Siri' berawal dari kematian mendadak Bahjan Komarudin, seorang taipan sekaligus politisi terkemuka. Kematiannya menguak sebuah kisah cinta sekaligus kehidupan poligami yang kompleks antara Bahjan dan Lie Mei Yuan, seorang gadis keturunan cina serta Sulistiawati, gadis belia yang terjebak tradisi.
Apa yang dimulai sebagai sebuah kisah cinta itu, kemudian menjadi titik mula dari perjumpaan-perjumpaan mengejutkan yang diceritakan dengan memikat dalam novel ini. Wartawan dan penata gaya yang terseret arus konflik di Papua, aktivis yang hilang, seniman yang mengembara ke ujung Yunani, dokter yang mencoba bunuh diri di Denmark, semuanya saling melengkapi seperti kepingan mozaik.
Mei Yuan - Bahjan - Sulis berubah, bertumbuh, bertambah usia seiring dengan gejolak perubahan di Indonesia. Di tengah perubahan itulah tiga generasi dalam novel ini hadir dengan cara pandang yang mewakili jamannya masing-masing. Tapi sejauh mana cinta bisa diperjuangkan ketika tradisi menciptakan jarak yang sulit dijembatani?
Never find this much drama in a single book. Buku ini benar-benar 'berat'. Pastikan kamu dalam keadaan benar-benar 'sehat' sebelum baca. Banyak sekali tokoh yang diceritakan di sini : Bahjan sang konglomerat dari Buttabella, Mayang/Lie Mei Yuan wanita Tionghoa sekaligus istri pertama Bahjan, Sulis wanita pribumi yang dijodohkan dengan Bahjan tapi malah jadi istri kedua karena Bahjan keburu silariang(kawin lari) sama Mayang. Lalu juga ada Arsyad, dokter muda yang lebih suka bekerja di pelosok dan wilayah perang, Agung yang sangat mencintai seni gambar, dan Arimbi gadis naif dan obsesif terhadap Samuel, pacarnya. Lalu juga ada Johanna, Dani Ramadan, dan Pol sebagai tokoh2 pelengkap.
Ada 27 bab di buku ini. Ditulis menggunakan POV orang pertama. Bab ini dituliskan menggunakan POV ke-9 orang di atas secara bergantian. Tidak ada petunjuk setiap POV berganti. Awalnya tentu saja bingung. Apalagi dengan banyaknya tokoh ini, dan hubungan mereka tidak disebutkan di awal. Tapi akan ter-reveal sepanjang cerita. Menurutku penulisnya jago di bagian ini. Walaupun POVnya ada banyak dan writing style di setiap pergantian sudut pandang juga tidak jauh berbeda, semua tokoh rasanya tetap 'kuat'. Semuanya berhasil memainkan emosi.
100 halaman pertama aku masih struggling sama narasinya yang gak biasa. Terlalu banyak deskripsi. Rata-rata semua kejadian diceritakan melalui pikiran si tokoh. Bukan dari kejadian langsungnya gitu. Terus adanya kalimat2 yang dicetak italic juga menambah kebingungan krn gak disertai keterangan yang ngomong itu siapa. Tapi setelah ngerti hubungan antar tokoh, bakalan ngerti sendiri kok.
Di buku ini juga banyak disisipkan budaya Makassar seperti dialek, adat, istilah, dan makanan khasnya seperti es pisang ijo, ikan bolu, dan ikan pallumara. Sebagai orang yang dekat dengan budaya ini, aku bangga❤️
Namuuuun, walau budayanya dekat dengan ku, topik-topik yang dibahas buku ini tetap lumayan berat buatku, tentang idealisme, poligami, kemerdekaan, kekuasaan, hukum, budaya, dan segala macam hiruk-pikuk polemiknya.
Aku setuju kalau buku ini disebut sebagai buku yang ditulis dari hati, keliatan dari tiap topik yang disajikan penulis pasti akan dibahas secara dalam, bukan sambil lewat. Hal ini menunjukkan penulis memang make time and effort to do such research. Good job👏✨
Waktu itu pernah berbagi soal buku ini di Instagram, lalu seorang teman bertanya, "Buku ini tentang nikah siri ya?", tentu saya jawab bukan. Lalu buku ini ceritanya tentang apa? Saya yang saat itu masih membaca buku ini sekian bab, merasa bingung juga menjelaskannya. Saat saya sudah selesai membaca sampai habis, baru saya bisa menjelaskan buku ini sebenarnya tentang apa.
Siri' (ya dengan koma di atas) dalam KBBI ada siri yang berarti sistem nilai sosiokultural kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat dalam masyarakat Bugis; keadaan tertimpa malu atau terhina dalam masyarakat Bugis dan Makassar. Dari arti di atas sudah jelas ini kental sekali dengan budaya Sulawesi/Bugis/Makassar. Novel ini bercerita tentang sebuah keluarga, Bahjan Komarudin yang rumit. Ya saya harus mengatakan keluarga ini adalah keluarga yang besar tapi rumit, dalam buku ini semua keluarga bisa telusuri, karena tiap mereka berbicara.
Bahjan Komarudin meminta kedua istrinya datang ke istana megahnya, lalu dia ditemukan meninggal. Jeng jeng, jelas ini terasa menarik sekali di awal cerita. Masuk lebih dalam ke bab kedua, lalu cerita tentang Pol, pekerja Komisi Anti Korupsi yang ternyata mencari tahu soal Bahjan. Masuk ke bab selanjutnya ada cerita Arimbi. Nah lho, ini siapa lagi? Di bab awal saya merasa penasaran, terus bab selanjutnya saya lanjut mengerutkan kening. Ya, ada banyak POV dalam buku ini. Seperti yang saya bilang di awal, semua orang berbicara dalam buku ini.
Setelah lanjut membaca, kening saya yang berkerut tadi mulai mengendur dan mengetahui ini tokoh-tokohnya siapa saja. Sebagai pembaca saya baru mulai bisa memahami karakter tiap tokoh dalam cerita ini. Alurnya pun maju mundur, di awal tahu Bahjan berpoligami, baru nanti pembaca diajak menyelami cerita cintanya Bahjan dan Mei Yuan, pernikahan silariang, perjodohan, hingga poligami. Dari sana saja, kita bisa melihat keruwetan satu keluarga ini. Bukan hanya Bahjan - Mayang - Sulis, tapi ada anak-anak mereka dengan keruwetan lainnya. Ada Arsyad, Agung dan Arimbi. Tiap mereka berbicara, dan tiap mereka punya kerumitan lainnya walau sepertinya hidup dengan bergelimang harta keluarga.
Novel ini adalah karya debutnya Asmayani Kusrini yang adalah seorang jurnalis. Saya lantas punya ekspektasi yang lumayan tinggi, saat ditawari membaca buku ini. Dan, benar saja. Novel ini adalah novel yang tidak ringan untuk dibaca saat santai. Ada banyak isu yang diangkat oleh Rini, sebut saja soal korupsi, pernikahan beda agama/suku (soal minoritas), poligami, perjodohan, aborsi, homoseksual, hingga isu Papua semuanya masuk dalam buku ini. Terlalu padat hingga mampat. Saya paham, karena isu ini jelas memperlihatkan banyaknya kegelisahan Mbak Rini dalam enam tahun penulisan buku ini.
Wajar saja jika setelah membaca buku ini, para pembaca akan bertanya, "Akankah ada buku lanjutannya?" karena saya rasa tiap tokoh bisa punya cerita sendiri nantinya. Saya sendiri jelas menunggu cerita Mayang jika memang Mbak Rini kepikiran untuk melanjutkan novel keduanya :D
Bahjan Komarudin ditemukan oleh kedua istrinya meninggal di rumah mewahnya. Belum diketahui apa penyebabnya. Mayang dan Sulis yang menemukannya sama-sama terkejut, tapi Mayang sebagai istri pertama harus bertindak cepat. Apalagi Bahjan adalah seorang politikus terkenal.
Kisahnya kemudian bergulir dari satu orang ke orang yang lain. Ada Pol, yang merupakan pegawai arsip di Komisi Anti Korupsi yang mendengar cerita beberapa orang di warung kopi tentang aliran dana milik Babe (nama alias dari Bahjan). Pol ini menikah dengan Dani, seorang wartawan yang ternyata berasal dari kampung yang sama dengan Bahjan. Dani bertemu dengan Arimbi, anak ketiga Bahjan sekaligus teman sekolahnya dulu, yang sedang mencari seseorang di Papua. Dani sendiri pernah juga bertemu dengan Arsyad, anak pertama Bahjan dan memiliki kisah tersendiri. Sementara itu, Agung, anak kedua Bahjan memilih menjadi pelukis mural setelah diasingkan oleh keluarganya ke Belanda.
Siri' adalah sebuah kata dalam bahasa Makassar/Bugis yang berarti malu. Di dalam novel ini memang diangkat serangkaian kejadian yang menyangkut kehormatan keluarga. Diawali dari kawin lari antara Bahjan dan Mei Yuan (Mayang) yang berbeda suku dan agama, lalu Bahjan yang harus menikah lagi dengan Sulis karena sudah dijodohkan oleh keluarga. Tidak hanya berhenti di situ, anak-anak mereka ternyata juga dianggap melakukan perbuatan yang membuat keluarga menjadi malu.
Novel ini sangat padat, baik dari karakternya, ceritanya, sampai konflik yang diangkat. Sudut pandang yang bercerita juga berbeda dari satu bab ke bab lain, sehingga pembaca harus jeli dalam memahami alur cerita. Tapi semakin akhr kisahnya semakin menarik, sampai kemudian ditutup dengan epilog yang membuat pembaca bebas berinterpretasi.
Dari sinopsisnya, dapat diprediksi kalau novel ini adalah tentang cerita keluarga yang rumit dengan banyak karakter yang tersebar di segala penjuru dunia. Sesuatu yang beresiko jika penulisnya tidak piawai menjalin kisah para karakternya. Pada novel ini, jalinan cerita keluarga Bahjan Komarrudin dengan dua istri dan tiga anaknya dituliskan dengan apik. Setiap kepingan mosaik datang dari ruang dan waktu yang berbeda, menimbulkan berbagai percikan perasaan; saling melengkapi dan membuat pembaca sulit berhenti membalik halaman demi halaman.
Sebelum aku mulai membaca novel Siri’, beberapa rekan pembaca buku memberikan nasihat padaku agar berhati-hati, sebab novel ini menuliskan isi kepala tokoh-tokoh di dalamnya. Tidak hanya dua atau tiga, bahkan lebih. Tak hanya itu, tidak ada clue yang jelas ketika pertama mulai memasuki bab awal, siapa yang bercerita?
Nasihat itu aku simpan sebagai pedoman agar aku tidak bingung. Berbekal buku catatan, aku mulai menuliskan sedikit uraian tentang bab yang kubaca tanpa langsung meminta identitas si pencerita. Aku lanjutkan ke bab-bab lainnya, ternyata tidak sesulit itu. Terutama, ketika profesi mereka dijabarkan, membuat semua tokoh tampak jelas dan tak lagi serupa monolog tanpa wajah.
Membaca Siri’ berbeda dengan membaca novel Misi. Siri’ bukanlah nama orang, di dalamnya terdapat dominasi luka dan konflik batin yang lebih ramai. Mungkin, karena semua luka semua bercerita. Meski tak langsung bersinggungan langsung dengan pemilik luka, sesekali luka itu dikisahkan melalui orang lain. Sehingga, eksplorasi tempat-tempat di Yunani yang cukup unik terkalahkan dengan rasa penasaran akan penyelesaian konflik keluarga ini.
Iya, novel ini banyak bercerita tentang masalah keluarga. Keluarga khusus Bahjan Komarudin. Hingga keluarga besar Haji Komarudin. Bahkan, orang luar juga ikut mencampuri urusan keluarga taipan tersohor yang konon akan mencalonkan diri menjadi RI1 ini. Semua berawal dari kematian sang politikus yang ditemukan dalam kamarnya, sendirian, tanpa jejak kekerasan maupun racun yang mungkin disengaja untuk membunuhnya.
Dinamika keluarga dengan sentuhan budaya Bugis yang kental. Fast pace serta menimbulkan empati. Penulis berhasil membuat pembaca terhenyuh sekaligus penasaran dengan kisah di dalam novel Siri'. Novel yang layak untuk dibaca bagi kamu penikmat roman, kisah keluarga, pemerhati budaya, bahkan siapapun yang penasaran dengan Siri' itu sendiri.
Kami berkesempatan ngobrol dengan penulisnya, mbak Rini. Apa saja yang menjadi bahan riset saat menulis? Bagaimana kesan kami akan Siri'? Bisa disimak di Podcast Kepo Buku. Selain di Spotify, akses dengar bisa lewat web page Kepo Buku ini https://kepobuku.com/?p=513
Ada diskon 20% buat yang mau beli novel ini melalui akun Shopee Penerbit Mekar Cipta Lestari (MCL) dan masukkan kode voucher: “MEKARKEPO”. Kesempatan berlaku hingga 15 November 2020.
Kematian seringkali justru mempertemukan banyak orang. Mereka yang pernah akrab, kemudian terpisah dalam waktu lama tanpa saling berkabar, mendadak harus bertemu karena kematian seseorang yang terhubung di antara mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari, kematian itu bisa saja terjadi pada teman di masa lalu. Pemakamannya menjadi undangan bagi mereka yang pernah terhubung dengan dia yang kini tinggal nama dan kenangan tentangnya. Bisa pula kematian itu terjadi pada orang bernama besar dengan banyak sahabat dan kerabat yang kemudian berlomba-lomba untuk saling terlihat paling dekat di hari almarhum dikebumikan.
Maka, begitu politisi dan pelaku poligami Bahjan Komaruddin ditemukan mendadak mati di rumah mewahnya, pertanyaan pun muncul, siapa sajakah orang-orang terdekatnya? Siapa anak istrinya? Bagaimana hubungan di antara mereka? Akankah mereka bertemu berbagi duka di pemakamannya?
Siri', karya pertama Asmayani Kusrini, menjadikan pertanyaan itu sebagai misteri dalam novel setebal 352 halaman ini. Kematian Bahjan menjadi pembuka bagaimana kisah hidupnya di masa lalu dan apa yang terjadi pada keluarganya. Dan, penelusuran itu tidak mudah.
Rini, jurnalis yang kini menetap di Brussels sambil menulis untuk TEMPO, menggunakan latar belakangnya sebagai jurnalis dan warga global untuk menjelajah bagaimana masalah keluarga berkelindan dengan banyak isu di negara asalnya: korupsi, konservatisme, Papua. Tema yang sungguh berat dan membuat kening berkerut ketika membacanya.
Merujuk pada judulnya yang bermakna sistem terkait harga diri bagi masyarakat Bugis dan Makassar, buku ini juga terkait erat siri' itu sendiri. Sayangnya, Rini justru tidak banyak menjelajah topik ini. Padahal sebagai orang yang lahir dan besar dalam budaya Bugis dan Makassar, dia seharusnya bisa menjelaskan bagaimana sistem ini berjalan saat ini.
Rini hanya sempat menyitirnya dalam beberapa bagian meski tidak secara verbal. Misalnya tentang pernikahan Bahjan dengan istri keduanya yang dilakukan demi menjaga martabat keluarga. Juga pelarian tiga anaknya ke berbagai belahan dunia mereka lakukan sebagai pemberontakan terhadap nilai-nilai yang mereka anggap konservatif.
Novel ini lalu melompat-lompat maju mundur dengan cerita pada tiap tokohnya. Tidak hanya tiga anak Bahjan yang kini menjadi aktivis, dokter, dan perupa jalanan (street artist), tetapi juga istri pertama, istri kedua, aktivis antikorupsi, dan jurnalis.
Tiap tokoh membangun ceritanya masing-masing. Ada yang terjebak di pusaran konflik Papua bahkan mengalami insiden tembak menembak di sana. Ada yang menyembunyikan diri di antara eksotisme Yunani. Ada pula yang harus dirawat di rumah sakit setelah kecelakaan tragisnya di Denmark. Dan, banyak lagi.
Karena alur cerita yang maju mundur dengan gaya tutur orang pertama dari tokoh berbeda-beda, novel ini terasa melemparkan pembaca ke sana ke mari. Semua menuju pada satu titik akhir untuk menjawab pertanyaan sepele, apakah kematian Bahjan akan mempertemukan anak-anaknya yang kini sedang mengembara dalam takdirnya masing-masing?
Saya rasa buku ini sangat relevan bagi siapapun yang ingin membaca nya, terlepas latar belakang masing-masing pembaca yang beragam. Asmayani memiliki kemampuan untuk membuat pembaca tidak merasa asing dengan suatu konteks budaya tertentu, dalam hal ini budaya Bugis. Selain karena konflik yang digambarkan masih cukup kental dengan iklim sosial budaya di Indonesia, kisah tentang sebuah keluarga selalu berhasil membuat pembaca memiliki keterikatan khusus dengan keseluruhan cerita. Contohnya tentang bagaimana kita tumbuh dan apa kita kerjakan hari ini sangat terkait dengan nilai dan tradisi dalam keluarga. Maka wajar ketika Bahjan, Mei Yuan, Sulis, Arimbi, Arsyad, dan Agung memperjuangkan prinsip dan mimpi mereka walau siri' berkata lain.
Sumpah—ngga tau mau komen apalagi. Buku ini cantik, suka sama cara penulis ngebikin fragmen-fragmen kecil yang kalo digabung jadi gambaran besar. Buku pertama yang bisa aku abisin dalam sekali waktu dan bahkan bikin ketagihan. Dan, buku yang bikin ngurut dada, nahan teriak dan nahan misuh tengah malem. Buku ini rumit, iya, tapi banyak pembelajaran di sini😭
It starts with the death of Bahjan Komarudin: a respected politician from a small city of Butabella, successful businessman, father of three and a husband of two: a Chinese descendant Mayang or Lie Mei Yuan and a native Sulistiawati. Such a busy life for a man!
Bahjan fathered two children from his unofficial marriage with Sulis: Arsyad, a young doctor working in the conflict areas and Arimbi, a naive young lass who is obsessed with her Papuan-Dutch activist bf. He also fathered a son from his official marriage: Agung, a gay painter.
The readers will also meet Johanna, Dani Ramadan and the journalist Pol. Their path is intersected and intertwined as they all share a small bit of each other's life.
This novel is so draamatic and may (at first) be considered 'heavy' to the readers. How can I say so? There are so many characters either the main or suppportive characters and each of them is given a space to raise his/her voice. So many narrations amd descriptions. I would have to make a note so I won't get lost lol (last slide). The POV also keeps changing every chapter because the story is told from each character's (Arsyad does seem appealing tho...rambut gondrong, dokter, aktifis..my kind of guy!). The plot goes back and forth and it is sometimes confusing because we do not even know who's telling us a story (as in POV term). Yet those are the beauty and the strength of the story in this novel.
It takes me a while to get myself immersed in the story. When I can get into the story and see the plot in the wider scope, I'm amazed with the conteoversial issues that are being revealed here: women subjugation, modernity vs culture and norms, Papuan conflicts, homosexuaality and human rights are some of the issues raised here. The Makassar dialects also enrichs the story. I would recommend this book as one of the books one should read!
Thank you, Rini @asmayanikusrini for shipping me your book. I am often gregeten, giggle and my ❤ sometimes constricts with the social issues you revealed here. A longer article that I wrote about this book is going to be published soon in different platform of electronic and printed media.
Perlu konsentrasi untuk membaca bab-bab awal dalam buku ini, karena setiap babnya menggunakan POV dari beberapa tokoh. Meskipun awalnya membingungkan dan membuat bergumam, “Emang apa sih kaitan cerita dari masing-masing tokoh ini?”, sembari menamatkan buku, gumaman itu terjawab juga.
Selain penggunaan POV yang berpindah-pindah, permasalahan dan drama yang diangkat cukup membuat jalan ceritanya semakin rumit, seputar poligami, budaya, dan hukum. Meski dramanya cukup rumit tapi tidak menyingkirkan juga rasa nagih untuk menamatkan buku ini. Malah saat menuju pada bab-bab akhir, rasanya seakan tidak ingin cepat-cepat sampai di halaman terakhir buku, berharap ada cerita lain. Semoga ada lanjutan dari buku ini, khususnya karena memang penasaran kisah lanjutan mengenai Mayang dan anak-anaknya Bahjan.
Novel ini sangat realistis dengan keadaan. Tapi konflik realita terkadang membuat kita lelah, termasuk bacanya 🥲 Penulisannya enak kok buat di baca, agak slow paced jadinya bikin aku makin slow juga bacanya (sering kutinggal kerja ato urusan lain). Paling enak pas udah nyampe lebih dari setengah bukunya, seluruhnya mulai terlihat jelas.
Trigger Warning: homophobia, gun, abortion, mutilasi(???). Yang mutilasi gak tau karena itu beneran atau palsu.
-----------
Tapi pemilihan katanya sebagus itu sih, contohnya ngedeskripsiin orang-orang di halaman 4: "Orang-orang dengan senyum cabul dan mata awas oportunis yang siap lari dan sembnyi setiap kali salah kalkulai dan salah strategi."
Atau tentang deskripsiin manusia serakah di halaman 14: "Manusia serakah selalu punya cara untuk memaklumi diri sendiri."
Dan ini yang lumayan menggambarkan aku sebagai turis luar yang tidak mau terlalu ikut campur dalam banyak hal di halaman 23: "Selebihnya, aku hanya membaca, tapi tak mengalami. Aku turut prihatin, tapi tidak punya kapasitas untuk mencampuri. Siapalah aku? Aku hanya orang luar, seperti turis yang cukup puas menikmati sensasi berada di alam bebas, mengabadikannya dalam kamera dan kalau tak lupa, mungkin mencetak dan memigura fotonya."
Di sini juga secara tidak langsung mengajak kita untuk berusaha let it go, gak usah berusaha terlalu keras untuk melupakan sesuatu di halaman 157: "Aku menyadari, sekuat apa pun manusia ingin menghapus ingatan, sekuat itu pula memori manusia mencengkram kenangan."
Novel ini seru untuk diikuti karena menyajikan drama keluarga yang bukan hanya dramatis. Tapi membuatmu penasaran layaknya novel "mencekam" hingga akhir.
Selain itu nuansa dan sikap batin seorang istri yang mengalami poligami tertata rapi dan membekas di benak pembaca. Itu yang aku rasakan saat membaca Siri'.
Beruntung saya bersama Kepo Buku, mendapat sedikit banyak cerita proses pembuatan novelnya dari sang penulis. Simak di https://kepobuku.com/?p=513
Terbaru, ada obrolan Aan Mansyur bersama mbak Rini, pengarang Siri' yang memberikan perspektif baru dalam membaca novel Siri'. Ada spoiler minor tapi dijamin penasaran sama novel ini sehabis mendengarkan bincang seru mereka. Bisa didengar di Podcast the biography of my work
Membaca kisah keluarga Bahjan Komarudin yang dirunut melintasi 3 generasi membuat saya bersentuhan langsung dengan budaya Bugis dan sejarah Indonesia dari sudut pandang penyintas. Seru sekali!
Awalnya memang pembaca terkesan disuruh menerka-nerka bab ini diceritakan oleh siapa. Setelah kita mulai mengenal tokoh-tokohnya, kita pun akan mulai terbiasa dan menikmati sampai halaman terakhir.
Saya sungguh berharap Mbak Asmayani Kusrini melanjutkan penulisan sekuel Siri', karena akhir ceritanya masih menyisakan tanda tanya. Baru juga mulai simpatik dengan Mayang dan anak-anak Bahjan, eh, bukunya selesai. 😂
Salah satu buku yang page turner dan mengaduk2 emosiku selama 48 jam terakhir. Buku ini definisi "setiap orang punya kisahnya masing-masing", Mba Rini bisa banget bikin cerita rapi dengan mental orang2 yang fucked up. Semua permasalahannya terasa real, dari konflik keluarga, dan konflik sosial yg coba diperlihatkan juga dan memeperkuat karakter tokoh. Ending buku ini juga keren dan realistis.. Tapi semua karakter di buku ini emang deserve better life sih. Hahahahahaha
Cermin retak keluarga taipan cum politikus yang mencoba tampil sempurna atas nama siri' (budaya menjunjung tinggi harga diri dan menghindari rasa malu di Bugis). Sebuah kisah tragis yang meminjam mata tiap karakter dari pecahan cerita yang mereka punya.
Secara sederhana Siri' menceritakan sejarah keluarga seorang politikus bernama Bahjan Komarudin. Hal yang menarik adalah buku ini mengisahkan suatu sejarah dengan alur yang acak dari berbagai sudut pandang dan dimensi waktu yang beragam, sehingga isi bukunya terasa seperti kepingan puzzle yang semakin jauh dibaca semakin jelas terlihat potret utuh dari sebuah tragedi.
Bahjan Komarudin adalah seorang politikus yang memiliki dua istri yaitu Mayang dan Sulis. Dengan Mayang, Bahjan memiliki seorang putra bernama Agung, sementara dengan Sulis, Bahjan memiliki sepasang putra/putri bernama Arsyad dan Arimbi. Ada banyak tokoh yang terlibat dalam kisah ini dan menariknya setiap tokoh mendapat porsi penceritaan yang seimbang, cara penceritaannya pun elegan dan tidak tergesa-gesa. Masing-masing tokohnya punya karakter yang menarik untuk di dalami. Misalnya tokoh yang (menurutku) paling berkesan, Mayang atau Mei Yuan. Mei Yuan memiliki jalan hidup yang sudah terjamin karena ia adalah perempuan yang pandai dan memiliki ambisi besar, tetapi gara-gara cinta ia akhirnya harus menjalani silariang dan kehidupannya yang penuh perencanaan kemudian berubah menjadi sebuah ironi.
Silariang atau kawin lari dinilai sebagai perkawinan yang menyimpang dari aturan adat dan dalam kisah ini terlihat bahwa buah dari penyimpangan itu lebih banyak berimbas kepada pihak perempuan. Mei Yuan adalah seorang perempuan etnis Tionghoa dan beragama katolik yang melakukan kawin lari dengan Bahjan Komarudin yang merupakan lelaki muslim sehingga untuk melakukan kawin lari ini Mei Yuan harus masuk islam, hal ini secara tidak langsung melepaskan hubungannya dengan orangtuanya. Belum lagi tekanan yang didapatkan Mei Yuan setelah menikah, ia mendapat begitu banyak tekanan dan cercaan baik dari pihak keluarganya maupun dari keluarga suaminya. Hal ini menampilkan seolah semua pihak memojokkan Mei Yuan sebagai penjahat utama, padahal silariang dilakukan bukan hanya oleh Mei Yuan, tetapi juga Bahjan Komarudin. Terlihat bahwa ada ketimpangan antara sanksi sosial atau tekanan yang didapatkan oleh pihak lelaki dan pihak perempuan.
Bagian menarik selanjutnya adalah hubungan Bahjan Komarudin dengan putra/putrinya. Obsesi Bahjan Komarudin akan puji-pujian dan kesempurnaan menyebabkan ia buta dan dangkal dalam mendidik anak-anaknya. Hubungannya dengan putra/putrinya tidak lebih dari seorang bapak yang mendikte kehidupan anaknya. Bahjan memperlakukan anaknya hanya sebagai trofi yang tujuannya untuk dipamerkan kepada khalayak. Tidak peduli putra/putrinya tidak bahagia asalkan brandingnya sebagai keluarga poligami tetap bagus. Terlalu menuntut kesempuranaan dengan membiarkan orang lain mendikte kehidupannya berujung membawa petaka.
Siri' adalah sebuah bacaan yang bagus, kisah yang bagus ditulis dalam struktur yang apik pula. Buku ini adalah hiburan, wawasan, juga sebuah latihan untuk pembaca melihat suatu persoalan dari beragam sudut pandang, untuk kemudian menyusun kepingan kisah ini dan mengambil penilaian.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Padat dan amat rumit. Begitulah perjalananku bersama novel Siri' selama 4 hari terakhir. Sejujurnya, aku sempat terseok-seok di awal, berupaya menebak-nebak siapa yang sedang bercerita, siapa yang sedang menjelaskan kepada pembaca dan siapa tokoh utamanya. Pelan-pelan sekali aku berusaha memahami novel tentang Bahjan Komarudin alias BK, yang kemudian ku anggap sebagai pemantik cerita di novel ini. Rasanya cukup lama bagiku untuk menemukan titik terang dari clue demi clue yang dibagikan di awal penceritaab novel ini dan akhirnya aku menemukan itu. . Mengapa aku bilang cerita di Siri' padat? Pertama dari segi alur yang menggunakan alur campuran. Aku sempat kebingungan dengan masa kini dan masa lampau yg sempat terasa kabur, tetapi pelan-pelan aku menarik benang merahnya. Dari alur campuran inilah, pembaca pelan-pelan bisa memahami cerita Siri' secara utuh. Kedua, tokohnya cukup banyak. Karakter Bahjan bertugas sebagai "pemantik" cerita karena dari kematiannya-lah, pembaca akan berkenalan dengan beberapa karakter - yang terikat langsung dengan Bahjan seperti istri dan anak-anaknya, serta yang tak terikat langsung seperti karakter Pol dan Dani. Di bagian karakter ini juga, aku cukup terseok-seok untuk mengenali siapa yang sedang bercerita, apalagi penceritaan terkadang menggunakan pov orang pertama dan orang ketiga. Aku sempat kebingungan dengan siapakah tokoh "aku" yg sedang bercerita dan di beberapa bagian awal novel ini, penulis baru mengungkapkan nama tokoh ketika menjelang akhir bab. Ketiga, pembaca harus sabar serta teliti mengkaitkan satu potongan peristiwa ke peristiwa lainnya, apalagi dengan penokohan yang cukup banyak. Menurutku, ini bagian yang amat seru dan juga menantang. Asalkan kalian meluangkan waktu untuk menarik benang merah yang kusut di novel ini, kalian akan merasa "dekat" dan juga turut merasakan sesuatu yang emosional. . Isu yang diangkat di novel Siri' tidak hanya rumit dan pelik, tetapi juga sangat sensitif. Semua tokoh yang diceritakan, terutama Bahjan dan keluarga, sebenarnya hanya "korban" dari sebuah sistem dan standar sosial yang ada di masyarakat. Sungguh, aku tidak akan serta merta membenci karakter Bahjan, Mayang, Sulis, dan ketiga anak mereka. Yang harus disalahkan adalah sistem, nilai dan standar yang entah sejak kapan diterapkan oleh masyarakat. Tokoh-tokoh di novel ini hanyalah korban yang berusaha memperbaiki situasi, tetapi justru malah makin terjerembap, jatuh dan tidak dapat bangkit lagi. Jika mereka berusaha untuk "speak up", suara mereka hanya dianggap sebagai sesuati yang berisik dan patut untuk dihilangkan dari permukaan. Anehnya, hal-hal seperti ini justru masih subur sampai saat ini. Seperti tidak ada perubahan yg signifikan pada masa itu dan juga masa sekarang. . Lalu, apakah novel yang rumit, padat dan cukup bikin pusing kepala ini patut direkomendasikan kepada pembaca sekalian? Tentu saja perlu. Ini novel one of kind yang akan menguras secara emosional dan mengubah cara pandangmu terhadap sistem tatanan nilai sosial yang ada di masyarakat. Semoga cukup aku aja yg pusing, kalian ngga perlu, hehehe.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ada beberapa buku yang hanya saya baca sekali sebelum diberikan ke orang lain atau diletakkan di bagian belakang rak berdebu. Ada buku yang, meskipun bagus, tak pernah saya selesaikan karena tidak mampu. Ada buku yang tak pernah saya masukkan rak, karena saya tahu akan dibaca berulang kali di masa depan.
Dan ada buku yang begitu saya selesaikan, kembali saya baca ulang dari halaman paling depan. Siri' adalah buku seperti itu.
Alasan pertama: jujur, karena tokohnya banyak sekali. Sampai setengah buku, saya masih kadang tertukar mana Agung mana Arsyad. Apalagi di setiap bab kadang naratornya baru jelas siapa di bagian akhir bab. Apalagi semua tokohnya punya cerita - yang dipaparkan dengan detail. Mengalir dengan baik, iya, tapi detail. Sebagai pembaca yang lebih sering baca novel fantasi dan kadang mendadak blah bloh di kalimat ketiga dalam satu paragraf, informasi detail yang tersebar dimana-mana ini ngga memudahkan mengikuti cerita. Alasan kedua: karena biarpun tokohnya bejubel, garis ceritanya tidak hilang di antara narasi rumit tersebut. IMHO tricky banget nulis kayak gini - apalagi ini buku pertama penulisnya.
Poin penting lain dalam Siri', IMHO, adalah gaya penulisannya yang tidak mendayu-dayu. Di sepanjang buku, cara penulisannya konsisten: ringkas dan efektif. Enak dibacanya, nggak berasa boros kata sambung dan kata sifat.
Perihal kisah pahit (hampir) semua tokoh di Siri', IMHO sekali lagi, ini bukan barang baru. Tinggal di Indonesia berarti kenyang membaca cerita tentang menderitanya minoritas Cina, tentang konflik bersenjata di Papua, himpitan tradisi, tentang poligami, kegamangan identitas seksual, dll. Semuanya isu penting, semuanya isu klasik, dan semuanya fallen on deaf ears. Terlalu lama terlalu banyak yang tidak berubah.
Tapi nggapapa. Siri' tetap menarik. Buat saya, bab terakhir adalah yang paling menawan. Menunjukkan betapa semua orang adalah korban, bahkan dia yang dianggap paling antagonis dan ngga tahu diri.
Udah lama ga baca cerita lokal sekomples ini. Sukaaa 😍 Setiap bab menceritakan orang yang berbeda dengan alur yang kadang maju, tapi juga kadang mundur membawa kita kepada masa lalu yang pernah mereka alami. Seperti yang saya sampaikan di atas, tiap tokoh terasa benar-benar hidup. Kisah hidup mereka rumit, kisah cintanya apalagi, jauh lebih rumit. Misalnya karakter yang di awal mungkin terlihat menyebalkan, bisa saja kemudian berujung menuai simpati. Bahkan Bahjan sekali pun, betapa ia digambarkan terlalu diktator, koruptor, tukang selingkuh, pada akhir cerita saya bahkan kasihan dengan kondisinya. Huhuhu..
Latar cerita pun sangat kaya, mulai dari sebuah kota kecil di Yunnani, pantai di Denmark, Amsterdam, Papua, Kepualaun Aru dan tentu saja, Buttabella di Sulawesi. Selain tempat, kita juga akan dibawa mengenal budaya di Buttabella yang masih kental dengan perjodohan. Lengkap dengan panai-nya, yaitu sejumlah uang yang dibayarkan keluarga laki-laki ke keluaga perempuan. Mau tidak mau saya merasa mereka seperti menjual anak perempuannya di usia muda. Seperti Sulis yang dinikahkan dengan Bahjan saat lulus SMP. Hiks 😢 Kejadian politik juga banyak bersinggungan dengan keluarga Bahjan. Seperti pemberontakan di Papua, pembantaian etnis Tionghoa saat kerusuhan, kasus korupsi dan berbagai polemik lainnya. Belum lagi hal-hal tabu seperti aborsi, malpraktek, homoseksual. Wuaaa, benar-benar dinamis pokoknya 😆.
Terus terang aku bukan orang yang mudah terkejut oleh plot-twist. Segala novel thriller dan misteri yang kubaca berakhir dengan, meh, cuma gitu doang? Like, nothing will ever surprise me LOL.
Tapi membaca Siri', ada banyak poin yang menimbulkan banyak rasa penasaran dan berakhir dengan kejutan. Terlebih lagi ceritanya melibatkan banyak karakter yang mulanya seperti berdiri sendiri, namun ternyata kisah mereka saling berkelindan dengan cara yang bagiku cukup di luar dugaan.
Bahjan Komaruddin, seorang politikus sekaligus pebisnis sukses, ditemukan mati di rumah megahnya oleh kedua istrinya. Cerita dengan cepat berpindah-pindah ke banyak karakter lain: Pol, seorang pegawai arsip KPK; Arimbi, gadis urban yang mencari kekasihnya hingga ke Papua; Dani, jurnalis media hiburan daring; Arsyad, dokter yang bekerja di yayasan kemanusiaan internasional dan terdampar di Denmark; Ali Topan, seorang artis mural yang berkelana hingga ke ujung Yunani; Mayang Lie, gadis Tionghoa yang jatuh cinta pada seorang anak haji; Sulistiawati, gadis remaja yang terpaksa menjadi istri kedua karena tuntutan adat. Kisah mereka yang rumit diceritakan dengan ritme yang pelan nan sabar, membangkitkan rasa penasaran.
Siri' tidak terlalu tebal namun isinya cukup kaya. Konflik keluarga yang dilatari dengan norma adat dan kepercayaan masyarakat Bugis dan Tionghoa sekaligus gambaran bentang alam di tempat-tempat jauh (Papua, Denmark, Yunani) menjadikan buku ini bacaan yang memikat. Terutama di awal, ada beberapa bagian yang kurasa terlalu lambat bahkan cenderung overdramatic, tapi selebihnya Siri' memberiku pengalaman membaca yang tak terlupakan.
Barangkali Asmayani Kusrini akan menambah barisan penulis susastra perempuan yang berlatar belakang jurnalis--dan setidaknya tahu tentang intrik politik nasional, pernah meliput konflik kemanusiaan dalam negeri, dan masih/sempat menikmati pergaulan internasional. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja topik atau pernak-pernik seputar itu jadi membentuk suatu pola dalam khazanah susastra Indonesia.
Siri' bercerita tentang orang-orang dalam keluarga Bahjan beserta kenalan-kenalan mereka. Jika pembaca melihat sampul garapan sukutangan ini yang terdiri dari banyak siluet kepala manusia, ya karena orang-orang yang diceritakan memang banyak. Ada pergantian sudut pandang antara orang pertama dan ketiga, dimulai dari persepsi orang tentang keluarga Bahjan yang sangat dihormati. Lalu bergeser ke rumor masing-masing anggota. Kemudian interaksi yang lebih intim yang menjurus pada berbagai pengakuan.
Ini bukan cerita misteri, biarpun buku dimulai dengan adegan Bapak Bahjan tewas terlentang di rumah mewahnya. Siri' bercerita tentang harga yang harus dibayar keluarga Bahjan demi menjaga nama baik di kampung Buttabella. Harga yang terlampau mahal, sebab ketiga anaknya memilih pergi menjauh, membawa memori buruk tentang bapak mereka.
Menurut saya bukunya bagus. Penulis tampak terampil dalam teknik penceritaan yang saya sebut di paragraf 2. Konflik budaya dan generasional yang solid dan membikin darah pembaca ikut mendidih. Perlahan-lahan, misteri keluarga Bahjan terkuak. Yang tersisa adalah luka dan penyesalan...
Sebelum-sebelumnya, terimakasih buat Tia yang selalu memaksaku untuk membaca buku ini. I'm glad I finished this book.
Buku ini tuh seperti puzzle. Di awal buku ini pasti yang pertamakali dirasakan adalah kebingungan karena alur dan karakternya masih blur atau tidak jelas. Namun, lama kelamaan saya mulai bisa menebak gambar akhir dari puzzle ini. Dan di akhir cerita, saat kepingan puzzle berhasil disusun, barulah terlihat jelas hubungan semua kisah dan karakter yang ada di buku ini. Rasanya memuaskan saat saya tahu cerita lengkap dari buku ini.
Buku ini berawal dari kematian Bahjan Komarudin, seorang taipan dan politisi terkemuka. Kematian ini membuka seluruh kisah yang ada di Siri'. Dari cerita cinta yang manis antara dua sejoli, dokter yang hampir bunuh diri di Denmark, seorang aktivis Papua yang hilang, seniman yang berkelana di Eropa, hingga wartawan yang terseret kasus busuknya sistem pendidikan kedokteran.
Seperti yang saya bilang, setiap cerita di sini seperti kepingan puzzle. Tidak akan disajikan berurut dan penuh informasi. Pembaca diajak menebak apa hubungan cerita tokoh satu dengan tokoh lainnya. Saya sendiri bahkan sampai membuat map guide supaya tahu bagaimana hubungan mereka, hahaha.
Siri' memang bukan buku yang simple tapi penuh kompleksitas. Ia berbicara tentang banyak hal, tentang elit politisi, cinta terhalang tradisi, busuknya sistem pendidikan dokter, sampai konflik di Papua.
Pas banget nemu buku ini di gramedia digital waktu lagi cari buku fiksi lokal, tapi yang bukan metropop dan mengangkat suatu isu.
Awal baca langsung naksir karena ditulis menggunakan sudut pandang pertama, dan penggambaran situasinya jelas banget, detail.
Buku ini rasanya masih akan relevan dalam beberapa tahun mendatang, karena isu yang dibawa tuh isu yang mengakar di Indonesia dan sulit diubah.
Contohnya korupsi, masalah adat dan budaya, perkawinan antar suku yang ditolak keluarga, latar belakang cina peranakan di Indonesia, daerah konflik (Papua), kemiskinan struktural, dan pemaksaan keinginan orang tua. Masih banyak isu yang diangkat secara instrinsik, tapi sejauh ini yang paling keliatan sih itu.
Selain membuat kita penasaran sama alurnya, menebak-nebak apa sih yang terjadi sama semua tokoh, menurutku buku ini juga memberikan kita sudut pandang baru tentang beberapa hal. Kata-katanya gak belibet, tapi dalam.
Melalui kalimat-kalimat inti tentang konflik tiap tokoh, penulis sukses membangun rasa penasaran walaupun memang diawal akan bingung karena tiap bagian dari buku ini mengambil sudut pandang tokoh yang berbeda, dan tokohnya banyak.
Overall, buku ini menarik dan layak dibaca banget sih. Thumbs up!
Berat pas tahu bahwa halaman yang saya baca semakin mendekati ujung cerita dalam buku.
Kisah yang dibawakan sangat kompleks, tetapi saya bisa menikmati. Siri’, judul buku yang saya kira kumpulan cerpen. Saya sempat terkecoh setelah membaca sekilas daftar isi. Siri’ adalah mozaik hidup Bahjan dan keluarganya. Antara satu cerita dengan cerita lain saling bertautan.
Singkatnya, Siri’ adalah kosakata dari bahasa Makassar yang artinya tulah atau kutukan. Buku ini menceritakan Bahjan dan keluarganya. Bahjan adalah seorang pengusaha kaya raya dan politikus. Terakhir ia menjabat sebagai anggota DPR. Suatu waktu ia dikabarkan meninggal dunia secara mendadak.
Banyak rumor dan desas-desus yang muncul ke permukaan. Mulai dari Bahjan yang berpoligami, kehidupan anak-anaknya, simpanannya, kecurigaan terlibat kasus korupsi. Semua dikupas satu per satu oleh penulis dalam Siri’.
Saya kira Siri’ novel dewasa dengan kalimat vulgar yang diselipkan. Lagi-lagi saya salah sangka. Saya hanyut dalam cerita sampai gak terasa sampai di halaman terakhir buku ini. Isu yang diangkat banyak dan sangat relevan dengan situasi sekarang. Antara lain, isu gender, budaya, politik, dan toxic relationship (orang tua ke anak dan sepasang kekasih).
Jalinan alurnya yang maju mundur dan latar cerita yang berpindah-pindah dari kota-kota kecil di Papua dan Sulawesi Selatan sampai ujung utara Denmark hingga ujung selatan Yunani, ditambah banyaknya tokoh yang diceritakan dengan latar belakangnya masing-masing membuat membaca novel ini seperti melakukan perjalanan lintas ruang-waktu. Ada pandangan kosmopolitanisme yang ingin ditampilkan penulisnya lewat karya fiksi pertamanya ini. Kekurangannya beberapa karakterisasi tokoh ceritanya terasa ada yang kendor. Perilaku beberapa karakter seperti Johanna dan Bahjan Komarudin tidak menggenapi karakterisasi yang dibangun lewat narasi yang dibangun di awal pengenalannya. Ada juga beberapa adegan atau dialog klise yang jamak ditemukan di karya-karya fiksi atau film Indonesia. Terlepas dari itu, novel ini layak mendapat perhatian lebih karena berbicara banyak tentang kondisi Indonesia saat ini dengan alur yang semakin ke belakang semakin seru dan membuat penasaran. Penyelesaiannya pas, misteri-misterinya terjawab satu per satu secara eksplisit mau pun implisit.