Jatuh cinta pada Langit Arswandaru itu mudah. Bahkan sejak kali pertama bertemu, Raira Sore Pambayun sudah merasakan getaran di hatinya. Awalnya semua terasa sempurna karena Langit juga membalas perasaannya. Namun, segalanya berubah saat Raira tahu Langit telah menghamili sahabatnya sendiri. Raira yang patah hati, menyingkir dari kisah cintanya yang usai bahkan sebelum dimulai. Tapi situasi jadi rumit karena Langit tak membiarkannya pergi. Apakah Langit memang sedemikian tak punya hati?
Wow. Oke, sama sekali nggak nyangka ceritanya akan dibawa ke sana. But you know what? I LOVE IT! Nggak salah jadiin Kak Pradnya penulis yang bukunya autobuy. Sebagus itu.
Kepalaku agak cenat-cenut jadi nggak becus nih mau bikin review yang bagusan, intinya aku suka sama konflik dan penyelesaiannya. Keren banget teori-teori dalam novel ini, asyik gitu loh pembawaannya, bikin yang baca bisa menikmati. Aku juga salut karena Kak Pradnya bawa isu yang sangat dekat, tapi sayangnya sering luput dari perhatian karena yaaa itu. Pemikiran kolot beberapa orang. Dan beberapa bagian dalam novel ini menyentil mereka. Keren banget, Kak!
P.S: aku ingin Bang Yos. Berikan aku Bang Yos!!! 😂
"Bukankah itu yang terjadi di balik sebagian besar peristiwa patah hati? Kenyataan yang ga sesuai ekspektasi, padahal ekspektasi itu kita yang buat sendiri"
Yak kalalangitabuabu adalah buku pertama yang berhasil gw selesaikan setelah 3 bulan
Jujur gw bahkan ga baca sinopsis atau blurb apapun terkait buku ini sebelumnya, karena yang nulis pradnya , jadi ya auto baca aja
Well, Kala Langit Abu Abu mengisahkan dua hati yang harus terpisah, perjuangan untuk bertahan, merelakan, hingga memaafkan.
Kisah ini tak melulu tentang cinta dua manusia, tapi jauh lebih luas dari itu, tentang sebuah issue yang memang marak di bicarakan namun cukup tabu saat ini, yakni sexual abuse hingga Suicide
Awalnya gw kaget kenapa novel ini mematok 17+ di sampulnya, namun akhirnya paham.. Oh karena issue ini.. Well done kakak pradnya sudah berani speak up!
Berbicara mengenai plot dan alur cerita, Kala Langit Abu Abu dikisahkan dengan cukup baik, konfliknya cukup apik dibalut dengan alur yang tertara rapi. Walau gw merasakan perbedaan gaya penulisan pradnya disini, agak lebih "muda" gitu gaya penceritaannya, mungkin karena menyesuaikan dengan genre nya yang lingkup kampus ya..
Novel ini ga melulu tentang Raira dan Langit, tapi juga tentang orang-orang di sekitar mereka, tapi sayang banget agak kurang di eksplore, gw pengin tau lebih banyak kisah yang dialami senja, yos dan adiknya Raira. Tapi mungkin bakal panjang yaaa..
Character development nya juga oke, Dan mohon maaf, saya tim Bang Yos yaaaaa gile jarang-jarang ni di novel gw doyan sekenlid gini haha.. Tapi entah gw suka banget sama character Yos disini
Akhir kata, i totally love how every problem solve at the end.. Endingnya cuamik dan ga maksa.. Tapi please saya mau bang yos lebih banyak
Dari kemarin lagi mood untuk re-read buku yang saya suka, salah satunya ini. Suka banget pokoknya! ----- Selesai dengan sekali duduk. Been a fan of her works since I read Save Our Story on wattpad. Setelah itu saya selalu baca tulisannya yang lain hehe. Kala Langit Abu-Abu ini favorit banget, saya berarti udah baca cerita ini 3 kali--2 kali baca di wattpad dan sekarang baru sempat baca versi bukunya (dan sepertinya bakalan re-read lagi kapan-kapan).
Cara penyampaiannya itu sederhana tapi ngena. Kita diajak ngerasain emosi yang dirasakan tokoh-tokohnya mulai dari sedih, senang, dan marah. Saya suka banget sama moral value-nya, dan gimana Langit dan Raira buat keputusan yang nggak gampang menjelang akhir. Isu-isu yang diangkat juga menarik dan suasana kampusnya tuh berasa banget jadi nggak kayak tempelan aja gitu jurusan mereka karna banyak selipan Filsafat juga. Tapi, sayangnya ada satu kalimat Langit yang saya suka sampai ingat banget karena pas saya baca kayak woah it hits so hard, tapi nggak ada di versi bukunya ternyata.
Secara keseluruhan, buku ini ngebantu saya banget setelah capek baca fantasy berturut-turut. Totally recommended!
Heranlah, ini buku apa roller coaster hati sih? Capek bacanya. Sebentar ketawa, sebentar gerem, sebentar nangis. Eh nangis nggak sebentar. Jadi takut mau baca buku Kak Pradnya berikutnya. Aku orangnya malesan menyentuh sisi emosional diriku sendiri, jadi kalo ketemu buku yang kayak gini, rasanya kayak baca buku horor.
Langit memang Abu-abu. Pantas yaaa judulnya ini. Sesuai memang dengan ceritanya, LOL.
Kubilangin ya, perasaanku saat baca Kala Langit Abu-Abu 344 hlm ini tuh nano-nano!
Tulisan kak Pradnya masih sama menyenankannya, selalu berhasil merebut fokus dan perhatianku buat baca terus sampai habis. Seasyik itu memang.
Setelah terakhir bertemu Leo dan Saras untuk tokoh mahasiswa, akhirnya ada lagi di sini. Sekarang, giliran mahasiswa Filsafat dan Sastra Inggris. Dan seperti biasa... selalu banyak informasi tambahan tentang latar belakang tokoh-tokohnya. Kali ini, aku banyak "bertemu" hal-hal berbau filsafat.
Tema cerita yang bikin nyesek ini berhasil dibawakan dengan gaya lincah, tanpa menye-menye, banyak ketawanya! 😂 Terus, topik yang diangkat dan hal-hal berbau Filsafat yang bertebaran ini rasanya pas banget jadi paket pelengkap.
Kak Pradnya berhasil membawakan cerita serius menjadi sesuatu yang mudah diikuti, fun, tapi sekaligus bikin merenung.
Mungkin, karena aku sudah 5x baca karya kak Pradnya, aku sudah semakin mengenal dan bisa meramal cara Kak Pradnya mengatur premis dan penyelesaian konfliknya... dan vibes buku ini agak familiar, mirip karya-karya kakak sebelumnya.
Masih asyik sebenernya, tapi sebagai masukan, siapa tau nanti kepikiran bikin sesuatu yang lebih beda, biar pembaca lama sepertiku makin seru menemukan kejutan-kejutan lain 😆
Banyak banget yang pengen kuungkapin, tapi karena baru beres baca biasanya suka rada kacau. Mungkin nanti bakalan kuulas lebih rinci? Tapi intinya aku beneran amaze sama sama ceritanya. Yang paling paling paling keren itu konfliknya. Kadang aku suka kesel sama cerita yang masalahnya karena komunikasi, aku juga gak suka sama love triangle, tapi novel ini eksekusinya keren wkwk.
Aku gak bisa bilang ini love triangle, yang baca pasti ngerti kenapa kalau buku ini bukan love triangle. Untuk masalah komunikasi emang jelas kenapa bisa sampe ke titik itu. Konfliknya itu berasa lingkaran yang kalau diputus pasti gak akan begitu. Maksudku yang satu ada karena yang lain. Yang lain ada karena yang satu. Gak paham ya pasti, tapi aku gak mau spoiler karena itulah yang bikin aku amaze.
Selain itu, aku seneng banget ama teori-teori di buku ini. Ada yang kutulis beberapa. Pemikiran karakternya pun, uuh, suka pisan.
Terus kenapa gak 5 🌟?
Karena untuk beberapa bagian aku kadang gak ngerasain karakter Langit ataupun Yos. Mungkin karena ini dari sudut pandang Raira, tapi ya itulah kadang yang bikin gak nyaman. Telling karakterisasinya. Penyelesaian masalah juga terasa rada instan. Mungkin karena buka fokus tapi tetep rasanya kayak rada rada off gitu, sih. Walaupun gitu, aku tetep suka Langit dan Yos. Wkwk.
Mereka itu kayak definisi Soulmate dan Mirror flame-nya Rara.
“... Kadang yang perlu kita lakukan itu cuma merelakan, Ra. Dan semuanya nggak akan seburuk yang kita pikirkan.” (Hal 304). . . Selesaiiiii! Dan sukaaa 🤩🤩🤩. Sejujurnya diawal cerita ini kurang greget di aku, soalnya lingkungan kampus disini kerasa banget dan lumayan banyak menurutku tokoh-tokoh yang disebutkan dalam novel ini. Karena aku kalau baca loadingnya suka lama jadi sedikit kewalahan 🙈. Tapi nggak mengurangi nilai cerita kok 👌🏼. Begitu masuk Family Emergency jadi suka 🤩, kena Yos lagi 🥺 dan ketika fakta sebenarnya terungkap 👏🏼. Wajib baca! Aku suka sama Papanya Raira meskipun beliau salah dan terlalu terpuruk tapi 👌🏼. Aku kurang suka sama Raira 😣. Kadang gregetan kena Langit tapi baca sendirilah. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini 👌🏼.
Selesai! Suka banget seperti biasanya, tetapi sulit untuk memberikan bintang penuh kali ini.🥲 Dari beberapa buku Kak Pradnya yang sudah kubaca, Better Than This masih tetap favoritku entah kenapa. Tapi, nggak bagus kan, ya, bandingin buku karena setiap buku punya cerita berbeda, juga punya isi yang nggak akan pernah sama.
Buku ini, seperti karya Kak Pradnya lainnya, ditulis dengan apik, alurnya mengalir selembut air😌dan gaya bahasanya juga sangat kusuka. Pemilihan POV orang pertama sama sekali nggak mengganggu, justru punya kelebihan tersendiri biar kita menyelami perasaan Raira alias Rara ini.
Inti ceritanya ringan sebenarnya, tentang perjuangan jatuh bangun seorang Rara dalam melupakan Langit yang duh, sifat altruismenya kelewat tinggi hingga menyakiti orang lain, terutama orang yang sayang dan peduli padanya. Meski begitu, aku lumayan paham, sih, alasan Langit begitu.
Tokoh favoritku lucunya adalah Yos. Tokoh yang paling apa adanya, cuek, santuy, dan tipe orang yang asyik kayaknya buat dijadikan teman dibanding Langit. (Sensi banget laaah aku sama Langit itu)😡
Ada banyak hal yang aku suka, terutama selipan-selipan kutipan para filsuf yang nyambung sama ceritanya. Kehidupan masa kuliah yang berwarna yang nggak pernah kualamin. Tetapi ada yang kurang, nih, menurutku, misalnya porsi tentang keluarganya kurang greget karena emang penulis mungkin fokus sama cerita cintanya Rara kali ya. Nggak apa lah. Sama cerita Yos dong agak dibanyakin lagi gitu wkwkwkw
Itu aja sih. Tapi aku menikmati membaca buku ini karena bisa sambil pelan-pelan. Santai. Nggak banyak mikir berat karena terkadang baca buku, kan, memang buat menghilangkan penat ya.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan🙏🏼🙏🏼
Rara menyimpan rasa untuk Langit, tapi tidak pernah mengungkapkannya. Dia tahu Langit juga memiliki perhatian khusus padanya, namun Langit tidak pernah menyatakan apa-apa. Kecuali malam itu, dalam pelukannya, Langit meminta maaf dan pergi. Esoknya, Rara mendapat kabar Langit menghamili Senja sahabatnya, ketika keduanya dalam keadaan mabuk.
Rara menunggu Langit menjelaskan perihal itu, tapi tidak ada satu kata pun dari Langit, selain membenarkan bahwa dia akan bertanggung jawab kepada Senja. Yang membuat Rara semakin kesal karena Langit masih saja memberikan perhatian kepada Rara, dan membuat Rara susah move on. Ketika sosok Yos hadir dalam keseharian Rara, dia lantas menjadikan Yos sebagai pelarian. Yos yang cuek seperti manusia gua, tanpa berpikir panjang menerima tawaran Rara.
Diceritakan dari POV orang pertama, pembaca akan diajak memahami kerumitan hidup Rara. Bukan hanya percintaannya yang kandas, tapi juga masalah keluarga yang harus dialaminya. Orang tuanya berpisah, dan adiknya mencoba bunuh diri. Rara seperti ditimpa kesialan berkali-kali.
Dari sudut pandang Rara, pembaca juga akan melihat "kejam"-nya Langit. Seideal apapun cowok yang satu itu, tapi caranya memperlakukan Rara sementara dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, memang jatuhnya jadi ngeselin. Rasanya sosok Yos yang anti sosial jauh lebih menyenangkan daripada Langit yang abu-abu, ga jelas maunya apa.
Yang saya suka dari novel ini adalah pesan moralnya bahwa cinta tanpa logika itu nggak bisa berhasil. Ada pilihan-pilihan yang diambil dalam hidup, dan yang memilih harus siap dengan konsekuensinya.
BUKU PENYELAMATKU DARI READING SLUMP T____T buku pradnya ini sebenernya apa ya buku yang aku hindari. isinya emosional. semua permasalahan emosional tokohnya itu aku tau rasanya. aku nangis di bagian ayah raira waktu mereka di rumah sakit itu. sangat menyentuh. karakter raira yang sangat sangat sangat hidup. raira ini perempuan though. suka sekali sama karakternya yang pas banget di kepalaku. is like looking at my roll models or women who inspire me through their characters. buku ini sangat WELL WRITTEN. aku suka semuanya. narasi enak, dialog pas, tokoh yang relate, ngga ada kesan berlebihan atau cringe sama sekali. terus walaupun yos n raira ya gt deh tp aku sangat sangat menikmati banget bagian itu. dan untuk langit ya after all he really deserved such an ending. endingnya ngga ketebak jujur walaupun alurnya klise. dari awal aku kayak udah bisa nebak konfliknya bakal gimana tapi endingnya bener bener ngga sesederhana yang ada di kepalaku.
kutipan yang paling aku suka dari buku ini :
"Kadang yang perlu kita lakukan itu cuma merelakan, ra. Dan semuanya ngga akan seburuk yang kita pikirkan."
Buku young adult pertama dari Pradnya Paramitha yang saya baca (saya belum baca Better Than This, anyway), yang sebelumnya pernah tayang di wattpad. Sedikit diubah dari alur yang saya baca sebelumnya, tapi inti cerita tetap sama: tentang Langit Aswandaru, yang mendekat dan memberi harapan pada Raira Sore Pambayun, lalu meninggalkannya dengan sebuah kenyataan berluka. Langit, si pemuda baik-baik, si aktifis kampus sekaligus mahasiswa beprestasi bayangan di Fakultas Ilmu Budaya itu, menghamili sahabatnya sendiri.
Kaget? Semua kaget, tapi tidak ada yang lebih terluka daripada Raira. Kalau begitu, Raira sudah seharusnya move on, 'kan? Tapi, bagaimana Raira bisa move on kalau Langit selalu datang dan mendekat dengan segala kelabunya?
------
Alur awal yang maju-mundur (alur flashback, maksudnyaa, bukan Syahrini!), membuat perasaan kayak nano-nano. Sedetik ketawa karena cara pedekate Langit ke Rara yang menggelikan, sedetik kemudian kembali sedih dan kesal kalau teringat patah hatinya Rara dan betapa brengseknya Langit. Humor-humor Rara juga tidak berhenti membuat saya tertawa di sepanjang novel, belum lagi kalau dia sudah ngobrol dengan Yos, yang juga mengeluarkan humor sarkasnya. Ditambah dengan teori-teori filsafat yang disampaikan dengan ringan—nggak berat dan nggak bikin mikir, membuat saya semakin menikmati novel ini. Dan, oh, tentu saja, saya semakin menikmati novelnya karena di Everybody's Man yang berhati tulus itu :)
Daya tarik terkuat buat saya di buku ini adalah, isu yang diangkat. Bukan hal baru, tapi saya berdecak kagum ketika dengan apiknya mbak Pradnya tidak menjadikan isu ini sebagai permasalahan si tokoh utama, tapi berhasil membuat Rara dan Langit tidak bisa bersatu karenanya. Dan tetap saja, walau udah tahu anti klimaks-nya kayak apa, plot twist-nya bakal kayak apa, tetep aja kesal pas baca. Haha.
Dan diluar segala kebaperan yang ditimbulkan Langit pada Raira—yang membuat Langit kena hujat saya dengan kalimat, "Ini cowok PHP banget, sih!?"—diluar itu semua, saya suka bagaimana Langit memandang isu ini. Tidak membenarkan, tapi juga tidak mendukung tindak tanggung jawab dengan pernikahan antara si perempuan dan laki-laki jika ternyata muasalnya si perempuan dipaksa. Betapa dia berpikir bahwa memaksa seorang korban untuk hidup bersama si pelaku bukan hal yang benar. Karena secara psikis, bukan hanya mental si korban yang terguncang karena dia akan segera menjadi orang tua, tapi bisa jadi masih ada trauma yang tersimpan darinya tentang si pelaku (ini udah spoiler banget, yak. Hahaha).
Sebagai penutup, dulu Pradnya pernah bilang kalau perasaan Raira ke Langit itu seperti lagu Fiersa dan Tantri - Waktu yang Salah. Dulu, saya setuju. Sampai sekarang pun sebenarnya masih, tapi untuk saat ini, ijinkan saya menambahkan kalau Raira ke Langit itu 'cuma' Terlanjur Mencinta :p
Oh, satu lagi. Raira, lewat penggambarannya tentang kampusnya yang ada di Depok—you-know-what, berhasil bikin kangen kampus :( ngomongin Kansas lah, danau kampus lah, Perpusat lah, Gramedia yang tinggal selangkah dari kampus lah, ... kan aku jadi pingin ke Depok, Raaa :(
Konflik utama ceritanya bagus. Jarang-jarang aku baca isu kayak gini, yang dengan berani menentang pandangan masyarakat umum. Salut!
Tapi sayang kurang digali dan kesannya masalah Senja ini cuma jadi tempelan aja, jadi fokusnya tetap ke hubungan Langit-Raira.
Aku nggak kaget sebenernya, udah ketebak juga alurnya bakal gimana. Tapi karena penulisannya ngalir aja jadi cukup betah baca sampai akhir (meski beberapa kali baca cepat di bagian perkuliahan hehe).
(12/12/24) Actual rating: 3,8 Setelah di baca ulang, ada beberapa hal yang bikin greget. Terutama soal keputusan Langit yang aduh, I know dia pinter, cerdas, whatever you name it, tapi ternyata kalau menyangkut dirinya sendiri agak-agak, yah. Gregetan abis! Mana posisi Rara nggak ngenakin banget. Wajar kalau dia marah-marah atau maki Langit. Deserved soalnya.
Karakter Rara ternyata lebih drama dari ingatanku. Atau yang kuingat malah di buku lain wkwk, yang pasti interaksinya dengan Yos agak bikin geli. Tapi yah, itu karakterisasinya, jadi sah-sah aja dia agak manja dan well dramatic begitu.
Aku setuju sama pendapat salah satu pengulas soal kisah cinta segitiga di buku ini berakhir gimana. Kayaknya juga nggak banyak love triangle bentukannya begini. Itupun kalau bisa disebut cinta segitiga, ya, karena kenyataannya ... baca sendiri.
Rating agak turun karena murni masalah perubahan selera.
***
(20/10/21) Tolongggg, kenapa jadi keranjingan baca buku-buku Kak Pradnya wakakaka
Setelah dua buku sebelumnya (yang aku baca) menyuguhkan cerita-cerita model metropop, kali latarnya dunia perkuliahan. Duh, nggak ngerti lagi karena sepanjang buku cuma bisa bilang, "Wow, Rara, strong banget jadi cewek." Kesan yang memang nggak kelihatan jelas, tapi bagiku dia strong, dari masalah Langit, keluarga, terus Yos.
Kepengin kasih bintang 5 bulet, tapi kayaknya aku lebih sreg sama tulisan Kak Prad yang pakai sudut pandang orang ketiga, lebih ngena aja gitu. Kalau pakai sudut pandang pertama rada aneh dan belum terbiasa aja kali, ya. Terus ada beberapa typo yang yah agak ganggu juga. Kalau nggak salah ada penggunaan kata Jawa padahal Rara orang Bandung. Anyway, walaupun kisah di balik rumor Langit itu sudah bisa ditebak, tapi seperti biasa, Kak Pradnya selalu bisa bikin pembaca baperan kayak aku mewek-mewek nggak jelas lol.
Actual 3.5⭐ Not bad, tapi kurang terasa emosional bagi gue pribadi. Sebetulnya alurnya lumayan seru, dan gue suka setting tempat dan waktu di buku ini mostly ala2 jaman kuliah di kampus, felt like nostalgic for my personal experiences when i was a college student. Tapi entah kenapa gue merasa kurang terbawa emosi si Raira, karakter utama, yg seharusnya gue ikut sedih atas segala situasi malang yg menimpanya.
Baik Langit maupun Yos, 22nya punya red flag that made me not able to fall to one/both of them, yg 1 terlalu baik dan bagi gue terlalu naif memandang suatu hal, dan yg 1 lagi terlalu cuek for my guy-type dan tukang ghosting, lol.
Tadinya sempat kecut karena.. kenapa lagi-lagi lingkup lingkungan dan kesibukannya yaitu mahasiswa yg gak jauh2 dr jurusan filsafat, hukum.. seperti di better than this. Paling yang berbeda adalah ttg fakultas sastra dan mahasiswa didalamnya.
Makin sebel karena Raira menurutku agak sedikit sama karakternya dengan tokoh utama perempuan yg di better than this. Bukan berarti plek ketiplek sama.. tapi ada sedikit unsur2 itu.. cewek heboh, aktif dan suka labil.
Terus pas pertengahan buku, aku sempet ngomong dalam hati “Ini kalau endingnya berakhir terlalu muluk dan Raira terlalu bucin, fix aku bakal kasih rate dibawah 4.”
Lalu tau2 pas buku ini ditutup, aku memutuskan utk gak kasih dibawah 4. 4 pas cukuplah. Tau kenapa? Karena penulis membuat ending ini gak seperti yang aku takutkan. Endingnya realistis, setidaknya menurutku. Krn kalau aku diposisi Raira, akupun akan mengambil pilihan yang seperti itu.. karena perempuan muda usia kuliah dan produktif gak hanya memikirkan cinta aja dalam hidupnya.
Terus aku juga suka dengan definisi penulis ttg gimana itu suatu hubungan pacaran. Tetap harus berjarak dan jgn menganggap tubuh pacar adalah hak nya. Karena gimanapun masih pacaran, gengs. Bukan suami istri.
Semakin yakin kubuat rate 4 krn Yos mengingatkanku pada seseorang, abang sepupu alias paribanku sendiri. Tabiatnya yang hemat ngomong, bahkan sedikit banyak kisah cintanya dia agak mirip (dibagian yg dia rela aja jadi rebound)
Oke, kurasa itu saja. Semoga Pradnya bisa menghasilkan karya lainnya yang dunia sedikit berbeda dgn kuliahan.. juga berbeda dgn algoritme rasa yg perkantoran 😉😉
(Mengandung spoiler) Wow, plotnya bener-bener bikin mau baca lagi dan lagi. Bercerita tentang Raira, mahasiswa tingkat 2 filsafat yang dekat dengan Langit, mahasiswa tingkat 4. Sayangnya Raira malah dapet kabar Langit hamilin sahabatnya, Senja. Penulis bener-bener berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca. Aku ikutan sakit hati pas denger Langit hamilin sahabatnya, ikutan senyum-senyum pas flashback mereka PDKT, ikutan nangis pas adegan kelurga Raira sedang hancur terutama adiknya mencoba bunuh diri, ikutan marah sekaligus lega pas tau cerita asli dari Langit-Senja gimana. Btw suka banget sama karakter Yos disini, yang cuek, dingin, tapi perhatian. Bisa-bisanya aku malah ngeship Raira-Yos di pertengahan wkwk. Tapi mereka sama-sama punya masalah yang sama yang butuh pelarian. Endingnya juga suka meski terkesan cepat. Novel ini lebih banyak narasi dari Raira sehingga kita bener-bener tau perasaannya gimana. Novel ini juga banyak mengangkat isu-isu saat ini kayak pelecehan seksual, percobaan bunuh diri, perceraian keluarga, dll. Bintang 4 karena menurutku di awal-tegah sedikit kurang greget.
This entire review has been hidden because of spoilers.
4 bintang buat rasa penasaran ku sama kejadian sebenarnya yg menimpa Langit dan Senja.dari awal cerita gambaran ttg Langit aku yakin dia anak super baik jadi g mgkn lah apa yg dituduhkan itu. 4 bintang buat rasa sebal ku sama Raira yang ya ampun baling baling bambu. 4 bintang buat rasa pengen nabok Raira yg tega banget sama Sally ..sesibuk²nya masakan adik sendiri sitelantarin. Selain rasa² greget sama tokoh² lain dlm buku ini, buku ini kudu amat dibaca...kenapa ..karena bikin gemesss.
Baca novel ini, aku jadi berasa terombang-ambing. Langit tuh sebenarnya gimana, sih? Kayaknya anak baik-baik gini, tapi kok gitu... Emang abu-abu si Langit nih. 😂
Overall, aku menikmati novel ini. Konfliknya, humornya, sarkasnya, oke banget semua. Terutama topik yang diangkat di novel ini adalah masalah yang dekat banget dengan kita. Dengan melalui novel ini, Kak Pradnya membuka mata kita lebar-lebar betapa salahnya persepsi masyarakat kita tentang masalah ini.
Buku ketiga Kak Pradnya yang kubaca, dan lagi-lagi, cocooook.
Yah, memang awalnya agak males bacanya, karakter Raira ini apa banget, tapi karena udah 2x baca buku Kak Pradnya, mencoba bertahan, dan akhirnyaaaaaa, huhuhu, aku suka pengembangan karakter Raira, glow up-nya another level. ❤️
Kalau Langit.... Hmm dia abu-abu banget ya, sesuai judul. 😂
Ending-nya klop banget di hati, tapi extra part-nya lebih lagi, huhuhu~ kayaknya bakalan berburu novel-novel Kak Pradnya lainnya juga deh. 🤭
Langit ini beneran emang abu-abu bangetlah. Bikin sebel sekaligus suka dalam waktu bersamaan. Tapi saya lebih suka Yosefa, si manusia gua. Suka konfliknya dan endingnya. Untuk 300 halaman, menurut saya ada beberapa hal yang bisa dipangkas.
suka banget sama novel ini. sebenernya, selalu suka sama tulisan kak pradnya. selalu dibikin gonjang ganjing perasaanku (in a good way) and i love it. langit si cowo baik dan green flag berhasil bikin aku naksir. overall, novel ini sangat heartwarming.
Kabar tentang Langit Arswandaru yang menghamili Senja Palupi santer terdengar di kampus. Raira yang mendengar kabar ini kaget luar biasa. Langit merupakan senior yang sejak pandangan pertama berhasil membuat Raira jatuh cinta. Fakta tentang kedekatan mereka yang baru berjalan beberapa bulan semakin membuat hati Raira sakit. Belum sempat mereka berkomitmen sebagai sepasang kekasih, Raira malah mendapat kabar seperti ini. Padahal semesta sudah mendekatkan Raira dengan pria idamannya, Langit. Langit yang perhatian pada Raira mengindikasikan jika hubungan mereka akan berganti status menjadi sepasang kekasih. Namun, nyatanya Langit hanya mempermainkan perasaan Raira. Kini Raira sadar dirinya harus mundur dan menjauh secara perlahan-lahan dari Langit. Ia tidak mau dicap sebagai orang ketiga atau bahkan selingkugan Langit. Langit harus segera bertanggung jawab menikahi Senja. Meskipun begitu entah mengapa Raira masih merasa sulit untuk melupakan dan merelakan perasaan cintanya terhadap Langit. Permasalahan yang dihadapinya bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
Setelah membiasakan diri untuk menjauh dan melupakan Langit, nyatanya sosok Langit masih saja mendekati Raira. Tidak ada penjelasan dari mulut Langit hanya kata maaf yang terlontar. Awalnya Raira ingin bersikap tegas pada Langit untuk segera menjauhinya. Tapi kebaikan dan perhatian Langit lagi-lagi menjadi penghalang bagi Raira. Ditambah lagi Langit pun masih sempat memberi pekerjaan pada Raira sebagai guru les bermain biola untuk kenalannya. Sekarang Raira hanya ingin fokus pada kuliah dan tugasnya untuk mengisi acara dies natalis di kampusnya. Untuk tugas dies natalis tersebut Raira harus bekerja sama dengan seniornya yang bernama Yos. Permasalahannya adalah Yos merupakan seorang "manusia gua" yang sulit untuk diajak berkomunikasi. Padahal rencananya mereka akan berkolaborasi bermain musik bersama saat acara dies natalis. Raira berhasil dibuat kesal setengah mati, sekaligus dibuat tertarik pada sosok Yos yang unik. Di tengah kegalauannya pada Langit, Yos seakan menjadi pengalih perhatian yang sempurna. Bagaimana kelanjutan hubungan Raira dan Langit? Dapatkah Raira menjalin hubungan dengan Yos?
Mendengar judul Kala Langit Abu-Abu pikiran saya justru langsung tertuju pada salah satu lagu Tulus. Namun, nyatanya Kala Langit Abu-Abu sudah meringkas inti cerita dari novel ini. Pradnya Paramitha kembali membuat kisah cinta tentang kehidupan mahasiswa. Saya sendiri masih sangat sedikit menemukan cerita cinta mahasiswa yang sangat terasa hidup seperti ini. Embel-embel mahasiswa bukan hanya sekadar tempelan, tapi memang menjadi pondasi cerita yang menguatkan. Selain dari segi cerita yang memang kuat, cover bukunya juga menjadi daya magnet yang menarik pembaca. Sampul bukunya terlihat bersih dan sederhana, tapi unik di saat yang sama. Latar warna putih menegaskan kesederhanaan dari cover bukunya. Ilustrasi seorang gadis yang sedang duduk sambil membelakangi dan membawa hardcase biola sangat menunjukkan karakter yang kuat dari tokoh Raira. Tanpa perlu ornamen lainnya dan hanya cukup dihiasi nama penulis dan judul buku Kala Langit Abu-Abu sudah memperlihatkan daya pikat yang kuat hanya lewat cover bukunya.
Kala Langit Abu-Abu menceritakan tentang dilema cinta antara Raira dan Langit. Di mana Raira yang mulai dekat dengan Langit harus dihadapkan pada berita tentang Langit yang menghamili Senja. Di sini Raira merasa kecewa karena beberapa bulan ini Langit begitu perhatian terhadapnya. Raira merasa dipermainkan oleh Langit. Namun, di saat Raira mulai mencoba menjauh Langit malah tetap memberikan perhatian. Dilema yang dirasakan Raira coba dituntaskan dengan cara mendekati Yos, mahasiswa senior yang satu jurusan dengan Raira. Penulis mencoba menunjukkan sikap Langit yang abu-abu sama seperti judul bukunya. Mungkin dengan ambiguitas yang ditunjukkan Langit pembaca ikut merasa gemas sekaligus penasaran. Saya suka dengan cara penulis menarasikan kehidupan mahasiswa yang terasa nyata dan dekat. Keseharian Raira sebagai mahasiswi diperlihatkan dengan jelas. Mulai dari masuk kelas, latihan untuk acara kampus, hingga pengajuan untuk beasiswa. Ditambah jurusan filsafat yang diambil oleh Raira bukan hanya sekadar pemanis saja, tapi ada beberapa mata kuliah yang dibahas. Pembahasan beberapa mata kuliah jurusan filsafat menambah ilmu baru bagi pembaca.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Raira yang merupakan seorang mahasiswi jurusan filsafat. Raira ini anaknya terbilang sensitif, emosional, dan keras kepala. Apalagi setelah di PHP-in oleh Langit, Raira rasanya sulit sekali untuk bisa move on. Namun, di balik perasaannya yang terombang-ambing akibat Langit, Raira juga merupakan sosok gadis yang pekerja keras. Terlihat jika ia berusaha untuk bertahan hidup sebagai anak rantau dengan bekerja apa pun. Mulai dari mengajar biola hingga menjadi pelayan kafe. Selain itu Raira pun sosok anak yang sayang pada orangtua dengan berusaha mencari beasiswa agar dapat meringankan beban orangtuanya. Selanjutnya ada tokoh Langit seorang mahasiswa senior jurusan Bahasa Inggris. Langit ini soso idola wanita di kampus. Selain rupawan Langit pun memiliki keahlian yang mumpuni di bidang musik. Karakter Langit yang supel, ramah, dan sering menolong menambah nilai plus dalam dirinya. Maka tidak heran jika Raira dapat dengan mudah jatuh hati padanya. Saat isu soal Senja yang hamil oleh Langit, Langit memilih diam dan membiarkan kabar itu bergerak liar ke mana-mana. Walaupun di dera isu tidak mengenakan, tapi Langit tetap memberikan perhatiannya kepada Raira. Terakhir ada tokoh Yos yang merupakan senior Raira di jurusan filsafat. Yos ini memiliki sifat yang terbilang unik, yaitu dingin, cuek, dan bodo amat. Maka dari itu Yos ini kerap kali dijuluki si "Manusia Gua" oleh teman-temannya saking jarang berinteraksi dan terlihat di kampus. Di balik sosoknya yang terlihat anti sosial tersebut, Yos memiliki skill yang tinggi dalam memainkan alat musik. Ditambah satu lagi Yos memiliki hobi main game, khususnya PUBG. Semua tokohnya memiliki karakter yang kuat dengan latar belakang yang cukup diceritakan, khususnya Raira. Saya suka saat penulis tak luput memasukkan permasalahan keluarga dalam ceritanya. Bagi saya permasalahan yang terjadi dalam kehidupan Raira amat sangat terasa dekat. Realita yang membayangi Raira tak hanya soal asmara, tapi ada keluarga yang juga turut serta.
Novel ini memakai sudut pandang orang pertama melalui tokoh Raira. Dengan penggunaan sudut pandang orang pertama ini pembaca akan ikut terbawa terombang-ambing perasaan Raira akan sikap Langit. Namun, sayangnya dengan menggunakan sudut pandang ini kedua tokoh lainnya, yaitu Langit dan Yos jadi terasa kurang mendalam. Tingkah laku mereka hanya dapat kita rasakan lewat sudut pandang Raira. Gaya bahasa dan bercerita penulis masih lincah dan renyah dengan bumbu-bumbu humor di dalamnya. Bahkan ada satu adegan di mana Raira meminta Yos untuk membalas pesan WA-nya, tapi Yos tidak mengerti harus membalas seperti apa. Di situ tawa saya meledak karena penulis sukses membuat dialog yang dekat dan menggelitik. Alur ceritanya bergulir dengan cepat dan santai. Penulis tidak terkesan tetrburu-buru dalam mengisahkan Raira dan Langit. Justru setiap polemik dan kegiatan Raira dijabarkan dengan baik dan terasa. Terakhir latar tempat yang digunakan pun bisa dibilang pas porsinya, mulai dari gedung kampus, kosan, hingga kafe ditulis dengan detail yang tidak membingungkan.
Permasalahan anak muda yang terlihat dalam Kala Langit Abu-Abu adalah tentang perasaan yang digantung dan sulit move on dengan kepastian yang tidak jelas. Di sini Raira merasa jika Langit telah mempermainkan perasaannya saat mendengar kabar tentang kehamilan Senja. Langit sendiri tidak pernah mengonfirmasi perihal berita tersebut dan malah terus bersikap baik terhadap Raira. Di satu sisi Raira ingin menjauh dari Langit jika berita yang beredar memang benar adanya, tapi di sisi lain Langit malah sering muncul dan mendekati Raira. Hati Raira sendiri sebenarnya belum bisa move on dari Langit. Keresahan dalam perasaan Raira yang terombang-ambing menjadi konflik cerita yang menghiasi ceritanya. Saya sendiri sebenarnya cukup gemas dengan keputusan Raira yang terkesan maju-mundur untuk mengambil keputusan terhadap hubungannya dengan Langit. Namun, untungnya penulis bisa mengemas konfliknya dengan baik dan menarik sehingga pembaca malah dibuat penasaran karenanya. Walaupun saya sendiri bisa menebak ke mana arah konflik ini akan berakhir, tapi rasanya tetap menyenangkan saat membacanya.
Rasanya gembira sekali saat diberi kesempatan untuk membaca karya terbaru Pradnya Paramitha. Dunia mahasiswa yang dulu sempat saya rasakan terpampang nyata dalam Kala Langit Abu-Abu. Kehidupan Raira sebagai mahasiswi filsafat tidak hanya sekadar tempelan, tapi menjadi pondasi cerita yang menguatkan. Banyak ilmu baru, khususnya filsafat, yang saya dapat saat membacanya. Romansa yang membumbui ceritanya tidak membuat jenuh, tapi justru terkadang malah bikin campur aduk. Terkadang kita dibuat gemas dengan sikap Raira, tapi lain waktu kita pun dibuat tertawa olehnya. Pokoknya penulis ini lihai membuat narasi dan dialog yang lincah, renyah, dan mengikat. Tidak hanya soal cinta di sini kita pun akan menemukan permasalahan keluarga yang semakin menguatkan latar ceritanya. Permasalahan keluarga yang dialami Raira terasa relate dengan saya sehingga tidak heran jika Raira lebih memilih menghindar pada awalnya. Kekurangan yang saya rasakan mungkin kurangnya perspektif dari tokoh Yos dan Langit. Padahal kedua tokoh tersebut, khususnya Yos, memiliki potensi yang kuat untuk digali lebih lanjut. Secara keseluruhan Kala Langit Abu-Abu merupakan cerita romansa anak kuliahan yang tak hanya bicara soal cinta, tapi juga ada keluarga dan perjuangan yang ikut menyertainya.
Suka benget, banget, banget sama novel kali ini!! Yah ini mungkin novel ke-3 karya Pradnya yang saya suka setelah Algoritme Rasa dan Two Faced hehe.
Entahlah, saya lagi hobi banget maraton baca novel-novel karya Pradnya. Dan ini sudah buku ke-5!! Dan saya suka semuanya. ^.^
Saya sampai bingung mau reviewnya karena memang cerita Langit dan Reira itu nano-nano bangett.
Reira, si cewek yang biasa-biasa saja dari jurusan Filsafat jatuh cinta dengan Langit, katingnya yang keren, jago alat musik, cukup populer, suka membela kebenaran, supel, punya banyak teman dan koneksi, jiwa sosial tinggi, aduh pokoknya Langit itu Sosial Butterfly gitu deh.
Reira benar-benar jatuh cinta pada laki-laki itu dan diapun mendapat balasan yang sama karena Langit sangat baik padanya. Namun apa yang terjadi jika Langit yang selama ini ia percayai mempunyai perasaan yang sama denganya justru menghamili sahabatnya sendiri??
Reira galau bukan main dan kegalauannya itu berhasil menciptakan berbagai perasaan campur aduk dalam diri saya.
Serius!! Cerita kehidupan percintaan Reira itu random banget hahaha. Mulai dari sedih, baper, bikin senyum-senyum sampai ngakak.
Hubunganya dengan Langit bikin gemas, sedih, baper. Campur aduk banget pokoknya. Beneran deh Langit itu abu-abu banget sampai kesal saya bacaya karena kasihan dengan Reira wk.
Tapi disisi lain dia itu sweet banget (khas cowok-cowok fiksi Pradnya). Dia menjadi backguardnya Reira tanpa gadis itu sadari. Atau mungkin sadar ya? Wkwk. Mencarikan kerja, mencarikan info beasiswa, menuruti keinginan Reira, yang paling khawatir kalau Reira sakit atau kenapa-kenapa, menanti Reira bertahun-tahun. Ah pokoknya Langit really really good boy and loveable!
Sedangkan hubungan Reira dengan Yos lebih kearah kocak sih. Asli saya ngakak banget dengan setiap komunikasi Reira dan Yos yang.. aduhh absurd dan garing kaya kanebo kering tapi sungguh hubungan mereka bikin geli banget wkwkw.
Kok ada ya tipe laki-laki macam Yos yang datarnya minta ampun, bicara sekenanya tapi kok lucu wkwkw. Dan anehnya lagi mereka berdua bisa jadian HAHAHA. Dan jadiannyapun nggak jauh dari kata kocak. Seneng banget pokoknya sama interaksi mereka.
Yos itu kating Reira yang kalau berangkat cuma Senin-Kamis. Selama satu semester cuma ambil 12 SKS. Nggak suka bersosialisasi dan sering mendapat julukan manusia goa dari Reira dan teman-temannya. Pokoknya dia aneh parah deh. Tapi ganteng dan cantik dalam satu waktu wk.
Jarang banget balas WA Reira dan sekalinya dibalas justru bilang "Nice Info, Thanks". Hahah. Eh serius ya percakapan Yos itu selalu random tapi selalu berhasil membuat saya ketawa seperti percakapanya dengan Bimo yang mengatakan bahwa Seminar Filsafat adalah mata kuliah yang akan dia ikuti suatu saat nanti wkwk.
Yah pokonya saya sangat suka dengan interaksi Langit-Reira dan cara komunikasi Reira-Yos. Suka benget pokoknya.
Em.. untuk dibilang minus sebenarnya engga juga ya cuma saya memang sedikit penasaran dengan cerita dari sudut pandang Langit yang kurang tereksplor. Mungkin karena cerita dibawakan oleh sudut pandang orang pertama si Reira ini ya jadi rasanya seperti kurang dikumpas tuntas.
Mungkin kalau cerita dibawakan oleh sudut pandang orang ketiga atau penulis sendiri saya bisa lebih tau bagaimana perasaan Langit, Yos dan Senja. Terutama Langit dan Senja sih karena mereka kan sumber konflik utama. Apalagi langit yang diam-diam suka berdiam diri dibawah tangga seraya menelungkupkan wajah. Saya benar-benar ingin tau apa yang sebenarnya Langit rasakan. Tapi ya.. gimana lagi. Toh memang cerita ini hanya disampaikan menurut sudut pandang Reira.
Terakhir mungkun ekstra part yang nggak pernah mengecewakan!! Yey! Saya selalu suka ekstra part di setiap buku Pradnya. Selalu manis, semanis gulali. Gemeshh pokoknya.
Hmm.. sepertinya saya jadi mulai terbiasa membaca novel dengan halaman hampir 400 atau 400an lebih. Padahal dulu malas sekali kalau liat buku tebal tapi semenjak membaca novel-novel Pradnya rasanya 400an halaman masih terasa sedikit wkwkwkw.
Oh iya, mungkin karena novel ini bercerita tentang mahasiswa dan bukan dalam lingkup berpacaran, novel ini jadi terkesan "bersih" ya haha. Sebenarnya bisa dibilang bahwa adegan romantis di hubungan Reira-Langit amat sangat minim (apalagi dengan Yos) tapi tetap saja bikin baper dan saya sangat suka sekali!!
Sikap Langit dalam novel ini sungguh membingungkan Raira. Karena novel ini diceritakan dari sudut pandang Raira, pembaca hanya disuguhi apa yang Raira alami dan apa yang ada dalam benaknya. Jadi, sikap "abu-abu" langit ini beneran membuat Raira nggak bisa move on. Di satu sisi, Raira masih dibuat melambung dengan perhatian Langit, Langit masih selalu menjadi penolong nomor satu saat Raira menghadapi masalah. Intinya, Langit selalu beredar di sekeliling kehidupan Raira. Di sisi lain, Raira juga harus menghadapi kenyataan bahwa Langit tak bisa dimiliki karena kabarnya telah menghamili sahabatnya sendiri. Dan, ada sesuatu yang disembunyikan Langit. Kalau kata Maudy Ayunda, "Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil, 'pabila kau muncul terus begini tanpa pernah kita bisa bersama. Pergilah, menghilang sajalah lagi!" 😂😂😂 ___ Dalam novel ini, lagi-lagi Mbak Pradnya menyuguhkan isu sosial, yang kali ini dijadikan pemicu konflik utama, yaitu pelecehan dan kekerasan seksual. Tahu sendiri kan, di negeri yang penuh lelucon ini, seorang penyintas kekerasan seksual justru mendapatkan tekanan dari berbagai arah. Selain trauma yang dialami, masih harus terbebani pandangan masyarakat yang kejam dan sadis. Diperkosa malah dihina dan dirisak. Singkatnya begitu. 😞😞😞 ___
#KalaLangitAbuAbu merupakan novel Mbak Pradnya kelima yang saya baca. Dari kelimanya, baru ini saya membaca karyanya yang young-adult. Namun, nyatanya Mbak Pradnya nggak pernah mengecewakan saya dengan untaian kisah yang dianggitnya. S U K A ! 😍😍😍 Novel ini membuat saya merasakan banyak hal. Campur aduk lah. Padahal saya nggak suka bubur ayam yang diaduk, tapi kok ya suka baca novel yang mengaduk perasaan. Cukup perasaan aja yang diaduk, bubur jangan. #ehgimana? 😂😂😂 Novel KLAA dalam emoji: 😡😠😩🤯😱😇😍😰😳🤪🤣😘😎😵😭😒🤧🧐😬. Ehehehe. Tapi paling saya suka, tentu bagian 🤣🤣🤣☺️☺️☺️-nya. Bagian ini sebagian besar tercipta dari interaksi Raira dan Yos si manusia goa yang cuek abis, nyebelin, irit ngomong, sekalinya ngomong langsung jleb karena sebenarnya dia tahu banyak hal (tentang masalah Raira). Klop banget disandingkan dengan Raira yang manja, sedikit drama queen, meledak-ledak, maunya dimengerti, dan diprioritaskan terus. Pokoknya interaksi mereka ini bikin ngikik nggak habis-habis. 🤭🤭🤭 Baca ini tuh sedihnya dapat, geregerannya dapat, lucunya dapat, bapernya dapat, nyeseknya dapat, dan banyak pelajaran berharga mulai dari cinta, persahabatan, kerja keras, hubungan rumah tangga (suami-istri-anak), sampai dunia perkuliahan seperti tips saat ingin membidik beasiswa. Oh ya, novel ini bikin saya kangen "menyusup" ke UI. 🙊🙊🙊 ___ Selain hal-hal menyenangkan di atas dan di unggahan sebelumnya, novel ini punya dua hal yang sangat tidak menyenangkan bagi saya: 1. Saya nggak suka kovernya. Waktu vote kover, saya cuma mbatin, "Opsinya cuma dua ini?" 🙄😥 2. Buku ini nggak ada bookmark-nya. 😏😒
Pada akhirnya, aku mengerti kalau ada alasan lain yang membuat seseorang bisa bersama atau nggak. Cinta bukan apa-apa tanpa logika. Cinta bukan apa-apa tanpa pilihan. Sebab pada akhirnya, bukan cinta, melainkan pilihan yang menciptakan segalanya... (Hal.315-316) ... Kala Langit Abu-Abu bercerita tentang Raira Sore Pambayun yang justru harus merasakan kisah cinta yang mesti berakhir ketika perasaannya pada seniornya,Langit,bersambut. Raira mengetahui bahwa pemuda tersebut menghamili sahabatnya sendiri, namun keadaan tak pernah menjadi mudah dengan Langit yang berusaha mempertahankan Raira... ... ☁ Prolog novel ini sukses membuat saya merasa sesak bahkan sempat menjeda bacaan selama beberapa menit demi mempersiapkan diri menghadapi kejutan demi kejutan dalam novel ini.
☁ Cerita yang membuat saya terkadang ingin tertawa, pada bagian lain juga memicu emosi bahkan kadang ingin rasanya menangis ketika membayangkan saya berada di posisi Raira yang berusaha berdamai dengan kenyataan agar ikhlas melepas seseorang yang berharga.
☁ Alur novel yang maju mundur dan bahasan tentang teori filsafat tidak menghilangkan minat saya tuk membaca novel ini sampai habis karena gaya penulisan kak Pradnya yang indah dan mudah dipahami.
☁ Interaksi Langit dan Raira setelah berita tentang Langit didengarnya terasa menggemaskan sekaligus memicu emosi saya manakala konflik keluarga dan urusan yang belum selesai antara kedua tokoh seolah beradu dengan hadirnya tokoh lain dan fakta pada beberapa bagian yang menambah keseruan juga keinginan saya tuk nyubit Langit.
☁ Fakta dibalik keputusan Langit dan akhir dari novel ini membuat saya berpikir tentang cara penulis memandang akhir yang 'baik' untuk problem seperti pada novel ini.
☁ Saya cukup menyayangkan desain kover yang digunakan berikut ketiadaan pembatas buku, walaupun pembelajaran tentang sisi baik perpisahan cukup membantu saya tuk beralih dari problem kover dan pembatas buku tadi. Kalian harus coba baca novel ini!
dari awal udah dibikin greget sama tingkahnya langit sama rara kok masih bisa gitu lho bertingkah kayak biasa aja dan nggak tegas. awalnya ku mikirnya bakalan sama yos, eh ternyata engga juga haha. tapi endingnya cukup memuaskan sih
Mendengar berita bahwa Langit menghamili Senja menjadikan Raira mengerti dengan permintaan maaf yang Langit sampaikan sore itu. Sebelum berita tersiar, Langit dan Raira memang tengah dekat bahkan banyak yang mengira mereka sepasang kekasih, tapi faktanya mereka bukan. Setelah berita itu, hubungan Langit-Raira berubah. Raira kesulitan memproses semua yang terjadi secara mendadak dan sikap Langit yang seolah menarik ulur dirinya juga membuatnya kebingungan. Bagaimana Raira bisa move on jika Langit terus mencari celah untuk mendekat? . Aku rasa ini buku pertama yang belum sampe hal. 100, tapi aku udah berharap ada plot twist twist twist😂 Selagi baca aku selalu berharap berita Langit itu keliru walau sempat ngerasa pupus harapan juga sih aku🤧 . Selain tentang kegalauan, buku ini juga menyinggung perihal pemerkosaan, tapi nggak dominan. Titik fokus tetap di hubungan Langit-Raira. Masalah keluarga Raira yang udah di ujung tanduk bikin cerita makin menarik (incl. percobaan bunuh diri) Buku ini bertabur beberapa teori filsafat yang nggak semuanya bisa aku pahami😅 . Ada emosi yang gantung, tapi keberhasilan penulis mengaduk emosiku jauh lebih mendominasi. Narasinya enak banget buat dibaca, luwes. Aku juga suka dengan para tokoh yang masing-masingnya kentara berbeda. Langit bukan tokoh yang too good to be true, Raira kalau kata Yos tuh drama queen. Nah, kalau Yos ini orangnya datar, tapi dia bikin cerita ini punya warna lain gituu. Aku setuju dengan keputusan akhir yang dibuat para tokoh. Keputusan mereka bikin cerita lebih realistis. . Debat Langit-Raira soal praktik euthanasia ughh Rairaa😣 Aku berharap Senja punya porsi lebih banyak. Menurutku, Senja termasuk tokoh penting, masalahnya terlalu cepat ditutup dan bikin penyampaian emosinya kurang maksimal. Mungkin ini karena cuma ngegunain POV Raira. Narasi soal kissing, ah, yaudah lah🤧 Aku juga kurang sreg di bagian Yos-Bening, tapi untung akhirnya begitu🙈 . Buku ini punya banyak pesan, soal mengikhlaskan, diingetin untuk memaafkan diri sendiri, cara berkomunikasi, dll Ayo, baca dan rasakan kecocokan antara judul dan isinya🤣