Menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. Namun, terkadang kita mengalami kebuntuan ide saat memulai sebuah kalimat atau bagaimana menutup sebuah cerita. Pada dasarnya, menulis akan terasa mudah dan menyenangkan bila kita punya keterampilan.
Creative Writing akan membantumu mengenali hal-hal mendasar dalam penulisan kreatif. Semisal, bagaimana membuat adegan yang menarik, sudut penceritaan beragam, dan dialog yang tidak berlarat-larat. Setiap pembahasan dalam buku ini dilengkapi dengan contoh yang memudahkanmu berlatih.
AS Laksana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968) adalah seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia yang dikenal aktif menulis cerita pendek di berbagai media cetak nasional di Indonesia. Ia belajar Bahasa Indonesia di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Semarang (kini Universitas Negeri Semarang) dan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Dia juga menjadi salah satu pendiri majalah Gorong Gorong Budaya.
Laksana pernah menjadi wartawan Detik, Detak, Tabloid Investigasi, dan kemudian mendirikan dan jadi pengajar sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Kini dia aktif di bidang penerbitan.
Kumpulan cerita pendeknya, Bidadari yang Mengembara, dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku sastra terbaik 2004.
Buku yang sangat efektif mengobarkan semangat menulis fiksi sebelum kembali terlupakan saat bangun tidur besoknya.
Dari beberapa panduan menulis fiksi yang pernah saya baca, ini yang paling enak dibaca. Alangkah konyolnya kalau orang yang mengajari cara menulis fiksi malah tidak bisa menulis dengan baik, tapi syukurlah di sini A.S. Laksana (penulis kawakan dan pengajar kursus menulis) sangat lihai menuturkan materi secara gamblang, jenaka, dan substansial.
Selain bahasan teknis soal elemen-elemen seperti plot dan konstruksi cerita, beliau juga memberi banyak tips praktis soal pola pikir dan mental yang diperlukan seorang penulis. Ada juga beberapa jenis latihan untuk dipraktikkan sendiri maupun bersama rekan dalam kelompok menulis.
Beberapa poin penting yang saya petik:
-'Tidak mood' dan 'tidak ada waktu/sibuk' hanya alasan kosong untuk menutupi masih lemahnya niat menghasilkan tulisan.
-Sejelek-jeleknya tulisan yang sudah selesai, masih lebih bagus ketimbang konsep paling brilian yang hanya ada di otak dan "belum sempat" ditulis. Selesaikan tulisan yang jelek, sunting jadi bagus, dan jangan menyunting sambil menulis.
-Perlu tahu kapan harus 'show, don't tell' untuk membuat cerita makin hidup, dan kapan harus 'tell, don't show' untuk menyingkirkan bagian-bagian yang tidak perlu. Dengan kata lain, harus perbanyak 'gizi' dan kurangi 'lemak'.
-Camkan disiplin, rutinitas, latihan, dan kekeraskepalaan.
Di akhir buku, ada bagian paling berkesan buat saya saat Pak A.S. menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan seorang calon penulis. Saat ditanya apa novel favoritnya, si penulis itu malah menjawab bahwa ia tidak mau membaca novel karena ingin karyanya 100% orisinil tanpa pengaruh orang lain. Reaksi Pak A.S.:
Hormati orang lain jika anda ingin orang lain menghormati anda. Mulailah dari diri anda, dan jangan menuntut orang lain melakukan apa yang tidak anda lakukan. Jadi, bacalah buku-buku orang lain jika anda ingin buku anda dibaca oleh orang lain. Mulailah dari diri anda.
.....saya tidak tahu apakah saat ini ia sudah merampungkan novel orisinilnya itu. Dan, kalau novel itu jadi, saya betul-betul tidak ingin membacanya. Saya kira ini cukup adil karena ia juga tidak mau membaca karya orang lain.
Sangat direkomendasikan untuk orang-orang yang merasa 'harus menulis' dan 'harus membaca'.
Sudah baca? Sudah dong. Sampai halaman akhir? Iyalah. Serius? kalau dua rius ada, dua rius malah. Apa perubahan setelah baca buku ini? Nah...itu dia yang susah untuk saya jawab. Hehehe
Review kali ini, saya mau menulisnya berbeda review buku lain.
"Loh, kok bisa?"
Intinya, buku ini adalah penuntun bagi kami yang tergolong amatir dalam dunia menulis. Kami? Oh, maaf. Hanya saya seorang kali ya. Dan bagi saya, tuntunan lengkap ini memberi bimbingan pelan-pelan. Bagi beberapa bagian dalam buku, penulisnya tidak terkesan berceramah.
Siapa sih yang doyan diceramahi? Hehe. Mungkin kalau siraman rohani, itu lain lagi ;)
Mas Sulak, sapaan akrab A.S Laksana, memang piawai. Dipuji? haruslah. Kan ilmunya datang dari beliau. Tuntunan awalnya adalah menulis terus dan jangan berhenti. Maksudnya kalau lagi di tengah jalan, walaupun ada truk, jangan berhenti! Jangan berhenti ketika truk di depan kita maksudnya. hahaha! Garing ya? Ya...maap! :D
*
Menulis kreatif itu sulit bagi saya. Kalau Mas Sulak bilang, kita harus mendekatkan tangan ke otak.
"Di antara anggota tubuh yang lain, tangan adalah alat tubuh yang paling dekat hubungannya dengan kreativitas isi kepala kita, ...." (hal. 3, Creative Writing)
Tangan itu anugrah. Meski menulis tak lagi dianggap sebagai tindakan yang hanya menggoreskan pena ke kertas, bisa juga hanya menekan tombol keyboard, dan lainnya. Tangan itu sebagai sarana bertindak. Sebuah media agar dimanfaatkan, bukan disia-siakan. Tapi bagi teman yang terbatas, bisa kok memanfaatkan teknologi gadget. Dengan respon suara, biasanya apa yang mau kita tulis, bisa menjadi sebuah perintah.
Menulis itu jangan hanya dipikirkan saja. Ambillah tindakan memulainya. Jangan takut menulis menulis buruk. Jika memulai sebuah tulisan, teruskan saja. Jangan langsung diedit. Tulislah terus hingga tulisan itu benar-benar selesai. Selain Mas Sulak, referensi menulis kreatif juga datang dari Aan Mansyur. Ia berkata bahwa hanya penulis angkuh yang mengedit tulisannya ketika baru menulis. Nah!
Ketakutan mengenai buruknya tulisan kerap menghantui penulis pemula, seperti saya. Saran dari Mas Sulak, relaks saja dan tetap menulis. Mulailah menulis, menulislah dengan cepat, dan jangan mau disetir oleh mood. Ada juga kebiasaan penulis yang menurut Mas Sulak hanya memiliki konsep tentang apa yang akan ditulisnya. Lah, kalau begitu, apa yang mau diedit ya kalau menulis saja belum?
Masih banyak lagi trik dan tips yang menurut saya sangat berguna bagi mereka yang ingin belajar menulis. Penasaran? Sila dibaca bukunya.
Dibaca dalam rangka pak Boss ga bisa datang ke kantor karena ban mobilnya bocor *pukpuk Pak Boss*
Beli ini waktu event KPJ3. Yang ngga tau KPJ itu apa, itu singkatan dari Kumpul Penulis Jakarta. Jangan lupa ada embel - embel "3". Paham?
#prettt :))
Awalnya sempat ragu mau beli buku ini, karena ngga didiskon sama sekali ma Mbak - Mbak yang jaga stand Gagas. Sempat manyun sih, tapi dalam hati mikir " kalau jodoh pasti bakalan kebeli". Walau jadinya malah gelisaaah mulu. Ngeliatin meja Gagaaas mulu. Mungkin Mbaknya tahu saia liatin, akhirnya ketika menjelang pulang dan mampir lagi ke meja Gagas, eh didiskon 10%. Lumayan toh?
Pelajaran nomor dua : Jodoh itu ngga akan kemana - mana itu boong besar, Jendral! Jodoh itu harus dikejar! (pelajaran no 1 nya apa Ren? Ya itu itu yang "kalau jodoh bakal kebeli" -__- #jayus)
Makasih banget buat Mas A.S.Laksana yang berbagi ilmunya, dilengkapi dengan banyak contoh yang semuanya make sense dan illustrasi yang keren. Ada beberapa kutipan - kutipan dari penulis terkenal di dunia yang relevan dengan bab yang beliau bahas. Ini emang jauh lebih serius daripada Draf 1 miliknya Winna Effendi, karena sifatnya yang general. Lagian di Winna rada ngga sreg juga, karena nuansa romancenya kental abis.
Sayang sih, agak tipis bukunya padahal pengen tahu lebih banyak lagi. Malah tertarik seandainya Mas Laksana bikin kelas creative writing, mungkin pengen ikutan. Dan, weleh typonya masih saja ada, padahal katanya edisi revisi :|.
Jadi, bagusan mana antara Creative Writing sama Draf 1? Sama bagusnya, mending beli keduanya. Untung deh, saia punya dua-duanya #kibasponi.
Buku panduan yg menarik. Si penulis byk ks contoh jenis2 tulisan dr karya fiksi orang2, dan kadang2 dikomentarin macem2 pula :) www.iralennon.blogspot.com
Penulis yang baik dan terampil tentu saja memulai sebuah cerita dengan kalimat awal yang mampu memantik daya pikat terhadap pembaca untuk membuat masuk ke dalam cerita yang dituturkan. Dan, satu-satunya alasan saya membaca dan menamatkan buku ini tidak lain karena saya penggemar cerpen-cerpen beliau.Dari situ rasa penasaran saya cukup besar bagaimana penulis menyajikan sebuah cerita pendek. Lebih tepatnya, menggerakkan alur, karakter, serta hal-hal lain.
Apabila Anda tengah membutuhkan bantuan dan tengah mandek dalam menulis belakangan ini, Creative Writing benar-benar menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana mengakrabi karakter, membuat dialog yang tidak sia-sia dan mengerikan, penggunaan sudut penceritaan yang baik, sampai mengatur gerak cerita. Pembahasannya ringan, dan yang terpenting, tidak dipenuhi kalimat-kalimat motivasi. Dan di setiap penjelasan pada per bagian juga dilengkapi dengan contoh teks sehingga lebih dapat mudah dipahami. Terakhir, satu hal yang membuatku senang adalah ketika membaca versi terbitan Banana, tepat di bawah halaman biografi penulis, kabarnya akan dicetak ulang semua cerpen beliau menjadi satu buku. Kabar baik!
Buku yang mudah dipahami. Isinya pun dilengkapi dengan contoh penulisan, sehingga para pembaca bisa langsung mengerti tentang bab yang sedang dibahas. Selain itu, karena yang menyusun buku ini adalah AS Laksana yang sudah tidak diragukan lagi di dalam dunia kepenulisan, membuat saya yakin bahwa buku ini memang kredibel untuk dipraktikkan dalam menulis atau mengarang cerita yang baik.
Ketika kamu butuh pijakan untuk membangun cerita, buku 'Creative Writing' karya A.S. Laksana ini bisa diandalkan.
Sejujurnya gue beli dan buku ini sejak kuliah. Buku ini satu dari segelintir buku lawas yang selalu gue bawa ke manapun gue pindah sebagai anak kos di Jakarta. Kenapa gue selalu bawa-bawa buku ini? Yok, kita bahas.
Memberi Pencerahan walau Covernya Gelap
Gue membeli buku ini karena dulu belum mampu ikut coaching clinic menulis atau kelas-kelas menulis. Ini tuh jauuuuuuh banget dari pengalaman jadi jurnalis atau penulis konten. Pokoknya pas masih benar-benar awam sebagai penulis. Waktu itu gue kenalan sama buku ini saat baru lulus kuliah dan terbersit keinginan untuk jadi penulis kreatif.
Saat itu sebenernya nggak tahu juga siapa A.S. Laksana, tepatnya baru sekali baca cerpennya di Kompas. Tapi setelah membaca buku ini dan udah membeli beberapa buku tuntunan menulis kreatif, bahkan ikut kelas menulis, 'Creative Writing' tetap patut dijadikan pegangan. Kayaknya Dee Lestari bahkan juga merekomendasikan buku ini untuk murid-muridnya yang ingin belajar menulis kreatif.
Isinya sangat komplit dan menurutku sangat sejalan dengan kelas-kelas menulis yang pernag gue ikutin. Intinya, cerita yang bagus adalah cerita yang ketemu tamatnya. Kalaupun kita sebagai penulis belum merasa puas dengan alurnya, kita bisa edit setelah selesai nanti. Berikut hal-hal yang sampai sekarang selalu gue ingat dari kitab hitam ini:
1. Jangan menulis sekaligus mengedit 2. Kenali karaktermu sebaik-baiknya 3. Jangan membuat dialog kosong 4, Pilih adegan terbaik di pembuka 5. Selesaikan cerita yang sudah dimulai, nggak peduli seberapa jelekpun hasilnya!
Gaya Bahasa yang Gampang Dimengerti
Gue sebenernya ada satu series buku belajar menulis karya pengarang lain. Tapi harus diakui buku ini yang materinya paling dasar, paling gambang diikuti dan paling mudah diapliksikan. Bahkan kalau lo mau rajin, di setiap bab ada latihan yang sangat bisa dijadikan bahan untuk memperbaiki tulisan. Ada juga contoh-contoh menarik yang membuat kita mengerti maksud penulis. Mungkin inilah perbedaan mencoloknya buku ini dari buku panduan menulis lainnya; A.S. Laksana nggak mencoba filosofis atau semacamnya. Langsung to the point aja gitu menjelaskan komponen-komponen dalam cerita.
Buku ini juga dulu membuat gue sadar bahwa jarak antara mimpi gue sebagai penulis dan gue saat ini adalah action! Ide doang banyak kalau nggak segera ngetik dan menuangkannya sebagai cerita dalam plot, adegan, karakter dan kata, ya akan selamanya menjadi ide. Kekayaan intelektual kita nggak akan berwujud sebuah buku.
Rekomendasi
Agak sulit untuk menemukan celah buruk di buku ini. Kebetulan buku yang gue beli juga sudah edisi revisi pula, jadi udah lengkap dengan tips keterampilan menulis yang konkret. Menurut gue sih nyaris sempurna untuk penulis pemula.
Tapi buku ini nggak cuma cocok untuk orang yang ingin jadi penulis aja kok sebetulnya. Kamu yang ingin tahu proses kreatif di balik pembangunan cerita atau pengen jadi lebih rajin baca juga bisa baca. Kalau kamu mau baca juga, bukunya bisa dibeli di sini https://shp.ee/xxvmwym
“Creativity is intelligence having fun” — Albert Einstein
Di era pertumbuhan industri kreatif yang kian masif, kekuatan storytelling menjadi salah satu aset terbaik untuk menciptakan suatu pesan yang berdampak. Menariknya, latar belakang pendidikan storyteller saat ini, tidak melulu berangkat dari latar belakang yang erat dengan kesusastraan atau jurnalistik. Fenomena ini membuat semakin banyak storyteller dengan latar belakang non-literatur tapi ingin belajar menulis kreatif dari sumber yang kredibel. Berbekal pengalamannya sebagai penulis dan penerjemah, A.S. Laksana membagikan guidelines, tips, dan trik menulis kreatif (khususnya novel dan cerpen) yang ramah untuk pemula dan dirangkum dalam 24 sub-bab yang singkat, padat, inspiratif, namun juga dan informatif.
Meskipun ada statement di awal bahwa buku ini bertujuan untuk penulisan cerpen dan novel, insight yang ada sangat relevan dengan storyteller yang perlu mengemas tulisannya dalam format singkat. Pengetahuan dan pengalaman yang ada bisa bermanfaat untuk para content creator. Penjabaran yang runut, singkat, to-the-point, dan lengkap dengan percontohan membuat buku Creative Writing tidak hanya easy to read tapi juga seperti berasa ada mentor tak kasat mata yang meng-guide pembaca.
Sayangnya, ada beberapa point di buku yang perlu penjabaran lebih namun coba diringkas padat oleh penulis. Salah satu contohnya adalah pada sub-bab “Menulis Buruk”, dimana tidak dieloborasi lebih jelas perbedaan antara menulis buruk dan menulis asal-asalan sehingga latihan menulis kreatif bisa lebih tepat sasaran. Di sisi lain, ada juga beberapa part yang terasa cukup panjang dan terasa seperti mengulang sub-bab sebelumnya hanya saja lebih singkat. Salah satu contohnya pada sub-bab “Konstruksi”, dimana sub-bab ini seperti menjelaskan ulang sub-bab “Sudut Penceritaan”, “Dialog”, dan “Karakter.
Overall, buku Creative Writing aku rekomendasikan untuk siapapun yang ingin belajar menulis kreatif dengan cepat, singkat, tanpa bertele-tele.
Bravo Kak A.S. Laksana ❤️ dan terima kasih untuk Penerbit Banana yang sudah mencetak ulang buku insightful ini❤️
Buku ini merupakan kombinasi kiat, motivasi, dan teknik mencipta cerita. Ia sarat kiat karena tak sedikit memuat tip menulis karya fiksi. Seperti saran untuk membiasakan menulis cepat, tidak takut menulis buruk, berdisiplin, dan banyak membaca. Uraian mengenai topik ini disampaikan secara luwes agar kita lancar saat membacanya, tanpa perlu berpikir terlalu lama.
Buku ini juga menyediakan uraian motivasi. Kebanyakan berangkat dari kutipan tokoh dunia dengan pengembangan narasi seperlunya. Misalnya ungkapan menarik dari penyair Inggris, William Blake, yang bakal bikin kita tersadar bahwa menulis bukan hanya sebatas angan. Sebab, "hasrat semata tanpa tindakan," katanya, "akan membiakkan penyakit."
Adapun materi mengenai teknik menulis baru muncul di sekitar akhir paruh pertama buku. Beberapa topik menarik untuk dicermati sehingga bisa saja membuat ritme membaca sedikit tersendat. Seperti saat membahas pengembangan karakter. Penulis yang baik mesti mengenal dan mengakrabi karakter tokoh ceritanya. Salah satu teknik yang bisa dilakukan adalah dengan mewawancarai si tokoh cerita.
Selain itu, ada juga bahasan soal sudut penceritaan. Dengan penjelasan yang begitu teknis, topik ini tentu akan mudah sekali dipahami. Misalnya saat membedakan antara sudut penceritaan orang ketiga objektif; dengan filter dari satu karakter tertentu; dan tak terbatas. Uraiannya kian menarik saat ketiganya diperbandingkan. Pemahaman pun semakin jelas saat ketiganya dimasukkan ke dalam contoh narasi.
Namun, karena memuat tiga aspek sekaligus -- kiat, motivasi, dan teknik -- kita yang berharap akan menemukan uraian mengenai teknik bercerita ala penulis mungkin akan merasa tidak puas. Sebab resep itu tidak dibahas terlalu banyak. Struktur uraian buku yang naratif tanpa kombinasi poin, ringkasan atau gambar juga bisa membuat pembaca sedikit bosan. Atau bisa juga tidak. Sebab keluwesan narasi dalam buku ini bisa bikin kita ketagihan untuk terus melanjutkan bacaan sampai akhir. (asw)
Ceritanya baru saja menyelesaikan Filosofi Teras dan berniat melanjutkan bacaan fiksi The Burning God. Tapi kemudian mood saya menghilang, masih kena after effect setelah baca buku non-fiksi. Bawaannya pengen lagi-lagi baca non-fiksi, sedang malas berimajinasi.
Creative Writing oleh A.S. Laksana ini bukan buku yang baru di beli. Kebetulan, buku ini sudah nangkring lama di rak buku. Waktu itu kebeli karena dipikir buku ini menyoal tentang cara menulis content writing begitu (entah kenapa aku berpikir sampe ke sana, please).
Karena bukunya tipis, akhirnya kuputuskan untuk kubaca. Ternyata, isinya bermanfaat. Sangat bermanfaat buat para calon penulis yang ingin mulai meniti karir sebagai penulis. Rasanya seperti ditampar berkali-kali waktu baca bagian 'kehilangan mood untuk menulis'. Ga ada tu yang namanya kehilangan mood, yang ada hanya sedang malas haha
Bukunya mengalir, enak buat di baca. Mungkin karena emang lagi produktif, baca buku ini sehari selesai. Padahal itu masih di sela kerjaan kantor yang super 'hina' :"
Rekomen buat yang pengen jadi penulis tapi masih sering ngalor-ngidul kebawa malas.
Terdiri dari 25 bab yang kemudian diperinci dengan penjelasan yang padat namun mudah dipahami. Membaca buku nonfiksi karya A. S. Laksana ini tak ubahnya seperti sedang mengikuti kelas kepenulisan. Gaya bahasanya lugas, dilengkapi dengan contoh dari setiap pembahasan sehingga pembaca bisa langsung mempraktikan dan berlatih. Ternyata menulis itu tidak boleh sekadar menulis saja. Terdapat kosakata, sudut pandang, alur penceritaan, dialog serta serba-serbi lainnya yang tak kalah menarik untuk terus diterapkan serta dipelajari. Sehingga buku ini sangat aku rekomendasikan untuk kalian yang akan menerbitkan sebuah novel, cerpen atau karya tulis lainnya.
Menarik dan menyenangkan. Bagian favoritku ada di hal. 191, "Kita menulis karena kita mencintai kata-kata: bagaimana ia terdengar, bagaimana ia menggetarkan pita suara kita, bagaimana ia membentuk kalimat dan memberikan makna terhadap keberadaan kita. Kata-kata adalah bayi yang kita lahirkan. Kita mestinya memperlakukan mereka sebaik-baiknya—tidak dengan cara yang teledor."
Ada beberapa bagian yang nampar banget dan karena kalimat yang dipakai lugas, jadi serasa ditegur langsung sama mentor menulis. Seru.
Secara garis besar, buku ini memberikan pandangan soal bagaimana langkah2 untuk menulis fiksi. Namun sarat akan contoh yang bagus untuk dibaca bagi mereka yg tak berniat menulis fiksi sekalipun. Membangun cerita sama halnya merapikan rombongan imajinasi di dalam kepala, perlu dibingkai, diarahkan atau diwadahi sesuai tujuannya.
Yang tak kalah penting, kemampuan menulis orang sama halnya dgn membaca; beragam seleranya. Saya pribadi pun tak bisa semata-mata bilang buku ini jelek atau bagus, perlu direvisi dgn 'bukan selera saya' begitu lebih baik.
Baca buku ini di tengah ikut workshop nulis sangat membantu banget. Walau topik workshopnya tentang menulis esai non fiksi, buku ini tetap memberikan dukungan pada tulisanku.
Aku yang sebelumnya memang gak pernah belajar teori nulis jadi banyak dapet teori dan teknik yang bisa kuaplikasikan langsung, misalnya tentang membangun emosi, intensi dan percakapan yang bisa diangkat. Menceritakan kisah nyata pun ternyata tetap butuh pengetahuan teknis penulisan.
Buat gw yang ga berbakat menulis, buku ini sedikit membuka mata gw bagaimana menulis kreatif itu dilakukan. Enak dibaca dari awal hingga akhir. Kaga perlu dibaca berurutan. Kita bisa baca dari bab manapun.
Buku ini cocok untuk sastrawan pemula. Teknik penulisan sampai pendapat berupa saran dan pengalaman penulis disampaikan semua dengan baik dan contoh langsung.
I'm glad that I've found this book. It's recommended for those who are willing to be more productive in writing. It'll be helpful to reduce every newbie' problem and dilemma.
Suka banget baca buku ini ditengah proses kreatif. Membantu sekali membuka cara pandang sebagai penulis yg kebanyakan mikir. Tip dan strateginya sangat membantu.