Meps paling gemes kalau ada yang bilang kita, padahal maksudnya kami. Kalau ada yang bilang kita padahal maksudnya kami, Meps akan bilang begini, “Kita, kita… Memangnya saya ikut? Memangnya kamu bersama saya? Kan nggak. Harusnya kamu bilang kami, bukan kita. Kalau kita, nanti saya ikut lho. Kamu nggak mau kan saya ikutan?”
Tentu dia tidak mau, Meps.
Soal kita-kamu-kamu, Meps juga tidak senang dipanggil Bunda. Kenapa sih, Meps?
Ada banyak bahasan kecil menyenangkan dari Soca yang dituliskannya dalam buku ini. Ia bisa menulis tentang makanan kesukaan, binatang peliharaan, kebiasaan di rumah, perilaku Meps dan Beps. Dibawakan dengan keluguan serta kekepoan khas anak-anak, Soca membuat tiap cerita yang disampaikannya terkesan remeh-temeh tapi menggemaskan.
Di bagian kedua, ada percakapan ringan antara ibu dan anak. Interaksi keduanya mengalir dan dekat serta berbobot—membuatku cukup iri. Soca dan Meps bertukar pikiran tentang pacaran, cita-cita, dan kecemasan masa dewasa Soca nanti saat harus meninggalkan Meps dan Beps.
Yang lebih menarik, ada di bagian akhir. Soca semacam mengajak para pembaca (yang mana adalah anak-anak) untuk melakukan hal yang sama dengannya: menulis cerita mereka masing-masing. Bahkan ada beberapa petunjuk bagaimana memulainya pada halaman-halaman berikutnya.
Selain buku cerita, buku ini amat patut disebut buku aktivitas anak-anak. Sebuah buku yang penuh sukacita!
Pada dasarnya adalah buku anak, tapi tentu bisa dibaca siapa saja yang menyayangi jiwa anak-anak di dalam dirinya. Sedikit banyak buku ini juga menceritakan gaya parenting Ibu Reda yang bisa dipelajari oleh siapapun. Kurang lebih masih menggambarkan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga ini, tentang diperbolehkan mencapai cita-cita, tentang toleransi, sedikit kritik tentang tren/gaya anak-anak yang berlebihan/tdk sesuai usia, tentang sekolah, tentang berbagai hal lain khas Ibu Reda. Buku ini juga jujur menggambarkan apa yang mungkin sebagian orang menganggap sebagai 'aib' sederhana sebuah keluarga, tentang ibu yang lebih tidak sabaran, tentang ayah yang santai saja, dll. Menyenangkan sekali membaca buku ini. Tidak lupa ilustrasi yang dibuat oleh orang yang sama di buku-buku terkait sebelumnya membuat rasa rindu menjadi terobati.
Betul-betul 'feel good' read ❤️ Serupa 'Aku, Meps dan Beps' tapi versi Soca sudah lebih dewasa dan sudah suka Jepang-Jepangan. Walau demikian celetukannya tetap khas anak-anak dan tetap bikin cekikikan. Ilustrasi Cecil juga melengkapi kegemasan buku ini dengan ciamik!
Aku lebih suka buku "kedua" ini ketimbang yang pertama. Mungkin karena kurasinya lebih baik, atau mungkin perjalanan si "aku" lebih seru karena mulai beranjak remaja. Paling suka saat interaksinya dengan Meps! Kebayang banget deh! Apalagi pas ngomongin tentang pacar! Entah kenapa yang terbayang adalah karakter Jo di Jurnal Jo hahaha. Kayaknya buku ini bisa jadi "inspirasi" buat bikin novel remaja dengan karakter gemas! :p
4.6 ku bulatkan menjadi 5. diselesaikan sekali duduk, di temani kipas bentuk minion punya kakak. seperti biasa, buku anak semacam ini tidak bikin aku sakit kepala. bacanya juga enjoy karena ringan tapi penuh kehangatan.
Sangat suka membaca tulisan anak-anak yang penuh dengan berbagai pertanyaan dan penuh dengan kesederhanaan. Sangat menarik mengetahui isi fikiran Soca, tanggapannya, dan keluh-kesahnya yang tentu khas anak-anak pada umumnya. Percakapan antara Soca dan Meps juga Beps sangat sederhana, namun memiliki makna tersendiri. Membaca buku ini membuatku membayangkan jika suatu hari nanti mempunyai anak, dan sang anak juga bertanya tentang banyak hal, meminta penjelasan yang mungkin akan sulit untuk saya jawab agar sang anak mengerti. “Mengapa bisa, kenapa tidak seperti ini, tidak seperti itu, haduh gak paham deh..” dan celoteh-celoteh lainnya. Buku ini juga sebagai reminder tersendiri sih jikalau nanti jadi orang tua, sebisa mungkin menyempatkan waktu untuk bercakap-cakap, sharing tentang hal yang baik & buruk, dan sebagainya.
Ternyata buku anak... hehe. Buku ini sekuelnya Aku, Meps dan Beps yang diterbitkan oleh Post Santa. Sebenarnya buku ini bisa dibaca tanpa membaca buku sebelumnya (seperti yang saya lakukan), tapi kayaknya rasanya kurang afdol.
Yang asyik adalah Soca memanggil ortunya dengan sebutan yang berbeda. Meps dan Beps. Saat bercakap-cakap pun, Soca memakai kata "kamu" ke ortunya. Di rumah, saya dan anakku juga gitu. Saya biasa2 saja dia manggil kamu ke saya. Malah akrab jadinya.
Hmm, wait I'm a bit confused. Jadi buku ini bercerita tentang masa kecil si tokoh “aku” (Soca) Ada beberapa part yg kurang aku pahami atau mungkin karna aku blm baca buku pertamanya ya 🤔 Dia juga manggil ortu nya pakai nama saja Meps dan Beps ?
Baca ini disela jam istirahat kantor, hanya 116 halaman.. tapi rileks banget sih bacanya. Ini tuh kayak kumpulan buku hariannya anak2 usia kira 6-13thn yang menjalani hidupnya dengan Mama, Papa, dan Opanya. Saking bentuknya kayak buku harian anak2.. kita yang baca.. sadar atau nggak sadar.. sedang diceramahi bagaimana parenting anak versi Ibu Reda.
Aku senyum sendiri waktu bagian Ibu Reda menyiasati anaknya yang nggak mau minum susu jadi mau minum susu. Boleh juga idenya tentang menghitung tegukan itu hahaha.
Bagian yang buat wow.. saat Soca menanyakan ke Meps tentang bagaimana jika dia tidak mau menjadi seorang Ibu? dan guess what... Ibu Reda sebagai Ibunya justru nggak marah dan membebaskan anaknya.
Meps ini ibu yang gokil kalau kubilang. Gokil dalam pengertian positif ya. Iya dong, habisnya dia berani protes ke ibu ibu yang ngomong panjang lebar pas ambil raport anaknya. Juga, Meps berani protes ke kepala sekolahnya saat OSPEK diberlakukan di SMP Soca. Hahaha..
aku suka buku ini. ringan dan buat rileks. bisa dibaca sekali duduk pula :)
Buku Kita, Kami, dan Kamu ini merupakan buku lanjutan dari Aku, Meps, dan Beps. Di buku sebelumnya, banyak cerita tentang Soca yang masih belum sekolah sampai duduk di bangku kelas 3 SD. Makanya, enggak heran kalau ceritanya lebih konyol, remeh-temeh, juga jenaka. Berbeda dengan buku ini, yang mana pembaca akan diajak untuk menyelami kehidupan Soca ketika ia duduk di bangku SD dan mulai masuk SMP.
Menurutku, gaya penulisan di buku ini lebih luwes, lugas, dan enggak bertele-tele. Topiknya pun sudah lebih dewasa karena menyesuaikan usia Soca, ceritanya lebih terstruktur, gerutuan Soca sudah lebih dipoles, pokoknya semua dikemas lebih rapi.
Intially 3,3 stars. Just like Na Willa, it made me nostalgic. But apparently it doesn't draw me as much as Na Willa. Maybe because it focus more on family, unlike Na Willa which covered family, friendship and any relationship in general. Both are covering daily life, but if Na Willa has one big plot going on, this one just telling daily life in general, emphasize the different between, we, us, them and you just like the title. I have a feeling If i were younger, I will like it more. However I love the subtle message in the end from Meps, which is : Any Woman free to choose their own path. They are not necessary should be a mom.
+1
Cute illustration. This one defitenely a book which I will buy to my niece😘
Sewaktu lagi iseng scroll mencari bacaan di gramedia digital, aku ketemu buku ini. Sempat penasaran karena banyak teman-teman bookstagram yang merekomendasikan tulisan Reda Gaudiamo. Daaan, ternyata aku suka banget!
Buku ini bercerita tentang kelanjutan kisah Soca dan keluarganya (aku belum baca buku pertamanya sih. Tapi so far bisa dibaca terpisah kok) menjalani kehidupan SD dan SMP. Cerita yang simpel namun dikemas dengan begitu apik dan jenaka. Ilustrasinya pun menggemaskan.
Asli, gemas banget deh pokoknya baca buku ini. Jadi penasaran sama karya-karya Reda Gaudiamo yang lain.
Aku baru sadar kalau ternyata ini buku anak wkwk Ceritanya ringan, sangat menghibur, dan bisa dibaca dalam sekali duduk. Membaca buku yang menggunakan sudut pandang seorang anak yang menginjak masa remaja ini ternyata memberi warna baru buatku, apalagi Ia bercerita tentang keluarganya. Seperti sedang membaca buku harian Soca, aku seolah diajak masuk ke dalam keluarga mereka. Soca menceritakan momen bahagia, kesal, sedih, bahkan percakapan random Soca dengan Meps juga ditulis di sini. Menyenangkan sekali membacanya~
Biasanya aku agak segan baca-baca buku macam buku harian orang seperti ini, tapi buku-buku Soca Sobitha dan Reda Gaudiamo selalu menyenangkan. Cerita-ceritanya manis, ilustrasinya cantik. Dan parenting ala Meps dan Beps bisa dicontek karena mengagumkan~
Tulisannya lucu, seru dan gemeeeessss banget. Aku suka bagaimana tokoh Aku berdialog dengan Meps. Berasa kek ngelihat sendiri dunia dalam pandangan anak-anak.
Pipi pegal dibuat senyum-senyum terus sepanjang baca buku ini. Kadang sampai bikin ketawa-ketawa (aduh, itu upil). Menggemaskan sekali cerita keluarga ini. Buku kuning ini melanjutkan cerita buku jingga "Aku, Meps, dan Beps". Belum baca yang sebelumnya tidak apa-apa sih. Tapi lebih seru kalau baca dua-duanya. Soca semakin besar sekarang (mau masuk SMP!). Meski tetap lugu. Dan gambar-gambarnya yang ah, cocok lah semuanya. Buku ini bisa dibaca anak-anak, orang dewasa, dibaca bersama. Bisa langsung selesai sekali duduk. Bisa diirit-irit biat hangatnya awet. Tentu bisa juga dibaca berulang-ulang. Jadi kepikiran, bisa nggak ya keluarga kami seseru Meps, Beps, dan Soca?
Membaca kisah Soca dan Meps ternyata mengingatkanku pada bagaimana ayahku mengantarkanku pada beberapa hal yang menjadi sebuah kebiasaan: membaca. Ceritanya ringan, bisa habis dalam sekali duduk, dan menyenangkan.
Di sini, Soca dihadapkan dengan beberapa masalah sesuai dengan usianya. Terkait siapa yang sebaiknya mengambil rapot, hewan peliharaan, dan mimpi-mimpinya tentang Jepang.
Membaca Kita, Kami, Kamu membuatku menjadi merasa hangat!
Simple story that warm your heart. Seru aja ngikutinnya, khas anak-anak banget. Lucu pas Soca udah SMP dan ditanya soal pacaran. Emak gw mirip sama Meps, bebas aja gw mau ngapain. Dan udah capek jg kali nyuruh-nyuruh. :p
Saya paling suka cerita Meps ketika ambil rapor dan memarahi orangtua murid yang berlama-lama diskusi dengan bu guru, sementara orangtua lain mengantri dengan gemas.
Buku ringan yang menceritakan tentang Soca dan Reda Gaudiamo dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karena lebih banyak memakai sudut pandang Soca, maka ceritanya akan dipahami melalui bagaimana Soca menyikapi hal-hal yang sedang dihadapi, beberapa di antaranya seperti pada judul 'Rapor' dan 'Ospek'. Dari dua judul tersebut, saya jadi bisa mengerti bahwa Reda merupakan sosok ibu yang tegas dan berani berpendapat ketika ada hal-hal yang dirasa tidak benar.
Pada 'Rapor', diceritakan ada seorang ibu dari siswa lain yang sangat lama (sekitar dua jam) mengobrol dengan wali kelas ketika pembagian rapor di kelas Soca. Padahal pembagian rapor waktunya terbatas, sedangkan ibu-ibu lain belum dapat kesempatan berdiskusi dengan wali kelas. Lantas, karena sudah dirasa merugikan orang lain, Meps--panggilan Reda--langsung menegur ibu tersebut dan berharap diskusinya bisa segera selesai saat itu juga. Soca yang melihat momen itu, cukup terkejut karena khawatir Meps akan menjadi tontonan ibu-ibu lain. Namun, dari teguran tersebut, diskusi yang lama dari si ibu siswa lain itu akhirnya selesai dan bisa dilanjutkan ke pembagian rapor selanjutnya.
Sama seperti di 'Ospek'. Saat itu Soca mulai masuk SMP dan ada kegiatan Ospek di sekolahnya. Namun, sebelum itu, Meps bersikeras untuk ikut Soca pada hari pertama Ospek supaya ia bisa memberi masukan kepada kepala SMP. Benar saja, di hari selanjutnya, Meps masuk ke ruang kepala sekolah dan Soca hanya bisa mengira-ngira apa yang dikatakan Meps tentang Ospek di sana. Cukup lama Meps berada di ruang kepala sekolah dan ketika selesai, Meps masih menunggu di lapangan basket untuk melihat Ospek tersebut. Soca pun heran dan akhirnya langsung sadar ketika kepala sekolah mengatakan bahwa pada hari itu Ospek ditunda. Sedangkan untuk di hari selanjutnya, Ospek hanya akan diisi dengan kegiatan baris-berbaris dan belajar P3K. Tidak akan ada namanya aktivitas yang aneh-aneh, seperti kakak kelas membentak junior atau disuruh mengonsumsi makanan yang bukan-bukan. Dari momen itu, Soca pun bersyukur bahwa Meps datang ke sekolahnya untuk memberi masukan kepada kepala SMP. Karena jika tidak, kemungkinan besar kegiatan Ospek akan berjalan seperti biasanya (baca: melakukan aktivitas yang aneh-aneh).
Itu hanya dua momen yang ada di buku ini. Sebab, akan ada kisah-kisah lain dan saya jadi bisa memahami bahwa Soca dan Meps merupakan sosok ibu dan anak yang memiliki hubungan yang sangat dekat. Soca bisa bertanya tentang apa saja ke Meps atau Beps--panggilan untuk ayahnya. Bahkan, ketika Soca mulai bertanya tentang arti pacaran dan tentang masa depannya yang ingin tinggal di Jepang, Meps dengan santai--tanpa menggurui--memberikan jawaban sederhana dan mudah dimengerti bagi anak seusianya.