binatang kesepian dalam tubuhmu bukan serigala bagai anak unggas menetas dari telur bunga telang merambat ke luar tubuh berapa lama lagi air liurmu ampuh merekatkan tubuh yang telah retak? tiada yang sanggup membuka- buka catatan takdir. pun malaikat tampak pura-pura sibuk kehilangan pena
I tried so hard and get so far... Rada susah buat ngegambarin buku puisi ini. Gw agak terseok-seok memahami diksinya. Bukan, bukan karena penulisnya. Tapi memang kemampuan gw yg ala kadarnya. Beberapa puisi cukup memantik rasa penasaran, sisanya gw harus berjuang memahami. Mungkin suatu saat gw akan baca buku ini lagi.
Puisi-puisinya terasa random sekali. Ilustrasinya gak banyak, hanya beberapa saja. Beberapa judul tampaknya saya mengerti menjelaskan apa, tapi lebih banyak yang gak.
Puisi-puisi singkat dengan tema yang acak. Tapi hampir semua puisi menggunakan diksi yang berkaitan dengan tubuh, sesuai dengan judul yang diambil. Sebagaimana kebanyakan puisi, isinya banyak menyinggung keresahan tentang diri sendiri, keperempuanan, keluarga, sedikit perpisahan dan agama. Sebagian besar isinya pengalaman buruk yg mungkin coba dibebaskan, tentang ayah, pikiran diri sendiri, masyarakat dan identitas sebagai perempuan. Sedikit yang unik, saya menemui sisi lain ibu yang jarang di ungkit oleh puisi di buku lain. Selain menggambarkan kebijaksanaan seorang ibu, beberapa puisi juga dengan jujur menyiratkan pengalaman buruk yg mungkin diberikan seorang ibu.
Untungnya, sebelum membaca saya sdh dengar podcast penulis membahas isi buku ini. Sedikit membantu menemukan benang merah dan tafsir. Setelah dibaca dua kali, rasanya layak dapat bintang 4. Sedikit kurang karena belum merasa ada yg istimewa.
Enggak ada sesuatu yang istimewa yang saya temukan di sini. Mungkin memang ekspektasi tinggi saat membaca judulnya harus dienyahkan dulu karena nantinya akan kecewa di akhir. Puisi-puisinya acak dan sejujurnya saya nggak paham soal penggunaan diksi dan apa yang hendak disampaikan penulisnya. Kebanyakan pendek-pendek dan mengambang. Biasanya dalam satu buku kumpulan puisi, antara puisi satu dengan puisi lain punya kesinambungan dan benang merah tak kasat mata yang bisa dirasakan oleh pembacanya, kalaupun memang nggak nyambung, akan dipisahkan dalam bab-bab tertentu sesuai dengan tema atau fokus tertentu. Di sini, itu nggak diterapkan. Jujur, sih, membingungkan.
Adakah hujan membawaku Sesap ke dalam tubuhmu? Kuingin tumbuh. Di sana.
Singkat, acak, padat. Kumpulan sajak ini ibarat sebuah paragraf panjang yang di Kompress kedalam 2-3 baris kata. Lariknya mendalam dan bikin mikir panjang. Metaforis yang dihadirkan bisa dimengerti setelah direnungi. Kebanyakan diksinya membahas tubuh, tubuh yang berkontemplasi dalam ruang atau tubuh yang menjejaki bibir-bibir lepas, tubuh yang mengurai, juga tubuh yang dirambati bunga telang. Kumpulan yang menarik tapi belum memberikan nuansa syahdu didalam perasaan.
Buku kumpulan puisi yg cukup tipis ini menyimpan berbagai puisi yg juga tipis. Meski demikian, untuk memahaminya butuh effort yg cukup bikin ngos ngosan. Mungkin kata demi kata yg dirangkai serta penggunaan terminologi yg digunakan sudah advance dan jauh dari yg sehari hari kita dengar. Namun aku salut dengan caranya menggali dan menemukan ide. Misal pada puisi Car Free Day yg menghubungkan deretan pejalan kaki dengan sisa usia. Atau juga Terkunci Di Luar Rumah “Meski malam bukan lagi alarm Baginya, derai air mata yang diserap Seprai ranjang ibu Adalah bunyi paling bising”
Saya sangat tertarik dengan judul buku ini, akhirnya saya baca sampai habis. Tapi apa yang saya dapat gak sesuai dengan ekspektasi saat membaca judulnya.
Puisinya pendek2 dan menggantung, dan saya gak paham pesan apa yang ingin disampaikan penulis.
Saya menikmati puisi-puisi dalam buku ini walaupun saya sulit menangkap makna-maknanya dalam sebagian besar puisi. Sebenarnya saya tak perlu memusingkan makna atau pesan intrinsik dalam karya-karya, cukup saya nikmati saja sebagai pembaca.
guasuka metafora yang digunakan dalam puisi-puisi di buku ini. saat baca buku ini, gua seolah ikut disadarkan kalau ternyata selama ini ada 'Binatang Kesepian' dalam diri gua, yang selama ini gua coba enyahkan sejauh mungkin.
Tertarik baca karena judulnya. Tapi isinya susah banget dipahami, padahal cuma 80 halaman. Mungkin karena itu benar-benar puisi atau gimana saya gatau 🙏 atau emang saya yang ga terbiasa dengan puisi puisi yang sangat tersirat hehe. Tapi ada 1 2 yang bisa saya agak pahami dan menebak maksudnya.
Aku suka yang bagian "di ambang kisah" & "yang tersisa dari khotbah jumat". Terima kasih mba Ilda sudah menuliskan puisi-puisi di buku ini. Ditunggu karya-karya selanjutnya! 🤍