Dewata memberi tanda balo pada kulit mereka, agar mereka bisa merenungi kesalahan masa lalu. Leluhur mereka yang diutusNya, memercayai roh yang Ia ciptakan sebagai tipuan. Hal itu sengaja Ia lakukan untuk menguji mental dan kesetiaan mereka. Dewata kecewa, sebab Ia menghendaki terciptanya semesta, agar mereka menggunakan akal dan tak berpaling. Dewata juga menghendaki mereka beranak pinak agar semakin banyak golongan mereka menyembah kepadaNya.
Novel ini merupakan Juara 3 Sayembara Novel Basabasi 2019. Setelah membaca blurbnya, aku tidak mengerti sama sekali jalan ceritanya bakalan seperti apa, but embel2 juaranya bikin aku tertarik buat baca bukunya. Jadi, ak bakal share beberapa hal yang menurutku membuat buku ini menarik buat dibaca.
Buku ini mengangkat salah satu suku unik di Indonesia yang memiliki kondisi kulit berbeda dari orang kebanyakan. Membaca bagian awal novelnya aku pikir buku ini akan mengangkat sudut pandang orang ketiga sampai akhir menjadi satu kisah yang utuh, ternyata tokoh utamanya berbeda-beda di tiap babnya. Jadi, ada begitu banyak sudut pandang terkait suku tersebut yang bisa didapat, mulai dari dilema2 kehidupan mereka, hingga tradisi, kepercayaan, dan pantangan2 yang mereka alami.
Cerita yang diangkat unik. Sangat unik karena suku yang yang diceritakan pun memang terbilang salah satu yang terunik di Indonesia. Membaca novel ini seperti menyelami kisah fiksi tentang suatu suku yang tidak nyata dan imajinatif, tapi setelah aku tahu suku tersebut benar2 ada, ada keterkejutan tersendiri. Indonesia memang seberagam itu ternyata.
Kisah yang diceritakan terbagi menjadi bab2 dengan alur yang berbeda-beda. Jadi sensasinya seperti membaca cerpen gitu. Tapi cara mengemas ceritanya itu unik banget. Pasti ada satu kisah tentang kematian yang diangkat, baik itu bunuh diri, disambar petir, penyakit, bayi yang dibuang, dan selalu ada momen roh yang bercakap-cakap. Selalu ada makna positif yang bisa diambil dari dialog2nya.