Kamu tidak suka teori tapi tetap ingin belajar menulis dan berpikir filosofis?
Buku ini:
• Mulai dari intuisi, baru beranjak pada abstraksi.
• Dimulai dan diakhiri dengan latihan.
• Memberi latihan berpikir filosofis dalam terapan di dalam cerita (karya sastra).
• Cocok untuk menulis sebagai sarana menemukan dan mengaktualisasikan diri yang otentik.
• Membuktikan bahwa kita bisa menulis tanpa harus punya ide yang jelas untuk mulai (sebab menulis justru merupakan proses penjernihan ide).
Ayu Utami adalah sastrawan yang mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri, dan mengembangkan metode pengajaran menulis kreatif sejak 2013.
Yulius Tandyanto adalah pengajar dan pustakawan; menyelesaikan S2 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Ayu dan Yulius berkolaborasi dalam eksperimen Percakapan Sastra dan Filsafat yang melibatkan musikalisasi puisi dan teks filosofis modern maupun tradisional.
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.
Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Di sini kita akan berkenalan dengan unsur menulis, yakni 4T: Tokoh, Tensi, Tempat, dan Tema, beserta filosofi yang mendasarinya. Buku tentang ilmu menulis kreatif yang dikemas secara berbeda. Menarik.
Menarik karena sehabis dijelasin konsep-konsep filsafatnya langsung diberikan contoh hasil tulisan. Bisa dijadikan pengantar buat yang mau belajar menulis kreatif; tapi formatnya mungkin lebih cocok dalam bentuk workshop karena kita butuh feedback terhadap tulisannya.
Berawal dari keinginan saya belajar lebih detail mengenai dunia tulis-menulis, saya mulai melirik kursus online. Kebetulan Gramedia Academy sedang memberikan diskon besar-besaran dan saya dapat info offering-nya di MyValue. Saya akhirnya mendaftar di salah satu kelasnya dan kebetulan hasilnya kurang sesuai ekspektasi saya. Bukan karena kursusnya jelek sich, cuma bukan itu yang saya cari. Akhirnya saya coba googling buku untuk menulis, incaran saya: Kitab Writerpreneur. Tapi sepertinya saya lebih berjodoh dengan buku ini. Pas banget lagi diskon di official store-nya Gramedia di shopee. Kesan pertama saya pas baca bab pertama: this book is exactly for me! Kenapa? Karena hal pertama yang diajarkannya bukan tentang bikin kerangka karangan, nentuin tema, nentuin bab, nentuin deadline dkk. Buku ini mengajarkan buat ga usah mikir terlalu ribet buat nulis, lakukan dengan spontan aja; yang penting ada tokohnya. Tokoh atau character atau apa pun biasa disebut adalah bahasan pertama dari buku ini. Dan kerennya lagi, belom apa-apa buku ini udah dibuka sama "PR" buat pembaca: coba bikin tulisan singkat sekitar 1-2 paragraf yang dimulai dengan kata aku, kamu atau dia! Langsung ngajak bikin tulisan aja, hahaha... di kursus yang saya ikuti, hal pertama yang diajarkan adalah: cari tahu tiga alasan kalian nulis dan tuliskan. Beda banget kan. Bukan cuma ngasih tugas, kita juga diajarin bikin tokoh yang masuk akal. Kalau tokoh kalian bocah yang gaya ngomongnya dibikin kaya bocah. Bocah ga akan menganalogikan dengan sesuatu yang rumit, cara kerja otak bocah tuh simple. Sebaliknya, kalo tokoh kalian itu dewasa dengan tingkat intelegensi tinggi yang jangan bikin gaya ngomongnya belepotan ga jelas kaya anak TK. Soal hal ini saya sempet dibocorin dikit sama guru SMP saya tapi di buku ini pake contoh jadi lebih kerasa aja. Di buku ini dibahas 4T (Tokoh, Tensi, Tempat dan Tema) serta 4? (Siapakah aku? Apa itu dunia? Kok aku bisa tahu? Apa yang bisa kulakukan?) sebagai "dasar" dalam menulis. Jujur, saya lebih gampang masuk di pembahasan 4T ketimbang 4? yang berbau filsafat, huhuhu... mungkin emang saya kurang di bidang satu ini. Tapi... tapi... buku ini beneran buka wawasan saya banget. Saya bisa lebih menganalisa kekurangan tulisan saya selama ini. Eh... bukan berarti abis baca buku ini, saya langsung jadi penulis keren mentereng setara Ayu Utami loh tapi saya berasa "naik level" aja :D
O iya, buku ini merupakan modul dari kursus yang diasuh kedua penulis. Sekarang kursusnya bisa diakses secara online di kognisi.id (https://kognisi.id/courses/kelas-sast...). Tapi kalau saya baca, dulunya kursusnya diakses secara offline di salah satu komunitas menulis.
Dalam buku ini, Ayu Utami memberikan contoh konkret, tahap demi tahap, revisi demi revisi, bagaimana sebuah cerita bisa terbentuk dimulai dari satu paragraf sederhana. Tanpa terlalu banyak teori, dia juga menunjukkan 4T yang membentuk cerita lengkap, yaitu Tokoh, Tensi, Tempat, dan Tema.
Di sisi lain, Yulius Tandyanto memberikan penjelasan padat tentang pandangan sejumlah filsuf dunia seputar beberapa tema. Walaupun bisa dimengerti bagaimana buku ini ingin menunjukkan bahwa filosofi bisa mempertajam suatu cerita melalui renungan/dilema/argumen tokoh-tokohnya dalam narasi maupun dialog, namun pemaparan teoretis Yulius bagi saya justru membingungkan.
Terlepas dari hal tersebut, Ayu Utami dalam buku ini terbilang berhasil mengajarkan dan membimbing pembaca untuk menulis kreatif secara sederhana dengan langkah-langkah yang sat-set.
"Salah satu dorongan untuk membaca dan menulis adalah menemukan diri sendiri. Atau, menjadi diri sendiri. ... Paling sederhana, ketika kita merasa lega, bisa menumpahkan uneg-uneg, tidak tertekan, bisa jujur, tak perlu menutup-nutupi banyak hal, itulah saat kita merasa jadi diri sendiri." (Ayu Utami)
Buku ini ditulis duet oleh Ayu Utami dan Yulius Tandyanto. Bagian cara kepenulisan oleh oleh Ayu Utami menurut saya keren banget, jelas dan bisa langsung dipraktekkan. Nggak bertele-tele dan contohnya bagus. Namun bagian filosofisnya menurut saya 'tanggung', hanya menjelaskan siapa memikirkan apa, namun penjelasan bagaimana cara mengeksplorasinya menjadi tulisan terasa kurang. Sepertinya bukunya perlu lebih tebal atau memang butuh dikemas dalam bentuk workshop 😊
Aku suka buku ini karena penjelasannya lengkap dan langsung sama contohnya. Tapi menurutku kurang menarik di bagian pemikiran filosofinya karena buku ini aku rasa lebih tepat materi filosofi ini diisi sama materi kepenulisan yang lebih detail.
saya menjadi paham berbagai kedalaman dan seluk beluk suatu cerita. ayu Utami dan Yulius mengungkapkan itu seperti Tuhan memperlihatkan tabir-tabir indah dibalik rahasia.
Judul Buku: Menulis Kreatif dan Berpikir Filosofis Penulis: Ayu Utami dan Yulius Tandyanto Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia ISBN: 9786024814496 (PDF)
Menulis kreatif yang didapat dari hasil riset, pengalaman, ataupun intuisi penulis, akan lebih berbobot dan memiliki makna jika dibarengi dengan menyertakan wawasan filosofis di dalamnya. Ayu Utami dan Yulius Tandyanto mengajak kita untuk memulainya dari sebuah paragraf yang mudah, bahkan random.
Diawali dengan bab “Tokoh dan Filsafat Manusia”, pembaca diajak untuk terlibat secara aktif dengan cara menuliskan sebuah paragraf. Apa saja yang terlintas di dalam pikiran, spontan dituliskan. Dari satu paragraf ini pembaca berkenalan dengan dua fondasi sebuah karya fiksi tercipta, yakni: tokoh dan tegangan.
Ternyata dari satu paragraf yang dibuat secara random tadi, mampu dikembangkan menjadi sebuah tulisan utuh yang di dalamnya terdapat 4T: Tokoh, Tegangan, Tema, dan Tempat. Dengan memakai analogi permainan CiLukBa, sebuah tulisan dikatakan lengkap jika meliputi ketiga hal ini. (Ci) yang merupakan pembuka, (Luk) bagian tengah/isi, dan (Ba) konflik cerita.
Penjabaran yang lengkap yang disertai dengan penjelasan filosofi dari para filsuf dunia, menjadikan sebuah tulisan yang padat makna, masuk akal, dan dapat dinikmati pembaca. Selain tokoh, tegangan, dan unsur-unsur lainnya, seorang penulis tidak melupakan gaya bahasa yang disesuaikan dengan sudut pandang tokohnya.
Menurutku, buku ini sangat “berdaging”. Mengupas tuntas penulisan kreatif yang disertai pemikiran filosofis yang tampaknya berat, tetapi sebetulnya sangat layak dicoba. Di setiap bagiannya, penulis memberikan jeda bagi pembaca untuk berlatih dengan memberikan kolom catatan kosong. Ibarat seorang guru yang sedang mengajar kepada murid, bagian-bagian yang dianggap perlu perbaikan, dibubuhkan catatan yang menyerupai tulisan tangan. Buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin belajar menulis lebih baik lagi.