Karen dan William tak seharusnya bertemu, namun hari itu takdir memperkenalkan mereka.
Karen dan Ian seharusnya bertemu sejak lama, namun takdir berkata tidak. Saat takdir sedang bermain-main dengan waktu, perasaan dua keluarga diuji. Pernikahan. Perselingkuhan. Kematian… semuanya menjadi satu…
Jadi ya aku emang nggak bisa baca ini. Aku udah skimming sampe ending sbnernya tadi, tapi kuputuskan buat masukin ke rak dnf aja. Beberpa alasan aku dnf bku ini. It may contain spoiler:
1. I hate romanticize cheating. No matter how bad your mate, break up first then start something new. Cukup di kehidupan nyata aja aku liat orang2 yang selingkuh pada bahagia (keliatannya) d novel jangan. 😂 Kalau diromantisasi terus-trusan, mungkin nanti perselingkuhan jdi hal yang lumrah (atau emang udah lumrah ya sekarang) entahlah ya.
2. 'Memaksa' karakter yang diselingkuhi buat jadi jahat. Entah ya, aku kadang mengehela npas panjang aja kalau awalnya si tokoh ini enggak ada tendensi jahat,tapi makin sini dibikin makin jahat supaya perselingkuhan dalam sebuah cerita diwajarkan. Misal kalau di cerita ini si cowoknya jadi perkosa istrinya. Aku pernah baca juga cerita di Platform Online yang begini juga. Terus kuberpikir, ini satu isu yang ditutup dengan isu yang lebih besar. Jadinya isu yang kecil terasa tidak berarti dan ujung2nya pembaca "dipaksa" untuk mewajarkan klau perselingkuhan ini diperbolehkan. Nyatanya? Dua-duanya enggak ada yang bener.
Tapi bukannya mereka pisah dulu baru setelah mereka putus ama pasangan masing-masing mereka baru jadian?
Is it matter? Tetep aja awalnya dimulai dengan perselingkuhan. Gimana pun jalannya, ujung2nya mereka bersatu juga.
Tapi bukannya cinta nggak bisa milih?
Who said so? Mungkin kita emang nggak bisa milih cinta ama siapa, tapi kita punya akal yang bisa dipakai untuk memilah mana yang baik dan mana yang enggak.
Jadi rape di sini kasusnya lebih kecil dari perselingkuhan?
Jelas enggak dong. Rape is a rape. Udah jelas salah. Tapi jalan si tokoh untuk menjadi seorang rapists nya seakan 'memaksa' pembaca buat benci sama dia. Karena dalam cerita, enggak cuman ada isu yang diangkat, tapi gimana isu itu diangkat supaya terasa lebih relatable dan masuk akal. Bukan yang ujug2.
Sebetulnya tema-tema perselingkuhan dalam rumah tangga bukan tema yang saya suka. Tapi sampul novel ini manis banget astagaaah ... ya sudah tanpa sadar saya sewa di ibuk. Terus ceritanya ternyata lumayan menarik diikuti, sampai saya bisa menyelesaikan ini hanya dalam satu hari saja.
Ceritanya drama banget sebenernya--wajar lah, namanya juga cerita drama rumah tangga, ya. Tentang seorang pria dan seorang wanita yang nggak bahagia dalam pernikahannya masing-masing, lalu saling bertemu tanpa sengaja dan menemukan kenyamanan dalam satu sama lain, kemudian berlanjut ke affair. Nggak banyak hal baru yang diangkat cerita ini untuk tema semacam itu, tapi tetep lumayan asyik sih bacanya. Penulisannya lumayan mengalir soalnya.
Awalnya saya ngerasa, untuk cerita tentang affair kok cerita di novel ini "terlalu sopan". Iya sih atmosfer novelnya bukan yang dark dan passionate seperti kebanyakan novel lain bertema serupa ... cuma ya namanya cerita affair, nggak natural kalau terlalu sopan. :))) Untungnya akhirnya cerita berjalan sebagaimana harusnya, haha. Tapi saya salut karena penulis masih bisa mempertahankan pemakaian bahasa yang tidak vulgar dan penggambaran adegan yang nggak terlalu grafis untuk bagian-bagian tertentu. Istilahnya, masih sangat beradab, lah. Jadi enggak pusing saya bacanya haha karena novel ini nggak nonjolin soal "kipas-kipas", melainkan lebih ke konflik emosi antara tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.
Saya lumayan suka pengemasan konflik emosi tersebut, terasa cukup intens dan feel-nya lumayan dapet. Nggak sampai tahap terlalu menye-menye juga. Dan novel ini ditulis dari sudut pandang pengarang serbatahu jadi POV orang ketiga tokohnya berganti-ganti, bikin kita sebagai pembaca jadi bisa memahami jalan pikiran masing-masing dan jadi nggak nge-judge mereka. Kita bisa mengerti posisi mereka, apa yang mereka rasakan, dan nggak seenaknya menyalahkan atau mendukung. Cerita novel ini ditulis dengan sangat manusiawi; tidak membenarkan perselingkuhan, tapi juga bikin paham bahwa kadang hal tersebut tetap terjadi meski sudah diupayakan untuk tidak ... dan terjadinya juga bukan karena sepenuhnya keinginan dari pihak yang berselingkuh.
Alur ceritanya lumayan oke, sequence-nya bagus dan rapi. Saya paling suka plot twist-nya sih, gila nggak nyangka banget ternyata . Secara umum ceritanya heartbreaking juga. Selama membaca, saya penasaran cerita ini akan diakhiri seperti apa ... karena namanya cerita dengan tema kayak gini ya wajar kalau tragis atau nggak happy ending. Perpisahan Ian dan Karen di atap itu sedih, sih... dialog perpisahannya juga nyesek. :') "You're the best thing happened to me.""I'm nobody's but yours. Always." Ih sedihnyaaa.
Tapi ... itu belum ending, lho. Di luar dugaan, penulis memilih untuk mengambil ending seperti itu.
Latar cerita ini di London, tapi saya kurang dapet western feel-nya karena dialognya pakai bahasa Indonesia sehari-hari, jadi berasa Indonesia banget. ^^;; Tadinya saya malah sempet mikir, kenapa ini latarnya nggak di Indonesia aja, ya? Rasanya masih cocok kok buat si Karen, Ian, dkk jadi orang Indonesia. Sampe tamat pun kayaknya saya masih ngebayangin mereka sebagai orang Indonesia, bukan Londoner haha.
Secara umum novel ini bacaan yang lumayan menyenangkan buat mengisi waktu, cocok untuk yang ingin mencari novel drama perselingkuhan yang masih "sopan" dan nggak terlalu dark.