Tidak ada yang aneh di Sekolah Wiyata Guna. Terkenal sebagai salah satu sekolah favorit dengan sederet prestasi gemilang. Hingga tragedi mengerikan satu demi satu muncul dan menjadi teror bagi warga sekolah. Farel meninggal secara misterius, kecelakaan mobil antar-jemput, hingga salah seorang siswa terjatuh saat kegiatan luar kelas.
Resty seorang guru baru dan Miko sopir mobil antar-jemput selalu mendapatkan kode-kode sebelum tragedi itu terjadi. Sebuah tulisan merah darah yang mereka temukan di jendela kelas, kaca mobil, atau secarik surat tanpa nama pengirim. Seperti pesan-pesan misterius dari makhluk tak kasatmata.
Ada yang dengan sengaja menyebarkan teror kepada keduanya. Resty dan Miko lantas mencoba mencari siapa di balik teror berdarah ini. Benarkah makhluk gaib atau orang-orang yang sengaja menebar fitnah demi memperburuk citra sekolah?
sebenarnya tema yang diangkat itu menarik. tapi banyak plot holes nya :( jd pas baca kadang bingung, kok tbtb ngasih statement begini ini darimana. dapet ini darimana, dsb. pendekatan antar tokoh untuk menyelesaikan masalahnya juga agak kurang di aku. pas baca ini mau dnf tp sayang bgt udah hampir selesai. so i just gave it 3 stars
Wow, agak kaget liat ratingnya cuma segini. Sebagai apresiasi untuk Pak Yan Tok, saya kasih bintang lebih banyak dari yang lain hehe.
First thing first, ini memang novel remaja, makanya ceritanya cenderung ringan dan sederhana. Tapi siapa sangka kalau saya (yang sudah bukan remaja) bisa menikmati sampai halaman terakhir? Di awal sampai pertengahan memang agak membosankan, tapi dari bab “Field Trip” sampai bab terakhir “Penyampai Berita”, LAMA-LAMA KOK SERU!?
Secara garis besar, novel ini bercerita tentang upaya 3 guru dan 1 supir antar jemput siswa dalam mengungkap misteri “teror” tulisan-tulisan yang muncul secara tiba-tiba berisi kode akan adanya peristiwa yang menelan korban jiwa, dimana korbannya masih warga sekolah tempat mereka bekerja.
Oh iya, novel ini kental sekali dengan nuansa ‘sekolahan’. Penulis banyak menyinggung kehidupan para guru di sekolah, termasuk ketika para tokoh memperdebatkan makna semboyan ‘Tut Wuri Handayani’ dan demo para guru honorer di Istana Negara.
Lantas siapa yang menulis aksara berdarah tersebut? Bagaimana sosok itu tau malapetaka yang akan terjadi? Apa hubungannya sosok itu dengan sekolah tempat mereka bekerja? Apakah ia masih hidup atau sudah meninggal? Baca aja deh pokoknya xixi
Btw, sebagai seorang INFJ saya merasa senang bisa tenggelam di dalam buku ini. Sebab penulis seperti membentuk karakter tokoh-tokoh utama di novel ini dengan tipe MBTI yang juga INFJ. Mereka banyak mengandalkan feeling, firasat, dan intuisi. Rasanya seperti turut andil dengan para tokoh dalam memecahkan misteri alias ikutan overthinking wkwk.
Satu lagi, di bab terakhir ada plot twist yang sukses bikin saya nangis bombay, padahal ini buku semi-horor loh ckck.
Not trying to break the author’s heart whatsoever I hope they open for criticism but this one is the worst book I had ever read in this year 😭 my bad that I did not notice the tag behind the book that says “novel remaja” and maybe.. maybe it is made for teenagers who are seeking for some horror stuffs 😭 not to mention a lot of typos and error typings there.. I am at loss of my words no wonder why the rating is so low 😭
Untuk pelaku menurutku udah terjawab. Namuuunnnn, bagaimana bisa orang yang bahkan untuk bergerak saja perlu digendong susternya bisa nulis serangkaian terror????? terus juga bagaimana dia bisa tahu yang mati selanjutnya? dan matinya juga atas dasar apa? kaya misal mungkin farel mati gara gara ulah dia yang tukang bully or something. Menurutku walau 'siapa'-nya udah terjawab, tapi kalo motifnya banyak yang belum terjawab, masih belum bisa dibilang endingnya udah baik.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awalnya aku mengira cerita ini bakal lumayan berat, apalagi melihat sampul bukunya. Namun, setelah membaca dan mengikuti, cerita lumayan ringan dan klise. Untuk suasana tegang, dan menakutkan sepertinya kurang karen aku yang notabennya penakut malah biasa saja. Gak terlalu terbawa.