"Di tengah sibuk kerja & side-hustling, kok masih sempat baca?"
Rata-rata judul yg bisa kulahap dlm sebulan sekitar 9-10 judul. When I say this, they wonder on how I could read in the middle of tight schedule. Well, it is because I make time for it.
Dalam Make Time, Jake Knapp & John Zeratsky menyajikan metode agar kita "punya waktu" u/ hal yg dirasa penting. Lebih dari itu, mereka jg mengingatkan kita agar tidak tenggelam dlm kesibukan yg sebenarnya mengada-ada (jadi ingat Bullshit Jobs-nya Graeber). Make Time bukanlah tentang "squeeze all your to-do-list & work harder." Bagiku, Make Time malah mengajarkan kita u/ memberi batasan jelas (boundaries). Misalnya saja, di luar jam kantor berarti sudah tidak bisa diganggu. Dg kata lain, memerdekakan diri dari makna produktivitas yg dibentuk oleh kapitalisme. Sekalinya manusia bisa mendapatkan waktunya kembali, we have fully control of our live. Wait, it is easier said than done, ya?
Oke, aku coba beri contoh. Di slide 2 ada cuplikan Google Calendarku. Terpantau bahwa selepas jam kerja, aku niat & sengaja memasang waktu hanya u/ membaca The Maidens. Tidak buka email kantor, tidak bikin konten. Highlight-nya adl u/ membaca. Meniru hal serupa bisa dilakukan secara bertahap. Mulai dari berkomitmen kpd diri sendiri u/ tidak melanggar "time block" itu. Sekalligus berlatih mengatakan tidak serta menjadi slow response. Tapi ya... lihat-lihat lagi. Kalau memang ada pekerjaan yg sifatnya "urgent" tentu harus diladeni ya...
Mengutip salah satu bagian dari Make Time, ketika kita bisa membuat prioritas u/ hal yg bermakna & menunjukkannya, orang lain pun akan mencoba bertanya mengapa mereka "always on." Di sisi lain, dengan "make time" membuat kita mudah diidentifikasi. "Oh, Hestia kalau selepas jam kerja jarang cek ponsel karena sedang membaca." Dengan begitu, mereka jadi tahu kapan sebaiknya menghubungiku. Again, I can set my time to read and also make boundaries. Hmm, Make Time jadinya juga tentang merawat kewarasan nih ya.