Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mencari Simetri

Rate this book
Menjelang usia kepala tiga, April merasa gamang dan kehilangan arah. Ia memiliki karier yang nyaman, tapi tidak bisa dibanggakan. Punya banyak teman, tapi mereka sibuk dengan keluarga masing-masing. Dekat dengan Armin, tapi tak pernah ada kejelasan. Belum lagi menghadapi keanehan Papa yang terus menerus melupakan hal sepele.

Enam tahun April terjebak dalam hubungan yang rumit dengan Armin. Entah salah satu dari mereka punya pacar, atau memang sudah terlalu nyaman berteman. April tetap tak mampu melepaskan Armin sebagai sosok pria ideal.

Saat menemani Papa melalui serangkaian tes medis, Lukman hadir. Pria itu menawarkan kehidupan yang mapan dan hubungan serius.

April berusaha mencari cara untuk menyeimbangkan hidupnya kembali. Dan cara untuk menemukan simetri hatinya. Memilih hidup bersama Lukman, atau menunggu Armin entah sampai kapan.

244 pages, ebook

First published August 19, 2019

33 people are currently reading
414 people want to read

About the author

Annisa Ihsani

6 books180 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
88 (11%)
4 stars
329 (43%)
3 stars
311 (40%)
2 stars
35 (4%)
1 star
2 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 228 reviews
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
June 11, 2020
Annisa Ihsani
Mencari Simetri
Gramedia Pustaka Utama
240 pages
7.4

Annisa Ihsani's first venture to chick literature in Mencari Simetri compiles the universal fear and anxiety that all twenty-somethings feel, but it also offers some consolation to the readers that, in the end, everything's gonna be alright.

Last year, Kacey Musgraves' excellent fourth effort, Golden Hour, was my favorite album. It won Grammy's Album of the Year, marking the first time since forever the Recording Academy and I agree with something. The album seems like an outlier as it was released during the gloomy days of political wars, disasters, and climate change when most of the records released last year were politically charged and darker. Musgraves came with her radiant album, her glowing semblance portrayed during the mystical golden hour depicted on its cover, retelling her childhood and showing the beauty of first love. The album's gorgeousness is hard to resist and its optimism is something that people need. It's almost impossible to hate it.

In a way, there's some similarity between Musgraves' fourth album and Annisa Ihsani's fourth (Is it coincidence? Well, I don't think so) book, Mencari Simetri. At this point of her writing career, it's almost impossible to hate her works either. Amid the Wattpad's the-book-has-been-read-a-million-times and the empty motivational pseudo-poetry-slash-instapoetry books, Ihsani's books feel like a breath of fresh air. Her debut, Teka-Teki Terakhir, is a surprisingly good historical middle-grade literature while A untuk Amanda is a critical young adult book which breaks the boundary of local young adult literature scene. Even her "weakest" book, A Hole in the Head is pleasant and warm, despite set in breathtaking cottage in Switzerland. Her books' salience can be seen from their characters' wit and unordinary way of thinking, not to mention their strong, brave, and strong main female characters, making them a role model for young woman outside there.

Mencari Simetri is no exception. What you expect from typical Annisa Ihsani's books, you still can find it in her latest book. Yet, right from the first page you will feel that she embarks on a voyage to an uncharted territory that she never explored before: a territory called romance. It's exciting to see how Ihsani tackles this steamy issue as romance is never the emphasis in her previous books. They tend to focus on the self-actualization of the protagonist, but that doesn't mean she cannot create a swoon-worthy male love interest and in Mencari Simetri, that swoon-worthy male love interest is embodied in Armin, the guy whose indecisiveness and philosophical and ethical value seem to embrace The Good Place's Chidi's. Unfortunately, you cannot imagine how he looked like as Ihsani rarely describes his appearance. In fact, when you think about it, it seems she almost never describes her characters' features as if she's past the superficiality of an appearance. But, his mysteriousness was probably what made April, our protagonist, fall for him. Right from the first sentence, we, the readers, can already feel that this book will focus on the life of our hopelessly-romantic main character.

However, as you keep on turning the pages, you will realize that the book doesn't only chronicle April's love life. Sure, the cover showing a "couple" separated by an hourglass is adorned with intricate swirls and striking color courtesy of the awesome Sukutangan. Sure, the first chapter depicts the completely enamored April. But, the book also compiles her anxiety and confusion in treading the final year of her twenties. Her feeling, so-called a third life crisis, is something universal, something which I believe all the readers have felt or are feeling now. Juggling between her unfulfilling life, her diminishing friendship, her taking care of her old parents, and her own love life, April was tired and we completely understand those because we have gone through it, even in a more extreme scale. Mencari Simetri turns out to be book that we all can relate easily. When April's life worsened, Ihsani doesn't try to deus-ex-machina the conflict, but she lets April's life unravel by itself. In the end, Ihsani tries to assure the readers that everything's gonna be okay and that pat on the back is something that we all need. The ending may make you disappoint, but it's just how life is sometimes.

Despite the "metropop" label pinned on the cover, don't expect to find the glamorous life of urban woman who talks with current slang. Mencari Simetri, instead, is full of formal conversation and humbleness, again to ensure that we can relate to it. At the same time, the book drags Ihsani from her comfort zone, but she still stays in her own backyard, but that's fine. Again, she tries to break the bondage of chicklit trope, just like what she's done with young adult genre in A untuk Amanda. In the end, Mencari Simetri is good although its trenchancy is not as strong as her previous efforts. But again, that's okay. Just like Golden Hour, the book is not intended to convey a heavy message, but it's okay sometimes to like something that makes you feel good.
Profile Image for Utha.
824 reviews401 followers
May 12, 2023
Sensasi ngebaca novel ini kayak ngedengerin cerita dari orang yang aku nggak suka soal kepahitan hidupnya. Meski terasa related dengan keseharian, karena nggak suka, jadi nggak bisa berempati.

My honest review: http://www.tsaputrasakti.com/2019/08/...
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
August 20, 2019
Review ini akan terlalu subjektif dan personal sekali. Jadi kalau mau skip, silakan. Sudah kuperingatkan dari paragraf awal. Oke? 😊

Perasaanku campur aduk saat membaca novel ini. Pertama, Annisa Ihsani adalah penulis favoritku. Aku tidak akan melewatkan begitu saja buku terbarunya, genre apa pun. Aku bahkan sudah gentayangan di Gramedia Samarinda untuk yah, siapa tahu, mendapat mukjizat menemukan buku ini versi cetaknya—yang sayangnya kutahu tidak mungkin. Buku baru akan muncul dua minggu atau satu bulan lagi. Akhirnya, aku memilih untuk install aplikasi Gramedia Digital di hp—karena tab yang biasa kupakai untuk baca sudah sebulan lebih rusak, hiks.

Kedua, sejak awal dipromosikan, aku sebisa mungkin menutup mata dan denial karena kutahu cerita ini bakal mirip dengan kisah hidupku sendiri. Karenanya aku mau membuktikan sendiri dengan membaca langsung. Dan ternyata, aku tertipu. Cerita ini bukan hanya mirip melainkan amat sangat (iya, redundan, hehe) mirip dengan yang kualami. Duh! Ingin ku berkata kasar saat menemukan alur demi alur yang terlalu mirip dengan yang kualami.

Tulisanku di bawah ini, mungkin mengandung spoiler, dan juga mengandung banyak curhatan. Sebaiknya dihindari kalau tidak mau kena zonk.

Kupikir, kesamaan cerita itu hanya sampai pada hubungan April-Armin yang tidak jelas selama bertahun-tahun (iya, aku punya Armin-ku sendiri dan aku bucin seperti April) dan pada usia tokohnya semata. Namun ternyata, pekerjaan April yang mempunyai fleksibilitas waktu, lalu anggapan mamanya yang skeptis terhadap 1) pekerjaan April, 2) kisah percintaan April, itu sangat relate dengan kehidupanku. Mantan-mantan yang sudah menikah (bahkan tunangan setelah putus dua bulan itu juga masuk banget ke ceritaku 😂 sakit cuy! 😂 Ini Mbak Annisa jangan-jangan ngintip jalan hidupku dan menuliskannya di buku ini 😂 #kepedean). Bahkan, kondisi papa April pun juga sama. Di bagian ini aku merasakan ketakutan yang sama, dan mengalami beberapa bagian yang sama pula. Lalu, kemunculan Lukman di saat hubungan April-Armin ini juga sangat relate. Nggak ngerti lagi gimana sepanjang baca buku ini aku nangis dan teriak-teriak sendiri kayak orang kesetanan. Oh bahkan aku heran sama diri sendiri, begitu mudahnya menulis begini sementara di dunia nyata aku teramat tertutup membahas ini. Tapi nggak apa-apa. Kurasa menemukan buku Mencari Simetri ini adalah salah satu jalan Tuhan untuk sedikit mengurangi beban hidupku 😂 Jadi maafkan kepada kalian yang bermaksud mencari ulasan tentang buku ini malah dapat zonk dengan membaca curhat pembaca begini.

Jadi, apa lagi yang bisa kutuliskan di sini? Aku pun nggak tahu, hahaha. Sebelum ini aku nggak pernah menemukan buku yang teramat sangat mirip dengan kehidupanku sendiri jadinya ya agak bingung mau mengulasnya gimana. Berupaya memberikan penilaian objektif juga bingung jadinya 😂

Oh ya, satu hal. Nggak papa jadi bucin, nggak dosa kok. Yang dosa kalau sudah merugikan orang lain. Karena—seperti April—akan ada waktu untuk realistis terhadap semua yang terjadi, dan pada akhirnya, mencintai diri sendiri adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dilakukan sebelum mencintai orang lain. Iya, teorinya mudah. Namun, jangan menyerah kalau ternyata pada kenyataannya itu sudah dijalani. Jadilah bucin yang bermartabat dan bermanfaat bagi sekitar karena, "Semua orang akan bucin pada waktunya."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
August 23, 2019
Review lengkap: https://www.kubikelromance.com/2019/0...



April, seorang wanita yang berusia 29 tahun, memiliki pekerjaan yang nyaman dan selama bertahun-tahun memendam perasaan pada rekan kerjanya, Armin. Hubungan mereka rumit, April selalu mengharapkan Armin, ketika dia ingin move on, Armin akan selalu punya cara untuk merebut perhatiannya kembali.

Tidak hanya lelah dengan hatinya, April juga lelah menghadapi ayahnya yang semakin lama semakin aneh. Tidak ada yang mengganggap penting ketika ayahnya mulai melupakan hal-hal kecil, seperti kata yang sulit terucap, mematikan microwave, dsb. Ibunya sibuk mengurus nenek di Semarang, sedangkan kakaknya sibuk dengan dirinya sendiri. Belum sahabatnya mulai menjauh karena memiliki kesibukan sendiri, menemukan teman lain yang sesuai dengan kehidupannya kini.

Sedikit harapan ketika Lukman hadir di tengah hidup April yang tanpa arah, mantan rekan kerjanya tersebut tidak pantang menyerah mendekati dirinya. Apakah kehadirannya akan mengusir lelah baik hati maupun beban emosi dalam dirinya? Apakah hidupnya akan bisa simetris dengan berbagai masalah bergeronjal yang menghampirinya?

"Kenapa aku harus puas dengan yang cukup baik kalau aku bisa mendapatkan yang terbaik?"
"Kenapa kau harus repot-repot mencari yang terbaik kalau bisa menemukan yang cukup baik?" balasku.

Banyak yang menantikan atau lebih tepatnya penasaran seperti apa tulisan Annisa Ihsani di lini Metropop, karena bagi kalian yang sudah membaca buku-buku dia sebelumnya dan sangat menyukainya, dia lebih familier dengan genre middle-grade dan YA rasa terjemahan. Beberapa ciri khas yang penulis miliki dan tercetak jelas di karya dia sebelumnya, dia selalu menghadirkan karakter yang cerdas tapi sinis, karakter yang isi kepalanya seperti kembang api, meledak-ledak dan penuh warna. Setting tempat antah berantah yang penulis ciptakan sendiri dan narasi yang baku. Bahkan ada yang bilang tulisannya diibaratkan John Green versi perempuan, saya pun menyetujuinya.

Lalu bagaimana tulisannya di Metropop? Ada bagian yang penulis coba sesuaikan tanpa menghilangkan ciri khasnya. Sesuai label, settingnya di kota Metropolitan, kali ini tidak ada latar imajiner. Konfliknya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari kaum urban; tentang pekerjaan, romansa, pertemanan dan keluarga, semua ada. Karakter dan konfliknya sangat realistis, khususnya April, dia adalah cerminan kita semua perempuan yang mengalami quarter-life crisis atau third-life crisis. Sedangkan yang menjadi ciri khasnya terletak pada sosok Armin, dia karakter yang isi kepalanya tak tertebak, nyeleneh. Dan yang selalu konsisten penulis lakukan, gaya bahasanya yang baku.

Yang sangat saya suka dari buku ini adalah semua konfliknya juga pernah saya alami, atau bahkan sebagian besar para perempuan di luar sana, apa yang Annisa Ihsani suguhkan sangat realistis, sangat erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari pekerjaan, tanpa pencapaian bermakna, tidak pernah menorehkan prestasi, sudah terlalu nyaman dengan apa yang ada, tidak pernah membuat orangtua bangga. Selalu dibandingkan dengan saudara yang lebih sukses, pekerjaan kita dipandang sebelah mata, pekerjaan yang kurang bisa dibanggakan.

Untuk bagian romansanya, pasti kita juga pernah merasakan sulitnya menemukan orang yang kita sukai balik menyukai kita, atau parahnya naksir cowok yang bahkan tidak pernah menyadari keberadaan kita. Tidak kunjung menikah padahal memasuki usia yang katanya terbilang sudah telat. Lalu memiliki banyak teman tapi ketika mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak, kita menjadi orang asing. Dekat tapi terasa jauh, kita tidak tahu dan merasakan apa yang mereka alami, kemudian mereka memiliki teman lain dengan kondisi yang sama, membuat kita merasa dikucilkan, dilupakan.

"April, kau tidak bisa mengharapkan ada koneksi instan. Perlu banyak kerja keras dan waktu untuk membentuk hubungan."

"Cinta bisa datang dan pergi," kata Mama praktis. "Komitmenlah yang membuatmu tetap bertahan saat kau bangun pada pagi hari dan tidak lagi kasmaran dengan orang yang tidur di sebelahmu."
Memiliki anak adalah komitmen yang sangat permanen. Zaman sekarang kau bisa mengubah apa saja dalam hidupmu. Tidak suka pekerjaanmu? Berhenti, cari yang baru. Tidak suka pasanganmu? Kau bisa bercerai. Tidak suka rambutmu? Potong, luruskan, warnai biru. Namun, jika kau tidak suka menjadi orangtua, tidak ada jalan mundur. Kau tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka. Tidak tanpa meninggalkan luka emosional.

"Namun, dalam hati aku menyadari, entah umurmu 14 atau 29, cinta yang tak berbalas tetap sama menyakitkannya."

Kemudian beban menjadi seorang anak ketika memiliki orangtua yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Bagian ini kerap sekali saya temui di pekerjaan, ketika orangtua jauh dari anak dan ketika mereka sakit, muncul lah siapa yang nantinya harus merawat, sang anak sudah memiliki kehidupan sendiri kemudian sulit mengatur waktu dan terjadilah sedikit perpecahan. Orangtua tidak ingin tinggal dengan anak karena tidak ingin menjadi beban, tapi ketika mereka tidak berdaya bukannya kewajiban kita untuk kembali mengurusnya?

Hal-hal seperti inilah yang diangkat penulis, sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian kita, bahwa kita akan dengan mudah merasakan apa yang dirasakan April, seperti becermin. Kadang kita akan merasa kesal pada April yang terlalu mengeluh pada hidupnya, yang tidak berhenti berharap pada orang yang dicintainya. Namun, bukankah kita juga seperti itu? Manusiawi. Masih ada beberapa typo tapi tidak terlalu mengganggu. Bagian yang saya sukai adalah ketika April mengobrol dengan ayahnya, tentang April yang tidak berhutang apa pun, bagian tersebut cukup membuat semangat bahkan terharu.

Kalau ditanya apakah karya perdana Annisa Ihsani di tulisannya yang 'dewasa' ini memuaskan bagi saya, maka saya akan menjawab belum bisa dibilang puas banget. Namun, buku ini membuat saya terus berpikir seusai membaca, bahwa saya tidak sendirian. Tidak apa-apa menjadi orang yang biasa saja, tidak apa-apa kalau hidupmu tidak seimbang, mbengkong atau tak terbaca.

"Ketika orang-orang menaruh ekspektasi mereka terhadapmu dan kau tidak mau memenuhinya, itu bukan masalahmu. Kau tidak bisa memenuhi ekspektasi semua orang."
Profile Image for Majingga Wijaya.
152 reviews19 followers
October 4, 2020
Sebelumnya mau kasih standing applause buat novel ini 👏🏻👏🏻👏🏻
Ceritanya masuk banget, berasa real

Aku suka penggunaan bahasa nya. Lebih dapet pake aku-kamunya. Meskipun setting tempat di Jakarta. Dan kesan real nya bener-bener bikin cerita hidup.

Yang bikin sebel justru karakter April yg segitu cinta matinya sama Armin. Padahal sadar kalau Armin nggak nganggep dia lebih dari teman. Dan hubungan April sama Lukman yang diceritakan terlalu cepet buat aku dengan porsi kalah jauh dari porsi April yang masih terus berharap ke Armin. Jadi kesannya Lukman cuma sosok numpang lewat aja.

Tapi pesan dalam novel ini dapet banget. Bisa relate aja sama kehidupan nyata.
Profile Image for Wardah.
952 reviews172 followers
August 30, 2019
Beberapa teman berkata novel ini mengecewakan, alhasil saya tak lagi berekspektasi meski ini buku Annisa Ihsani. Namun, ternyata saya menyukai buku ini. Saya menutup kisah April dengan kepuasan tersendiri dan mata sedikit berembes mili karena beberapa hal: (1) kesadaran April soal kondisi ayahnya dan keluarganya, (2) hubungan April dengan Sita, yang membuat saya merenung dan menyadari lebih soal pertemanan.

Kisah April seperti membisikan ketakutan saya di usia yang dekat dengannya. Apakah saya akan bisa menjadi orang tua yang baik jika punya anak? Apakah teman-teman saya memang sudah sibuk dengan hidupnya atau saya yang sibuk sendiri? Apakah saya akan bisa kuat mengurus orang tua ssaya suatu hari nanti? Apakah saya bahagia dengan segala keputusan yang saya pilih selama ini? Apakah ada kesempatan yang telah saya lewatkan?

Meski label Metropop-nya terasa tidak pas berhubung porsi romance-nya minim (sepertinya buku ini bagusnya tanpa label Metropop yang isinya romance ya), saya menikmati lagi buku ini. Semoga April bahagia dengan keputusan yang dia pilih. Semoga saya dan kita semua pun begitu.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
August 27, 2019
Semua orang memiliki Armin mereka sendiri.

April, seorang cewek modern menjelang kepala tiga namun belum juga mendapatkan seorang pria sebagai tambatan hatinya. Sebenarnya, sudah ada yang mengisi hatinya selama enam tahun ini. Namanya Armin, dan cowok itu sama sekali tidak menunjukkan inisiatif atau apa pun untuk mengubah status keduanya dari temen menjadi demen. Kalau kata anak zaman sekarang, friend zone is real.

“Kenapa kau harus repot-repot mencari yang terbaik kalau bisa menemukan yang cukup baik?” (hlm. 8)

Armin dan April ibarat teman tapi ya teman saja, entah kapan jadiannya. Di satu sisi, April sudah jatuh hati sejak pertama melihat Armin. Jantungnya serasa ingin melompat setiap kali cowok itu menyapanya. Segala pikiran logis menguap ketika Armin menunjukkan senyum mataharinya. Sementara si Armin, dia ini tipikal cowok yang dekat sama satu cewek, bikin nyaman cewek, tapi tidak mempan dikode dan sama sekali tidak menunjukkan iktikad untuk meningkatkan status hubungannya.

April adalah tipikal kita banget. Cewek kebanyakan yang jatuh cinta sama cowok idamannya. Sama seperti kebanyakan kita, April mengalami satu hukum kebenaran semesta yang bunyinya: Falling in love with someone we can’t have. Sudah hukum alam, kebanyakan kita memang tidak selalu bisa berakhir bahagia dengan orang yang kita inginkan. Kondisi ini masih ditambah dengan prinsip April bahwa cewek adalah pihak yang menunggu.

April tidak lelah berharap bahwa suatu hari Armin akhirnya akan mengungkapkan perasaan suka kepadanya. Harapan yang sayangnya tidak kunjung kesampaian. Apalagi, ada risiko pernyataan cinta bisa memutus hubungan persahabatan keduanya. April memilih menunggu, sama seperti kebanyakan kita. Jadilah sepanjang cerita di novel ini isinya adalah penantian dan pengharapan yang tak kunjung menemukan jawabannya.

Di sisi lain, Armin juga adalah kita yang kebanyakan. Wahai cowok-cowok, mengaku saja. Banyak dari kita yang pernah atau mungkin masih berperilaku seperti Armin ini. Bukannya takut berkomitmen, tetapi kadang menjadi singel sedemikian menariknya sehingga kita cenderung menjauh dari berkomitmen.

Saya yakin bahwa banyak kita yang juga seperti Armin. Kita sebenarnya tidak ingin menyakiti hati cewek, dan dengan demikian memilih menjaga jarak tapi tetap dalam jangkauan radar pertemanan. Sayangnya, kadang kita lupa bahwa cewek itu memiliki pola pikiran dan perasaan yang berbeda dengan cowok. Kita kira sudah berbuat benar dengan sedikit menjauh dan tidak memberikan harapan palsu. Kenyataannya, sedikit perhatian yang kita kira biasa kadang bisa jadi sejuta harapan baru bagi dia yang di sana.

Hubungan lelaki dan perempuan kadang memang serumit itu.

Semua orang memiliki Armin mereka sendiri. Dan, rata-rata orang kebanyakan mungkin juga pernah menjadi seperti Armin ini. Tidak ada yang salah dengan menjadi keduanya. Baik April dan Armin adalah “korban” dari keadaan yang memang harus seperti itu. Kadang hidup membawa kita pada situasi yang memang sudah begitu itu dan tidak bisa hal apa pun yang kita lakukan untuk mengubahnya. Dan, Anisa Ihsani dengan sangat bagus, mampu menggambarkan hal ini dalam sebuah kisah fiksi.

Jika pembaca mengharapkan akhir yang bahagia ala-ala novel metropop, atau cinta yang mengebu-gebu ala kisah roman, buku ini mungkin akan mengecewakan. Saya termasuk yang menantikan ada twist apa gitu menjelang akhir cerita. Ternyata tidak ada. Bahkan sampai penghujung buku, aroma kegalauan itu masih menggantung. Ini adalah sebuah novel biasa tentang kisah kita yang biasa. Tapi justru ini yang bikin novel ini terasa realitis. Almost all of us can relate, and hopely we can finally deal with it.

Jika dibilang puas atau tidak, jujur saya kurang puas dengan novel ini. Apalagi bila dibandingkan dengan A untuk Amanda dan A Hole in the Head. Tapi, novel Mencari Simetri meninggalkan saya dengan pikiran bahwa entah bagaimana novel ini lebih dekat kepada kita. Bahwa hidup memang kadang harus seperti itu, dan tidak perlu sedih atau kecewa. Kadang, hidup terasa menjadi lebih mudah ketika kita menjalaninya saja tanpa terllau banyak pengharapan harus begini atau begitu. Sejatinya kita tak pernah tahu, mungkin inilah yang memang lebih baik kita menurut skenario Tuhan. Kita tidak tahu sementara Tuhan Maha Mengetahui.

Setelah menyelesaikan membaca Mencari Simetri, entah kenapa saya ingin bersorak kepada diri sendiri dan teman-teman semua di luar sana: “Kau tidak bisa memenuhi ekspektasi semua orang.” (hlm. 52) dan itu tidak apa-apa.
Profile Image for ami.
210 reviews26 followers
August 30, 2020
"Ketika orang-orang menaruh ekspektasi mereka terhadapmu dan kau tidak mau memenuhinya, itu bukan masalahmu. Kau tidak bisa memenuhi ekspektasi semua orang."

Suka sama nada kontemplatifnya soal krisis kehidupan karakter utama yang menurutku relatable. Banyak momen-momen realisasi yang memorable juga, yang bisa diaplikasikan untuk semua kalangan. Cuma rasanya baca ini tuh dataaaaaar banget. Gak ada konflik, gaada klimaks. Karakternya juga gak nyantol di kepala, if not unlikeable (buat beberapa). Termasuk bacaan yang karakternya realistis dan terasa lebih 'dekat' sih menurutku. Gak kayak metropop biasa yang aku baca. Mungkin bukan preferensiku aja kali ya hehe.
Profile Image for Liliyana Halim.
310 reviews242 followers
October 5, 2019
Aku suka ceritanya kerasa kehidupan sehari-harinya. Dari cerita cinta April. April ngurus papanya soalnya aku juga barusan mengalami apa yg dialami April tp aku tidak sendiri untungnya 😆. Cerita April dengan Instagramnya... padahal dia sudah muak melakukan itu 🙈.

Terus mungkin sedikit kurangnya footnote untuk kata yang asing mungkin 😬.
Profile Image for DEE.
254 reviews3 followers
April 3, 2022
Buku ini lucu, iya. Sarkasnya juga ngena banget. Relate dengan kondisinya April apalagi, meskipun aku sendiri baru genap berumur 25 di tahun ini. Romancenya juga gak yang menye-menye gitu, menurutku pribadi. Bahkan ini sebenarnya gak bisa dibilang sebagai buku romance, sih. Kayak kata April, remah-remah doang. Romancenya itu malah side storynya, menurutku.

Kalau kalian udah berumur kurang lebih 25 tahun ke atas, belum punya pasangan (re: pacar), tidak ada pencapaian berarti yang gimana-gimana dalam hidup, buku ini untukmu kawan, oh maaf, untuk kita maksudnya. 😗😗

I'm going to buy the physical copy so I can annotate it the way I WANT.

5 / 5 🌟🌟🌟🌟🌟
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
August 28, 2019
Di usia yang mendekati kepala tiga, April mulai mengasihani hidupnya sendiri. Selain karirnya pas-pasan, kehidupan asmaranya pun tak bisa dibanggakan.

Namanya Armin, salah seorang teman kerja April, yang diam diam ditaksirnya. Sudah bertahun tahun mereka berteman, dan April mulai lelah dengan ketidakjelasan hubungan mereka. April berharap suatu hari nanti Armin melamarnya, paling nggak ya jadi pacar dulu gitu. Tapi Arminnya ngga peka dan Aprilnya kepala batu banget saking sukanya sama Armin.

Di sisi lain ada Papa yang mulai menua dan makin menjadi pelupa. Sementara Mama merawat nenek di Semarang, dan kakak yang telah berkeluarga, April terpaksa membagi bagi waktunya untuk pekerjaan dan mengurus Papa. April kehilangan waktu untuk dirinya sendiri, serta perlahan menyadari kehidupan sosialnya yang memprihatinkan membuatnya kesepian dan tak memiliki seorang teman untuk dijadikan keranjang curhat.

Mungkin April harus membetulkan jalan hidupnya, tapi bagaimana caranya?

Awalnya sih saya baca ini karena penasaran dengan kisah April dan Armin. Tapi ternyata saya lebih tertarik dengan interaksi April dengan Papanya, serta bagaimana ia menggambarkan kehidupan berkeluarga berkaca dari orang orang di sekitarnya.

Mungkin ada banyak April lain di luar sana, yang merasa insecure karena di saat kawan-kawan seumurannya sudah mulai memamerkan foto pernikahan bahkan anak anak mereka, April bahkan tak memiliki pacar untuk dipamerkan.

Tapi di sisi lain, April memiliki ketakutannya sendiri untuk menikah. Bagaimana jika ia menikah dengan orang yang cukup baik untuknya tetapi jika ia lebih sabar, mungkin akan ada orang yang jauh lebih baik untuknya? Bagaimana bisa seseorang hidup puluhan tahun bersama sama jika tidak saling mencintai? Dan yang lebih mengkhawatirkannya adalah, bagaimana jika ia tidak cukup baik untuk menjadi seorang ibu?

Dari sini konflik batin berubah menjadi bumbu yang membuat kisah biasa biasa saja di buku ini jadi lebih menarik buat saya. Saya rasa sudah menjadi kebiasaan melihat rumput tetangga lebih ijo dibandingin rumput kita sendiri. Demikian dengan April yang melihat betapa sempurnanya sang Kakak dengan keluarga mungilnya, juga Sita, temannya yang baru saja memiliki anak. Dengan adanya tokoh tokoh sampingan ini April mulai memikirkan langkah langkah yang akan ia ambil sambil berharap jalan hidupnya jadi lebih baik.

Ada satu kutipan yang saya suka di buku ini.


Memiliki anak adalah komitmen yang sangat permanen. Zaman sekarang kau bisa mengubah apa saja dalam hidupmu. Tidak suka pekerjaanmu? Berhenti, cari yang baru. Tidak suka pasanganmu? Kau bisa bercerai. Tidak suka warna rambutmu? Potong, luruskan, warnai biru. Namun, jika kau tidak suka menjadi orang tua, tidak ada jalan mundur.



Ya memang betul sih. Orang tua bisa memilih untuk tidak memiliki anak, tetapi anak tidak bisa memilih, di keluarga mana mereka dilahirkan. Entah di mana saya membaca kalimat itu, tapi terus terngiang ngiang di benak saya. Dan membuat saya ribuan kali menanyakan, menguatkan diri saya sendiri, apakah saya sanggup menjadi orang tua.
Karena seperti cerita dalam buku ini, menjadi orang tua adalah tanggungan seumur hidup, terus sampai tua, sampai tak lagi bernyawa.

Buku yang bagus sih, terutama buat dibaca sebagai selingan ringan. :)
Profile Image for Yusda Annie.
221 reviews32 followers
August 21, 2019
Melihat April, karakter utama Mencari Simetri, rasanya spt ingin berkata, 'selamat datang di usia akhir 20an dg pencapain aspek kehidupan yg agak melenceng dari ekspektasi' 🌝

Meski gaya bahasanya agak kaku, menurutku, dg penggunaan 'kau' yg krg enak dibaca, tp keseluruhan aku menikmati kisah April dan segala problema kehidupannya jelang 30tahun.
Karakter April realistis. Begitu juga kisah hidupnya. Realistis. Ketika dia mempertanyakan kembali apa sih yg dia lakukan selama ini kenapa hanya begini begini saja? Ya kehidupan romantisnya, ya jenjang karirnya, ya kehidupan sosial dia dlm lingkup keluarganya yg terasa tdk ada perkembangan yg cukup berarti. Sama sekali beda dg bayangannya. Apalagi jk harus melihat pencapaian teman²nya

Aku suka segala interaksi yg ada. Dg ayahnya yg kondisinya semakin menurun tp agak ngeyel, dg kakaknya yg rada egois tp jg tdk bs disalahkan, dengan sahabatnya yg sibuk dengan lembar kehidupan barunya sebagai ibu muda, dan dg the one and only Armin yg layak didorong ke jurang oleh semua org tp yaa.. begitulah dia.. dg Lukman yg.. i swear, aku hepi dg keputusan April buat Lukman 🙌
Ada hal yg membuatku, 'ugh! Lukman kamu kok... ' #gamau spoiler... Baca sendiri yaa.. 🙌🙌

Why 3.5⭐?
Uh, iya. Krn aku merasa sedikit bosan dg bagian tengahnya.. terutama sebelum mencapai hal.167 😬✌️sedikit. Serius..krn selebihnya aku suka dg emosi² yg tercipta di sana

Last, buku ini oke dan aku menyukainya. Endingnya jg oke 👌
Terima kssih krn sdh menulis @nisaihsani kurasa aku penasaran dg karya² nya yg lain 💛😁
Profile Image for Mery.
Author 40 books218 followers
September 28, 2019
Pernah tidak menemukan buku yang Kamu Banget?

Aku merasa buku Mencari Simetri ini adalah aku banget.
Contohnya, si tokoh utama, April adalah Mardy Bum. Seperti aku.

Mardy Bum adalah istilah yang dibuat oleh Alex Turner idolaku dahulu dan dipakai sebagai judul lagunya. Mardy Bum artinya orang yang selalu mengeluh mengenai segala hal, pokoknya ngeselin. Walau kadar mengeluh April sebenarnya tidak ekstrem. Hei, lagi pula siapa yang tidak pernah mengeluh?

Hal lainnya yang sama antara aku dan April adalah pertengkaran-pertengkarannya dengan sang Papa. Aku tidak akrab dengan ayahku, berantem melulu malah, dan sudah melewati tahap-tahap lainnya yang tak pantas diceritakan.

Kemudian mengenai April yang mencintai pria yang tak mencintainya. Ya ini juga pernah. Untungnya, perasaan itu tidak selama April ke Armin.

Intinya, buku ini aku banget. Setiap kata kunikmati seperti becermin dan memandang diri sendiri. Ada satu kesan atau kutipan yang kusuka, meski mungkin tidak tepat (karena aku sendiri tak yakin dengan ingatanku): kita tidak berutang kepada siapa-siapa. Ini aku merasa tertampar dan tersadar, karena setiap kali seseorang berbuat baik kepada kita, bukan berarti kita berutang kepadanya. Dan memang, menurutku, belajar menolak dan berkata tidak jika kita tidak sreg terhadap sesuatu adalah hal yang penting.

Terakhir, yang kusuka dari buku ini adalah endingnya.
Profile Image for Lila Cyclist.
856 reviews71 followers
August 28, 2019
“Semua orang memiliki Armin mereka sendiri.’

Saya pikir, Armin ini sejenis istilah yang saya ngga ngerti, istilah gaul di kalangan para jomblo atau gimana. Tapi setelah saya membaca novelnya, saya baru tepuk jidat… oh, Armin… Ternyata itu kau 😁😁😁

Yah, memang sih, setiap orang, ngga cuma cewek dengan ‘Armin’nya, juga cowok entah dengan Arman-nya hahaha… Dalam satu fase, selalu saja ada orang lain selain keluarga yang pernah sangat dekat dengan kita, dan kebetulan berlainan jenis. Hingga kemudian tumbuh perasaan berharap yang terlihat dekat namun tak kunjung mendekat. 😂😂😂

Seperti pasangan dorama yang sedang saya tonton, Yo Mitarai dengan Ren Ishida, Natsu Okuhara dengan Tenyo Yamada, Do Bong Soon dengan In Guk Doo, dan saya dengan dia dan dia, dan dia wakakakak…hikss…

Review beserta curhat ada di blog Mencari Simetri- Annisa Ihsani
Profile Image for Syadzwina.
46 reviews25 followers
August 17, 2019
Percayalah, saya juga nggak suka ngasih 2 bintang ke penulis favorit sendiri, but I have to stay true to the descriptor: It was okay.

Novel ini sebenernya ngga tebel-tebel banget, tapi susah banget buat konek ke ceritanya, jadi berasa lama banget buat ngelarinnya. April ini karakternya...neither memorable or likable. Much of the brilliance can only be seen in dialogues in the last few pages, which is a shame. For like 2/3 of the book, it's really dragging.
Profile Image for Stephanie Zen.
Author 22 books330 followers
August 23, 2019
I can't find a better word to describe this book other than... realistic.
Sangat manusiawi, namun hangat dan tidak muluk. Terima kasih telah menulis buku ini, Annisa Ihsani. Will definitely read your other books :)
Profile Image for naga.
450 reviews96 followers
May 8, 2022
kok bisa ya annisa ihsani bikin novel dengan target audience dari bocil sampe adult semuanya gak pernah fail... keren bgt
Profile Image for Nidos.
300 reviews78 followers
August 17, 2019
Kali ini nggak ada matematika. Nggak ada fisika. Nggak ada sains terapan. Nggak ada debu-debu kosmis dan sejenisnya. Mencari Simetri terasa dekat dan apa adanya. Label Metropop yang akhirnya bisa dinikmati sama warga metropolitan nanggung pada umumnya, yang nggak melulu soal karier selangit dan tas desainer ternama sambil mabu-mabu atau ena-ena serta masih sempat liburan ke tempat yang AQI-nya nggak seburuk Jakarta.

April terlalu nyata. Kalau Amanda dan segala pemikiran serta isme-isme yang diusungnya terasa seperti habis minum NZT-48 (ahem, Ed Morra dan Limitless), April terasa lebih membumi. Saya bisa dengan mudah mengasosiasikan diri dengan April dan segala masalah kesehariannya, meski tidak secara serta-merta.

Sedikit komplain ada di penggunaan aku-kau dan bahasa baku dengan latar yang jelas-jelas Jakarta. Saya rasa ini zona nyaman Annisa, yang kalau saya editornya bakal saya dorong dia jauh-jauh dari sana, semata-mata karena bukan begitu cara orang Jakarta bicara satu dengan yang lainnya. Saya juga agak kesulitan membentuk sosok April dan Armin dan lain-lain di kepala saya. Rasanya deskripsi tokohnya terlalu minimalis. Selain itu, saya sedikit mengerutkan kening dengan latar waktunya. Oh, dan spasi ganda pada sinopsis di sampul belakang agak mengganggu. Sampulnya sendiri saya kurang suka sih, hehe. Kurang menggugah, kurang menggambarkan isinya, kurang Metropop.

WAH KENAPA JADI BANYAK KOMPLAINNYA?!?!

Terlepas dari semua itu, saya sangat menikmati Mencari Simetri dengan semua halaman berisi sentilan dan sindiran dan cermin dan puk puk hangat di pundak. Dan tamatnya sempurna! Hidup tidak selamanya soal metafora dan pelajaran apa yang bisa dipetik dari suatu perkara. Kadang-kadang memang sesederhana itu. Saya jadi ingat "Useless Bay"-nya Sarah Kay.

Hampir empat bintang, dan akan selalu menunggu karya-karya Annisa Ihsani selanjutnya.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
August 21, 2019
** Books 96 - 2019 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2019

3 dari 5 bintang!


Ketika mendengar berita Annisa Ihsani salah satu penulis lokal favoritku.. dua karya mbak Annisa yang Teka-Teki Terakhir dan A untuk Amanda merupakan buku favoritku,. Makanya ketika Aiakawabooks membuka PO langsung saja aku memesannya tanpa berpikir panjang

Sebenarnya ada kekhawatiran didalam diriku karena ini Novel Metropop dan aku bisa memastikan genrenya pasti romance.. bisa dikatakan genre romance is not my forte jadi susah meyakinkan diriku untuk bisa suka karena selama ini aku lebih menyukai suspense romance ketimbang romance biasa. Tapi kenapa tidak kita memberikan kesempatan siapa tahu buku ini bisa menawarkan sesuatu yang berbeda?

Aku suka ide konsep buku ini dan relate banget malah sama diriku sendiri tapi entah kenapa aku malah lebih fokus ke karakter Armin dan ayahnya April yang menurutku lebih unik dan memorable ketimbang Aprilnya sebagai tokoh utama. Tokoh april ini kurang berkesan untuk diingat kalau buatku beda ya dengan Amanda atau Jo. Aku sebenarnya lumayan lelah membaca buku ini April ini kerjaannya apa-apa suka mengeluh.. ini dia keluhkan itu dia keluhkan apalagi masalah percintaan. Menunggu seorang laki-laki selama itu gak worth it sih tapi lagi-lagi cinta itu buta kan gaes.. Disisi lain kita semua juga pernah merasakan life after crisis jadi ngerti apa kegelisahan yang dirasakan seorang April

Tapi kalau kalian berminat mencari buku romance yang endingnya tidak biasa bisa dicoba membaca buku ini. Jujur kalau aku pribadi tetap lebih suka A untuk Amanda dan Teka-teki terakhir

Terimakasih Aiakawabooks!
Profile Image for Op.
375 reviews125 followers
August 22, 2019
Dua karya Annisa Ihsani yang terdahulu cukup membuat saya terkejut karena jalan cerita yang tidak biasa. Saat tahu bahwa dia akan menulis metropop, saya justru tidak berharap apa-apa. Yang saya tahu ada kemungkinan saya akan suka.

Tidak banyak hal mengejutkan dari plot kisah perjalanan cinta April, mbak-mbak kantoran yang naksir teman kantornya selama 6 tahun. Menurut saya karakter para tokohnya tidak kuat. Mulai dari April yang mengeluh soal unrequited love-nya, Armin yang hanya cowok biasa-biasa saja. Atau ketika ada pria lain muncul, juga bukan karakter yang WOW OMG TINGGALKAN SAJA PRIA YANG TIDAK MENCINTAIMU ITU! Masalah keluarga, di mana sang Papa menderita penyakit pun tidak terlalu menggugah dan tempelannya kurang kuat. Masalah keluarga lainnya pun juga kurang menohok para pencari adegan dramatis di novel cinta.

Lalu? Ya tidak lalu-lalu, saya sih tetap suka karena HAHAHAHAHAHAHAHAHA HAHAHAHAHAHAHA. Annisa seperti hanya fokus ke pergulatan batin si protagonis dan celotehan-celotehan yang sangat wajar dan biasa terungkapkan oleh lingkup pertemanan saya. Mungkin karena tidak terlalu ngayal babu dan lebih familier, saya tidak terlalu menggubris kelemahan-kelemahan lainnya. Saya sangat terhibur dan tertawa terbahak sepanjang membaca. Akhir ceritanya juga patut saya acungi jempol karena kan yaaa HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.

Profile Image for owlshell.
64 reviews10 followers
June 29, 2020
Rate ; 4/5

"Adakah yg lebih buruk daripada melihat foto teman-temanmu dengan kehidupan mereka yang berkilau cemerlang, lalu melihat ke sekelilingmu-semua remah roti dan tumpukan pakaian kotor serta fakta bahwa kau sendirian- dan menyadari betapa menyedihkannya hidupmu dibanding mereka?" -hal.81



Buku ketiga Annisa Ihsani yang aku baca setelah A untuk Amanda dan Teka-Teki Terakhir.
Masih dengan gaya penulisan yang sama, yaitu seperti buku terjemahan. Ada beberapa kata yang terlalu kaku yang jadinya agak aneh aja pas dibaca.

Genre metropop emang sangat sederhana dan relatable dengan kehidupan banyak orang. Bagaimana segala pencapaian di hidup kita jauh melenceng dengan apa yang telah di-ekspektasikan.
Tentang pencapaian karir, orangtua yang telah menua dan sakit, pertemanan yang perlahan menjauh, atau pasangan yang tidak bisa diharapkan. Semuanya bisa secara tiba-tiba menjadi hal yang memusingkan untuk dihadapi.

"Kurasa kebanyakan pertemanan berakhir bukan karena perselisihan dan pertengkaran, melainkan karena salah satu dari keduanya sudah larut dalam hidup mereka masing-masing." -hal.141



Suka dengan ceritanya, tapi... gatau deh. Ngerasa ada yang kurang aja gitu. 😅

Profile Image for B-zee.
580 reviews70 followers
August 21, 2019
Rasanya ini pertama kalinya aku membaca novel berlabel metropop. Dan karena bukunya sedang ramai. Kalau penulis lain, mungkin aku akan melewatkannya. Tapi penulis ini, sebenarnya aku sudah tertarik sejak buku debutnya, meski belum berkesempatan untuk membacanya. Intinya, ini sebuah awalan yang tidak biasa. Sebelum membaca buku ini aku sempat khawatir, kalau aku memulai dengan buku ini, apakah aku akan kehilangan minat untuk membaca buku-bukunya sebelumnya? Karena aku akan memasuki genre yang bukan dalam teritorialku.

Semua perempuan yang sudah mencapai ujung dua puluhan hampir pasti akan memahami apa yang dialami April. Aku tersenyum-senyum dan tertawa-tawa sendiri saat membaca buku ini. Saat kutanyakan pada seorang teman, apakah memang metropop seperti ini, jawabannya memang begitu, meski gaya Annisa Ihsani agak berbeda dan lebih 'membumi'.

Aku suka endingnya, karena ya memang begitu, akan ada fase seperti itu sampai akhirnya ada lagi fase berikutnya. Perkembangan karakter April juga terasa, mulai dari mengalahkan ego hingga bisa menemukan simetri dalam kehidupan, bukan hanya masalah cinta, tapi juga keluarga dan hubungan sosial.

Di luar itu semua, tanpa menyalahkan siapa-siapa, aku jadi agak sedih dengan gambaran ayah April saat periksa sana-sini. Antara memang setidak efektif itu kondisi di masyarakat kita, dan seharusnya ini bisa diperbaiki. Yah, itu bahasan lain yang akan panjang diperdebatkan.

Menjawab pertanyaan di awal, apakah aku kehilangan minat membaca buku lainnya. Jawabannya tidak, tapi rasanya juga tak semenggebu sebelumnya. Lalu, apakah aku jadi akan mencoba metropop yang lain? Entahlah, mungkin kalau nanti menemukan buku dan mood yang pas.
Profile Image for Ardina Rahma.
134 reviews14 followers
September 25, 2019
"Terakhir aku berkumpul bersama teman-temanku, ada lebih banyak anak kecil daripada orang dewasa. Aku merasa agak...tersisih. Entahlah, seperti mereka sudah mencapai sesuatu dan aku tertinggal di belakang" - hal 186

Saat membaca sinopsisnya suka, setelah membacanya lebih suka! Sebuah cerita dengan tema yang sangat related terutama bagi mereka-mereka yang hampir menyentuh kepala 3, semacam thirty-lyfe-crisis.

"Usia 29 tahun, tanpa pencapaian bermakna. Tidak pernah menoreh prestasi. Tidak pernah membuat orangtuaku bangga. Apa saja sih yang kulakukan tahun-tahun belakangan?" - hal 91

April menghadapi kondisi di mana teman-temannya sudah berkeluarga, sudah memiliki anak, sementara dia belum. Boro-boro punya pasangan, orang yang ditaksir memang di dekat jangkauan selama bertahun-tahun, tapi......ngga bisa digapai! Lalu muncul orang baru, yang lebih mencintai April, namun mereka tidak memiliki satu visi.
Apa yang akan April pilih : memilih tetap menunggu seseorang yang susah digapai atau memilih yang mencintai dia tapi berbeda visi?

Pilihan yang cukup sulit ya. Pada akhirnya saya ingin mengacungkan jempol terhadap pilihan yang dibuat April 👌

"Karena dia hanya bisa memberiku remah-remah, sementara aku menginginkan kue utuh" - hal 236

Dear Ka Annisa Ihsani,
Mohon diperbanyak ya menulis metropop seperti ini. Saya suka ehehe (*lah siapa lu, ngatur-ngatur🙈)
Profile Image for Autmn Reader.
883 reviews93 followers
March 6, 2021
Ya, Allah, akhirnya beres juga. Aslinih buku bosenin banget,wkwk. Seperempat akhir aja sih aku kek mulai gedeg sama April.

•Pros•

Aku seneng karena buku ini nggak jual mimpi-mimpi. Masalahnya juga relatable banhet gitu lho. Kek pemikiran April tuh ya sekali dua kali emang terbersit di kita. Terus nunjukkin juga kalau penghuni ibu kota itu ya nggak semuanya kayak novel2 metropop yang nggak jauh2 dari ngomongin selangkangan, tas2 bermerek, kerjaan mentereng. Kek buku ini tuh nunjukkin kalai, ada kok penghuni ibu kota yang kerjaannya biasa-biasa aja, hidupnya stagnan, kisah percintaan yang payah juga.

•Cons•

Masalahnya adalah, ini crta beneran stagnan. Aku nggak masalah kok sama ending yang begitu, tapi masa iya nggak ada perubahan cara pandang April? Masa dari awal kayak gitu sampe akhir? Terus buat aoa aku baca ini kalau enggak bisa ngelihat perubahan pribadi April.

Kemunculan Lukman juga kentang banget. Kek cuman buat selingan aja. Kenapa gtu? Padahal ini berpotensial buat bikin April mengubah pola pikirnya sedikit. Makanya aku rada gedeg oas baca karena ya apa banget gtuuu.

Tapi ya sudahlah. Mungkin ceritanya emang bukan my cup of tea. Wkkw.
Profile Image for Syifa Zakiah.
44 reviews12 followers
December 13, 2020
Sedikit kaget sama endingnya. Seperti belum ada titik terang dari kelanjutan kisah si tokoh utama. Tapi topik yang diangkat dan jalan ceritanya rasanya relate bangettt. Beneran realistis.

Ending novel ini yang seolah di potong di tengah klimaks, ngingetin saya, bahwa hidup emang begini. Akan ada saatnya kisah saya stop di situ.
Gak peduli apakah ada masalah yang belum terselesaikan, atau mimpi yang belum tercapai, TBR yang numpuk, dll dll.

Hidup gak melulu tentang apa yang kita mau, tapi kita selalu punya pilihan, untuk selalu berdoa, berusaha, dan paling nggak, sedikit gercek gitu wkwk. Bukan malah stagnan, atau stuck di situ2 aja.

Dan yang lebih nampar di novel ini adalah pesan tersirat bahwa kita harus berani keluar dari zona nyaman, dan berani berkomitmen.
Satu kalimat yang bikin ngilu banget waktu saya baca, kurang lebih begini katanya "cinta itu datang dan pergi, komitmenlah yang membuat kamu akan bertahan. Bertahan menjalani hidup dengan orang yang sama setiap harinya. (((
Profile Image for Yonea Bakla.
322 reviews36 followers
August 20, 2019
April, yang berada di penghujung usia kepala 2, sudah lelah ditanya kapan menikah, tapi sayangnya April masih stuck dalam lingkaran friendzone dengan Armin.

Kesibukan sahabatnya Sita mengurus anaknya Gia, lambat laun membuatnya tersisih. Lalu, di sela rangkaian pemeriksaan dan terapi Papanya yang mengalami Alzheimer, April bertemu Lukman. Ada beberapa lapisan bawang di cerita ini yang bikin konfliknya klimaks dan bikin pengen makan es krim.

Kak Nisa menyuguhkan cerita dengan menggunakan Pov 1 April. Membaca dialog April dengan tokoh lain, maupun monolog April membuat gemas dan tidak bisa berhenti membaca sampai akhir.

Twistnya 💔💔💔

Novel ini PENTING dibaca semua single supaya tetap waras dan tetap bahagia.
Highly recommended dan setelah ini aku akan segera membaca A untuk Amanda dan buku kak Nisa yang lain! Ditunggu karya selanjutnya. 😻
Profile Image for Nureesh Vhalega.
Author 20 books152 followers
September 20, 2019
Actual rating: 3.5

Aku sebal banget sama si Armin ini. Jadi inget Shingeki no Kyojin wkwkwk tapi Armin yang di sini minta digeplak banget. Sampai halaman 140-an aku udah yakin bakal ngasih rate 2 bintang buat buku ini, tapi 10 halaman terakhir menyelamatkan buku ini. Aku suka banget!
Profile Image for Andita.
309 reviews3 followers
April 26, 2023
Aduh, gimana ya.. Mencari Simetri itu isinya sangat RELATEEEEE sama kehidupanku yang biasa-biasa aja (heuheuheu), yhaaa walaupun aku belum usia 20-an akhir tapi gimana ya i'm still scared about my future:(

"Nyaris semua temanku kini sudah menikah dan punya anak - milestone yang dianggap orang sebagai ukuran kedewasaan" pg.20

Lihat kan, ini baru halaman 20 dan aku sangat RELATE! HAHAHAHAHAHA!!!!!

Aku suka April, tokoh akhir 20-an yang cukup lucu buat diikutin. CAN YOU IMAGINE? Selama 6 tahun mencintai satu laki-laki yang ternyata tidak mencintainya kembali? nangisssss banget!

Selain itu, aku suka hubungan antara April dan ayahnya, kurasa itu kasih sayang yang cukup realistis. Ayah terkadang menjadi orang yang sangat peka di tengah ketidaktahuannya. Dan cukup sedih dengan kondisi ayah April disini. Ingatan yang perlahan hilang pasti terasa merenggut sebagian kehidupan.

Hubungan April dan kakaknya juga sahabatnya, permasalahan konflik keluarga, hubungan orang tua dan anak, aku rasa memang benar buku ini sangat dewasa karena memang inilah kehidupan orang dewasa dengan permasalahannya yang akan dihadapi siapapun, termasuk aku.

"Namun, memiliki anak adalah komitmen yang sangat permanen. Zaman sekarang kau bisa mengubah apa saja dalam hidupmu. Tidak suka pekerjaanmu? Berhenti, cari yang baru. Tidak suka pasanganmu? Kau bisa bercerai. Tidak suka rambutmu? Potong, luruskan, warnai biru. Namun, jika kau tidak suka menjadi orangtua, tidak ada jalan mundur. Kau tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka. Tidak tanpa meninggalkan luka emosional." pg.225

AHHHHHH! Pada akhirnya, sama seperti dalam buku, menjadi dewasa artinya masih saja mengusahakan. Memutuskan dan berusaha agar hidup menjadi nyaman untuk dijalani, berbagai pilihan perlu diperhitungkan, entah itu pertemanan, percintaan, karir, atau hubungan lainnya.

"Di masa sekolah, kami bertemu setiap hari, jadi pertemanan kami berjalan begitu saja. Namun, pertemanan di usia dewasa itu beda lagi; seperti hubungan lain, kau harus terus membuat usaha ekstra untuk mempertahankannya." pg.226
Displaying 1 - 30 of 228 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.