Jump to ratings and reviews
Rate this book

Keajaiban di Pasar Senen

Rate this book
Sebanyak 17 cerita dalam buku ini-lima diantaranya belum pernah disertakan dalam terbitan pertama,1971-akan membawa kita ke dalam situasi Indonesia tahun 1950-an yang romantik. Itulah masa ketika Pasar Senen menjadi tempat berkumpulnya para seniman muda, sejalan dengan mulainya kegiatan pembuatan film nasional dan ramainya pementasan sandiwara.

Dengan lincah Misbach Yusa Biran menceritakan kehidupan Seniman Senen yang melegenda itu, kehidupan yang penuh "keajaiban". bayangkan, betapa tidak ajaib bila lukisan yang dipasang terbalik demi mengolok-olok pelukisnya ternyata malah dianggap karya besar dan dibayar mahal?

Meski ditulis sekitar 50 tahun silam, keajaiban-keajaiban kehidupan Seniman Senen yang dipaparkan oleh Misbach tetap bisa dinikmati oleh generasi sekarang.

DDC: 813

177 pages, Paperback

First published January 1, 1971

92 people are currently reading
1221 people want to read

About the author

Misbach Yusa Biran

6 books15 followers
Misbach Yusa Biran (lahir di Rangkasbitung, Lebak, Banten, 11 September 1933 – meninggal di Tangerang Selatan, Banten, 11 April 2012) adalah sutradara film, penulis skenario film, drama, cerpen, kolumnis, sastrawan, serta pelopor dokumentasi film Indonesia.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
201 (48%)
4 stars
95 (23%)
3 stars
72 (17%)
2 stars
16 (3%)
1 star
28 (6%)
Displaying 1 - 30 of 55 reviews
Profile Image for Azhar Rijal Fadlillah.
35 reviews23 followers
April 19, 2012
Buku ini sangat fenomenal bagi saya, saya mendapatkan buku ini (Pustaka Jaya 1996) tanggal 10 April dan langsung membacanya. Sehari setelahnya, Misbach Yusa Biran meninggal dunia. Saya begitu terkejut mendengar berita tersebut. Indonesia kehilangan satu lagi maestro di dunia perfilman.
***

Keajaiban di Pasar Senen adalah sebentuk upaya menertawakan diri sendiri, mencoba membongkar kembali apa itu seni. Dengan 'usil', Biran mencukil peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun 50-an di Pasar Senen yang saat itu memang menjadi tempat berkumpulnya para seniman (seniman tulen dan seniman-seniman gadungan). Kelebihannya saya pikir ada di kedekatan penulis dengan peristiwanya, dengan begitu Biran dapat mengangkat peristiwa sederhana yang menarik. Tidak ada kesan sedikitpun untuk mengeneralisir, apalagi menyimpulkan. Ia hanya berupaya memotret sebagian sudut kota, mengangkat sepotong fenomena urban yang memang pernah menjadi bagian dari tumbuh-kembangnya dunia seni Indonesia tahun 50-an.

Saya membaca buku ini bersama-sama dengan KLAB BACA TOBUCIL, yang kebetulan saat itu hadir wartawan media cetak, jurnalis, dan seniman rupa. Kita semua terbahak sampai tak tahan, jelas sedikit banyak diantra kita merasa sentilan-sentilan Biran sangat menohok. HOME RUN!!!

Ya begitulah cara Biran mengolok-olok dunianya sendiri, dunia kita, juga dunia anda semua. Buku ini adalah sebentuk cara untuk menertawai diri kita sendiri.

Selamat jalan Misbach Yusa Biran, Indonesia berhutang banyak pada anda.
Profile Image for gonk bukan pahlawan berwajah tampan.
58 reviews43 followers
November 26, 2008
Bener-bener luaaaarr biasa, straordinari, cukilan peristiwa2 menarik pasca Indonesia 1950-an diabadikan oleh Misbach dengan mengagumkan.

Buku ini merupakan edisi tambahan -begitu istilah penerbitnya- dari buku yang sama yang pernah terbit di tahun 1971.

Dalam prakatanya, pengarang bercerita soal keadaan kawasan Senen sekitar zaman revolusi 1950-an. Bagi kita yang pernah mendengar 'geng cobra' dan komandannya bang pi'i yang melegenda, simak saja ulasannya di sini. Pun tempat2 nongkrong favorit di kawasan Senen bagi para "seniman" -yang menurut pengarang lebih ke "sok seniman"- masa itu.

Berisi 17 cerpen, buku ini sungguh menjadi sebuah kritik, satire, sindiran bagi realitas kehidupan modern generasi kita sekarang. Dengan zaman yang sudah berbeda, toh permasalahan yang dihadapi relatif berulang di tiap zamannya.

Komedi yang lepas kadang terasa getir dan memilukan, menjadi sindiran yang pas bagi masyarakat kita.

Ahh, buku ini pun menjadi "keajaiban" bagi Indonesia
Profile Image for Muhammad Meisa.
45 reviews30 followers
January 15, 2014
ImageSaya dengan begitu yakin sempat berkata bahwa kuliner bubur ayam paling enak adalah yang mamang penjualnya berjualan di sekitar pasar tradisional. Di Bandung tempat saya tinggal, saya berani bertaruh jika di malam atau dini hari dalam keadaan lapar, cobalah cari gerobak-gerobak penjual bubur ayam di sekitar pasar-pasar tradisional dan rasakan kenikmatannya! Di Jakarta ada sebuah pasar yang mungkin popularitasnya telah melewati ratusan masa generasi muda. Saya sedang berbicara tentang Pasar Senen yang terakhir kali saya kunjungi penuh dengan kekhawatiran bakal kena copet atau jambret! Saya tidak yakin benar bahwa di sana pun berdiri penjual bubur ayam yang enak. Tapi selanjutnya saya tidak akan membicarakan bubur ayam, apalagi bubur ayam pake kacang (saya selalu minta tidak pakai kacang kalau beli bubur ayam karena namanya akan jadi bubur kacang).

Rupanya pada sebuah generasi muda pasca kemerdekaan, sempat berkibar tinggi bendera kebudayaan di sebuah pasar yang awalnya bernama Pasar Snees dan hanya buka di hari Senin. Tetapi ini bukan bendera kebudayaan borjuistik yang anggotanya hobi berkumpul dalam gedung kesenian sambil menghisap cerutu dan pandai berbicara dalam bahasa Belanda. Bukan itu. Pada dekade 50-an daerah ini cukup dikenal sebagai lumbungnya para seniman nyentrik. Benar-benar yang mereka pikirkan saat berkumpul di Pasar Senen hanya seni, seni, seni, seni, kopi, seni, duit, seni, cewek, seni, dan hutang. Ada yang benar-benar mengabdikan diri kepada seni sebagai profesi, ada yang ingin menjadikan seni sebagai jalan hidup, ada yang hanya tahu berpakaian ala seniman tapi bingung ia berada di bidang kesenian yang mana, ada pula yang hanya asyik mengikuti kegiatan komunal di tempat-tempat keramat sekitar Pasar Senen dan mencatat perbincangan mereka. Misbach Yusa Biran adalah jenis seniman yang terakhir. Toh diperlukan seni mendengar, mencatat, menulis, dan mengingat yang baik agar dapat dijadikan kumpulan cerita di buku ini.

Agar lebih meninggikan harkat dan posisi pentingnya dalam sejarah kebudayaan Indonesia, ada baiknya diketahui terlebih dahulu oleh para pembaca yang budiman bahwa komunitas seniman Pasar Senen-atau cukup disebut Seniman Senen- banyak melahirkan alumnus yang memiliki pengaruh besar di ranah kebudayaan. Selain Misbach Yusa Biran, Djamaludin Malik, Usmar Ismail, Soekarno M. Noer, dan Mak Wok yang sukses di bidang perfilman, ada pula Delsy Syamsumar yang sukses dalam seni lukis. Dan yang paling terkemuka adalah tuan Chairil Anwar di bidang reparasi seni kata yang menurut sassus sering berkeliaran di Pasar Senen juga. Baiklah, itu nama-nama beken Seniman Senen. Tapi sepertinya nama-nama tersebut tidak termasuk menarik bagi penulis. Baginya cerita-cerita sepele dari seniman-seniman anonim Pasar Senen-lah yang justru membuat ceritanya begitu hidup dan menggelora sebesar Gelora Bung Karno.

Perkara minum kopi dan merokok saja sudah jadi bahan yang bikin pening kepala para seniman. Belum lagi segala intrik meminjam duit kepada kawan atau "nembak" langsung redaktur majalah agar upah karya tulis yang mereka kirim segera dicairkan saja.
Dalam cerita-ceritanya ini akan terasa bahwa Misbach Yusa Biran tengah menertawakan perilaku sebuah kelompok, sebuah masa yang juga ia ikut masuk di dalamnya. Tertawaan yang romantik dan jikalau seniman-seniman itu masih hidup dan membaca ulang kisah-kisah di dalam buku ini saya yakin mereka akan tertawa puas seperti saat saya membaca sebagian besar cerita di dalamnya. Tetapi, bukan cerita-cerita Misbach Yusa Biran yang membuat para Seniman Senen ini menarik, melainkan perilaku para seniman itu sendiri yang membuatnya menjadi lucu, absurd, namun tidak menjadi cerita njelimet seperti Sameul Beckett atau Budi Darma. Tugas penulis hanyalah membuatnya menjadi enak dibaca saja, dan itulah kepandaian seni Bung Biran ini.

Bagi pembaca yang senang dengan hal-hal bersifat "masa lalu", vintage, klasik, oldskool, atau apapunlah itu sebutannya, buku Keajaiban di Pasar Senen menjanjikan petualangan imajinasi yang mengesankan. Saat membacanya saya selalu membayangkan gaya berpakaian para seniman nyentrik ini. Rambut gondrong, kemeja berkerah sebesar atap gedung DPR, celana cutbray selebar lapangan parkir gedung DPR, gaya berbicara yang begitu flamboyan seperti para oposan anggota DPR, bahan pembicaraan yang begitu berat dan mengurat (juga seperti oposan DPR), optimisme setinggi gedung DPR, tetapi dekil minta ampun.

" 'Dan apa yang akan kau lakukan kalau dapat hadiah itu, Rusidi?' tanya Askar. Rusdi adalah seorang aktor, pemain drama, film, atau melawak, juga menari dan lain-lain.

'Aku,' jawabnya tenang pakai gaya, 'yang paling pertama akan kulakukan dengan uang itu ialah... makan sepuas-puasnya dan minum. Sudah terang tiga puluh botol bir akan kuletakkan di atas meja dan kita minum bersama.' Semua kawan kontan tertawa seperti mereka sudah mulai mabuk. Senang benar semunya.

'Tentu aku boleh turut minum, Rus?' tanya Tirta, seorang pemain drama juga.

'Tentu, tentu,' jawab Rusti kontan, 'kalau kurang bir-nya kita tambah lagi. Minumlah sampai puas, atau jangan samasekali. Sudah itu, kita hitung bersama-sama sisa uang itu. Aku hanya butuh uang untuk beli dua celana dan dua baju. Lebihnya, lebihnya kita pakai untuk senang-senang. Puaskan hidup ini...!!!' kata Rusdi dalam gaya seorang aktor tulen, dan sekalian kawan-kawan jadi segar sekali mendengar penjelasannya.' " - Hadiah Rp6.724,52? (dalam Keajaiban di Pasar Senen 2008: 153-154)

Setelah dihajar oleh cerita-cerita lucu dan absurd para Seniman Senen, pamungkas kumpulan cerpen inipun membuat saya tersenyum getir. The Glory Is Over adalah judul cerpen pamungkas Keajaiban di Pasar Senen. Sebuah ode bagi kejayaan masa lalu yang sepertinya tidak perlu dirayakan tetapi dikenang saja. Pada akhirnya bendera yang digerek setinggi langit di Pasar Senen oleh para seniman harus juga diturunkan, dilipat kembali, dan disimpan dalam lemari kenangan. Sesekali bolehlah bendera tersebut dikibarkan kembali dalam acara reuni akbar. Tetapi, the glory is over, Bung...
Profile Image for Akbar.
44 reviews
March 3, 2012
Kumpulan sketsa tentang seniman-seniman di sekitar Pasar Senen di era 50-an.

Membaca sketsa ini, kita terbawa pada kondisi jaman baheula, dimana para seniman ataupun yang mengaku seniman nongkrong di sekitar Senen. Kehidupan mereka yang unik, lucu, dan kadang juga miris, membuat kita berpikir: "Koq ada ya, orang bisa hidup dengan pola seperti itu?"

Minum secangkir kopi kecil, demi mendapatkan tempat nongkrong bersama teman-teman. Kembung perut karena tiga hari tiga malam tidak makan, dan hanya merokok serta minum kopi. Semuanya karena alasan sederhana: tidak punya uang.

Tetapi ada satu cerita yang cukup menyentuh, yakni sktesa "The Glory is Over". Di sini diceritakan tentang seorang seniman panggung, atau yang biasa disebut anak wayang pada masa itu, yang tenar tak terkira, memiliki banyak uang, tetapi hidupnya tidak teratur, dan tidak pernah memikirkan masa depan akan seperti apa. Hanya berpikir bahwa uang bisa didapat dengan mudah, dan hidup harus dinikmati selagi masih bisa. Orang yang berani menasehati dirinya malah digampar. Akhirnya, pada masa tuanya dia tidak memiliki apa pun. Bahkan untuk membeli rokok...

Sketsa yang diceritakan secara sederhana tetapi menyentuh hati. Ada senang, ada sedih, ada gelak tawa, ada tangisan...
Profile Image for Rizkana.
248 reviews29 followers
January 8, 2020
Dari awal membaca blurb buku, saya langsung tertarik. Ada banyak buku dengan kota-kota besar di Eropa, seperti Paris, Roma, atau London, jadi latar bagi cerita tentang seniman-seniman besar yang berkumpul dan menghasilkan karya. Tapi baru satu ini, yang saya tahu, yang menulis Jakarta, dengan lokasi spesifik di Pasar Senen sebagai lokasi tempat berkumpulnya seniman-seniman, meski sebagian dinilai gadungan, muda.

Buku ini berisi 17 cerita pendek tentang kehidupan para seniman di Pasar Senen era 1950-an. Yang diangkat macam-macam, mulai dari obrolan dan kritik para seniman terhadap kehidupan seni di Indonesia, baik seni lukis, dunia sandiwara, sampai kehidupan para pengarang yang tergantung betul di tangan redaktur—khusus cerita dengan latar belakang begini, mengingatkan saya pada tokoh Aku di buku Hunger karangan Knut Hamsun. Selamanya saya kagum dengan orang-orang yang seberani itu mengetes peruntungan hidupnya, hanya menjalani apa yang ia suka.

Saya juga kagum, terpukau, jatuh hati malah, dengan gaya bercerita penulis. Alur cerita mengalir lancar, cepat, dan seru, pembaca jadi dibuat tak sadar waktu. Kata-kata yang digunakan efisien, tepat mewakili situasi—haru bisa dirasa, konyolnya bisa ikut buat tertawa.

Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar menyebut buku ini lebih dari sekadar kumpulan cerita karena kuatnya latar belakang yang digunakan, baik latar tahun dan tempat, membuatnya jadi dokumen sosial. Benar juga, ambil contoh perihal nilai uang 6000 yang pada tahun ‘50-an sudah luar biasa besar; transportasi trem; penggunaan bahasa Belanda yang dulu lebih ramai digunakan dibandingkan bahasa Inggris saat ini; dan tentu kosakata bahasa Indonesia yang sekarang sudah jarang digunakan, seperti persekot, perlop, sentana, syahdan, bung, sungguh mati, atau pencoleng.

Nah, akhir kata, bacalah buku ini, seru dan sepadan dengan waktumu!
Profile Image for Gita Swasti.
324 reviews40 followers
March 2, 2018
Terkadang, menyenangkan juga menjadi pembaca lambat.
Buku ini berhasil menyihir saya dengan kumpulan cerpen yang tidak masuk akal tetapi lucu. Saya tidak tahu cara pikir Biran ketika mengeksekusi cerpen-cerpen, mungkin karena beliau cukup memahami

Tentang seorang Burhan yang mengidam-idamkan memakai sepatu dan kaos kaki nilon di hari lebaran, tentang Kamil dan Arman yang berlatih sandiwara dengan mengeluarkan makian-makian sampai diusir pemilik kos, bagaimana Cesare Zavattini melatih drama untuk sebuah perayaan sekolah.

Bagian terbaik adalah saat membaca Kalau Bung Seniman, Jangan Tinggal di Kampung dan Dunia Bobrok. Dibaca berulang kali pun tetap membuat saya geli.

Ada 17 cerpen, masing-masing cerpennya diakhiri dengan kekonyolan yang berbeda-beda namun bermuara pada ciri khas seniman di Pasar Senen.
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews10 followers
September 28, 2020
Saya mungkin satu-satunya orang yg tidak menduga bahwa satu-satunya orang yg saya tahu sebagai penulis skenario dari salah satu film adaptasi buku Habiburahman ini dulunya merupakan seorang pengamat dari kehidupan berwarna yg sudah berlalu di Pasar Senen era 50an dan yg kemudian saya tahu juga ia menulis naskah film Bintang Ketjil yg saya tonton september tahun lalu.

Pasar Senen rupanya tak melulu soal kehadiran terminal ataupun stasiun kereta api yg cuma satu-satunya yg saya tahu, ternyata tempat itu adalah suaka kecil bagi para seniman berkumpul dan mengobrol perihal seni maupun yg berkaitan.

Buku ini terasa menyenangkan dibaca lagi karena ringannya dan menggelitik serta rasa nostalgia melihat sesuatu yg sudah lama hilang dari sana.
Profile Image for Hafiz.
28 reviews1 follower
December 17, 2021
Menyentil banyak orang yang ndakik-ndakik dengan mengusung label adiluhung "seniman". Faktanya, memakai kata-kata Biran, beberapa dari mereka telah menjadi "seniman" sebelum menghasilkan karya seni. Persoalan yang diangkat tak jauh-jauh dari kesulitan hidup seniman yang kerap tak punya uang, yang efek sampingnya menjalar ke sisi lain kehidupan.

Ada rasa hangat dari bagaimana para seniman berteman, ngobrol akrab meski sebenarnya tak terlalu mengenal satu sama lain. Kesan nostalgiknya kuat, karena memang berlatar pergaulan tahun 1950-an. Bukan hanya Pasar Senen sudah berubah, cara kerja pengarang atau pelukis memasarkan karyanya pun sudah jauh berbeda. Tapi beberapa hal masih tetap relevan.
Profile Image for suaralam.
49 reviews
June 8, 2021
Bagi saya, membaca "Keajaiban di Pasar Senen" bagaikan melihat rangkaian peristiwa yang dialami oleh seniman-seniman Pasar Senen--yang asli maupun gadungan--dalam liku hidupnya, yang nampaknya mempunyai satu kesamaan warna: humoris, melarat, tampil ada adanya.
Profile Image for liburtengahminggu.
2 reviews
January 3, 2022
Membaca buku ini seperti membaca situasi sosial pada tahun 1950-an, khususnya situasi Pasar Senen sebagai tempat berkumpulnya para seniman - -atau paling tidak mereka sendiri menganggapnya begitu.
Profile Image for Ayu Welirang.
Author 12 books93 followers
January 25, 2013
Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.

Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai diri mereka "Anak Senen" dalam cerita bersambung dalam suatu majalah.

Beberapa pembaca yang suka menginginkan cerpen itu dibukukan. HB. Jassin pun begitu. Jassin menginginkan tulisan Misbach menjadi sebuah buku yang utuh, dengan cerita-cerita pendek yang dikumpulkan dalam satu wadah. Tapi, karena belum sempat juga, akhirnya Ajip Rosidi yang mulai berinisiatif untuk mengumpulkan remahan cerpen Misbach dan sekarang sudah dicetak ulang dalam bendera KPG - Kepustakaan Populer Gramedia.

Kumpulan cerpen berjudul "Keajaiban di Pasar Senen" ini memotret kehidupan sederhana dari para pemuda yang memberi label diri mereka sebagai seniman. Entah karena memang seniman atau hanya karena ikut-ikutan saja. Meski begitu, para seniman dan seniman gadungan ini memang sudah membentuk atmosfir yang berbeda di Senen. Tempat mangkal mereka yang utama ada di sudut-sudut terminal, di rumah makan Padang "Ismail Merapi", di kedai kopi kecil "Tjau An", di bioskop Grand, dan di tukang kue putu dekat pangkalan bensin.

Seniman-seniman ini seringkali berkumpul, mengobrol sampai pagi hanya untuk berbagi kopi kecil. Banyak juga dilema yang terjadi di antara seniman, mulai dari dilema percintaan sampai kurangnya uang untuk makan. Misbach Yusa Biran menggambarkan kisah mereka secara nyata, penuh humor dan juga romantisme. Sebagai contoh saja, kisah seorang seniman yang belum juga mendapat honor atas karyanya, minta ditraktir kawan yang juga seniman dan sama-sama seadanya, pada sebuah cerpen berjudul "13 Kopi Kecil dan Asap Rokok." Jadilah, si seniman kurang uang ini seharian hanya minum kopi kecil dan memasukkan asap ke kerongkongan dan paru-paru hingga keesokan harinya, perutnya mulas tak karuan.

Ada juga kisah tentang seorang tukang cukur yang terlalu sering nongkrong bersama seniman, sampai membuat model rambut yang tidak-tidak. Dia berkata, "Aku sudah memilih, aku harus mencipta dalam bidang yang aku geluti, ya. Cukur rambut!" Dan dia berhasil membuat tokoh "aku" dalam cerpen berkata, "Andaikata jumpa pacar saya, tolonglah!" Kisah seniman satu ini ada dalam cerpen berjudul sama, "Andaikata jumpa pacar saya...tolonglah!"

Banyak juga kisah seniman-seniman lainnya. Seperti seorang Rebin yang bersikeras ingin menjual lukisan abstraknya yang tak bernilai seni sama sekali. Kisah tentang seniman yang membutuhkan uang sampai harus memeras kepala redaksinya dengan pintar sekali dan kisah-kisah lainnya.

Yang jelas, tujuh belas cerpen dalam buku ini telah membuat saya tertawa sekaligus menerbangkan imaji ke tahun 1950-an dimana Pasar Senen masih menjadi pusat seniman yang sangat nyaman, sebelum akhirnya Ali Sadikin memindahkan geliatnya ke Taman Ismail Marzuki.

Yang disayangkan, kalau saat ini kita pergi ke Senen, mungkin sudah tak kita dapati lagi sisa-sisa romantisme para seniman itu, karena mereka pun sudah tak terdengar lagi kabarnya. Sudah hilang, digerus waktu dan zaman. Jakarta sudah tak seromantis dulu. Maka, jika ada yang berminat menyesap sedikit saja aroma kopi kecil dan kue putu langganan para seniman Senen tahun 50-an, ada baiknya membaca pelan-pelan tujuh belas cerpen dalam buku ini. Niscaya, kerinduan akan Jakarta yang romantis, akan terobati (walau hanya sementara saja). [Ayu]
Profile Image for Bimana Novantara.
280 reviews28 followers
September 28, 2016
Sungguh menghibur buku ini, terutama dengan gaya bahasa yang memang sesuai dengan waktu saat cerita-cerita dalam buku ini ditulis, yaitu pada dekade 1950-an. Kelakuan seniman-seniman (dan yang mengaku seniman) diceritakan dengan ringan saja oleh penulisnya. Saya membayangkan Misbach Yusa Biran memang orang yang santai dan selow ketika bergaul dengan orang-orang yang diceritakannya, tetapi ia tetap orang yang pengamatannya bagus dan jeli dan disertai rasa penasaran juga sesekali rasa prihatin terhadap para seniman itu sehingga sering muncul humor yang tak disangka-sangka dan terjadi begitu saja tanpa berusaha melucu.
Profile Image for Nara.
23 reviews3 followers
July 31, 2013
Saya mengenal Misbach Yusa Biran awalnya hanya sebatas ayah dari Sukma Ayu, seorang artis sinetron yang meninggal secara kontroversial (waktu saya masih jadi jamaat infotainment). Belakangan saya baru sadar kalau beliau adalah salah satu tokoh besar dalam perfilman nasional dan pendiri Sinematek, pusat dokumentasi perfilman terbesar dan satu-satunya yang ada di Indonesia. Belakangan lagi, setelah dapat buku ini di diskonan buku salah satu toko buku besar, saya baru tahu kalau beliau adalah seorang penulis yang bernas dan punya gaya yang memikat.


Buku ini berkisar tentang kisah-kisah kecil seputaran Seniman Senen, sebuah komunitas yang terdiri dari pelukis, penyair, sastrawan, aktor, aktris, hingga orang-orang yang ingin sekali berkecimpung menjadi seniman tapi tak tahu harus mulai darimana. Misbach adalah orang yang termasuk di kategori terakhir ini. Dan orang-orang macam inilah yang secara sadar (sekaligus nekad) memutuskan untuk ikut nongkrong di Pasar Senen medio '50an hingga '60an yang menjadi sentra kegiatan mereka. Jauh sebelum ada Taman Ismail Marzuki, Utan Kayu, Salihara dan Bentara Budaya.

Mitos bahwa 'seniman itu pasti unik' seakan terjustifikasi oleh tulisan-tulisan bergenre feature di dalam buku ini. Beragam tingkah polah seniman dengan keeksentrikannya masing-masing, sok idealis, sok nyeni, meskipun lebih sering menahan lapar karena tidak punya uang untuk makan. Kalau sudah begitu, rokok, kopi, kue putu, dan bertukar canda dan cela menjadi menu pengganti nasi. Tetapi banyak aroma solidaritas dan perjuangan terhadap prinsip-prinsip kehidupan yang tercium dari kisah-kisah ini.


Ada beberapa kisah yang sangat menarik. Salah satunya adalah tentang seniman lukis sok idealis yang saking idealisnya sampai-sampai lukisannya tak pernah terjual. Akhirnya, kawan-kawannya sengaja memajangnya secara terbalik untuk mengejek si idealis. Tak dinyana, lukisan itu terjual dengan harga yang cukup tinggi.

Kisah lainnya yang cukup berkesan bagi saya adalah saat Misbach diundang oleh sepupunya yang kaya-raya untuk menghadiri pesta ultah ala Belanda. Misbach mengajak salah satu kawannya yang penyair untuk hadir di pesta itu. Tentu saja kehadiran penyair bergaya eksentrik dengan pakaian lusuh dan penampilan awut-awutan menyebabkan mereka berdua direndahkan oleh tetamu yang datang. Tapi, dasar pandai membelokkan kata, si penyair dengan santainya meladeni celaan para tamu dan balik menertawakan penampilan mereka. Edun!!
Profile Image for Michiyo 'jia' Fujiwara.
429 reviews
December 30, 2012
*unfinished*
Menjelang tutup tahun ada baiknya kita mengenang alm.pak haji kita yang satu ini.. yang telah tutup usia pada tahun 2012.. Misbach Yusa Biran..ayah dari almh. Sukma Ayu, suami dari aktris Nani Wijaya dan sutradara [Pesta Musik La Bana (1960), Holiday in Bali (1962), Bintang Ketjil (1963), Panggilan Nabi Ibrahim (1964), Apa Jang Kautangisi (1965), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966), Menjusuri Djedjak Berdarah (1967), Operasi X (1968), Honey Money and Djakarta Fair (1970)] sekaligus juga penulis skenario[Menyusuri Djedjak Berdarah (1967), Ayahku (1987)]. Walaupun The glory of Senen is over..seperti yang dikatakan S.M Ardan dalam kata pengantarnya..tapi dengan adanya karya ini..Senen..dengan segala problematikanya..telah menjadi abadi dengan kumpulan cerita pendek yang beliau hasilkan..

Seperti biasa baca disini:
http://books.google.co.id/books?id=R5...

lagi malas bikin rak/kolom..marked us.. ;p mungkin nanti tahun depan..yang kira-kira 20 jam lagi kedepannya :)

Selamat tahun baru semuanya!! Semoga apa yang belum kita dapat di tahun ini akan kita raih di tahun selanjutnya.. 2013.. i’m coming!!! :D
Profile Image for Fitria Mayrani.
522 reviews25 followers
February 12, 2017
"Seni tidak lahir melulu dari batok kepala dan perhitungan lima kali lima, tapi juga daei sini..." kata Nandi menunjuk dada (hlm. 40)
Profile Image for Bunga Mawar.
1,356 reviews43 followers
March 8, 2009
Niscaya akan amat bersyukur kita kiranya jika menyadari bahwa saat kemalangan menimpa diri, ternyata masih ada orang yang lebih menderita. Kumpulan sketsa ini secara gamblang menyatakan hal itu dengan mengajak kita menceburkan diri dalam komunitas "seniman" di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Seniman diberi tanda petik, untuk membuka pandangan kita bahwa ada saja para tunakarya yang mengakuinya sebagai profesi. Padahal sebenarnya adalah justifikasi mereka untuk berpenampilan lusuh, numpang ngobrol berjam-jam di warung kopi, lalu hanya mencuci muka zonder mandi kalau terpaksa bangun pagi.

Sangat menarik membaca cerita zaman tempo doeloe ini. Tapi ceritanya lanjut belakangan aja ah. Mau ngebut menyelesaikan buku sejarah lain yang kadung nangkring di rak!

Nambah dikit: sehubungan dengan pernyataan saya di paragraf paling atas, saya juga bersyukur bahwa buku yang saya dapat di bursa buku ex-Kwitang di JaCC minggu lalu ini ternyata juga berisi kumpulan sketsa "Oh ...Film". Beruntung pisan, euy! :)
Profile Image for aRee.
91 reviews4 followers
January 5, 2009
Misbach pastilah orang yang sabar...
menghadapi tingkah laku Anak Senen yang 'ajaib' (buatku kebanyakan ajaib dalam konteks: ngeselin) dia tetap datang dan datang lagi kesana.
Berbagi cerita, rasa, bahkan rupiah :)
Seniman mungkin salah satu profesi yang memlihara idealisme agar tetap eksis. Apakah mereka baru selesai kuliah seni atau sudah lama jadi seniman; semua butuh idealisme utk bertahan. Idealisme ini yang membedakan seniman dari profesi lain...tapi ternyata sering juga ya idealisme di'dandani' sesuai kebutuhan agar tetap tampak ideal meski nyatanya pakem ideal awal dan akhir lain.
Sepanjang membaca, saya sering tersenyum. Tersenyum karena merasa lucu, karena merasa geli, kadang kasihan dan sering karena sinis. Seperti cerita 'Hadiah Rp6,724.52'...ah...seniman ternyata masih membumi. Masih memikirkan Lebaran meski perkataan awalnya...
Membaca buku ini, memang benar mungkin, tiap dari kita punya sedikit jiwa seni. Porsinya mungkin yaa yang beda....
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
February 5, 2014
#8 - 2014

bahwa ungkapan buku berjodoh dengan pembacanya itu sepertinya berlaku pada buku Tuan Biran ini dengan saya. buku ini saya dapatkan di bazaar toko buku di Bintaro Plasa dengan harga sepuluhribu rupiah saja, setelah tiga kali bolak-balik mengunjungi bazaar itu selama tiga sabtu berturut-turut, pada sabtu yang ketiga, buku ini sepertinya mendesak tangan saya untuk membawanya ke meja kasir, setelah pada dua sabtu sebelumnya saya abaikan karena saya lebih tertarik pada buku-buku yang lain.

dan ternyata buku benar-benar berjodoh dengan saya, karena saya benar-benar suka saat membacanya. saya bisa turut larut ke dalamnya. Pasar Senen dan seluruh keajaibannya di tahun enampuluhan seperti tergambar langsung di depan mata saya. ah... Tuan Biran ini begitu pandai meramu cerita dan seperti menghadirkannya langsung di hadapan pembacanya. Indonesia harus bangga pernah memiliki Tuan Biran. saya juga.
Profile Image for Sandra dewi.
97 reviews7 followers
January 2, 2012
huaaaaa............. KEREN....

buku ini dibeli ma suami gw di sudut khusus "buku discount". Sebagai guru seni budaya, beliau memang sangat tertarik ma yang ada bau seni-seni. Kalo aja buku ini jatuh ke tangan gw, hhhmmm pastinya akan daku lempar aja lagi hehehehe

dan karena buku yang gw beli (bersamaan dengan dibelinya buku ini) dah abis gw baca semua, maka dengan sangat terpaksa, gw baca juga ni buku....

dan hasilnya ... awsome....

dari tulisannya kelihatan banget bahwa Pak Misbach ini bukan orang sembarangan, membaca buku ini kita diajak untuk berpikir, menjabarkan yang kemudian menertawakan, bukan tokoh tapi keadaannya....

Buat yang belum baca, silahkan cari buku ini di Gramedia matraman, dengan harga yang sangat enteng....

Very .. very recommended.... ;)
Profile Image for Annisa Pratyasto.
46 reviews8 followers
January 11, 2015
Kita akan diajak terhenti sejenak di Pasar Senen tahun 1950-an. dimana para seniman dan (lebih banyak lagi) kaum yang sok-seniman rajin berdiskusi disini. Bagaimana mereka berhadapan dg kaum borjuis yg melecehkan penampilan 'berantakan' yang mereka kenakan, mengejar berkarya untuk tambahan duit berlebaran di kampung, sedang kere tapi tetap butuh bersosialisasi maupun konflik ringan antar mereka diangkat disini. Lucu juga! meski sekarang kita kehilangan sebuah Pasar Senen 1950'an. toh masalah hidup itu-itu aja.
Profile Image for Abieffendi.
65 reviews9 followers
April 22, 2013
Informatif? Jelas! Buku ini merekam keseharian yang terjadi di Pasar Senen dulu, ketika tempat itu menjadi tempat berkumpulnya bermacam-macam seniman Jakarta, dengan berbagai karakter mereka yang eksentrik nan menarik (namanya juga seniman...weleh)

Pemaparannya, bahasanya menarik, jenaka. Cerita se-'naas' apapun, seperti tidak dapat gawe, kere, seharian minum kopi thok!, dibuat menjadi lucu. Enak dibaca, enteng atmosfirnya.
Penstrukturan tiap cerita juga elok dan cerdas.
Profile Image for Agus Mulyadi.
Author 10 books39 followers
June 18, 2015
Saya merasa menjadi pembaca yang sangat beruntung karena bisa membaca kumcer ini. Sungguh, ini salah satu buku kumpulan cerpen realis terbaik yang pernah saya baca. Pak Misbah Yusa Biran menuliskan cerita-cerita tentang keseharian para "seniman" di Pasar senen dengan tata bahasa yang klasik namun sangat menarik. Kadang kala menarik urat tertawa.

Bintang Lima...

Sugeng Tindak Maestro, selamat jalan...
Profile Image for Esti.
90 reviews39 followers
September 19, 2010
Gak sengaja nemu buku ini di tumpukan buku obral salah satu toko buku.
Awalnya sih iseng, murah siapa tau bagus.
Gak taunya bagus :)
Selera humor Pak Biran menggambarkan seniman2 di Senen memang menggelitik.
Dari yang gadungan sampe seniman beneran.
Walaupun masuk ke golongan sastra lama, tapi masih menarik kok :)
Profile Image for Ahmad Ibo.
5 reviews2 followers
June 24, 2014
buku ini gak sengaja saya temuin waktu ada bazar buku murah di carefour permata hijau di medio 2013. harganya cuma 10 rb, tp isinya mengandung berjuta inspirasi yg tertuang secara jenaka dan gaya tutur pak misbach yg jujur. membaca karya ini spt menonton film, mungkin krn pak misbach HB Jassin-nya film indonesia. :)
Displaying 1 - 30 of 55 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.