Jump to ratings and reviews
Rate this book

Parmin

Rate this book
Bagaimana proses kreatif seorang cerpenis bermula? Bagaimana sebuah gagasan muncul untuk kemudian melahirkan sebuah karya? Lewat "Semacam Catatan Pengantar" yang dibuat pengarangnya sendiri, buku kumpulan cerpen yang sedang anda baca ini mencoba untuk mengethaui alur dari proses kelahiran sebuah cerpen.

Bagi Jujur Prananto menuliskan pengalaman emosional ke dalam sebuah karya ternyata tidak bisa begitu saja terlahir. "Perlu waktu untuk melakukan pengendapan. Sampai saya bisa menilai segala sesuatunya bukan dengan subyektifitas yang emosional. Dan bisa dengan rileks 'menertawakan' diri saya sendiri."

"Sebagaian cerpen saya memang terinspirasi dari kejaidan nyata. Saya katakan 'terinspirasi' dan bukan 'berdasarkan' karena saya memang tidak pernah (atau tidak tega) begitu saja mengalihkan suatu kejaidan nyata menjadi sebuah cerita. Mengarang bagi saya lebih dekat dengan proses berandai-andai..."

174 pages, Softcover

First published February 1, 2002

6 people are currently reading
97 people want to read

About the author

Jujur Prananto

20 books11 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
17 (40%)
4 stars
18 (42%)
3 stars
5 (11%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (4%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
October 6, 2014
Ilustrasi dari Rahardjo S.N
Betapa bangganya kalau membaca buku yang menghibur? Saya merasa maklum apabila buku-buku berisi humor, novel-novel konyol, bahkan mohon maaf buku seperti karya-karya Rad**** D*** laris manis kayak kacang goreng. Di luar negeri novel-novel konyol yang menghibur seperti 100 years-old-man who climed out the window and disappeared menjadi novel layak baca dengan kadar humor yang lumayan asyik. Tetapi cerpen-cerpen Jujur Prananto di buku PARMIN bukan cerpen dengan lawakan-lawakan konyol. Tetapi tokoh-tokoh yang seperti menertawakan hidup yang sempit dan susah.

Siapa yang tidak tahu Film "Ada Apa Dengan Cinta?" atau "Doa Yang Mengancam"? Dua film ini adalah garapan Jujur Prananto sebagai penulis skenario. Film kedua bahkan diangkat dacri salah satu cerpennya dengan judul yang sama Doa Yang Mengancam. Beberapa cerpennya juga diangkat sebagai film televisi seperti Mami, Papi dan Tukang Kebun yang memenangkan FFI 2011 kategori FTV, yang sebeanrnya adalah kisah dalam cerpen Parmin. Atau Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari yang diangkat menjadi serial spesial ramadhan tahun lalu di RCTI (lupa judulnya, yang main Henidar Amroe, Teuku Rian dan istrinya).

Buku ini sebenarnya mungkin biasa-biasa saja bagi orang lain, tetapi bagi saya ini istimewa. Bahkan saya bisa mengatakan kalau anda menyukai cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti maka bacalah buku ini. Bisa diapstikan anda akan suka. Sama-sama mengungkapkan dunia orang-orang kecil dan dipinggirkan oleh zaman modern. Buku PARMIN ini berisi 16 cerpen Jujur Prananto yang dibuat sekitar awal 90-an. Gaya yang dipakai Jujur Prananto seperti hikmah namanya adalah begitu jujur dengan tanpa interupsi yang aneh-aneh. Bahkan terkesan polos, sederhana, tanpa ada akrobat yang biasa dipakai generasi sekarang dalam menulis cerpen. Kepolosan cerpen-cerpen Jujur Prananto justru menjadi daya tarik sendiri ketika membaca.

Misal dalam cerpen pembuka Sang Pahlawan anda seperti mendengar kisah Kadirin, seorang kurir yang terjebak dalam dilema sogok-menyogok dan tuntutan kawan-kawannya dalam menuntut THR. Lalu keberhasilannya dalam meloloskan THR justru menjadi jurang, karena pasca itu perusahaan sengaja ditutup demi menutupi kebusukan korupsi yang tercium publik. Dan lalu apakah Kadirin benar-benar menjadi pahlawan? KArena sebenarnya dia tidak melakukan hal besar.
Atau kisah Darsono yang meratapi Nasib Seorang Pendengar Setia. Ini sangat erat hubungannya dengan slogan atas bos senang. Darsono harus tertawa ketika atasannya Imaluddin memberinya guyonan. Kemudian tertekan dan hendak resign. Tetapi memang orang bawah sekalu tercekat bila berhubungan dengan atasan, dan dia kembali dengan rutinitasnya sebagai pendengar guyonan Imaluddin yang lebihs ering diulang.
Atau Handa yang tidak bisa Bahasa Inggris dan ditunjuk mewakili menteri dalam pembukaan acara interansional. Dilema? Iya.

Dan tentu cerpen paling membuat saya tertawa adalah PARMIN. Seorang tuakgn kebun yang dicurigai keluarga majikannya karena suatu ketika saat diadakan pesta dia tampak sangat berbeda. Seperti sedang melakukan kesalahan. Kecurigaan demi kecurigaan terus tumbuh dan mengantui majikan. Suatu ketika direka ulang, kejadian pesta dirumahnya. Dan ketika itu baru diketahu kalau sebenarnya Parmin hanya inign buru-buru memebrikan es krim kepada tiga anaknya. (melting banget dan ngakak!)

Tema-tema yang menjamur saat zaman orba, seperti asal atasan senang, korupsi, dll dapat ditemui di cerpen-cerpen: Sang Pahlawan, Nasib Seorang Pendengar Setia, Bahasa Inggris, Paduan Suara
Orang-orang kecil dapat dibaca pada cerpen sisanya.

Sungkem saya. Bagus banget!
7 reviews
November 24, 2017
Kumpulan cerpen Parmin ini karya salah satu penulis cerpen favorit saya, Pak Jujur Prananto. Saya berburu buku ini gara-gara saat mengikuti workshop beliau, saya sangat terkesan dengan cerita beliau tentang proses kreatif menulis cerpen “Parmin”dan “Ibu Senang Duduk Depan Warung”. Proses kreatif penulisan cerpen yang lain dapat dibaca pada bagian (semacam) kata pengantar yang diberi judul “Setelah Es Krim Itu Meleleh....”. Jujur Prananto lebih suka menyebut cerpen-cerpennya “terinspirasi”, bukan “berdasarkan” kisah nyata karena memang tidak pernah (atau tidak tega) begitu saja mengalihkan suatu kejadian nyata menjadi sebuah cerita.

Kumpulan cerpen ini berisi 16 cerpen bertema besar ironi dalam kehidupan sehari-hari. Ironi ini akan berubah menjadi komedi sejati ketika kita mampu menertawakan diri sendiri. Beberapa masalah yang diangkat sesungguhnya sederhana, tetapi mengusik naluri saya untuk merenungkankannya dan mengambil kesimpulan, “Ah…iya ya. Hidup ini memang lucu dan saya menjadi bagian dalam kelucuan itu.”

Ada masa tertentu di mana saya menggebu-gebu ingin menuliskan pengalaman emosional ini ke dalam sebuah karya tulis. Tapi ternyata tidak bisa begitu saja terlahir. Rupanya perlu waktu untuk melakukan pengendapan. Sampai saya bisa menilai segala sesuatunya bukan dengan subyektivitas yang emosional. Dan bisa dengan rileks “menertawakan” diri saya sendiri. (hlm. vii–ix)

Terkadang orang sibuk mengartikan kebahagiaan dalam hidupnya. Bagi “orang kecil” seperti Parmin, kebahagiaan itu berasal dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Kebahagiaan baginya sesederhana melihat anak-anaknya begitu bahagia menikmati es krim yang mencair yang dipungutnya dari sisa pesta. Tak harus dengan berliter-liter es krim yang masih dingin dan kenyal. Hal inilah yang diangkat dalam cerpen Parmin (yang jadi favorit saya tentunya). Kesibukan itu juga terkadang menepis nilai-nilai kemanusiaan hingga membuat orang-orang justru mengabaikan orang-orang di dekatnya, bahkan yang lebih parah justru mencurigainya.

Kondisi dilematis yang dialami “para pegawai rendah” dalam sebuah sistem juga tak luput dari perhatian Jujur Prananto. Hal ini tecermin misalnya dalam cerpen “Nasib Seorang Pendengar Setia” dan “Paduan Suara”. Dalam kedua cerpen ini, terlihat usaha Jujur Prananto membangun suasana “serbasalah” yang mesti dihadapkan pada kekuasaan. Dalam cerpen “Nasib Seorang Pendengar Setia”, diceritakan bahwa seseorang terpaksa untuk mendengarkan dan tertawa atas cerita-cerita atasannya yang sesungguhnya tak lucu demi pekerjaan dan perekonomian keluarga. Begitu pula halnya dengan cerpen “Paduan Suara” yang bercerita tentang seorang pelatih vokal yang dalam pekerjaannya diintervensi oleh sosok istri gubernur dengan berbagai pertimbangan politis. Agaknya ini tak lepas dari “sisi gelap” Orde Baru yang berusaha membangun kultur “asal Bapak senang” dalam menjalankan tugas.

Tema sederhana tentang keluarga juga tetap lekat dalam cerpen-cerpen Jujur Prananto, misalnya dalam cerpen “Seorang Ayah dan Anak Gadisnya”, “Ibu Memintaku Segera Pulang”, “Reuni”, dan “Ibu Senang Duduk di depan Warung”. Cerpen “Reuni” mencoba mengkritisi kehidupan masyarakat urban yang kini mengalami pergeseran dalam hal interaksi sesama manusia, yakni merenggangnya hubungan persaudaraan. Cerpen “Ibu Senang Duduk Depan Warung” cukup menarik dalam hal proses kreatifnya, yakni ketidaksengajaan penulis melihat sebuah restoran yang sepi, lalu penulis “berpikir jahat” bahwa penyebab sepi itu karena yang tampil di depan bukanlah pelayanan yang muda dan cantik, melainkan seorang nenek tua.

Absurditas dalam kehidupan dapat dijumpai dalam cerpen “Luka” dan “Peran-Peran Semu”. Dalam cerpen “Luka”, seorang tokoh bernama Asnawi begitu yakin bahwa dirinya terluka hanya karena seseorang memberi tahu bahwa dirinya terluka, padahal sesungguhnya dia merasa tidak terluka. Hal ini mengingatkan saya pada cerpen “Laki-laki yang Kawin dengan Peri” karya Kuntowijoyo yang motif penggerak ceritanya ialah bau yang entah sesungguhnya ada atau tidak, tapi mengarah pada Kromo Busuk. Saya jadi berpikir, jangan-jangan dalam hidup ini ada sesuatu yang terlihat nyata, tapi sesungguhnya tidak ada atau diada-adakan.

Dalam cerpen “Peran-Peran Semu”, ada seorang tokoh bernama Bawul yang harus naik panggung karena pemeran yang seharus tampil tiba-tiba sakit. Perannya kali ini tidak bisa menyelamatkan kondisi panggung yang kosong, justru menambah masalah karena penonton mengamuk. Lantas saya berpikir jangan-jangan dalam hidup ini memang ada orang yang kehadiran tidak memberikan kontribusi apa-apa, atau parahnya justru menambah masalah. Mungkinkah saya juga termasuk di dalamnya?

Aspek kebahasaan yang ada dalam cerpen-cerpen ini cukup menarik bagi saya. Di antara beberapa penulis laki-laki yang tulisannya pernah saya baca, Jujur Prananto termasuk dalam kategori amat santun dalam menggunakan bahasa tanpa mengurangi luapan emosi dalam karyanya. Kalimat-kalimatnya pun cenderung sederhana, lugas, tidak berbelit-belit. Sederhana, tapi tetap mengena, mendorong pembaca untuk melakukan perenungan yang mendalam atas nilai-nilai yang ada dalam karyanya, dan puncaknya menertawakannya (sambil menangis mungkin).

Saya rasa kumpulan cerpen ini layak untuk dibaca oleh semua kalangan profesi dan usia karena masalah yang diangkat tidak hanya menyoroti satu golongan tertentu. Sederhananya, masalah itu bisa terjadi pada siapa saja. Kecuali untuk satu cerpen yang berjudul “Dua Pemerkosa”, saya rasa cukup riskan untuk anak dan remaja karena di dalamnya terdapat unsur kekerasan yang membuat saya berpikir, “Tumben Pak Jujur Prananto menulis seperti ini.” Terkadang untuk bisa belajar tentang kehidupan, kita tidak harus bergelut dengan kisah-kisah hebat, dari cerita-cerita sederhana seperti dalam kumpulan cerpen ini pun bisa.
Profile Image for Tyas.
Author 38 books89 followers
August 26, 2009
Many of Jujur Prananto's short stories mix grim reality with uncanny fantasy, making them send bolts of shocks to the heart. Even when they're just plain realist (for lack of a better word), they still bite with sharp teeth. But frankly speaking, I find Prananto cannot write well when he's angry. The weakest story in this anthology is Dua Pemerkosa (Two Rapists), penned in anger. I don't mind the violence, I mind how the tale is told.
Profile Image for Meilany.
85 reviews3 followers
November 16, 2021
4,5/5
Jd sebenernya aku tidak baca sepenuhnya buku "Parmin" ini, aku baca cerpen karya Jujur Prananto di buku ini yang berjudul "Wabah" yang dijadikan satu dengan cerpen dgn judul yg sama yang ditulis oleh Andrean Putra di IPusnas. Cukup menarik meskipun terbilang konyol dan ga masuk akal tp cukup menghibur dan berkesan
Profile Image for Fadhilatul.
Author 1 book23 followers
May 21, 2013
Seperti apa saudara melihat dunia ini? Err, baiklah kita persempit lagi, seperti apa saudara melihat kondisi Indonesia saat ini? Secara pribadi saya sendiri terkadang seperti hidup di dunia yang palsu. Tontonan yang ada di televisi bertabur isu-isu yang bisa jadi palsu, kebohongan yang dibenarkan dan kebenaran yang dikaburkan. Formalitas segala macam lebih ditonjolkan daripada berbuat kebaikan.

Itulah kurang lebih yang ada dalam cerpen-cerpen karangan Jujur Prananto. Ada 16 cerpen dalam satu buku yang disebut PARMIN: Kumpulan Cerpen Jujur Prananto terbitan Kompas ini. Dan jika dimintai pendapat mana-mana saja cerpen yang saya suka dan mana yang tidak, saya akan menjawab saya suka semuanya! Terutama cerpen yang berjudul Parmin, yang juga dijadikan judul untuk kumcer ini.

Parmin adalah seorang tukang kebun yang bersahaja dan bekerja untuk keluarga kaya. Suatu ketika ada isu merebak dalam keluarga tersebut karena sikap Parmin yang mencurigakan. Gerak-gerik si tukang kebun membuat anggota keluarga terkait menyimpulkan bahwa si pekerja tsb telah mencuri. Apa yang dicuri? Padahal keluarga kaya tsb sebenarnya juga tidak yakin barang apa yang hilang. Namun isu terus berkembang dan ditindaklanjuti dengan diadakannya investigasi kecil-kecilan terhadap Parmin.

Prasangka. Ya, prasangka membuat si keluarga kaya menuduh tanpa alasan namun tidak berani bertanya langsung kepada Parmin, si orang kecil. Nilai moral dari cerpen ini membuat saya tertohok, kadang saya juga hanya mampu berprasangka tanpa berani bertanya terus terang. Lantas orang macam apa keluarga kaya tsb, dan juga saya? Pengecut mungkin menjadi julukan yang pantas.

Cerpen yang lain juga tak kalah menohok. Maka hati-hati untuk tertohok. Sebelum membaca kumcer ini, ada baiknya membaca Kata Pengantar yang ditulis oleh si pengarang sendiri. Kata pengantar yang membuat air mata saya sedikit merebak. Jujur mengungkapkan segala proses kreatif sehingga ia mampu menghasilkan cerpen-cerpennya. Ada satu hal yang saya senang dari kata pengantarnya, boleh saya kutip disini ya;

"...sebab sebagian besar cerpen saya lahirnya memang terinspirasi dari kejadian nyata. Saya katakan "terinspirasi" dan bukan "berdasarkan", karena saya memang tidak pernah (atau tidak tega) begitu saja mengalihkan suatu kejadian nyata menjadi sebuah cerita." (Parmin, ix)

Menurut saudara sekalian, apakah kutipan diatas bentuk sindiran tak langsung dari Jujur terhadap karya tulis yang tumplek blek dikopi dari kisah nyata?


Akhir kata, inilah kumpulan cerpen terbaik yang pernah saya baca setelah kumcer karya Kuntowijoyo; Dilarang Mencintai Bunga-Bunga. Meski ada salah satu cerpen (Dua Pemerkosa) yang sadis dan satu cerpen (Nasib Seorang Pendengar Setia) yang absurd dan menyedihkan dalam Parmin, tetapi saya rasa dunia ini aslinya lebih absurd dan aneh.

Tulisan ini diikutsertakan pada posting bareng BBI untuk Kumpulan Cerpen.

Profile Image for Shinta_read.
306 reviews14 followers
August 26, 2016
Cara Jujur Prananto menulis memang sungguh jujur. Berceritanya lancar dan mengalir, apa adanya. Sangat realis memotret kehidupan masyarakat urban. Banyak cerpen yang berhasil membuat saya kesal karena endingnya yang menyebalkan, tapi memang seperti itu realitanya--misalnya di cerpen Paduan Suara. Ada cerpen yang memuaskan karena endingnya semacam memuaskan "nafsu pembalasan" yang kita miliki--Dua Pemerkosa. Ada juga cerpen yang mengharukan, padahal sudah tahu jalan cerita dan endingnya, nah ini favorit saya--Parmin. Yap, yang menjadi judul bukunya, dan yang dibahas Jujur dalam pengantarnya.

Profile Image for Astri Indriyani.
25 reviews4 followers
Read
April 4, 2013
kumpulan cerpen yang dekat dengan kejadian sehari-hari. mungkin memang karena Jujur Prananto sendiri terinspirasi dari kisah nyata dalam menulis beberapa ceritanya. banyak cerita yang menyentuh hati, seperti Parmin, Ibu Senang Duduk Depan Warung, juga Ayah dan Anak Perempuannya. yang 'menyebalkan' menurut saya adalah cerita tentang kurir antar uang yang ternyata 'ditipu' oleh orang-orang berduit. lalu yang paling mengerikan bagi saya adalah cerita Dua Pemerkosa. saya tidak berhenti merinding ngeri setelah membacanya..

yak, tulisan di buku ini memang bagus! :D
Profile Image for David Pratama.
29 reviews
August 24, 2012
Cerpen Jujur Pranoto memang benar-benar jujur. Memotret realita dengan bahasa yang lugas dan jujur. Ini adalah kumpulan cerpen yang menurut saya termasuk terbaik.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.