What exactly do vegans believe? Why has veganism become such a critical and criticized social movement, and how does veganism correspond to wider debates about sustainability, animal studies, and the media? Eva Haifa Giraud offers an accessible route into the debates that surround vegan politics, which feed into broader issues surrounding food activism and social justice.
Giraud engages with arguments in favor of veganism, as well as the criticisms levelled at vegan politics. She interrogates debates and topics that are central to conversations around veganism, including identity, intersectional politics, and activism, with research drawn from literary animal studies, animal geographies, ecofeminism, posthumanism, critical race theory, and new materialism. Giraud makes an original theoretical intervention into these often fraught debates, and argues that veganism holds radical political potential to act as “more than a diet” by disrupting commonplace norms and assumptions about how humans relate to animals. Drawing on a range of examples, from recipe books with punk aesthetics to social media campaigns, Giraud shows how veganism's radical potential is being complicated by its commercialization, and elucidates new conceptual frameworks for reclaiming veganism as a radical social movement.
Buku ini unik karena membahas suatu gerakan vegan dan dinamika sosialnya. Jadi, Veganisme didefinisikan mengarah pada gaya hidup di mana seseorang menghindari konsumsi dan penggunaan produk hewan serta turunannya. Julukannya adalah vegan/vigen, hal ini memang mengikuti diet yang terdiri dari makanan yang berasal dari tumbuhan, seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan, dan tidak mengonsumsi daging, ikan, susu, telur, atau produk hewani lainnya. Selain itu, vegan/vigen juga menghindari penggunaan produk yang melibatkan eksploitasi hewan, seperti kulit binatang, bulu, dan produk uji coba hewan.
Motivasi di balik veganisme dapat beragam, termasuk kesejahteraan hewan, lingkungan, dan kesehatan.
Sebagai bahasan yang paling menarik dibahas diawali dari : 1. Pertanyaan apakah veganisme dapat menjadi titik awal dalam memahami kompleksitas sistem pangan ? 2. Apakah praktik vegan dapat melampaui perdebatan etika makanan yang ada untuk terlibat dalam restrukturisasi sistem tersebut ? Jadi, Restrukturiasi adalah proses mengorganisasi kembali atau mengubah struktur yang ada dalam suatu sistem atau organisasi.
Pertanyaan-pertanyaan dalam buku ini melibatkan : politik lingkungan, ketidaksetaraan manusia, dan implikasi sosial dan budaya dalam mempertimbangkan kembali hubungan manusia dengan makhluk lain.
Debat tentang hubungan antara veganisme dan masalah sistemik telah menghasilkan pendapat yang beragam. Beberapa teoretikus budaya mengkritik anggapan bahwa veganisme secara universal dapat mengurangi kerusakan, menggambarkan praktik vegan sebagai politik yang terlalu sederhana, individualistik, dan moralistik yang hanya fokus pada makanan. Mereka berpendapat bahwa di bawah sistem kapitalisme, tidak ada konsumsi yang benar-benar etis.
Namun, penelitian lain menawarkan argumen yang berbeda. Meskipun tidak ada konsumsi yang sepenuhnya etis, pandangan ini sering kali menghambat pertanyaan lebih sulit tentang bagaimana memperbaiki kerusakan yang mempengaruhi manusia dan hewan. Penelitian ini mengakui masalah dalam veganisme tetapi menyajikan argumen yang rumit. Salah satunya adalah bahwa penekanan pada ketidaketisan konsumsi dapat menjadi alasan untuk tidak melakukan apa pun, karena takut akan hipokrisi. Para pemikir ini menawarkan narasi alternatif untuk melampaui impasse tersebut.
Dalam konteks ini, diskusi tentang veganisme menjadi lebih luas dan kompleks. Penting untuk mempertimbangkan dampak sistemik dan ketidaksetaraan yang melibatkan manusia dan hewan dalam merumuskan pendekatan terhadap sistem pangan. Meskipun tidak ada solusi sempurna, pemikiran yang lebih luas dan kerangka kerja alternatif dapat membantu mengatasi kerusakan yang ada.
Buku ini membahas tentang bagaimana veganisme dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kompleksitas hubungan antara manusia dan hewan non-manusia melalui aktivisme vegan. Penelitian menunjukkan bahwa veganisme, dalam praktiknya, sering kali memberikan pemahaman yang lebih luas terhadap kompleksitas tersebut,selain itu juga dapat mengevaluasi sejauh mana veganisme dapat membuka wawasan terhadap masalah lebih luas dalam hubungan manusia-hewan dengan melibatkan gerakan aktivis. Inisiatif-inisiatif ini mencakup perubahan pola makan dan etika vegan yang lebih luas daripada sekadar diet. Beberapa gerakan ini mengembangkan narasi kompleks yang menghubungkan penindasan manusia dan hewan, atau mencoba menciptakan praktik dan infrastruktur alternatif untuk merespons penindasan yang ada.
Meskipun diakui adanya masalah dalam veganisme, bab ini tidak hanya memuji praktik etiko-politik vegan tanpa kritik, tetapi juga mengakui sifat yang kompleks dari aktivisme itu sendiri. Fokusnya adalah bagaimana gerakan-gerakan tersebut menghadapi kompleksitas dalam praktiknya.
Bab ini juga membahas tentang aktivisme yang menyoroti penderitaan hewan untuk mengubah kesadaran dan pendekatan alternatif yang mengungkap struktur dan klasifikasi yang memperlakukan hewan sebagai sumber daya. Selain itu, aktivisme basis rakyat juga dieksplorasi sebagai upaya untuk menciptakan infrastruktur-alternatif. Sebelum membahas gerakan-gerakan spesifik, bab ini memberikan konteks tentang sejarah dan lanskap politik yang terkait dengan aktivisme vegan.
Penelitian tentang aktivisme vegan dalam berbagai bentuknya telah muncul selama dua dekade terakhir. Ini meliputi kampanye kesadaran yang diluncurkan oleh LSM besar seperti PETA, aktivisme gaya hidup sebagai bentuk aktivisme sehari-hari, dan praksis politik vegan dalam gerakan sosial. Veganisme sering berada di antara gerakan sosial terorganisir dan aktivisme budaya sehari-hari di luar ruang yang dikodekan sebagai aktivis.
Veganisme dapat berperan sebagai "lebih dari sekadar diet" dengan mengganggu hubungan manusia dengan makhluk lain secara holistik. Meskipun kritikus sering menggambarkannya sebagai normatif, penelitian sosiologis menunjukkan posisi kontra-hegemonik veganisme terhadap cara makan normatif yang sudah ada. Veganisme juga merupakan bentuk aktivisme sehari-hari yang menantang konsumsi daging dan "carnism" yang diideologisasi secara alami. Nilai-nilai yang dikaitkan dengan daging, seperti kekayaan, maskulinitas, dan formasi sosial kolonial, juga dipertanyakan.
Namun, veganisme tidak secara intrinsik melawan penindasan lainnya. Aktivisme vegan yang mencoba menjalin hubungan dengan penindasan lainnya memiliki tujuan dan cakupan yang heterogen, dan kadang-kadang tidak berhasil. Aktivisme vegan bisa berarti berbagai hal dalam konteks aktivis. Veganisme dapat menjadi identitas bagi aktivis hewan atau bahkan bagian dari repertoar protes mereka. Ini mencerminkan dunia yang diinginkan oleh para aktivis.
Kompleksitas hubungan antara veganisme dan aktivisme hewan hanya merupakan bagian dari cerita yang lebih besar. Veganisme juga berhubungan dengan identitas kelompok aktivis lainnya, terutama dalam politik lingkungan. Namun, di beberapa konteks, veganisme dituduh sebagai cara eksklusif untuk membatasi anggota dalam kelompok gerakan radikal. Di sisi lain, veganisme juga terkadang diabaikan oleh gerakan lingkungan utama. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hal ini mulai berubah dengan munculnya gerakan iklim baru.
Sejarah aktivisme hewan yang lebih luas juga mempengaruhi bentuk kontemporer veganisme. Perbedaan antara praktik vegan dan kelompok welfaris memiliki akar dalam sejarah aktivis hewan Victoria. Perbedaan ini muncul ketika gerakan aktivis hewan Victoria Street Society yang pertama kali didirikan pada akhir abad kesembilan belas membagi menjadi kelompok welfaris dan kelompok penghapusan viviseksi (Pembedahan makhluk hidup (Vivisection) adalah operasi bedah yang dilakukan pada mahluk hidup untuk tujuan penelitian ilmiah).
Konteks aktivisme vegan yang kompleks ini memperluas cakupan veganisme sebagai bagian dari gerakan hak hewan dan pembebasan hewan. Namun, veganisme juga merupakan identitas dalam kelompok aktivis lainnya, serta berkaitan dengan politik lingkungan. Ini menggambarkan bahwa veganisme memiliki peran yang lebih luas dalam aktivisme daripada sekadar hak hewan.
Aktivisme vegan sulit untuk didefinisikan dengan jelas. Meskipun kompleks, aktivisme ini sering menggunakan taktik mengungkapkan apa yang biasanya tersembunyi oleh struktur sosial, ekonomi, atau budaya. Politik visibilitas menjadi prinsip inti dalam aktivisme hewan dan aktivisme vegan. Sejarah aktivisme hewan menunjukkan adanya hubungan antara aktivisme vegan dengan aktivisme lainnya, seperti gerakan anti-viviseksi.
Sebagai contoh, pada periode Victoria di Inggris, gerakan hak hewan muncul dan terkait dengan isu-isu politik lain seperti hak suara perempuan. Dalam konteks ini, dua mahasiswa, Louise Lind af Hageby dan Leisa Schartau, mengungkap penggunaan viviseksi melalui kelas fisiologi di University College London. Hal ini menghasilkan buku dan menjadi perdebatan yang besar dalam gerakan hak hewan. Bahkan, peristiwa ini memunculkan Brown Dog Affair, di mana didirikan patung anjing cokelat kecil sebagai penghormatan terhadap hewan-hewan laboratorium.
Meskipun teknologi media telah berubah, taktik mengungkapkan yang tersembunyi tetap menjadi bagian penting dalam aktivisme hewan, termasuk aktivisme vegan. Meskipun aktivisme vegan memiliki ciri khasnya sendiri, penting untuk mengakui tumpang tindihnya dengan aktivisme hewan lainnya. Aktivisme vegan dapat memberikan kontribusi dalam melihat masalah sistemik dan menjadi bagian dari perubahan sosial yang lebih luas.
Penulis adalah teoretis budaya dan teoretis kritis yang mengkaji aktivisme dan teori non-antroposentris. Ia juga seorang dosen senior di University of Sheffield dan fokus pada studi media dan studi ilmu pengetahuan feminis dalam pekerjaannya.