50 keping fragmen yang ditulis Arman Dhani dalam buku ini adalah refleksi dari sebuah hubungan yang rumit sekaligus membahagiakan. Namun, cepat atau lambat, perpisahan itu pun datang pada akhirnya. Membuatnya menderita dari tempat yang jauh, eminus dolere. Sebelum terlampau menyesakkan, buku ini menawarkan sebuah jalan untuk mempersiapkan diri menuju perpisahan itu.
Awalnya dikira buku ini perkara pilu dan perpisahan, ternyata buku tidak punya cerita – hanya punya kata-kata lepas puja puji seorang hamba pada apa-apa yang menjadinya cinta.
Awalnya dikira buku ini perkara kisah patah hati dan bangkit lagi, lalu hal-hal yang terjadi di antara keduanya. Ternyata buku ini refleksi "male-engagement" yang menguatkan kesetaraan gender. Diam-diam dalam prosanya, Arman Dhani menyelipkan doa dan sajak "women empowerment".
Awalnya dikira buku ini membuka rahasia orang yang selalu menulis mengenai kesehatan mental di akun Mediumnya, ternyata tidak ada yang dia buka: semua masih rahasia milik memorinya sendiri.
Akhirnya, saya nikmati saja. Buku pertama 2021, berikut dengan catatan yang saya bawa untuk menguatkan awal jalan tahun ini, saya berjanji menjadi mantra setiap pagi bercerita pada cermin: "kamu gadis baik dengan banyak pesona. kamu bisa menari, bisa menulis, bisa berpikir dengan logis, namun di atas itu semua kamu bisa membuat orang yang ada di sekitar kamu merasa berharga"
Sejujurnya aku agak kebalik membaca Yang Ditulis Usai Berpisah terlebih dahulu, sebelum buku eminus dolere ini. Kebetulan karena beli bundling ketika pra pesan kemarin. Well, maksudku, setidaknya kalau aku membacanya berurutan, aku nggak ketinggian ekspektasi ketika membaca ini.
Bukan berarti eminus dolere jelek, aku tetap suka 50 keping tulisan pendek yang dibagi ke dalam 3 kategori besar ini (Bertemu, Bersama, Berpisah, dan 1 Epilog yang ditulis dari sudut pandang perempuan), hanya saja menurutku eminus dolere belum sematang buku terbarunya Yang Ditulis Usai berpisah. Ya, alasannya bisa jadi sederhana, karena buku ini terbit duluan, jadi mungkin ketika menulis yang baru sudah ada banyak pengembangan teknik menulis atau sebagainya.
Menurutku, meski buku ini sudah terbagi menjadi 3 bab besar, tetapi isinya tetap tumpang tindih. Arman Dhani bisa membicarakan apapun secara acak; mantan kekasihnya, kehidupan di Jakarta, kerinduan, perpisahan, hubungan percintaan, dan lain sebagainya. Formatnya pun berbeda-beda; cerita pendek --yang rupanya hampir sangat mirip seperti fiksi, sedangkan beberapa tulisan lain terbaca sebagai 'curhatan yang sangat nyata', dan sisanya surat, prosa pendek, dll. Ini tidak sefokus buku setelahnya yang memang merangkum catatan konseling menjadi satu --formatnya ya cuma satu juga, yaitu surat.
Selain itu, gaya bahasanya juga sedikit berbeda di eminus dolere ini. Beberapa bagian mendayu-dayu dan bukan my cup of tea. Meski demikian, harus kuakui bahwa masih ada beberapa tulisan yang tetap kusuka dan kemudian kutetapkan menjadi bagian terfavorit di buku ini: ada di halaman 161 dan 199. Untuk menghindari spoiler aku takkan menuliskan isinya di sini.
Well, overall, pada akhirnya aku akan menyematkan bintang 4 untuk eminus dolere. Mungkin saja sisa 1 bintangnya adalah ekspektasiku yang ketinggian jadi harus kandas. Tetapi itu tidak mengurangi kualitas bukunya. Sejauh ini, menurutku, ini hanya masalah selera.
Dari awal sampai pertengahan buku ini sejujurnya aku masih agak lambat menangkap alur ceritanya yang aku pikir mereka akhirnya sudah berpisah, tetapi pada cerita selanjutnya mereka kembali bersama dan kejadian ini berulang beberapa kali. Sampai di bab ketiga, "Berpisah" akhirnya mereka sudah tak lagi bersama.
Perasaan yang akhirnya pelan-pelan berhasil melepaskan orang terkasih bisa aku rasain di halaman-halaman terakhir. Ikut sedih. Selalu sulit melepaskan orang yang masih kita cinta, tetapi justru kadang hal tersebut yang membuat mereka bahagia, pada akhirnya.
Aku suka cover bukunya, sederhana tapi bermakna. Pun pada bagian belakang aku suka dengan kalimat, "panduan mempersiapkan perpisahan".
50 Fragmen yang ditulis Arman Dhani yang dibagi ke dalam 3 bagian : Bertemu, Bersama Berpisah ini begitu menyenangkan, saya seperti dipersilahkan masuk ke dalam hubungan percintaan yang rumit dari penulis. Kisah membahagian sekaligus tragis pada akhirnya diramu apik oleh penulis yang terkenal dengan tulisan sarkasnya, beberapa bagian begitu ngilu untuk diceritakan, beberapa bagian lagi begitu intim untuk dinikmati, kisah yang rumit ini harus dibaca perlahan, karena ini merupakan buku panduan mempersiapkan perpisahan.
Zaman remaja dahulu, kalau ingin ngetwit soal patah hati atau cinta-cintaan yang syahdu nan puitis, rujukan saya kalau tidak buku Layla and Majnun ya blog-nya Mas Dhani. Meski kala itu Dhani mungkin lebih dikenal sebagai penulis dengan gaya satir juga sarkastik, tulisan-tulisan dengan tema patah hatinya lebih saya gandrungi. Karenanya saya sangat antusias mengetahui Dhani sudah menerbikan dua buku dengan tema perpisahan.
Buku ini terdiri dari 50 fragmen: sebagian curahan hati, sebagian cerita pendek, sebagian seperti surat untuk seseorang, dan beberapa afirmasi positif. Dibagi kedalam tiga bab: Bertemu, Bersama, dan Berpisah. Meski saya rasa pembagiannya terasa dipaksakan, karena tema fragmen-fragmen tersebut tumpang tindih. Bahkan rasanya hampir semua fragmen tersebut lebih cocok dimasukan ke dalam bab Berpisah.
Terlepas dari pembagian bab yang terasa ganjil, saya sangat suka dengan tulisan-tulisan Dhani di buku ini. Terlebih karena gaya penulisannya yang beragam. Dhani sangat pandai memilih diksi dan merangkainya menjadi kalimat-kalimat yang syahdu, melodramatis, dan kadang jenaka.
Matamu adalah lautan pasang. Ia menenggelamkan pelabuhan-pelabuhan kenangan yang gagal diselamatkan. (hal.109)
Tapi cinta, seperti juga ukuran snack Top yang tiap hari mengecil, barangkali adalah kerumitan yang lain. (hal. 61)
Serupa kegembiraan malam tahun baru. Ia ingar bingar yang menyenangkan tapi mustahil untuk terjadi selamanya. (hal. 130)
Aku lelaki brengsek yang barangkali lebih menyebalkan dari ban motor gembos di tengah malam... (hal. 134)
Nasib bukan potongan jahe yang kamu kira rendang... (hal. 147)
Salah satu bagian yang saya suka adalah fragmen #13 dalam bab Bertemu. Saya suka dengan gaya penulisannya. Tokoh wanita dalam cerita tersebut "keluar" dari naskah dan tawar-menawar soal kelanjutan ceritanya dengan si penulis.
Saya juga suka fragmen #3 dalam bab Bersama. Alasannya sentimentil: karena saya sempat mengadu nasib di Kota Jakarta, meski tidak lama. Berdesak-desakan di gerbong kereta, bergelantungan sambil menahan kantuk. Duduk di kursi belakang TransJakarta, kedinginan karena AC-nya disetel kelewat kencang.
Meski mungkin masa-masa patah hati dan cinta yang menggelora sudah lewat, saya tetap bisa menikmati buku ini. Sekalipun temanya tentang perpisahan, saya sesekali tersenyum membacanya—teringat episode-episode kasmaran, pacaran, dan patah hati yang telah lalu. Lewat tulisannya, Dhani seolah mewakilkan apa yang (mungkin) pernah kita rasakan.
Berisi 50 keping fragmen yang ditulis oleh Arman Dhani. Terbagi menjadi 3 bab: Bertemu, Bersama, dan Berpisah. Keseluruhannya adalah ungkapan sudut pandang seorang laki-laki dari mulai bertemu hingga berpisah pada akhirnya. Ada keping bagaimana penulis menitipkan mantan pasangannya kepada pasangannya yg baru, haru ku pikir. Serta eloknya salam perpisahan yang disampaikan penulis pada keping terakhir.
Ternyata tidak hanya itu, ada bagian paling akhir: epilog. Berisi bagaimana sudut pandang perempuan merespon atas perpisahan yg memang seharusnya terjadi.