Suatu malam, Major, si babi tua yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk bercerita tentang mimpinya. Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, Major mendapat visi bahwa kelak sebuah pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia; menciptakan sebuah dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.
Tak lama, pemberontakan benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan ternyata sungguh memabukkan. Demokrasi yang digaungkan perlahan berbelok kembali menjadi tiran di mana pemimpin harus selalu benar. Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satu harus disingkirkan … walau harus dengan kekerasan.
Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet. Dianugerahi Retro Hugo Award untuk novela terbaik (1996) dan Prometheus Hall of Fame Award (2011), Animal Farm menjadi mahakarya Orwell yang melejitkan namanya.
"Makhluk - makhluk di luar memandang dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi lagi; tetapi mustahil mengatakan mana yang satu dan mana yang lainnya" (p.140) 🔥
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini related bangat dibaca dijaman sekarang ini, cocok buat yang gasuka baca atau baru mau mulai baca, ga tebel karena cuma 140 halaman, bisa dibaca sekali duduk sambil sebat/minum kopi . Alur ceritanya ngambil perspektif dari sudut pandang hewan yang melakukan pemberontakan karena melihat begitu serakah nya manusia, sebegitu kejamnya dan semena-mena nya manusia terhadap hewan. Yang padahal banyak hewan yang menopang keberlangsungan ekonomi, kebutuhan hidup, pangan untuk banyak umat manusia di muka bumi ini. Strategi pemerintahan yg diatur si napolean juga keren ngatur taktiknya, ditambah si squeler yang jago ngeyakinin kameradnya.👌🏼
Salah satu buku terbaik yang kubaca di 2021. Bukunya ringan dan tipis, bisa dibaca dua-tiga kali duduk tapi bikin terngiang-ngiang cukup lama setelah dibaca (kayak habis nonton film bagus terus habis nonton masih kepikiran dan kebawa-bawa gitu). Kisahnya tentang peternakan yang akhirnya di ambil alih oleh hewannya sendiri.
Setelah dicari-cari taunya tiap karakter dan tiap chapter punya representasi tersendiri dengan Revolusi Rusia dari masa kepemimpinan Stalin, dan kerennya masih relate dengan kehidupan politik sekarang. Baca ini gratis di Ipusnas dan ga nyangka terjemahannya bagus, kapan-kapan pengen baca juga yang english-nya di Gutenberg
Hands down one of the most entertaining books I’ve ever read so far. Hewan seolah-olah mereka manusia dan lama-lama beneran bertingkah kayak manusia. Manipulatif & gampang dimanipulasi sekaligus gak lupa serakahnya.. ya kayak manusia aja. Dibacanya harus pelan-pelan biar dapet feel & biar you have your own views about this book. Bagus!
bagus bgtttt gue suka!! enjoy bgt buat dibaca huaaaaa trus menurut gue, org yg baca ini ga harus paham bgt sama komunisme dan revolusi rusia. soalnya tokoh napoleon dan babi2 lainnya nih emg ngeselinnya maksimallllll oiya, somehow mirip2 sama 1984 dehhh sksksk tipikal orwell kali yaa
Baru kali pertama baca karya Eric Arthur Blair (George Orwell) dari buku ini dan memunculkan rasa penasaran untuk baca karya Orwell lainnya. Pesan yang tertuang dalam Animal Farm memang "kiri" banget, tapi jadi membuka wawasan gitu. Apalagi buat kamu yang anti atau mungkin belum akrab dengan istilah kamerad. Inilah novel alegori politik yang.. hmm menarik.
Segala polah tingkah manusia tercermin dalam laku ajaib para binatang di Peternakan Binatang. Sebut saja salah satunya pada tokoh utama Napoleon, babi yang mendapat sejumlah titel dari para kamerad. Kehadiran Napoleon dalam cerita merepresentasikan bagaimana sikap penguasa penuh ambisi, tamak, dan licik. Ia akan halalkan segala cara demi mencapai apa yang dicita-citakan bahkan ia tak segan untuk mengkambinghitamkan sesamanya, seperti Snowball, yang telah berjasa sebagai "Pahlawan Binatang, Peringkat Pertama" dalam Perang Kandang Sapi.
Selain Napoleon, tokoh menarik lainnya adalah Boxer si kuda tangguh dengan motonya: "Aku harus bekerja lebih keras!" Di sisa hidupnya, yang seharusnya ia habiskan sebagai seekor pensiunan kuda, Boxer masih saja sedia menguras tenaga sebagai pekerja kelas berat dalam proyek kincir angir di Peternakan Binatang. Betul-betul loyalitas tanpa batas. Kalau kamu pernah dengar yel-yel atau nyanyian 'kerja keras bagai kuda', nah, si Boxer inilah contohnya.
Ya begitulah cara Orwell menggambarkan sisi lain manusia beserta isme yang dianutnya. Memang kelam. Namun, setidaknya pembaca jadi lebih sadar sekaligus waspada: jangan sampai setiap perbuatan dan ucapan kita menyerupai tabiat mereka. Para binatang yang tidak berperikehewanan.
Fable atau cerita dengan karakter binatang biasanya ditemukan dalam buku anak-anak untuk mengajarkan pesan moral tanpa kesan menggurui. Tapi tidak untuk yang satu ini. Bersetting di sebuah pertanian yang terlantar dan salah urus, para binatang ternak memberontak setelah mendapat inspirasi kemerdekaan yang penuh pencerahan dari babi tertua mereka, si tua Mayor. Apakah hal ini sukses dan bisa dijalankan?
Saat buku ini ditulis, Animal Farm adalah refleksi dari era Stalin di Revolusi Rusia pada tahun 1917. Karakter-karakternya utama di fable ini digambarkan mirip dengan beberapa tokoh penting di dunia nyata seperti Karl Marx dan Lenin (Si tua Mayor), Stalin (Napoleon), Snowball (Leon Trotsky), Soviet's journalist (Squaler), Boxer dan binatang lain adalah gambaran golongan pekerja di Rusia yang pekerja keras tapi gampang di manipulasi.
Novela ini pendek tapi cerdas dan tepat sasaran. Cara penulis memparodikan gagasan dan kondisi nyata saat itu dengan gaya bahasa yang penuh ironi dan parodi membuat buku politik ini tidak mengintimidasi untuk dibaca. Buku ini juga membuatku tertarik untuk membaca lebih jauh tentang Revolusi Rusia dan belajar lebih banyak. Salah satu buku klasik yang cukup mudah dipahami, informatif dan sukses membangkitkan emosi nyata.
Kok aku nangkepnya, cerita ini kayak berupa kiasan ya?
Awalnya para hewan dipimpin manusia, lalu para hewan yang dipimpin oleh para babi, melakukan pemberontakan dan mengusir manusia. Dan karena jasa-jasanya, para babilah yang diangkat menjadi pemimpin untuk para hewan. Tapi semakin lama... kepemimpinan para babi makin semena-mena.
Ceritanya kayak, ada suatu negeri yang dipimpin oleh para penjajah. Lalu rakyat yang dipimpin oleh sebagian golongan, berhasil mengusir penjajah. Dan saat golongan itu menjadi pemimpin, mereka mulai bersikap seenaknya kepada rakyatnya sendiri.
Diawali oleh mimpi seekor babi tua, Major, di mana para binatang hidup sejahtera tanpa campur tangan manusia. Para binatang di peternakan Manor pun melakukan pemberontakan yang membuat keluarga Jones kabur. Di mulailah pemerintahan para binatang yang dipimpin oleh babi-babi yang cerdas. 'Rakyat'nya di sini disebut sebagai kamerad. Tokoh yang dominan di sini adalah Napoleon dan Snowball. Kedua babi dianggap paling pintar dan bisa memimpin peternakan, tapi seringkali mereka tidak akur dan bersaing dalam membuat kebijakan. Snowball menggambarkan pemimpin yang berpikir ke depan dan berhati-hati dalam membuat keputusan. Ia juga mencari referensi untuk keputusannya dari buku-buku di rumah Jones. Sedangkan, Napoleon menggambarkan pemimpin yang serakah dan culas. Peraturan-peraturan yang telah dibuat sesuai kesepakatan para binatang pun, sedikit demi sedikit diubah oleh Napoleon demi kepentingan dirinya sendiri.
Buku ini menggambarkan bagaimana sifat-sifat manusia, terutama yang memiliki jabatan. Saat masih jadi binatang ternak, Major berkata, "Dan, ingatlah juga bahwa di dalam perlawanan terhadap Manusia, kita tak boleh lalu ikutan menyerupai mereka." karena para binatang merasa manusia itu kejam dan hanya memperalat mereka untuk kepentingan sendiri. Kalau mau liat contoh pemimpin yang jahat, ya si Napoleon itu. Licik dan manipulatif. Ada aja akalnya buat menyingkirkan saingannya, buat membenarkan pelanggaran dari aturan yang dia buat sendiri, dan memanfaatkan kebodohan para kamerad. Kalau ada yang tidak sependapat dengan dirinya, akan diperlakukan dengan kejam. Pada akhirnya, Napoleon melupakan pesan yang disampaikan Major.
"MANUSIA adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Ia tidak memberi susu, ia tidak bertelur, ia terlalu lemah menarik bajak, ia tidak bisa berlari cepat menangkap terwelu. Namun ia adalah penguasa dari semua binatang." -p.6
Jika kita bicara tentang politik, maka ada beberapa kata yang menyelimutinya: rumit, kotor, munafik, hak dan berbagai kata yang -mungkin belum bisa dideskripsikan. Animal Farm menceritakan sedikit tentang kekotoran politik dan penguasa dalam narasi fiksi fabel.
Binatang yang melakukan revolusi, memberontak pada manusia dan mendirikan 'negara' mereka sendiri. Menunjuk para babi-babi sebagai pemimpin dan pengurus mereka -dengan harapan agar berbeda dari manusia; yang hanya memanfaatkan tenaga dan apa yang binatang-binatang itu hasilkan.
"Semua binatang setara." p-10.
Sebuah narasi awal menarik perhatian kamerad, layaknya sistem komunis, setara tapi manipulatif. Menggiring narasi demi kepentingan penguasa. Berujung pada diskriminasi dan otoriter.
Buku ini pendek, bahkan cenderung tipis. Tapi menceritakan 'sesuatu' tentang buruknya mereka yang memiliki keinginan untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaannya. Untuk orang yang tidak terlalu pintar sepertiku, novel ini cukup mudah dipahami. Setidaknya aku tahu, babi itu mirip manusia.
Baca buku ini, aku jadi sedikit berpikir, lebih baik mana: hewan yang tidak berpikir dengan mayoritas kepolosan mereka atau manusia yang berpikir dengan mayoritas kelicikan mereka?
Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Paling tidak -untuk saat ini, aku memposisikan diri sebagai hewan yang berpikir.
Buku ini menceritakan tentang sekelompok binatang di sebuah peternakan yang ingin melakukan pemberontakan terhadap manusia dengan tujuan "merdeka" atau "kebebasan". Pemberontakan ini akhirnya terjadi, dipimpin oleh seorang Babi.
Setelah pemberontakan itu terjadi, kehidupan di peternakan semulanya menjadi lebih baik. Sampai pada saat seorang Babi yang serakah, manipulatif, dan kejam memimpin peternakan tersebut.
Dan, sejak itulah kehidupan di peternakan tidak sebaik sebelumnya. Binatang-binatang mulai berkerja seperti dijajah tetapi tidak satupun dari mereka menyadarinya karena kelakuan babi yang manipulatif.
Sepanjang aku baca cuma bisa ngumpat, "DASAR BABI!!!!!" 😤😠🐖🤛
Akan selalu sesuai dengan kondisi dunia ini, kapan pun kamu membacanya. Jujur, sebelum baca buku ini aku ada baca-baca review dan bilang kalo buku ini satir tentang keadaan dunia ini. Tapi kalo ga ngerti satirnya di mana, buku ini juga seru sebagai fabel. Dan ya, itu benar.
Kita akan ketawa bego karena ngeliat betapa liciknya para babi dan juga akan meringis sedih melihat keadaan binatang lain selain anjing dan babi. Memang, di mana pun dan kapan pun akan selalu ada pihak-pihak yg mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri dan golongannya. Begitulah dunia.
Menurut saya, novel Animal Farm merupakan satir yang sangat tajam tentang kekuasaan dan politik, namun dikemas dengan sederhana agar lebih mudah dipahami dan ringan dibaca.
George Orwell menggunakan kisah hewan-hewan di peternakan sebagai metafora untuk mengkritik tirani dan korupsi yang sering muncul dalam pemerintahan.
Meskipun ceritanya terlihat seperti dongeng, pesan yang disampaikan dalam novel ini memiliki kedalaman makna, terutama dalam menggambarkan bagaimana kekuasaan dapat disalahgunakan.
satire yang benar-benar ngena banget. udah terbit puluhan tahun yang lalu, tapi tetap relate dengan keadaan di zaman sekarang. menggunakan sudut pandang binatang, tapi bener-bener kerasa kalau memang kelakuan manusia tuh ternyata dari dulu sampai sekarang emang sama aja. this book worth to read, sekali duduk pun juga bisa👌🏻 one of my best reads before this year end!
It is a clever way to pictured an ideology rised up, how it developed, become a doctrine, and affected social life significantly. I am beyond amaze on how the writer told us how a democracy turning to a dictatorship all through the animals's live in the farm. The ending was so briliant that showed greed make us people have no difference with piggy.
Novel alegori politik yang benar-benar bikin geleng-geleng kepala dan geram melihat Napoleon dan babi dan anjing. Langsung kebayang kejadian kekuasaan yang totaliter di dunia nyata pas baca. Mending kucing aja deh ya. Terjemahannya kurang enak di beberapa bagian.
Ceritanya bagus, penggiringan opini yang juga bagus. Dan analogi yang bagus. Cerita ini penuh satire dari sayap kiri. Dan juga penuh tipu daya penguasa.
Jadi ceritanya soal hewan-hewan bodoh (mereka tidak bisa baca dan tidak bisa berpikir sendiri) yang ditipu oleh babi picik tapi kebanyakan manut-manut aja sama apa kata si babik. Hmm, that kind of situation is FAMILIAR to me...
Kritik sosial dan satirnya kerasa banget. Aku bacanya waswas, karena aku sendiri paham, keturunan babi picik Napoleon tersebar di seluruh penjuru dunia. Dan itu berarti, cerita ini bukan sekedar cerita fiksi biasa. Kegundahan para hewannya pun sering dirasakan oleh kelompok manusia.
Aku secara pribadi berpendapat, kalau Peternakan Binatang (atau yang sekarang namanya sudah kembali menjadi Peternakan Manor) diganti namanya jadi INDONESIA, pasti ga akan ada yang sadar. Toh pemeran jahat utamanya tetep babi dan anjing. Dan situasinya pun kurang lebih sama, ya kan?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Judul Buku: Animal Farm Penulis: George Orwell Alih Bahasa: Prof. Bakdi Soemanto Penerbit: Bentang Pustaka ISBN: 9786022912828
Apa yang terjadi jika para binatang ternak menggaungkan sebuah revolusi dan melakukan pemberontakan kepada manusia—khususnya pemilik peternakan? Inilah yang terjadi di Peternakan Manor milik Pak Jones. Ide pemberontakan ini bermula saat Major—seekor babi tua yang mengaku bermimpi mengenai nila-nilai kehidupan binatang.
Major mengumpulkan seluruh binatang dan menceritakan mimpinya tersebut. Dengan pidatonya yang menyedot perhatian para binatang, Major berusaha menyadarkan bahwa mereka—para binatang ternak—berada pada kesengsaraan dan perbudakan. Kerja keras mereka hanya untuk keuntungan manusia semata.
Untuk itu, sebuah revolusi, kemerdekaan, dan hidup berdikari, menjadi cita-cita yang diimpikan. Ide revolusi Manor ini dieksekusi oleh dua ekor babi, Snowball dan Napoleon. Tujuh Perintah pun dilahirkan dan dianggap sebagai Undang-Undang Kehidupan para binatang di peternakan tersebut.
Membaca novel karya George Orwell ini seperti menyaksikan sebuah suasana politik di masa lalu yang begitu kental di beberapa negara. Sejumlah propaganda yang mengusung “sama rasa sama rata” menjadi salah satu kesan yang ditangkap pembaca. Beberapa tokoh melakukan politik pragmatis. Tak hanya itu, perilaku-perilaku para politisi di zaman sekarang seolah cukup terwakili dengan pola pikir dan sikap para binatang dalam novel ini.
Novel yang mengambil binatang sebagai tokoh utama ini, nyatanya bukan dongeng fabel yang dapat dibaca anak-anak secara umum. Namun, pelajaran, hikmah, serta kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya dapat menjadi inspirasi bagi para orang tua untuk menceritakan kembali dengan bahasa yang lebih mudah dipahami anak-anak. Novel ini cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin mengambil pelajaran tentang hidup bernegara, bersosialisasi, dan menjaga hati nurani. Selamat membaca!