Pertikaian antar-dua suku di hulu berujung pada kematian Bagaiogok. Taksilitoni, istrinya, ingin mewariskan dendam kematian itu kepada anaknya, Legeumanai, dengan cara menerima Saengrekerei, adik iparnya sendiri, sebagai suami. Tapi, setelah pernikahan itu, muncul berbagai konflik lain ketika mereka memilih pindah ke barasi di dekat muara, pemukiman yang dibangun pemerintah untuk “memajukan” suku-suku di hulu. Niat untuk membalas dendam jadi terbengkalai, karena keluarga kecil itu harus berhadapan dengan kebijakan negara, agama-agama resmi, korporasi, dan konflik-konflik baru yang muncul di antara berbagai suku.
Pertama buka buku saya dibuat terkejut dengan banyaknya kata dicetak miring tanpa catatan kaki, tanpa glosari. Baiklah, saya tak mau dicap pembaca yang malas. Saya cari di Google hampir setiap istilah Mentawai yang ada. Beberapa ketemu, kebanyakan tidak. Siasat kedua, saya mencari di daftar bahasa daerah KBBI. Juga nihil. Langkah selanjutnya, saya mengunduh kamus Indonesia - Mentawai di http://repositori.kemdikbud.go.id. Ingat, Indonesia - Mentawai, bukan Mentawai - Indonesia. Duh Gusti, harus kerja lagi nyari entri.
Kehabisan alat, saya akhirnya menggunakan jurus "mengerjakan ujian Reading IELTS" - menebak arti kata lewat konteks. Setiap ada istilah yang sudah saya cari melalui beberapa tahapan di atas dan tidak ketemu, saya membaca lagi pelan-pelan kalimat sebelum dan sesudahnya. Beberapa mudah tertebak seperti kata tuddukat, gajeumak (alat musik), kabit dan laha (pakaian adat). Untuk masuk total ke dalam cerita, saya kembali meng-Google kata-kata itu untuk melihat wujudnya. Beberapa kata lainnya saya harus pasrah karena tak menemui jawabannya. Misal kata bajou yang sampai akhir novel pun saya tak paham artinya.
Sekarang kita masuk ke bahasan cerita. Saya akan mengutip sinopsis novel ini. Pertikaian antar dua suku berujung pada kematian Bagaiogok, suami Taksitolini. Untuk mewariskan dendam ke anaknya, Legeumanai, Taksitolini menikahi adik iparnya, Saengrekerei. Tapi akhirnya dendam itu memudar karena mereka keluarga itu harus berpisah dari sukunya untuk mengikuti program pemerintah. Oke, stop di sini. Semestinya perpindahan dari uma tempat mereka bernaung ke barasi pemukiman program pemerintah adalah konflik yang pelik. Pembahasan yang panjang sebelum akhirnya meninggalkan adat istiadat menuju kehidupan yang katanya lebih "modern". Ternyata, pertentangan keluarga itu hanya digambarkan dalam beberapa paragraf saja, dan... ya sudah, satu keluarga melenggang kangkung saja ke pemukiman baru.
Baik. Saya masih sabar untuk melanjutkan. Bab berganti bab dan tetiba Saengrekerei menjadi kepala desa di barasi dengan begitu bijak dan elegannya memimpin, seperti telah bertahun-tahun belajar manajemen. Eh, benar saja. Cerita sudah bergeser 12 tahun sejak kepindahan mereka. Sebelum salah tangkap, saya tidak menyebut indigeneous people itu tidak pandai. Sama sekali tidak. Dalam bukunya Jared Diamond Guns, Germs, and Steel (Bedil, Kuman, dan Baja): Rangkuman Riwayat Masyarakat Manusia pun dijelaskan bahwa teknologi yang dibuat orang pedalaman Papua dan masyarakat modern Barat bisa disejajarkan. Ini jelas harus menelaah ulang definisi "teknologi" yang tidak semata-mata dikaitkan barang elektronik. Kaitannya dengan cerita ini, si Saengrekerei ujug-ujug saja mempunyai nada bicara yang 180 derajat berbeda. Bagaimana proses mendapatkan keahlian itu tak disinggung dalam cerita.
Mulai dari situ, saya sudah tak mempedulikan lagi istilah-istilah Mentawai yang mewarnai cerita. Wis, mbuh. Sak karepmu. Dalam hati sebenarnya saya sungguh menyayangkan karena itu bisa menambah khasanah pengetahuan adat Mentawai. Tapi, apa boleh buat. Saya sudah malas berusaha.
Lanjut lagi, bab demi bab saya mulai skimming. Legeumanai tetiba sudah sembilan tahun meninggalkan barasi, dan telah bekerja di kantor pemerintah. Belum lagi ada cerita tentang leluhur yang diceritakan ulang persis sama di dua tempat berbeda. Oh iya, nama-nama tempat sepanjang sungai yang disebutkan seperti meracau karena tak disediakan peta. Saya jadi bertanya-tanya. Jadi, ini konfliknya di mana?
Sekalian, nitip pertanyaan terakhir: Apa kriteria pemenang KSK?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bahkan jikalau karya ini menyertakan glosarium untuk membantu pembaca memahami istilah, karya ini tetap sulit untuk diselami
Baca satu paragraf sembarang dalam buku, lalu coba baca paragraf sebelum dan sesudahnya, bagaimana, sudah masuk ke dalam cerita? Aku pribadi menggunakan cara itu untuk mengukur tingkat kemudahan pembaca untuk menyelami sebuah karya
Aku tidak bisa melihat Mentawai dari mata para tokohnya, yang kudapat hanya kisah, bukan penyelaman pengalaman. Sampai di akhir cerita pun aku masih belum bisa berpikir sebagaimana tokoh berpikir
Selain dari segi teknis perspektif, rasanya penulis berupaya terlalu keras agar gaya bahasanya terdengar sastrawi, tapi hasilnya aku malah merasakan ketidak-nyamanan dalam tulisannya. Aku tidak dapat merasakan suara otentik si penulis, karena si penulis berusaha terlalu keras untuk bersuara seperti orang lain
Kenapa buku ini berat? 1) Buku ini pake istilah daerah tanpa footnotes. 2) Tokohnya banyak banget dan panjang silsilahnya
Tapi overall saya menikmati novel ini. Saya jadi mengerti tipe novel seperti apa yang akan masuk ke penghargaan KSK.
Novel ini berlatar di Mentawai, menggunakan alur maju mundur. Tidak ada keterangan waktu yang cukup jelas, tapi bisa dibilang pembedanya adalah sebelum dan sesudah dilakukan pembangunan oleh pemerintah.
Saya suka cerita mereka yang membahas mengenai konflik antar suku, konflik antara pemerintah dan warga lokal, serta isu keagamaan. Ada cerita dimana si tokoh selalu berganti agama, tergantung mana yang memberikan mereka bantuan makanan.
Saya suka poin saat penulis menggambarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya diperoleh dari hal-hal modern, seperti pendidikan tinggi ataupun penggunaan teknologi. Ada namanya "panggilan jiwa" yang akan selalu mengalir di darah seseorang sejauh apapun ia pergi.
Gadis jelita di uma tetangga membuat Saengrekerei menculik dan menyekapnya. Namun si Gadis berhasil kabur dan pulang ke uma-nya. Hal ini segera memicu pertengkaran, terutama karena Sangrekerei menolak untuk membayar tulou. Singkat cerita, pertengkaran antar uma ini harus dibayar dengan nyawa Bagaiogok, kakak Saengrekerei, meninggalkan istrinya, Taksilitoni dan anak mereka Legeumanai menjadi tanggung jawab Saengrekerei.
Ingin memulai hidup baru dan menghindari permusuhan antar uma yang selalu menjadi penyakit turun-menurun, Saengrekerei akhirnya memutuskan untuk membawa keluarga kecilnya keluar dari uma menuju ke barasi. Namun hidup mereka tidak lantas menjadi mudah, karena kini Saengrekerei dan Taksilitoni serta anak mereka Legeumanai dihadapkan pada permasalahan ‘bagaimana caranya menjadi manusia yang maju, beradab, beragama, dan modern’, demi mendukung program pemerintah.
Buku ini mengisahkan tentang sekelumit kehidupan suku Mentawai yang menghuni kepulauan Mentawai di Sumatera Barat. Berbagai kebijakan pemerintah setelah Indonesia merdeka dipaksakan kepada suku pedalaman ini. Agama mereka, Arat Sabulungan, dihapuskan dan mereka diharuskan memeluk salah satu agama yang diakui oleh Pancasila. Mereka diharuskan berpakaian dan dilarang memamerkan tato (yang sebetulnya merupakan simbol prestasi dan kebanggaan), dilarang berburu karena itu akan “merusak alam”, dan pindah ke permukiman-permukiman yang dibangun pemerintah (agar mereka lebih mudah dipantau dan dikontrol). Perlahan, keinginan pemerintah untuk memajukan rakyat mengikis kepribadian, tradisi, dan budaya dari suku tertua di Indonesia ini.
Niduparas Erlang menuturkan cerita kehidupan suku Mentawai dengan teramat apik. caranya menggambarkan kondisi alam, kehidupan sosial suku Mentawai, dan terutama tradisi dan adat istiadat mereka yang menakjubkan sangat menyihir. Tentu di bagian awal aku cukup dibuat kebingungan dengan istilah-istilah asing dan nama-nama yang sulit dilafalkan, namun lama-kelamaan menjadi terbiasa juga,bahkan akhirnya dibuat terpesona. Belum banyak buku yang kubaca tentang suku-suku pedalaman, dan bagiku, buku ini adalah harta karun berharga.
“Alei, betapa hidup sudah begitu sentosa, begitu cukup dengan segala yang disediakan semesta, pikir Legeumanai. Tapi mengapa program-program pemerintah-pembangunan yang menjanjikan kesejahteraan-kemajuan-pendidikan-pelayanan mesti juga menggusur hutan-hutan sembari mengejek-mencela gaya hidup di uma-uma?” -hal 167.
Burung Kayu dipilih @kebabreadingclub untuk mengawali diskusi buku tahun 2021.
Mengisahkan tentang kehidupan masyarakat di Mentawai, konflik antar suku yang ada, tradisi dan budaya, sampai kelokalan yang mulai berubah saat ada campur tangan penguasa.
Pertama kali baca, saya mengalami apa yang dibilang Mas @niduparas.erlang @niduparas.erlang saat diskusi: Gegar budaya. Banyak istilah asing, bahasa Mentawai yang baru dibaca pertama kali. Kak Yun @ruangtitikkoma saat itu menyarankan, udah tabrak aja dulu, nanti juga akan dapat rasanya dan bisa mengira-ngira artinya apa. Di saya, terjadi juga. Makin dibaca, makin terasa, dan jadi dapat sendiri maknanya, dapat bocoran arti dari kalimat-kalimat di sekelilingnya. Walau nggak semua ya. Tetap ada juga yang berujung cari di internet.
Novel ini jadi pengingat buat saya yang sedari kecil hidup dekat dengan modernitas dan teknologi; Saya ternyata lupa, kalau di Indonesia masih ada suku-suku yang hidup dengan tradisi adatnya. Mungkin saya secara nggak sadar juga jadi Jawasentris banget, terbukti dengan gegar budaya saat baca bahasa Mentawai itu; ngarep banget ada glosarium buat memenuhi kemanjaan saya yang nyaman pakai full bahasa Indonesia, dan sesekali bahasa Jawa dan Sunda di sini.
Burung Kayu bikin saya bertanya, apakah hidup masyarakat Mentawai akan lebih tenteram jika tidak dicampuri pihak luar? Apakah dengan pembangunan dan program-program yang ada dan dibawa masuk ke sana, hidup mereka memang terbukti lebih sejahtera sekarang? Lalu saya juga jadi membayangkan, kalau menutup diri dari luar di zaman sekarang rasanya sulit. Saat ada bencana, sumber daya yg berkurang (atau dilarang dipakai), dan butuh bantuan, "pintu" tentu perlu dibuka untuk bertahan.
Dinamika kehidupan suku-suku yang ada di Mentawai ditunjukkan dalam novel ini. Ada yang lama-lama meninggalkan kepercayaannya dan memilih agama yang diakui negara. Apalagi kalau mau bikin KTP. Kalau mau resmi jadi WNI ber-KTP, pilih agama dulu, tapi cuma boleh dari opsi yang ada saja, ya.
Tarian yang tadinya sakral, sekarang jadi pertunjukan umum. Cara dan gaya hidup jadi dipertontonkan untuk turis yang berkunjung.
Apakah ada batas dalam mengeksploitasi adat dan alam ini?
Suka dengan ucapan Uda @aldozirsovlibrary saat diskusi di KEBAB: Exposure terhadap teknologi itu tak terelakkan. Apakah bisa kembali ke tradisi yang lama? Sedangkan kita perlu ingat kalau zaman maju ke depan. Biarkan mereka yang menentukan.
Karena kutahu sang penulis butuh riset yang tak sebentar, lalu menulis tentang lokalitas apalagi yang bukan latar belakang asli penulis itu susah banget, maka kuberi buku ini rating 4.
Saya sering berkata, bahwa saya tidak suka sebuah buku yang penuh catatan kaki. Saya pikir, sesulit apa pun satu kata atau istilah, masih bisa dipaparkan dengan cara yang lebih estetis daripada menuliskan keterangan di bawah halaman. Novel ‘Burung Kayu’ ini, menunjukkan bahwa pemikiran saya tidak salah.
Membahas hal di luar Jakarta (dan kota-kota urban lainnya) bahkan jauh sekali dari ‘modern’, yaitu masyarakat adat Mentawai, Niduparas Erlang tak menambahkan catatan kaki. Bahkan tidak ada penjelasan di badan novel. Semua istilah yang asing bagi saya sebagai pembaca awam, ditulis saja di dalamnya, plek, tanpa usaha menjelaskan.
Itulah hal yang paling saya suka dari membaca ini. Saya tidak dipaksa dengan banyak penjelasan. Saya ‘dibimbing masuk’ ke hutan rimba di pulau Siberut. Mencoba menerka apa arti muturuk, sikerei dan puluhan (mungkin ratusan, saya tidak menghitung) kata lain. Hal itu membuat saya seolah dekat dengan para tokoh: Saengrekerei, Taksilitoni, Legeumanai. Juga memberikan kesan kultus dan magis pada konflik antar suku, tentang roh, leluhur dan Arat Sabulungan.
Meski jujur saya, hal itu pada mulanya sempat menyulitkan saya dalam membaca novel ini. Apalagi, alur yang ditulis nonlinear, menambah bahan untuk ‘mengerutkan kening’. Serta, saya yang memang cukup malas untuk dibantu google ketika membaca, jadi tidak sedikit pun searching. Namun, pelan-pelan, saya mulai bisa menerka si cerita. Mulai bisa berjalan-jalan dalam bab demi bab. Karena beberapa kata asing itu terus diulang dan saya mulai bisa meraba maknanya, meski tidak terlalu yakin, dan terus merevisi-revisi pemahaman soal itu. Itu jadi hal yang menyenangkan karena saya jadi mencoba untuk berpikir sendiri. Penulis tidak menyuapi saya. Penulis membuat pembaca menjadi manusia yang mandiri.
Beralih ke isi novelnya (jangan terus bahas catatan kaki). Meski ini cukup tipis, hanya 170-an halaman, ada banyak konflik di sini. Setidaknya ada tiga konflik utama jika dilihat dari waktunya. Pertama: sebelum si tokoh pindah. Konfliknya seputar pertikaian antar suku, juga adat dan roh leluhur. Kedua: ketika pindah dan awal pindah ke tempat yang dibuat pemerintah untuk ‘mensejahterakan’ kaum adat, yang mana terpaku ke bagaimana mereka harus beradaptasi dengan gaya hidup baru, aturan pemerintah, serta agama ‘resmi’. Ketiga: setelah begitu lama tercerabut dari tanah kelahiran, setelah ‘modern’, menghadapi uang, serta konflik batin antara melawan dan menerima segala tuntutan hidup yang beradu pada kepercayaan lama. Atau masih banyak lagi, tapi saya kurang menyadarinya.
Semua konflik tak memiliki penyelesaian. Rasanya begitu. Beberapa kawan serta catatan di internet soal buku ini juga sependapat. Bahkan ada yang menulis, mungkin akan ada Burung Kayu 2. Beberapa menuliskannya atau menyebutkannya dengan cukup sedih dan merasa tak puas. Namun saya berpendapat berbeda: tanpa penyelesaian tersebut memberikan saya banyak permenungan. Semua itu seolah pemaparan yang dramatis. Yang memberikan saya pengetahuan dengan rabaan perasaan tentang bagaimana orang-orang nun jauh di sana hidup. Terlebih akhir ceritanya.
Saya merasa memang harus begini cerita di sini. Harus cepat adegannya seperti bagaimana kaum adat juga harus cepat beradaptasi soal gaya hidup. Harus alur maju-mundur dan terus menjelajahi masa lalu karena para tokoh (bagi saya) tak sepenuhnya bisa hidup dalam kesekarangan yang mereka jalani. Serta harus tanpa penyelesaian, karena mungkin sampai sekarang konflik-konflik itu (masih) tidak punya penyelesaian.
Iya baca novel ini harus sabar, pelan, cermat dan seksama. Baru nanti setelahnya anda akan mengerti jalan cerita novel yg alurnya mundur-maju-mundur-maju. Narator menceritakan dengan sangat asyik tp pembaca dibuat tidak baper seperti novel-novel lain
Untuk mengikuti cerita dengan latar pedalaman dan budaya sebagai tulang punggungnya (atau yang coba diusahakan) merupakan tantangan dari penulis. Diberikan penjelasan dan definisi terhadap tiap-tiap objek dan interaksi. Bisa dipahami bahwa sebagai bentuk agar cerita tidak terjebak dengan gimik atau asesoris yang tidak berpengaruh. Sayangnya jika hal-hal tersebut diulang terus menerus, malah kesan yang ada yakni usaha menampilkan di depan muka yang sangat tampak dan terang benderang bahkan menyilaukan bahwa “INi bUKaN GiMIk.” Budaya dan tradisi bukan asesoris belaka karena dipaksa untuk dipahami sebagai bukan asesoris. Apresiasi untuk kegigihan penulis untuk meyakinkan pembaca.
Kemudian penulisan cerita-cerita yang bisa diuraikan terlebih dahulu tapi berusaha dipadatkan untuk seringkas mungkin. Beberapa cerita malah jadinya melantur tidak jelas. Secara pesan bisa dipahami tapi sama tidak bernyawanya dengan membaca iklan.
Meskipun ada ketidakpuasan, tetap ada hal menarik yang bisa ditemukan. Pertama, mengenai konflik suku pedalaman yang terasa kental kritik sosial dan politiknya. Tentu bukan hal sederhana dan memantik rasa geram terhadap pihak penindas. Kedua, kontras yang timbul antara membaca cerita dari latar budaya pedalaman dengan dari latar modern. Agak sulit untuk memahami pedalaman namun perasaan terasah, sedangkan latar modern dengan mudah dipahami namun menghadirkan ironi.
Cukup kecewa membaca buku pemenang Khatulistiwa 2020.
Membaca Burung Kayu, pada awalnya kita seperti dipaksa menikmati ketidaktahuan, kebingungan dan sesekali gregetan karena banyak istilah asing yang tidak ada catatan kakinya. Berusaha untuk mencari tahu, berujung dengan kebingungan berikutnya. Maka saran terbaiknya adalah bertahan dan terus saja baca, akan ada saatnya "pemahaman" itu benar-benar datang jika sudah saatnya. Entah kenapa, justru poin yg didapat bukan tentang kemelut perselisihan antar suku di Mentawai, tapi justru lebih ke pengenalan unsur-unsur budaya Mentawai dan beberapa isu-isu sosial yang meskipun digambarkan dengan background masyarakat adat tapi sungguh masih relevan di kehidupan saat ini.
Membaca "Burung Kayu" adalah pengalaman membaca simbol. Buku pemenang KSK 2020 ini ternyata sebelumnya telah diikutkan dalam Sayembara Novel DKJ 2019, dan dinobatkan sebagai "Naskah yang Menarik Perhatian Juri". Setidaknya, dua hal ini menarik untuk dicatat dulu.
"Burung Kayu" adalah simbol. Maka, dari judulnya saja, sedikitnya pembaca ingin diajak mengurai arti "Burung Kayu" itu. Tak lama untuk mendapatkan jawaban. Di awal kisah dijelaskan, "Burung Kayu" adalah simbol kemenangan, yang menjeda, atau menunda perkelahian-pertikaian-pengayauan antar dua uma yang tengah bermusuhan. (Hlm. 13). Burung kayu dipahat dan akan diwarnai dengan arang. Burung kayu juga sebagai penanda, agar kelak seluruh uma tetangga tahu siapa uma yang paling berwibawa, paling magege, di antara uma-uma lain di seantero lembah. (Hlm 16).
Namun, simbol yang mewujud dalam sosok "burung" yang terbuat dari "kayu" ini, tak hanya menyiratkan sesederhana arti yang bisa dituliskan. Ia hadir sebagai kekuatan yang lebih besar dari kisah-kisah yang pernah terjadi sebelumnya. Di sinilah, penulis seolah meniupkan ruh agar pembaca mendapatkan gambaran hidup tentang kisah-kisah masa lalu si pemilik burung kayu.
Berlatar Suku Mentawai, di pedalaman Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, buku ini mengungkapkan dinamika kehidupan masyarakatnya sejak masa nomaden, yang mencari sebuah wilayah kosong untuk kemudian diduduki, dan disahkan sebagai wilayah kekuasaan. Dari situ, peradaban dikembangkan. Membangun kelompok beserta aturan-aturannya. Begitu pun aturan yang bersinggungan dengan kelompok lain.
Sebagaimana aturan, silang sengkarut, dan perselisihan sangat dimungkinkan terjadi. Di sinilah konflik novel diangkat. Tidak selesai di situ. Ketika aturan yang sudah sedemikian rumit pun datang dari pihak luar, dalam hal ini pemerintah, maka tekanan semakin besar. Ketika program-program yang dikemas dalam nuansa pembangunan-pembaharuan-kemajuan mencoba mendekati masyarakat Mentawai dengan menyediakan 'barasi', pemukiman baru buatan pemerintah, tampak menawarkan paradigma baru dalam memandang kemajuan-modernitas, sedikit banyak menarik para penghuni 'uma' pindah menuju 'barasi'. Dan inilah yang tampaknya digulirkan sebagai jalan keluar bagi permasalahan klasik sebelumnya : perseteruan antar uma. Dari yang awalnya cukup dengan menenggerkan sebuah Burung Kayu di sebatang pohon tertinggi, kini menjadi persaingan : siapa yang lebih beradab-maju-modern.
Sampai di sini, saya sepakat untuk menganggap gagasannya sederhana. Tapi sebagaimana bumi yang semakin tua, sesungguhnya tak ada hal baru baginya. Begitu pun hidup. Tetap saja manusia berputar-putar dalam kisah-kisah yang sama, hanya dengan tambahan berbagai varian tokoh, latar, karakter, gaya, atau waktu yang berbeda. Pun novel ini.
Namun justru bagian ini yang paling menarik. Dalam gagasan yang sederhana, penulis ternyata mampu membuat perbedaan dengan menerapkan konsep yang kreatif. Penggunaan kosakata lokal tanpa terjemahan (glosarium) yang disatukan; bercampur langsung dengan narasi. Penulis ternyata bermaksud tidak mau mendikte pembaca untuk membatasi pendefinisian bahasa dalam arti yang terbatasi oleh kamus. Penulis ingin pembaca menerka, membebaskan imajinasi dalam memaknai kosakata (lokal) itu. Apa ini seolah jadi ingin menjual dengan iming-iming etnografi pada para pembaca? Bagi saya, tidak.
Di sisi lain, ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya dapatkan lebih di dalam novel ini. Antaranya, konflik antara penghuni barasi dengan pihak pemerintah, juga bagaimana nasib uma seberang yang masih bermusuhan dengan uma tokoh utama. Maka ketika ada ide-ide yang menyuarakan agar novel ini dibuat kelanjutan, kiranya berkesempatan menjawab itu, haha..tapi tampaknya selesai di sini pun baik. Hanya, andai saja, dibuat lebih tebal dua atau tiga bab lagi, mungkin jadi cukup sempurna.
Terkait ketiadaan glosarium tidak membuat kesulitan berarti untuk saya. Hanya perlu sebentar membiasakan. Selanjutnya, seolah sudah terbiasa, jadi pembacaan berjalan tanpa perlu memikirkan perihal glosarium lagi.
Burung Kayu or the Wooden Bird is an ethnographic novel written by Ninduparas Erlang. The novel starts with the personal affairs and a personal conflict leading to a bigger conflict between two groups of people. The issues about Mentawai customs on marriage, living along with their battle with modernism are scattered throughout the book. The purpose of the portrayal is to highlight the pride and dignity of being a part of the Mentawai tribe. Mind you that the wooden bird is the symbol of the pride that a Mentawai family leaves hanging in their house.
It took an effort for me to finish the book. I was struggling with the local terms that the author keeps using throughout the book. I know they are there to strengthen the emotional bond or to give such a feeling to the story. Yet it’s distracting and I ended up turning the pages back and forth because I could not follow the plot line anymore. By the end of the day, I gave up and just continued reading while grabbing the main plot.
I can also see that literature is one of tools to show some resistance towards the social injustice in this novel. The Mentawai tribe in West Sumatra is without exception; they are somehow being exploited and oppressed particularly with the govt. For those matters I really admire the topic that the author tries to address. My thought is that it will be great to compile these ethnographic data into a researcher’s or travellers’ anthology or a report but turn it into a novel may take an effort due to so many aspects. Remember Anthony Reid who writes such powerful book Witness to Sumatra, A Travellers’ Anthology? What about turning this book into Discovering Mentawai, a live-in diary? Wouldn't it be more capturing and captivating?
The book was once recommended by my darling reading buddy Yun from @ruangtitikkoma . Mind you that KEBAB reading club @kebabreadingclub will host a discussion on Burung Kayu on 31 January 2021. The novel will be an interesting object to be discussed not only from its literary side but also from the cultural point of view. Simply register yourself and book your slot. The registration link is available on KEBAB’s bio.
Awalnya sedikit kurang nyaman sama istilah-istilah bahasa asli Mentawai yang gak ada penjelasan/terjemahannya di badan novel maupun catatan kaki. Berbekal rasa penasaran sebegitu menarik-kah novel ini sampai dinobatkan sbg pemenang penghargaan, gw pun mutusin baca perlahan di awal sambil googling istilah-istilah tsb. Hasil googling justru membuat gw akhirnya mulai merangkai potongan-potongan pemahaman tentang adat istiadat Mentawai, bukan sekadar mencari arti dr istilah-istilah tsb. Mulai dari munturuk, sikkerei, silumang sampai tippu' sasa. Ketidaknyamanan yang awalnya menghampiri ternyata membuat gw mempelajari sedikit tentang adat istiadat Mentawai. Pada akhirnya, gw pun terbiasa utk mengikuti alur ceritanya tanpa hrs menerjemahkan keseluruhan istilah yg tertera. . Jujur gw tenggelam dalam dinamika kehidupan tokoh-tokoh dalam novel ini, diantaranya Saengrekerei, Taksilitoni, Legeumanai dan juga dinamika beberapa perseturuan antar suku. Gw juga salut dengan penggambaran penulis akan tradisi lisan turun temurun yang ada dalam novel ini. Bagaimana dendam antar suku diturunkan dan bagaimana silsilah suku diceritakan dari generasi ke generasi. Terbayang pas gw ngobrol dengan paman gw yg menceritakan dengan fasih silsilah keluarga kami. . Penggambaran dinamika kehidupan yang paling gw sukai itu tentang Legeumanai. Kisah masa kecilnya yang harus menerima ayahnya gugur di tengah konflik antar suku, menerima peraturan adat yg mengharuskan paman kandungnya utk mjd ayah barunya. Perjalanannya ke barasi (dusun 'buatan' pemerintah). Konflik masa remajanya yg harus 'merantau' bersentuhan dan dgn modernitas dan konflik masa dewasanya yg mengharuskan dirinya kembali ke tanah leluhurnya utk kemudian ditakdirkan mjd seorang sekkerei. . Satu pertanyaan terlontar membuat gw pun ikut mengangguk setuju ketika membaca novel ini, 'Mengapa modernitas harus menyingkirkan adat istiadat?'. Modernitas pun sebenarnya bisa berjalan berdampingan, layaknya sikkerei yang berdampingan dengan dokter ketika mengobati seseorang yang sakit. Menghormati adat istiadat setempat juga berarti tidak memaksakan kehendak modernitas ke dalamnya. . Recommended 👍
Baru-baru ini saya mengetahui sekilas tentang Pulau Siberut karena proyek pembangkit listrik pertama menggunakan biomass dengan bahan bakar bambu di Indonesia, yang kembali teringat lagi ketika membaca novel Burung Kayu dan ini adalah karya fiksi pertama yang saya baca mengenai suku Mentawai.
Melihat review dari teman-teman sebelumnya dan banyak bilang novel ini cukup “sulit” dan rumit untuk dimengerti, saya mengubah cara membacanya. Biasanya sambil baca saya akan berhenti dan mancari tiap istilah yang asing, kali ini saya baca apa adanya sampai habis. Teknik penulis dengan memberi arti di samping kata di dalam satu halaman itu juga cukup membantu. Lama kelamaan akan paham apa yang dimaksud dan saya bisa mengerti sampai akhir. Mungkin saya juga cukup terbantu ketika tahun lalu banyak membaca sastra Amerika Latin yang punya konstruksi rumit menggunakan beberapa nama panggilan untuk tokoh yang sama.
Setelah diskusi #kebabreadingclub sore ini, saya jadi bisa mengapresiasi keteguhan penulis, editor dan penerbit akan ketiadaannya glosari dan teknik penulisan dalam novel. Dengan tidak memanjakan pembaca dan tidak memberikan deskripsi, malah membuat pembaca seperti masuk merasakan bagian dari cerita. Saya jadi paham persaingan antar suku tak semata diselesaikan dengan “perang darah”. Ada yang lebih adu hormat dengan memasang burung kayu di atas pohon paling tinggi. Belum lagi tentang "Tippu Sasa" yang digunakan sebagai uji kejujuran dengan taruhan nyawa.
Saya juga bisa memahami pilihan untuk akhir cerita ini bukan mengangkat konflik langsung antar pihak. Karena berbicara masyarakat adat akan kita temui begitu kompleksnya permasalahan yang ada. Mulai dari internal sendiri dan unsur seperti negara, agama pendatang, belakangan soal turisme.
Kelemahan yang saya temukan adalah tidak adanya timeline waktu yang jelas sepanjang cerita sudah terjawab saat diskusi (merentang berbagai tahun dari 50an – 80an dan terkini). Yang saya tahu untuk setting waktu terkini sepertinya setelah 2004 karena baru tahun ini adalah istilah OMK (Orang Muda Katolik) menggantikan istilah lama Mudika. Hal lain yang mungkin luput adalah tidak ada cerita mengenai gempa, padahal beberapa kali Mentawai mengalami bencana tersebut dan apakah mempengaruhi kehidupan di sana. Senang sekali muncul karya sebagus ini, tak heran jadi pilihan juara Kusala Sastra Khatulistiwa 2020. Sangat layak untuk dipilih, dibaca, dirasa dan diresapi oleh lebih banyak pembaca lagi. Alei..
It's a fiction novel based on Mentawai tribe in West Sumatera. We get a glimpse of the Mentawai customs on living, marriage, conflict resolution, and even warfare. Another significant conflict in the book is between the tribes and the government. It reminds us to reflect on the price we pay in the name of 'progress' and 'modernity'.
Now... a few things to note: 1. LOTS OF MENTAWAI WORDS (and no glossary/translation section). I admire the author's decision to use a lot of Mentawai words throughout the text (as if he's saying, "if you can learn English, you should be able to put the same effort for this!"). HOWEVER, I ended up having to consult Google every so often and it kinda distracts me from my reading 'flow'?? One sentence, google. One paragraph, opens phone and google. Next sentence, google.
2. I feel like I would appreciate it more as a nonfiction than fiction. I mean, OK, maybe the author wants to immerse people in the story so he writes it as fiction. But it is neither plot-driven or character-driven. It talks about the friction between tradition and new habits but is only scratching the surface?? I feel like his priority is in capturing the A-Z of Mentawai culture (from cradle to grave).... in which case I think a nonfiction format will be better.... idk maybe I will ask this during the discussion.
All in all, read this not for the characters but rather for the principles delivered through the story.
lewat Burung Kayu, kita diajak melihat dari dekat kehidupan masyarakat suku di pedalaman mentawai yg masih bertalian erat dgn nilai dan tradisi dari leluhurnya, dan gimana mereka menghadapi perubahan yg menghadang. konfliknya macem2, mulai dari konflik antarsuku itu sendiri, sampe konflik dari luar: pemerintah, pengusaha2 kapitalis, tanah dan hutan, segala benturan nilai antara yg lama dan yg baru,... dll.
bagus. MAGIS. bikin tersihir, terpukau, sekaligus bikin mikir. sebenernya gimana suku2 ini dengan cara hidupnya harus menghadapi perubahan? gimana dgn nilai2, tradisi, keyakinannya--apakah bisa, perlu utk tetap dipertahankan dan dilestarikan? lalu apakah 'dunia roh' dan medis (atau ilmu sains lainnya) beneran bisa berdampingan, seperti yg dikatakan Taksilitoni? apakah program yg disebut utk 'memajukan' dan 'mensejahterakan' itu emg bener bisa memajukan dan mensejahterakan? apa sih emgnya yg disebut memajukan tuh? seengganya itu beberapa pertanyaan yg muncul di benak saat baca dan harus dipelajari lagi buat tau jawabannya. baca ini sekaligus bikin sadar tentang manusia dan sifat2nya yg bikin manusia... ya manusia. persoalan ttg agama menurut sy paling menggelitik.
btw suka sekali sama bab pertama dan bab terakhir serta kontras antara keduanya... masih kepikiran. suka sama imaji yg muncul lewat deskripsi suasana dan tempat dan keadaan. suka adegan menjelang akhir ketika Legeumanai kembali.
buku ini agaknya emg bukan buku yg ringan--bahkan kalo boleh sy bilang, buku yg butuh waktu utk bisa mencerna dan menikmatinya. namun, tetap, hal itu enggak mengurangi keindahannya. 👏👏
Banyak sekali istilah-istilah yang tak saya mengerti dari buku ini. Namun, saya tetap membacanya sampai selesai, karena memang ceritanya bagus! Alurnya cepat. Saya suka bagian deskripsi-deskripsi berkaitan dengan kehidupan suku Mentawai dan bagaimana mereka menghadapi modernisasi. Namun, ada bagian yang terasa diulang menjelang akhir cerita, yakni kisah tentang nenek moyang Suku Sura' Boblo yang diceritakan oleh Saengrekerei kepada Leugumanai. Meski terdapat penambahan pada kisah tersebut, tetapi ada banyak pengulangan, sehingga kisah nenek moyang terasa repetitif.
Saat membaca blurbnya yang menyebutkan tentang balas dendam dan permusuhan antarsuku dan kebijakan negara, saya langsung tertarik dengan tema tersebut. Namun setelah membacanya, tema yang melekat dalam benak saya adalah tentang bagaimana mewarisi 'warisan nenek moyang.' Setiap dari 'warisan' pasti ada yang dipertahankan dan yang tidak. Sebagaimana akhir dari novel ini yang menceritakan sikerei belia yang menari tanpa ekstase.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Baca saja dulu. Pengalaman dalam membaca buku ini, memang mengalami kepayahan dalam memaknai konteks dari cerita berkaitan dengan kata Bahasa Mentawai yang tidak ada terjemahan dalam Bahasa Indonesia melalui catatan kaki. Adakalanya teruskan membaca untuk menemukan alur cerita dan kaitan antar judul meski dalam kondisi payah. Karya sastra bukanlah karya ilmiah yang mana struktur penulisannya harus dipahami bab per bab. Dalam kepayahan, imajinasi sastra dalam menerjemahkan kata dan alur cerita dapat menggambarkan salah satu kesuksesan karya sastra ini. Kita dapat mengulang dari halaman pertama setelah menamatkan cerita dan setelah kita makin terbiasa dengan cara menyimpulkan alur cerita. Menurut saya, kekuatan inilah yang membuat karya sastra ini pantas jadi pemenang. Baca saja dulu.
Buku ini cerita tentang bagaimana modern malah membuat seseorang jadi tercerabut jadi asal muasalnya, meniadakan identitas seseorang, menyeragamkan segala jenis orang menjadi seragam yakni modern. bukankah menjadi modern itu sebuah pilihan? Sayang, buku ini nggak ada bantuan terjemahan, semua istilah bahasa Mentawai dituliskan sebagaimana adanya, jadi pembaca yang tidak paham bahasa Mentawai, hanya mampu menebak nebak arti sepanjang cerita. But this book truly recommended, latar dijelaskan begitu detail sehingga kita serasa diajak ke hutan di Mentawai tempat latar cerita ini di buat.
Pemenang prosa KSK yang kurang bisa dinikmati. Tidak ada glosarium/footnote. Susah dipahami, bahkan sampai paragraf terakhir pun, tidak paham secara mendalam isi buku ini. Terkesan buru-buru diterbitkan tanpa editing/suntingan yang tepat. Isunya saja yang bagus tapi penyajiannya kurang fokus. Akhirnya baca karena udah terlanjur beli.
Burung Kayu, pada awalnya kita seperti dipaksa menikmati ketidaktahuan, kebingungan dan sesekali gregetan karena banyak istilah asing yang tidak ada catatan kakinya. Berusaha untuk mencari tahu, berujung dengan kebingungan berikutnya. Maka saran terbaiknya adalah bertahan dan terus saja baca, akan ada saatnya "pemahaman" itu benar-benar datang jika sudah saatnya.
Gaya bahasa yang kuat, alur non-linear, istilah daerah tanpa dicampuri oleh bahasa Indonesia, membuat novel ini tidak cocok untuk pembaca dengan mata dan hati yang lemah. Ngoahaha
Saya merasa cukup sulit untuk masuk ke dalam cerita. Terlalu banyak kosakata daerah dan tidak ada catatan kakinya sehingga harus bolak-balik cek google.