Jump to ratings and reviews
Rate this book

Binatang Kesepian dalam Tubuhmu

Rate this book
binatang kesepian dalam tubuhmu bukan serigala
bagai anak unggas menetas dari telur bunga telang merambat ke luar tubuh
berapa lama lagi air liurmu ampuh merekatkan tubuh yang telah retak?
tiada yang sanggup membuka- buka catatan takdir.
pun malaikat tampak pura-pura
sibuk kehilangan pena

80 pages, Paperback

First published August 24, 2020

3 people are currently reading
18 people want to read

About the author

Ilda Karwayu

2 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (7%)
4 stars
20 (29%)
3 stars
31 (45%)
2 stars
12 (17%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 19 of 19 reviews
Profile Image for Nura.
1,056 reviews30 followers
November 14, 2021
I tried so hard and get so far...
Rada susah buat ngegambarin buku puisi ini. Gw agak terseok-seok memahami diksinya. Bukan, bukan karena penulisnya. Tapi memang kemampuan gw yg ala kadarnya. Beberapa puisi cukup memantik rasa penasaran, sisanya gw harus berjuang memahami. Mungkin suatu saat gw akan baca buku ini lagi.
Profile Image for Nike Andaru.
1,643 reviews111 followers
November 14, 2020
136 - 2020

Puisi-puisinya terasa random sekali.
Ilustrasinya gak banyak, hanya beberapa saja.
Beberapa judul tampaknya saya mengerti menjelaskan apa, tapi lebih banyak yang gak.
Profile Image for Shelin.
69 reviews
May 19, 2022
Puisi-puisi singkat dengan tema yang acak. Tapi hampir semua puisi menggunakan diksi yang berkaitan dengan tubuh, sesuai dengan judul yang diambil. Sebagaimana kebanyakan puisi, isinya banyak menyinggung keresahan tentang diri sendiri, keperempuanan, keluarga, sedikit perpisahan dan agama. Sebagian besar isinya pengalaman buruk yg mungkin coba dibebaskan, tentang ayah, pikiran diri sendiri, masyarakat dan identitas sebagai perempuan. Sedikit yang unik, saya menemui sisi lain ibu yang jarang di ungkit oleh puisi di buku lain. Selain menggambarkan kebijaksanaan seorang ibu, beberapa puisi juga dengan jujur menyiratkan pengalaman buruk yg mungkin diberikan seorang ibu.

Untungnya, sebelum membaca saya sdh dengar podcast penulis membahas isi buku ini. Sedikit membantu menemukan benang merah dan tafsir.
Setelah dibaca dua kali, rasanya layak dapat bintang 4. Sedikit kurang karena belum merasa ada yg istimewa.
Profile Image for fara.
280 reviews43 followers
October 17, 2021
Enggak ada sesuatu yang istimewa yang saya temukan di sini. Mungkin memang ekspektasi tinggi saat membaca judulnya harus dienyahkan dulu karena nantinya akan kecewa di akhir. Puisi-puisinya acak dan sejujurnya saya nggak paham soal penggunaan diksi dan apa yang hendak disampaikan penulisnya. Kebanyakan pendek-pendek dan mengambang. Biasanya dalam satu buku kumpulan puisi, antara puisi satu dengan puisi lain punya kesinambungan dan benang merah tak kasat mata yang bisa dirasakan oleh pembacanya, kalaupun memang nggak nyambung, akan dipisahkan dalam bab-bab tertentu sesuai dengan tema atau fokus tertentu. Di sini, itu nggak diterapkan. Jujur, sih, membingungkan.
Profile Image for Siraa.
259 reviews3 followers
June 25, 2022
Adakah hujan membawaku
Sesap ke dalam tubuhmu?
Kuingin tumbuh. Di sana.

Singkat, acak, padat. Kumpulan sajak ini ibarat sebuah paragraf panjang yang di Kompress kedalam 2-3 baris kata. Lariknya mendalam dan bikin mikir panjang. Metaforis yang dihadirkan bisa dimengerti setelah direnungi. Kebanyakan diksinya membahas tubuh, tubuh yang berkontemplasi dalam ruang atau tubuh yang menjejaki bibir-bibir lepas, tubuh yang mengurai, juga tubuh yang dirambati bunga telang. Kumpulan yang menarik tapi belum memberikan nuansa syahdu didalam perasaan.
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
December 30, 2025
Buku kumpulan puisi yg cukup tipis ini menyimpan berbagai puisi yg juga tipis. Meski demikian, untuk memahaminya butuh effort yg cukup bikin ngos ngosan. Mungkin kata demi kata yg dirangkai serta penggunaan terminologi yg digunakan sudah advance dan jauh dari yg sehari hari kita dengar.
Namun aku salut dengan caranya menggali dan menemukan ide. Misal pada puisi Car Free Day yg menghubungkan deretan pejalan kaki dengan sisa usia.
Atau juga Terkunci Di Luar Rumah
“Meski malam bukan lagi alarm
Baginya, derai air mata yang diserap
Seprai ranjang ibu
Adalah bunyi paling bising”
Profile Image for Lidia.
91 reviews
October 17, 2021
Saya sangat tertarik dengan judul buku ini, akhirnya saya baca sampai habis. Tapi apa yang saya dapat gak sesuai dengan ekspektasi saat membaca judulnya.

Puisinya pendek2 dan menggantung, dan saya gak paham pesan apa yang ingin disampaikan penulis.
Profile Image for Yanet.
62 reviews
December 1, 2021
Saya menikmati puisi-puisi dalam buku ini walaupun saya sulit menangkap makna-maknanya dalam sebagian besar puisi. Sebenarnya saya tak perlu memusingkan makna atau pesan intrinsik dalam karya-karya, cukup saya nikmati saja sebagai pembaca.
Profile Image for Tsunn.
235 reviews5 followers
February 3, 2022
guasuka metafora yang digunakan dalam puisi-puisi di buku ini. saat baca buku ini, gua seolah ikut disadarkan kalau ternyata selama ini ada 'Binatang Kesepian' dalam diri gua, yang selama ini gua coba enyahkan sejauh mungkin.
65 reviews1 follower
January 3, 2023
Tertarik baca karena judulnya. Tapi isinya susah banget dipahami, padahal cuma 80 halaman. Mungkin karena itu benar-benar puisi atau gimana saya gatau 🙏 atau emang saya yang ga terbiasa dengan puisi puisi yang sangat tersirat hehe. Tapi ada 1 2 yang bisa saya agak pahami dan menebak maksudnya.
Profile Image for Panda.
66 reviews
May 12, 2022
Untukku pribadi ini sulit dimengerti.
Profile Image for Menyertakan Maret.
42 reviews2 followers
July 9, 2022
Puisi ini mengibaskan perasaan perasaan ganjil yang seringnya kita temui dalam kehidupan sehari-hari
Profile Image for Sarah Az Zahra.
41 reviews
April 28, 2024
Aku suka yang bagian "di ambang kisah" & "yang tersisa dari khotbah jumat". Terima kasih mba Ilda sudah menuliskan puisi-puisi di buku ini. Ditunggu karya-karya selanjutnya! 🤍
Profile Image for Kristal Firdaus.
13 reviews
June 3, 2025
berharap lebih binatang & sepi. i love puan. & kalimat sesederhana apa lagi ya? puisi paling menghantuiku adalah metronom.
Profile Image for Rahman.
166 reviews22 followers
December 20, 2025
Review Pembacaan Ketiga:
Aku tambah sukaaa. Kunaikkan rating satu.

Review Pembacaan Pertama:
Puisi-puisi dalam buku ini adalah tipe yang kusuka: pendek-pendek dan terasa personal.

Apa aku paham seluruh puisinya? Tidak
Apa aku menikmatinya? Iya
Displaying 1 - 19 of 19 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.