Jump to ratings and reviews
Rate this book

5 cm : Aku , Kamu , Samudera dan Bintang - bintang

Rate this book
Ia di sini sekarang, perjalanan pulang setelah Mahameru—Perjalanan Hati—puncak tertinggi Jawa, dan segala tentangnya. Alih pandangnya sekarang melihat jendela kereta

Matarmaja yang melaju membawanya pulang menuju Jakarta. Pejaman mata dan tarikan nafasnya, seakan mencoba menjawab segala pertanyaan besar yang terus memenuhi benaknya semenjak kemarin Ranu Kumbolo hilang dari pandangannya. Pertanyaan-pertanyaan yang bukan dari siapa-siapa, tetapi dari dirinya sendiri.

Teruntuk yang tidak lain adalah diriku sendiri... Zafran, manusia paling idealis, humanis, dan fantastis… Manusia paling keren di tongkrongan ini…

Sebenarnya, untuk siapa kamu melakukan semua yang ingin kamu lakukan di dunia ini?
Untuk kebahagiaan diri kamu? Atau untuk kebahagiaan orang lain?
Apakah kamu seorang manusia yang hanya hidup untuk ngabis-ngabisin waktu aja? Celingak-celinguk, berbagi tanah, air, dan udara, namun tanpa tujuan. Menjadi manusia hanya untuk menuh-menuhin bumi, ngabisin airnya, ngabisin oksigennya. Hanya menjadi seonggok daging yang bisa berbicara, berjalan, dan punya nama—tanpa punya makna?

Apakah kamu telah menjalani hidup yang kamu mau? Hidup yang kamu inginkan?
Bukan yang orang lain inginkan dari kamu? Apakah kamu mencintai diri kamu sendiri?
Apakah ada seseorang yang kamu cintai, lebih dari kamu mencintai diri kamu sendiri?
Adakah cintamu yang terbalas? Atau mungkin tak terbalas? Atau ada yang begitu
mencintaimu, tapi kamu tidak bisa membalasnya.

Pernahkah kamu mengalami kesedihan yang luar biasa dalam hidup kamu?
Pernahkah kamu mengalami kebahagiaan yang luar biasa dalam hidup kamu?
Apakah kamu hidup dalam ketakutan-ketakutan kamu? Atau dalam harapan-harapan kamu?
Apa yang harus kamu perbuat?

Zafran termenung sejenak, namun beban pertanyaan yang baru saja menghunjam itu terasa ringan saat di bangku kereta, tak jauh darinya, ia melihat Genta, Riani, Ian, Arial, dan Dinda tersenyum kepadanya.

516 pages, Paperback

Published August 21, 2020

60 people are currently reading
492 people want to read

About the author

Donny Dhirgantoro

5 books294 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
72 (37%)
4 stars
52 (27%)
3 stars
52 (27%)
2 stars
10 (5%)
1 star
6 (3%)
Displaying 1 - 30 of 46 reviews
Profile Image for Rezza Dwi.
Author 1 book277 followers
August 30, 2020
I got mix feeling after reading this book.


_____________________________
3,5 bintang pembulatan ke atas.

Kalau kubilang, seri ini tuh kayak temenku sendiri yang punya kekurangan ini-itu, tapi tetep jadi dirinya sendiri. Masih kayak gitu. Tulisannya masih begitu. Memang lebih rapi dikit daripada buku pertamanya (yang kalimatnya banyak berantakan), tapi ciri khas penulisnya masih sama. Masih idealis, humanis, realistis~ eaaak xD

Kalau buku pertama lebih banyak bahas gimana lima orang ini "melihat" ke luar, ke sekitar, sedangkan di buku kedua ini lebih banyak membahas konflik dari diri mereka sendiri, konflik dari dalam yang lebih personal.

Setelah perjalanan di buku pertama, persahabatan kelima orang ini diuji di buku ini. Zafran, Riani, Genta, Ian, Arial punya masalah masing-masing yang begini-begitu, yang sering banget kejadian di kehidupan kita sendiri, relate sekali. Buat yang kangen cerita jalan-jalannya mereka, tenang... di sini juga mereka pepergian lagi xD

Masih inget ada beberapa bagian yang ganggu. Apalagi bagian repetitif kalimatnya, itu lagi-itu lagi, duh rasanya ingin aku skip aja /heh terus ya masih sama, masih banyak ketinggalan dialog tagnya. POV serba tahu, dan beberapa holes juga.

Tapi, terlepas dari itu semua... buku ini masih berhasil membekas buatku. Bikin banyak mikir. Sempat baper juga di beberapa bagian tertentu. Tetiba keinget kehidupan diri sendiri, temen sendiri, pilihan diriku sendiri, pandanganku sendiri.

Overall, aku seneng bisa baca buku ini. Buku ini terasa dekat.
Profile Image for Ann.
87 reviews17 followers
September 3, 2020
Sesungguhnya saya tak pernah memberikan bintang 1 untuk sebuah buku. Biasanya kalo gak sreg langsung DNF sih. Tapi mencoba bertahan di buku ini karena penasaran, bagaimana sih kelanjutannya? Adakah pandangan saya yang berubah pada buku ini setehal membaca buku pertama bertahun-tahun yang lalu?

Kisah 5 Cm dirayakan sebagai kisah persahabatan sejati, makna sebuah mimpi, indahnya alam Indonesia, dan rasa nasionalisme. Yang setelah saya baca novelnya, saya tidak menemukan keempat aspek tersebut.

Saya pernah membaca/menonton kisah persabatan yg lebih mengena di hati. Saya pernah membaca novel yg penulisnya mampu mendeskripsikan bentang alam dengan begitu indahnya. Saya pernah membaca/menonton kisah yg lebih intens dalam menyajikan perjalanan para tokohnya dalam menggapai mimpi mereka. Dan yang paling penting, rasa nasionalisme dalam buku pertama dan buku kedua ini tak lebih dari nasionalisme simbolis saja menurut saya. Dengan segala pengalaman membaca yg sudah saya lalui, novel ini terasa standar dan biasa saja.


[MIGHT CONTAIN SPOILER]

Gaya penulisannya? Not my cup of tea.
Di bagian awal ini mengisahkan Zafran yg bercakap dg dirinya sendiri perihal quarter life crisis. Namun cara penyampaiannya dan tulisannya terkesan belibet sendiri. Diulang-ulang dan tidak efisien.

Karena ini buku kedua, maka menceritakan lanjutan kisah tentang Zafran, Genta, Riani. Mengecewakan. (Ya ini subjektif memang, karena bergantung pada ekspektasi pribadi) but please, I've read a tangled love story which written even better than this lho ya. Penulis kurang mengeksplorasi dalamnya emosi dari tokoh-tokohnya. Seharusnya, Genta lebih dieksplorasi lagi sakit hatinya. Riani lebih dieksplorasi lagi cintanya ke Zafran. Zafran pun bisa dieksplorasi lagi kebimbangannya dia saat memilih persahabatan atau cinta. Karena kurangnya eksplorasi ini, plotnya jadi biasa saja. Konfliknya jadi biasa saja. Closurenya jadi biasa saja. Kisahnya biasa saja. Perjalanan menjelajah alamnya juga biasa saja. Tidak ada yang istimewa.
Profile Image for Febrina Erwanto.
Author 1 book6 followers
September 25, 2020
*MUNGKIN SPOILER*

Dua bintang karena (i) bagian Zafran-Riani yang manis; dan (ii) cela-celaan lima sahabat ini yang kocak dan natural.

Tapi, kenapa penulisannya seolah-olah buku ini enggak punya tiga editor? Mulai dari enggak ada dialog tag, paragraf yang tiba-tiba masuk ke dalem dan typo yang lumayan jumlahnya.

Yang paling ganggu aku banget ya time line-nya, sih. Buku pertama settingnya di 2005, kan. Buku kedua ini ceritanya tepat setelah turun Mahameru jadi mestinya setingnya masih ada di 2005, tapiiii... tiba-tiba pas turun kereta mereka ada di tahun 2020! Apakah kereta itu mesin waktu?

Cuma memang ya persahabatan berlima ini hangat banget. Zafran-Riani juga bego-manis-lucu gitu, jadinya ditahan2 baca sampai akhir.
Profile Image for Mr Fandi.
20 reviews2 followers
September 9, 2021
Judul : 5CM. Aku, Kamu, Samudera dan Bintang-Bintang
Penulis : Donny Dhirgantoro
Jumlah Hal : 499 Hal
Penerbit : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Tahun Terbit : Juli 2020

Donny Dhirgantoro merupakan penulis Best Seller dari Novel 5 CM sebagai buku pertamanya, ini merupakan buku sekuel kedua dari 5 CM yang melanjutkan kisah perjalanan lima persahabatan (Arial, Genta, Iyan, Riani dan Zafran) yang sangat luar biasa mencintai negerinya dengan melakukan tradisi upacara bendera di tempat-tempat yang indah di miliki oleh Indonesia pada tanggal 17 Agustus.

Penulis kembali mengeksplore kepiawaiannya di dalam buku sekuel 5 CM, latar daerah yang diambil kali ini adalah Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa. Pertualangan kisah 5 sahabat kembali menarik untuk di ikuti, sungguh kisah yang menginspirasi terutama untuk diri saya pribadi.

Cerita dimulai dari perjalanan kepulangan lima sahabat dari mahameru menuju jakarta, berlanjut perjalanan cerita dari masing-masing tokoh yang berjuang untuk meraih impian mereka. Semua impian itu tetap mereka letak didepan dahi mereka jarak 5 cm menggantung, mengambang diudara agar mereka selalu ingat akan cita-cita yang harus diperjuangkan.

Satu hal yang menarik perhatianku dalam membaca buku ini, penulis juga membuatkan sebuah trik dalam dunia kepenulisan yang dilakukan zafran dalam mewujudkan impiannya. Ini bagian yang paling seru dan paling ku nikmati, mungkin beberapa masukan dan nasehat dari penulis bisa ditiru dalam kegigihan seorang zafran untuk memperjuangkan impiannya menjadi seorang penulis.

Cerita novel dengan tema persahabatan dan kecintaan anak negeri terhadap tanah air indonesia tercinta, pesan nasionalisme yang disampaikan penulis untuk generasi muda saat ini agar bisa dicontoh dalam menatap indonesia lebih baik kedepannya dengan memperjuangkan setiap mimpi menjadi kenyataan.

Novel 5 CM "Aku, Kamu, Samudera dan Bintang-Bintang" Sangat recommend banget untuk para pecinta dunia literasi dalam menambah koleksi kepustakaan di rumah kalian.
Profile Image for Ayu Istiyani.
94 reviews6 followers
September 14, 2025
Love Hate sama buku ini.
Di awal penulisan, diceritakan Zafran yang sedang berdialog dengan minime perihal life quarter crisis. Tapi cara penyampaiannya terkesan belibet dan banyak sekali pengulangan.

Ide cerita sebenarnya bagus. Ending buku pertama yang terkesan terburu-buru, diceritakanlah disini. Setelah Mahameru, mereka berlima mulai sulit untuk bertemu. Berbagai permasalahan mulai datang, Genta yang mulai sibuk dengan proyeknya, Ian dengan kesedihannya ditinggal papanya, Riani harus ke New York selama setahun, Arial mulai sibuk dengan pernikahannya, Zafran yang berkutat dengan tulisannya.

Genta yang di sini sebenarnya masih patah hati karena malam Ranu Kumbolo, rasanya seperti kurang dieksplor, karena saya tidak bisa ikut merasakan patah hatinya. Zafran juga, seingat saya di buku pertama dia tidak terlalu memperhatikan Riani, dan cenderung flirting ke Dinda (cmiiw), tapi disini seakan-akan dia secepat itu jatuh cinta ke Riani. Juga Riani yang jatuh cinta ke Zafran, menjadi pengagumnya, saya juga kurang bisa merasakan apa yang sebenarnya membuat Riani secinta itu ke Zafran. Di Epilog suratnya Riani ke Zafran juga agak bertele-tele, dan gimana ya, kenapa jadi labil Riani? 😭

Perjalanan mereka ke Nusa Tenggara agak bisa termaafkan, karena bisa membuat pembaca ikut merasakan berpetualang. Namun lagi-lagi, kenapa timeline dengan buku pertamanya agak kacau?
Entahlah 😭
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
August 24, 2020
** Books 95 - 2020 **

3,4 dari 5 bintang!

Review to be continued

Terimakasih Gramedia Digital Premium atas Peminjaman Bukunya!
Profile Image for Imam Rahmanto.
149 reviews8 followers
November 10, 2020
Saya tidak bisa memberikan banyak bintang untuk buku ini. Berbeda dengan buku pertamanya. Mungkin, keinginan untuk "mengulang" sesuatu yang membuat buku sebeluknya laku, tak begitu bekerja untuk saat sekarang.

Klimaks cerita juga sepertinya tak begitu jelas. Saya menamatkannya hanya penasaran seperti apa kisah akhir Zafran-Riani. Bagi saya, mungkin kisah antara keduanya lebih keren untuk digali lebih dalam. Yang ada, malah perasaan campu-aduk-diam-gejolak-bingung yang sama sekali membuat saya ikut-ikutan bingung membacanya.

Barangkali, percakapan yang mengalir diantara sahabat-sahabat ini cukup bagus. Sayangnya, banyak hal yang terkesan dipaksakan untuk masuk di dalamnya.

Hal paling mengganggu saya adalah dimensi waktunya. Jarak antara Mahameru dan Kenawa hanya berselang setahun. Kisah di Mahameru (yang terbit 2005) sama sekali tak mencantumkan berbagai perkembangan teknologi, medsos, dan hal-hal yang menyertainya. Nah, ini kok dalam cerita ini tiba-tiba banyak seputaran medsos, komunikasi WA, dan istilah-istilah yang lazim dipakai dalam timeline medsos? Bagi saya, dimensi waktu ini agak mengganggu.

Seolah-olah sekuel ini dipaksakan untuk ditulis (demi mengikuti perkembangan zaman). Jadinya, timeline cerita jadi kacau. Kalau mau konsisten, seharusnya sih memakai gaya yang lama saja.

Kalaupun memang dianggap bahwa timeline waktu di dalam dunia Zafran beda dengan dunia nyata, bagi saya, rentang setahun itu tetap teramat cepat perbedaannya. Tahun itu kita belum familiar dengan WA, medsos, dsb. Untuk perkembangannya saja butuh waktu sampai 1 dekade untuk sampai ke zaman seperti ini. Kacau sih, menurut saya.

Terakhir, surat Riani sangat panjang dan bertele-tele menjelaskan perasaannya. Saya sendiri tidak bisa menyimpulkan apa alasan Riani menolak Zafran (untuk sementara). Bingung.
Profile Image for Karina.
10 reviews6 followers
October 27, 2020
3,5/5

Jujur ada satu hal yang mengganggu sekali dari sekuel 5 cm ini. Di buku pertama, waktu mereka mendaki ke Mahameru latarnya masih di sekitar tahun 2005-an sedangkan di buku ini ketika mereka sedang di kereta api menuju perjalanan balik ke Jakarta (pulang dari Mahameru), tiba-tiba latarnya berubah jadi tahun-tahun saat ini (2019 atau 2020-an). Saya tidak mengetahui apa tujuan penulis hingga tiba-tiba latar waktunya menjadi berubah. Apakah mungkin penulis ingin membawa pembaca agar lebih 'relate' dengan situasi dan kondisi saat ini, dibanding situasi 15 tahunan lalu?

Secara konflik jauh lebih kompleks dibandingkan dengan buku pertama—terutama bagian Quarter Life Crisis yang dialami oleh 'mereka berlima'. Tulisannya menurut saya lebih baik dibandingkan dengan buku pertama. Dialog maupun jokes-nya renyah dan natural hingga berkali-kali bikin saya ngakak—walaupun, ya beberapa ada yang garing juga.

Namun, seperti di buku pertama— beberapa penggalan lagu yang menurut saya kurang penting malah lagi-lagi harus dicantumkan. Beberapa kalimat juga terkesan banyak yang diulang-ulang, membuat buku ini jadi tebal—500an halaman.

Overall, buku ini cukup menghibur untuk yang sedang butuh bacaan ringan.
Profile Image for Muhammad Edwin.
453 reviews17 followers
October 25, 2020
"Hanya mimpi dan keyakinan yang bisa membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya."

Aku kasih 2 bintang karena ada hal-hal yang aku kurang suka, agak ganggu, dan kesannya hanya untuk mempertebal buku aja. Berikut diantaranya:
 · Banyak kutipan yang diulang-ulang dari buku pertamanya. Itu juga gak hanya muncul sekali, tapi sering dan panjang-panjang.
 · Banyak kutipan terkenal atau cerita terkenal (salah satunya dari buku Tenggelamnya Kapal van der Wijck).
 · Banyak lirik lagu yang dimasukkin. Ini gak usah banget.
 · Banyak dialog-dialog yang cringe banget. Mungkin nulisnya barengan sama buat script filmnya.
 · Banyak obrolan di group WhatsApp yang meh.
 · Banyak becandaan yang nggak lucu.
 · Banyak yang hiperbola. Kelewatan ini mah hiperbolanya.
 · Bahkan di akhir bukunya aja ada pengulangan cerita terlebih dahulu.

Untuk cerita sebiasa aja ini, ini terlalu banyak. Too much.

Lumayan suka sama cerita perjalanan di 150 halaman terakhir. Ya itu pun dengan 'banyak' hal-hal di atas. Oh iya, ini latar waktunya bagaimana sih kaga jelas banget sama buku yang pertama.
Profile Image for Haqi Zou Fadillah.
48 reviews1 follower
December 30, 2020
Naratornya lebih sibuk jadi motivator daripada seorang pencerita. Tebal novel 500an halaman yang lebih banyak berisi dialog-dialog enggak penting - sangat melelahkan untuk dibaca. Logika garis waktu antara buku 1 dan 2 terasa aneh. Buku 1 terbit 2005. Buku 2 yang merupakan lanjutan ketika mereka pulang dari Mahameru tiba-tiba ada di tahun 2020. Endingnya? Aduh kenapa mesti mengulang dari BAB sebelumnya?
Sebuah sekuel yang mengecewakan!
Profile Image for Christhalia Rizky.
67 reviews1 follower
October 30, 2020
Kalau menurut saya pribadi, 5 CM Sekuel ini tidak seseru 5cm buku pertama. tapi, overall saya enjoy this book. keep writing!
Profile Image for Taufik Hidayat.
17 reviews
March 7, 2022
Baca 10 halaman pertama, dalam hati, "anjir enak bangat nih bacanya, berasa nyastra benget."

DNF langsung.
Profile Image for LelakiJingga.
20 reviews
May 18, 2025
Butuh waktu berbulan-bulan bagi saya untuk menyelesaikan buku gila ini, awal cerita pembaca sudah dikasih pertanyaan-pertanyaan tentang hidup yang bikin tambah stres, niat awalnya mau nyari bacaan yang ringan-ringan tapi kok masih disuruh mikir sama mas Donny. Kalau dari sudut pandang saya banyak yang mau disampaikan tentang buku ini yang awalnya saya hanya mau ngasih rating bintang 1 tapi ujung-ujungnya tetap ngasih rating 4.

Pertama, saya merasa buku ini hanya mengembangkan kisah dari buku sebelumnya, tidak ada yang terlalu baru menurut saya, isinya lebih ke pengembangan karakter-karakter sebelumnya dan jujur terlalu banyak cerita yang diulang-ulang. Kedua, sama seperti buku sebelumnya pembaca masih disuguhkan dengan playlist-playlist si penulis yang menurut saya terlalu mamaksakan selera musiknya kepada pembaca. Ketiga, di pertangahan cerita penulis seperti menceritakan kesulitan pribadinya dalam membuat sebuah buku, yang harusnya ini jadi kesulitan tokoh Zafran, tapi tokoh Zafran jadi hilang ketika di bab ini, saya merasa itu adalah curhatan penulis bukan curhatan Zafran. Keempat, ceritanya mulai seru tapi sisa halaman di tangan kanan saya sudah sangat tipis, membuat akhir buku ini terkesan terburu-buru. Kelima, cerita tentang perjalanan mereka ini terlalu biasa menurut saya, tidak ada momen yang benar-benar mengaduk emosi, penggambaran tempat-tempat indah kurang mendalami dan terlalu banyak tempat, butuh waktu bagi saya untuk mengimajinasikan tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, penggambaran penulis sangat kurang menurut saya, yang membuat saya harus googling tempat-tempat tersebut, ini jadinya kayak lagi baca Wikipedia ya, yang mengarahkan kita ke artikel-artikel destinasi wisata.

Terakhir (ini yang paling menguras emosi) adalah ketika saya membaca surat dari Riani, loh isi suratnya kenapa begini ya? bukannya Riani sudah yakin sama Zafran tapi kenapa tiba-tiba berubah pikiran. Ini Riani kenapa jadi egois begini, lebih mencintai dirinya sendiri dengan alasan tidak bisa mencintai Zafran setulus Zafran mencintai seorang Riani..saya maki-maki Riani saat baca surat ini. Sebelumnya kan sudah ditulis, dua sahabat tidak seharusnya mengejar seorang perempuan yang sama, karena bila salah satu menang, maka keduanya kalah, TIDAK AKAN PERNAH TERJADI UNTUK SEORANG ZAFRAN DAN GENTA...tapi kenapa isi surat Riani begini? tadi malam saya sudah tidak ada semangat untuk melanjutkan membaca, padahal hanya tinggal beberapa halaman lagi..ini buku bagusnya dikasih bintang 1 saja. Ni, kamu sudah bilang kalau orangnya adalah Zafran di Ranu Kumbolo, yang pastinya itu mematahkan hati Genta, dan sekarang kamu mau mematahkan hati Zafran? wahhh, kalau endingnya seperti ini saya benar-benar kecewa sama karya mas Donny.

Tapi saya memutuskan untuk melanjutkan sisa halaman pagi tadi, dan ternyata ending dari cerita ini diluar dugaan saya, yang membuat saya tidak jadi marah-marah sama mas Donny yang sengaja bikin ceritanya kayak gini. Hahahahaha....... Nah gitu dong mas, jangan merusak imajinasi saya tentang kisah cinta Zafran dan Riani.

Sekian dari saya, terima kasih sudah membaca review yang amburadul ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Viri Shin.
165 reviews
March 15, 2022
Senang sekali akhirnya bisa menyelesaikan buku ini. Sudah 4 bulan, kurang lebih, saya baca buku ini dibarengi dengan kesibukan di real life. Ringan, tapi sedikit suka menyentil psikologi. Tepatnya pada bagian monolog Zafran dengan minime-nya, kadang bikin ketawa, kadang bikin gentar. Minime itu apa? Coba baca sendiri ahahaha.

Apa tanggapanku akan buku ini, adalah buku ini tetap membawa unsur petualangannya, seperti pada buku pertama. Saya kira kak Donny nggak akan membuat mereka pergi ke mana-mana lagi, tapi ternyata... Atau saya saja yang tidak tahu?? Maklum, saya tidak membaca sinopsisnya.
Saya sudah lupa bagaimana isi dari buku pertama, karenanya saya menilai terpisah saja dan fokus ke buku ini.

Bukan tipe saya:
1. Saya tidak suka dengan gaya menulis kak Donny yang terlalu banyak menggunakan elipsis. Saya tidak tahu apa urgensi beliau menggunakan tanda itu sebegitu seringnya, saya jadi agak kurang bisa menikmati jalan ceritanya karena sering kesulitan membayangkan nada bicara pada dialog antar tokohnya yang hampir memenuhi buku.

2. Saya agak tidak sreg dengan adegan mereka mengharu biru sampai air mata berjatuhan menikmati pemandangan surgawi yang disuguhi oleh Indonesia. Ini pure opini subjektif saya yang memang tidak terlalu bisa menikmati objek alam.

3. Sudut pandang yang tidak konsisten. Saya cukup kurang menyukainya karena membuat saya bingung, apalagi di bagian Zafran bermonolog sendiri, dan menasihati diri sendiri seakan-akan itu bukan Zafran. Seakan-akan sudut pandang mendadak diubah saat momen belum berganti. Ini alasan saya sampai sulit lanjut membacanya, padahal topik yang sedang direnungkan itu menarik, tapi terlalu sering berputar-putar.

Tipe saya:
4. Gaya penceritaannya. Ini membuat alur cerita menjadi sangat cepat, padahal saya bukan tipe yang menyukai alur dibuat cepat, tapi pada kasus ini saya menyukainya. Kak Donny dengan halus menuliskan adegan demi adegan tanpa banyak memperjelas latarnya sedetail mungkin. Itu mendukung cerita tidak terfokus pada objek-objek yang ditemui di jalan karena buka itu yang perlu dilihat. Bagus sekali.

5. Adil dengan tiap karakternya. Tidak mudah membuat nasib banyak tokoh dalam satu universe ke dalam satu buku. Apalagi, di sini ada 5 tokoh utama. Suka sekali dengan kekonsistenan penulis.

6. Walaupun pada poin 2 saya bilang kurang sreg, tapi dalam hati terdalam saya mulai merasa ada keinginan untuk overland juga hahaha. Jadi, penulis berhasil membuat Indonesia menjadi terlihat makin indah melalui bukunya.

7. Happy ending. Terima kasih telah membuat epilog yang membuat hati saya bahagia. Saya sudah bermuram durja dengan surat terakhir di dalam buku, tapi ternyata akhirnya menyatu lagi. Saya sangat bahagia.

Itu saja dari saya. Salam! ✌️
Profile Image for Rin.
Author 1 book17 followers
January 12, 2022
Bingung banget memberi penilaian pada buku ini. 3 kedikitan, 4 kebanyakan. Sebenarnya 3,5. Di antara. Tapi setelah kurenungkan (jiakh) lebih cenderung 3.

Satu hal fatal yang terjadi di buku ini: latar waktu. 5 cm (seingatku) adalah cerita tahun 2005, dan populer saat aku masih SD-SMP. Saat itu teknologi gak secanggih sekarang, belum ada whatsapp/chat/vidcall, gofood, dll... hp juga masih jadul banget. Tapi di novel sekuel ini ada hal-hal itu, seolah meloncat jauh ke sekitar 10 tahun kemudian, padahal katanya hanya selisih setahun dari perjalanan Mahameru. Suasananya sangat berbeda (mungkin penulis mau menyesuaikan waktu terbit? Who knows?).

Terlepas dari latar waktunya yang aneh, aku suka topik cerita yang menjelaskan dilema orang tahun 25 ke atas ini dengan sangat terbuka sesuai streotype masyarakat. Aku merasa cukup relate banyak hal dengan para karakter, terutama Zafran.

Menurutku juga perasaan emosi tiap karakter kurang hidup, banyak bagian yang lebih terkesan memberikan nasehat panjang (seperti baca nonfiksi) daripada sebuah cerita. Pada bab-bab awal aku merasa agak bosan karena konflik batin Zafran terlalu panjang, monoton, dan berulang meskipun ada beberapa kalimat yang membuatku berpikir, "oh iya juga ya...."

Aroma cerita ini masih terasa kocak tapi serius tapi aneh, khas 5 cm sebelumnya. Persahabatan yang begitu dekat dan menyenangkan, ditambah bumbu romantis yang bikin gemes. Serta mimpi dan cita-cita yang harus diperjuangkan dalam kehidupan. Perjalanan mereka juga cukup seru (bikin pengen ikutan), meski lebih menantang naik gunung Mahameru, sih. Hahahaha. Tapi tetap asik.

Well, lumayan. Cukup enjoy dibaca, banyak juga yang bikin merenung dan mikir kalau hidup tuh ya, emang begitu. Paling sering ngena percakapan Zafran Genta, seperti ini:

"Pertanyaannya, bisa gak lo...? Oke, bukan bisa atau nggak. Tapi, berani nggak lo? Lepasin impian-impian lo yang setinggi langit, yang hebat-hebat itu, untuk terus menjejak tanah realita lo...."

"Atau sebaliknya, berani nggak lo lepasin realita lo terus terbang ke langit untuk menggapai impian-impian lo?"

"Brengsek ya, Ta, hidup."

"Iya hidup emang brengsek... tapi indah... hahaha...."

Nice story, but just enough.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for M. Iqbal.
121 reviews1 follower
September 17, 2020
Sayang banget sama buku ini.. Sayang karena beberapa hal sederhana menurut gua jadi merusak mood. Sayang banget karena kesalahan-kesalahan kecil ternyata bisa merusak ekspektasi. Sangat disayangkan bahkan di awal-awal sangat terkesan berusaha "kekinian" yang ternyata malah bikin aneh :(

Pada akhirnya memang sayang.. sayang banget karena gua berusaha mengabaikan keburukan itu. Lanjuut aja terus baca. Meskipun sempet kesel dan ketunda sekian hari, akhirnya habis juga.

Daan.. yaa! gua emang tipikal yang selalu mencari sesuatu yang baik buat gua di antara keburukan. Yes, gua menemukan itu. Ada sesuatu yang magis dalam buku ini yang bikin gua merasa turut menjadi bagian dari "mereka". Ada suatu pendewasaan yang gua rasakan di tiap babnya :)

Andai saja buku ini terbit 5 atau 6 tahun yang lalu.. Gua pasti akan terpengaruh dan melakukan tindakan yang sama. Sayang, gua udah keburu menyesal dan sekarang gak tau harus gimana.

Itu poin plusnya dari buku ini.. Terakhir gua gak akan pernah lupa untuk berterima kasih. Terima kasih sama penulisnya karena telah melahirkan buku ini. Selamat!
3 reviews
January 8, 2026
sebenernya aku baca buku ini cuma karena pengen tahu kelanjutan Zafran-Riani doang, dan kayaknya authornya sadar betul sama kebutuhan pembacanya (atau setidaknya kebutuhanku).

menurutku, buku ini sebenernya nggak perlu sampai hampir 500 halaman. terlalu tebal karena kebanyakan narasi yang nggak terlalu penting dan bertele-tele. mungkin faktor Zafran lagi ada di fase quarter life crisis kali ya? jadi banyak yappingnya. saking panjangnya, aku sampai sering lompat-lompat halaman cuma buat nyari dialognya.

tapi buat pembaca yang sama kayak aku (yang intinya cuma pengen update hubungan Zafran dan Riani) buku ini tetap menyenangkan. Zafrannya tuh bego banget tiap ketemu Riani, nervous nggak jelas, gemes deh pokoknya.
Profile Image for Cellini Kamil.
89 reviews1 follower
June 20, 2022
Sukaaa tapi ya ada 2 poin yg menurut gue kurang sreg.

1. Kenapa setelah lebih dari 15 tahun buku pertama muncul, sekuel keduanya tuh diadjust ke tahun sekarang? Gue pikir sih expectnya bakal cerita kelanjutan mereka udh nikah, punya anak dll lah kok dr taun 2005 ke 2021 kocak aja gitu kayak freeze in time ya. Soalnya jarang novel sekuel kyk loncat time sekuelnya a bit weird

2. Too much info kayak dibagian kebapa penulia gitu, gini dll. Kayak lg ngerasa si penulis nih ngebahas dirinya sendiri instead of zafrab lol

Other than that ok lah jd inget jaman dl baca masih sma skr gue udh punya anak dan buku ini masih cukup menghibur
2 reviews
March 3, 2023
kalau menurut saya ya, ceritanya masih dapat feelnya tapi sayang sekali baru bisa didapat pas bab-bab akhir. sisanya terlalu banyak basa basi yang menurut saya agak kurang penting untuk alurnya, tapi bisa di skip saja sih sebenarnya. tapi saya peibadi memilih untuk lanjut membaca basa basi tersebut karena ada nya visualisasi yang tentu saja bawaan dari filmnya sepuluh tahun lalu, kalau saja ga ada filmnya dan saya ga bisa visualisasiin gimana mereka obrolannya yang penuh basa basi itu mungkin saya bakal melewati banyak lembar tanpa dibaca.

saya sarankan juga kalau bisa membaca buku ini sekalian diselingi dengan ost film 5 cm biar makin dapat feelnya
Profile Image for Karin.
174 reviews50 followers
January 10, 2021
people need to read this book so that y'all can also experience the the beguiling emotions--i am all over the places picking up my scaterred soul pieces that have been reborn.

the first half of the book guts my consciousness because almost every sentence is painfully at the same time beautifully real for me. the second half just taunts me to take holiday--or whatever holiday is as long as i am happy.

thank you, thank you, thank you. for being another life line i do not know i need for the rest of my life.
20 reviews
June 24, 2024
Kisah persahabatan mereka masih manis, tapi seperti buku pertamanya.. buku ini juga melelahkan untuk dibaca. Terlalu banyak percakapan di dalam kepalanya Zafran yg berulang lagi dan lagi. Dia mungkin sedang dalam quarter life of crisis, tapi pembacanya juga ikutan kena krisis ngebacain isi pikirannya itu, lol

Meskipun kalau udah ngobrol sama temen-temen sendiri, kita langsung masuk ke dunia sendiri yang asik banget tapi belum tentu orang paham.. tapi kalau dibuat jadi kisah bacaan orang umum, yang baca akan kesel sama percakapan whatsapp geng ini, yang gaje banget sih..

Ide kisahnya bagus, tapi untuk hasil tulisannya.. sepertinya nggak semua orang akan tahan sama gaya penulisan model begini..
Profile Image for Ruru Frans.
110 reviews1 follower
July 27, 2025
⭐3,75

Lanjutan dari 5 cm. dengan kisah lain dan makna lain. Mungkin diawal sampai tengah cukup membosankan buat aku. Namun, semua itu berisikan refleksi tiap masing-masing karakter: bagaimana mereka menjadi petangguh kehidupan; bagaimana menyelami kehidupan yang mendadak memberikan ombak besar perubahan; dan, bagaimana mengartikan kehidupan menjadi lebih indah dibandingkan sebelumnya. Di buku ini, setiap kehidupan karakter diulik lebih dalam. Terlihat bahwa setiap karakter tidak hanya "bersenang-senang" layaknya buku pertama, tetapi juga ada pedihnya dan ikhlasnya.
Profile Image for Fitria.
7 reviews
April 4, 2021
Buku ini bikin kangen sama 5CM.

Untuk alur ceritanya sendiri terlalu dipaksakan untuk kekinian. Mungkin ada jeda waktu yang lama untuk penerbitan 5 CM dan sekuelnya. Di sekuelnya ini saya merasa di bab-bab ditulis di rentang 2005 atau 2006 karena masih terasa setting 5 CM. Di beberapa bab terakhir mulai masuk setting tahun 2010-an nya. Mulai dari grup WA dan Tol Trans Jawa. Jadi agak membingungkan.

Secara garis besar buku ini menghibur, aku masih tertawa terbahak-bahak :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
2 reviews
January 30, 2022
Kalo ada yang bilang, pertemanan setelah SMA jadi lebih sedikit, ya ada benernya. Geng 5cm bertahun-tahun gaulnya sama lo lagi lo lagi. Begitu masing-masing udah sibuk sama dunianya, susah banget buat ngumpul atau cuma sekedar kirim2an stiker WA di grup. Kurleb kayak begitu geng 5cm pasca mahameru. Baca ini kayak dibawa ke kenyataan teman yg dulu gampang ditemui bisa mendadak berkurang dan menghilang tanpa ada konflik, dan itu ternyata menyakitkan
This entire review has been hidden because of spoilers.
2 reviews
January 31, 2022
Lagi-lagi novel ini membuatku merinding disko. Di session pertama novel ini membuatku bisa berani keluar dari zona nyaman. Dengan nuansa patriotisme yang bikin gak berenti nangis. Di session kedua kambali kita diajak untuk merenung tentang kita yang hidup di dunia orang dewasa. Tentang segala keresahan yang ada dengan default society yang enggak banget. Dan yang pasti selalu amazed dengan persahabatan lima makhluk ini.
Profile Image for Darren Lie.
9 reviews
June 7, 2025
Not as good as the first novel. Banyak repetitive phrases, unnecessary conversation yang membuat jadi bosan. Cerita tentang keindahan Indonesia sangat minim, padahal I think that's also one of the unique selling point from this book besides persahabatan. Isu persahabatan juga terlalu boring. But I managed to finish reading the book, though not as excited as the first book. Haha mungkin ini ekspektasi yang lebih tinggi karena sudah membaca buku pertama.
31 reviews3 followers
June 17, 2021
Dari beberapa kekurangannya, seperti latar waktu, kata2 yg terus diulang, dan masalah2 para tokohnya yg agak membingungkan, buku ini tetap menghibur dan bikin merenung. Suka banget sama tingkah polah Zafran dan Riani, ikut ngakak sama becandaan kelima sahabat ini, mewek juga di cerita2 sedih tiap karakter, dan jadi mupeng juga kalo baca pengalaman traveling mereka. Terasa dekat di hati. ❤️
Profile Image for flyingplatypi.
27 reviews
August 11, 2025
Love banget sama persahabatan mereka yang ga ada abis pikir. persahabatan mereka yang engga berhenti bikin ketawa dan bikin senyum2 sendiri. Apalagi Zahfran sama Riani bikin gemess banget. Gemes juga sama Zahfran dan Ian. Cara pembawaan ceritanya pun seru dan berhasil membuat pembaca merasakan perasaan2 mereka. Hanya saja memang typo dan salah penggunaan tanda baca cukup banyak.
Profile Image for laras.
18 reviews1 follower
December 21, 2020
Seperti membaca diary seorang penulis. Ditulis dengan jujur, gamblang, dan apa adanya. Gak neko-neko. Sakit jiwa sih ini novel. Sableng. Parah. Imajinasiku teraduk aduk. Makasih udah menyajikan saktinya Indonesia lewat narasi indah ini, Bang Donny!
1 review
January 26, 2021
i dont care. i enjoy the story. yang terpenting jangan sampai jadi kaya ketua ekskul puisi nya zafran. karna setuju banget sama bagian itu sih dan pandangan zafran pada suatu karya sastra. mari menulis! memajukkan karya sastra indonesia dan meningkatkan kemampuan literasi bangsa
Displaying 1 - 30 of 46 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.