Jump to ratings and reviews
Rate this book

Proviso

Rate this book
Passion Ajeng terhadap kopi sangat kuat. Ia ingin mendirikan kafe yang digemari anak-anak muda dengan berbagai ide konsep yang ia rancang sendiri. Ajeng sedemikian yakin sehingga berani menghadapi sang ayah.

Sebenarnya ayahnya bersedia mendukung, dengan syarat Ajeng harus menemukan biji kopi terbaik dan resep kopi terenak. Ajeng mulai terobsesi untuk memenuhi syarat tersebut. Ia gigih berburu berbagai macam biji kopi dan bereksperimen dengan resep-resep baru.

Hingga takdir membawa langkah Ajeng ke Kafe Omega. Di sana Ajeng bertemu orang-orang yang mengajarinya banyak hal, tidak hanya tentang kopi namun juga persahabatan. Sayangnya, urusan cinta turut mengusik kehidupan Ajeng, memperumit perjuangannya untuk menggapai impian.

Antara impian dan cinta, pilihan mana yang terbaik? Bagaimana cara menentukannya?

“Kamu harus mencarinya pakai hati. Kalau kamu selama ini menilai kopi dengan indra penglihat, pembau, dan pengecap, maka mulai sekarang gunakan juga hati.”

256 pages, Paperback

Published August 3, 2020

1 person is currently reading
16 people want to read

About the author

Suzie Rain

3 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (10%)
4 stars
7 (17%)
3 stars
21 (52%)
2 stars
7 (17%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books103 followers
Read
October 31, 2020
Aku suka kopi, tapi novel ini mungkin bukan racikan kopi yang pas untukku. Ketika kuhirup, wanginya menguar dan membuatku tak sabar untuk meneguknya. Sayang, aku hanya bisa menghabiskan dua tegukan pertama dan kesulitan meneguk tegukan selanjutnya.

Mungkin aku bisa mencoba kopi lain dari Kaka penulisnya. Sukses selalu 🐳
Profile Image for blackferrum.
766 reviews58 followers
February 9, 2023
Actual rating: 2.8

Kalau bisa diingat, nggak banyak novel yang mengangkat pembahasan soal kopi yang aku baca setelah Filosofi Kopi-nya Dee Lestari. Walaupun tampilan sampul dan blurb menjelaskan dunia kopi banget, ternyata pembahasannya nggak cuma itu.

Berkeinginan membuka kafe sendiri membuat Ajeng bertekad memenuhi restu ayahnya hanya bila dia menemukan kopi terenak. Tekad itu berubah menjadi obsesi sampai membawanya ke urutan pertama festival kopi lokal dan bertemu dengan Omega beserta Adit, dan Gerry. Di tengah pencarian cita rasa kopi dengan rasa sempurna, Ajeng menemukan dirinya ada di persimpangan antara melanjutkan pencariannya atau lebih memfokuskan diri pada cinta yang mendadak datang dari segala arah?

Jiakh, segala arah banget nggak, tuh? Udah kayak mata angin memang kisah cinta Ajeng ini. Thanks to penulis, jadi paham single origin itu apa (ya, ya, ya, saya bukan pencinta atau penikmat kopi, sangat jarang minum juga). Banyak varian dari berbagai daerah yang ternyata berbeda rasa dan cara mengolahnya. Waktu Dena mencicip kopi bikinan Ajeng bolak-balik dan katanya enak banget (buat selera orang yg jarang minum kopi), jadi kepengin mencicip juga :d

Bicara soal ambisi Ajeng, dari awal yakin banget buku ini bakal banyak bahas soal kopi. Yap, memang nggak salah soal itu, tapi kesan terakhirnya malah apa ya, ada dua bagian di sini. Terpisah. Macam jualan rumah Barbie, tapi baju pesta, bonekanya, dll, dijual secara terpisah. Juara yang bikin Ajeng bisa dapat pekerjaan utamanya mungkin awal, tapi setelah itu bener2 melenceng dari jalur.

Idk, kenapa harus ada adegan accident itu, kayak ... kesannya rada ftv banget gitu. Plus setengah akhir rasanya hanya berisi kisah cinta Ajeng dan para pengagumnya. Serius, kayaknya cowok yang dimunculin di sini pada suka sama dia (dalam arti yg segenerasi, ya). Pesona Ajeng sekuat itu. Lalu, pertengkaran Adit dan Gerry terlalu bertele-tele. Oh, lebih rumit lagi kalo kaitannya dengan Ajeng. Gerry nggak bisa tegas di sini dan apa ya, kadang agak kesal sama dia yang sukanya gantung sesuatu, pas dipepet orang aja baru taringnya keluar. But, still, nggak berbuat apa2, pasrah sama pilihan si cewek. Alias Ajeng sendiri nunggu Gerry, Gerry terserah Ajeng, gimana kalo ditanyakan ke pak hakim saja? 👀

Tapi tetap ya, buku ini fun. Pas Ajeng dkk liburan, ke kebun kopi yang sejuk itu, dan mencicip berbagai varian kopi tuh jadi kepengin ikut ngerasain juga.
Profile Image for Novita Anggun.
20 reviews2 followers
January 24, 2021
PROVISO—Syarat yang harus dipenuhi.

Judul : PROVISO
Penulis : Suzie Rain
Penerbit : PT. GPU
Terbitan : 2020, cetakan pertama
Tebal buku : 256 halaman
ISBN : 978-602-06-4327-4
ISBN Digital : 978-602-06-4329-5

Sebelum mengulasnya saya mau kasih selamat buat Mak Encus yang suskses bikin saya bahagia banget baca buku kaya ilmu kek ‘Proviso’ ini. Ampun Dijeeeee, keren, punya kampung halaman dan kebon kopi kok saya gak seheboh penulis ini, yah. Padahal tiap pulkam sewaktu musim kopi, saya senang sih, senang biasa karena aromanya bikin nyaman. Tapi, aku gak segila ini. Mak Encuz, risetmu beneran gila. Keren, semoga lekas sehat ya.

Teman-teman yang belum baca buku ini. WAJIB baca deh. Nggak nyesel pokoknya, apalagi kawula muda yang hobi nongki-nongki dan pecinta kopi. Wajib banget tuh baca, ntar kalau ditanyain suka kopi jenis apa? Ntar jangan-jangan bilangnya gooday atau kapal geni. Huaaaaah. Kan jadi inget tagline yang dituliskan penulis nih “Kopi itu digiling bukan digunting.”—hal 16. Kan jadi keinget sekresek biji kopi dari kebun mertua. Enaknya diapain nih?

Novel kece ini menyajikan hal baru. Sebelum membaca saya berkali-kali membaca daftar isinya yang tak familiar sekali. Dari 30 bab yang pernah saya minum kok Cuma Vietnam Drip sih. Hahaa, kata Ajeng sih, “kemana aja selama ini, Nov?” Aku mau dong, Mbak Ajeng dibuatkan kopi yang pas diminum berasa minum cokelat gitu, duh, jadi Denaya enak kali ya!

UNIK.
Satu kata untuk buku ini yang merangkum kekaguman saya. Bahasa yang digunakan simpel dan justru bikin saya syuka mana dibumbuhin roman sesekali kan bikin gemes, uwuu~ (mendada saya langsung ingat PR editan, ketambahan ilmu lagi kan).

Satu lagi yang paling saya suka, MAKNA dari buku ini. PENULIS sebenarnya ingin sekali menstransferkan banyak hal baik lewat 256 halaman ini. Saya sering merasa tertabok. Ada kala saat baca mata berkaca-kaca. Quote kerennya aduhai syekali, Mak makin bikin krenyes-krenyes mana diajakin traveling virtual lagi keliling Indonesia dan luar negeri buat semakin tahu tentang KOPI yang bukan hanya Ketika Otak Perlu Inspirasi saja!

Dark Roast – Fine Grind—99
“Hidup itu perjalanan, tentang canda, tawa, dan air mata yang silih berganti datang … apa daya, bahkan kopi pun kadang bisa sepahit kehidupan.”

Strong as Death—148
“Kuatnya rasa menentukan seberapa layak kopi itu bertahta di kedalaman indra. Kuatnya cinta juga menentukan seberapa dalam kita bisa terluka.”
Mengutip tulisan akhir sang penulis. Life is never flat. Karen atidak flat itulah hidup jadi menyenangkan. Sudah ngopi hari ini?
Profile Image for Mauli Hidayat.
21 reviews
March 24, 2021
Sampul yang bagus, jadi penasaran dengan isinya. Namun gaya penulisannya yang terlalu banyak percakapan yang engga perlu dan jalan cerita yang datar membuat buku ini berkesan biasa aja di benakku(maaf). Konfliknya yang biasa aja lalu penyelesaian konfliknya pun datar dan terburu buru. Penokohannya tidak jelas. Endingnya pun tidak mengesankan.

Tetapi, banyak informasi tentang kopi di buku ini. Sangat menunjukan penulis yang mencintai kopi. Percakapan yang engga perlu terkadang ada lucunya, cukup menghibur. Juga banyak diselipkan kata2 manis (mutiara) di percakapannya. Buku ini termasuk bacaan ringan sekali duduk. Sehingga buku ini sangat kurekomendasikan dibaca oleh pecinta kopi, yang ingin mengetahui tentang kopi dan kedai, juga yang suka baca yang ringan ringan.
Profile Image for Gabrielle.
156 reviews12 followers
August 23, 2020
⚠ agak spoiler ⚠


.
.
.



.... kayaknya ini bakal jadi novel lokal pertama yang kubaca dengan lumayan banyak skinship dan panggilan sayang 😂

Mengesampingkan hal itu, pembahasan kopinya menarik. Ajeng benar-benar suka dengan berbagai macam kopi dan hal-hal yang terkait dengan pembuatannya. Penggambaran latarnya juga jelas dan aku suka gaya menulisnya yang ringan.

Kalau kamu suka novel yang berat di romance dengan pembahasan kopi dan sedikit travelling, novel ini bisa dicoba 😊
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rhein.
Author 7 books173 followers
Read
May 21, 2021
Baca ini karena masuk list sampul buku fiksi favorit API goodreads. Awal cerita tampak menjanjikan karena saya berekspektasi akan ada polemik si tokoh utama dan ayahnya. Father-daughter story tuh golden topic buat saya.

Ternyata eh ternyata, ekspektasi melenceng jauh. Jauuuuuhhhh banget. Eksekusinya pun... hmm..

Semangat, mbak/mas penulis! Semoga buku selanjutnya jauh lebih baik lagi :). Please.. please.. banyakin referensi buku karya penulis yang bukan dari wattpad.
Profile Image for Utha.
826 reviews403 followers
January 22, 2021
Gaya menulisnya yaaa... bukan seleraku aja, plus... copy editing-nya sering bikin mengernyit~
Profile Image for Bila.
315 reviews22 followers
August 9, 2021
"Perjalanan itu membuat kita belajar bagaimana sentuhan tradisional menyatu dengan masing-masing biji." (hal. 209)


Rate sebenarnya: 2.7

Di awal cukup menjanjikan karena untuk buku YA, wawasan kopi yang disajikan begitu kental. Teknik, jenis biji kopi, hmm, rasanya buku ini cocok dibaca sambil minum kopi yang bukan kopi instan.

Tapi semua berubah saat konflik romansa muncul.

Apa yang terjadi ketika love triangle (iya gitu?) disatukan dengan (almost) insta-love? BUM. Absolutely meh. Kemistri pasangan utama ga terbentuk dengan baik, konflik yang penuh drama tapi tanggung (iya, berbagai macam konflik muncul disini layaknya sinetron (ini spoiler loh)), hampir tidak ada tokoh yang memorable, tokoh cewek yang entah kenapa sampai dikejar 3 cowok (*pukpuk Dena*), Dena yang agak ga konsisten, typo penempatan paragraf... Bentar, pusing aku.

Lah terus kenapa aku kasih rate yang lumayan kalau banyak hal yang ga sreg?

Bagian akhir mengubah penilaianku. Kemistri pasangan utama memang masih tergolong kurang tapi kalau dibanding dengan bagian awal, makin keliatan kenapa mereka perlu serasi. Sejumput bumbu comical (?) membuat buku ini ga hambar di paruh akhir (beneran kalau ga ada itu, kayanya buku ini ga selamat dari amukanku WKWK), istilah perkopian yang sayang untuk hanya dikasih 1-2 bintang di mataku, dan pesan yang bisa dipetik oleh tokoh utama kita pada akhirnya.

Intinya sih kalau mau baca buku ini... Jangan berekspektasi lebih. Punten ini mah.

(NOTE: suatu saat bisa saja aku turunkan ratenya, tapi saat ini 2.7 dinaikkan cukup.)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ayanapunya.
338 reviews13 followers
July 25, 2022
Novel Proviso ini premis dan temanya mengingatkanku sama novel filosofi kopi dari Dee Lestari hanya saja ini tokoh utamanya perempuan. Menarik sekali membaca hal-hal berbau kopi dan pengolahannya yang awam di mata saya yang bukan pecinta kopi.

Ceritanya sendiri berpusat pada Ajeng, seorang gadis pecinta kopi yang sedang mencari kopi racikan terbaik sebagai syarat dari ayahnya untuk bisa membuka kafe seperti impiannya. Untuk memenuhi persyaratan ayahnya ini, Ajeng mengikuti sebuah kompetisi kopi yang kemudian mempertemukannya dengan Gerry dan Adit, pemilik kafe Omega tempatnya kemudian bekerja paruh waktu di sela-sela kuliah.

Percik kisah percintaan juga hadir dalam perjalanan Ajeng menemukan racikan kopi terbaik ini. Adalah Gerry, barista di Omega cafe yang jatuh cinta kepada Ajeng. Ajeng sendiri juga menyimpan perasaan yang sama kepada Gerry. Namun rupanya Adit, pemilik cafe yang juga sahabat Adit juga merasakan hal yang sama pada Ajeng. Hal ini kemudian menjadi konflik antara mereka bertiga hingga membuat Ajeng memutuskan pulang ke rumah orang tuanya di Temanggung.

Kepulangan Ajeng ke Temanggung ternyata membawa kisah baru karena kemudian Ajeng mengalami kecelakaan yang membuatnya sempat tertidur selama 3 hari dan ketika bangun malah kehilangan beberapa memori dalam hidupnya, termasuk tentang Gerry yang mencuri hatinya. Di lain pihak muncul sosok Ian yang sempat dikenal Ajeng saat berada di Bali beberapa waktu sebelummya. Bagaimanakah akhirnya kisah antara Ajeng dan Gerry akan berakhir? Dan apakah Ajeng akhirnya berhasil menemukan racikan kopi terbaik?

10 reviews
July 29, 2022
Impulsif pinjam buku ini karena ulasan-ulasan di Ipusnas cukup menarik dan sepertinya baru masuk koleksi Ipusnas.

Jadi, novel ini bercerita tentang Ajeng yang ingin punya cafe sendiri tapi ayahnya nggak setuju. Ayahnya baru setuju asalkan Ajeng berhasil nemuin biji kopi terenak. Akhirnya, Ajeng ikut Bandung Coffe Expo dan ketemu sama Adit. Adit ini pemilik Cafe Omega. Adit tertarik sama penemuan Ajeng dan akhirnya Ajeng ditawari kerja di cafenya. Lalu, di Cafe Omega dia ketemu sama Gerry.

Covernya yang cantik dan ide cerita yang lain dari biasanya (karena masih sedikit yang bercerita tentang kopi) menurutku jadi keunggulan novel ini. Tapi, ada beberapa hal yang cukup membuatku kurang nyaman misalnya, typo. Sepele ya? Menurutku nggak karena novel ini sudah diperjualbelikan kok bisa typo? Kasihan dong yang beli.

Terus, penulis nggak konsisten. Aneh banget dalam satu kalimat langsung ada penggunaan kata "nggak" dan "tidak" padahal itu bukan percakapan formal dan cuma percakapan biasa.

Selain itu, alurnya terlalu cepat. Baru bercerita kompetisi waktu Ajeng ketemu Adit dan ditawari kerja, terus tiba-tiba udah tiga bulan setelahnya, eh tau-tau udah setengah tahun kerja di Omega. Interaksi Ajeng dan Gerry juga terlalu berlebihan. Perkembangan hubungan Gerry dan Ajeng kayak cuma tempelan (ini yang sebelum adegan Bali ya). Cuma dijelaskan di narasi bukan interaksi secara langsung berupa dialog.

Tapi dari semua unek-unek di atas, ide ceritanya bagus sayang eksekusinya kurang mulus. Semoga penulis bisa semakin lebih baik.
Profile Image for nasya.
847 reviews
February 9, 2024
Cerita tentang perkopiannya di awal udah oke sih, walaupun ya nggak begitu ngerti (meskipun sudah ada bantuan di footnote), cuma alurnya berasa terlalu cepat sih menurutku. Tiba-tiba Gerry sama Ajeng deket di Bali, terus konflik sama Adit, terus sama Dena tapi langsung beres, jadi nggak terlalu menikmati kedekatannya Ajeng sama Gerry as couple.
Profile Image for Leila Rumeila.
1,007 reviews29 followers
June 30, 2024
This book is nope in every single side!
Karakter utamanya lebay.
Plotnya juga engga kreatif. Amnesia, really? Cuma karna konflik gitu doang? Nope, i couldn't buy it, obviously.

Yg menarik dari buku ini cuma part kopi doang, as a (sweet) coffee lover. Tiap bahas kopi ini dan itu gue langsung kaya sensory imagining (?) cium bau kopi lol.

*Listened the audiobook by Storytel*
Profile Image for keen.
37 reviews1 follower
December 27, 2022
Aku sempet DNF. Daan baru ini bisa lanjutin lagi wkwkw. Covernya menarik, salah satu alasan aku ngebaca. Aku suka gimana cara ngejelasin ttg kopi... Sayang, mengeksekusi alur bukunya kurang pas. Semangat terus ya kak Suzie dalam menciptakan karya, semoga kedepannya bisa lebih baik!
1 review
Want to read
May 18, 2021
Sebenarnya saya pecinta kopi terutama yang racikan sendiri. Terasa sekali rempah-rempahnya yang sangat nikmat. Kerenn bukunya, Mbak. 🤗😍😍
Profile Image for Sylwty.
72 reviews
January 20, 2023
Hampir DNF.

Tapi aku berhasil menyelesaikan setengah halaman buku ini setelah menundanya cukup lama. Secara keseluruhan, bagus-bagus saja. Tentang ambisi dan impian ajeng yang dicampur dengan masalah persahabatan juga cinta segitiga.

Mungkin yang membuat aku hampir DNF adalah kisah cinta segitiga. Kesannya biasa sekali. Ada pula drama amnesianya😂

Bukunya tetep seru meski dialognya bejibun. Pada pertengahan halaman, tensi cerita mulai menurun. Aku tidak bisa merasa sedih dengan yang dialami Ajeng. Entah karena hatiku batu atau memang kekurangan penulis dalam mendeskripsikan perasaan si Ajeng.

Dann... Susah menolak ajakan Ian yang jelas tak bisa dimiliki karena beda alam😂

Ratingnya 2.3🌟
Displaying 1 - 16 of 16 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.