Jump to ratings and reviews
Rate this book

Nalar Kritis Muslimah

Rate this book
Islam lahir ketika perempuan belum dipandang sebagai manusia sehingga diperlakukan sebagai objek dalam sistem kehidupan. Mereka dijual dan diwariskan, baik di Jazirah Arab maupun belahan dunia lain. Karenanya, penegasan Islam atas kemanusiaan perempuan berarti empat hal.

Pertama, penegasan kedudukan perempuan sebagai subjek penuh dalam sistem kehidupan. Kedua, sebagai sesama manusia, laki-laki dan perempuan sama-sama hanya hamba Allah Swt. dan mengemban amanah sebagai khalifah fil ardh dengan mandat mewujudkan kemaslahatan seluas-luasnya di muka bumi. Ketiga, sebagai sesama subjek penuh sistem kehidupan, laki-laki dan perempuan mesti bekerja sama mewujudkan kemaslahatan, sekaligus sama-sama berhak menikmatinya, baik di dalam maupun di luar rumah. Keempat, laki-laki bukanlah standar kemaslahatan perempuan sehingga pengalaman perempuan, baik secara biologis (menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui) maupun sosial (stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda hanya karena menjadi perempuan) adalah sah untuk dipertimbangkan dalam kemaslahatan Islam meskipun tidak dialami laki-laki.

225 pages, Paperback

Published August 1, 2020

16 people are currently reading
128 people want to read

About the author

Nur Rofiah

1 book3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (38%)
4 stars
34 (46%)
3 stars
11 (15%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,964 followers
April 16, 2023
Belakangan, aku memang tertarik dengan lensa gender dalam memahami agama.

Aku berkenalan dengan konsep kesetaraan secara perlahan. Dimulai dari bacaan novel hingga akhirnya mencoba membaca nonfiksi. Semakin aku baca, aku semakin banyak pertanyaan. Salah satunya ialah bagaimana pandangan agama dengan topik kesetaraan.

Aku nggak jarang mendengar/membaca kalimat "feminisme adalah produk Barat!" Terutama ketika proses pengesahan RUU PKS kemarin, rasanya kok perempuan ada aja salahnya.

Nalar Kritis Muslimah menjadi buku yang menjawab beberapa pertanyaan personalku (aku nggak bisa sampaikan di sini 🙏) soal hubungan antara Islam dengan kesetaraan gender. Memang, aku terbilang terlambat karena baru baca buku bagus ini. Setelah aku membaca pendekatan feminisme dalam lingkup agama dari buku-buku luar, akhirnya aku mau membaca karya penulis lokal yang memang ahlinya.

Nalar Kritis Muslimah adalah kumpulan tulisan Dr. Nur Rofiah. Beliau menekankan betapa perempuan sangat rentan dipinggirkan menggunakan dalih agama. Padahal, dalam Qur'an pun juga sudah ditegaskan kalau laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang setara. Dari buku ini, pandanganku soal Islam dan kesetaraan menjadi lebih melunak. Aku jadi makin paham bahwa sesungguhnya Qur'an nggak membedakan umat berdasarkan gender. Hanya saja, ada bias gender dalam proses penafsiran yang dilakukan oleh manusia.

Ini buku bagus yang rasanya harus dibaca oleh para muslimah. Bahwa kita ini berdaya namun diperdaya oleh pola pikir dan lingkungan patriarki.

Bagiku, buku ini membantuku mengimani Islam tanpa membuatku merasa bersalah telah menjadi perempuan.

Bukunya bisa dibeli di @akalbuku ya!
Profile Image for Tara Reysa.
47 reviews7 followers
September 7, 2020
4.5⭐
Membaca buku ini bersamaan dengan ikut Ngaji Keadilan Gender Islam (KGI) secara online yang didirikan oleh Bu Nyai Nur. Dan benar saja, buku Nalar Kritis Muslimah dan Ngaji KGI memang saling melengkapi, di samping tema yang disampaikan memang sama.

Seperti judulnya, buku ini semacam pemantik supaya muslimah bisa mengasah nalar kritisnya. Belum ada pembahasan yang begitu mendalam karena buku ini disusun dari kumpulan tulisan Nyai Nur di media sosial. Seperti yang aku tulis sebelummnya, buku ini bakal jadi combo yang sempurna kalau dibarengi dengan ikut Ngaji KGI. Nyai Nur sendiri sedang dalam proses menulis buku baru dengan tema serupa yang sepertinya bakal lebih komprehensif.

Secara garis besar, buku ini membahas tentang keadilan hakiki perempuan dan bagaimana Islam mengharuskan manusia mewujudkan kemaslahatan lewat tauhid. Nyai Nur membagi pembahasannya ke dalam tiga bagian : Agama untuk Perempuan, Memahami yang Transenden, dan Kemanusiaan sebelum Keberagaman.

Ada sebuah konsep yang selalu Nyai Nur tawarkan dalam memahami keadilan bagi perempuan, yaitu 5+5 : 5 pengalaman biologis perempuan (menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui), serta 5 pengalaman sosial perempuan (stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda). Bagi yang sudah baca Sister Fillah, You'll Never Be Alone mungkin nggak asing dengan konsepnya. Kesepuluh poin pengalaman perempuan ini selalu diulang-ulang supaya pembaca dan jamaah Ngaji KGI paham betul, kalau mau mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh umat, pengalaman biologis dan sosial perempuan harus diperhitungkan. Ini mengingatkanku pada buku Invisible Women: Data Bias in a World Designed for Men yang juga mengkritik pembuat kebijakan yang sering kali abai terhadap pengalaman dan kebutuhan perempuan.

Konsep lain yang aku suka adalah bagaimana pengalaman perempuan harus dibahas sebagai perspektif, bukan topik semata. Juga perempuan sebagai subjek yang diperhitungkan, bukan objek. Satu hal lagi yang paling menarik, di salah satu sub bab, Nyai Nur menawarkan terjemahan QS. Ar-Rum (30) : 21 yang lebih adil gender. Tentunya beliau berbicara sesuai dengan kapasitasnya sebagai ulama dan dosen tafsir.

Pada intinya, kalau ada orang yang bertanya apakah feminisme ada dalam Islam, buku ini akan langsung ku jejelkan. Buku ini juga bisa jadi pengantar buat orang-orang yang ingin memahami keadilan gender di agama Islam.
Profile Image for Gita Swasti.
323 reviews41 followers
May 3, 2022
Jika setiap agama hadir untuk kesejahteraan manusia, maka setiap agama mempunyai tanggung jawab sama untuk mengatasi problem kemanusiaan. Problem kemanusiaan menjadi titik temu umat agama yang berbeda-beda.


Sebelum memahami bagaimana Islam menempatkan perempuan, yang ada dalam benak saya adalah, "Mengapa semakin 'Islamis' seseorang atau bahkan sebuah organisasi, semakin cenderung menempatkan perempuan dalam posisi sulit?" a.

Saya melihat perempuan-perempuan di sekitar saya. Sebut saja mereka lebih 'islamis' dibanding saya. Ketika mulai berumah tangga, mereka terlihat 'fasih' dengan ujaran-ujaran seperti ini,
"Keluargaku setuju-setuju saja. Hanya saja, suamiku melarangnya. Aku harus patuh."
"Aku tidak tahu karena suamiku belum memutuskan apa-apa."
"Ya sudah, lah. Mau bagaimana lagi. Suamiku maunya begitu."
"Aku setengah mati ingin, kalau suamiku berkata sebaliknya ya maka jangan berharap yang lain."

Saya mengerti jika kondisi di atas perlu ditelisik lebih jauh latar dan situasinya. Saya tidak bisa menaruh kesimpulan tunggal. Namun, berbekal rasa keingintahuan yang kian membesar, saya merasakan sebuah urgensi untuk mempelajarinya. Bagaimana kedudukan perempuan sebelum dan sesudah Islam hadir di dunia ini? Ketika seorang perempuan bisa menunjuk ahli warisnya, terlepas dia istri atau anak seseorang, apakah dari dulu ajaran Islam sudah begini? Jika sekelompok feminis Amerika Serikat pernah memperjuangkan hak suara, bagaimana halnya dengan Islam?

Perjalanan ketidaktahuan ini bertemu pada Dr. Nur Rofiah. Membaca tulisan-tulisan beliau dan Ngaji KGI-nya (Keadilan Gender Islam), saya mendapat titik cerah. Jadi, dimulailah sebuah petualangan belajar Keadilan Gender Islam. Mulai mendengarkan Twitter Space, menonton sekian videonya di Youtube, hingga membaca artikel-artikel yang beliau tulis.

Relasi timpang melahirkan sikap pengabaian yang melemahkan.

Kita diajak fokus pada persamaan yang lama-lama berkembang menjadi penyeragaman. Tidak ada proses menyesuaikan. Tidak jarang pula proses penyeragaman ini sampai pada tahap pemaksaan. Padahal, perbedaan sosial dipandang sebagai modal untuk maju bersama mewujudkan kemaslahatan. Akar ketidakadilan bukan terletak pada kondisi yang berbeda, tetapi cara menyikapi perbedaan tersebut. Peduli atau tidak.

Jenis kelamin adalah takdir, sementara gender ialah ikhtiar. Pengalaman perempuan tidak hanya dibahas sebagai topik, melainkan perspektif. Beliau menulis pernyataan ini berulang kali di banyak bab. Saya sependapat. Kenyataannya, tema perempuan seakan-akan dipinggirkan, dibahas dalam satu tema tertentu saja.

Islam mengamanatkan seluruh makhluknya untuk memberi kemaslahatan. Dalam hal ini, Islam tidak menaruh tugas khusus pada laki-laki maupun perempuan. Manusia diperintahkan untuk membangun tatanan sosial yang ideal dan bermartabat melalui sebuah sistem. Pembangunan ini tidak boleh mengacu pada otoritas manusia yang lebih terhadap lainnya.

Membicarakan agama adalah hal sensitif. Membicarakan perempuan juga demikian. Saya masih perlu belajar lebih banyak lagi. Buku ini adalah sebuah permulaan yang tuntas mengupas aspek-aspek fundamental gender dan Islam.
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,387 followers
Read
July 20, 2022
Buku ini ditulis oleh Ibu Nur Rofiah yang merupakan dosen ilmu tafsir di UIN Syarif Hidayatullah yang juga mengajar di PTIQ. Gelar master dan doktornya diraih dari Prodi Ilmu Tafsir Fakultas Ilahiyat Universitas Ankara Turki. Beliau aktif di berbagai organisasi termasuk jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia dan mengampu Lingkar Ngaji Keadilan Gender Islam.

Dengan latar belakang penulis yang begitu wow, saya sempat bertanya-tanya, "Wah bakal sulit nggak ya menyelesaikan bukunya?" Ternyata buku ini berisi tulisan-tulisan pendek yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna dan straight to the point, namun mencerahkan, terutama bagi yang belum punya banyak pemahaman soal tafsir. Misalnya, Bu Nur menjelaskan bahwa Bahasa Arab memiliki konsep gender (feminin vs maskulin) dan bahwa Al-Quran diturunkan pada konteks waktu dan geografis yang harus dipahami secara menyeluruh, jangan dipotong-potong (sehingga muncul persepsi seperti 'Islam mendukung laki-laki punya istri 4', padahal kalau dibaca secara menyeluruh sesuai konteks, ini justru maksudnya membatasi poligami yang dulu bisa jumlah istrinya tak terbatas).

Terbagi menjadi 4 bagian,
- Agama untuk perempuan
- Memahami yang trasenden
- Kemanusiaan sebelum keberagamaan
- Serpihan renungan,
pesan utama buku ini adalah bahwa Islam adalah agama yang mengusung keadilan gender, sebagaimana konsep tauhid bahwa baik laki-laki dan perempuan adalah hamba Allah SWT yang setara dan dibedakan dari ketaqwaannya.

Jadi untuk isinya sudah tidak diragukan lagi. Kalau kamu penggemar Kalis Mardiasih, harus baca buku ini, hehehe. Hal yang saya sayangkan justru editingnya yang kurang 'enak' karena poin yang diulang sampai lebih dari 2x dengan redaksional yang sama, sampai beberapa kali saya merasa, "Eh, tadi baca sampai mana sih? Kok keulang?"
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
March 28, 2025
Saya mendapat cukup banyak pelajaran dan perspektif dari buku kumpulan tulisan ini.

Ada dua hal yang berkali-kali digaungkan sepanjang pembacaan buku ini yang secara tidak sadar pembaca perlu mengingat-ingatnya terus. Pertama, pengalaman perempuan secara biologis yaitu menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui. Kedua, kerentanan ketidakadilan berbasis gender yang dialami perempuan yaitu stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda.

Dua hal tersebut dapat menjadi landasan untuk para perempuan untuk berpikir dan bernalar kritis. Dua hal tersebut jugalah yang perlu dicamkan oleh para laki-laki dalam bertindak dan mengambil keputusan.

Untuk memudahkan, penulis membagi tulisannya ke dalam empat bagian. Bagian pertama bertajuk “Agama untuk Perempuan” yang berfokus pada perempuan termasuk dua hal tentang pengalaman perempuan secara biologis dan kerentanan ketidakadilan berbasis gender banyak disebut-sebut pada bagian ini. Bagian kedua berjudul “Memahami yang Transenden” menggali pemikiran-pemikiran penulis tentang tauhid, utamanya keniscayaan pada konsep suami-istri yang ideal dan setara menurut Islam.

Bagian ketiga “Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan” cukup umum menjelaskan perihal kemanusiaan dari berbagai topik seperti saat Idulfitri dan tentang tiga agama besar dunia yang konon diakui sebagai penerus Nabi Ibrahim a.s. Bagian keempat sedikit berbeda dengan tajuk “Serpihan Renungan”. Bagian keempat ini sepertinya merupakan tulisan amat lepas dari penulis di media sosial. Beberapa di antaranya amat singkat tapi sebagian yang lain cukup panjang. Saya merasa bagian keempat inilah yang cukup gong karena terasa lebih personal dan membumi.

Meskipun begitu, saya sempat kesulitan memahami beberapa bagian. Sedikit pemaparan penulis terlalu singkat sehingga di akhir saya masih terkadang gagal paham. Mungkin kapasitas pemikiran saya atau kondisi saya yang sedang membacanya kala puasa yang membuat saya merasa seperti itu.

Terpelas dari kesulitan tersebut, saya menandai banyak sekali hal penting dari buku ini. Salah satu yang mengena bagi saya ada pada halaman 193 tentang respons Rabiah Adawiyah terhadap ucapan Imam Hasan al-Bashri. Sang Imam berkata, “Dia ciptakan sembilan akal dan satu nafsu untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan Dia ciptakan satu akal dan sembilan nafsu.” Rabiah kemudian berkata, “Anda mempunyai sembilan akal tapi gagal mengendalikan satu nafsu, sementara aku hanya punya satu akal tapi bisa mengendalikan sembilan nafsu.”

Buku yang amat kaya dan saya beruntung bisa membacanya.
Profile Image for Juni Rahamnita.
22 reviews53 followers
October 4, 2021
Tidak hanya memberikan pengetahuan baru untukku tentang parempuan di dalam islam, ke-Tuhanan, keberagaman, keberagamaan, dan kemanusiaan; buku ini juga secara gak langsung mengasah dan mempertajam pola pikir. Ketika membaca, aku juga memanggil beberapa informasi dan pengalaman yang pernah aku alami sebelumnya. Landasan berpikir ini nantinya dapat aku gunakan dalam menyikapi hidup.

Buku ini penuh daging. Menurutku bahasa yang digunakan oleh penulis tidaklah sulit, dan penulis mampu menjabarkan dengan baik. Aku mengulasnya di bloggku dan aku sadar bahwa ulasanku sangat amat kurang menyajikan informasi yang ada di dalam buku. Belum lagi tentang ilmuku yang masih ecek-ecek. Saranku, sih, baca sendiri saja bukunya.

Ulasan selengkapnya ada di tautan ini
Profile Image for Al Muaishim.
18 reviews1 follower
January 30, 2023
Buku ini adalah kumpulan status yang diunggah di beragam medsos penulis: Facebook, Instagram, dan twitter. Karena itulah, setiap judul dari buku ini cenderung singkat, hanya beberapa halaman saja. Saya tidak punya banyak referensi penulis perempuan yang membahas tentang Islam dan keperempuanan. Sebelumnya saya banyak baca tulisan Kalis Mardiasih, dan Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. ini adalah guru Kalis Mardiasih.

Premis utama dalam buku ini adalah sebuah pertanyaan: mengapa pemahaman agama kerap maslahat bagi laki-laki, tetapi tidak bagi perempuan? Karena kesadaran bahwa pemahaman atas Islam sering kali menjadikan laki-laki sebagai standar tunggal kemaslahatan. Penulis lantas memberi penjabaran penegasan Islam atas kemanusiaan perempuan yang berarti empat hal:

1. Penegasan kedudukan perempuan sebagai subjek penuh dalam sistem kehidupan. Penulis memberikan paparan menarik yang ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, M.A. dalam kata pengantar buku Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al Quran:
1. Mempunyai kemandirian politik, sebagaimana Ratu Balqis, perempuan penguasa yang
mempunyai kerajaan super power.
2. Memiliki kemandirian ekonomi, seperti pemandangan yang disaksikan Nabi Musa di Madyan,
perempuan pengelola peternakan.
3. Memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi.

2. Sebagai sesama manusia, laki-laki dan perempuan sama-sama hanya hamba Allah SWT dan mengemban amanah yang sama sebagai khalifah fil ardh dengan mandat mewujudkan kemaslahatan seluas-luasnya di muka bumi. Konteks, pada masa Jahiliyah perempuan diperlakukan secara tidak manusiawi dan bisa diperjual belikan. QS Al Hujurat merupakan petunjuk bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama hanya menghamba kepada Allah (tauhid). Tauhid menjadikan kita memahami bahwa tubuh laki-laki dan perempuan adalah milik Allah. Mereka sama-sama hamba Allah dan sama-sama mengemban amanah kekhalifahan di muka bumi untuk mewujudkan kemaslahatan seluas-luasnya. Nilai manusia ditentukan oleh takwanya.

3. Sebagai sesama subjek penuh sistem kehidupan, laki-laki dan perempuan mesti bekerja sama mewujudkan kemaslahatan, sekaligus sama-sama berhak menikmatinya, baik di dalam maupun di luar rumah. Penulis banyak membahas mengenai relasi suami istri dalam pernikahan. Tujuan pernikahan adalah ketenangan jiwa (sakinah), dan landasan relasi suami istri adalah cinta kasih (mawaddah wa rahmah). Jadi, landasannya bukan kepemilikan mutlak satu pihak atas lainnya. Ada tiga level etika dalam bertindak bagi suami istri. Pertama, boleh atau tidak menurut agama, maka harus halal. Kedua, baik atau tidak, maka harus thayyib. Ketiga, pantas atau tidak, maka harus ma'ruf.

4. Laki-laki bukanlah standar kemaslahatan perempuan, sehingga pengalaman perempuan secara biologis dan sosial adalah sah untuk dipertimbangkan dalam kemaslahatan Islam meskipun tidak dialami laki-laki. 5 pengalaman biologis perempuan adalah menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui (saya tambahkan: menopause). Sedangkan 5 pengalaman sosial perempuan yaitu stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan, dan beban ganda. Penulis mencontohkan kasus-kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang secara hukum menjadikan posisi perempuan lemah. Kita bisa menghindari peminggiran perempuan korban kekerasan dengan cara mendengar suara korban, mendengar bentuk keadilan yang diharapkan korban, mewaspadai tafsir bias gender yang ada, dan mewaspadai tradisi yang bias gender.

Menurut saya buku adalah buku yang tepat dibaca oleh mereka yang baru mau tau tentang Islam dan keperempuanan. Pengalaman biologis dan sosial perempuan banyak dijelaskan (dan bahkan berulang) sehingga akan memudahkan pembaca yang awam mengenai konsep jenis kelamin dan jender. Saya banyak mendapat pengetahuan baru khususnya mengenai tafsir Al Quran yang bias gender. Sebagai pengingat, tafsir Al Quran sering disamakan dengan Al Quran itu sendiri. Padahal Al Quran dari Allah yang Mahaadil, sedangkan tafsir atas Al Quran itu dari manusia yang tidak satupun Mahaadil.

Ada sebuah renungan yang menarik selama saya membaca buku ini. Awalnya, saya tidak merasa pengalaman sosial perempuan dalam buku ini relatable untuk saya. Namun, selepas membaca saya baru sadar, justru karena sudah banyak perempuan yang berjuang untuk kesetaraan maka saya punya privilese untuk tidak merasakan pengalaman-pengalaman tersebut. Sebuah pengingat untuk tidak abai dengan sekitar.

Sayangnya, buku ini tidak terlalu detil membahas proses berpikir yang runut sebagai muslimah. Utamanya pada fenomena sosial dan bagaimana membaca tafsir Al Quran dengan perspektif lain. Buku ini memantik pertanyaan-pertanyaan baru bagi saya, yang harus saya cari tahu sendiri jawabannya. Mungkin dengan ikut Ngaji Keadilan Gender Islam, atau memperkaya referensi sumber buku bacaan dari ustadzah yang punya kredibilitas dalam bidangnya.
Profile Image for Avif Aulia.
60 reviews5 followers
May 20, 2025
"Nalar Kritis Muslimah" berisi kumpulan status medsos dan artikel lepas milik penulis yang ditulis dalam kurun tahun 2013–2020. Jadi, tiap tulisannya cenderung singkat, 2–5 halaman saja. Karena itu, banyak bagian yang saya rasakan menggantung. Tulisan sependek itu tentu tak mampu memaparkan gagasan penulis secara komprehensif. Apalagi, topiknya kritis dan kompleks: keperempuanan, kemanusiaan, dan keislaman. Jujur, saya kaget karena mengira bahwa ini adalah buku yang memuat kumpulan esai panjang. Judulnya serius banget sih: "Nalar Kritis".

Sepertinya—lagi-lagi—karena isinya adalah status medsos, jadi ada banyak pengulangan gagasan. Terutama gagasan soal pengalaman biologis-sosial perempuan dan tauhid. Di hampir setiap tulisan, rasanya tidak pernah ketinggalan. Kadang memang pas dengan topik tulisan, kadang juga mengganggu dan sebetulnya tak perlu-perlu amat.

Penulis juga jarang bercerita. Paparan dalam buku ini didominasi oleh penjelasan konsep yang perlu dipahami perlahan, kalau tidak mau kehabisan napas. Melelahkan, tapi memang banyak insight yang saya dapatkan.

Di antara 4 bagian dalam buku ini, saya suka dengan bagian 2 dan 3 yang menghubungkan keberagamaan kita dengan konsep bermasyarakat, bahkan bernegara. Terasa universal juga moderat, dan memang gaya seperti ini yang saya senangi. Bagian yang paling membuat saya terganggu ... tentu bagian ke-4 alias terakhir. Isinya masih kumpulan status, tapi lebih pendek lagi—berupa paragraf—dan topiknya random. Tampaknya ini upaya agar buku ini lebih tebal.

Overall, sebagaimana yang disampaikan penulis dalam prakatanya, buku ini sepertinya hanya upaya "cek ombak" atau pemantik sebelum buku utamanya yang membahas islam perspektif keadilan hakiki perempuan, ditulis. Oh, sudahkah buku itu terbit? Akan saya cari tahu setelah ini.
Profile Image for Nadiyah Nilfannisa.
18 reviews3 followers
May 29, 2022
“Laki-laki dan perempuan, nilainya tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Melainkan sejauh mana tauhid dan imannya bisa melahirkan kemaslahatan dan perilaku baik kepada seluruh makhluk Allah SWT.” Adalah salah satu dari banyaknya potongan-potongan kalimat favoritku dari buku ini.

Ide tentang kesetaraan gender dan menjadi wanita yang juga serba bisa & serba guna sudah lama aku jadikan fondasi keyakinan dalam menjalani kerasnya kehidupan di negeri patriarki ini, meski masih tergolong sulit untuk mengaplikasikan atau bahkan sekadar berbagi opini tentang nilai kritis ini karena akan selalu ada celah untuk dipatahkan oleh mereka-mereka kaum dengan pemikiran yang masih saja “kuno” hingga sekarang.

Buku ini benar-benar membuka cakrawala pengetahuan saya untuk jauh lebih memahami korelasi tiga aspek yakni keperempuanan, kemanusiaan, dan keislaman. Karena pada dasarnya Islam sudah dengan jelas mengatakan bahwa derajat laki-laki dan perempuan itu sama. Namun kembali lagi, Al-Qur’an dan tafsir Al-Qur’an dibuat oleh dua entitas yang berbeda. Al-Qur’an oleh Allah Swt., tafsir oleh manusia. Beda penafsir beda pula tafsirannya. Pertanyaannya, kita sebagai umat manusia menggunakan Al-Quran sebagai alat mencari kebenaran untuk hal yang kita lakukan di kehidupan atau mencari pembenaran atas yang kita lakukan di kehidupan?
Profile Image for Felita.
1,218 reviews52 followers
May 18, 2024
Tubuh perempuan milik siapa?

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." QS. Yasin. 65

Kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam Al-Quran

"Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
QS. Al-Hujurat 13

Kemampuan perempuan menjadi mitra setara dalam kebaikan.

"Laki-laki dan perempuan yang beriman, mereka adalah saling menjadi auliya' (penjaga/penolong/pelindung) satu sama lain, bahu membahu memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan."
QS. At-Taubah.71

Aku baru membaca buku ini karena mengandung tema kesetaraan gender dalam islam. Sejauh aku membaca, aku dapat kesimpulan bahwa cara bertutur bangsa arab ditentukan oleh gender tapi relasi gender dalam bahasa arab sangat bias. Karena itu, penting untuk menelaah bahasa arab itu sesuai konteksnya.

Yang pasti bahwa Islam itu untuk laki-laki dan perempuan. Bukan untuk melemahkan perempuan.

4 bintang.
Profile Image for Yulikha Elvitri.
9 reviews
March 3, 2021
3.8 ⭐

Alasan membeli dan membaca buku ini karena judulnya. Jujur judulnya begitu bagus dan menggugah rasa ingin tahu.

Tapi sayangnya karena saya sudah berangan tinggi tentang buku ini jadi ketika membacanya saya sedikit kecewa.

Saya kira buku ini akan fokus membahas tentang bagaimana nalar seorang muslimah berbicara tentang hal-hal yang sering menimpa mereka.
Tapi kemudian saya sadar bahwa tulisan dalam buku ini adalah kumpulan ide dan pemikiran yang ditulis di status atau postingan beliau.

Jadi kekecewaan tadi tidak membesar dan meluas. Namun buku ini memang memuat ide yang kritis tentang perempuan muslimah. Meskipun lagi-lagi tidak dibahas secara terperinci.

Ada satu ide yang saya rasa sangat bagus, yaitu tentang Masjid yang Transparan. Bagaimana masjid akan bisa mengembalikan fungsinya sebagaimana pada zaman Nabi dulu. Masjid akan menjadi tempat yang aman, tempat berlindung, mencari ilmu, dan rumah bagi mereka yang papa.

Buku ini bisa dijadikan pancingan untuk bisa mengali lebih dalam tentang isu yang ada di dalamnya melalui sumber-sumber lainnya.
Profile Image for Nanny SA.
343 reviews41 followers
July 26, 2025
Buku ini merupakan kumpulan tulisan penulis di beragam medsos dan beberapa artikel leoas.. Tulisan
-tulisan pendek yang disampaikan ringan sehingga lebih mudah dipahami dan tidak membuat bosan membaca nya.
Tema yang disampaikan yang biasa dipikirkan, dipertanyakan atau yang kerap dialami oleh muslimah. Mungkin selama ini dianggap biasa saja, di sini dikupas dengan kritis dan dengan pemahaman gender yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Penulisan dibagi dalam beberapa bagian :
l. Agama untuk Perempuan
II. Memahami yang Transenden
III. Kemanusiaan sebelum Keberagaman
IV. Serpihan Renungan.


Iman sebagai unsur penting dalam takwa berada di hati dan tidak terukur. Namun, indikasi iman yaitu perbuatan baik adalah sesuatu yang terukur. Ukurannya adalah kemashlahatan.
Iman juga dinamis , yazidu wa yanqushu (naik dan turun)
hal. 108

Cukup direnungkan :
1. Rasul Saw mencintai Arab sebagai tanah air beliau sendiri. Kita sedang diajarkan mencintai tanah air beliau atau tanah air sendiri?
2. Ketika Rasul Saw berpakaian sebagaimana budaya beliau sendiri, kita sedang diajarkan untuk mencintai budaya beliau atau budaya sendiri?
3. ...

hal. 208

Membaca buku ini memberikan pengetahuan baru yang mencerahkan.
Profile Image for Indah Marwan.
18 reviews7 followers
January 26, 2021
Pertama kali berkenalan dengan Ibu @nurrofiah lewat Instagram pada tahun 2019 ketika melihat poster Ibu untuk acara di Komnas HAM dengan topik Keadilan Gender dalam Islam. Terus ikut semangat waktu ibu mengadakan @ngaji_KGI di rumah untuk pasangan muslim (dan calon pun boleh ikut). Sampe akhirnya ngaji KGI roadshow ke daerah-daerah dan akhirnya online karena pandemi tapi satupun aku belum berhasil ikut karena kemampuan diri yang terbatas dan waktu yang sempit (hamil besar dan ibu dengan bayi tanpa helper). Tapi selalu ikutin postingan ibu di sosial media, webinar, sampai podcast ngaji KGI.

Sebagai seseorang yang belum pernah ikut ngaji KGI dengan lengkap sepertiku, buku ini merupakan pengantar yang tepat untuk konsep Keadilan Gender dalam Islam yang dibawa Ibu Rofiah. Buku ini adalah kumpulan status Ibu @nurrofiah di berbagai akun sosial media yang beliau. Sebagaimana rupanya status sosmed, tulisan-tulisan dalam buku ini singkat dan straight to the point, hingga tanpa catatan kaki yang kadang memberatkan tulisan-tulisan non-fiksi. Saya merasakan buku ini ringan dibaca dan mudah dipahami.

Tulisan-tulisan di dalam buku ini dibagi ke dalam tiga bagian:
1. Agama untuk perempuan
2. Memahami yang transenden
3. Kemanusiaan sebelum keberagaman
Topik-topik seperti otoritas tubuh perempuan, jati diri perempuan Muslim, pasutri Ideal, bidadari surga, keadilan substantif, perempuan korban kekerasan, mu’asyarah bil ma’ruf hingga RUU P-KS menjadi topik favoritku.

Ini beberapa pesan yang ditekankan Ibu Rofiah dalam buku ini:
1. Perempuan adalah subjek penuh dalam sistem kehidupan dan bukan objek.
2. Laki-laki dan perempuan sama-sama hamba Allah dan mengemban amanah yang sama sebagai khalifah fil ardh dengan tujuan mewujudlkan kemaslahatan di muka bumi.
3. Sebagai sesama subjek penuh kehidupan dan khalifah fil ardh, kemaslahatan yang diwujudkan harus dapat dinikmati tidak hanya oleh laki-laki tetapi juga perempuan.
4. Standar kemaslahatan perempuan bukan berdasarkan pada pengalaman atau perspektif laki-laki, tapi pengalaman perempuan itu sendiri, baik pengalaman biologis (menstruasi, hamil, melahirkan, nifas & menyusui) dan sosial (stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan dan beban ganda krn menjadi perempuan)

Setelah selesai membaca buku ini, saya menjadi semangat agar dapat menebar manfaat, baik di dalam maupun di luar rumah dan menjadi lebih memahami terhadap keadaan dan pilihan perempuan-perempuan lain mengingat pengalaman biologis dan sosial yang dialamipun berbeda-beda.
“Aku bermanfaat, maka aku ada.”
Profile Image for Obik.
8 reviews
December 7, 2021
8/10

Buku ini berisi tentang refleksi Nur Rofi'ah tentang keperempuanan, kemanusian, dan keislaman ( seperti tertuang di judul ).

Esai-esai yang ditulis sangat menarik sebab dibungkus dengan bahasa yang santai tapi tidak menghilangkan esensi dari apa yang disampaikan.Tentu bagi saya membaca buku ini mendapat pengetahuan anyar, terlebih mengenai konsep keadilan hakiki, konsep yang ditawarkan oleh Nur Rofi'ah.


------
" Aku bermanfaat, maka aku ada " -bertebaran di beberapa sub bab yang ditulis-
-------
Profile Image for Nayrafalsa.
4 reviews
May 25, 2022
4.7/5

Buku bagus. Meski ada kalimat yang selalu diulang-ulang dalam penggunaannya, akan tetapi secara keseluruhan saya sangat sangat sangat tertarik dengan apa yang dibahas di dalam buku ini. Dengan dalih berharap ada edisi revisi dengan isi yang dikupas lebih dalam di setiap temanya (semoga saja 😶‍🌫).

Ah, lupa.
Terima kasih telah melahirkan karya ini, Bu Nur. ❤
Profile Image for Gigih Alpha Rabi.
9 reviews3 followers
December 31, 2021
Sejujurnya saya bingung mencari buku mengenai Perempuan dan Islam. Karena kebanyakan buku bertema Perempuan dan Islam pasti kalau tidak soal Aurat, masalah Neraka dan Surga. Bahkan yang menulisnya juga rata-rata Laki-Laki yang tentu pengalaman hidunpnya saja berbeda dengan Perempuan. Alhamdulillah saya menemukan buku ini sekaligus terbantahlah "streotipe" bahwa Islam dan Feminisme tidak bisa berdampingan. Buku ini juga memberikan perspektif baru seperti ternyata Perempuan dan Laki-Laki itu sama di mata Allah SWT. Yang membedakan hanyalah ketaqwaannya. Juga buku ini membuat saya semakin yakin Islam agama yang adil buat siapapun. Yang justru bisa menjadi "tidak adil" bukan ajarannya tapi tafsirannya. Apalagi tafsir tentang Perempuan yang seringkali yang menafsir bukan Ulama Perempuan. Pokoknya saya menyarankan buku ini buat yang ingin memahami Isu Perempuan, Gender dan Islam. Buku yang sangat bermanfaat. Semoga ada lagi buku tema serupa sekaligus memberikan perspektif baru bahwa Islam itu Indah dan Adil buat semuanya.
Profile Image for Vina.
3 reviews
September 30, 2023
" selama belum menyadari pentingnya restu Tuhan dalam setiap tindakan, apalagi melakukan kejahatan atas nama Nya, sesungguhnyq dia belum terlahir sebagai makhluk spiritual"
Profile Image for Fit Han.
9 reviews
April 11, 2022
Di awal sampai pertengahan buku banyak pengulangan kalimat bahkan ada paragraf yang hampir mirip.

Tapi poin bagus dibagian tengah sampai akhir buku lumayan mencerahkan dan minim pengulangan.

Sebetulnya buku ini mengingatkan kembali esensi, posisi, peran perempuan dalam kemanusiaan, yang dalam sejarah panjang telah mengabur dan perlu penyegaran kembali melalui tulisan bu Nyai Rofiah ini.
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.