ulumuddin karangan Imam Ghazali. Bahkan Ulil tidak berhenti di situ, kritikan Hassan Hanafi (filusuf dari Mesir yang belajar di Sorbonne) yang mengkritik Teologi Kanan yang diusung Ghazali, Asha'ari dll imam mazhab Sunni turut dilemparkan ke dalam buku ini, menjadikan buku ini meski nipis dan kecil tetapi berat dan besar perbahasan untuk pemula.

Meskipun begitu, kekurangan buku ini, ia tidak begitu menjawab persoalan yang ingin dijawabnya. Di penghujungnya banyak berkeliaran terhadap masa depan agama yang kini kian diragukan oleh ramai pihak.

Apapun, satu pengalaman pembacaan yang menarik.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,093 reviews17 followers
February 22, 2024
Buku yang membuat saya berpikir tentang makna kehadiran Tuhan bagi manusia berdasarkan pemahaman dari Al-Ghazali. Sebab, pertanyaan seperti "Jika Tuhan mahakuasa, kenapa manusia menderita?" pasti pernah terlintas di sebagian besar kepala manusia. Itu wajar dan tidak perlu dianggap sebagai pertanyaan menyesatkan. Lantas, dari kumpulan esai ini, saya jadi cukup mendapatkan jawaban dan pengetahuan baru tentang pertanyaan-pertanyaa skeptis tersebut.

Selain pembahasan tentang ketuhanan, dibahas pula tentang masalah politik yang terjadi di masa sekarang dan di masa lampau. Pada zaman dulu, ulama Sunni berpendapat bahwa kekuasaan zalim itu lebih baik daripada tidak ada kekuasaan sama sekali. Nah, dari topik itu, akan dijelaskan apakah pemikiran tersebut masih relevan dengan konteks sekarang ketika ada oposisi yang bertugas untuk mengkritik pemerintah.

Itu hanya sedikit topik yang dibahas di buku ini karena masih banyak topik lain yang membuat saya jadi berpikir dalam memahami Islam dan ketuhanan.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
April 16, 2024
Saya berekspektasi lebih sebelum membaca buku Ulil ini, mengingat jejak intelektual si penulis yang cukup saya gemari, terutama saat Ulil masih mengasuh JIL. Yang saya dapati setelah menyelesaikan bacaani ini hanya argumen2 singkat defensif Ulil yang hampir keseluruhannya mengacu pada Filsuf Islam Al Ghazali. Tidak ada argumen yang baru. Sebagai contoh, mengenai pertanyaan yang jadi judul buku ini. Seperti yang sudah dipahami ini adalah pertanyaan skeptis 'problem of evil' yang dipertanyakan Epicurus. Dan jawaban yang diajukan kaum teis adalah argumen the best possible world-nya Leibniz dan itu pula yang diulang kembali oleh Ulil. Tentunya dengan menambah dalil-dalil dari sang idola Al Ghazali. Tapi sebagai bacaan singkat, buku ini boleh jadi pilihan. Karena ditulis dalam bentuk2 fragmen pemdek.
Profile Image for Shendi C.
Author 1 book
July 18, 2021
Didasari tafsir dari Al-Ghazali mz ulil mencoba membedah islam dari keraguan orang yang mempertanyakan islam selama ini, pertanyaan tentang filsafat Agama, kejadian teodisi serta kajian tentang islam lainnya. Mz Ulil begitu berhati-hati mengemas kata-kata agar mudah dipahami, walaupun ada pertanyaan yang tidak terjawab bahkan tidak perlu ada jawabannya karena bukan ranah kuasa manusia secara akal untuk mengetahui hal tersebut.

Saya kira buku ini cocok untuk anda yang sampai saaat ini bertanya Tuhan ko seperti itu kenapa tidak seperti ini.
Profile Image for Ananta.
18 reviews
February 4, 2025
Buku ini literally menjawab semua keraguan yang selama ini cuma bisa tersimpan di kepala. Dengan tebal yang nggak seberapa, isinya daging semua! Nggak ada basa-basi atau bahasan yang bertele-tele. Gus Ulil, maa syaa Allah, cara beliau menyusun penjelasannya tuh super padat tapi tetap ringan buat dipahami. Buku ini juga banyak merujuk pada Ihya Ulumuddin-nya Al-Ghazali. Salah satu poinnya yang bikin aku tercengang adalah ketika dijelaskan bahwa dunia yang sekarang kita jalani ini adalah dunia paling mungkin dan paling sempurna dalam "grand scheme of things.
Profile Image for Rendi As.
51 reviews
March 18, 2021
Mas ulil berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang mungkin ada dalam benak banyak orang, meski kadang kurang memuaskan tetapi sedikitnya dapat menjawabnya dengan baik
Profile Image for Yudhistira Hartono.
1 review
July 12, 2024
alih alih memberikan jawaban. uniknya, kita disuguhkam pertanyaan tersirat untuk menemukan jawaban bahwa sesuatu tersebut memang tak memiliki jawab
Profile Image for Maftakhatul Mukaromah.
7 reviews
November 10, 2023
Awalnya kepo aja karena ustadz Anwar bisa sekeren itu membahas Aqidah dan para imamnya, eh malah berasa ditampar karena belum sepenuhnya memahami hakikat manusia, alam, dan penciptaan, manifestasi Tuhan didunia karena ingin diketahui oleh ciptaannya
Profile Image for Nadia Hana Hana.
Author 2 books7 followers
October 16, 2025
Melalui buku “Jika Tuhan Mahakuasa, Kenapa Manusia Menderita?” Ulil Abshar Abdalla mengeksplorasi keraguan dan sikap skeptis orang-orang mengenai agama dan ketuhanan. Pertanyaan-pertanyaan ini memang terdengar “nakal”, nyaris seperti tantangan. Tetapi manusiawi untuk bertanya, dan juga keinginan untuk mengetahui.

Ulil Abshar Abdalla mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan ini dengan teologi Islam dan para tokoh-tokoh di dalamnya. Sebagai contoh, dalam bab “Jangan Pertentangkan Agama dan Sains!”, dijelaskan bahwa para hukama (filosof) dan ulama Islam di era klasik tidak pernah mempertentangkan antara ilmu berbasis wahyu dan ilmu empiris yang bersumber dari observasi. Dalam bab yang sama, Ibn Rusd (w.1198) memandang wahyu dan akal sebagai dua hal yang saling berkaitan.

Salah satu kutipan terbaik dalam buku ini menurut saya adalah,

“Kesadaran ‘unitive’ (menyatu) bisa mendorong seorang muslim untuk melihat semua manusia sebagai sesama makhluk yang merupakan ‘tajalli’ atau manifestasi Tuhan. Semua manusia terikat dalam ‘the fellowship of truth seeking’, persahabatan sebagai sesama pencari kebenaran.”

Menurut saya buku ini memancing para pembacanya untuk belajar lebih baik dan tentunya lebih banyak, terutama mengenai teologi Islam dan pandangan ilmu ini mengenai banyak fenomena di dunia ini.
Profile Image for Syazwana.
11 reviews
November 22, 2023
Buku ini memikat perhatian saya dengan soalan yang rumit: "Jika Tuhan MahaKuasa, Kenapa Manusia Menderita?" Walaupun saya memberikan tiga bintang, ia adalah kerana saya merasa sedikit terhalang untuk memahami isi kandungan buku ini. Hal ini, mungkin kerana kurangnya ilmu pada diri saya.

Segala yang terkandung dalam buku ini sebenarnya memberikan pandangan umum dan terdapat beberapa istilah yang membantu menerangkan konsepnya. Salah satunya yang sangat saya gemari adalah penerangan mengenai cahaya matahari yang bersumber daripada dirinya sendiri. Begitu juga, bulan memperoleh cahayanya daripada matahari diberi istilah konsep derivatif. Konsep ini mewakili keberadaan manusia dan makhluk alam yang lain sebagai derivatif. Di mana, jika tiada Tuhan, maka segalanya tidak akan wujud.

Walaupun saya mungkin masih perlu belajar lebih banyak untuk benar-benar menghayati dan memahami konsep-konsep dalam buku ini, ia memberikan pencerahan yang amat berharga mengenai hakikat keberadaan dan hubungan kita dengan pencipta kita. Pada masa yang akan datang, saya akan mengulangi bacaan buku ini.

Penutup kata, segala yang baik datangnya dari Allah dan segala yang buruk, salah dan silap itu dari diri saya sendiri.🙏
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Siti Shakira Suhaimi.
81 reviews16 followers
May 19, 2021
Buku ini sedikit sebanyak membedah kata - kata Imam al Ghazali daripada buku Ihya Ulumuddin.
Menyingkap persoalan manusia zaman kini akan penderitaan yang kita manusia alami selari dengan qudrat dan iradat Allah. Tentang penerimaan insan secara total atau boleh kah kita terfikir, of why?

It made me realised that in the grand scheme of life, apa yang berlaku pada kita is a piece of puzzle while waiting for its completion. Apa yang berlaku hari ini, is for the greater good of tomorrow. It’s a necessary means to mold us menjadikan diri kira sesuai untuk hari esok.
Yang terindah, menjadi hamba yang ‘sesuai’ sebagai ahli syurga di akhirat kelak.

Dan semuanya berbalik kepada asas akidah kita. Tidak salah untuk bertanya, kenapa Allah takdirkan ini untuk aku, sekiranya soalan itu membawa kepada kita merenung the goods beyond it and use ourselves to doa to Him.

Pandemik dan Palestine, yang memberi makna pembentukan semula kita sebagai individu Muslim.
Profile Image for Myza Amanullah.
40 reviews
May 19, 2022
Memberikan sudut pandang lain bagaimana kita melihat kehidupan sebagai makhluk yang tiada daya dibandingkan Sang Pencipta
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.