Jump to ratings and reviews
Rate this book

Forgulos

Rate this book
Vulos adalah lembah subur di tepi pantai dengan bukit menghijau di lanskap seberang dan di kejauhan laut adalah gundukan tanah mengambang yang menjadi tempat naga-naga api bersemayam dan sesekali mereka menyemburkan api-apinya. Vuloses, sebutan bagi penghuni Vulos, hidup dalam kecukupan dan kemonotonan yang membosankan selama bertahun-tahun sehingga kebosanan itu melesap dalam keseharian. Ada bekas-bekas peradaban yang tak mampu mereka bayangkan di Vulos, namun tidak ada cerita masa lalu yang diturun-temurunkan selain anjuran: "Jauhi Forgulos, usir Forgulos."

Setelah seorang asing ditemukan nelayan di pantai Vulos, perlahan Vulos bermetamorfosa dengan forgulos-forgulos yang tidak mereka sadari telah berada di sana dan mengancam mereka. Tidak ada yang menyadarinya selain Bero dan Obre.

Bero dan Obre adalah anomali yang hidup dalam masa yang berbeda. Mereka sama terkucil, terasing, namun teguh dalam keyakinannya: Forgulos telah berada di sana dan petaka akan menjelang!

120 pages, Paperback

Published March 1, 2020

12 people want to read

About the author

Aveus Har

15 books4 followers
Aveus Har adalah nama pena dari seorang pria bernama Suharso yang tinggal Pekalongan.

Sehari-hari pria ini berprofesi menjadi pedagang mie ayam.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (33%)
4 stars
2 (13%)
3 stars
6 (40%)
2 stars
2 (13%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for rasya swarnasta.
104 reviews21 followers
October 18, 2020
Saya membaca buku ini dengan lamban. Beberapa prosesnya bikin bosan, tetapi secara keseluruhan menyenangkan kok. Mungkin pada dasarnya saya lebih menyukai tema sosialisme realis daripada realisme-tapi-nanggung yang tokoh-tokoh dan nama tempatnya benar-benar lain, dan isu sosial dalam negeri disampaikan secara "metafora ala-ala". (Saya bertanya-tanya sendiri sebetulnya, kenapa [hampir] semua tema pemenang sayembara novel begini semua.)

Konsepnya membuat cerita melingkar itu menarik, tapi di tengah-tengah cerita sudah tertebak kalau akan demikian. Saya lebih salut pada kebaruan si penulis menghadirkan Bab 12 sebagai bab pertama cerita, lalu kalimat pertamanya diawali elipsis. Keren.

Konflik yang dibawakan dalam cerita "meh" menurut saya. Ketika para penganut kepercayaan berusaha meniadakan penganut kepercayaan lainnya, solusinya bukanlah membasmi habis dan "jauhi forgulos, usir forgulos!" terus. Masa ratusan tahun berlalu dan nggak ada perubahan? Sebagai suatu negeri, rasanya sayang sebab dunia yang dibangun tidak ada "character" development-nya. Kecuali, kalau yang mau penulis sampaikan dalam cerita ini memanglah "sejarah selalu berulang, pertama sebagai tragedi, kemudian lelucon" kayak yang diberikan di halaman terakhir (yang seperti IN YOUR FACE LOL).

Tokoh yang saya suka adalah ayah Obre. Saya rasa akan lebih menarik kalau cerita paruh kedua membahas soal perihal kenapa moyang Arura (i.e. Arthur) menghilangkan ayat perintah memenggal orang berbeda iman. Kita sebagai pembaca tentu sudah tahu kenapa: jawabannya karena Arthur menganggap freosa dan quosa sama-sama saudara. Tapi kan, peradaban seratus tahun setelahnya tidak tahu. Ayah Obre menebaknya, tetapi dia tidak menyuarakannya. Penduduk-penduduk Vulos ini otaknya dangkal semua, etdah, berasa dunia hanya hitam-putih kali ya. Kalau memikirkan alur semacam ini terus berulang bagi Vulos per ratusan tahun, mengenaskan betul.

Karena konfliknya begini, semisal mau dibawa ke analisis sosiologi sastra dan bilang kalau ini cerminan problem masyarakat Indonesia, rasanya nggak juga. Konflik antaragama jelas pernah terjadi (dan mungkin masih ada) di negara ini, tetapi naif kalau menyalahkan agama semata-mata ketika di dalamnya juga ada narasi sejarah, politik, dan kepentingan. Novel ini secara gamblang memberikan karakterisasi yang nggak menjanjikan; orang tanpa agama pinter dan deep, orang beragama gampang kebakaran jenggot dan begonya nggak ketulungan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
December 30, 2020
Untuk ide cerita sekeren ini, novel ini kurang tebal! Harusnya minimum 500 halaman lah.

Forgulos adalah kisah fantasi sebuah pulau bernama Vulos dengan penduduknya yang hanya berkisar 287 orang yang disebut Vuloses. Vuloses menganut keyakinan animisme. Mereka meneladani petuah-petuah yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Salah satunya adalah larangan untuk menerima Forgulos atau yang asing. Forgulos bisa berbentuk apapun, manusia, benda, keyakinan, yang datang dari luar Vulos. Bisa dikatakan, Vulos adalah kelestarian yang terjaga.

Pada suatu hari, datanglah Arthur, seorang pendeta agama Quos (suatu agama monoteis) yang menyeberangi lautan dengan misinya menyebarkan agama. Ketika mendekati Vulos, kapal yang ditumpangi Arthur karam. Arthur pun tenggelam dan terseret ke dekat pesisir Vulos. Ia ditemukan oleh dua orang nelayan dan dibawa ke Konstitue – sekelompok orang yang mengambil keputusan di Vulos. Konstitue memutuskan bahwa Arthur diterima sebagi Vuloses atas suatu pertimbangan. Ia bukan lagi Forgulos.

Selanjutnya, sesuai misinya, Arthur mulai menyebarkan ajaran Quos kepada Vuloses. Pada awalnya ia merasa misinya akan mudah karena Vuloses tidak memiliki keyakinan monoteis apapun. Tetapi dalam perjalanan, timbullah kesadaran pada sebagian Vuloses bahwa mereka pun sebenarnya memiliki agama, yaitu agama Freos. Dari sini kemudian konflik itu muncul. Kedua agama tersebut saling mengklaim kebenaran. Rasa sentimen antar Vuloses pun berubah menjadi teror-teror.

Isu ini menarik untuk diangkat mengingat intoleransi antar agama akhir-akhir ini meningkat. Agar lebih leluasa membicarakan hal ini tanpa harus menyinggung satu pihak pun, membuatnya menjadi kisah fantasi adalah jalan yang tepat. Sebagaimana kisah fantasi umumnya, dunia yang ada dalam cerita merupakan dunia baru yang dibangun penulis. Tentu ini membutuhkan elaborasi yang panjang. Di novel ini beberapa istilah rekaan dijelaskan di halaman awal. Dalam cerita pun ada benda-benda unik yang hanya ada di Vulos sehingga penulis menjelaskan bentuknya, misal: lamuo, markesa, sigaru. Selebihnya, adalah nama-nama yang sama dengan dunia nyata. Sayangnya, novel ini terlalu tipis untuk kisah fantasi – meskipun tak sepenuhnya fantasi. Ada hal-hal yang saya rasa agak janggal untuk tiba-tiba ada dalam dunia fantasi.

Satu hal yang saya garisbawahi dari novel ini adalah ceritanya terlalu terburu-buru. Satu adegan kebanyakan hanya dinarasikan dalam satu paragraf. Seharusnya akan menjadi kisah yang menarik dan lengkap jika dijelaskan perlahan-lahan. Contoh dalam hal ini adalah bagaimana suatu agama tetiba diterima begitu saja oleh masyarakat. Ketika Arthur diadili, tiba-tiba seorang anggota Komitus bernama Lula menyebutkan bahwa kitab yang biasanya dibuat pertunjukan seni di Vulos merupakan agama Freos. Dalam beberapa hari, semua orang mempercayainya, kecuali satu orang bernama Bero. Proses Freosisasi ini tak dijelaskan sedemikian rupa sehingga menimbulkan kejanggalan pembaca. Bagaimana semua anggota Komitus menyetujui Arthur menjadi Vuloses tanpa bersitegang terlebih dahulu juga merupakan kejanggalan bagi saya. Konsep tuhan pun yang semula asing tiba-tiba diterima begitu saja berikut dengan istilah-istilah keagamaan seperti tobat, surga, neraka, akhirat, dan sebagainya.

Dalam hal terburu-buru lainnya, pikiran-pikiran para tokoh kurang dieksplor lebih sehingga saya kurang menangkap emosi-emosi para tokohnya, padahal cerita menggunakan sudut pandang orang ketiga. Hal ini saya temukan pada Amela, suami Amela, ayah Obre, dan yang lain. Hanya Bero dan Obre sebagai tokoh utama yang memiliki konflik batin.

Saya menemukan dua salah ketik yang cukup mengganggu yaitu kata bias yang seharusnya bisa, lalu kata dua puluh dua orang tetapi penjabarannya ada 16 laki-laki, 10 perempuan, dan 6 anak-anak.

Yang menarik dari novel ini adalah tata letak bab yang unik. Dimulai dari bab duabelas hingga duapuluh lalu bab satu sampai duabelas lagi. Tapi, jangan coba-coba membaca dari bab satu dulu karena sebenarnya kisah ini linear. Hanya saja ada alasan tertentu mengapa dibuat demikian.

Saya tidak membaca pemenang Sayembara Novel Basa Basi lainnya. Sebagai juara pertama, saya rasa kurang memenuhi ekspektasi saya. Entah juara kedua atau ketiga atau para nominasi yang masuk sepuluh besar.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Claresta.
2 reviews1 follower
May 22, 2021
To be honest, sangat bingung mau kasih rating berapa. Seharusnya kalau ada 3.5 gitu mungkin aku akan beri sekian, karena bagiku 4 terlalu banyak, sedang 3 terlalu sedikit :''v
Novel ini ... hm ... gmn y ... Sebagai pemenang pertama sayembara nulis novel, menurutku agak gimana gitu. Entah mungkin karena BasaBasi sukanya genre-genre cem gini X'D (yang nyinggung agama), jadinya kebanyakan yang menang sayembaranya cenderung tipe naskah demikian. Aku sendiri secara subjektif agak kurang suka dengan novel-novel beraroma religi, apalagi yang mengandung (whole or slightly) "khotbah":/ Sangat geli sama part ayat kitab X'D karena menurutku menulis itu walaupun fiksi, harus benar-benar mengerti tentang apa yang ditulis (apa yang mendasari, dan apa yang dapat diakibatkan oleh tulisan itu). WALAUPUN FIKSI! Tapi ini subjektif saja. Semua orang bisa punya penilaian berbeda.

Cons lain dari novel ini adalah alur yang terlalu abstrak dan konflik yang dangkal. Sama seperti beberapa yang sudah review, novel dengan kasus & tema demikian harusnya butuh halaman yang lebih tebal: penggalian lebih dalam. Aku baru "fire" when read this book at Obre & Amelia's part (time skip-nya). I don't know, ya, bagiku di bagian ini penceritaannya terasa lebih spesifik dan "kecil" gitu istilahnya. Maksudku, ya suatu kejadian itu hanya dialami oleh satu atau dua orang, bukannya banyak sekali orang (yang sering kali dimunculkan sepanjang jalan novel, maka karenanyalah kubilang abstrak). Kalau komen soal bobot novel like kasus perseteruan dua agama, orang yang memberontak, well, kayaknya nggak perlu. Soalnya aku sendiri merasa nggak ada ketertarikan mengenai konflik yang tersaji tersebut, entah karena aku terlalu banyak baca konspirasi sehingga konflik dalam novel ini terasa kurang, atau emang aku aja yang ignoran. Hew. Mungkin juga gara-gara terasa "abstrak" ini tadi, makanya aku jadi kurang wow, dan malah: yaelah, iya iya gitu konfliknya gw tau.

Sementara itu, untuk poin plus dari novel ini, pertama: SUKA BANGET PERMAINAN DIKSINYA Pak Aveus Har, hemm. Rangkaian katanya indah banget, lugas, nggak bertele-tele tapi tetep bagus, cepet keserep di otak. Dulce et utile-lah (pada poin diksi). Kedua, hmm ... apa ya? Kupikir cuma itu, deh X'D Gils banget gak tuh. Ya udah deh.

Btw, aku bakal review ini lagi secara lebih rinci di blogku. Mungkin bisa dikunjungi nanti. Nanti :3 soalnya artikelnya belom dipublish. And, ya begitu saja review buku ini. Hehehe. Sorry bintang 3
Profile Image for Vincent Arkayudha.
11 reviews
June 3, 2025
Judul: Forgulos
Penulis: Aveus Har
Penerbit: Basabasi
Tahun terbit: 2020
Ketebalan: 152 halaman

"Mereka memuja Tuhan dan percaya karena jauh di dalam diri mereka seolah ada yang kosong dan Tuhan telah mengisinya." (hlm. 39)

"Tuhan Quo menginginkan hamba-hambanya menjadi kaya agar bisa membantu sesama dan tidak mudah terpedaya." (hlm. 70)

"... karena sesungguhnya mereka tidak memiliki cinta, tetapi kebencian yang menyala atas nama agama." (hlm. 116)

"Bagaimana Tuhan disebut Maha Baik jika Dia suka mengancam?" (hlm. 128)

Sebelumnya, saya harus mengucapkan terima kasih pada Bang Aveus Har karena sudah berani menunjukkan paradoks mengerikan ketika agama yang seharusnya mengajarkan cinta dan kasih sayang, justru menjadi tameng bagi kebencian dan kekerasan. Sementara itu, saya masih malu-malu karena kritik terhadap agama cukup sensitif untuk diangkat, apalagi dalam konteks masyarakat kita yang begitu lekat dengan identitas religius.

Namun, justru karena itulah novel "Forgulos" terasa penting karena bisa menjadi refleksi langsung dari konflik-konflik global yang sering kali disulut oleh dogma agama. Maka dari itu, saya tak heran jika novel ini memenangkan posisi pertama sayembara yang diadakan oleh Penerbit Basabasi pada 2019. Beruntungnya lagi, novel ini tidak terbit pada era Orba, jadi tidak dilarang beredar seperti yang pernah dialami novel Pram, "Gadis Pantai", yang mengandung kritik sosial terhadap feodalisme.


Novel "Forgulos" berkisah tentang para vuloses, orang-orang yang tinggal di sebuah pulau terisolir bernama Vulos. Masyarakat Vulos menganut animisme dan memiliki keyakinan kuat untuk menolak forgulos atau apa pun yang asing dan datang dari luar pulau mereka. Namun, mereka tidak yakin bentuk sebenarnya dari forgulos karena tidak ada penjelasan dari moyang mereka. Jadi, bisa saja berbentuk manusia, benda, atau bahkan agama.

Suatu hari, beberapa nelayan Vulos yang sedang menjala di laut dangkal didatangi seekor lumba-lumba. Lumba-lumba itu mendorong sesosok pria yang terbaring di atas papan kayu, pecahan dari sebuah kapal.

Awalnya, masyarakat Vulos ragu dan takut akan kedatangan orang asing itu, yang kemudian diketahui bernama Arthur, karena menganggapnya sebagai forgulos yang harus dihindari. Namun, karena Arthur memakai kalung dengan simbol yang ada di pulau tersebut (meskipun sebenarnya tak tahu makna simbol itu) mereka tak lagi menganggap Arthur sebagai forgulos.

Selama di pulau tersebut, Arthur diperlakukan dengan baik, bahkan ketika Arthur mengaku beriman kepada Tuhan Quo dan para voluses beriman kepada Tuhan Freo (ada kisah panjang mengapa akhirnya mereka mengakui keberadaan Tuhan). Kehidupan mereka pun tetap damai ketika beberapa freoses (pemeluk agama Freos) menjadi quoses setelah pulang dari pelayaran dengan misi perdagangan. Menariknya, dari seluruh voluses, hanya satu orang yang tidak beragama dan menganggap Tuhan sebagai mitos atau fiksi yaitu Bero.

Namun, 121 tahun kemudian, masalah-masalah mulai muncul. Jumlah quoses yang semakin banyak dan membawa ide-ide baru mulai mengikis tradisi vuloses. Para freoses yang konservatif mulai merasa terancam dengan kemajuan peradaban quoses yang dianggap menyimpang dari ajaran Tuhan Freo, apalagi ketika priusta freosan (semacam penceramah) menuduh kerakusan quoses sebagai penyebab kemiskinan para freoses. Padahal, dalam agama Quos, menjadi kaya bukanlah kejahatan, justru dianjurkan, karena harta bisa digunakan untuk menolong sesama. Namun, para freoses punya keyakinan bahwa "miskin di dunia lebih daripada miskin di akhirat; gelap di dunia hanyalah sementara dan Freo menjanjikan kemuliaan selamanya di akhirat." (hlm. 70)

Konflik semakin memanas ketika quoses menemukan ayat-ayat yang hilang dari kitab mereka, salah satunya yang berisi seruan untuk memenggal kepala orang-orang yang enggan beriman kepada Tuhan Quo. Mereka menuduh, para freoses yang melakukan itu. Padahal, sudah diceritakan bahwa Arthur sendiri yang menghapus ayat tersebut dari kitab yang dia susun ulang karena tahu itu ayat yang berbahaya jika dipahami dengan pemikiran dangkal. Dan ada ayat lainnya yang sengaja dihilangkan.

Kejahatan demi kejahatan mulai terjadi, bahkan seringkali dikaitkan dengan agama. Ayat-ayat Tuhan dari kitab masing-masing agama pun dijadikan tameng sebagai landasan tuduhan para korban. Quoses menuduh tersangka perampokan di tokonya adalah freoses dengan mengutip ayat Kitab Freos yang berbunyi, "...ambillah paksa harta-harta mereka, ternak-ternak mereka, dan anak-anak perempuan mereka yang belum terjamah...." Sementara itu, para freoses yang merasa sebagai pribumi di Pulau Volus menganggap quoses sebagai penjajah.

Pokoknya mah kemunculan agama di di Pulau Volus bikin kacau karena masing-masing penganutnya merasa bahwa agama mereka adalah agama paling benar untuk diyakini.

Pada aspek teknis, saya cukup menikmati kalimat-kalimatnya yang terasa mengalir. Tegas dan minim pendeskripsian yang bertele-tele. Tapi, namanya juga buatan manusia, pasti ada salahnya. Sebagai contoh, kita tahu bahwa prefiks "ke-" harus ditulis serangkai dengan kata di depannya jika dipakai untuk membentuk numeralia, misalnya "kedua", "ketiga", keempat", dst. Namun, pada novel ini, banyak numeralia yang ditulis dengan ejaan yang keliru, contohnya di halaman 33 ("Ini hari ke tujuh dan ...."), 42 ("Namun, jika ke dua Tuhan itu....") dan halaman 62, 72, 101, serta 128.

Kesalahan lainnya ada di halaman 143. Di sana tertulis bahwa "Ada dua puluh dua orang; enam belas laki-laki, sepuluh perempuan, dan enam anak-anak." Saya sempat berhenti lama setelah membaca kalimat itu. Bahkan, saya sampai membuka kalkulator untuk menguji kemampuan berhitung saya. Dan ternyata, saya memang benar. Penjumlahan dari angka 16, 10, dan 6 bukan 22, tapi 32.

Namun, terlepas dari kesalahan minor tadi, novel "Forgulos" tetap menjadi karya yang kuat. Keberanian Bang Aveus Har dalam mengangkat isu sensitif tentang fanatisme beragama dan dampak destruktifnya patut diacungi jempol. Novel ini berhasil menyajikan potret kelam tentang bagaimana keyakinan dapat disalahgunakan untuk memicu konflik dan kekerasan serta mengingatkan kita akan pentingnya toleransi dan pemahaman kritis terhadap dogma-dogma.
Profile Image for Putu Restu.
42 reviews4 followers
August 4, 2020
Akhirnya aku bisa menyelesaikan ketiga novel pemenang Sayembara Novel Basabasi 2019 oleh Penerbit Basabasi. Kali ini aku membaca novel Juara 1-nya. Aku mencoba menikmati novel ini dari sudut pandangku sendiri dan menemukan hal unik yang membuatnya menjadi sangat berbeda dengan kandidat pemenang yang lain. Mungkin itu yang menyebabkannya menjadi juara pertama.

Novel ini berkisah tentang sebuah daerah bernama Vulos yang sangat memegang teguh tradisi mereka. Mereka hidup sangat bahagia dengan kepercayaan dan pola kehidupan yang mereka anut. Nah, warga Vulos percaya bahwa jangan sekali-kali menerima forgulos—segala sesuatu yang asing—ke daerah mereka dan tidak diperbolehkan berlayar jauh dari perairan Vulos. Sampai suatu ketika, Arthur yang sedang berlayar terhempas badai dan kapalnya terdampar di Vulos. Berdasarkan rapat Konstitue, akhirnya Arthur diterima sebagai vuloses—warga Vulos—dan hidup di sana.
.
Kedatangan Arthur ini membawa banyak sekali perubahan pada Vulos, seperti dikenalnya agama hingga ide Arthur untuk mengajak warga Vulos berlayar keluar dari Vulos. Nah, sampai di bagian ini sebenarnya ceritanya sedikit agak membosankan menurutku. Pengantar menuju konflik dipenuhi dengan deskripsi penulis tentang dunia Vulos dan membuatku meragukan jalan ceritanya. Tapi saat konflik mulai diperkenalkan, novel ini mulai menunjukkan kapabilitasnya untuk menjadi juara pertama.

Ide yang dimiliki penulis dalam menyusun setiap babnya benar2 cemerlang. Oh, ya jangan sekali-kali baca halaman terakhirnya saat sudah sampai di pertengahan buku, soalnya twist yang muncul itu akan bikin melongo pembaca. Alur di depan dan antiklimaksnya ternyata menunjukkan korelasi yang bikin kita mangap2.

Oh ya, menurutku novel ini membawa unsur satire terkait berbagai fenomena sosial yang pernah terjadi di Indonesia. Terlebih terkait isu agama, novel ini mengangkatnya dengan sudut pandang unik tapi tetap menggelitik. Pengandaian yang dipakai di dalamnya juga berdampak dengan baik. So far, saat sudah sampai di bagian ending, novel ini memberikan unsur kepuasan yang apik dan melegakan. Isinya juga tersampaikan dengan sempurna. Soo 5 bintang penuh buat novel ini…
Profile Image for Rangga.
Author 2 books9 followers
August 19, 2022
Forgulos menceritakan tentang sebuah pulau bernama Vulos yang terisolir dari dunia luar. Suatu hari, seorang asing ditemukan hanyut mengambang di dekat perairan Vulos.

Nelayan setempat kemudian memutuskan untuk membawa orang asing itu ke tanah mereka. Lalu, kisah tragedi sepanjang satu abadpun dimulai.

Novel ini bisa dibilang eye catching. Pertama karena judulnya yang berupa kata rekaan (Forgulos berarti orang asing dalam bahasa penduduk Vulos).

Selanjutnya, sebelum masuk ke bagian cerita kita juga disuguhkan dengan daftar-daftar istilah yang sering digunakan dalam bahasa Vulos. Ini penting, karena sedari awal kita langsung dicemplungkan ke dalam narasi dan dialog yang menggunakan berbagai istilah asing tersebut.

Novel ini juga unik karena dimulai dari Bab 12, sebelum nanti kita bertemu dengan Bab 1 di sepertiga bagian novel.

Novel ini berusaha menjadi sebuah satir atas tragedi-tragedi yang ada di muka bumi. Sebuah eksekusi yang, sayangnya, terkesan sangat disederhanakan.

Walaupun saya juga paham, jika tidak disederhanakan seperti itu, selain akan jadi jauh lebih tebal, kerumitan plot dan latarnya bisa jadi menjadi bumerang yang membuat pembaca terintimidasi atau bosan. Bisa jadi juga akan menjadi tidak cocok untuk diikutkan di dalam sayembara / lomba.

Tak bisa dipungkiri, memang benar ada banyak konflik di dunia nyata yang mengatasnamakan agama. Akan tetapi jika kita lihat lebih dalam, selalu ada permasalahan lain yang tak kalah peliknya, seperti etnis, budaya, ekonomi, serta politik.

Permasalahan jumlah halaman juga menyebabkan sebagian besar karakter yang ada di dalam novel ini hanya punya satu dimensi dan tanpa kepribadian. Jika sudah berpendapat/ memihak A ya A, tidak akan jadi B.

Hanya ada tiga karakter yang memiliki kedalaman, yaitu Bero, Obre, dan Ayahnya Obre, itupun tidak tergali dengan maksimal. Sungguh amat disayangkan.

Sebagai orang yang sudah pernah mencoba menulis karya fantasi, saya tahu salah satu hal yang paling menyenangkan untuk dipikirkan dan disusun adalah latar. Mengotak atik bahasa, kebudayaan, ritual, mebuat worldbuilding yang kita susun terasa nyata dan dapat dipercaya.

Forgulos mempunyai modal besar untuk itu. Penulisnya dengan cakap mereka bukan hanya satu, namun dua agama dengan istilah, ritual, serta konsep yang berbeda. Sayangnya, tanpa cerita yang memikat, semua latar tersebut terasa sia-sia.

Plot twist di bagian-bagian akhir novel ini rasanya sudah bisa terbaca sejak dari awal buku, tapi sama sekali tidak mengurangi nilai dari twist tersebut. Karena rasanya bagi saya, salah satu titik terpenting di dalam novel ini, yang bisa kita jadikan pelajaran di dunia nyata, adalah bagian twistnya.
Profile Image for Romie Afriadhy.
14 reviews1 follower
January 1, 2021
Hal yang paling saya sukai dari novel ini adalah idenya yang gila namun menarik. Novel ini berkisah tentang lembah bernama Vulos yang penduduknya hidup tanpa mengenali agama dan Tuhan. Mereka hidup dalam kemonotonan, hingga kedatangan seorang asing yang mereka sebut forgulos mengubah wajah lembah Vulos seketika.

Vulos yang sebelumnya menetapkan hukum berdasarkan keputusan Konstitute yang diwakili beberapa orang, berubah setelah adanya dua agama di situ, Freos dan Quos. Masing-masing punya Tuhan yang berbeda. Tuhan Freo bagi penganut Freos, dan tuhan Quo bagi penganut Quos. Semu penduduk Vulos menjadi orang yang beragama, selain Bero dan Obre. Keduanya adalah pengecualian, mereka hidup pada zaman yang berbeda. Bero dan Obre memilih keluar dari Vulos dan terus berkeyakinan menjadi atoses (istilah bagi manusia yang tidak beragama di Vulos). Kehidupan beragama di Vulos pada akhirnya mencipta malapetaka. Perang berkecamuk sampai menghanguskan bumi Vulos.

Penggarapan cerita serupa ini saya kira langkah berani dari penulisnya. Membahas isu seputar agama selalu sensitif. Aveus Har berhasil memainkan senjata utama pengarang yakni imajinasi. Hemat saya, Freos dan Quos adalah penggambaran dari masyarakat kita yang sehari-hari beragama, menyanjung tuhan masing-masing, tanpa sadar kita juga rajin menghujat dan mencari kesalahan dari kaum beragama lainnya.
1 review
May 28, 2025
JASMERAH! kata tersebut yang muncul agar manusia tidak lupa akan hakikatnya. namun, mungkinkah pelaku sejarah tidak memoles semua itu? di bab dua belas dalam buku ini terdapat ungkapan "sejarah selalu berulang pada dirinya sendiri, pertama menjadi tragedi, kemudian menjadi lelucon" (Marx: eighteenth brumaire of louis bonaparte). sejarah menjadi kebanggaan bagi sebagian orang sekaligus alat baru untuk mengakomodir hegemoni bagi keberlangsungannya, revolusi diagungkan atas nama kesejahteraan komunal bahkan agama.
novel ini sangat memikat nan menggelitik ketika si penulis menyuguhkan kerja-kerja sejarah yang "barangkali" tidak disadari – di novel menggunakan bumbu konflik masyarakat beragama yang seakan-akan menjadi tabu, tidak hanya menemukan keburukan para kelompok agamawan, namun konstruksi sejarah yang dimonopoli sebagian manusia berkepentingan, dan hal tersebut terus tumbuh dan berulang. tidak ada puncak cerita bagi kerja alur novel itu, antara awal dan akhir terus berkaitan, antara orang dulu dan sekarang terus lahir berulangkali.
novel ini bagi saya memberi kesan romantik, secara tak langsung membawa pembaca terhadap 'bahwa' nilai luhur tanpa adanya hubungan hirarkis dengan kepentingan adalah kehidupan yang sebenarnya, selama manusia lahir dari pijakan yang sama, ia merupakan saudara, sebelum adanya pakaian yang telah ditetapkan sebagai acuan kebenaran.
Profile Image for Yavenia Tafamutu.
11 reviews1 follower
September 22, 2022
Iya benar. Masalah intoleransi adalah krusial, dan amat jarang dalam fiksi kita yang realis, dan nyata. Tak kurang-kurangnya peristiwa intoleransi yang melukai bangsa kita di pelbagai pelosok.

Naskah ini keluar sebagai pemenang pertama Sayembara Novel Basa Basi 2019. Deskripsi ajaib, dipenuhi kalimat-kalimat bertenaga. TAPIIII....

Ceritanya begitu jauh bagiku, antah barantah, dan serba akrobat kalimat, seperti ada ketakutan dari para penulis kita, melihat kasus buku ini, bagaimana merekam peristiwa intoleransi yang tidak lagi bisa dibilang sedikit di negeri ini. Kalau koran, majalah, buku nonfiksi, dan ribuan berita di internet saja sudah gamblang memberitakannya, kenapa penulis kita belum seberani itu, mem-fiksi-kan sejarah modern yang sama-sama kita masih bisa kita 'nikmati' sebagai berita?
Profile Image for Mumtaza Rizky Iswanda.
113 reviews2 followers
August 1, 2020
Sejak Maret lalu nunggu buku ini ada di Goodreads, baru sekarang munculnya

Diriku pribadi terpaut secara personal terhadap cerita semacam ini, dan si penulis berhasil mengeksekusi ceritanya dengan sangat bagus dan ringkas

Maka darinya aku beri si penulis enam bintang (satunya lagi mewujud sebagai doa-doa tulusku yang kupanjatkan untuk si penulis)
Profile Image for Satria.
20 reviews4 followers
March 27, 2022
Forgulos ini ceritanya relate sama kehidupan sekarang. Orang-orang berantem karena alasan agama. Masing-masing penganutnya, mengklaim bahwa agama mereka lah yg paling benar, paling baik. Karena klaim seperti ini peristiwa seperti perang itu tidak terhindarkan. Nahas sekali orang-orang di Vulos harus musnah karenanya.
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.