☆ Dalam menghadapi hidup, alih-alih belajar, tumbuh, dan terus menantang diri agar berkembang, kita lebih mudah mundur ke zona aman yang kita identifikasi sebagai karakter kita, melekatkan diri dengan preferensi, selera, wawasan, dan sistem keyakinan, seakan validitas keberadaan diri kita bergantung pada semua itu.
(ini salah satu hal yang sedang sering mengganggu saya belakangan ini. betapa apa yang saya sebut sebagai "karakter" atau "apa yang saya banget" justru malah saya jadikan pembenaran atas ketidaknyamanan saya akan hal-hal baru yang terasa asing)
☆ Dan kemampuan untuk membuat setiap detik waktu mereka dapat dipertanggungjawabkan dan setiap tindakan ada sasarannya, itulah yang membuat mereka majikan atas takdir mereka sendiri.
(menyadari--bukan sekadar mengetahui--tujuan dari setiap apa yang saya lakukan memang sepenting itu, ya?)
☆ Seolah-olah kebahagiaan itu begitu banyak tersebar di mana-mana dan kita harus bersaing untuk mendapatkannya.
(jleb. masa iya segala sesuatu sekarang harus bersaing dulu supaya bisa dapet?🥴)
☆ Bahkan ketika segala sesuatu berjalan mulus pun, di dalam diri kita masih saja ada kecenasan bahwa segala sesuatu yang buruk akan terjadi. Bahwa saat-saat tenang ini tidak akan langgeng, bahwa semuanya terasa terlalu indah sebagai kenyataan. Kita cemas, jangan-jangan kita tidak berhak atas kebahagiaan itu atau mungkin hanya kesalahan.
(this is sooo me! terlalu sering denger kata-kata bahwa nggak ada apa pun yang selamanya ternyata nggak selalu jadi menghibur saya. banyak kalanya malah saya dibuat cemas bahwa saat saya bahagia, itu justru sebagai bentuk semesta lagi ngerjain saya, seolah dia lagi bilang ke saya, "hei, bentar lagi kamu bakal menderita. tapi nih saya kasih kamu bahagia dulu." konyol sekali saya ini)
☆ "Emosi tidak mengatakan yang sebenarnya. Hanya karena engkau merasakan sesuatu tidak membuatnya menjadi kenyataan." - Joyce Meyer
(tapi bukankah katanya apa yang kita rasakan itu adalah nurani? bahkan ada yang bilang, itulah cara Tuhan memberi kita petunjuk?)
☆ "Tiap manusia dikaruniai seperangkat potensi unik yang menunggu pengembangan seperti sebuah bibit pohon memendam rindu untuk menjadi pohon." -- Aristoteles
☆ Kita merasa yakin benar tentang siapa diri kita. Bila kita mencari orang lain, itu hanyalah untuk mengapresiasi mereka sebagaimana mereka apa adanya. Tidak menjadikan mereka tiang penyangga ego kita yang rapuh atau melihat mereka sebagai hiburan yang dapat mengalihkan kita dari perasaan tidak aman kita.
(highlighted! someone else's existentence is not to feed my ego. saya yang harus bertanggung jawab sepenuhnya untuk menjadikan diri sendiri utuh)
☆ "Cemas itu seperti kursi goyang. Membuatmu melakukan sesuatu, tetapi tidak membawamu ke mana pun..." - Peribahasa
☆ "Engkau tidak gagal sampai engkau menyalahkan orang lain atas kesalahanmu." - John Wooden
☆ Saya yakin tak seorang pun peduli apakah saya setia pada komitmen saya atau tidak. Kecuali, tentu saja, sayalah yang peduli.
(yah... sayangnya, kadang saya sendiri nggak peduli. peduli itu harus tercermin lewat perbuatan kan? kalau cuma dari omongan, pembual manapun di pengujung lain dunia juga bisa!)
☆ Alih-alih, masa depan akan menjadi perwujudan target-target kita sendiri. Sebab bila dapat mengontrol masa kini, kita dapat mengontrol seluruh kehidupan.
(ada yang bilang, orang yang concern dengan masa depan itu artinya visioner, tapi beberapa juga bilang bahwa mereka nggak live in the moment. sementara saya adalah gabungan dua keburukan itu. kebanyakan cemas tapi malah nggak melakukan apa-apa. dasar saya)
☆ Apakah yang mendorong kita menanggapi serangan sebegitu cepatnya, kalau bukan ketiadaan rasa cinta diri dan penerimaan diri? Oleh karena rasa waswas--jangan-jangan kita ini banyak kekurangan dan bukan orang yang penting sehingga mudah merasa dihakimi oleh pihak-pihak lain?
(barangkali memang iya, segala pebuatan dan perkataan orang lain itu tawar; nggak ada rasanya. yang pada akhirnya menyebabkan diri kita senang, marah, sedih, atau yang lainnya, adalah cerminan dari asumsi, pengalaman, dan sistem keyakinan yang terhimpun di dalam kepala)
☆ "Sebelum ia mampu mengasihi hewan, belum semua sukma manusia itu bangkit." - Anatole France
☆ Sebab, bagi seorang anak, orangtua adalah dunia yang ia huni. Mereka adalah tuhan-tuhan kecil dalam dunianya yang kecil
☆ Yang membuat kita menderita bukanlah yang menenggelamkan kita. Tidak. Kita menderita karena keyakinan kita bahwa diri kita penting. Kita melihat alam sebagai yang diciptakan untuk digunakan dan disalahgunakan. Dunia sekitar kita adalah cerminan keberhasilan dan kegagalan kita sendiri. Alam raya adalah kisah yang di dalamnya kita menjadi tokoh utama yang baik. Pahlawan yang tragis atau korban yang memilukan.
.
.
.
Sepanjang buku saya dibuat terombang-ambing antara mau memberi bintang 3 atau 4. Lagi-lagi, ini adalah jenis buku yang intisarinya sebenarnya bisa dikatakan amat klise akibat sudah terlalu sering saya dengar di sudut-sudut dunia nyata maupun maya. Tapi, lagi-lagi juga, kemampuan penulis yang memikat membuktikan bahwa segala sesuatu pun tergantung pada cara penyampaiannya. Hal-hal sederhana itu pun akhirnya berhasil membuat saya merenung dan tersenyum.
Awalnya saya kira buku ini semacam petunjuk praktis untuk menemukan jati diri di tengah dunia digital yang amat cepat, namun ternyata, penulis justru mengingatkan saya bahwa memahami diri sendiri itu hanya bisa dicapai dengan duduk dan berteman baik dengan diri, bukan dengan dikte dari seorang penulis yang bahkan nggak pernah tau bahwa kita hidup di muka bumi. Going Offline terasa seperti nasihat seorang teman yang tulus peduli, bukan imbauan galak pihak yang berkuasa, atau penghakiman kejam atas gaya hidup seseorang. Sungguh buku yang manis.